Gagape, Masakan Bugis dan Rahasia di Baliknya

Friday, April 17, 2020


Gagape, Masakan Bugis dan Rahasia di Baliknya  


Gagape, masakan khas Bugis
Sumber:jitunews.com

Pernahkah sahabat mendengar kata gagape? Kalau lihat gambarnya di atas, pasti sudah terbayang kan, kalau gagape itu adalah sejenis makanan berbahan dasar daging. 

Apa dan bagaimana gagape itu? Teruskan membacanya ya.


Masakan Kesukaan


Selalu ada kisah di balik sebuah masakan. Begitupun masakan yang disajikan mama saya. Saat memasak, mama bercerita tentang masakan yang akan dimasaknya dan jika kami bertanya ini dan itu, maka semburat kebahagiaan memancar di wajahnya.

Semangat memasaknya semakin bergelora, kebahagiaannya bertambah ketika masakan yang dihidangkannya ludes.  

Seperti pagi itu, sepulang dari pasar mama mengeluarkan barang belanjaannya. Satu persatu kantong kresek ia keluarkan dari tas belanjanya yang terbuat dari rajutan plastik.
Isi dari masing-masing kantong kresek adalah ayam kampung yang telah dipotong-potong, kelapa parut, lengkuas, sereh, terong, cabai, dan beberapa butir telur.

Katanya, beliau akan memasak makanan kesukaan bapak, yaitu manu gagape.
Manu artinya ayam dan gagape adalah nama masakan khas Bugis.

Rahasia Mama


“Yaro mai riolo isawalai manre gagape manu kampong, apa masuli ladde manue. Jaji yakko  meloki manre nasu gagape, isambei manuna mancaji bo’dong-bo’dong. Irasa-irasa mutoi  gagapena, narekko isappani lisena, bo’dong-bo’dong mitu muruntu tania manu.”

“Dahulu, kita sulit makan gagape  ayam kampung, karena ayam kampung mahal. Jadi kalau mau makan masakan gagape, ayamnya diganti dengan terong. Kita akan menikmati  rasa  gagapenya, kalau mau cari isinya kamu hanya akan menemukan terong, bukan ayam.”

Alhamdulillah, saat itu mama bisa bikin ayam gagape tanpa harus mengganti ayamnya dengan terong. Tapi terkadang mama juga bikin masakan terong gagape tanpa bermaksud menggantikan peranan ayam.

Semacam satu jenis makanan tersendiri dengan nama yang berbeda, yaitu Terong Gagape. 

Baca juga Kisah Pasang surutnya harapan mama  di sini


Bapak, Suami, dan Gagape


Saat bapak masih hidup, saya dan suami tinggal di Pondok Indah Ortu. Maka yang selalu beraktivitas di dapur adalah mama, saya dan suami tinggal makan. Aktivitas kami sebagai guru membuat kami selalu pulang sore, saat semua masakan sudah terhidang di atas meja. Alhamdulillah, terima kasih mama.



Beruntungnya saya karena hampir semua masakan kesukaan bapak juga disukai oleh suami. Jadi saya tak perlu repot, lebih tepatnya mama tak perlu repot memasak dua jenis masakan.
Apa yang dimakan bapak dan mama, saya dan suamipun pasti suka. Masa mau nolak, sudah dimasakkan juga, apalagi masakan mama memang maknyus. Terutama masakan gagapenya.

Masakan gagape mama selalu dinantikan oleh bapak dan suami, hingga bapak berpulang ke rahmatullah, gagape   masih bertahan sebagai masakan kesukaan suami.

Penasaran dengan resep masakan gagape mama saya?
Saya bagikan resepnya ya, silahkan praktik.

Gagape dan Rahasia di baliknya
Sumber Pribadi


Resep Manu Gagape


Selain bahan dasar ayam, gagape juga memiliki bahan dasar kelapa sangrai. Rasa kelapa sangrai dengan bumbu sederhana inilah yang membuat gagape lezat. Sangat nikmat dihidangkan saat sahur maupun buka puasa.

Susahkah membuatnya? Gampang, yuk kita praktikkan.

Bahan:

  • 1 ekor ayam kampung potong-potong sesuai selera, bersihkan
  •   butir kelapa. 1 butir diparut lalu diambil santannya hingga 3 gelas. ½ butir disangrai dan dihaluskan. Sisakan juga satu gelas santan cair.
  • 1 batang serai, memarkan
  • 1 ruas jari lengkuas, memarkan
  • 2 sdm  minyak untuk menumis



Bumbu:

  • 9 butir bawang merah
  • 2 siung bawang putih
  • ½ sdt merica bubuk
  • Garam secukupnya
  • Penyedap rasa secukupnya, bagi yang menyukainya



Cara Membuat:

  1. Haluskan bawang putih dan bawang merah lalu tumis hingga harum.
  2. Tambahkan merica bubuk, serai dan lengkuas. Aduk hingga merata.
  3. Masukkan potongan ayam, masak hingga ayam berubah warna.
  4. Tambahkan sedikit air atau santan cair. Masak hingga bumbu dan santan mengental.
  5. Setelah ayam matang, tambahkan santan kental, masak terus dengan api kecil sambil  diaduk secara perlahan.
  6. Sebelum diangkat tambahkan kelapa sangrai. Aduk sebentar dan hidangkan selagi hangat.


Setelah praktik, cobalah menikmatinya sambil mengenang orang-orang terkasih yang saat ini jauh atau bahkan telah pergi ke dimensi lain.

Read More

Ternyata Begini Rasanya Work from Home

Saturday, April 11, 2020


Ternyata Begini Rasanya Work from Home


Work from Home telah berlangsung, bagaimana rasanya?

Pemberlakuan bekerja dan belajar di rumah selama pandemi ini ditanggapi beragam. Bagi sebagian orang yang sudah terbiasa kerja di rumah, mungkin itu biasa. Tapi bagi sebagian orang lainnya, seperti saya kerja di rumah adalah sesuatu yang baru.

Sebagai guru, sebenarnya tinggal di rumah biasa dialami, misalnya pada waktu akhir semester, anak sekolah diliburkan maka otomatis gurunya juga tidak ke sekolah alias libur.

Namun, Work from Home adalah sesuatu yang baru. Tinggal di rumah tetapi tidak liburan. Mengajar, bekerja, rapat, dan kegiatan lainnya dikerjakan di rumah. Kita dipaksa menggunakan internet untuk melakukan aktivitas-aktivitas tersebut.

Rencana selama Work from Home


Jujur, saat pertama kali diumumkan untuk Work from Home yang terlintas di pikiran saya adalah rencana menuntaskan beberapa pekerjaan selain pekerjaan kantor. Bahkan saya menulis listnya. Seperti ini listnya.

mardanurdin.com

Menggunting dan menjahit beberapa kain yang sudah lama terlipat rapi di lemari. Salah satu hobbi saya adalah menjahit baju sendiri. Rasanya senang saja manakala baju yang  saya kenakan hasil jahitan sendiri, makanya setiap ke toko kain saya suka kalap. Membeli beberapa lembar kain dengan harapan suatu saat akan saya jahit, kenyataannya kain itu tak kunjung dijahit.

Sumber Pixabay.com

Salah satu obsesi saya adalah menerbitkan beberapa buku solo. Alhamdulillah, sudah berhasil terbitkan satu. Berarti masih perlu lagi menerbitkan minimal lebih dari dua atau tiga, kan targetnya beberapa.

Buku Solo Pertama



Outlinenya sudah ada, beberapa bab sudah ditulis tapi mandek di tengah jalan, kehilangan ide. Saya sangat berharap selama Work from Home saya bisa menuntaskannya.
Rencana lainnya adalah merapikan file-file di laptop. Sepertinya ini pekerjaan mudah dan cukup santai. Insya Allah ini bisa terwujud.

Mengatur perabotan rumah, memindah-mindahkan lemari, kursi, dsb masuk juga dalam list rencana. Sama halnya merapikan buku-buku yang berantakan.
Apakah semua rencana itu berhasil?



Kenyataan Tak Seindah Rencana


Saya pikir 2 pekan di rumah cukuplah menyelesaikan itu semua. Ternyata, jauh panggang dari api.  Saya gagal mengeksekusi rencana-rencana itu.

Pemicu gagalnya semua rencana itu salah satunya  adalah, saya harus tetap mengajar secara online dan persiapan untuk itu cukup menguras energi dan waktu.

Untuk satu materi pembelajaran saja, saya membutuhkan waktu sekitar dua hari.
Hari pertama untuk mencari ide, bagaimana suatu materi pelajaran diajarkan ke murid dan mereka merasa gurunya tetap ada di hadapan mereka. Hari kedua membuat videonya, dan ini ternyata tak semudah yang dipikirkan.

Mau tahu keseruan saya membuat video pembelajaran? Baca yuk di sini.

Sebenarnya banyak aplikasi yang bisa digunakan seperti zoom, classroom, edomodo, atau yang lainnya. Tapi sama saja kan, saya harus standbay beberapa waktu di depan laptop atau handpone dan berinteraksi secara daring dengan murid-murid.

Selain itu,  murid-murid saya pada umumnya  kesulitan mengakses aplikasi tersebut.  
Maka cara paling praktis yang saya lakukan adalah menuliskan materinya, meminta mereka membaca, menyimak, lalu buat kesimpulan.  
Nah, kan menulis lagi, duduk lagi di depan laptop. Materi pelajarannya bisa dibaca di link berikut ini. 


Salah duanya yang membuat gagalnya mengeksekusi rencana yang ada di list adalah saya sibuk di dapur.

Masya Allah, ternyata bersibuk ria di dapur itu bukanlah perkara gampang.

Sejak mata terbuka, yang terpikir adalah, “masak apa hari ini?” 
Setelah itu, mulailah menyingsingkan lengan baju, masak – masak  -- masak hingga makanan tersedia di meja.

Sumber Pixabay

Lanjut bersih-bersih hingga menjelang sore. Mandi pagi digabung sekalian dengan mandi sore, ha-ha-ha.

Baru juga istirahat sejenak, penghuni rumah sudah mulai tanya-tanya, 
“apa bagus dimakan-makan di?” 

Malamnya, selepas salat isya, mulai lagi di dapur. Beuh.

Kalau ada yang bertanya, “apa selama ini jarang di dapur, kenapa merasa begitu repot?”

Duhai, Esmeralda.

Saya pulangnya siang bahkan bisa sampai sore, jadi masak yang serius itu hanya di waktu libur, selebihnya masak kurang serius.

“Kurang serius itu macam mana?”
“ Ada deh …you know lah,  ha-ha-ha,” sambil kibas jilbab.



Read More

Fakta atau Mitos Tentang COVID-19

Sunday, April 5, 2020


 
SumberPixabay.com

Ah, pandemi ini telah berhasil memorakporandakan dunia. Bermula di Wuhan, Cina lanjut ke negara lain lalu menyasar Indonesia. Apakah Tuhan telah marah kepada manusia, sehingga menciptakan musuh tak berwujud ini? Cobalah tanya kepada rumput yang bergoyang. Ingat Ebiet G Ade 😆

Tapi ini bukan yang pertama, jauh sebelum kita lahir pandemi ini sudah ada. Tak percaya?
Yuk, teruskan  membacanya. 

Pandemi Berkunjung Setiap Satu Abad



Dari berbagai informasi yang berseliweran di media sosial, dinyatakan bahwa pandemi itu selalu muncul setiap satu abad dimulai  pada tahun  1720, 1820, 1920, dan sekarang tahun 2020.

Tahun 1720 terjadi wabah Marseille yang disebut penyakit Pes yang ditularkan melalui lalat yang terinfeksi virus.  Peristiwa itu dikenal sebagai The Great Plague of Marseille. Jumlah korban meninggal dunia saat itu di benua Eropa diperkirakan 100.000 orang.

Satu abad kemudian, tahun 1820 terjadi lagi pandemi yang dikenal sebagai wabah Kolera Asiatik. Pandemi ini disebabkan oleh bakteri yang ada di Sungai Gangga. Wabah ini menyebar ke Asia Tenggara, Afrika Timur, Timur Tengah hingga ke pantai Mediterana.


Tahun 1920 terjadi lagi pandemi yang mematikan, disebut  Flu Spanyol. Hal ini diakibatkan adanya mutasi genetik dari Virus Influenza yang berubah menjadi virus yang ganas.

Sejarah mencatat, Flu Spanyol menyerang manusia sekitar 500 juta  bahkan lebih di seluruh dunia. Pendemi itu menyasar sampai ke pulau-pulau terpencil di Pasifik hingga ke Kutub Utara.

Sumber: Underwood Archivers- Getty Images


Seratus tahun kemudian, tepatnya tahun ini, tahun 2020 dunia dikejutkan dengan munculnya Virus Corona, disebut juga Covid-19.  Awal penularan virus ini terjadi di Wuhan, Cina sekitar bulan Desember 2019, lalu menyebar ke seluruh dunia pada awal tahun 2020, termasuk di negara kita tercinta, Indonesia.

Sumber: abcnews.go.com

Kasus positiv  covid-19 pertanggal 4 April 2020 pukul 15.45 di seluruh dunia 1.119.109 yang meninggal dunia sebanyak 58.955, sedangkan di Indonesia sendiri kasus positiv sudah mencapai 2092, yang meninggal dunia 191. (Sumber: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, WHO).

Fakta atau Mitos



Pandemi kali ini, sungguh luar biasa. Bukan hanya karena wabah itu sendiri melainkan dampak yang ditimbulkannya sehubungan dengan  informasi yang menyebar sedemikian cepatnya.


Satu orang mengirim informasi via media sosial, maka tak cukup semenit, informasi itu menyebar ke semua orang pengguna media sosial. Sayangnya, tidak semua informasi itu benar. Lebih banyak informasi hoaks, kadang hanya mitos yang diangkat menjadi fakta.

Berikut ini beberapa hal yang kelihatannya fakta tapi sebenarnya hanya mitos. Semua informasi itu diambil dari web World  Health Organization (WHO).

  • Coronavirus mati dan tidak dapat menyebar di daerah dengan iklim panas dan lembap. Ini adalah mitos, faktanya adalah coronavirus baru ini dapat menyebar di semua daerah, bahkan yang beriklum panas dan lembap sekalipun.


  • Mengonsumsi bawang putih dapat mencegah infeksi covid-19 juga mitos. Sekalipun bawang putih memiliki unsur antimikroba. Namun, berdasarkan wabah yang sedang berlangsung belum ada bukti bahwa mengonsumsi bawang putih dapat melindungi kita dari COVID-19.

  • Antibiotik efektif dalam mencegah dan mengatasi coronavirus baru?  Jawabannya, tidak. Antibiotik tidak bisa mengobati virus, antibiotik hanya untuk bakteri. Namun, jika Anda dirawat di rumah sakit karena COVID-19, Anda mungkin menerima antibiotik karena infeksi sekunder yang diakibatkan oleh bakteri juga dapat terjadi.

  • Coronavirus baru hanya menginfeksi lansia, atau orang yang lebih muda juga berisiko tertular? Kenyataannya semua orang dari berbagai kalangan usia bisa terinfeksi coronavirus baru (COVID-19). Namun, lansia, dan mereka yang sudah memiliki kondisi medis (seperti asma, diabetes, penyakit jantung) lebih rentan terinfeksi dan jatuh sakit karena virus.

  • Untuk mencegah COVID-19 perbanyak minum air putih. Meskipun minum air putih mencegah dehidrasi tapi tidak dapat mencegah tertularnya COVID-19.

  • Berendam di air hangat dapat melindungi diri dari COVID-19, ini adalah mitos. Berendam di air hangat, berapa pun temperatur air yang digunakan tidak akan bisa melindungi Anda dari COVID-19, yang ada Anda akan melukai kulit apalagi jika air hangatnya di atas temperatur normal.


Demikianlah beberapa mitos dan anggapan yang salah soal COVID-19. Maka tetaplah berhati-hati dan senantiasa menjaga jemari untuk tidak asal membagikan informasi. Periksa kebenarannya dan carilah informasi yang akurat dari sumber terpercaya.

Semoga pandemi ini segera sirna dari bumi, dan kita semua selamat. Amin.

Referensi:
who.int/indonesia
insanmedika.co.id



Read More

GAGAL JADI ARTIS

Monday, March 30, 2020



Gagal Jadi Artis


Saya selalu bilang ke teman-teman seprofesi, bahwa guru itu sebenarnya artis. Setiap mau masuk kelas, guru harus memperhatikan penampilannya agar sedap dipandang mata, minimal dipandang oleh murid-murid.

Ia harus menjaga suasana hatinya, tetap terlihat gembira sekalipun hati sedang gulana. Artis juga begitu kan, walau sedang berduka jika harus tampil maka ia tak boleh menampakkan kesedihannya.
Ternyata pendapat saya itu keliru.

Artis bisa berpura-pura di depan kamera, akting. Tapi saya tidak bisa. Kalau menutupi suasana hati di depan murid-murid saat di depan kelas pasti bisa, tapi berbicara lancar di depan kamera seakan berbicara di depan murid sungguh sulit.

Sumber gambar: Pixabay.com

Tidak percaya? Baca saja pengalaman saya saat harus akting di depan kamera



Proses Pembuatan Video Pertama


Untuk memutus rantai penyebaran virus copid-19, sekolah diliburkan. Tidak ada pembelajaran tatap muka tetapi pembelajaran harus tetap jalan, maka jadilah pembelajaran itu dilakukan secara daring atau dalam jaringan.

Beberapa teman guru menggunakan aplikasi yang bisa saling menyapa dan tatap muka secara daring, seperti  aplikasi zoom, classroom, dan sebagainya.
Tetapi saya memilih aplikasi sejuta ummat, yaitu whatsapp. Pertimbangannya, hampir semua murid  menggunakan aplikasi ini. Selain itu,   saya bisa menyapa murid  dengan mengirim suara  saja sambil baring dan gunakan pakaian rumah alias daster.

Hari pertama, beberapa teman guru mengirim videonya yang sedang mengajar ke grup whatsapp sekolah, wah kelihatan keren. Sepertinya gampang, cukup menjelaskan materi pelajaran dan direkam. 
Hm, saya juga bisa.

Untuk kelas 8 yang saya ampu kebetulan saya punya animasi  pembelajaran tentang materi Getaran, Gelombang, dan Bunyi. Maka animasi itu saya rekam sembari menjelaskannya. Gampanglah ini.

Nah, giliran mau mengajar ke kelas 9 saya mulai bingung. Cara apa yang bisa saya gunakan agar murid-murid saya tetap merasa diajar. Maka langkah pertama yang saya lakukan adalah  menulis materi itu di blog lalu  bagikan linknya. Lumayan kan  bisa menghalau laba-laba yang sudah mulai bikin sarang di sana.

Materinya bisa dibaca di sini 

Tapi rasanya kurang lengkap, murid tidak menatap saya, nanti mereka kangen, kan kasihan. Percaya diri dikangeni sama murid, ha-ha-ha.

Kata si-Bungsu, “bikin video saja Mak, nanti saya yang rekam-ki.”

Baiklah, siapa takut. Begini-begini, mamakmu ini pernah main teater, dulu.
“Tulis dahulu skenarionya, apa kata pembukanya, materi apa yang mau diajarkan.” Saran si-bungsu.
“Gampang, kan tinggal cuap-cuap, beres.” Saya percaya diri.

Maka jadilah peristiwa itu sebagai kenangan yang tak terlupakan.

Sang kamerawan merangkap sutradara dan editor itu dengan songongnya mengatur-atur saya. Tapi memang begitu kan, sang pemain harus ikhlas diatur-atur oleh sutradara, ya sudahlah ikhlaskan saja diatur dan  ditegur oleh anak sendiri.

“Cut! Bicaranya belepotan Ma, ulangi.” Teriak sang sutradara. Mamanya menurut saja.
“Cut! Jangan okkots, dasar orang Makassar. JANGAN mama, bukan JANGANG.”
“Ulangi, mukanya biasa saja, jangan senyum-senyum tidak jelas begitu.”

Hiii, rasanya ingin jambak rambutnya.

“Sabaaar, ini ujian. Kan mau jadi artis to.” Bapaknya ikutan coddo sambil tersenyum.

Akhirnya setelah beberapa kali mengambil gambar, maka jadilah video itu.

“Mana videonya?” Tak sabar mau melihat muka sendiri
“Mau diedit dulu Ma, ini banyak gambar tidak penting yang muncul.”

Tak lama kemudian video itu jadi. Masya Allah, saya hanya menyapa murid dan menginformasikan tentang tugasnya saja, butuh take berulang kali.

Sumber pribadi


Video Kedua


Memasuki pekan kedua, saya mau direkam lagi. Kali ini persiapannya lebih ribet. Berhubung Kepala Sekolah menghimbau guru-guru  untuk membuat materi pembelajaran yang sehubungan dengan virus corona. Maka seharian saya gunakan waktu mencari informasi penting dan akurat tentang hal tersebut.

Akhirnya ketemulah website WHO, di sana memuat segala hal yang berhubungan dengan pandemi itu. Beberapa gambar saya unduh, rencananya akan  digabung dengan rekaman muka dan suara saya.

Proses rekamanpun dimulai. Eh, sebelumnya saya bongkar lemari dulu, cari-cari baju yang pas. Entah kenapa, selama sepekan di rumah bobot tubuh meningkat pesat. Baju menjadi kecil, eh salah bukan bajunya yang mengecil melainkan badannya yang membesar.

“Saya berdiri saja agar kelihatan lebih langsing.” Sesekali artis boleh ajukan permintaan kan ke sutradara.
“Boleh Ma.”

Sama dengan proses pengambilan gambar sebelumnya,  pengambilan gambar diulang beberapa kali.

“Cut! Agak miring Ma, biar kesannya kurus sedikit.” Mulai deh.
“Cut! Perutnya bisa ditutupi sedikitkah? Pakai buku atau apa gitu.” Ini anak meledek atau apa yah.
Tapi demi sebuah video saya pasrah sajalah.

Akhirnya video selesai, sang editor memperlihatkan hasil editannya.
“Ih, jelek. Kenapa badan semua isinya.” Saya kaget lihat videonya.
“Mama kan berdiri, jadinya kelihatan semua badannya.” Kamerawan bela diri.
“Ya sudah hapus saja yang ada saya, pakai slide saja.”
“Hii, capek-capek direkam ujung-ujungnya tidak digunakan.” Giliran dia yang menggerutu.

Sumber pribadi

Tadaaa… video selesai, isinya semua slide tanpa badan saya.
Gagal deh jadi artis😃




Oh yah, jika videonya diiringi musik zaman sekarang, maklumi saja yah. Yang bikin anak milenia usia 15 tahun. Usulan bapaknya pakai musik Ebiet G Ade ditolak mentah-mentah.
“Ih sudah tidak zaman Pak.”  

Read More

7 Aplikasi Teknologi Ramah Lingkungan

Friday, March 20, 2020


Teknologi Ramah Lingkungan


Tenaga Surya, Solar, Panel Surya, Energi Surya
Sumber Foto: Pixabay.com

Apa yang terbersit di pikiran sahabat  saat mendengar kata teknologi?

Apakah itu berhubungan dengan peralatan? Atau berhubungan dengan cara, atau sarana?
Mari melihat pengertian teknologi ditinjau dari bahasanya
Menurut KBBI V daring, teknologi adalah (1) metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis; ilmu pengetahuan terapan, (2)  keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.

Sedangkan menurut beberapa ahli, antara lain Jascques Ellil, “teknologi merupakan  keseluruhan metode yang secara rasional mengarah pada setiap kegiatan manusia dengan ciri efisiensi.”
Gary J Anglin menjelaskan tentang teknologi sebagai ilmu-ilmu perilaku dan alam serta pengetahuan yang diterapkan secara bersistem dan mensistem untuk memecahkan masalah.

Dari pendapat ahli serta KBBI daring tersebut, maka kita bisa menyimpulkan, bahwa teknologi adalah cara, proses, alat dan segala kegiatan maupun ide yang dibuat dan dikembangkan untuk memudahkan aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari.



Baca juga informasi ilmu lainnya di sini 



Teknologi Ramah Lingkungan


Dalam perkembangannya, teknologi mengalami kemajuan yang luar biasa, sayangnya perkembangan itu berdampak buruk bagi lingkungan. Misalnya, teknologi pengeboran minyak bumi pada tahun 1859 di mana minyak bumi dipompa keluar dari dasar bumi. Ada pula teknologi destilasi minyak bumi yang  mengubah minyak bumi menjadi bahan bakar.

Ada juga penggunaan batubara untuk pembangkit listrik, lalu tahun 1885 Carl Benz menemukan mesin yang dapat bergerak menggunakan bahan bakar bensin. Sehingga  hampir 40% manusia memenuhi kebutuhannya dari minyak bumi.
Namun, salah satu  dampak buruk yang dihasilkan dari penggunaan  minyak bumi adalah pencemaran udara.

Hal inilah yang mendasari munculnya teknologi ramah lingkungan, di mana pembuatan dan penerapannya menggunakan bahan baku  dengan limbah yang minimal sehingga mengurangi bahkan bisa mencegah pencemaran lingkungan.

Bentuk teknologi yang memperhatikan prinsip-prinsip pelestarian lingkungan merupakan penerapan teknologi ramah lingkungan, dalam penerapannya itu, maka teknologi ramah lingkungan harus memenuhi enam prinsip yang disebut 6R.

Refine (menyaring),  memanfaatkan sumber daya alam yang ramah lingkungan
Reduce (mengurangi),  mengoptimalkan penggunaan bahan yang ada demi mengurangi jumlah limbah.
Reuse (penggunaan kembali), adalah menggunakan kembali bahan yang tidak terpakai.
Recycle (daur ulang), merupakan memakai kembali bahan-bahan yang tidak terpakai.
Recovery (pemulihan), memanfaatkan bahan tertentu dari limbah kemudian diproses untuk keperluan lain.
Retrieve Energy (ambil energi), berarti penghematan energi pada suatu produksi.


Baca juga tentang tokoh sastra di sini
Miliki kulit putih dengan konsumsi buah ini


Aplikasi Teknologi Ramah Lingkungan



Aplikasi teknologi ramah lingkungan semakin berkembang, terlihat dari penerapannya di beberapa bidang, seperti bidang energi, bidang lingkungan, bidang industri, bidang rumah tangga, dan lainnya.
Terdapat berbagai jenis teknologi ramah lingkungan yang berhasil diciptakan manusia, berikut ini beberapa contohnya.



Biobag atau Ecoplas

Sumber foto: biobagusa.com


Ini adalah tas yang terbuat dari tepung singkong dan polimer sintetik.  Tepung singkong dapat terurai sampai hancur sehingga tas ini tidak menimbulkan pencemaran pada tanah maupun air. Tas ini lebih ramah lingkungan dibanding menggunakan tas plastik atau kantong plastik.


Menanami Atap Rumah



Atap rumah dijadikan taman, hal ini diilhami dari Taman Gantung Babiloni, yaitu salah satu bagian dari Istana Babilonia. Taman ini bisa mengurangi karbon dioksida dan menyerap panas, sehingga tidak menimbulkan pencemaran udara.


Bioremidiasi



Proses ini menggunakan tanaman untuk menetralisir arsenik dari tanah, memanfaatkan mikroba dan tanaman untuk membersihakan kontaminasi.


Buku Elektronik


Pemasaran Digital, Teknologi, Buku Catatan, Statistik
Sumber foto: Pixabay.com

Buku ini lebih dikenal sebagai e-book. Hal ini berguna untuk mengurangi pemakaian pohon. Sebagaimana kita ketahui, kertas yang dijadikan buku, majalah, koran berasal dari pohon. Penggunaan e-book dapat menekan produksi kertas yang berimbas pada kurangnya penebangan pohon untuk dijadikan kertas.


Selain beberapa contoh penggunaan teknologi ramah lingkungan tersebut di atas, dunia juga mengenal berbagai bangunan yang dibangun dengan teknologi ramah lingkungan. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

Air Tree di Spanyol



Sumber foto: nationalgeographic.com

Bangunan ini dibangun di Madrid yang terbuat dari berbagai bahan-bahan daur ulang. Bangunan ini dilengkapi juga dengan tenaga surya yang berasal dari panel photovoltaic yang berfungsi menyirami tanaman yang ada di Air Tree ini.   

The Reichstag di Berlin



Sumber Foto: originalberliantours.com

Gedung pemerintah ini adalah gedung parlemen tempat para pejabat pemerintah Berlin bekerja. Gedung ini  menggunakan kaca dan cermin yang berfungsi memantulkan cahaya matahari sejauh mungkin, tujuannya agar bangunan tidak bergantung pada penerang buatan. Selain itu, gedung ini dapat pula mengumpulkan air hujan dan mengumpulkan sumber energi. 

The Science Barge di New York



Sumber foto: ryerson.com

Bangunan ini adalah  rumah kaca di atas Hudson River, New York yang dilengkapi dengan tenaga surya di mana tenaga surya itu digerakkan dengan bantuan angin dan bahan bakar bio. Tanaman dalam bangunan ini dikembangakn dengan cara hidroponik. 

Demikianlah beberapa contoh penerapan teknologi ramah lingkungan. Jika sahabat memiliki informasi baru, silahkan tambahkan di kolom komentar ya.


Sumber bacaan:
Buku IPA Kelas 9 terbitan Kemendikbud RI, 2017
Environmnet-indonesia.com



Read More