Perjalanan Cinta

Kamis, 17 Oktober 2019


Bulan Madu

"Habis nikah, mau bulan madu ke mana nih?
Kami hanya berpandangan, senyum-senyum kecut.
Jangankan bulan madu, jalan-jalan ke pasar saja kami tak sempat. Izin kami itu hanya sepekan, dan waktu sepekan itu kami gunakan untuk mengurus segala persiapan pesta pernikahan hingga acaranya selesai.
Esoknya langsung kembali ke daerah tempat tugas kami. 
Siswa-siswa kami sudah menanti.

Selain faktor waktu, ada alasan lain yang paling spesifik sebenarnya.
Kami tak ada dana ๐Ÿคฃ

Tapi bukan berarti kami tak menikmati bulan madu, sebab hari-hari kami setelah nikah adalah hari-hari manis  semanis  madu. 

Menikmati sejuknya pagi di desa, melihat gunung Bulusaraung dari kejauhan, menyapa gemericik air di sungai yang mengalir tenang, atau menghirup aroma bunga jagung di kebun sekolah adalah cara kami berbulan madu. 

Perjalanan terjauh yang kami tempuh berdua adalah rutinitas pulang ke kota, menjenguk orangtua. 
Menikmati perjalanan di atas mobil pete-pete, duduk berdempetan dengan penumpang lain adalah kenangan manis yang tak akan terlupakan.

Kami menyebutnya, bulan madu di atas pete-pete ๐Ÿคฃ Jadi tak salah kalau dikatakan, bahagia itu sederhana sesederhana memaknai setiap perjalanan dan peristiwa.

Lima Tahun Pertama

Katanya, pernikahan akan mendapatkan ujian di setiap selang waktu lima tahun.
Alhamdulillah, lima tahun pernikahan telah kami lewati dan hasilnya adalah tiga orang putra.

Kehidupan di desa sudah kami tinggalkan. Tahun 1993, kami memutuskan kembali ke kota.

Tuntutan untuk menambah ilmu adalah salah satu alasannya, disamping alasan lain tentunya.

Tinggal bersama keluarga besar saya bukanlah pilihan yang mudah, tapi hanya itu satu-satunya opsi.

Saya harus mendampingi mama yang sudah menjanda sejak tahun itu. Untungnya, ayangbeb legawa menerima keadaan itu.

Periode Ketiga Lima Tahunan Pernikahan 


Sudah 12 tahun kami menikah dan 7 tahun kami lalui bersama keluarga besar saya. Kata kasarnya, hidup menumpang di rumah orangtua.

"Sudah waktunya kita hidup mandiri." Kata ayangbeb.
"Baiklah, mari kita mulai hidup mandiri bersama empat orang putra."

Inilah masa-masa bersama keempat anak kami yang paling menyenangkan. Setiap hari kami sambut subuh dengan drama membangunkan anak.

Keahlian terpendam ayangbeb dikeluarkan semua.
Mulai masak nasi goreng, mencuci, menyetrika, dan segala tetek bengek kerjaan rumah.

Wow! Saya terpana. Ternyata si sabar nan pendiam itu punya bakat terpendam. 
Saya bersorak gembira. 


Akhirnyaaa....


Sejak menikah hingga memasuki periode 20 tahunan kami tak pernah sekalipun pergi berdua ke luar daerah. Kasihan sekali yah ๐Ÿคญ

Beberapa kali kami ke luar daerah untuk urusan tugas tapi tak pernah pergi berdua. 

Oh iya, kami pernah pergi bersama tapi tidak berdua, rame-rame berwisata ke Jogya. Bisalah dianggap berbulan madu, bulan madu tipis-tipis,  hihihi...




Hingga kesempatan itu datang juga.
Tahu ndak, kapan itu kejadiannya? 

Sebenarnya saya malu mengatakannya ๐Ÿ™ˆ, tapi ini kenyataan. 

Saat putra ketiga diwisuda di Curug  Tangeran tahun 2017, kami diundang untuk mendampinginya.
Waktu itu pergi bertiga dengan putra kedua tapi kami merasa berdua saja. Soalnya nginap di hotel berdua.

Yah elaa... hahaha ...



Setelah 30 Tahun


Ini  benar-benar perjalanan berdua.
Saat ini kami melakukannya, berdua saudara-saudara! 
Hahaha ....


Kami sengaja mengambil rute Jakarta dahulu, bermalam satu malam di rumah anak, kemudian lanjut naik kereta api ke Bandung.
Tujuannya adalah menikmati kebersamaan di sisa-sisa usia kami.

Memenuhi permintaan ayangbeb difoto di depan pesawat. Saya bahagia, baru kali ini saya melihatnya narsis. 
Kalau istrinya yang manis ini kan sudah biasa narsis, itu bawaan orok ๐Ÿฅฐ


Mendengarnya bercanda, walau lebih mirip jahilin saya. Melihatnya tertawa gembira. Bicara dan makan sebarang adalah kebiasaan yang jarang dilakukannya.
Semua itu adalah bahagia saya yang tak terkira.

Inilah perjalanan kami.
Bulan madu-bulan madu kami.

Semoga kami masih bisa menikmati bulan madu kesekian hingga perjalanan di dunia berakhir.



Bandung, 18 Oktober 2019

Ditulis di atas kereta Jakarta-Bandung


















READ MORE

Yuk, Kenali Beberapa Jenis Daun dan Manfaatnya

Senin, 14 Oktober 2019


 Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, betapa banyak Kami tumbuhkan di bumi itu berbagai  macam (tumbuh-tumbuhan) yang baik? Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.” (QS. Asy-Syu’ara’: 7-8).

Sahabat pembaca, tahukah kalian berapa banyak jenis tumbuhan yang ada di dunia? Jika dalam Al Qur’an menyebutkan “banyak” maka pastilah kata itu diartikan sebagai tak terhingga, sehingga sangat sulit dihitung jumlahnya.

Bayangkan, jumlah pohon yang merupakan bagian dari  jenis tumbuhan saja,  yang tumbuh di dunia saat ini diperkirakan lebih dari tiga triliun. Hal ini berdasarkan hasil penelitian Thomas Crowther, peneliti dari Universitas Yale Amerika Serikat pada tahun 2015.  (bbc.com).

Ini baru pohon. Tumbuhan yang berbatang keras dan besar, yang biasanya tumbuh di darat, belum termasuk tumbuhan yang hidup di air atau hidrofit. 
Tumbuh-tumbuhan itu diciptakan Allah bukanlah tanpa sebab. 

Lihat saja firman Allah berikut ini.

“…. Kami lebihkan tumbuhan yang satu dari yang lainnya dalam hal rasanya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” (QS. Ar-ra’d: 4).

Ini berarti pada umumnya tumbuhan memiliki manfaat bagi makhluk hidup yang lain. Mulai dari akar, batang, daun, hingga bunga dan buah serta bijinya.
Salah satu bagian tumbuhan yang sering dimanfaatkan sebagai obat adalah daun. 
Tapi bukan berarti semua jenis daun tumbuhan berkhasiat sebagai obat yah.

Nah, kali ini saya akan menuliskan beberapa jenis daun yang biasa digunakan sebagai obat.

            Daun Lidah Buaya


Sumber: Pixabay.com


Lidah buaya adalah tumbuhan dengan nama latin aloe ferox mill, mengandung isobarbalsin, ilat baya, dan jadam. Ciri-cirinya adalah batang basah, tinggi mencapai 0,5 meter, daunnya tebal berair, berbentuk taji dengan tepi bergerigi, dan bunganya berbentuk tongkol serta berwarna orange.

Daun lidah buaya berkhasiat untuk pengobatan pada beberapa jenis penyakit, yaitu: ambeien atau wasir, kencing manis, asma, batuk, dan dapat pula digunakan untuk mencegah rambut rontok.

Sebagai obet ambein, daun lidah buaya setengah batang (karena daunnya berbentuk batang) diparut kemudian ditambahkan air setengah cangkir lalu diperas. Diminum dengan menambahkan dua sendok madu, lalu diminum sehari tiga kali.

         Daun Sosor Bebek



sumber: Pixabay.com

Sosor bebek atau ceker bebek atau jukut kawasa dengan nama latin kalanchoe pinnata Lam, adalah sejenis tumbuhan berbatang basah dengan tinggi batang mencapai lebih satu meter, tumbuh liar di tanah berbatu.

Biasanya dijadikan tanaman  hias dan bahan jamu. Daunnya tebal, bentuk lonjong dengan tepi daun yang bergerigi. Warnanya hijau cenderung abu-abu.

Ciri khas daunnya adalah banyak mengandung air, lembar daunnya mudah dipatahkan dengan tangkai daun bersayap. Bunganya berwarna merah atau orange. Sangat mudah dibiakkan, karena cukup dengan stek atau dengan daunnya yang telah ditumbuhi tumbuhan baru pada bagian lekuk-lekuk daunnya.

Manfaat daun sosor bebek ini antara lain, sebagai obat ambeien atau wasir, lambung nyeri, rematik, payu dara bengkak, batuk darah, dan sebagai obat penurun panas.

Cara mengolanya adalah dimasak dengan tiga gelas air hingga menjadi satu gelas, kemudian diminum tiga kali sehari.

         Daun Iler



Sumber: Pixabay.com

Tumbuhan iler mempunyai banyak nama, misalnya ada yang menamainya sebagai miana, jawer, kotok, kentangan, dan pilado. Demikian pula nama latinnya yang lebih dari satu nama, yakni Coleus atropurpureus Benth, Coleus blemui Bent, Coleus laciniatus Benth, dan Coleus ingratus Bent.

Ciri-ciri tumbuhan ini adalah batangnya basah, tinggi mencapai 1,5. Bentuk daun segitiga atau bulat telur. Warna daunnya ungu, tepi daun berlekuk-lekuk, dan sedikit berbulu. Tumbuh liar di kebun maupun di ladang dan di pekarangan rumah.

Tumbuhan ini mengandung alkaloida, mineral dan minyak terbang. Sehingga daun ini dapat digunakan sebagai obat kencing manis, menjadikan haid teratur, juga mengobati keputihan, cacingan, dan ambeien. Biasa pula dimanfaatkan sebagai obet bisul, borok, luka, dan koreng.

Untuk menggunakan daun iler sebagai obat, maka harus direbus dengan satu liter air terlebih dahulu hingga airnya bersisa setengah liter, dan diminum dua kali sehari.

         Daun Duduk



Sumber: Pixabay.com


Disebut juga potong kajang, gerji, dan guluwalang. Nama latinnya adalah Desmodium triquetrum Dc dan Pteroloma triquetrum Benth
Tumbuhan  ini tumbuh liar di ladang dan di hutan dengan tinggi hingga 3 meter. Daunnya berbentuk lonjong, tersusun, yang dekat tangkai, lembar daunnya kecil dan agak bulat. Bunganya berwarna merah muda.

Tumbuhan ini mengandung kalium, zat samak dan asam kersik. Bagian tumbuhan yang biasa digunakan sebagai obat adalah daun, biji, dan akar.

Tumbuhan ini digunakan untuk mengobati penyakit kencing batu, pinggang nyeri, masuk angin, demam, disentri, dan ambeien atau wasir.

         Daun Selada



Sumber: Pixabay.com

Tumbuhan selada biasa juga disebut selada air, kenci, dan jembah. Tumbuhan yang diberi nama latin Nasturtium officinale R. Br ini mengandung vitamin A, B, C, dan zat besi, kasium, phosphor serta protein dan minyak.

Bagian tumbuhan selada yang biasa digunakan sebagai obat adalah semua bagian tumbuhan. Tumbuh liar dekat perairan dengan bentuk daun segitiga, rasanya manis dan tidak berbunga. 

Biasanya digunakan untuk mengobati penyakit hipertensi, urat dara mengeras, ambeien atau wasir, dan terkilir.

              Daun Sudamala



Sumber: Pixabay.com


Artemisia latifolia Rumph, Artemisia vulgaris Linn, adalah nama-nama latin dari tumbuhan sudamala. Di Indonesia, tumbuhan  sudamala biasa juga disebut tumbuhan manis, suket gajahan, baru vina, dan brobos kebo.

Ciri-ciri tumbuhan ini adalah batangnya yang basah dengan tinggi tumbuhan mencapai 2 meter. Bentuk daunnya bulat telur, cabangnya banyak. Bunga majemuk, kecil dan berwarna kuning. Daun pada tumbuhan sudamata mengandung minyak terbang, artemisin, dan zat samak.

Daun ini berkhasiat menyembuhkan  penyakit lemah syahwat, disentri, keputihan, mimisan, wasir, dan dapat pula menambah nafsu makan.

          Daun Andewi



Sumber: Pixabay.com

Tumbuhan andewi dikenal pula dengan nama andepi, andebi, sasawi, sayur cina, dan jabung. Tumbuhan dengan nama latin Cichorium endervia Linn ini mengandung vitamin A, B, dan C. 
Juga mengandung zat besi dan kalsium. Semua bagian tumbuhan Andewi dapat digunakan sebagai obat, termasuk daunnya.

Ciri-ciri tumbuhan andewi adalah batangnya terasa basah, tinggi mencapai 1,5 meter. Daunnya tunggal, bentuk bulat telur dengan lekuk-lekuk pada ujungnya, bunganya berwarna biru muda yang tumbuh di ketiak daun. Daun ini dikenal sebagai sayuran, yaitu sawi atau sasawi.

Karena tumbuhan ini mengandung vitamin A, B, dan C. Juga mengandung zat besi dan kalsium, maka dapat dimanfaatkan sebagai obat untuk berbagai jenis penyakit, antara lain: batuk, rajasinga, demam, keputihan, dan ambeien.

Cara penggunaanya adalah cukup dijadikan lauk dan dimakan tiga kali sehari sebanyak 10 lembar.

         Daun Putri



Sumber: Pixabay.com

Daun ungu, handeleum, kroton, demung dan daun wungu adalah nama-nama yang digunakan di Indonesia pada tumbuhan ini. Nama botaninya adalah Graptophyllum pictum Griff dan Graptophyllum hortense Nees.

Tumbuhan ini biasa digunakan sebagai pagar hidup karena termasuk tumbuhan perdu dengan tinggi mencapai 6 hingga 7 meter. Bentuk daunnya lonjong, tumbuh berhadapan dengan warna hijau keunguan. Bunganya bentuk bintang dan  berwarna ungu.

Mengandung alkaloida, sehingga bermanfaat sebagai obat ambeien atau wasir. Dapat pula digunakan untuk mengobati penyakit borok dan bisul.

Cara penggunaannya adalah:  6 lembar daun putri ditumbuh atau diremas-remas lalu dicampur dengan 100 ml air matang kemudian ditambahkan satu sendok madu, kemudian diminum.

Masih banyak lagi jenis daun yang biasa digunakan sebagai obat. Tapi untuk kali ini, cukup delapan jenis daun dulu yah. 

Demikian, semoga bermanfaat.






READ MORE

Pasang Surutnya Harapan Mama

Selasa, 17 September 2019


Saya takut bermimpi naik haji, mencukupi makan kalian 2 kali sehari saja saya sudah bersyukur, ditambah kalian sekolah minimal tamat SMA. Alhamdulillah.”


Itu kata-kata  mama puluhan tahun silam.
Ia sadar diri, bahwa berhaji itu memerlukan biaya yang tidak sedikit.  

“Untungnya ibadah haji hanya diperuntukkan bagi yang mampu, bagaimana-mi kalau diwajibkan seperti ibadah salat dan  puasa, aiss …  manrasana, hehehe…”

Sebagai single parent dan membiayai 5 orang  anak, bukanlah perkara gampang bagi mama.  Hanya bermodalkan rumah petak yang disewakan kepada anak sekolahan, mama berjuang menghidupi anak-anaknya. Beliau harus menahan segala keinginan dan impian-impiannya.
Sampai-sampai beliau takut bermimpi menunaikan ibadah haji.

Waktu itu, saya berbisik dalam hati, “Insya Allah, saya akan membayar  ongkos naik haji mama.” Tetapi saya hanya berani berbisik dalam hati. Takut memberinya harapan yang tak pasti.

Berani Merajut Mimpi


Impian ibarat pengharapan, jika tak punya impian,   bagaikan bunga yang layu sebelum berkembang. Namun demikian, kadang kita dihadapkan pada suatu keadaan dimana kata impian serupa dengan khayalan semata.

Mungkin begitulah pikiran  mama. Ia sadar bahwa keadaan ekonominya sama sekali tidak mendukung untuk membayar ongkos naik haji. Ia merasa tergolong orang tidak mampu.

Saya yakin, saat berbisik dalam hati berniat membayarkan ongkos haji mama, malaikat mengaminkan doa saya dan Allah mendengarnya. Karena 17 tahun kemudian, tabungan kami cukup untuk menyetor ongkos naik haji. Setidaknya kami berhasil mendapatkan nomor porsi.

Binar-binar kebahagiaan mama tak dapat disembunyikan. Ia terkekeh bahagia.
Walaupun pada saat kami mendaftar ada salah seorang pegawai Departemen Agama yang bicara, kalau kami harus menunggu 8 tahun baru bisa berangkat.

Semburat kekecewaan tiba-tiba menyelimuti wajah mama.  Saya bisikkan ke telinga mama.  
“Jangankan 8 tahun, 10 tahunpun  tidak mengapa.  Yang penting  Allah Swt sudah mencatat nama kita sebagai calon jamaah haji.”

Mama hanya mengangguk, entah beliau paham atau tidak.
Maka sejak saat itu, mama mulai merajut impiannya. Naik haji.

Cobaan Datang dalam Penantian Panjang


8 tahun berjalan tanpa terasa dan  mama semakin tak sabar dalam penantian panjangnya, apalagi kesehatannya mulai menurun.
Tahun 2018, beliau mulai gelisah.
"Katanya kita menunggu 8 tahun dan sekarang sudah 8 tahun sejak pendaftaran, kenapa nomor porsi kita belum keluar?"

Ternyata perkiraan pegawai Departemen Agama saat itu justru lebih pendek waktunya dibandingkan kenyataannya. Kami harus menunggu hingga 9 tahun lamanya.

Sebelumnya, pada tahun 2017 penyakit tb menyerang mama. Beliau harus menjalani pengobatan selama enam bulan. Harapannya ke baitullah menipis. Ia sangat putus asa.

Kami anak-anaknya hanya bisa menghibur, bahwa seseorang yang akan diundang Allah akan selalu diuji. Mungkin diuji kesabarannya atau bisa jadi "dicuci" agar saat waktunya nanti mama sudah bersih jiwa raganya dan siap wukuf di Arafah.

Lepas masa pengobatan, mama dikatakan bersih dari penyakitnya.
Kembali harapannya menyeruak. Sayangnya panggilan berhaji itu belum datang.

Akhir tahun 2018 saya memberi kabar bahagia, insya Allah nomor porsi haji kami sudah masuk tahun 2019.
Tak henti-hentinya mama mengucap syukur. Beliau mulai menyusun kembali asa yang sempat surut.

Cobaan Kedua


Rupanya Allah masih sayang mama. Dia masih mau bercengkerama dengan zikir-zikir beliau. Allah rindu dengan doa-doa mama, maka cobaan kedua menyapa beliau.

Mama mengeluh sakit di bagian pinggul dan pangkal paha. Ia tak mampu menopang tubuhnya. Tidak bisa jalan. Untuk ke kamar mandi saja ia harus ngesot, merangkak. karena tidak bisa berdiri dan akhirnya  beliau  diopname.

Setelah mengikuti serangkaian pemeriksaan termasuk foto rontgen, oleh dokter dikatakan bahwa tulang duduknya mengalami patah, dan tidak ada jalan lain selain operasi.

Setelah berembuk dengan keluarga akhirnya kami memutuskan untuk tidak mengambil jalan operasi melainkan  mencari pengobatan alternatif.

Singkat cerita, mama dipertemukan  dengan orang yang pandai mengurut. Saat pergi ke rumah tukang urut itu beliau menggunakan kursi roda, bahkan disentuh pinggulnya saja beliau meringis kesakitan.

Masya Allah pulangnya ia bisa jalan kaki, tidak ada lagi keluhan di bagian tulang ekornya. Hanya sedikit nyeri di bagian paha.

Pengobatan alternatif itu beliau jalani selama sebulan. Lambat laun kesehatan mama mulai  membaik. Mama sudah bisa berjalan perlahan walau tak bisa jalan jauh dan lama.

Tiga bulan kemudian, ia kembali mengeluh. Kali ini sakitnya di bagian punggung. Tiba-tiba badannya kelihatan sedikit membungkuk. Kembali mama putus asa. Ia tidak mau menyinggung apapun yang berhubungan dengan ibadah haji.

Jika  sakit di bagian punggungnya itu datang,   mama mengerang kesakitan. Ia sangat putus asa.
"Saya memang sudah ditakdirkan tidak berhaji sampai pergi menghadap Sang Ilahi."
Saya kesal mendengar ucapannya.
"Ma, tidak ada orang yang berhak mendahului keputusan Allah. Jangan putus asa, kita harus ikhtiar."

Kali ini saya berinisiatif membawanya ke Ratulangi Clinik Centre, saya dapat informasi kalau di klinik tersebut ada dokter ahli tulang dan sendi. Beliau dokter yang diakui oleh pasien-pasiennya sebagai dokter yang mumpuni.

Namanya dr. Arman, caranya memeriksa pasien  menenangkan dan mama terkesan.
Dari pemeriksaan yang intensif, mama dinyatakan menderita penyakit  osteoporosis.
Beberapa tulang punggungnya patah akibat keropos.
Tetapi dr. Arman meyakinkan mama jika beliau bisa bertahan asal rajin minum obat dan berhenti beraktivitas yang bisa memicu patah tulangnya yang lain.

Maka rutinlah beliau minum obat selama 3 bulan.
Memasuki bulan kedua, perkembangan kesehatannya mulai menunjukkan perubahan yang cukup signifikan.
Beliau tidak lagi mengeluh sakit, sudah mulai berjalan perlahan lagi, bisa duduk dengan sedikit tegak walaupun masih menggunakan kursi roda jika berjalan jauh.

Harapannya ke tanah suci kembali membara. Senyumnya sudah mulai semringah lagi. Bahkan semakin ceria dan bersemangat saat saya memperlihatkan undangan manasik hajinya.

"Positif-mi ini kita terdaftar sebagai calon jamaah haji, Dawiah?"

"Insya Allah Ma. Makanya mama harus sehat. Jangan lagi bandel, ikuti saran dokter." Mama masih juga tak mau berhenti melakukan kegiatan yang membahayakan tulangnya.

Hari-hari Indah di Madinah


Tanggal 15 Juli 2019 adalah waktu pemberangkatan kami. Mama masih dengan kursi rodanya, terlihat lemah namun ada harapan dan semangat di matanya.
Sudah tak ada lagi keraguan. Beliau sangat yakin bisa mengerjakan semua rukun haji dengan baik.

Kepada keluarga dan orang-orang yang datang menjenguknya,  beliau berkata, “Yang penting  anak dan menantuku sehat, saya pasti bisa menjalankan semua rukun haji.”
Saya yakin, itu adalah doanya  seyakin saya,  bahwa Allah pasti mengabulkan doanya.

Saya, suami, dan mama terdaftar sebagai calon jamaah haji kloter 14 embarkasi Makassar, UPg-14.
Tanggal 17 Juli 2019 sekitar pukul 11.00 waktu setempat, rombongan kami  tiba di bandar udara Internasional Prince Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah Arab Saudi.

Selama 8 hari di Madinah, mama masih harus melanjutkan minum  obat osteoporosisnya. Dengan sabar beliau menjalani hari-hari di Madinah.
Saya hanya bisa membawanya  salat berjamaah di masjid Nabawi setiap subuh, magrib, dan isya.

Mama mengerti bahwa mendorong kursi rodanya di siang bolong sangatlah tidak kondusif, baik untuk kesehatannya sendiri  maupun kesehatan pendorongnya, yaitu saya, karena suhu saat itu di Madinah mencapai 48oC.

Saya salat zuhur di  masjid Nabawi tanpa beliau, sedang salat asar saya menemaninya di hotel. 
Saat diberitahu oleh jamaah lain, kalau salat Arba’in saya tidak cukup karena setiap salat asar saya tidak ke masjid, dengan entengnya mama menjawab, 

“Saya yang akan mencukupkannya.”

Apakah itu diijabah oleh Allah atau tidak, wallahualam bissawab.

Hari kelima, saat pulang salat subuh tiba-tiba mama meminta turun dari kursi rodanya, beliau mencoba jalan kaki.

Masya Allah, mama berjalan perlahan sejauh 100 meter, saya mengikutinya sambil mendorong kursi rodanya yang kosong dengan hati yang gemuruh.

Duhai Allah, sungguh besar kasih sayang-Mu kepada mama.

Hari-hari di Madinah al munawwarah adalah saat terindah bersama mama. Mendorongnya di atas kursi, menungguinya antri berziarah ke makam Rasulullah.

Demikian pula saat ziarah ke masjid Quba, masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah Saw pada tahun 1 Hijriah, atau sekitar tahun 622 Masehi hingga ke Jabal Uhud.
Semburat kebahagiaannya tak bisa ia tutupi seiring semangatnya yang menderu mengalahkan sisa-sisa sakit di bagian punggungnya.

Sehatlah terus mama, doakan saya dengan doa-doa terbaik. Karena mama adalah perantara untuk menuju kepada rida Allah.


mardanurdin.com

Di masjid Quba, sumber pribadi




mardanurdin.com
Di Masjid Nabawi, sumber pribadi



“Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silahkan sia-siakan orang tua kalian.” (HR. Tirmidzi).


READ MORE

Dibalik Penerimaan Siswa Baru

Sabtu, 29 Juni 2019

Masyarakat Indonesia  pastilah sudah akrab dengan dua kegiatan tahunan sekolah, yaitu ujian nasional dan PSB atau penerimaan siswa baru.

Dua kegiatan ini merupakan peristiwa  yang ditunggu-tunggu oleh orang tua maupun  guru, bagaikan merayakan hari raya. Semua sibuk, orang tua sibuk, siswa sibuk, guru-gurupun tak kalah sibuknya.

Kalau tak salah saya sudah menjalani kedua proses itu lebih dari 30 kali. Dihitung sejak saya diangkat menjadi guru pada tahun 1986, jika ditambahkan saat masih menjadi guru honorer tahun 1984 maka bisa dibilang menjalani proses ujian nasional  dan penerimaan siswa baru sudah lebih dari 30 kali.

Perbedaan PSB dari Tahun ke Tahun


Saat masih bertugas di daerah, proses penerimaan siswa baru berlangsung santai. Kami menunggu kedatangan orang tua atau siswa baru sambil bercanda bahkan sambil main volly.

Jika ada yang datang mendaftar, cukuplah kami berseru.

“Simpan maki map ta di atas meja!” Maka orangtua atau calon siswa baru menyimpan map atau berkasnya lalu pulang bahkan ada yang datang bergabung main volly, hahaha….

Itu berlangsung di awal  penerimaan siswa baru  tahun 1986 di desa yang sejuk, nyaman, dan damai.

Tahun ajaran baru selanjutnya, kepala sekolah sudah membentuk panitia penerimaan siswa baru, saat itu prosesnya berlangsung sedikit resmi. Meskipun sekolah masih sepi. Tapi apresiasi  masyarakat terhadap pendidikan terbilang cukup bagus, namun jangan membayangkan orang tua datang berbondong-bondong mendaftarkan anaknya.

Tahun 1993, saya pindah ke sekolah negeri di kota Makassar. Saya tertegun melihat animo masyarakat kota yang sangat besar terhadap pemilihan sekolah buat anaknya.

Sekolah tempat saya bertugas saat itu   adalah salah satu sekolah favorit di lingkungan sekitar. Mungkin karena itu adalah sekolah  negeri satu-satunya yang berada di tengah dari tiga bahkan empat kecamatan. 

Mungkin itu pula  salah satu sebabnya  orang tua berusaha mati-matian agar anaknya bisa bersekolah di situ.

Karena proses penerimaan siswa baru saat itu harus melalui tahap tes, maka tidak heran jika banyak orang tua mendekati guru. Kadang minta dibantu saat tes atau apalah itu. You know lah ๐Ÿ˜

Saat musim penerimaan siswa baru, tiba-tiba guru punya keluarga baru, teman baru, atau teman lama yang sudah sekian tahun tidak bersua akan datang bertamu.

Keluarganya keluarga, temannya teman, dan sebagainya.

Kadang-kadang guru harus “bersembunyi” untuk menghindari permintaan mereka.

Drama tidak berhenti sampai di situ, karena berlanjut paska pengumuman penerimaan siswa baru. Ada lagi rangkaiannya, pendaftaran ulang yang diiringi dengan lulus belakangan atau dikenal dengan istilah  lolos lewat “jendela”

Setelah usaha pertama gagal maka tidak serta merta orang tua menerima, umumnya masih berusaha memasukkan anaknya melalui jalur lain. Bahkan ada yang rela “mendanai” proses itu. 
Setelah semua usaha gagal, barulah melirik ke sekolah swasta.

Mengemis Siswa


Bagaimana dengan sekolah swasta?

Tentu saja berbanding terbalik dengan sekolah negeri. Jika sekolah negeri kewalahan menolak siswa baru maka sekolah swasta kewalahan mencari siswa baru.

Tidak semua sekolah swasta seperti kasus di atas sebenarnya, karena ada beberapa sekolah swasta justru mengalahkan kepopuleran sekolah negeri, namun tidak banyak.

Karena umumnya sekolah swasta mengemis siswa terutama sekolah swasta kelas menengah ke bawah. Maafkan, istilah ini saya berikan kepada sekolah-sekolah swasta yang bangunannya kurang mewah, fasilitasnya kurang baik dan kurang banyak,  akreditasinya B bahkan C, dan sebagainya.

Termasuk sekolah yang saya tempati bertugas pada 10 tahun terakhir. Diberi amanah memimpin sekolah swasta menjadikan saya meninggalkan zona nyaman yang sehubungan dengan PSB mutasi ke zona “nano-nano.”

Setelah bergabung di sekolah swasta, saya baru tahu kalau ukuran keberhasilan sekolah swasta pada umumnya yang diterapkan oleh yayasan adalah jumlah siswa yang banyak.

Yap, kuantitas bukan kualitas.

Asal jumlah siswanya banyak, sekolah swasta sudah bisa dikategorikan bagus. Urusan kualitas belakangan.

Tak heran, ada sekolah swasta memiliki jumlah siswa yang banyak di daftar hadir siswa, tetapi sepi di kelas. Kapan ramainya? Saat ujian semester atau saat ujian kelulusan.

Awalnya saya kritisi keadaan itu, jiwa idealisme saya memberontak. Kenapa mau menerima siswa tipe seperti itu, hanya mau terdaftar sebagai siswa tetapi tak mau mengikuti proses pembelajarannya.

Namun seiring dengan waktu, saya mulai sedikit memahami walaupun hingga detik ini saya tak pernah setuju.

Proses Menghadirkan Siswa di Sekolah Swasta


Apa yang saya dan tim lakukan saat menjelang penerimaan siswa baru,  agar dapat memenuhi harapan yayasan, menjadikan sekolah itu baik  dari segi kuantitasnya?

Banyak hal sebenarnya, tetapi saya hanya mau cerita kisah-kisah manisnya saja dan sedikit cerita lucu, biar pembaca tidak bosan, hehehe …

Enam bulan sebelum penerimaan siswa baru, kami sudah “bergerilya” ke rumah-rumah penduduk di sekitar sekolah. Membagikan  selebaran, memasang spanduk di tempat-tempat strategis dilihat masyarakat dan tak jauh dari lokasi sekolah kami.

Mendatangi sekolah-sekolah SD, meminta izin ke kepala sekolah dan gurunya untuk memperkenalkan sekolah kami sembari membagikan selebaran untuk diteruskan ke orang tuanya. Yaah mirip-mirip salesman obat gitulah ๐Ÿ˜‚

Pada saat pengumuman kelulusan sekolah negeri, kami tidak tinggal diam. Tim penerimaan siswa baru akan berdiri di depan sekolah negeri, mengamati siapa saja yang tidak lulus.

Setiap calon siswa baru yang tidak lulus di sekolah negeri tersebut kami “rayu” agar mau mendaftar ke sekolah alternatif alias sekolah swasta.

Sementara itu panitia penerimaan siswa baru yang bertugas di sekolah menanti di sekolah sambil terkantuk-kantuk.๐Ÿ™

Proses penerimaan siswa baru ini berlangsung lama, bisa hingga menjelang ulangan semester ganjil. Hal paling buruknya adalah mencari anak-anak yang tidak mau melanjutkan sekolah, tetapi punya ijazah SD untuk dimasukkan namanya. 
Tak perlu ke sekolah yang penting mau didaftar.  Prinsipnya, daftar saja dahulu, belajar kemudian.

Semua guru was-was, terutama yang sudah bersertifikasi. Jika siswa kurang maka berdampak pada berkurangnya jam mengajar, lalu pemenuhan jumlah jam wajib bagi guru bersertifikasi gagal.

Daaan dana sertifikasi kembali ke haribaan pemerintah๐Ÿ˜›

Situasi inilah yang membuat saya mulai memahami, mengapa ada sekolah swasta yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan siswa baru.

10 tahun berada di situasi itu telah membuka mata saya, bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak paham pendidikan. Kalaupun ada yang tahu dan mau sekolah tetapi tidak mampu bahkan tidak mau berjuang.

Bahkan ada orang tua yang tega menyuruh anaknya bekerja  dari pada disekolahkan,  lagi-lagi dengan alasan tak mampu membiayai.

Alih-alih disuruh bekerja untuk membiayai sekolahnya, ini malah disuruh bekerja untuk membiayai diri dan keluarganya. 

Miris.

Sistem Zona, Apakah Kabar Manis Bagi Calon Peserta Didik Baru?


Berdasarkan Permendikbud Nomor 17 Tahun 2017 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) pada Taman Kanak-kanak, SD, SMP, SMA, dan SMK atau Bentuk Lain yang Sederajat di bagian keempat pasal 15 tentang sistem zonasi dijelaskan,  bahwa:

1. Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah wajib menerima calon peserta didik yang berdomisili pada radius zona terdekat dari sekolah paling sedikit sebesar 90% (sembilan puluh persen) dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima.

2. Domisili calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan alamat pada kartu keluarga yang diterbitkan paling lambat 6 (enam) bulan sebelum pelaksanaan PPDB.

3.   Radius zona terdekat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh pemerintah daerah sesuai dengan kondisi di daerah tersebut berdasarkan jumlah ketersediaan daya tampung berdasarkan ketentuan rombongan belajar masing-masing sekolah dengan ketersediaan anak usia sekolah di daerah tersebut.

4.   Bagi sekolah yang berada di daerah perbatasan provinsi/kabupaten/kota, ketentuan persentase dan radius zona terdekat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diterapkan melalui kesepakatan secara tertulis antarpemerintah daerah yang saling berbatasan.

5.  Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah dapat menerima calon peserta didik melalui:
                a. Jalur prestasi yang berdomisili diluar radius zona terdekat dari sekolah          paling banyak 5% (lima persen) dari total jumlah keseluruhan peserta didik        yang diterima;

          b. Jalur bagi calon peserta didik yang berdomisili diluar zona terdekat dari             sekolah dengan alasan khusus meliputi perpindahan  domisili orang tua           /wali peserta didik atau terjadi bencana alam/sosial, paling banyak 5%               (lima persen) dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima.                                                              (Salinan Permendikbud 17 Tahun 2017).


Kabarnya sistem zonasi hingga saat ini masih pro kontra, namun berdasarkan pengalaman saya selama beberapa hari ini menjadi panitia PPDB menemukan fakta lain.

Bahwa ada yang kontra, bahkan protes karena posisi rumahnya yang tidak masuk dalam jangkauan zonasi sekolah yang dituju memang benar, namun jumlahnya sangat sedikit.

Dari ratusan calon peserta didik yang mendaftar, tidak sampai 10 orang yang mengeluh. Itu artinya tidak sampai 1% yang mengeluhkan sistem ini. Bahkan sebagian besar orang tua calon siswa baru menyambut gembira sistem ini.

Sumber pribadi


Qadarullah, tahun ini saya kembali ke sekolah lama dan dipercaya menjadi operator PPDB.

Bagai dejavu.

Drama-drama PSB atau sekarang dinamai PPDB seakan terulang kembali, serupa tapi tak sama.

Saya tak disibukkan lagi dengan mencari calon siswa baru, pun tak juga sama dengan peristiwa tahun-tahun awal, “bersembunyi” dari serbuan tetangga, keluarga, dan teman.

Cukuplah berbincang dengan orangtua calon siswa baru, menginput datanya sesuai KK lalu beres. Dari sini pula saya dapat menarik kesimpulan sementara, bahwa sistem zonasi merupakan kabar manis bagi tetangga-tetangga saya, teman, dan keluarga.

Kenapa?

Simaklah perbincangan mereka berikut ini.

“Sejak ada zonasi Bu, anak-anakku bisa tongmi sekolah di sekolah negeri. Dulu kodong, diliat-liat ji orang masuk sekolah negeri padahal itu sekolah ada di depan matata.”

“Apalagi ini ada zona prasejahtra, kita yang kurang mampu bisami juga sekolah di sekolah negeri.”

Enakmi itu kita ka dekatki sekolah dari rumahta, bemanami yang jauh rumahnya kodong?”

“Kan masih adaji jalur prestasi. Ada prestasi akademik ada juga non akademik. Kalau bagusji nilainya anakta biar jauh rumahta bisaji juga masuk.”

“Kalau anakta punya prestasi non akademik , seperti pernah ikut lomba dan juara bisaji juga masuk.”

“Lomba apa itu di?”

“Macam-macam, seperti lomba mengaji, bidang olahraga, seni seperti menyanyi, baca puisi, menari, dsb.”

Jujur, saya terharu mendengar perbincangan mereka.  Walaupun saya juga sering sedih melihat raut kekecawaan di wajah para orang tua yang kebetulan tempat tinggalnya tak terjangkau oleh sistem zonasi.

Begitulah suatu peraturan,  tidak selamanya  bisa menguntungkan dan menyenangkan semua orang, tapi setidaknya  lebih banyak yang terbantu daripada yang tidak terbantu.

Ini kisah saya, bagaimana kisah kalian?

Komen di kolom komentar yuk!


READ MORE

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Nama

Email *

Pesan *