Mata Pelajaran yang Paling Disukai Sekaligus Dibenci

Saturday, May 25, 2024

 


mardanurdin.com


Antara Benci dan Cinta Pada Mata Pelajaran Ini


Waktu SMP, mata pelajaran yang paling saya sukai adalah Bahasa Inggris. Hampir tiap waktu saya membuka kamus Bahasa Inggris untuk mencari kata-kata baru lalu menghafalnya.

Menanti jadwal masuknya mata pelajaran itu adalah saat-saat yang menyenangkan sekaligus bikin deg-degan karena saya akan bertemu dengan guru kebanggaan dan kesayangan saya, beliau guru kesukaan hampir semua murid di kelas saya waktu itu. 

Beliau mengajar dua jenis mata Pelajaran, yaitu Bahasa Inggris sebagai mata Pelajaran utamanya dan mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan atau PKn.

Sebagian teman saya tidak terlalu suka sama beliau ketika mengajar Bahasa Inggris, tetapi menjadi antusias saat beliau mengajar PKn. Sebagian lagi berlaku sebaliknya, dan saya suka sama beliau saat mengajar mata pelajaran apa pun. 

Kebetulan beliau juga wali kelas kami sehingga kadang masuk kelas mengisi pelajaran apa saja ketika gurunya berhalangan hadir.

Saya merasa, saya adalah salah satu siswa kesayangan beliau. Saya merasa seperti itu karena sayalah yang paling sering dipanggil maju ke depan untuk mengerjakan soal-soal. Saya yang paling rajin menjawab atau maju ke depan untuk praktik bercakap Bahasa Inggris.

Rasanya waktu itu, hanya beliau guru saya, guru lain hanya numpang lewat, wkwkwk. Eh, saya jadi mikir, saya suka pelajarannya atau gurunya saja sih?


Musibah Saat Acara Perpisahan


Bagaimana ceritanya perasaan saya berubah drastis?

Saya memuja Beliau dan mata pelajaran Bahasa Inggris itu selama tiga tahun, sejak kelas 1 hingga kelas 3 SMP menjelang tamat dan tiba-tiba berubah pada saat acara perpisahan atau pelepasan siswa yang tamat.

Di acara pelepasan itu, saya menjadi protokol acara, jadi otomatis semua susunan acaranya, sayalah yang akan membacanya dan lebih dahulu tahu daripada teman bahkan oleh tamu-tamu yang hadir.

Awalnya acara berlangsung lancar dan aman. Lalu tibalah pada saat pengumuman siswa berprestasi, Beliau sebagai ketua panitia menyodorkan selembar kertas yang berisi nama-nama siswa yang berprestasi dan yang akan saya bacakan.

Sejenak, saya tercenung. Dalam hati, kenapa nama saya tidak ada di kertas itu? Bukankah selama ini saya selalu masuk peringkat kelas, setidaknya nilaiku  masuk 3 besar dalam kelas?  

Semakin berdebarlah jantung saya, saat melihat satu nama yang berada di urutan ketiga, nama teman saya yang terkenal karena ketidakmampuannya untuk semua mata pelajaran, terutama Bahasa Inggris. 

Bahkan tulisan tangannya saja tidak bisa dibaca sehingga paling sering disuruh tinggal di kelas untuk latihan menulis tangan sementara siswa lain pulang.

Kenapa bisa? 

Apakah dia mendapatkan mukjizat saat ujian sehingga bisa menjawab semua soal dengan benar?

Jiwa saya berontak, marah, lalu saya keluar dari ruangan acara dan melemparkan kertas itu. Beliau terkejut dan mengejar saya.

“Nak, acara belum selesai, saatnya membacakan nama-nama siswa yang berprestasi.” Kata beliau.

“Maafkan saya pak, saya tidak bisa. Saya sedih, kenapa nama saya tidak ada, sementara nama si Fulan itu ada. Tolong dijelaskan, apa sebabnya?”

Beliau memungut kertas yang saya lemparkan itu, kening beliau berkerut lalu masuk ke ruangan kepala sekolah. Sejurus kemudian beliau keluar dan mendatangi saya, katanya, 

“Ternyata nilai ujian Bahasa Inggrismu yang anjlok Nak. Nilaimu merah, hanya 5, sementara nilai temanmu itu terbilang tinggi” Nada bicaranya terdengar sangsi dan kalut.

Mata saya membelalak, “Pak, saya kan siswa yang paling rajin untuk Pelajaran bapak, saya selalu mendapatkan nilai tertinggi untuk Pelajaran Bahasa Inggris, bapak tahu kan?” suara saya serak bercampur tangis.

Beliau termangu, “Bapak juga heran, kenapa bisa yah?”

Yah Allah, hati saya makin kacau. Saya tinggalkan acara itu dan pulang dengan tangis yang saya sembunyikan. Saya tidak peduli dengan tugas saya sebagai protokol, kacau, kacau deh, hati saya sakit sekali. Itu adalah musibah buat saya.


Cinta Berubah Jadi Benci


Berhari-hari saya tidak muncul di sekolah. Kalau bukan karena mau membubuhkan sidik jari pada ijazah, saya tidak muncul sebab saya bersumpah tidak akan melihat muka kepala sekolah dan beliau lagi.  

Dua tiga kali beliau datang ke rumah menjelaskan kronologinya, tetapi telinga saya sudah tertutup, tidak mau tahu dan makin sakit hati ini saat melihat angka 5 untuk Bahasa Inggris di ijazah saya.

Merah!

Yah Allah, padahal itu adalah mata pelajaran kesukaan saya di mana saya selalu meraih nilai tertinggi setiap kali ulangan maupun mengerjakan tugas-tugas harian. Benci sekali hati ini sama guru dan kepala sekolah yang berimbas pada mata Pelajaran Bahasa inggris.

Singkat cerita, saya melanjutkan pendidikan di SMA negeri yang tidak jauh dari rumah saya. Keengganan belajar Bahasa inggris belum juga hilang, dan makin enggan saat guru yang mengajar mata Pelajaran itu tidak sebagus guru mata pelajaran Bahasa Inggris saya itu waktu SMP.

Saya sadar, itu adalah sikap yang tidak baik dan hanya akan merugikan diri saya sendiri. Jangan dibilang, saya tidak berjuang melawan perasaan benci itu untuk menjadi suka. Namun, rasa sakit hati terlanjur menggerogoti jiwa ini. 

Saya mengikuti pelajaran sekadar memenuhi kewajiban sebagai siswa, pura-pura belajar, padahal pikiran saya kemana-mana. Saat ulangan, saya menjawab asal saja, tapi anehnya, nilai saya aman-aman saja.

Tidak tinggi, tetapi tidak memalukan juga. Kok bisa yah?

Saat naik ke kelas 2 SMA, guru yang mengajar Bahasa inggris di kelas saya, digantikan oleh guru lain. Guru itu adalah guru yang cukup popular dan yang paling disukai oleh semua siswa yang pernah diajar. Kabarnya, beliau adalah guru idola semua siswa terutama oleh siswa perempuan karena ketampanan dan sikapnya yang supel.

Sayangnya saya tidak tertarik dan masih trauma.


Benci Menjadi Cinta


Jika mata pelajaran Bahasa Inggris  dulunya saya sukai lalu berubah menjadi tidak suka maka berbeda dengan mata pelajaran Fisika.

Mata Pelajaran yang paling ditakuti oleh siswa karena begitu sulitnya.  Namun, itu tidak berlaku buat saya. Saya menjadi suka sekalipun sulit dipelajari. Saya menjadi dendam  pada mata pelajaran Fisika karena sesuatu hal.

Cerita bermula dari guru yang mengajar mata pelajaran Fisika saat di semester 1. Saat usai ulangan harian, beliau membagikan kertas ulangan/jawaban yang  telah beliau periksa dengan mendatangi meja siswa satu persatu. Saat tiba di depan meja saya, guru Fisika itu berkata, 

“Nilai kamu yang paling rendah. Sepertinya kamu memang tidak berbakat dengan pelajaran eksakta. Nanti saat pembagian jurusan, kamu jangan coba-coba pilih jurusan IPA. Bisa-bisa kamu pingsan setiap hari gara-gara tidak bisa mengikuti pelajaran, terutama pelajaran Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi. Kamu cocoknya di jurusan IPS atau Bahasa saja.”

Pada masa itu, pembagian jurusan di SMA berdasarkan nilai perolehan di rapor, belum ada tes bakat, minat, diagnostik dan sejenisnya.

Mendengar komentar beliau, saya merasa tertantang dan sedikit kesal.

Saya kesal mendengar kata-kata beliau, tetapi saya sadar bahwa nilai saya memang yang terendah. Namun, di balik itu, terbersit dalam hati, kalau Fisika akan saya taklukkan, bagaimanapun caranya.

Memasuki semester 2, saya belajar mati-matian hanya untuk empat mata Pelajaran, yaitu matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi, dan tetap mempelajari mata pelajaran lain sekalipun tidak sesering mempelajari empat mata pelajaran itu.

Dalam hati, saya bertekad untuk membuktikan kepada beliau bahwa, anggapannya terhadap saya adalah salah besar.

Tibalah pada saat pembagian jurusan menjelang kenaikan kelas 2. Masyaallah, nama saya terdaftar di kelas  2 Jurusan IPA. Rasanya saya ingin menunjukkan rapor saya itu kepada belaiu sambil bilang, “Bapak salah, saya berhasil masuk jurusan IPA.”

Sayangnya kami tidak bertemu hingga libur semester berakhir.

Qadarullah, kami dipertemukan lagi di kelas 2, kembali beliau mengajar di kelas saya, tapi saya heran, beliau kok tidak mengenal saya yah?

Tak apalah, mungkin beliau malu karena sudah salah memprediksi.

Menjelang kenaikan ke kelas 3, kembali beliau “bikin ulah” dengan berkata, “Kebetulan saja kalian semua ini masuk jurusan IPA, karena hanya ada sekitar 10 siswa yang betul-betul memiliki kecerdasan eksakta, selebihnya lebih cocok masuk IPS.”

Bisa yah ada guru seperti itu? Teman-teman saya yang lain, mungkin tidak peduli dengan kata-kata beliau, tetapi tidak buat saya. Saat itu, saya berdoa, semoga di pertemuan kami berikutnya, beliau mengangkat topi buat saya karena berhasil menjadi sarjana Fisika.

Saya yakin saat itu Allah mendengar doa saya dan mengabulkannya, karena beberapa tahun kemudian, saya bertemu beliau bukan lagi sebagai siswa dan guru melainkan sebagai sesama guru. Saya mengajar IPA di SMP di sebelah SMA saya dulu sekolah, tempat beliau mengajar.

Beliau termangu ketika mengetahui kalau saya sudah menjadi guru dan mengajar mata Pelajaran IPA, pelajaran yang mencakup tiga mata pelajaran sekaligus, yaitu  Fisika, Biologi dan Kimia bahkan waktu itu ada juga pelajaran Ilmu Pengetahuan Bumi & Antariksa (IPBA).

Tidak cukup sampai di situ, dua tahun setelahnya, kami dipertemukan lagi oleh Allah dalam acara seminar Fisika. Dengan bangga saya katakan, “Pak sekarang saya sudah sarjana, sarjana Fisika seperti bapak.”

Beliau tersenyum dan menjabat tangan saya, “Kamu luar biasa.”


Hikmah Dari Peristiwa Itu


Apa hikmah yang bisa kita ambil dari kedua peristiwa yang saya alami itu? Setidaknya buat saya yang ditakdirkan menjadi guru.

Pertama, setiap guru hendaknya harus berhati-hati dalam memberikan nilai terutama untuk penulisan nilai rapor. Untuk hal ini,  saya selalu membuka diri, ketika ada siswa yang memprotes nilainya, karena bisa jadi saya yang keliru.

Kedua, rapikan administrasi terutama administrasi penilaian. Jadi ketika ada anak yang mempertanyakan hasil perolehan nilainya, bapak, ibu guru bisa mempertanggungjawabkan di hadapan siswa, bahwa memang nilainya sudah sesuai, dan kalau ada kekeliruan, jangan segan meminta maaf dan memperbaiki nilainya. 

Ketiga, buat saya pribadi. Saat masih menggunakan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada kurikulum 2013, saya selalu mengambil standar nilai KKM yang tinggi dan memberikan nilai di atas KKM untuk semua siswa  yang rajin apalagi buat siswa yang pandai, rajin plus berkarakter baik.Jika ada siswa yang nilainya berada pada nilai KKM,  itu artinya anak tersebut sudah tergolong sangat malas

Saya sadar, bahwa penilaian guru terhadap siswa itu sangat memengaruhi kejiwaan anak. Saya selalu beranggapan bahwa tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah anak yang malas saja. Maka selama siswa itu rajin atau menunjukkan antusiasnya maka dia berhak mendapatkan nilai yang bagus tanpa mengacuhkan siswa lain yang lebih pandai.

Keempat, buat guru, sangat penting memiliki tabungan kesabaran yang banyak. Selalulah berjuang  menahan diri, menahan mulut dan tangan jika menemukan suatu kejadian yang menjengkelkan. Kalau sesekali keceplosan juga, segeralah beristigfar, sebab sekarang keadaan memang agak lain. 

Tanpa menghakimi, anak-anak sekarang terutama yang lahir pada tahun 2000-an banyak yang jauh lebih "kreatif" dan kritis dibandingkan anak-anak dahulu, terutama anak yang lahir pada tahun 90-an. 

Yaah, namanya juga dunia yang selalu dinamis, teknologi berkembang sangat pesat, informasi bisa didapatkan semudah kita tersenyum, dan banyak hal lainnya. Semua itu membutuhkan kehati-hatian kita dalam mendidik anak.

Semoga kisah saya ini bisa menjadi pelajaran buat kita semua, bahwa menanamkan rasa suka anak pada suatu mata pelajaran tidak semudah menjadikannya benci pada mata pelajaran lainnya. 

Tulisan ini adalah untuk memenuhi Tema Tantangan Menulis (TTM) di Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP)






Makassar, 25 Mei 2024


Dawiah 


Read More

Repotnya Mengemas Pakaian

Tuesday, May 21, 2024



repotnya mengemas pakaian



Tidak menulis selama berhari-hari, rasanya jari-jari kaku dan rasa malas semakin melanda. Rasanya hati ini kosong, tetapi pada dasarnya bertolak belakang dengan isi kepala, karena begitu banyak hal yang mesti disuarakan melalui tulisan. 

Terakhir saya menulis dan posting di EduBlast Sains tentang Kerang Mutiara Air Tawar, rangkaian tulisan tentang hewan-hewan yang berumur panjang hingga ratusan tahun lamanya. Tulisan itu juga adalah draf yang telah berbulan-bulan mangkrak di laptop. 

Kali ini, saya mau menulis curhat dahulu, tulisan yang paling gampang diurai karena menyangkut diri sendiri yang tidak perlu riset segala macam. 

Cukuplah mengingat-ingat peristiwa yang telah dilalui sembari merenung, apakah ini pantas diposting atau tidak?

Karena sekalipun itu tulisan tentang diri sendiri, mesti bijaksana juga memilah demi menghindari kesalahpahaman dari orang lain, terutama netizen yang kadang merasa kesenggol padahal tidak bermaksud menyenggol. 

Seperti kata pepatah, “the pen is mightier than the sword”  (pena lebih tajam daripada pedang). Jika pedang dapat menembus kepala satu orang, maka pena yang diibaratkan sebagai tulisan akan dapat menembus banyak kepala, bisa sampai jutaan, tergantung sebanyak berapa orang yang membacanya.

Maka perlu kehati-hatian dalam menulis apa pun. Baiklah, mari kita mulai menulis curhat, hihihi.


Repotnya Mengemas Pakaian; Persiapan Umroh Syawal


Salah satu penyebab saya rehat menulis adalah persiapan melaksanakan umroh Syawal, yaitu mulai dari mengurus perpanjangan paspor yang telah habis masanya, pengambilan koper hingga packing atau mengemas pakaian yang mau dibawa saat umroh.

Selain persiapan lahiriah, saya dan suami juga belajar lebih giat lagi demi persiapan spiritual dan mental dalam menjalankan ibadah umroh, karena kali ini saya dan suami pergi berdua saja. 

Katanya, kalau pergi berdua pasangan, godaannya lebih banyak dibanding perginya ramai-ramai atau tidak bersama pasangan, wallahualam bissawab.

Seperti pada umumnya kaum perempuan (mungkin saya saja kali yah?) bahwa setiap mau bepergian, proses packing itu adalah pekerjaan yang sulit dan paling menyita waktu.

Misalnya, pada hari pertama, saya memilih dan memilah pakaian apa saja yang akan dimasukkan dalam koper. Wah, itu perkara gampang rasanya. Cukup keluarkan baju dari lemari lalu susun dalam koper sembari menghitung, hari pertama  pakai ini dan itu, hari kedua ini lagi dan seterusnya. 

Ternyata tidak semudah itu, karena sejurus kemudian, nampak koper menggelembung padahal belum memasukkan pakaian dalam, kaus kaki dan perintilan lainnya. Yaah, mesti dibongkar isi koper ini, lalu susun-susun lagi.

Hari Kedua, masih kegiatan yang sama. Beberapa pakaian disingkirkan untuk memberi ruang printilan lainnya, mulai dari pakaian dalam, jilbab, mukena hingga sarung.

Oh yah, saya lebih sering bawa sarung dibanding bawa handuk sebagai peralatan mandi,  berhubung jiwa ndeso masih melekat dalam diri saya, wkwkwk. 

Sebab lain saya lebih suka bawa sarung dibandingkan bawa handuk, karena sarung lebih tipis dan gampang kering. 

Selain itu, bawa sarung juga  buat jaga-jaga, jangan sampai nanti di hotel tidak disediakan handuk atau handuknya tidak sesuai dengan jumlah penghuni kamar. 

Alhamdulillah semuanya sudah masuk koper, tapi kelihatannya koper masih menggelembung yah?

Bagaimana nanti kalau mau belanja di sana, yaaah minimal beli abaya satu, dua, tiga lembar? Disimpan di mana?

Wah, mesti kurangi lagi deh isi kopernya.

Hari ketiga, saya keluarkan beberapa lembar pakaian. Daster dikurangi, cukup tiga lembar saja, lalu jilbab diganti dengan warna hitam dan putih saja agar cocok dengan semua baju. Intinya, koper dibongkar lagi, hahaha.

Yaaah begitulah, kegiatan bongkar pasang ini berlangsung sampai H-2 padahal ini bukan perjalanan umroh yang pertama, tapi masih juga suka galau saat packing. Yang pasti ada beberapa pertimbangan saat menentukan barang apa saja yang akan dibawa saat umroh. 

Insyaallah pada postingan berikutnya akan saya tulis daftar barang yang mesti dibawa saat umroh. Semoga diberi kemudahan dalam menuliskannya nanti, doakan yah.

Demikian tulisan curhat saya kali ini, saya akhiri dengan ucapan, nun walqalami wama yasthurun. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Makassar, 21 Mei 2024


Dawiah

Read More

Berhenti Mengikuti Blog Challenge

Wednesday, April 17, 2024

 

Akhirnya saya memutuskan berhenti mengikuti blog challenge BPN. Jangan dikira saya semudah itu memutuskan untuk berhenti, karena ada keraguan saat mengambil keputusan itu. Saya butuh beberapa waktu untuk berdoa minta petunjuk, apakah ini keputusan yang tepat atau bukan?


mardanurdin.com


 

Di tengah kegalauan itu, saya mencari jawabannya dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wataala agar diberi petunjuk. Bagaimanapun saya tidak mau kehilangan semua momen-momen yang terjadi selama bulan suci ini.

 

Pagi itu, sepulang dari masjid, saya rehat sejenak sambil membuka akun media sosial, hingga di suatu waktu, saya mendapatkan notifikasi ceramah Ustaz Adi Hidayat lalu disusul dengan Ustaz Syafik Risa Basalamah tentang pentingnya menjaga waktu di sisa 10 hari terakhir Ramadan agar mendapatkan keberkahan dari-Nya. 

 

Mungkin ini jawaban untuk alasan saya berhenti mengikuti challenge itu. Sekalipun saya sudah menyusun semua draf tulisan hingga hari terakhir, tetapi memprioritaskan kepentingan spiritual saya adalah keputusan yang sangat tepat, setidaknya itu hikmah yang saya dapatkan dari berbagai ceramah agama, baik yang saya simak melalui kanal youtube ustaz maupun yang saya dengar langsung dari para penceramah sebelum salat tarawih di masjid.

 

Alhamdulillah, sejak malam pertama Ramadan hingga menjelang 10 malam terakhir, saya diberi kekuatan dan kesehatan oleh Allah Subhanahu wataala untuk mengikuti tarawih di masjid.

 

Lalu sesuatu hal terjadi menerpa ketenangan saya, tiba-tiba ada perseteruan yang terjadi, memang tidak besar, tetapi cukup membuat hati ini sedikit terusik, dan kesadaran itu kembali mengingatkan bahwa, manakala kita berusaha mengembalikan kekhusyukan kita beribadah dan berjuang mendekatkan diri kepada-Nya agar menjadi lebih dekat lagi, maka setan pasti tidak senang, maka digunakanlah daya upayanya untuk mengganggu konsentrasi kita, dan itulah yang terjadi.

 

Sedang asyk-asyiknya mendekatkan diri, menghamba sehamba-hambanya kepada-Nya, godaan itu datang. Namun, seperti yang lalu-lalu, selama kita berusaha mencari perlindungan hanya kepada-Nya, maka pasti pertolongan itu datang.

Bismillah, kembali fokus mengejar momen malam seribu bintang itu. Dan, malam ke-25 itu saya mencoba menyampaikan keluh kesah ini lagi dan lagi hanya kepada-Nya.

 

Bantulah saya ya Rabb, untuk tetap istiqamah dalam ketaatan kepada-Mu.Tolonglah nurani  ini yah Rabbi untuk selalu berada dalam kalbu.

 

“Ya muqalliba qulub tsabbit qalbi ala diniika.”

 “Wahai Zat yang membolak balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

 

Semakin mendekati akhir Ramadan, godaan itu semakin gencar datangnya dan bertubi-tubi. Tak mempan menerjang jiwa, maka fisik pun ditodong, yang saya rasakan adalah badan selalu lelah dan mata seakan tak bisa terjaga untuk membaca kalam Al Qur’an bawaannya mau tidur terus.

 

Sekuat tenaga saya menghalau itu semua dan terutama memohon pertolongan-Nya, 

"Ya Rabb, jangan biarkan tubuh ini rapuh di saat saya membutuhkan kekuatan untuk mengisi sisa-sia Ramadan ini."

Jangan lenakan pikiran dan hati ini untuk mengejar malam-malam indah-Mu yang kau anugerakan kepada umat Muhammad yang hanya datang sekali selama setahun. Karena Belum tentu tahun depan kami masih berjumpa dengannya. Bantulah kami ya Allah untuk selalu ingat kepada-Mu. Tolonglah kami untuk berjalan kearah-Mu.

 

Hari ini, sudah memasuki 8 Syawal 1445 H, itu artinya sudah delapan hari berlalunya Ramadan. Seharusnya saya bisa kembali fokus menulis selepas merayakan lebaran dan bersilaturahim, tetapi konsentrasi saya harus fokus dahulu ke persiapan umroh Syawal yang insyaallah dimulai pada 25 April 2024. 

Bismillahirrahmanirr rahim, semoga semua rencana berjalan dengan baik dan bisa menjalankan ibadah umroh dengan lancar dan meraih umroh mabrur. Amin ya Rabbal alamin.

 

Makassar, 17 April 2024

 

Dawiah

 

 

Read More

Refleksi Diri

Monday, March 25, 2024

 

www.mardanurdin.com


Refleksi Diri, Melalui Surat Cinta Untuk Diri Sendiri

Read More

Mudik Lebaran; Pulang ke Pelukan Keluarga

Sunday, March 24, 2024

 

Mudik Lebaran, www.mardanurdin.com



Sudah lama sekali saya tidak mengalami yang namanya mudik, terakhir mudik ke kota kelahiran saya itu tahun 1993, itu artinya sudah 31 tahun saya tidak merasakan euforia mudik. 

Nyaris hilang dari ingatan, bagaimana dulu saya mempersiapkan mudik ke rumah orang tua yang ada di kota, padahal jarak tempat saya bertugas dengan rumah orang tua hanya berkisar 51 km dan cukup menempuh perjalanan selama kurang lebih 1 jam dengan naik pete-pete. 

Waktu itu, setiap kali saya sibuk mempersiapkan diri untuk mudik, teman-teman mengajar malah sibuk mengejek saya sembari berkata, 

“Kamu itu tidak mudik, hanya pulang ke rumah orang tuamu saja, mudik kok ke kota.”

Katanya teman-teman, mudik itu identik perjalanan dari kota ke kampung, sedangkan saya sebaliknya.

Berpuluh tahun kemudian, di saat saya tidak merasakan lagi mudik atau istilah teman saya, pulang ke rumah orang tua, saya makin mengerti, bahwa mudik itu bukan hanya tentang pulang kampung.

 

Pengertian Mudik


Yap,  mudik  tidak selalu hanya mengacu pada perjalanan ke kampung halaman. Istilah "mudik" secara harfiah berarti perjalanan kembali ke tempat asal atau kampung halaman, tetapi dalam praktiknya, dapat mencakup berbagai tujuan perjalanan. 

Tradisi mudik telah menjadi bagian penting dari budaya Indonesia, dan sering dianggap sebagai momen yang ditunggu-tunggu dengan antusiasme oleh banyak orang. Namun, mudik juga dapat menjadi tantangan, terutama terkait dengan ketersediaan transportasi, kemacetan lalu lintas, dan ketidaknyamanan selama perjalanan yang panjang. 

Meskipun demikian, nilai-nilai kebersamaan, kekeluargaan, dan solidaritas sosial yang terkait dengan tradisi ini membuat mudik tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia terutama dalam konteks Idul Fitri.


Mudik Tak Mesti Bersua Fisik


Setiap tahun, ribuan orang di seluruh Indonesia bersiap-siap untuk melakukan perjalanan yang penuh arti dan emosi: mudik Lebaran. Bagi banyak orang, mudik bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah ritual yang melampaui sekadar pemindahan lokasi. Itu tentang pulang ke akar, kembali ke tempat di mana hati berada, ke pelukan keluarga.

Mudik Lebaran adalah momen yang ditunggu-tunggu sepanjang tahun, di mana orang-orang dari berbagai penjuru negeri berbondong-bondong pulang ke kampung halaman mereka. Bagi sebagian, itu adalah pertemuan tahunan yang penuh kebahagiaan dan keceriaan. Bagi yang lain, itu adalah saat untuk merayakan kembali tradisi khas lebaran yang tak terlupakan.

Namun, di balik kegembiraan tersebut, terdapat kisah-kisah yang mengharukan dan pengorbanan yang tak terhitung. Banyak dari mereka yang melakukan mudik harus melewati perjalanan yang panjang dan melelahkan. Mereka menempuh perjalanan dari kota besar ke desa-desa terpencil dengan berbagai moda transportasi yang tersedia, mulai dengan  bus, kereta api, kapal, dan bahkan motor.

Bagi sebagian orang, mudik adalah tentang menghadapi tantangan yang melelahkan di jalan raya yang padat, tetapi bagi yang lain, itu adalah perjalanan melalui lautan dan pegunungan yang indah. Namun, satu hal yang pasti, setiap perjalanan memiliki tujuan yang sama: pulang ke pelukan keluarga.

Mudik Lebaran adalah saat untuk merasakan kehangatan dan kasih sayang keluarga yang mungkin sudah lama tidak terlihat. Ini adalah waktu untuk saling berbagi cerita, tawa, dan bahagia bersama. 

Bagi banyak orang, momen ini adalah saat yang tak ternilai harganya, di mana semua kesulitan perjalanan terbayar lunas oleh kebersamaan yang mereka rasakan.

Namun, di balik kegembiraan itu, terdapat juga rasa kehilangan dan rindu yang mendalam. Bagi mereka yang tidak bisa pulang ke kampung halaman karena berbagai alasan, seperti keterbatasan finansial atau jarak yang terlalu jauh, momen ini bisa menjadi waktu yang penuh duka dan kesendirian.

Tetapi, meskipun jarak memisahkan, semangat Lebaran tetap hadir di hati setiap individu. Dengan teknologi yang semakin canggih, mereka yang tidak bisa pulang bisa tetap merayakan Lebaran secara virtual, melalui panggilan video atau pesan teks


Mudik adalah Kembali ke Pelukan Orang tua


Mudik Lebaran bukan hanya tentang perjalanan fisik, melainkan tentang perjalanan emosional yang membawa kita kembali ke akar dan menguatkan ikatan keluarga. Mungkin saat kita memeluk orang-orang tercinta di kampung halaman, kita menyadari bahwa Lebaran bukan hanya tentang berada di suatu tempat, tetapi tentang bersama-sama dengan orang-orang yang kita cintai. 

Sehingga, setiap tahun, meskipun tantangan dan rintangan mungkin ada, kita tetap bersiap-siap untuk melakukan perjalanan yang membawa kita kembali ke rumah, ke tempat di mana hati kita berada: ke pelukan keluarga. Itulah esensi sejati dari mudik Lebaran.

Seperti yang saya alami puluhan tahun lalu, pulang ke rumah orang tua dengan berbagai alasan, seperti: ingin menikmati masakan khas lebaran buatan mama, bersenda gurau dengan saudara-saudara, dan menikmati libur panjang sambil berleha-leha di rumah atau beramai-ramai mengunjungi sanak keluarga.

Ada rasa yang sulit saya gambarkan manakala saya datang lalu memandangi binar bahagia di mata mama dan senyum semringah bapak. Mudik bagi saya waktu itu adalah keniscayaan, sebab saya yakin ada kerinduan di mata mereka. Karena  itu sesulit apa pun persiapan mudik dan perjalanan yang akan saya tempuh, mudik wajib saya lakukan.

Kembali ke “pelukan” orang tua adalah momen haru nan indah yang selalu saya rindukan.

Lima tahun terakhir, pelukan saya lah yang selalu terkembang menanti kepulangan anak-anak saya. Sedih rasanya jika ada anak yang mengabarkan kalau tahun ini, tidak bisa mudik karena sesuatu dan lain hal. 

Sekalipun sedih, saya mencoba memahami alasan mereka. Bahwa, mudik lalu datang ke pelukan saya, tidak mesti menunggu lebaran bukan?

Mudik, lebaran dan terurainya rasa rindu adalah rasa yang tak bisa dimanipulasi. Kita mungkin bisa legowo menerima ketidakpulangan anak-anak, tetapi jauh di lubuk hati, kerinduan untuk berkumpul kadang datang tanpa diundang.

Ya, sudahlah!

Suka atau tidak, itulah hal yang harus kita terima bahwa pada akhirnya, para orang tua harus siap menerima keadaan, sesulit apa pun itu. 

Kita hanya harus memilih, bertahan dengan kesedihan atau bangkit menyambut kebahagiaan.


Makassar, 24 Maret 2024


Dawiah

Read More

Manifestasi Cinta Tanpa Batas

Saturday, March 23, 2024


www.mardanurdin.com


Manifestasi Cinta Tanpa Batas Melalui Pertolongan-Nya

Read More

Momen Ramadan yang Tak Terlupakan

www.mardanurdin.com


Momen Ramadan Penuh Makna

Read More

Ngabuburit Ramadan: Memahami Makna dan Manfaatnya



Ngabuburit Ramadan - www.mardanurdin.com


Inilah Makna dan Manfaat Mengabuburit Dalam Bulan Ramadan

Read More

Semangat Puasa Yah Nak! Nanti Mama Kasi Hadiah

Friday, March 22, 2024


Anak puasa, perlukah kasih reward? www.mardanurdin.com


Anak Puasa, Perlukah Kasi Hadiah?

Read More

Jadikan Dirimu Sehat dan Cantik Meski Sedang Berpuasa, Ini Rahasianya

Thursday, March 21, 2024

 

rahasia sehat dan cantik meski puasa


....Rahasia Sehat dan Cantik Meski Sedang Berpuasa...

Read More

Tradisi Takjil di Berbagai Belahan Dunia: Keberagaman dan Kreativitas

 

www.mardanurdin.com


.....Tradisi Takjil di Berbagai Belahan Dunia.....


Read More

5 Pilihan Bubur yang Memanjakan Lidah Saat Buka Puasa

Wednesday, March 20, 2024


www.mardanurdin.com


--- Bubur yang Memanjakan Lidah Saat Buka Puasa ---


Sebenarnya saya tidak terlalu suka makan bubur jenis apa pun, tetapi sejak suami terkena penyakit mag yang mengharuskan Beliau makan bubur 2 – 3 kali dalam sepekan, maka sejak itu pula saya mulai suka. Awalnya hanya icip-icip, lama-lama jadi doyan.

Ramadan tahun ini, kebiasaan Beliau makan bubur tidak surut, mulai dari buka puasa hingga sahur, makannya bubur. Dari bubur polos (istilah Beliau untuk bubur tanpa topping), bubur ayam hingga bubur sayuran sudah pernah saya sajikan buat si tersayang, ayangbeb. 


Buka Puasa dengan Makan Bubur, Ini Manfaatnya


Ternyata makan bubur saat buka puasa banyak manfaatnya. Jadi tidak sia-sia saya menyiapkan berbagai jenis bubur buat ayangbeb sekalian menjadi menu buka puasa untuk semua keluarga. 

Manfaatnya apa saja? Yuk, simak penjelasannya berikut ini.

Mudah Dicerna 

Bubur merupakan makanan yang mudah dicerna oleh tubuh. Setelah berpuasa seharian, tubuh menjadi lebih sensitif terhadap makanan dan bubur yang lembut dapat membantu proses pencernaan tubuh. 

Mengisi Kembali Cairan Tubuh

Kandungan air pada bubur membantu mengembalikan cairan yang hilang selama puasa. Hal ini penting untuk mencegah dehidrasi dan menjaga keseimbangan cairan tubuh. 

Sumber Energi

Bubur mengandung karbohidrat kompleks dari nasi atau sereal lainnya yang merupakan sumber energi yang baik. Ini akan membantu Anda mendapatkan energi yang Anda butuhkan setelah seharian berpuasa. 

Gizi Seimbang

Bubur dapat diperkaya dengan nutrisi tambahan seperti sayur mayur, daging atau kacang-kacangan, sehingga menjamin pola makan seimbang. Misalnya bubur ayam yang mengandung protein dari daging ayam serta vitamin dan mineral dari sayur-sayuran. 

Memberikan Rasa Kenyang

Bubur dapat memberikan rasa kenyang lebih lama, karena mengandung proporsi serat, protein, dan lemak sehat yang seimbang. 

Mudah Dimodifikasi

Resep bubur dapat dimodifikasi sesuai selera dan kebutuhan individu. Hal ini memungkinkan penambahan berbagai bahan yang sehat dan bergizi. 

Memenuhi Kebutuhan Nutrisi

Bubur dapat dimasak dengan menambahkan bahan-bahan padat nutrisi seperti kacang-kacangan, sayuran dan rempah-rempah. Membantu tubuh memperoleh beberapa nutrisi penting yang diperlukan untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh dan menjaga kesehatan. 

Jadi, memilih bubur sebagai makanan berbuka puasa bisa menjadi pilihan yang baik untuk mendapatkan nutrisi yang cukup dan memulihkan energi setelah seharian berpuasa.

Berikut 5 resep bubur dari yang gurih hingga manis yang bisa kalian jadikan pilihan buka puasa.


1. Bubur Ayam

Bahan

  • 1 mug beras
  • 5 mug air
  • 250g daging ayam, potong dadu kecil
  • 2 batang daun bawang, iris halus
  • 2 cm jahe, memarkan
  • 2 siung bawang putih, cincang halus
  • 1 sdm minyak sayur
  • Garam secukupnya
  • Merica secukupnya

Cara Membuat

  1. Cuci bersih beras, kemudian rendam dalam air selama 30 menit. Tiriskan.
  2. Panaskan minyak dalam panci, tumis bawang putih dan jahe hingga harum.
  3. Masukkan potongan daging ayam, tumis hingga berubah warna.
  4. Tambahkan beras yang sudah direndam dan air. Aduk rata.
  5. Masak dengan api kecil hingga beras menjadi bubur dan daging ayam matang sempurna, sambil sesekali diaduk.
  6. Jika sudah matang, tambahkan garam dan merica secukupnya. Aduk rata.
  7. Sajikan bubur ayam panas dengan taburan daun bawang di atasnya.

Selamat mencoba! Semoga berbuka puasanya menyenangkan.


2. Bubur Sayuran

Bahan

  • 1 mug beras
  • 5  mug air
  • 1 wortel, potong dadu kecil
  • 1 kentang, potong dadu kecil
  • 1 cup jagung manis
  • 1 cup kacang polong
  • 2 batang daun bawang, iris halus
  • 2 cm jahe, memarkan
  • 2 siung bawang putih, cincang halus
  • 1 sdm minyak sayur
  • Garam secukupnya
  • Merica secukupnya

Cara Membuat

  1. Cuci bersih beras, kemudian rendam dalam air selama 30 menit. Tiriskan.
  2. Panaskan minyak dalam panci, tumis bawang putih dan jahe hingga harum.
  3. Masukkan wortel, kentang, jagung manis, dan kacang polong. Tumis sebentar.
  4. Tambahkan beras yang sudah direndam dan air. Aduk rata.
  5. Masak dengan api kecil hingga beras menjadi bubur dan sayuran matang sempurna, sambil sesekali diaduk.
  6. Jika sudah matang, tambahkan garam dan merica secukupnya. Aduk rata.
  7. Sajikan bubur sayuran panas dengan taburan daun bawang di atasnya.


3. Bubur Manis

Bahan

  • 1 mug beras
  • 5 mug air
  • 400 ml santan kental
  • 100g gula merah, sisir halus
  • 1 batang serai, memarkan
  • 2 lembar daun pandan
  • Sejumput garam
  • Topping sesuai selera (contohnya: kacang tanah sangrai, wijen, kacang hijau rebus, dan potongan pisang)

Cara Membuat

  1. Cuci bersih beras, kemudian rendam dalam air selama 30 menit. Tiriskan.
  2. Didihkan air dalam panci, masukkan beras yang sudah direndam dan daun pandan. Masak dengan api kecil hingga beras menjadi bubur, sambil sesekali diaduk.
  3. Setelah bubur mulai mengental, tambahkan santan kental, gula merah, serai, dan garam. Aduk rata.
  4. Masak bubur dengan api kecil sambil terus diaduk hingga santan meresap dan bubur mencapai tekstur yang diinginkan.
  5. Angkat bubur dan sajikan dalam mangkuk. Taburkan topping sesuai selera di atasnya.
  6. Bubur manis dapat disajikan hangat atau dingin, sesuai selera.


4. Bubur Kacang Hijau

Bahan

  • 1 mug kacang hijau, direndam semalam
  • 5 mug air
  • 200 ml santan kental
  • 100g gula merah, sisir halus
  • 2 lembar daun pandan
  • Sejumput garam
  • Topping sesuai selera (contohnya: kelapa parut, kacang tanah sangrai, dan potongan pisang)

Cara Membuat

  1. Bilas kacang hijau yang telah direndam semalam. Tiriskan.
  2. Didihkan air dalam panci besar. Masukkan kacang hijau dan daun pandan. Masak dengan api sedang hingga kacang hijau empuk, seraya sesekali diaduk.
  3. Setelah kacang hijau empuk, tambahkan santan kental dan gula merah. Aduk rata.
  4. Masak bubur dengan api kecil sambil terus diaduk hingga santan meresap dan bubur mencapai tekstur yang diinginkan.
  5. Jika perlu, tambahkan sejumput garam untuk menyeimbangkan rasa.
  6. Angkat bubur dan sajikan dalam mangkuk. Taburkan topping sesuai selera di atasnya.
  7. Bubur kacang hijau dapat disajikan hangat atau dingin, sesuai selera.

Selamat mencoba! Semoga hidangan bubur kacang hijau ini menambah kenikmatan saat berbuka puasa.


5. Bubur Ketan Hitam

Bahan

  • 1 mug ketan hitam
  • 5 mug air
  • 200 ml santan kental
  • 100g gula merah atau gula pasir (sesuai selera)
  • 2 lembar daun pandan
  • Sejumput garam

Cara Membuat

  1. Cuci bersih ketan hitam, kemudian rendam dalam air selama minimal 2 jam atau semalam untuk hasil terbaik. Tiriskan.
  2. Didihkan air dalam panci besar. Masukkan ketan hitam yang sudah direndam dan daun pandan. Masak dengan api sedang hingga ketan hitam menjadi lembut, seraya sesekali diaduk.
  3. Setelah ketan hitam empuk, tambahkan santan kental dan gula merah (atau gula pasir). Aduk rata.
  4. Masak bubur dengan api kecil sambil terus diaduk hingga santan meresap dan bubur mencapai tekstur yang diinginkan.
  5. Jika perlu, tambahkan sejumput garam untuk menyeimbangkan rasa.
  6. Angkat bubur dan sajikan dalam mangkuk.

Anda juga bisa menambahkan topping sesuai selera seperti kelapa parut, wijen, atau potongan pisang. Bubur ketan hitam bisa disajikan panas atau dingin, tergantung selera Anda. Selamat mencoba!

Dari kelima resep bubur di atas, mana nih yang akan kalian praktikkan. Share dong pendapatnya di kolom komentar. 


Makassar, 20 Maret 2024 


Dawiah

Read More

Suka Duka Menjalani Ramadan Tahun Ini

Tuesday, March 19, 2024

www.mardanurdin.com



----Suka Duka Menjalani Ramadan Tahun Ini---


Kadang kehadiran orang tua terutama mama yang selalu mau tahu urusan kita, anaknya, sungguh menyebalkan. Kita merasa kekepoannya mengganggu bagian terdalam dari diri kita. Apalagi jika sudah mulai memberi tanggapan atas keputusan yang kita yakini sudah benar.

Dahulu, sebelum saya menjadi tua yang sesungguhnya, perasaan itu selalu muncul terhadap mama, walaupun berusaha menjaga diri terutama lisan untuk tidak membantah Beliau, tetapi terkadang keceplosan juga.

Tipikal mama yang perfeksionis, rajin, rapi dan selalu bekerja cepat dan lincah bertolak belakang dengan sifat saya yang cenderung santai dan tidak terlalu pusing dengan urusan domestik.

Karenanya saya tidak pernah dianggap bisa menyamai kesigapan Beliau untuk urusan domestik. 

Seiring dengan waktu, mama semakin renta dan saya pun menuju masa lansia, saya mulai ikut merasakan perasaan mama yang selalu merasa kesepian terutama memasuki bulan Ramadan.  

Saya berusaha mendekatkan hati dan diri saya dengan banyak bertanya tentang apa saja kepada Beliau, terutama resep-resep masakan yang Beliau kuasai dan sering masak untuk saya dan saudara-saudara.


Tiga Ramadan Terakhir


Akhirnya Mama merelakan dirinya membayar fidia setelah beberapa kali jatuh sakit karena memaksakan diri berpuasa. Saya dan adik-adik membujuk Beliau dengan berbagai cara, misalnya memperdengarkan ceramah tentang puasa dan fidia. Kami tahu bahwa Beliau paham tentang puasa dan fidia, sayangnya semangatnya untuk beribadah tak sejalan dengan keadaan fisiknya.

Fisiknya memang melemah, tetapi daya ingatnya masih bagus bahkan ketajaman pendengaran dan penglihatannya kadang mengalahkan pendengaran dan penglihatan kami, anak-anaknya.

Beliau sering terkekeh manakala ada sesuatu yang kami lupa sedangkan beliau sangat ingat, atau ada sesuatu yang kurang jelas kami dengar sedangkan telinga beliau sangat awas.

Kelebihan Beliau itulah yang  saya jadikan alasan untuk semakin mendekatkan hati dengan cara meminta diajari memasak. Alhamdulillah, Beliau sangat gembira meladeni permintaan saya. 

Maka tiga Ramadan terakhir menjadi ajang  bagi saya mempraktikan berbagai resep makanan yang diajarkan mama.

Setiap selesai menulis resep yang Beliau sebutkan, maka esoknya saya akan berusaha mempraktikkannya. Saat itulah saya akan bolak-balik dari dapur menuju kursi roda mama untuk mengecek, apakah saya sudah berhasil mempraktikkan resepnya atau belum, bahkan untuk sekadar mengecek rasanya, mengingat beliau sedang tidak berpuasa.

Tidak sedikit resep yang diajarkan mama sudah pernah saya praktikkan, tetapi demi menghargai Beliau, saya pura-pura tidak tahu. Saya bahagia melihat senyum kepuasan dari bibirnya manakala saya berhasil mempraktikkan arahannya. Setidaknya, beliau merasa masih dibutuhkan. 

Bukankah merasa dibutuhkan itu jauh lebih menyenangkan daripada tidak dibutuhkan?

Tiga Ramadan terakhir adalah masa-masa terindah saya bersama Mama. Mendengarkan ceritanya, keluhannya juga meraup sebanyak-banyaknya hikmah atas apa yang Beliau rasakan. 

Uniknya, mama lebih suka mendengarkan cerita-cerita anak-anaknya, dari cerita gembira hingga keluh kesah.

Walaupun kami merahasiakan sesuatu atau menyembunyikan perasaan yang tidak bagus,  demi menjaga perasaannya, tetapi instingnya yang tajam bisa dengan mudah menebak apa yang kami alami dan rasakan, maka kembali lagi, kami curhat ke beliau.


Ramadan Sepi Tanpa Kehadirannya


Inilah Ramadan pertama kami tanpa kehadirannya. Beliau telah dipanggil oleh Allah Subhanahu wataala. Tidak ada lagi tempat saya bertanya tentang makanan atau minuman apa yang sebaiknya dihidangkan untuk buka puasa atau untuk sahur.

Saya menjalani awal-awal puasa tahun ini bagai berjalan tanpa arah, terutama untuk urusan dapur. Saya sibuk menyimak postingan konten kreator makanan, sekalipun ujung-ujungnya tidak bisa saya praktikkan. 

Yaah, selera saya masih selera tradisionil sama seperti selera mama. Dan, lagi-lagi saya merindukan mama.

Ini masih Ramadan, bagaimana dengan lebaran nanti?

Kebiasaan keluarga besar kami, adalah adik-adik dan keluarganya datang ke rumah mama untuk bersalam-salaman serta mencicipi makanan khas lebaran yang dimasak oleh adik saya atas arahan mama. 

Apakah lebaran nanti masih bisa begitu?

Siapa yang dituju adik-adik? 

Ah, belum apa-apa, saya sudah melow sendiri. 


Bangkitlah! Ramadan Itu Istimewa


Pada akhirnya, kita harus selalu siap atas kehilangan. Sebesar apa pun kecintaan kita, cinta Allah jauh lebih besar dan istimewa. Bukankah kehadiran Ramadan membawa kabar bahagia dan menjanjikan banyak kebaikan dan pahala berlimpah?

Lihatlah! 

Keistimewaan Ramadan

Betapa banyak keistimewaannya terlepas dari apa yang telah tertulis dalam kitab Al Qur’an dan petunjuk Rasulullah dalam hadis-hadisnya.


Spiritual Connection

Ramadan memberikan kesempatan bagi umat Islam untuk mendekatkan diri pada Allah dengan melakukan ibadah, seperti salat, membaca Al-Quran, dan berzikir. Hal ini memperkuat hubungan spiritual dan meningkatkan kesadaran akan nilai-nilai kebaikan.

Kebersamaan dan Solidaritas

Sekalipun kita kehilangan orang yang kita cintai, tetapi Ramadan seringkali menjadi momen kebersamaan di antara anggota keluarga lainnya juga dengan komunitas. Berbuka puasa bersama, menyantuni yang membutuhkan, dan berbagi rezeki dengan sesama merupakan nilai-nilai yang ditingkatkan selama Ramadan.

Peningkatan Kepatuhan

Puasa Ramadan memperkuat disiplin diri dan kesadaran akan ketaatan pada ajaran agama. Hal ini dapat membantu kita untuk mengendalikan hawa nafsu dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya amal ibadah.

Kesadaran Sosial

Ramadan juga menjadi waktu yang tepat untuk merenungkan keadaan orang-orang yang kurang beruntung. Banyak umat Islam yang menggunakan kesempatan ini untuk melakukan amal dan menyumbangkan bagi yang membutuhkan.

Empat keistimewaan Ramadan di atas dilihat dari sisi sukanya. Apakah ada dukanya? Tidak ada sih, melainkan lebih tantangan dan kesulitan selama menjalani ibadah pusa di bulan Ramadan


Tantangan dan Kesulitan dalam Ramadan


Selain Ramadan membawa keistimewaan, ada juga berbagai tantangan den kesulitannya, seperti berikut ini.

Melatih Kesabaran

Menahan diri dari makanan, minuman, dan aktivitas yang dilarang selama berjam-jam memerlukan tingkat kesabaran yang tinggi. Terutama dalam kondisi cuaca panas atau di wilayah yang memiliki hari yang panjang.

Penyesuaian Pola Makan

Pada awal Ramadan, tubuh perlu menyesuaikan diri dengan perubahan pola makan yang drastis. Hal ini dapat menyebabkan perubahan mood dan kelelahan selama beberapa hari pertama puasa.

Jadwal yang Padat

Bagi sebagian orang, menjalani ibadah puasa di tengah kesibukan sehari-hari bisa menjadi tantangan. Jadwal kerja, perkuliahan, atau tugas sehari-hari seringkali harus disesuaikan dengan kegiatan ibadah selama bulan Ramadan.

Temptasi Konsumsi Makanan

Di tengah-tengah pasar yang ramai dengan hidangan lezat untuk berbuka puasa, godaan untuk melanggar puasa bisa menjadi sulit untuk ditahan.

Dengan semua suka duka yang ada, Ramadan tetap menjadi waktu yang penuh berkah bagi umat Islam. Hal ini membawa kesempatan untuk memperdalam iman, meningkatkan hubungan sosial, dan merasakan kebersamaan dalam menjalankan ibadah.

Maka marilah menikmati Ramadan dan menjalani ibadah-ibadahnya dengan segala suka cita, semoga keberkahan Ramadan menjadi alasan bagi Allah Subhanahu wataala untuk menyinari kita dengan berkah-Nya. Amin ya rabbal alamin. 


Makassar, 19 Maret 2024


Dawiah

Read More

Menikmati Kelezatan Jajanan Ramadan Khas Makassar


www.mardanurdin.com




----Menikmati Kelezatan Jajanan Ramadan Khas Makassar---


Bulan Ramadan telah tiba, dan bersamanya datang kelezatan jajanan khas yang menggoda lidah. Di Makassar, kota yang kaya akan budaya dan kuliner, jajanan khas Ramadan menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi berbuka puasa. 

Tak dapat dipungkiri, jajanan khas Ramadan di Makassar tidak hanya menggugah selera tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya kota ini. Dengan berbagai pilihan hidangan yang menggoda, menjelajahi jajanan khas Ramadan di Makassar adalah pengalaman yang tak terlupakan bagi pecinta kuliner.

Tahun ini, untuk pertama kalinya kami menjalani puasa Ramadan tanpa mama, maka alih-alih bikin kue-kue tradisional yang biasa saya bikin atas petunjuk dan resep dari mama, yang ada hanya beli, itupun hanya kue-kue tertentu saja. Padahal selama bulan Ramadan, segala jenis jajanan khas Makassar tersedia seiring dengan hadirnya penjual jajanan khas Ramadan di mana-mana. 

Nah, kalau ada yang belum tahu, jajanan jenis apa saja yang menjadi ciri khas Makassar dan biasa ada di bulan puasa, maka melalui artikel ini akan saya tuliskan sepuluh jenis jajanan tersebut.


1. Pisang Ijo


Jajanan ini bisa dibilang maskotnya jajanan berkuah dan manis khas Makassar. Bahan dasarnya adalah pisang kepok atau pisang tanduk atau pisang nangka. Pisang tersebut dibalut dengan adonan kulit yang terdiri dari tepung terigu dicampur dengan daun suji, santan dan gula pasir lalu dimasak hingga adonan kalis. 

Pisang yang telah dibalut dengan adonan kemudian dikukus lalu dipotong-potong sesuai selera.

Sajikan dengan bubur sumsum dan sirup DHT.


2. Pallu Butung


Jika pisang ijo, pisangnya dibungkus dengan adonan maka pallu butung pisangnya hanya dipotong-potong sesuai selera lalu dimasak bersama santan dan tepung terigu.

Pallu butung identik dengan rasanya yang manis dari pisang, saus dan tambahan sirop DHT. Teksturnya lembut dan manisnya meresap sempurna.

lengket serta teksturnya yang lembut. Hidangan kuliner ini memiliki cita rasa yang sangat unik dan lapisan kuah santannya. 


3. Jalangkote


Jalangkote adalah jajanan gorengan yang terbuat dari adonan tepung yang diisi dengan campuran kentang, wortel, dan daging cincang. Sekilas mirip dengan pastel, tetapi berbeda secara signifikan. Terutama pada kulitnya. Jika pastel, kulitnya agak tebal maka jalangkote kulitnya cenderung tipis. 

Jalangkote menjadi camilan yang sangat populer di Makassar selama bulan Ramadan.


4. Katiri Mandi 


Katiri mandi adalah kue Bugis yang dihidangkan bersama saus gula merah dan santan. Teksturnya kenyal karena terbuat dari tepung ketan yang dibentuk bulat-bulat. Rasanya manis dan gurih karena saus santan dan gula merah yang mendominasi. ‘

Sangat cocok dihidangkan pada bulan Ramadan sebagai menu buka puasa.


5. Barongko 


Bahan dasar barongko adalah pisang, telur, santan dan gula pasir. Pisang dihaluskan lalu dicampur dengan telur, santan dan gula pasir kemudian dibungkus dengan daun pisang lalu dikukus hingga matang.

Rasanya yang manis dan gurih semakin terasa sedap dengan aroma daun pisang. Untuk mendapatkan kenikmatan yang lebih, maka simpan di dalam kulkas beberapa saat sebelum disantap.


6. Kaddo Boddong


Kue tradisional khas Makassar ini adalah kue kesukaan mama saya. Bentuknya mirip dengan dadar gulung, tetapi warna dan rasanya berbeda. Kaddo boddong berwarna putih jika menggunakan tepung ketan putih dan berwarna kehitaman jika menggunakan tepung ketan hitam.

Rasanya manis dan sedikit asin. Rasa asin didapatkan dari kulitnya yang dicampur dengan sedikit garam sedangkan rasa manisnya berasal dari isiannya yang terdiri dari kelapa parut yang dicampur dengan gula pasir.

Sekilas, kue ini memang menyerupai dadar gulung. Tetapi pembedanya adalah bahan baku dadar sebagai lapisan penutup yang memiliki rasa dominan manis atau asin.


7. Dadara Santang


Disebut dengan dadara santang karena bentuknya memang seperti dadar gulung juga warnanya yang hiijau. Yang membedakan adalah isian dan sausnya. 

Dadara santang terdiri dari dadar yang berisikan kacang tanah, gula pasir dan wijen yang dihaluskan. Kemudian diberi fla berupa santan kental lalu disirami dengan sirup DHT.


8. Sanggara Balanda 


Sanggara balanda berbahan dasar pisang, tetapi tidak boleh sembarang pisang melainkan harus menggunakan pisang raja yang tingkat kematangannya pas.

Umumnya sanggara balanda dibelah pada bagian tengahnya lalu digoreng hingga kecokelatan. Belahan tersebut kemudian diisi dengan campuran kacang goreng yang telah ditumbuk kasar, gula pasir, dan juga mentega. Jika suka di bagian atasnya ditaburi keju parut atau coklat meses.


9. Kateri Sala


Sekalipun kue katiri sala lebih sering dihidangkan pada saat ada acara pernikahan, akikah maupun acara tradisi Bugis lain, tetapi katiri sala selalu ada pada setiap bulan Ramadan.

Kabarnya kue tradisional ini telah ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya tak benda oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Republik Indonesia sejak tahun 2015. 

Rasanya yang legit, manis, dan gurih dihasilkan dari perpaduan ketan dan gula merah yang tersusun sempurna. Lapisan bawah yang terbuat dari ketan yang dicampur dengan santan, sementara lapisan atasnya dibuat dari telur, santan, dan gula merah yang menghasilkan tekstur kenyal dengan rasa manis dan gurih.


10. Pallu Golla


Jajanan ini sebenarnya ada di semua daerah di Indonesia dengan nama yang berbeda dan umumnya dinamakan kolak. 

Pallu Golla artinya pallu = masak dan golla = gula. Jika pisang dipotong-potong lalu dimasak bersama gula dan ditambahkan santan maka disebut pallu golla utti (utti = pisang dalam bahasa Bugis).

Di Makassar, pisang biasanya diganti dengan labu kuning atau lawo dalam bahasa Bugis, (maka namanya menjadi pallu golla lawo. Salah satu menu favorit untuk jajanan khas Makassar bisa dinikmati dengan dua versi. Bisa dinikmati saat hangat dan saat dingin dengan menambahkan es batu.

Nah, dari kesepuluh jenis jajanan di atas, mana ini yang menggugah selera kamu? Berikan pendapatmu di kolom komentar yah. 



Makassar, 19 Maret 2024. 


Dawiah



Read More