Peranan ‘Aisyiyah Dalam Pendidikan dan Literasi di Indonesia

Thursday, May 25, 2023



'Aisyiyah dan Literasi Indonesia

Peranan ‘Aisyiyah Dalam Pendidikan dan Literasi di Indonesia


Pagi yang cerah pada Ahad 21 Mei lalu, saya ikut sibuk membantu Nabila memilih-milih buku yang akan dia bawa pada kegiatan organisasinya, kalau tidak salah mereka menamainya dengan “Lapak Buku.”

Sebelumnya saya menanyakan bagaimana bentuk kegiatannya. Apakah donasi buku atau gerakan membaca buku? 

Nabila menjawab kalau itu adalah kegiatan membaca buku yang dilaksanakan di salah satu taman Kota Makassar. 

Wah, keren. 

Setidaknya ada kepedulian pada perkembangan literasi dan saya berharap kegiatan itu tidak berhenti pada satu program organisasi mereka saja karena isu tentang rendahnya literasi di Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan berada di zona rendah. 

Apalagi salah satu isu strategis yang menjadi perhatian 'Aisyiyah pada Musyawarah Daerah  Kota Makassar ke-17 baru-baru ini adalah “menguatkan literasi Sulawesi Selatan”

Oh yah, sebelumnya saya mau memperkenalkan terlebih dahulu tentang organisasi ‘Aisyiyah.


Sekilas Tentang 'Aisyiyah


‘Aisyiyah merupakan organisasi perempuan Persyarikatan Muhammadiyah yang didirikan pada 27 Rajab 1335 H bertepatan pada 19 Mei 1917 M di Kauman Yogyakarta.

Di laman ‘Aisyiyah.or.id dijelaskan bahwa berdirinya ‘Aisyiyah diawali dengan pertemuan yang digelar di rumah Kyai Dahlan yang dihadiri oleh K.H. Facrodin, K.H. Mochtar, Ki Bagus Hadikusumo bersama kader Dahlan dari perempuan, yaitu Siti Bariyah, Siti Dawimah, Siti Dalalah, Siti Busjro, Siti Wadingah, dan Siti Badilah.

Dari hasil pertemuan itu diputuskanlah berdirinya organisasi perempuan Muhammadiyah yang disepakati diberi nama 'Aisyiyah yang konon nama itu diajukan oleh K.H. Facrodin.

Nama tersebut terinspirasi dari nama istri Nabi Muhammad Sallalahu Alaihi Wassalam yang jika Muhammadiyah berarti pengikut Nabi Muhammad Sallalahu Alaihi Wasallam maka ‘Aisyiyah bermakna pengikut  istri Nabi, yaitu Aisyah radhiyallahu anha.

Sedangkan inspirasi utama didirikannya  ‘Aisyiyah adalah pemahaman ayat Al Quran surah An - Nahl ayat 97, yang artinya adalah sebagai berikut.

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl:97).

Berangkat dari surah itulah, ‘Aisyiyah bersama-sama Muhammadiyah melakukan  gerakan Islam, dakwah amar makruf nahi munkar dan tajdid yang berasas Islam serta bersumber kepada Al-Qur’an dan As-Sunn.


Peran Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah  Dalam Pendidikan di Indonesia


Kepedulian Muhammadiyah terhadap pendidikan tidak diragukan lagi. Hal ini bisa dilihat dari sekolah-sekolah yang didirikan, dikembangkan dan dibina oleh Muhammadiyah demikian pula berdirinya sejumlah perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Indonesia.

Tercatat hingga pada tahun 2023, Muhammadiyah memiliki SD sebanyak 1094, SMP 1128, SMA 558 dan SMK sebanyak 554 jika diakumulasi maka jumlah sekolah yang didirikan oleh Muhammadiyah sebanyak 3334. (dikdasmenppmuhammadiyah).


Perguruan Tinggi dan Sekolah-Sekolah Muhammadiyah


Sedangkan organisasi otonom (ortom) yang pertama dibentuk Muhammadiyah yaitu ‘Aisyiyah tak kurang perannya dalam perkembangan pendidikan di Indonesia terutama pendidikan usia dini. 

‘Aisyiyah merupakan pelopor berdirinya pendidikan anak usia dini di Indonesia. Bermula dari pendirian Forbel Scholl pada tahun 1919 di Yogyakarta lalu berkembang manjadi TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal. 

Melalui Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) ‘Aisyiyah yang bertugas sebagai penyelenggara usaha bidang pendidikan dasar dan menengah ‘Aisyiyah dalam lingkup pendidikan dasar dan menengah ‘Aisyiyah yang meliputi:


Pendidikan Usia Dini (PAUD)


  1. PAUD formal yaitu: Taman Kanak-kanak (TK) Bustaful Athfal dan SLB
  2. PAUD non formal meliputi Kelompok Bermain (KB)/Play Group, Taman Pengasuhan/Penitipan Anak (TPA), Satuan PAUD Sejenis/Taman Bina Anak (TBA) dan Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ)


Pendidikan Dasar 


Pendidikan dasar dalam lingkup ‘Aisyiyah merupakan jenjang bpendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah, meliputi:

  1. Sekolah Dasar (SD)
  2. Madrasah Ibtidaiyah (MI)
  3. Sekolah Menengah Pertama (SMP)
  4. Masdrasah Tsnawiyah (MTs)
  5. Sekolah Luar Biasa (SLB)
  6. Pondok Pesantren, dan bentuk lain yang sederajat.


Pendidikan Menengah


Pendidikan menengah adalah lanjutan pendidikan dasar, meliputi:

  1. Sekolah Menengah Atas (SMA)
  2. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
  3. Madrasah ‘Aliyah (MA)
  4. Sekolah Luar Biasa (SLB)
  5. Pondok Pesantren, dan bentuk lain yang sejenis


Pendidikan Non Formal


Yang dimaksud dengan pendidikan non formal adalah pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal, meliputi:

  1. Madrasah Diniyah
  2. pendidikan kecakapan hidup
  3. pendidikan Remaja
  4. pendidikan pemberdayaan perempuan
  5. pendidikan keaksaraan
  6. pendidikan kesetaraan
  7. pendidikan ketrampilan
  8. pelatihan kerja, dan bentuk lain yang sejenis.


Berdasarkan data terakhir pada laman Aisyiyah.or.id tercatat jumlah amal usaha ‘Aisyiyah bidang pendidikan Dasar dan Menengah adalah 

  • 20.125 PAUD dan TK ABA
  • 4.398 Lembaga pendidikan setingkat SD, SMP, dan SMA
  • 3.904 Lembaga keaksaraan fungsional

Dari segi kuantitas maupun kualitas, peran ‘Aisyiyah dalam dunia pendidikan di Indonesia tidak diragukan lagi. Mendirikan, membangun dan membina secara sungguh-sungguh setiap amal usaha berupa sekolah dan Lembaga pendidikan adalah bukti nyata peran ‘Aisyiyah dalam perkembangan pendidikan di Indonesia.

Bagaimana peran ‘Aisyiyah dalam literasi di Indonesia terutama bagi perempuan Indonesia?


Peran ‘Aisyiyah Dalam Perkembangan Literasi di Indonesia


Sejak tahun 1926, ‘Aisyiyah sudah memulai debutnya dalam dunia literasi melalui majalah Suara 'Aisyiyah. 

Suara 'Aisyiyah adalah majalah bulanan yang diterbitkan oleh Pimpinan Pusat 'Aisyiyah yang masih eksis sampai sekarang. Majalah ini bisa dikatakan sebagai majalah tertua di Indonesia yang eksis sejak zaman kolonial Belanda, zaman Jepang hingga zaman kemerdekaan.

Saat ini usia majalah Suara 'Aisyiyah hampir menginjak 100 tahun atau lebih tepatnya sudah berusia 97 tahun dan tetap eksis hingga sekarang, dan untuk menjawab tantangan teknologi digital maka majalah Suara 'Aisyiyah juga menerbitkan Suara ‘Aisyiyah Digital. 


Suara 'Aisyiyah/mardanurdin.com


Barangkali masih banyak yang meragukan bahwa kehadiran majalah Suara 'Aisyiyah belum sepenuhnya menjawab isu strategi literasi di Indonesia yang akhir-akhir termasuk dalam rendah berliterasi, tetapi kehadiran dan keeksisannya hingga kini adalah bukti bahwa 'Aisyiyah peduli dengan perkembangan literasi Indonesia.


Read More

MONOLOG; Teruslah Menulis Walaupun Rasa Malas Melanda

Saturday, May 20, 2023

 



Kapan terakhir kali menulis dan mengeposkannya di blog?

Pertanyaan itu sering sekali datang diam-diam seakan mengingatkan untuk kembali ke jalan pilihan yang telah saya canangkan sebelumnya. 

Sebagaimana yang telah saya cita-citakan sepuluh tahun terakhir ini bahwa saya akan menjadi penulis  dengan cara apapun. 

Penulis di blog sebagai bloger, penulis konten di media sosial atau apa saja dan di mana saja, yang pasti tetap di area kepenulisan, karena bagi saya menulis di mana pun itu tetap bisa disebut sebagai penulis.

Nyatanya sudah 20 hari saya tidak mengepos tulisan apapun di blog atau di akun pribadi saya. 

Terakhir saya menulis tentang Sambut Masa Pensiun Bersama IndiHome pada 30 April, selebihnya saya hanya merapikan draf-draf yang berceceran hingga mencukupi jumlah 400 kata untuk saya setorkan pada KLIP dalam bentuk google drive. 

Saya cukup berhati-hati dengan setoran di KLIP ini karena di sanalah konsistensi menulis saya terjaga. Semacam ada utang yang mesti dibayar. 

Jangan sampai lengah seperti bulan lalu di mana saya gagal mendapatkan budget padahal saya berhasil mengepos 9 tulisan di blog ditambah beberapa tulisan draf di google drive, tetapi keasyikan dengan kerjaan lain akhirnya lupa menyetorkannya di klip.

Belajar dari kegagalan bulan lalu, maka begitu memasuki bulan Mei ini saya sudah meniatkan untuk menulis minimal 400 kata sehari. 

Alhamdulillah saya berhasil sampai hari keenam, tetapi postingnya di google drive. Belum bisa mengepos di blog, karena mengepos di blog itu tidak bisa asal-asalan, minimal ada foto, ada aturan-aturan yang mesti diikuti. 

Saya berharap pada hari ke-20 bulan Mei ini saya bisa menuntaskan satu tulisan dan mengeposnya di blog. 

Oh yah, saat saya menulis ini konsentrasi saya sempat terputus beberapa saat karena “gangguan” dari Ayangbeb yang rada-radanya tidak suka kalau saya di depan laptop terus. 

Tepuk jidat deh.

Setelah tertunda sekian jam, saya memutuskan untuk melanjutkan tulisan curhat ini. Mencoba merenungi, kira-kira apa penyebab dari “kekacauan perasaan ini.”

Hm, baru juga tidak menulis selama 20 hari, dunia saya sudah serasa sunyi, pikiran tak tentu yang berdampak pada kesehatan fisik.

Yap, pikiran itu bisa mengakibatkan tubuh menjadi tidak sehat sekalipun fisik yang sakit lebih sering mengacaukan pikiran dan hati.

Namun, percayalah keduanya saling memberi efek dan saling memberi kontribusinya satu sama lain. 

Pikiran kacau dan hati tidak tenang akan menimbulkan sakit pada badan dan badan yang sakit 90% akan menimbulkan hati nelangsa dan pikiran menjadi tidak tenang. 

Sialnya, saya merasakan keduanya akhir-akhir ini. Bayangkan kalau keduanya bekerjasama dan muncul secara bersamaan, makin kacaulah hidup ini.


Ini Penyebabnya


Dua pekan terakhir saya tidak bisa berkonsentrasi menulis akibat pekerjaan domestik yang menumpuk.

Seperti, melipat pakaian (ini pekerjaan yg paling menyita waktu dan tidak kusukai sebenarnya) ditambah suami yang kurang sehat sehingga pekerjaan ringan yang biasanya beliau lakukan untuk sekadar bantu-bantu otomatis harus saya ambil alih. 

Semisal cuci piring sepulang salat subuh atau menyapu jalanan depan rumah yang kami anggap sebagai halaman rumah, hahaha.

Setelah suami mulai sehat dan bisa lagi melakukan aktivitas ringan, giliran saya yang kena. 

Mulanya hanya sakit gigi, nyeri-nyeri sedap sedikit, lama-lama berdampak pada pencernaan dan nyeri lambung datang karena makan tidak teratur maka otomatis hampir semua kegiatan tulis menulis terhenti. 

Sesekali ngepos status WA saja sebagai pertanda kalau saya masih hidup, wkwkwk. 

Yaah, itulah sebab utamanya dan sebab lainnya adalah kemalasan yang mulai mengunggis bagai tupai yang menggerumit buah kelapa.


Menulislah Walaupun Lagi Malas


Saya bersyukur dan merasa beruntung karena berada di berbagai komunitas kepenulisan, baik itu komunitas bloger maupun yang bukan bloger, tetapi masih di area dan bersama para penulis, seperti Kumpulan Emak Bloger (KEB), Pasukan Bloger JA, BPN (Blogger Perempuan Network), KLIP, 1M1C (1 Minggu 1 Cerita), IIDN (Ibu-Ibu Doyan Nulis) dan yang lainnya, sebab dari sana saya menemukan “obat” penyemangat untuk terus menulis.

Saya menyadari bahwa masa “keemasan” saya sebagai guru di sekolah tidak lama lagi akan berakhir.

Berbagai kegiatan dan program di sekolah secara alami telah “menolak” kehadiran guru-guru seusia saya. Walaupun kadang dihadirkan, tetapi kehadirannya hanya sebagai pelengkap semata.

Mungkin itu hanya perasaan saya saja, tetapi dari berbagai jenis program yang dilaksanakan oleh pemerintah dalam lingkup pendidikan selalu ada batasan usia yang memungkinkan guru seusia saya secara otomatis ditolak oleh sistem.

Kesadaran akan situasi itu sudah lama saya rasakan dan saya sudah mempersiapkannya dengan mengalihkan “pikiran” saya ke hal lain, yaitu menulis. 

Masa iya setelah sejauh ini melangkah saya harus dihentikan oleh rasa malas? Jangan dong yah.

Maka untuk kesekian kalinya saya mencanangkan kepada dunia bahwa saya akan tetap menulis sekalipun kemalasan datang melanda. 

Sebagaimana yang dinasihatkan oleh Imam Ghazali, bahwa:

"Jika kau bukan anak raja dan anak ulama, maka menulislah."


Makassar, 20 Mei 2023


Dawiah

Read More