Inilah 4 Jenis Resep Konro

Wednesday, November 29, 2023


4 Jenis Konro/mardanurdin.com


Empat Jenis Resep Konro ---

Salah satu makanan khas Makassar yang sayang untuk dilewatkan adalah konro. Orang-orang juga menyebutnya sup konro, tetapi kebanyakan orang Makassar hanya menyebutnya konro. 

Bahan dasarnya adalah iga sapi yang diramu dalam bumbu aneka rempah sehingga aroma bumbunya cukup kuat. Warnanya sedikit hitam atau coklat kehitaman yang berasal dari buah keluak. 

Seperti yang saya janjikan pada postingan sebelumnya “Konro Dalam Kenangan”  bahwa saya akan membagikan resep konro versi ibu Sa’ddiah dan versi mama saya. Jenis bumbu yang digunakan nyaris sama, yang berbeda adalah takaran dan cara mengolahnya. 

Kami pernah mempraktikkan kedua versi tersebut, dan saya lebih suka konro versi mama saya. Rasanya lebih wangi walaupun agak ribet mengolah bumbunya.


Resep Konro Versi Ibu Sa’ddiah


Bahan 

 1 kg iga sapi

1500 ml air

3 buah Keluak


Bumbu Yang Dihaluskan


6 butir bawang merah

3 siung bawang putih

3 butir kemiri

½ sendok teh (sdt) jintan

1 sdt ketumbar

½ sdt pala bubuk

1 cm kunyit

3 cm jahe

1 sdt teh merica


Bahan Yang Tidak Dihaluskan


2 siung bawang merah, iris

1 batang serai yang dimemarkan

2 cm jahe dimemarkan

3 lembar daun salam

3 lembar daun jeruk

½ sdt bubuk kayu manis 

1 buah kapulaga

4 buah cengkeh

1 sdm gula merah

Garam secukupnya.


Bahan Pelengkap


Bawang goreng secukupnya

Irisan daun bawang secukupnya


Cara Membuat


  1. Cuci iga sapi hingga bersih lalu masak bersama air. Sesekali buang lemak yang mengapung. Setelah iga matang dan lembut, angkat dan pisahkan air rebusannya.
  2. Rendam keluak dengan air panas lalu haluskan dan saring. Sisihkan
  3. Tumis bumbu yang telah dihaluskan lalu tambahkan irisan bawang merah, serai, jahe, daun salam, daun jeruk, bubuk kayu manis, kapulaga, dan cengkeh.
  4. Setelah bumbu matang tambahkan air rebusan iga sapi dan  keluak yang telah dicairkan dan disaring. 
  5. Tambahkan juga gula merah dan garam.
  6. Masak hingga kuah sedikit mengental lalu koreksi rasa dan angkat. 
  7. Konro siap dihidangkan dengan menaburkan bawang goreng dan daun bawang.


Sumber gambar: resepkoki



Resep Konro Versi Mama


Bahan 


1 kg iga sapi

1500 ml air

3 buah Keluak


Bumbu  Yang Dihaluskan


6 butir bawang merah

5  siung bawang putih

2 batang serai

3 butir kemiri

1/4 sendok teh (sdt) jintan

1 sdm ketumbar

1 buah pala

1 sdt teh merica


Bumbu Yang Tidak Dihaluskan


3 cm jahe dimemarkan

3 sm lengkuas dimemarkan

4 lembar daun salam

3 lembar daun jeruk

2 cm kayu manis 

1 buah kapulaga

3 buah cengkeh

1 sdm gula merah

Garam secukupnya.


Bahan Pelengkap


Bawang goreng secukupnya

Irisan daun bawang secukupnya



Cara Membuat


  1. Potong-potong serai, iris bawang merah dan bawang putih lalu goreng hingga layu kemudian sisihkan
  2. Sangrai kemiri, merica dan ketumbar lalu sisihkan
  3. Blender bahan tersebut di atas, tambahkan jintan dan pala
  4. Rendam keluak dengan air panas lalu haluskan dan saring. Sisihkan.
  5. Cuci iga sapi hingga bersih lalu masak bersama air. Sesekali buang lemak yang mengapung. Setelah iga matang dan lembut, angkat dan pisahkan air rebusannya.
  6. Campur bumbu yang telah dihaluskan dengan  jahe, lengkuas, daun salam, daun jeruk, kayu manis, kapulaga, dan cengkeh. Masukkan ke dalam air rebusan iga sapi
  7. Masukkan iga sapi dan  keluak yang telah dicairkan dan disaring. 
  8. Tambahkan juga gula merah dan garam lalu masak hingga kuah sedikit mengental lalu koreksi rasa dan angkat. 
  9. Konro siap dihidangkan dengan menaburkan bawang goreng dan daun bawang.


Sebagai bonus, saya sertakan juga resep konro bakar. Resep ini diajarkan oleh sahabat saya. Saya pertama kali makan konro bakar di rumah beliau saat arisan dan dengan senang hati membagikan resepnya. 

Oh yah, konro bakar bisa juga didapatkan di warung Konro Karebosi. Mengenai rasa, saya lebih suka konro bakar buatan sahabat saya itu. Ini faktor selera saja sebenarnya karena beberapa teman saya malah lebih suka konro bakar yang dibeli di warung.

Yuk disimak resepnya.


Resep Konro Bakar


Pada dasarnya, bumbu konro bakar sama saja dengan konro yang berkuah, perbedaannya terletak pada proses sebelum penyajiannya dan juga sambalnya. Olehnya itu, kalian bebas memilih bumbu dan resep mana yang akan digunakan.

Apakah menggunakan resep dari Ibu Sa’ddiah atau resep dari mama saya. Maka saya bagikan resep sambalnya saja. 


Sumber gambar: Travelingyuk


Bahan 


7 butir bawang merah

3 siung bawang putih

7 buah cabai merah keriting

10 buah cabai rawit atau sesuai selera

1 sdt terasi, kalau suka

175 gram kacang sangrai

Gula pasir dan  garam secukupnya

300 ml santan

2 sdm tauco

1 sdm air asam jawa


Cara Membuat


  1. Bawang merah, bawang putih, cabai merah dan cabai rawit dimasak lalu ditiriskan kemudian dihaluskan lalu tambahkan kacang sangrai.
  2. Tuang sambal halus ke dalam wajan lalu tambahkan santan, kacang, dan tauco masak hingga mendidih. 
  3. Terakhir, masukkan air asam jawa dan aduk rata lalu angkat.


Cara Membuat Konro Bakar


  1. Masak iga sapi bersama bumbu-bumbu hingga matang.
  2. Ambil iga dari panci lalu bakar/panggang di atas api sedang sambil diolesi dengan sisa bumbu konro hingga aromanya keluar lalu angkat.
  3. Sajikan iga bakar di atas piring bersama sambal.


Catatan:

Konro bakar biasa pula dihidangkan disertai kuah konro yang terpisah.


Selain bonus resep konro bakar, saya juga akan membagikan resep konro olahan dari mama saya, yaitu Konro Ayam. Ini bonus kedua.

Mengapa ayam?

Karena iga sapi mahal, mama saya biasa mengakalinya dengan mengganti iga sapi dengan daging ayam. 



Resep Konro Ayam


 

Nah, bagaimana dengan konro ayam ini, apakah sama rasanya dengan konro iga sapi? 

Silahkan disimak resepnya lalu dipraktikkan.


Bahan 


1/2 ekor ayam kampung

750  ml air

2 buah keluak

2 lembar daun salam

1 lembar daun jeruk

1 cm kayu manis 

1 sdm gula merah

Garam secukupnya


Bumbu Halus


6  butir bawang merah, iris-iris lalu  goreng

4  siung bawang putih, iris-iris lalu goreng

1 batang serai, potong-potong lalu goreng

1 cm lengkuas muda, iris-iris dan goreng

1,5  butir kemiri, sangrai

1/4 sendok teh (sdt) jintan, sangrai

1/2 sdm ketumbar, sangrai

1 buah pala

1/2 sdt teh merica bubuk


Bahan Pelengkap


Bawang goreng

Irisan daun bawang


Cara Membuat


  1. Potong-potong ayam sesuai selera lalu bersihkan dan tiriskan.
  2. Rendam keluak dengan air panas, haluskan dan saring. 
  3. Haluskan semua bumbu lalu tumis hingga wangi. 
  4. Tambahkan daun salam, daun jeruk, dan gula merah
  5. Didihkan air lalu masukkan ayam, rebus hingga ayam sedikit empuk.
  6. Masukkan bumbu yang telah ditumis
  7. Tambahkan daun salam, daun jeruk, air keluak dan kayu manis. 
  8. Masak hingga ayam matang dan bumbunya meresap.
  9. Angkat dan sajikan. Taburi daun bawang dan bawang goreng

Dari keempat resep konro tersebut, manakah yang lebih menggugah selera kamu?


Makassar, 29 November 2023

Dawiah

Read More

Konro Dalam Kenangan

Monday, November 27, 2023


Konro/mardanurdin.com



Konro Dalam Kenangan - 


Siang terik, Juli 1985, saya baru saja keluar dari ruangan Pak Syata, bendahara sekolah untuk bertanda tangan sekaligus mengambil honor mengajar dan saat itu Ibu Nurbaya rekan mengajar dan sahabat saya menyambut dengan senyum semringahnya sembari menagih janji.

“Traktir …traktir…traktir…” serunya.

Secepatnya saya menggamit lengannya dan berbisik.

 

“Jangan ribut, saya akan penuhi janji, tetapi jangan bilang-bilang. Kalau semua teman tahu, bisa habis honor saya sebulan untuk traktir mereka.”


Ibu Nurbaya terkekeh dan mengangguk maklum.


 

Pertama Kali Makan Konro di Warung Konro Karebosi


 

Siang yang terik itu semakin menyengat rasanya saat kami menyusuri jalan raya menuju Jl. Gunung Lompobattang di lokasi warung konro Karebosi.

Yap, sesuai janji saya, saya akan mentraktir sahabat saya itu makan konro.


Tak lama, kami pun tiba di warung konro legendaris itu lalu dua piring konro terhidang di atas meja.  Warung ini direkomendasikan oleh Ibu Nurbaya, warung konro yang sangat terkenal di Makassar, saya tahu namanya, tetapi belum pernah sekalipun saya ke warung itu.


Konro memang makanan khas Makassar, tetapi tidak semua warga Makassar dapat dengan mudah menyantapnya dikarenakan harganya yang cukup mahal terutama untuk mahasiswa dan guru honorer seperti saya.


Usai menyantap sop konro yang nikmatnya bikin lupa kalau amplop gaji saya perlahan menipis, kami pun beranjak dari tempat duduk.


Nda mauki bawakanki juga konro untuk orang tuata?” 


Pertanyaan sahabat saya itu menyadarkan saya kalau bapak dan mama juga belum pernah mencicipi konro seenak Konro Karebosi. Maka saya pun memesan satu porsi untuk saya bawa pulang.

 

Kembali motor melaju pelan dengan perut kenyang, tetapi amplop honor semakin sekarat. Tak apalah, setidaknya saya sudah menikmati masakan khas Makassar yang terkenal enak itu. 


Tiba di rumah, saya bercerita kepada bapak dan mama, betapa enaknya makan konro karebosi sembari memberikan bungkusan konro kepada mereka. Perasaan saya semakin melambung manakala melihat bapak dan mama menyantap konro itu dengan nikmatnya. 


Usai makan, bapak menitip pesan.

“Janganmi sering-sering makan di warung Nak dan janganmi pula bungkuskan kami, nanti honormu habis.


Ah, bapakku sayang, jadi sedih rasanya mengenang masa itu.


 

Praktik Bikin Konro


 

Oktober 1993, saya membawa kabar gembira untuk mama. Surat Keputusan pindah dari desa di Balocci ke Kota Makassar telah terbit. Sepucuk amplop coklat yang berisi SK pindah, saya perlihatkan kepada mama.


Mama tertawa gembira, itu artinya saya resmi mendampingi dan membantu beliau mengasuh dan mendidik anak-anaknya, adik-adik saya.


Keputusan pindah ke kota sudah lama saya perjuangkan dengan membujuk suami agar mau ikut pindah. Waktu itu, suami sangat enggan pindah karena merasa sudah nyaman tinggal di desa yang sejuk itu.


Namun, kepergian bapak untuk selamanya semakin memantapkan hati saya untuk meninggalkan desa tempat pertemuan pertama saya dengan suami.

 

Memasuki awal semester genap, saya ditawari lagi mengajar di tempat saya pertama kali honor  tujuh tahun lalu tanpa meninggalkan tugas utama saya di sekolah negeri. 


Tawaran yang bagus dan sayang untuk dilewatkan maka Januari 1994 saya resmi kembali mengajar di sekolah yang penuh kenangan itu, SMP Muhammadiyah 3 Bontoala, tempat saya menamatkan sekolah menengah pertama (SMP) dan tempat saya aktif berorganisasi di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).


Seperti yang pernah saya ceritakan pada postingan sebelumnya tentang Kue Donat Kentang, bahwa di SMP Muhammadiyah 3 itu ada ibu Sa’ddiah yang rajin membagikan resep kepada guru-guru tak terkecuali saya. 

Salah satu resep yang saya catat dengan rapi adalah resep konro karena saya berniat mempraktikkannya bersama mama.

 

Tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Saya dan mama sibuk menghitung perkiraan biaya untuk mempraktikkan resep dari ibu Sa’ddiah, sop konro.


Sepertinya tidak cukup kalau hanya menyiapkan 1 kg iga sapi, maka diperkirakanlah sekitar 5 kg iga sapi agar semua penghuni rumah bisa menikmatinya.  Lalu rempah-rempah juga dihitung plus printilannya. 


Ternyata biayanya tidak main-main, mahal sekali untuk ukuran guru seperti saya, wkwkwk. Pantas harga sepiring konro di warung Konro Karebosi senilai seperdua honor mengajar saya sebulan. 


Setelah dihitung dan ditimbang-timbang maka diputuskanlah kalau praktik bikin konronya ditunda, tunggu dua kali gajian, hahaha.

 

Akhirnya kami berhasil mempraktikkan resep warisan bu Sa’ddiah setelah dua tahun masa penundaan. Lama juga yah ternyata…wkwkwk.

 

Kata mama.  


Dua taungpi mutaro-taro duimu di, nappaki wedding makkebu iye  konroe. Masuli ladde bela…” 

“Dua tahun kamu menabung yah baru bisa mempraktikkan ini konro, karena terlalu mahal.” 

Begitulah kenangan saya tentang masakan khas Makassar ini. Insyaallah pada postingan berikutnya akan saya bagikan resep konro versi ibu Sa’ddiah dan versi mama. Perbedaan resepnya cukup signifikan, tetapi tetap sama lezatnya.  


Makassar, Senin 27 November 2023

 

Dawiah

 

 

 

 

 

Read More

Resep Warisan Mama

Monday, November 20, 2023


resep warisan mama/mardanurdin.com


Resep warisan mama dan kenangan yang berkelindan - 

Hubungan saya dan mama cukup unik terkait dengan urusan dapur. Kenapa saya katakan unik? Karena saya tidak pernah dilibatkan saat mama memasak makanan sehari-hari, tetapi soal praktik masak resep makanan yang tidak biasa dihidangkan atau mempraktikkan resep baru, kami selalu berkolaborasi.

ah, jadi ingat resep pertama yang kami praktikkan yang bahan-bahannya saya beli dari honor pertama saya. Kue Bolu Singkong Panggang adalah kue pertama yang kami praktikkan dan yang selalu hadir dalam kenangan.

Kembali ke hubungan unik kami soal urusan dapur. Mama selalu sibuk sendiri di dapur tanpa melibatkan anak-anaknya. Setelah semua makanan yang dimasak selesai, barulah beliau memanggil anak-anaknya untuk makan bersama. Jadi, jangan tanyakan tentang bagaimana cara memasak makanan sehari-hari yang mama hidangkan karena pasti saya tidak tahu.

Sekalipun hanya ikan masak kuah kuning atau kami sebut Nasu Bale (Bahasa Bugis) atau Juku Pallu Kacci (Bahasa Makassar) bahkan memasak nasi pun saya belum mahir sehingga nasi yang saya masak lebih sering hangus atau mentah.

Makanya ketika saya lulus Diploma 2 jurusan pendidikan IPA lalu ditempatkan bertugas sebagai guru di daerah yang cukup terpencil, mau sekali rasanya menolak SK Penempatan itu, karena pasti akan jauh dari keluarga dan yang paling bikin otak saya kalut marut adalah saya akan masak sendiri.

Untunglah bapak menguatkan saya. 


“Bersyukurlah Nak, kamu langsung lulus menjadi pegawai negeri sipil sementara di luar sana banyak yang kesulitan mencari pekerjaan. Pergilah Nak, jarak antara Makassar dengan Balocci Pangkep itu masih bisa ditempuh dengan naik mobil, tidak menyeberang lautan-ji.”


Oh yah, saya mau menjelaskan tentang daerah tempat saya pertama kali bertugas sebagai guru yaitu di kelurahan Balleangin Kecamatan Balocci.

Balocci adalah salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep). Terdiri atas 4 kelurahan dan 1 desa, yaitu kelurahan Kassi, Tonasa, Balocci Baru, Balleangin, dan Desa Tompobulu.

Sekolah  tempat saya bertugas terletak di kelurahan Balleangin sekitar 47 km dari Kota Makassar. Tidak terlalu jauh sebenarnya, seperti kata bapak, tidak perlu naik kapal laut atau pesawat karena tidak melintasi lautan, tetapi pada waktu itu, menempuh jarak 47 km dengan kendaraan yang belum selancar sekarang, terasa sangat jauh.

Namun, tidak ada pilihan lain, saya harus ke sana demi menjalankan tugas negara sebagai guru. Maka menjalani hari-hari selama di tempat tugas adalah hari-hari penuh drama dalam mempraktikkan semua resep-resep masakan mama. 

Jangan dibayangkan resep-resep masakan itu adalah resep masakan seperti yang ada di majalah Femina atau majalah Kartini seperti yang biasa saya dan mama baca dan praktik.

Resep makanan yang saya tulis mengikuti arahan mama adalah resep masakan sehari-hari yang biasa mama hidangkan untuk keluarga kami.

Penasaran resep masakan apakah itu?

Hanya ada empat jenis resep yang saya tulis dan yang kira-kira akan saya praktikkan, yaitu: Nasu Bale atau Pallu Kacci , Pallu Ce’la, Tumis Kangkung, dan Sayur Bening. 

Intip yuk, keempat resep dari mama saya.



Resep Nasu Bale



nasu bale/mardanurdin.com


Nasu bale atau orang-orang di luar suku Bugis menamainya Ikan Kuah Kuning ini adalah masakan ikan yang paling sering disajikan mama. Mungkin karena proses masaknya sederhana dan bahan-bahannya pun sedikit dan terkesan ala kadarnya. 

Nasu Bale (Bahasa Bugis) artinya, nasu = masak dan bale = ikan. Jadi, nasu bale artinya ikan yang dimasak. Mengapa orang-orang juga menamainya ikan kuah kuning? Mungkin karena kuahnya berwarna kuning. 


Bahan Nasu Bale


nasu bale; mardanurdin.com


  • 1 ekor Ikan bandeng atau ikan cakalang atau ikan apa saja
  • Sejumput Asam jawa atau secukupnya
  • 1 sdm kunyit bubuk
  • Garam secukupnya
  • Gula merah atau gula pasir secukupnya 


Cara Membuat


  1. Bersihkan ikan jenis apa saja lalu cuci hingga bersih. 
  2. Untuk ikan bandeng atau ikan layang, buang insang dan sisiknya.
  3. Kalau pakai ikan teri atau bale mairo maka cukup buang kepalanya.
  4. Masukkan ikan yang sudah bersih ke dalam panci.
  5. Larutkan asam jawa lalu ambil sarinya. Jika masih kurang larutan asamnya, maka bisa diperas lagi asam jawanya hingga beberapa kali.
  6. Masukkan ke dalam panci yang berisi air asam.
  7. Tambahkan kunyi bubuk, garam dan gula
  8. Masak dengan api sedang.
  9. Jika sudah mendidih, kurangi api lalu masak lagi dengan api kecil hingga kuahnya sedikit kental.
  10. Hidangkan di atas mangkok.


Resep Pallu Ce’la


Selain nasu bale, ikan pallu ce’la adalah masakan ikan yang jauh lebih sederhana daripada nasu bale. Pallu ce’la dalam bahasa Bugis – Makassar adalah pallu = masak dan cella = garam. 

Kelebihan dari masakan ini adalah bisa disimpan hingga beberapa hari sekalipun tidak dimasukkan dalam kulkas. Sangat nikmat dihidangkan bersama raca-raca pao (Bahasa Bugis) atau racca taipa (Bahasa Makassar) atau mangga cincang.




Sekilas masakan ini hanya menggunakan garam dan bubuk kunyit saja, tapi sebenarnya tidak, mari kita lihat selengkapnya.


Bahan


  • 1 ekor Ikan bandeng atau ikan layang atau ikan tembang
  • 1 sdm kunyit bubuk
  • Garam secukupnya
  • 1-2 batang serai, dimemarkan


Cara Membuat


  1. Bersihkan ikan jenis apa saja lalu cuci hingga bersih. 
  2. Buang insangnya, tetapi tidak perlu bersihkan sisiknya.
  3. Masukkan ikan yang sudah bersih ke dalam panci.
  4. Tambahkan garam, kunyit dan serai yang sudah dimemarkan. 
  5. Didihkan sampai ikan berubah warna kuning dan mengental.
  6. Angkat dan hidangkan bersama cecca pao.


Cecca Pao (Pelengkap)


Bahan


  • Mangga beberapa biji atau sesuai selera
  • Cabai rawit sesuai selera
  • Terasi secukupnya
  • Garam secukupnya
  • Gula merah atau gula pasir
  • Asam jawa


Cara Membuat


  1. Cuci mangga hingga bersih lalu kupas kulitnya.
  2. Cincang mangga atau parut mangga menggunakan parutan keju. Bisa diperas sedikit untuk mengurangi rasa asamnya. 
  3. Haluskan terasi dan cabai lalu campurkan ke dalam mangga yang telah diparut.
  4. Tambahkan garam dan gula merah yang telah disisir atau gula pasir kalau tidak ada gula merah.


Oh yah, untuk cecca pao ini, selain dimakan dengan pallu cella, nikmat juga dimakan bersama ikan bakar.

Makan nasi dengan ikan tak lengkap rasanya jika tidak ditemani dengan sayur. 

Nah, berikut ini adalah dua jenis sayur yang selama berbulan-bulan saya praktikkan sehingga hapal. Saya bisa memasaknya tanpa melihat resep lagi.


Tumis Kangkung



tumis kangkung; mardanurdin.com


Bahan


  • 1 ikat kangkung, 
  • 3 siung bawang putih 
  • 4 siung bawang merah 
  • Garam secukupnya
  • Gula secukupnya
  • Minyak goreng untuk menumis


Cara Membuat


  1. Cuci kangkung hingga bersih lalu potong dan ambil daun beserta tangkai muda. Cuci lagi sejenak lalu tiriskan
  2. Iris-iris bawang merah dan bawang putih.
  3. Panaskan minyak goreng dengan api sedang. Tumis bawang merah dan bawang putih hingga layu tambahkan sedikit air.
  4. Masukkan kangkung dan aduk secara perlahan lalu tambahkan garam dan gula secukupnya.
  5. Tumis hingga matang lalu angkat
  6. Hidangkan saat masih hangat.


Resep Sayur Bening 


Untuk resep sayur bening, ada beberapa jenis sayur bening yang saya catat, tetapi hanya dua jenis ini yang paling sering saya praktikkan, karena kedua bahan inilah yang selalu saya dapatkan di kampung karena tumbuh subur di sekitar lingkungan sekolah.


Sayur Bening Daun Kelor Terong


Bahan


  • 5 tangkai daun kelor muda
  • 1 buah terong ungu


Bumbu 


  • 2 siung bawang putih
  • Terasi secukupnya
  • 2 butir kemiri 
  • Panggang bawang merah, terasi dan kemiri lalu haluskan
  • Garam 
  • Gula
  • Kaldu penyedap (jika suka, secukupnya)


Cara Membuat


  1. Siangi daun kelor lalu ambil daunnya.
  2. Kupas kulit terong lalu potong-potong sesuai selera
  3. Panaskan air hingga mendidih 
  4. Masukkan bumbu yang telah dihaluskan
  5. Masukkan daun kelor dan terong lalu masak hingga layu.
  6. Tambahkan garam, gula, penyedap masakan (jika suka). 
  7. Koreksi rasa, masak semua bahan hingga mendidih dan matang.
  8. Angkat dan hidangkan.


Resep Sayur Bening Bayam Labu Siam


Bahan 


  • 2 ikat sayur bayam
  • 1 buah labu siam
  • 1 buah jagung manis
  • 3 siung bawang merah, iris tipis
  • Garam secukupnya
  • Penyedap rasa bagi yang suka
  • air secukupnya


Bumbu yang dihaluskan


  • 2 siung bawang putih
  • Terasi secukupnya
  • 2 butir kemiri 

Panggang bawang merah, terasi dan kemiri lalu haluskan


Cara Membuat


  1. Siangi bayam, ambil daun dan batangnya yang muda.
  2. Kupas kulit labu siam lalu potong-potong sesuai selera.
  3. Cuci kedua bahan di atas lalu tiriskan.
  4. Cuci jagung hingga bersih lalu potong-potong atau bisa juga disisir kalau tidak suka batangnya.
  5. Didihkan air. Masukkan bumbu.
  6. Tambahkan jagung lalu masak hingga empuk lalu masukkan labu siam dan masak lagi hingga empuk
  7. Masukkan bayam. Tambahkan garam dan penyedap rasa secukupnya.
  8. Koreksi rasa lalu angkat dan sajikan.


Oh yah, selain sayur bening daun kelor campur terong, saya juga sering memasak daun kelor campur kacang hijau. Resep ini bukan dari mama saya melainkan diajari sama salah seorang tetangga di kampung.

Belakangan saya tahu kalau itu juga sering dimasak oleh mama saya, tapi kenapa saya lupa yah… padahal masakan daun kelor campur kacang hijau itu sangat gampang dengan bahan yang mudah didapatkan di daerah saya.

Bagaimana caranya? Yuk, simak resepnya berikut ini.


Resep Sayur Daun Kelor Kacang Hijau 


Bahan


  • 5 batang Daun kelor 
  • Segenggam kacang hijau atau sesuai selera.
  • Garam
  • Penyedap rasa kalau suka
  • Gula


Cara Membuat


  1. Rendam kacang hijau dengan air hangat, biarkan beberapa saat.
  2. Siangi daun kelor dan diambil daunnya lalu cuci hingga bersih. Tiriskan.
  3. Panaskan air hingga mendidih lalu masukkan kacang hijau yang telah ditiriskan.
  4. Masak hingga kacang hijau empuk dan sedikit pecah.
  5. Masukkan daun kelor lalu tambahkan garam, gula dan penyedap rasa (bagi yang suka).
  6. Aduk hingga merata dan masak lagi hingga matang
  7. Angkat dan hidangkan.


Untuk sayur daun kelor kacang hijau, saya sarankan untuk menggunakan kacang hijau secukupnya saja, usahakan kacang hijaunya lebih sedikit daripada daun kelor. 

Kalau kacang hijaunya lebih banyak maka jatuhnya bukan lagi sayur bening daun kelor tetapi lebih kepada bubur kacang hijau, tinggal tambahkan gula dan santan lalu daun kelornya dimasak dengan bahan lain saja. 

Itu berdasarkan pengalaman saya sebenarnya. Rencananya mau memasak sayur daun kelor campur kacang hijau, tetapi saya merendam setengah liter kacang hijau. 

Maka oleh teman disarankan untuk masak semua kacang hijaunya saja lalu tambahkan gula merah dan santan, maka tadaaa…jadilah bubur kacang hijau, hahaha.


Baca juga resep makanan khas Sulawesi Selatan lainnya di sini


Setiap makanan yang saya praktikkan saat jauh dari keluarga merupakan kenangan yang berkelindan pada dapur sederhana saat bersama mama dan gelak bapak yang menyaksikan kegiatan kami.


Makassar, 19 November 2023


Dawiah

Read More

Resep Donat Kentang

Saturday, November 4, 2023


Resep Donat Kentang




Resep Donat Kentang dan Kisah Di baliknya - 

Ini hari Sabtu, hari yang mengingatkan saya pada obrolan dengan mama di akhir November 1984 yang berujung pada rencana mempraktikkan resep baru bagi kami, yaitu: Donat Kentang.

Siang yang terik, saya pulang dari sekolah usai menjalankan tugas mengawas ulangan semester ganjil. Saya mendatangi mama yang sedang duduk manis sambil ngeteh, ini salah satu kegiatan rutin mama saya, ngeteh di siang hari seusai salat zuhur.

“Ma, coba-ki ini donat, enaknya. Tadi di sekolah, pengawas dibagikan 2 biji kue. Nah, ini saya bawa satu untuk mama coba.”

Mama menerima donat itu dengan senyum manisnya sembari berkata.

“Mengerti sekali-ki di… na tauna kalau lagi butuh ini teh ku pengawal, hehehe.” 

Kemudian mama mengigit donat “oleh-oleh” dari saya disusul dengan menyeruput teh manisnya.

“Hm, enak sekali ini donat, tidak seperti donat yang biasa saya beli di pasar. Donat apa ini, Dawiah?” 

Hati saya membunga melihat senyum kepuasan mama yang manis.

“Kata Ibu Sa’ddiah, itu namanya kue donat kentang Ma.”

Oh yah, saya perkenalkan lebih dahulu. Ibu Sa’ddiah rahimahullah adalah mantan guru PKK saya waktu SMP, maka tidak heran kalau beliau itu suka memasak dan pandai mengolah bahan apa saja menjadi makanan yang enak.

Tahun 1984 itu, saya kembali mengajar di sekolah tempat saya dulu bersekolah, namanya SMP Muhammadiyah 3. Maka jadilah saya dan Ibu Sa’ddiah sebagai rekan mengajar.  

Esoknya pada hari kedua ulangan semester, saya menghampiri Ibu Sa’ddiah sambil berbisik malu-malu.

“Ibu, mama saya suka sekali kue donat kentang yang kemarin ibu bikin, bisakah saya minta resepnya? Saya mau praktik bikin di rumah bersama mama saya.”

“Oh, bisa sekali Nak. Ambil kertas dan pulpen, catat resepnya sekarang, mumpung masih segar dalam ingatan Ibu.” Kata Beliau antusias.

Tak kalah antusiasnya, saya pun bergegas mengeluarkan kertas dan pulpen.

Bagaimana resepnya? Simak yah. 

Kalau perlu dicatat juga sambil membayangkan Dawiah pada tahun itu, tahun 1984, usia 20 tahun dan bobot badan masih 57 kg dengan tinggi 160 cm. Masih langsing dan unyu-unyu, kan, hihihihi.


Resep Donat Kentang


Bahan Dasar


  • 250 gram atau setara kira-kira 24 sdm tepung terigu
  • 100 gram atau setara dengan 7 sdm kentang rebus/kukus lalu dihaluskan 
  • 40 gram gula pasir, setara dengan 3 sdm
  • 15 gram susu bubuk atau 1 sdm
  • Garam halus secukupnya atau sekitar ¼ sdt
  • 40 gram/ 3 ¼ sdm mentega
  • 4 gram ragi
  • 1 butir telur
  • 4 gram/1/4 sdt garam


Bahan Biang


  • 75 ml air hangat
  • 1 sdt ragi instan
  • 1 sdt gula pasir


Cara Membuat


Langkah 1

  1. Buat biangnya terlebih dahulu dengan cara:
  2. Masukkan ragi ke dalam mangkok dan tambahkan gula.
  3. Masukkan air hangat kemudian diamkan 10-15 menit. 
  4. Tunggu sampai muncul gelembung-gelembung.


Langkah 2

  1. Siapkan wadah untuk mencampur adonan. 
  2. Masukkan terigu, kentang, susu bubuk, telur, dan gula. 
  3. Tuangkan bahan biang lalu aduk dengan rata.
  4. Uleni adonan hingga setengah kalis, tambahkan mentega dan garam


Langkah 3

  1. Ambil adonan lalu masukkan ke dalam wadah lalu tutup dengan kain serbet yang bersih.
  2. Biarkan adonan mengembang sampai dua kali lipat atau kira-kira selama 40 menit.
  3. Ambil adonan lalu bentuk menjadi bulatan-bulatan kemudian tutup lagi dengan serbet yang bersih dan diamkan hingga mengembang kembali.
  4. Siapkan wajan, tuang minyak goreng yang cukup banyak, kemudian panaskan. Goreng donat sampai kedua sisi kecoklatan, cukup balik sekali tiap sisi. 
  5. Setelah matang, angkat dan tiriskan. 
  6. Bisa langsung ditaburi gula halus atau tunggu sampai dingin. Untuk olesan coklat atau taburan mesis coklat atau parutan keju, sebaiknya tunggu sampai donat kentang agak dingin.

Saat saya dan mama mempraktikkan donat kentang itu, kami menggunakan taburan gula halus saja, karena tidak ada coklat apalagi keju.


Bagaimana Hasilnya?


Seperti biasa, bapak akan selalu hadir sebagai penilai yang handal, seperti ketika mencoba  KUE BOLU SINGKONG PANGGANG waktu itu. 

Donat pertama dicobakan kepada beliau. Saat bapak menggigit donat itu, beliau berdecak kagum sambil berkata.

“Untuk rasanya, kalian sudah lolos jadi penjual kue donat kentang, tapi untuk bentuknya, belum.” 

Saya dan mama saling pandang lalu terbahak bersama. Bentuk donat kami tidak seperti bentuk donat pada umumnya, apalagi menyerupai donat buatan Ibu Sa’ddiah. 

Donat hasil praktik kami bentuknya bulat tanpa bolong di tengahnya. 

Bagitu konsentrasinya kami mengikuti resep sesuai tahap-tahapannya sampai kami lupa membolongi donat.  

“ini bukan donat kentang, melainkan kue roti goreng kentang.” Kata mama sambil terpingkal-pingkal.

Ah, lupakan bolongnya, fokus saja ke rasanya yang empuk, gurih, dan ada manis-manisnya, serta semakin manis manakala taburan gula halusnya telah menyatu pada donat, eh, roti goreng.

Bapak menyeruput kopinya dengan kue yang saya dan mama anggap sebagai donat kentang, lalu beliau bertanya, 

“kenapa donat bolong tengahnya? Cobalah cari tahu, Dawiah.’

Ah, bapak. Beliau selalu memancing anak-anaknya untuk berpikir dan penasaran.

Baiklah Pak, sekalipun bapak sudah tidak ada, saya akan memenuhi tantangan itu. Saya akan cari tahu asal usul terjadinya lobang pada donat. 


Catatan


Sebagai catatan, saya menuliskan hal-hal yang perlu dan penting diperhatikan saat membuat donat. Ini sesuai pesan dari si pemberi resep, yaitu Ibu Sa’ddiah rahimahullah.

Saat proses proofing adonan donat kentang harus diistirahatkan agar proses fermentasi dapat berjalan dengan baik. Jangan kelamaan istirahatnya. Jangan sampai ketiduran menunggui masa istirhatnya, yah.

Jangan lakukan proofing jika adonan donat kentang belum tercampur rata, elastis, dan kalis karena adonan tidak akan mengembang sempurna.

Proofing dilakukan dengan cara, letakkan adonan donat kentang ke dalam mangkuk, lalu tutup dengan plastik wrap atau serbet bersih. Biarkan adonan donat kentang mengembang selama lebih kurang 40 menit. Sekali lagi, jangan kelamaan.

Penting pula dicatat, bahwa adonan donat kentang diistirahatkan sebanyak dua kali. Pertama saat adonan sudah kalis, kedua ketika adonan donat kentang sudah dicetak atau dibentuk bulat. 

Nah, kapan dilubangi? 

Yaitu sesaat sebelum diturunkan ke dalam wajan yang berisi minyak.

Jangan dilubangi jika masih dalam proses didiamkan karena lubangnya akan tertutup kembali. Ingat yah, bukan donat namanya kalau tidak bolong alias berlubang di tengahnya.

Agar mengembang sempurna maka proses menggoreng juga memengaruhi hasil akhir donat kentang. Gunakan minyak yang banyak dan turunkan donat saat minyak sudah cukup panas dengan api sedang cenderung kecil

Kembali ke kisah di balik pembuatan donat kentang kami.

Bapak masih saja berceloteh tentang kisah di balik bolongnya donat. Katanya, yang membedakan antara roti goreng dengan donat terletak pada bolongnya. 

“Jadi ingat yah Dawiah, setiap kali bikin donat, jangan lupa dilubangi tengahnya, hahaha.” 

Mama manggut-manggut dengan tawanya yang ditahan.

Ah, bapak dan mama, donat kentang dan semua yang kita praktikkan selalu membawaku ke pusaran kenangan. 

Masih banyak cerita di balik kegiatan mempraktikkan makanan, kue, atau minuman yang kami lakukan. 

Kadang makanan atau minuman yang kami praktikkan adalah makanan dan minuman yang sudah lama orang lain tahu, bahkan dibilang makanan itu sudah biasa, tetapi bagi kami, itu adalah hal baru karena kami baru mengetahuinya, bahkan ada yang baru kami cicipi maka itu adalah hal yang luar biasa bagi kami.

Demikianlah cerita kami di balik praktik membuat donat kentang.




Makassar, 4 November 2023

Dawiah

Read More