Makan Jalangkote Sambil Begadang di Jalangkote Lorong

Tuesday, December 17, 2019


Makan Jalangkote Sambil Begadang di Jalangkote Lorong 


Assalamualaikum.

“Anak-anak, apakah kalian kenal makanan ringan ini?” Saya bertanya ke muridku sambil memperlihatkan gambarnya.

Sontak mereka menjawab.
“Kenaaal Bu!”

Hahaha…. nih bu guru suka iseng sama muridnya. Siapa juga warga Makassar yang tidak kenal makanan ringan yang bentuknya mirip pastel ini.
Jalangkote, itulah nama penganan khas Makassar. Seantero Makassar sangat mengenalnya.

Perbedaan Jalangkote dengan Pastel


Banyak yang  mengira, kalau jalangkote dan pastel adalah makanan yang sama, padahal berbeda.

Bentuknya serupa tetapi kue pastel memiliki kulit yang tebal sedangkan kulit jalangkote lebih tipis. Isiannya juga berbeda.

Pada umumnya pastel berisi bihun, wortel, telur, atau kadang sedikit daging ayam. Sedangkan jalangkote isinya lebih lengkap, yaitu wortel, kentang, tauge, bihung, daging ayam atau daging sapi yang dicincang halus, dan telur.

Pastel biasanya dimakan dengan cabai rawit sedangkan jalangkote dimakan bersama sambal.
Nah, sambal jalangkote juga khas. Cabai rawit dicampur air cuka, gula pasir, dan bawang putih yang dicincang halus.

Jalangkote Lorong


Adakah  sahabat pembaca yang belum pernah berkunjung ke Makassar?
Ke Makassar yuk!

Kalau sahabat ke Makassar, tak lengkap rasanya jika belum menikmati penganan gurih ini.
Di mana mendapatkannya?

Penjual jalangkote di Makassar lumayan banyak dan tersebar di banyak tempat. Tetapi jika sahabat lagi kena “penyakit” mager alias malas gerak, gampang.

Tinggal gunakan gadgetnya, cari di aplikasi Gojek atau Grab maka akan terlihat berbagai tempat yang menjual jalangkote.

Nah, supaya sahabat tidak bingung karena banyaknya pilihan yang tersedia, langsung ketik saja JALANGKOTE LORONG, maka langsung muncul deh gambar jalangkote yang menggoda selera.


Saya rekomendasikan jalangkote ini, karena saya sudah mencobanya.

Ceritanya nih, saya dikirimi oleh pemiliknya sicantik Rahayu Rajab, itu kejadian beberapa hari lalu. Kebetulan sekali, saya sekeluarga sangat suka penganan ini.

Begitu paket jalangkote dibuka, anak-anak langsung menyerbu sambil berseru.

Sikaaat!

Refleks saya balas berseru, “Tungguuu, saya mau foto dulu, hahaha…”

Sumber pribadi 

Sumber IG Jalkot_lorong

Habis foto-foto dalam keadaan utuh, saya tinggalkanlah jalangkote tersebut.
Saya sibuk pilih-pilih foto jalangkote, untuk   dipajang di instagram.

Pas saya berbalik, masya Allah!
Jalangkotenya sisa satu biji.

“Wuih hampir-mi tidak nu-sisakanka.”
“Maaf Mak, kami kalap. Barusan-ku makan jalangkote seenak ini.” kata Ami.
“Ah, masa?”
“Coba maki Mak, gurih sekali isinya.” Katanya lagi meyakinkan.

Dan tadaaa…
Jalangkote lorong langsung amblas di mulut saya, daaan yang terjadi saudara-saudara saya lupa foto tampilan isiannya hahaha…

Betul kata Ami, isian jalangkote lorong ini sangat  gurih, padat, dan lengkap. Ada wortel, kentang, laksa, tauge, daging cincang dan telur.   
Selain itu, kulit jalangkotenya juga renyah dan tidak melempem jadi saat digigit, terasa kriuk-kriuk maknyus.

Sambalnya juga sangat maknyus, pas di lidah deh pokoknya.

Oh yah, menurut pemiliknya Rahayu Rajab, walaupun Jalangkote Lorong  baru fokus sejak 4 bulan terakhir ini, namun sudah bisa menjual lebih 100 biji perhari. 
Dan kebanyakan pelanggannya membeli lewat online.

Tapi kalau sahabat mau berkunjung dan penasaran dengan tempat usahanya, silahkan datang saja ke Jl. Jalahong Dg Mattutu no.104 Makassar  

Kabar baiknya lagi, sahabat bisa memesan jalangkote di JALANGKOTE LORONG sampai jam 22.00. Jadi bisa dinikmati sambil begadang kan?

Masih penasaran dengan Jalangkote lorong?  

Sumber pribdai


Kepoin instagramnya yuk!  


#13tahunBloggerAM
#AMdukungUMKM


READ MORE

Bermunajat dan Bermuhasabah Demi Meraih Mugabat Ilahi

Wednesday, December 11, 2019

Bermunajat dan Bermuhasabah Demi Meraih Mugabat Ilahi

Kalau bukan  sahabat dan murid-murid saya   yang mengucapkan selamat milad melalui  grup whatsAap  maka pastilah hari ini berlalu begitu saja.

Mereka mengingatnya sedang saya lupa, astagfirullah! Pertanda apakah itu?
Jangan bilang karena faktor usia yah. Karena sejak dahulu saya memang selalu lupa soal tanggal kelahiran saya. Soalnya tanggalnya pas di tengah, di mana tanggal gajian sudah lewat sepuluh hari.

Andai tanggal kelahiran saya berada di awal bulan, pasti akan selalu saya ingat seiring dengan munculnya  ingatan akan tanggal gajian, heuu..

Ais … itu alasan saja, nda ada hubungannya kan?

Walau begitu, saya patut bersyukur telah dikaruniai umur sebanyak ini. Berarti malam ini, di saat saya menulis tulisan ini, secara sahih usia saya sudah 55 tahun lebih beberapa jam.

Karena  kata  mama, saya lahir pas matahari menampakkan cahanya.   


Tiba-tiba saya merasa melankolis dan sangat takut akan sesuatu yang saya tidak tahu itu apa. Saya teringat keluarga, sahabat, dan teman yang telah lama pergi menghadap Sang Ilahi sebelum usianya mencapai usia 50 tahun.

Mereka tak diberi waktu untuk menanti, jangankan menanti hari esok, sedetikpun tidak. Waktunya tiba dan saat itu pula ia diambil lalu namanya berubah menjadi jazad, setelahnya ia dilabeli tambahan nama almarhum atau almarhumah.

Lalu mengapa saya begitu jemawa mendapatkan usia sebanyak itu?
Jantung serasa berhenti mengalirkan darah dan perlahan-lahan mata ini menjadi basah.  

“Apa yang kamu banggakan wahai jiwa yang angkuh?”
Tunduklah!

Renungkan semua perbuatanmu di masa lalu.


Bersujud dan tangisilah dirimu!
Sesungguhnya dirimu itu sangat kotor, kalau saja Allah Ta’ala tidak menutup aibmu, maka pastilah tak ada satu makhlukpun yang akan mendekat karena kebusukan dosamu.

Astagfirullah!
Astagfirullah!
Astagfirullah!

Di usia 55 tahun ini, saya bermunajat kepada-Mu.
Berilah hamba kesempatan untuk memperbaiki diri, lindungilah jiwa lemah ini dari godaan setan yang terus menerus mengintai hati yang terlengah.

 “Dan Tuhanmu Maha Pengampun, memiliki kasih sayang. Jika Dia hendak menyiksa mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan siksa bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu tertentu (untuk mendapat siksa) yang mereka tidak akan menemukan tempat berlindung dari-Nya)” ( QS: Al-Kahf ayat 59). 

Membaca surat Al Kahf di atas, harapan saya menyeruak, bahwa janji Allah pasti nyata adanya. Dia akan menepatinya. Kasih sayang-Nya telah menaungi  jiwa-jiwa yang nelangsa.

Biarlah masa itu berlalu. Saya telah diberi usia hingga saat ini, itu bertanda Allah masih memberi kesempatan untuk memperbaiki diri.

Bagitu yakinkah dirimu akan diampuni?

Yah! Saya sangat yakin.

Bukankah Allah Ta’ala berfirman melalui hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, bahwa:
“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku…”(HR.  Bukhari nomor 6970 dan Muslim 2675).   
Maka hadiah yang harusnya saya syukuri seiring dengan bertambahnya usia, adalah saya  masih diberi kesempatan untuk  bermuhasabah. Setidaknya sampai jatah umur saya habis.

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh (bahwa) mereka akan mendapat ampunan dan pahala yang besar.” (QS:  Al-Maidah: 9).

Maka harapan apa yang paling ingin saya wujudkan dengan bertambahnya usia ini?

Bimbinglah diri ini yah Allah, agar tetap menjaga iman dan beramal saleh  demi meraih  ampunan-Mu serta mendapatkan pahala yang besar.

Tunjukkanlah jalan yang lurus, jalan yang Engkau ridhoi jalan menujuh mugabat-Mu. Aamiin.

Selamat berkurangnya jatah umurmu Dawiah!

Baca juga cerita ulang tahunnya suami tercinta di sini
READ MORE

Menjelang Keberangkatan Haji, Ketahui 6 Hal Ini

       Bismillahirrahmanir rahim

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi yang sanggup mengadakan perjalanan ke baitullah.” (QS Ali-Imron 97).
 
Sumber pribadi 

Jika sahabat telah dianugerahi rezeki berangkat haji, selain melakukan persiapan-persiapan teknis, seperti yang saya tuliskan pada postingan sebelumnya, maka sangat penting pula mengetahui kegiatan-kegiatan apa saja yang harus dilakukan menjelang keberangkatan haji.

Berikut ini saya tuliskan enam  hal yang perlu diketahui dan disiapkan sebelum berangkat dan tiba di Arab Saudi.

    1. Menjaga Kondisi Kesehatan


Secara prosedural pemerintah sudah melaksanakan kewajibannya. Memeriksa kesehatan calon jamaah haji, memberi pengarahan, bahkan mengecek kebugaran melalui latihan fisik ringan.

Namun itu sama sekali tak ada gunanya,  jika calon jamaah haji tidak menjaga sendiri  kondisi kesehatannya.

Lalu, apa yang saya lakukan?

Pertama, saya mulai rajin berolahraga. Jalan kaki selepas salat subuh, minimal 30 menit jalan kaki. Selain itu, setiap hari Sabtu atau Ahad pagi saya meluangkan waktu olahraga, lari-lari kecil dan atau jalan kaki.

Kedua, saya semakin rajin konsumsi buah dan sayuran. Mulai mengurangi asupan nasi, gula dan turunannya, juga makanan yang berbahan dasar terigu dan makanan berminyak.

Ketiga, mengurangi ngemil dan minum kopi. Karena saya penyuka kopi.  Setiap hari, saya bisa minum kopi dua hingga tiga cangkir. Nah, kebiasaan ini saya kurangi hingga akhirnya berhenti minum kopi.

Masya Allah, efeknya sungguh luar biasa. Badan rasanya ringan dan segar. Bahkan berat badan saya turun hingga 2 kg.


    2. Selesaikan Urusan Pribadi, Dinas dan Sosial Kemasyarakatan



Yang tak kalah pentingnya adalah menuntaskan semua urusan-urusan di tanah air. Misalnya, sahabat punya utang, maka bayarlah sebelum berangkat. Kan tak elok, jika sahabat berangkat ke tanah suci beribadah tetapi meninggalkan utang kepada orang lain.

Bayarlah semua tagihan-tagihan, seperti tagihan  listrik, tagihan air atau PDAM, tagihan internet  untuk satu bulan berjalan. Siapkan pula untuk satu bulan ke depan, nah kalau yang ini bisa dititipkan kepada keluarga untuk dibayarkan pada bulan berikutnya. 

Bagi sahabat yang berstatus ASN atau karyawan suatu perusahaan, maka ajukanlah surat cuti segera setelah mengetahui jadwal keberangkatannya.


    3. Siapkan Bekal Untuk Keluarga yang Ditinggalkan



Berhubung jamaah haji reguler akan tinggal selama kurang lebih 40 hari, maka sangat penting menyiapkan bekal untuk keluarga yang akan ditinggalkan.
Masa iya, anak-anak dan keluarga yang akan ditinggalkan dalam keadaan kekurangan pangan.

Olehnya itu, periksalah  kecukupan bahan makanannya, ini berlaku untuk bahan makanan yang bisa disimpan lama, seperti beras, minyak kelapa, gula pasir, dan sebagainya.

Untuk kebutuhan makanan yang tidak tahan lama, seperti ikan dan sayuran, maka bekalnya dalam  bentuk uang belanja yang bisa dititipkan kepada anggota keluarga yang dipercaya, agar keluarga terutama anak-anak terjamin dan terpenuhi kebutuhannya selama sahabat berada di tanah suci.


    4. Menyiapkan Dokumen


Salah satu barang bawaan yang paling penting disiapkan adalah dokumen. Dokumen itu berupa Surat Panggilan Masuk Asrama (SPMA), bukti setor pelunasan ONH warna biru, buku kesehatan, buku paspor, dan KTP.

Walaupun KTP tidak digunakan di Arab Saudi, karena sudah ada paspor dan surat visa, tetapi tak mengapa dibawa untuk penanda identitas diri.

Jika sahabat merasa perlu uang belanja tambahan selain living cost yang nantinya akan diberikan menjelang keberangkatan, maka bolehlah membawa uang tambahan.

Kalau tak mau repot, uang rupiahnya  ditukarkan terlebih dahulu ke bank di tanah air. Tapi saya sarankan, lebih baik membawa kartu ATM juga untuk jaga-jaga.

Berdasarkan pengalaman saya, nilai tukar rupiah ke mata uang riyal lebih murah jika langsung menarik via ATM dibandingkan menukarnya di bank atau di money changer.


    5. Apa yang Dilakukan Selama Berada di Asrama Haji Embarkasi



Pada saat kedatangan di Asrama Haji Embarkasi, jemaah haji harus menyerahkan Surat Panggilan Masuk Asrama  (SPMA) dan bukti setor lunas BPIH warna biru ke petugas dan mengumpulkan koper  besar ke panitia bagian pengumpulan koper.  Koper ini langsung dibawa ke bandara dan akan diterima kembali  setelah tiba di Arab Saudi.

Jemaah haji akan menginap semalam di asrama haji embarkasi dan akan mengikuti beberapa kegiatan, antara lain:

  • Pemeriksaan kesehatan dan pemberian masker, botol semprot, tissu, dan kantong kencing.
  • Pemberian gelang identitas sekaligus berkenalan dengan jemaah haji lain yang berada dalam satu kloter. Terutama berkenalan dengan anggota kelompok dan regu dan yang tak kalah pentingnya, berkenalan dengan petugas-petugas haji yang akan menyertai jemaah haji selama dalam perjalanan hingga di Arab Saudi.


Siapa saja para petugas itu?


Dalam satu kloter terdapat petugas operasional yang menyertai jemaah haji yang terdiri dari:

Tim Pemandu Haji Indonesia (TPHI) sebagai ketua Kloter.
Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI)
Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) sebagai pelayan kesehatan
Ketua Rombongan dan Ketua Regu, biasanya dipilih dari jemaah haji.

Jemaah haji dikelompokkan berdasarkan pertimbangan domisili jemaah dan keluarga. Setiap 11 orang jemaah haji dikelompokkan dalam satu regu dan setiap 4 regu dikelompokkan dalam satu rombongan, jumlahnya 44 orang ditambah satu orang petugas haji sehingga  menjadi 45 orang.

Selama di asrama haji, jemaah haji dianjurkan mengikuti pembinaan manasik haji. Pembinaan atau bimbingan haji ini penting, karena akan dicontohkan cara melakukan tawaf dengan mengelilingi miniatur ka’bah, melakukan sai, dan melempar jumroh.

Bahkan dibimbing cara menaiki pesawat terbang dan menggunakan fasilitas pesawat termasuk cara menggunakan toliet. Bersyukur di embarkasi Ujung Pandang, terdapat miniatur pesawat terbang yang bisa dinaiki. Suasana dan perlengkapan persis dengan pesawat terbang asli.

Beberapa jam sebelum berangkat, jemaah haji berkumpul di aula untuk dilepaskan secara simbolis oleh Kepala Depatemen Agama atau yang mewakili. 

Selanjutnya jemaah haji akan  menerima paspor (sebelumnya dikumpul di  panitia pemberangkatan haji Depag untuk diuruskan visa) dan  uang living cost atau biaya hidup selama di Arab Saudi sebesar 1500 Real Saudi.

Sumber Pribadi


    6. Jadilah Jemaah Haji yang Baik



Tibalah saatnya jemaah haji berangkat menuju bandara embarkasi. Jemaah haji akan menaiki bus berdasarkan nomor bus yang telah ditentukan. Nomor bus biasanya disesuaikan dengan nomor kelompoknya, mulai kelompok satu hingga kelompok 10 dipandu oleh petugas haji dan ketua kelompok.

Naiklah ke bus dengan tertib. Perhatikan tas tentengan dan tas paspor, jangan sampai ketinggalan. Tas paspor sebaiknya digantungkan ke leher kemanapun pergi selama proses pelaksanaan ibadah haji.

Patuhi larangan yang berlaku, seperti tidak  membawa benda tajam, barang yang mudah meledak, tulisan yang bersifat provokatif, narkoba, dan rokok.

Ketertiban dalam memulai perjalanan sejak dari rumah ke asrama haji, lalu menuju bandara embarkasi hingga naik ke pesawat adalah sangat membantu petugas haji.

Bukankah mematuhi semua aturan dan tertib dalam melaksanakannya, merupakan  cerminan dari sikap diri yang baik bukan?

Demikianlah sahabat, semoga bermanfaat.




READ MORE

Catatan Hari Guru Nasional, Beragam itu Indah

Tuesday, November 26, 2019


Ada yang unik pada peringatan Hari Guru Nasional kali ini. Setidaknya buat saya yang memilih aktif di salah satu organisasi guru Indonesia selain PGRI.
Sebelum saya cerita soal itu, mari kita tengok dulu sejarah munculnya Hari Guru Nasional.

Sejarah Terbentuknya HGN


Tahun 1912 bediri perkumpulan yang diberi nama Persatuan Guru Hinda Belanda (PGHB). Anggotanya terdiri dari para kepala sekolah, guru bantu, guru desa, dan siapa saja yang bekerja dalam lingkungan pendidikan, serta perangkat sekolah.

Pada masa itu, bermunculan pula berbagai organisasi guru dengan latar belakang yang beragam, mulai latar belakang agama, kebangsaan, dan sebagainya.

Tahun 1932, didasari oleh niat untuk merdeka dan lepas dari intervensi penjajah serta keinginan yang kuat untuk merdeka, maka pengurus PGHB mengubah namanya menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI).

Saat itu, secara bertahap jabatan kepala sekolah Belanda mulai diambil alih orang Indonesia. Dengan mengusung perjuangan untuk memperbaiki nasib guru Indonesia dan akhirnya menjadi perjuangan nasional.

Tidak lama kemudian, pendudukan Belanda diambil alih oleh Jepang. Maka nama PGI yang mencerminkan kebangsaan Indonesia ditutup oleh pemerintah Jepang.

Seratus hari setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, PGI menggeliat.

Hal ini ditandai dengan diadakannya Kongres Guru Indonesia yang dilaksanakan pada  tanggal 24-25 November 1945. Dari kongres itulah terlahir Persatuan Guru Republik Indonesia atau PGRI, yang menyatukan semua organisasi guru yang   berlatar belakang berbeda.

Menyikapi perjuangan guru di tanah air, maka  Pemerintah RI menjadikan momentum itu untuk menetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional, melalui Kepres No 78 Tahun 1994.

Maka tidak bisa dipungkiri, bahwa kelahiran PGRI merupakan momentum lahirnya peringatan untuk guru-guru Indonesia.

Peringatan Hari Guru adalah Peringatan untuk Guru Indonesia


Usia kemerdekaan Indonesia sudah berada di angka 74 tahun. Demikian pula Hari Guru Indonesia.  Jika ditilik dari jumlah usianya, maka hari guru Indonesia sudah sepuh.  Usia itu mengindikasikan kalau guru-guru Indonesia seharusnya sudah sangat “dewasa”

Tapi apakah guru-guru itu secara personal sudah cukup dewasa menyikapi peringatan ini? Sudah bisakah ia menerima perbedaan sebagai bentuk keberagaman?

Mari kita lihat pidato Menteri Pendidikan Indonesia, Nadiem Anwar Makarim.
Salah satu isi pidato Bapak Menteri adalah, “ Anda tahu bahwa setiap anak memiliki kebutuhan berbeda, tetapi keseragaman telah mengalahkan keberagaman sebagai prinsip dasar birokrasi.

Jika kata “anak” saya adaptasikan ke guru itu sendiri, maka betapa banyak keberagaman yang dimiliki dan selayaknya  dilakukan oleh guru tapi menjadi tersendat demi keseragaman.

Terkadang kita terkungkung oleh keseragaman penampilan dan  keseragaman organisasi hingga membelenggu kebebasan berpikir kita, akhirnya wawasanpun menjadi korban.

Baiklah, saya mau bercerita tentang acara peringatan HGN kemarin di kotaku.  Sebenarnya oleh panitia dan orang-orang yang mengatur kegiatan perayaan itu, tidak membatasi organisasi guru tertentu untuk hadir di acara peringatan tersebut.

Tapi barangkali sebagian guru, dan semoga hanya segelintir saja yang menganggap kalau perayaan hari itu adalah perayaan Hari PGRI, karenanya dengan lugas ia “mengusir” saya yang tampil berbeda.

Saya bisa saja beradu argumen dengannya, tapi saya pikir itu hanya buang-buang energi saja. Tak ada untungnya sama sekali.

Tapi saya menjadi iba kepadanya, iba akan ketidak tahuannya, bahwa sejarah telah mencatat setiap tanggal 25 November itu diperingati sebagai Hari Guru Nasional.

Karenanya semua guru dari organisasi guru manapun berhak menghadirinya. Berhak menikmati euforia perayaan sebagai harinya.

Keseragaman pakaian itukah penyebabnya, hingga menutup wawasannya tentang Hari Guru Nasional? Semoga saja tidak.
Jika YA.

Maka patutlah ia merenungi dalam-dalam pesan pidato Bapak Menteri Pendidikan, Nadiem Anwar Makarim berikut ini.

Anda frustasi karena Anda tahu bahwa di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan  anak, bukan kemampuan menghafal

Anda tahu bahwa setiap anak memiliki kebutuhan berbeda, tetapi keseragaman telah mengalahkan keberagaman sebagai prinsip dasar birokrasi.

Mari mengadaptasi pidato itu ke diri sendiri, lalu menempatkan posisi anak ke posisi diri sebagai guru.

Jangan membuat diri frustasi hanya karena tak mampu berkolaborasi.
Bukalah pikiranmu!

Dunia membutuhkan guru-guru yang siap bekerja sama dengan semua pihak demi kemajuan pendidikan anak bangsa.

Terimalah perbedaan sebagai bentuk keberagaman, karena beragam itu indah. 


Selamat Hari Guru.


Sumber Pribadi

Sumber Pribadi

Baca juga:
 Hari Pendidikan Nasional di sini  



READ MORE

Persiapan Melaksanakan Ibadah Haji, Lakukan Secara Bertahap

Wednesday, November 20, 2019





Suatu hari seorang petugas KBHI datang mengantarkan surat panggilan mengikuti manasik haji.  Sontak undangan itu membuat kami bahagia, seketika itu juga saya sujud syukur.

Kalau sudah dapat undangan manasik, itu berarti  nomor porsi haji kami sudah keluar. Sesaat kemudian, saya berpikir, “kenapa begitu cepat undangan manasik hajinya yah? 
Musim haji masih lama, bulan Ramadan saja belum  tiba.”
Saya menjadi ragu, jangan-jangan ini penipuan.

Esoknya saya ke kantor Departemen Agama, bagian urusan haji dan umroh. Di sana saya mendapatkan informasi, bahwa nomor porsi saya, suami, dan mama memang sudah keluar, hanya saja surat keputusan resminya belum terbit.

Alhamdulillah. 
Penantian kami selama 9 tahun akhirnya akan segera terwujud.
Maka sejak saat itu, saya melakukan persiapan-persiapan.

Sahabat pembaca!

Berikut ini saya tuliskan beberapa persiapan yang saya lakukan juga beberapa saran sesuai yang saya alami selama menunaikan ibadah haji. Semoga bermanfaat, terutama bagi sahabat yang akan menunaikan ibadah haji.

Persiapan Awal


Setelah yakin nomor porsi haji kami sudah keluar, hal pertama yang saya lakukan adalah mengecek saldo tabungan haji. Walaupun sejak awal mendaftar sebagai calon jemaah haji 9 tahun lalu, saya rutin menabung ke rekening tabungan haji, namun sangat penting mengecek jumlahnya untuk mengantisipasi saat pelunasan, sekaligus memastikan berapa biaya pelunasan ONH tahun berjalan.

Terdapat dua jenis ongkos naik haji, yakni ongkos naik haji (ONH) reguler dengan ONH Plus. Perbedaannya terletak pada harga, fasilitas, dan nomor antrian.

Calon jemaah haji yang memilih ONH Plus dikenakan biaya lebih tinggi, karena  fasilitas hotel yang lebih baik dan lebih dekat ke lokasi-lokasi prosesi haji. Selain itu, nomor antrian lebih cepat dan masa tinggal di Arab Saudi lebih cepat.

Sedangkan calon jemaah haji reguler, masa penantian keberangkatannya lebih lama, bisa sampai puluhan tahun. Fasilitas hotel lebih jauh dari lokasi prosesi haji, dan masa tinggal di Arab Saudi lebih lama.

Karenanya biaya setoran awalnya juga berbeda. Jika  ONH reguler cukup menyetor Rp. 25.000.000 untuk mendapatkan nomor porsi, maka ONH Plus jauh lebih besar.

Ongkos naik haji  berbeda-beda tergantung dari daerah embarkasi dan domisili calon jemaah haji. Misalnya, calon jemaah haji yang berangkat dari daerah Indonesia Barat ongkosnya  berbeda dengan calon jemaah yang berangkat dari daerah Indonesia Timur. Tergantung dari zona berdasarkan ketentuan yang diterbitkan oleh Kementerian Agama.

Untuk tahun ini, kami yang berangkat dari embarkasi Sultan Hasanuddin Ujung Pandang, dikenakan biaya sebesar  Rp. 39.207.741,- Berarti sisa pelunasannya adalah Rp. 14.089.881,- dikurangi dari setoran awal sebesar Rp. 25.000.000

Persiapan  Dokumen Haji


Persiapan yang tak kalah pentingnya adalah mengurus dokumen yang berhubungan dengan penyelenggaran ibadah haji.

Setelah surat keputusan tentang daftar nama calon jemaah haji terbit, maka calon jemaah haji segera melakukan pelunasan di bank. Kebetulan tempat kami dulu menyetorkan ongkos naik haji saat pendaftaran awal adalah di Bank Mandiri Syariah, maka pelunasannya juga kembali ke bank tersebut.

Langkah berikutnya yang kami lakukan adalah membuat paspor. Sistem pengurusan paspor dilakukan dua cara, pertama mendaftar secara online untuk mendapatkan nomor antrian dan kedua, mendatangi Kantor Imigrasi untuk proses akhir.

Jangan lupa melengkapi dokumen-dokumen yang diperlukan, seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), Akta Kelahiran atau Ijazah terakhir, Surat Nikah bagi yang telah menikah, dan surat tanda bukti setoran Biaya Penyelenggaraan  Ibadah Haji (BPIH).
Setelah paspor terbit, kami segera melapor ke kantor Departemen Agama untuk mendapatkan visa.

Alhamdulillah, semua urusan dimudahkan oleh Allah Swt. Yang katanya pengurusannya ribet, ternyata mudah dan lancar. Pegawai Depag Bidang Haji dan Umroh cukup  kooperatif melayani calon jemaah haji.

Persiapan Fisik


Sehubungan dengan persiapan fisik, maka sebaiknya carilah informasi tentang keadaan atau prakiraan cuaca di Tanah Suci saat musim haji tiba.

Tahun ini  diinformasikan bahwa suhu di Tanah Suci pada saat musim haji diperkirakan akan mencapai 500C. Maka sangat penting melakukan persiapan diri dalam menjaga kesehatan dan kebugaran yang prima.

Pemerintah sudah  mengantisipasi hal tersebut dengan melakukan pembinaan dan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bekerjasama dengan Puskesmas Kecamatan.

Pertama

Pemeriksaan kesehatan awal  dilakukan di Puskesmas terdekat. Biasanya yang diperiksa adalah tekanan darah, kesehatan jantung. Semua pemeriksaan di Puskesmas tidak berbayar.

Kedua

Pemeriksaan lanjutan di rumah sakit rujukan Puskesmas. Untuk calon jemaah haji Makassar dirujuk ke Rumah Sakit Haji. Di sini, pemeriksaan kesehatan lengkap. Mulai mengecek gula darah, asam urat, kolesterol hingga foto rontgen. Dan, alhamdulillah pemeriksaan di Rumah Sakit ini berbayar 😅

Ketiga

Pelayanan suntik vaksin miningitis. Biasanya kembali ke Puskesmas terdekat. Sebaiknya calon jemaah haji melakukan pula suntik vaksin influensa, untuk mencegah penyakit influensa dan penyakit yang menyertainya, seperti batuk, flu, dan sebagainya.

Setelah semua proses pemeriksaan kesehatan selesai, jangan lupa mengambil kartu rekam jejak pemeriksaan kesehatan, karena itulah nanti yang akan selalu dipakai saat berada di Arab Saudi.


 
Koleksi pribadi

Persiapan Perlengkapan


Berhubung kami adalah calon jemaah haji reguler, maka kami akan berada di tanah suci selama kurang lebih 40 hari. Itu berarti dibutuhkan perlengkapan yang cukup banyak.

Langkah awal yang saya lakukan adalah, membuat daftar perlengkapan yang paling  dibutuhkan saat berada di tanah suci.  Mulai dari pakaian, obat-obatan, makanan, dan sebagainya.

Selain pakaian seragam nasional yang disiapkan pemerintah, maka sangat penting memperhatikan jenis bahan pakaian yang disesuaikan dengan kondisi dan cuaca di tanah suci.

Pilihlah pakaian yang nyaman dipakai saat cuaca panas, misalnya pakaian yang berbahan dasar katun sehingga bisa menyerap keringat dengan baik. Pemilihan warna pakaian juga penting, agar tidak terlalu mencolok. Tidak transparan (tidak tipis dan ketat).

Berikut ini  adalah perlengkapan pakaian yang saya siapkan.

  • Baju ihram sebanyak 3 pasang, dengan pertimbangan, 1 pasang dipakai saat melaksanakan umroh wajib, 1 pasang dipakai saat wukuf di Arafah dan satu lagi dipakai saat mabit di Musdalifah. 
  • Gaun panjang 3 lembar, saya sarankan jangan membawa gaun lebih dari 5 lembar agar kopor tidak berat. Di hotel terdapat  beberapa   mesin cuci yang bisa digunakan,  juga ada tempat menjemur, jadi pakaian bisa dipakai berulang.
  •  Celana panjang 2 lembar, digunakan sebagai celana dalaman.
  • Kaus kaki bisa lebih dari 5 pasang. Berhubung saya malas mencuci kaus kaki, maka saya bawa lebih dari 5 pasang.
  • Kerudung panjang 3 lembar yang bisa berfungsi juga sebagai  mukena, dengan catatan kerudung dari pasangan pakaian ihram bisa juga digunakan.
  •  Pakaian dalam 5 pasang
  • Daster 3 lembar

Selain perlengkapan pakaian, saya juga menyiapkan perlengkapan harian, seperti: gantungan baju, penjepit jemuran, tali jemuran, gunting kecil (digunakan untuk tahallul), alat tulis, buku agenda (digunakan untuk menulis catatan penting selama dalam perjalana atau daftar nama titipan yang mau didoakan), sendal, sepatu kets, kacamata riben (ini sangat penting untuk menangkal teriknya sinar matahari), peralatan mandi, dan  pembalut yang saya gunakan sebagai pengganti pantyliner. 

Bagi anda  yang masih mengalami haid, sebaiknya membawa pembalut yang disesuaikan dengan kebiasaan lamanya masa haid.

Tak lupa pula saya siapkan peralatan ibadah, berupa mukena, Al Qur’an, dan sajadah kecil. Sedangkan buku doa-doa dan petunjuk ibadah haji disiapkan oleh Depag dan diterima saat pelunasan ONH.

Tak kalah pentingnya, adalah peralatan badan. Saya menyiapkan krim tabir surya, pelembab wajah dan badan, pelembab bibir, serta deodoran.

Sedangkan obat-obatan, saya menyiapkan sirup herbal tolak angin yang cukup banyak, vitamin, dan obat tetes mata (saya bergantung kepada obat tetes mata ini sebagai pelembab mata saya yang kering).

Sahabat yang menderita penyakit tertentu, tentu menyiapkan obatnya sejak dari tanah air. Seperti mama saya, beliau mengonsumsi obat osteoporosis, maka semua obatnya dibawa dan melaporkan sebelumnya ke Puskesmas tempat pemeriksaan kesehatan beliau.

Tambahan saran, jangan lupa membawa makanan ringan, mi instan, kopi,  susu saset, detergen, garam, gula pasir (bagi peminum teh atau kopi), dan makanan yang tahan lama.

Sebenarnya semua kebutuhan harian, obat-obatan, dan makanan ringan tersedia di tanah suci, hanya saja harganya sangat tidak bersahabat. Mata  uang kita seakan tak bernilai.

Contohnya nih, garam sesendok harganya 2 rial yang senilai Rp. 8000,. Apa tidak bikin hati nelangsa?😓

Kalau saya sih iya, hehehe….

Persiapan Mental


Perlukah menyiapkan mental?

Sahabat, tidak bisa dipungkiri bahwa ibadah haji adalah ibadah yang “mahal.” Bukan saja karena membutuhkan biaya yang cukup tinggi, tapi membutuhkan kesabaran akan penantian yang lama.

Selain itu, ibadah haji adalah ibadah yang sulit dan melelahkan.
Karenanya banyak calon jemaah haji menuliskan wasiat kepada keluarganya sebelum berangkat. Dan, kenyataannya, betapa banyak jemaah haji yang tidak kembali ke tanah air karena ajalnya tiba saat menunaikan ibadah haji.

Rukun Islam kelima ini memang eksklusif. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw.

Tidak akan tegak hari kiamat kecuali sudah tidak ada orang lagi yang berhaji (tidak ada lagi yang datang menuju Ka’bah Allah Subhanahu Wa Taala. (HR. Al-Bukhari No 1593)


Walaupun ibadah haji termasuk ibadah yang eksklusif, bukan berarti calon jemaah boleh berbangga hati. Justru di situlah dibutuhkan kerendahan hati juga kesabaran dalam menjalaninya.

Siapkan mental dengan melatih kesabaran dari godaan setan yang akan menjerumuskan ke dalam sifat bangga dan kesombongan.  Siapkan mental kuat agar tidak gampang menyerah dalam melaksanakan semua rukun haji.

Persiapan Ilmu


Dan, kunci dari semua persiapan tersebut adalah kesiapan ilmu.  Belajar dan ikutilah manasik haji agar dalam pelaksanaan ibadah haji mendapatkan pahala. 
Jangan berlebihan dalam  beribadah agar tidak menjadi bid’ah apalagi cenderung menjadi syirik.

Demikian, semoga bermanfaat.

READ MORE

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Name

Email *

Message *