Resep Bolu Singkong Panggang

Sunday, October 29, 2023





Resep Mama; Bolu Singkong Panggang - 


Bismillah.

Sudah lama saya berencana mengumpulkan resep-resep makanan dan minuman yang pernah saya dan mama praktikkan. Resep-resep tersebut biasanya  saya  salin dari majalah dan sebagian resep-resep berasal dari teman mama maupun teman saya atau dari keluarga serta tetangga.

Resep-resep itu memiliki sejarah tentang keseruan saat kami mempraktikkannya hingga mencoba hasil praktik kami.

Sebagai pembuka dari tulisan tentang resep mama ini, saya mulai dari   resep yang pertama kali kami praktikkan di mana resepnya saya salin dari majalah Femina sekitar tahun 1984.

Resep ini saya praktikkan dalam rangka merayakan kegembiraan menerima honor pertama saya sebagai guru di SMP Muhammadiyah 3 Makassar di mana semua bahan-bahannya saya beli dari honor tersebut.

Oh yah, sebelum menjadi guru honorer saya sudah mendapatkan penghasilan dari menjahit baju kodian, tetapi waktu itu tidak bisa disisihkan untuk membeli bahan buat praktik karena dipakai untuk biaya transport ke kampus dan jajan. 

Kata mama, 

“sayang uangnya kalau dipakai buat praktik bikin kue, nanti kuenya gagal, rugilah kamu.” 

Apalagi uang hasil menjahit juga tidak seberapa. Makanya ketika saya menerima honor pertama setelah mengajar selama tiga bulan, langsung deh belanja bahan untuk praktik bikin kue.

Sebelum menjatuhkan pilihan, kue apa yang akan kami praktikkan, saya dan mama melihat-lihat resep-resep dari majalah Femina, waktu itu saya menyimpan beberapa majalah Femina bekas atau terbitan lama.

Banyak sekali resep kue yang disuguhkan dalam majalah itu sampai kami bingung memilih. Maka terjadilah diskusi yang cukup alot antara saya, mama, dan bapak.

Bapak diikutkan karena beliau yang bertugas sebagai wasitnya nanti.

Mama memilih resep berdasarkan harga perkiraan bahan-bahannya, sedangkan saya memilih resep berdasarkan kemudahan dalam mengelolanya, lalu bapak memberikan usul, bikin kue berdasarkan bahan yang sudah tersedia di rumah saja.

Pertimbangan bapak ini setali tiga uang sama pertimbangan mama sebenarnya, yaitu atas dasar penghematan. 

Setelah menimbang, mengingat, dan memperhatikan maka diputuskanlah kalau hari pertama praktik bikin kue dari resep yang diambil dari majalah, jatuh pada kue Bolu Ubi kayu/Singkong Panggang.  

Pertimbangan pertama adalah, di rumah ada ubi kayu pemberian tetangga. Mengingat, ada gula pasir yang baru dibeli mama sehari sebelumnya, kemudian memperhatikan, telur yang dibutuhkan tidak banyak dan kebetulan pula ayam betina yang mama pelihara baru saja bertelur, pas 2 butir.  

Jadi yang wajib dibeli sisa tepung maizena, kelapa untuk santan dan margarine. Madu bisa diganti susu kental manis, kalau susah dibeli karena mahal, bisa diskip.

Silahkan disimak resepnya yah, siapa tahu kamu tertarik.


Bahan


  • 800 gram ubi kayu parut, kami perkirakan saja karena di rumah tidak ada timbangan. Kami pakai ubi kayu 3 biji.
  • 230 gram gula pasir, kami gunakan 250 gram, disesuaikan dengan jumlah yang dibeli mama sebelumnya, yaitu seperempat kilo atau sama dengan 250 gram.
  • 1/2 sdt garam
  • 3 sdm tepung tapioka
  • 2 butir telur
  • 400 ml santan encer, ini diperkirakan saja menjadi 1 gelas 
  • 100 gram margarin cair
  • 2-3 sdm madu, bisa diganti dengan susu kental manis. Bahan ini kami skip karena tidak ada susu kental manis apalagi madu.


Cara Membuat


Langkah Pertama


  1. Ubi kayu dikupas kulitnya lalu dibersihkan kemudian diparut.
  2. Masukkan gula pasir, tepung tapioka lalu diaduk hingga merata.
  3. Masukkan telur satu persatu dan tuangkan santan dan margarine yang sudah dicairkan lalu dicampur dan diaduk hingga merata.


Langkah Kedua


  1. Siapakan loyang lalu diolesi tipis-tipis dengan margarine.
  2. Masukkan adonan dan ratakan dengan spatula.
  3. Panaskan oven lalu panggang selama kurang lebih 70 menit dengan api sedang.


Hasilnya?


Alhamdulillah, bolu singkong panggang kami matang dengan sempurna. Penampakannya juga cantik sekali, sekalipun tidak ada taburan kejunya. 

Oh yah, saya lupa kalau di majalah Femina itu, salah satu bahannya adalah keju sebagai taburan sehingga namanya menjadi Bolu Singkong Keju.

Seperti madu atau susu kental manis, keju ini pun kami skip makanya resep ini saya namakan Bolu Singkong Panggang saja tanpa keju.

Melihat hasilnya yang cantik, bapak bergegas bikin kopi dan mama menyeduh teh. Bolu pun diiris tipis lalu saya hidangkan di atas piring.

Gigitan pertama, muka bapak mengkerut.

“Ini kuenya yang pahit atau kopi saya?”

Mama ikut mencomot seiris.

“Kuenya yang sedikit pahit, kenapa yah?”

Mama menatap saya sambil berkata, “coba periksa lagi itu majalahnya, siapa tahu ada yang terlewat.”

Dengan perasaan campur aduk, saya membuka majalah dan membaca lebih teliti resepnya. 

“Ada yang terlewat Mama, kita lupa peras singkongnya.” 

Awweee, pantas agak pahit.” Kata bapak sembari menyeruput kopinya dan mencomot lagi seiris kue bolu singkong. 

Hari itu, saya dan mama tergelak. Apalagi ketika bapak berkomentar, 

Kue ini pahit, tapi lebih pahit dompetnya Dawiah, habis-mi dipakai praktik bikin kue, tapi  tidak enakji, hahaha.” Sambil mencomot kue untuk ketiga kalinya.




Tulisan ini saya tulis sebagai pelepas rindu atas kepergian mama satu bulan lalu.


Makassar, 29 Oktober 2023

Dawiah


Read More

Hari Bloger Nasional 2023; Teruslah Ngeblog Karena Bloger Itu Keren

Wednesday, October 25, 2023




Hari Bloger Nasional, 27 Oktober 2023 - 


Yeeeiiih…tibalah saatnya, kamu yang mengaku bloger, akan memperingati hari jadimu, lusa, di mana Hari Bloger Nasional  diperingati pada setiap tanggal 27 Oktober.

Ada yang tahu, apa itu hari bloger dan latar belakang munculnya hari bloger Nasional?  Yuk, kita bahas.

Dari berbagai sumber dijelaskan kalau hari bloger nasional didasari pada pertemuan nasional yang bertajuk Pesta Blogger 2007 yang berlangsung di Blitz Grand Indonesia.

Dikatakan pesta karena ada sekitar 500-an bloger, media dan tamu yang hadir. 

Melalui sambutan Menkominfo saat itu, yaitu Bapak Muhammad Nuh maka diinisiasilah tanggal 27 Oktober sebagai hari blogger nasional.

Tahukah kamu, kalau blog di Indonesia  sudah ada sejak tahun 1998 sehingga perkembangan blog di Indonesia sudah mengalami tiga generasi. 

Campus Digital melansir, dalam dunia blog terdapat tiga generasi, yaitu:


Generasi Awal


Generasi awal ditengarai antara tahun 1998 hingga tahun 2001. Pada masa itu, tema yang ditulis oleh bloger adalah jurnal pribadi. Pada masa ini, saya masih berupa sel sperma yang berkeliaran mencari sel telur. Ibarat diri ini masih berada di Lauhulmahfuz, belum tahu, siapa nanti bapak ibunya. Hahaha.

Oh yah, tahun 1998 adalah masa tersibuk saya sebagai ibu dari empat putra, sebagai guru dan nyambi menjahit. Manalah sempat ngeblog. Eh, jangankan ngeblog, nama BLOG saja belum singgah di memori saya.


Generasi Kedua (2001-2002)


Walau isi blog dari blogger masih tulisan seputar jurnal pribadi, tetapi dunia perblogeran meninggat tajam. Hal ini ditandai dengan munculnya komunitas blogger Indonesia. Bisa dikatakan, blog sudah menggeliat

Saya di mana?

Saat itu saya sudah berubah menjadi janin dalam rahim ibu pertiwi, hihihi. Jadi wajar kalau saya belum mengenal dunia perblogeran. Kan, belum melihat hiruk pikuknya dunia.

Pada tahun itu. 

Aku masih seperti yang dulu … 

menunggumu sampai akhir hidupku …. auto nyanyi kan lagu lawas, LOL.



Generasi Ketiga (Tahun 2004-sekarang)



Yeeah, lahirlah saya pada generasi ketiga, tetapi sudah memasuki masa pertengahan, karena mulai mengenal blog nanti pada tahun 2010.

Pada generasi ketiga ini, bloger sudah lebih menguasai teknologi dan tema blog sudah bergeser ke informasi umum, tidak melulu tentang jurnal pribadi.

Padahal saya masih berkutat pada jurnal pribadi alias tulisan curhat hingga sekarang. Maklumi sekali lagi, saya kan masih bayi, jadi masih unyu-unyu menggemaskan.


Inilah Keuntungan Menjadi Bloger


Sebagai bloger yang masih sepuluh tahunan ngeblog dan termasuk dalam generasi ketiga, maka saya tergolong bloger modern dengan usia klasik, hihihi.

Jika mengacu pada kurikulum merdeka, maka usia ngeblog saya berada dalam fase A, setingkat dengan anak SD,

Sekalipun begitu, saya bersyukur berkecimpung dalam dunia blog, karena dengan ngeblog saya mendapatkan banyak sekali insight baru yang terus berkembang dari waktu ke waktu.

Selain wawasan yang terus berkembang mengikuti zaman, ada banyak keuntungan yang saya dapatkan setelah menekuni dunia blog, antara lain:


Kemampuan Menulis Terasah


Waktu kecil, saya memiliki banyak impian dan harapan. Salah satunya menjadi penulis seperti Buya Hamka yang menerbitkan buku best seller lalu dikenang sebagai sastrawan dan ulama. 

Pernah pula bercita-cita menjadi jurnalis yang meliput berita di mana-mana dan mendapatkan bayaran. Alhamdulillah menjadi bloger, cita-cita itu sedikit tercapai.

Walaupun belum sehebat Buya Hamka, tetapi saya sudah berhasil menerbitkan buku, belum best seller sih, tapi setidaknya sudah punya buku dan berhak menyandang nama sebagai penulis. 

Psst, lebih tepatnya disebut penulis buku antologi karena antologinya lebih banyak daripada buku solonya, hahaha.

Beberapa kali pula mendapatkan pekerjaan meliput suatu acara lalu dituliskan di blog.  Yaaah, mirip-mirip jurnalislah. Kan, sama-sama meliput acara, ditulis lalu diposting dan dibayar. Bedanya hanya pada medianya saja. 

Kalau jurnalis medianya bisa koran, majalah, televisi, dsb. Sedangkan bloger medianya adalah blog atau website pribadi. 

Saya pikir-pikir, bloger itu lebih “berkuasa” deh, karena tidak punya bos, tidak ada tim redaksi yang akan memeriksa tulisan sebelum ditayangkan, bebas masuk “jam kerja” suka-sukanya kita, gajinya tidak dibagi-bagi pula, langsung masuk ke rekening pribadi tanpa singgah dahulu di kas kantor. 

Itu pikiran saya, entah pikirannya netizen, hahaha. 

Maka kalau mau menjadi penulis yang handal, cobalah memulainya dengan menjadi bloger. Menjadi bloger dapat meningkatkan kemampuan menulis. Semakin banyak yang ditulis di blog maka akan semakin terasah kemampuan kamu dalam menulis.


Minat Membaca Meningkat


Masih malas-malasan membaca? 

Ketahuilah, membaca adalah jembatan ilmu. Jika mau wawasanmu bertambah maka rajinlah membaca. Nah, menulis di blog itu adalah salah satu cara memaksa diri untuk membaca. 

Semakin banyak yang dibaca maka semakin bertambah pengetahuan dan informasi yang dibutuhkan untuk diolah menjadi tulisan. 


Memperluas Jaringan 


Dengan ngeblog, jaringan semakin luas dan relasi bertambah. Menemukan komunitas bloger yang anggotanya sudah pasti bloger dan insyaallah sefrekuensi. Sama-sama bloger kan, pastilah bahasannya seputar dunia perblogeran, tentang tulis menulis, tentang buku, tentang event dan job bahkan tentang cuan. 


Bloger Bisa Menjadi Sumber Penghasilan


Percayalah, bloger adalah profesi kreatif yang menjanjikan. Dengan blog, kamu bisa mendapatkan penghasilan dari berbagai sumber, misalnya mereview produk, menulis artikel promosi, website kamu bisa dipasangi iklan dan tahu sendirilah, iklan itu membayar ke pemilik blog. 


Bloger = Ahli Marketing


Menjadi bloger memaksa diri menjadi seorang ahli marketing. Kan. Bloger harus aktif mempromosikan artikelnya baik di media sosial maupun di Google sendiri. Maka kemampuan digital marketing akan terasah dengan sendirinya.


Tidak Gaptek


Seorang bloger harus rajin mengupdate perkembangan teknologi meski isi blog tidak membahas tentang teknologi, tetapi harus dipelajari dan dipahami. Setidaknya selalu update tentang google analytics demi kemajuan blognya.

Demikianlah beberapa keuntungannya menjadi bloger, kamu berminat? Sini, saya perkenalkan dengan bloger-bloger handalnya KEB, nanti mereka ajari cara bikin dan nulisnya.



Hari Bloger Nasional, Harapan dan Impian



Hari bloger nasional memang tidak diperingati oleh pemerintah dan masyarakat umum, tidak pula diistimewakan dengan hari libur atau tanggal merah dalam penanggalan Masehi.

Namun, ada banyak harapan seiring dengan adanya hari bloger nasional. 

Buat bloger, teruslah berkarya dan tingkatkan kemampuanmu dalam berbagai hal yang berhubungan dengan perblogeran.

Buat agensi atau yang suka bagi-bagi job, tolonglah tidak membatasi usia. Percayalah dalam ngeblog, usia tidak berkorelasi dengan kelemahan. Hahaha. 

Kalau diharuskan ada anak usia balita, kan boleh “pakai” cucu, ponakan bahkan “pinjam” anak tetangga. LOL

Buat komunitas keren ini, Kumpulan Emak Bloger (KEB), terima kasih sudah memfasilitasi para emak se-Indonesia, membantu menyalurkan hormone bicaranya yang banyak melalui tulisan.

Terima kasih atas ilmu yang rajin dibagikan dalam komunitas. Melalui komunitas ini, saya mendapatkan banyak ilmu tentang apa saja yang sehubungan dengan dunia perblogeran, gratis pula.

Harapan saya, teruslah menjadi komunitas bloger yang sehat rohani dan jasmani. Menjadi wadah buat emak-emak tanpa membeda-bedakan antara bloger baru dengan bloger lama. 

Selamat Hari Bloger Nasional, melalui Hari Bloger Nasional, literasi bangsa Indonesia semakin membaik. Semoga tingkat kemampuan berliterasi anak Indonesia tidak berada di peringkat kedua dari bawah lagi. 


#YukNgeblogLagi

#NgeblogAsyikBarengKEB




Makassar, 25 Oktober 2023


Dawiah



Sumber Tulisan


https://era.id/sejarah/107851/hari-blogger-nasional-begini-sejarah-dan-awal-mulanya

Read More

Maaf, Tak Bisa Melupakan

Tuesday, October 24, 2023

 


Maaf, Tak Bisa Melupakan - 

Tema Ngeblog Asyik Bareng KEB hari ini sepertinya  ada hubungannya dengan tema kemarin, yaitu tentang kesehatan mental, merawat emosi dengan menulis.

 

Apakah memaafkan dan melupakan bisa juga dikelola dengan cara menulis?

Memaafkan dengan cara ditulis mungkin bisa, tapi melupakannya rasanya sulit.  Kalau ditulis, bukannya terlupakan bisa jadi makin teringat karena akan abadi dalam tulisan. 

Wallahualam bissawab.


 

Marah dan Maaf, Adakah Hubungannya?


 

Kata maaf berhubungan dengan kesalahan dan kesalahan biasanya menimbulkan kekecewaan bahkan kemarahan.

Marah merupakan perasaan normal yang melekat pada semua orang sama seperti rasa cemas, stres atau was-was. Hanya penyebabnya yang berbeda-beda, tetapi rasanya sama saja.

 

Saat marah, jantung berdetak, pikiran terkadang kurang rasional, dan beberapa kasus ada yang saat marah ia mengalami muntah, sakit kepala, dsb.


Intinya, rasa marah, baik dilampiaskan maupun dipendam sama buruknya dan berdampak pada kesehatan fisik dan psikis. 

Sebab itulah tercipta kata maaf, dengan harapan, setelah ada maaf dan maaf diterima maka emosi bisa mereda.

Maka marah dan maaf sangat erat kaitannya dalam menjaga hati dan pikiran.


 

Memaafkan dan Dimaafkan


 

Memaafkan dan dimaafkan sumbernya sama yaitu hati, tetapi ada perbedaan signifkan antara keduanya. Ada orang yang sangat mudah minta maaf, ada pula yang sulit. 

 

Ada yang mudah memaafkan, ada pula yang tidak. Tergantung kepribadian seseorang dan sedalam apa kesalahan yang dibuat.


Memaafkan adalah amaliah yang cukup berat. Mudah diucapkan, tetap sulit dilakukan apalagi jika kesalahan yang dibuat terlalu besar atau kesalahan yang terus berulang.

 

Kadangkala memberi maaf diasumsikan dengan kekalahan sehingga merasa sulit memaafkan. Ada yang berpikir, jika ia terus memendam kesalahan orang terhadapnya dan memelihara kemarahannya atau tidak memaafkan maka kemenangan berpihak kepadanya. 


Kadang pula beranggapan dengan tidak memberi maaf, ia dapat menyembuhkan rasa sakit dan menghukum orang yang berbuat salah.


Namun, sesungguhnya itu menambah luka batin yang semakin dalam.

Bukankah manusia tidak pernah luput dari kesalahan? 

Karena itulah, Islam mengajarkan manusia untuk saling memaafkan, tuntunan tersebut terdapat dalam Al Qur’an di beberapa surat, yaitu:

 

 “Jika kamu menyatakan sesuatu kebajikan, menyembunyikannya atau memaafkan suatu kesalahan (orang lain), maka sungguh, Allah Maha Pemaaf, Maha Kuasa.” An-Nisa : ayat 149.

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim.” Asy-Syura : ayat 40. 

“Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.” Asy-Syura: ayat 43.

 

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas angit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, “(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” Surat Ali Imran: ayat 133-134.

 

"Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.”  Al-A’raf : ayat 199. 

 

Begitu pentingnya saling memaafkan sehingga Allah Subhanahu wataala memerintahkan hamba-Nya untuk saling memaafkan, diminta ataupun tidak. Sebagaimana sifat-Nya yang Maha Pengampun, Maha Memaafkan, Al Ghaffar.

 

Maka janganlah sungkan meminta maaf apalagi memaafkan karena sesungguhnya kamu justru mengalami kemenangan.


 

Manfaat Memaafkan 


 

Memaafkan lalu melupakan kemarahan adalah hal yang sulit. Mudah diucapkan, tetapi sangat sulit dilakukan. Namun, memaafkan dan dimaafkan merupakan suatu kebutuhan. 

 

Memaafkan bukan sekadar pengakuan atas kesalahan yang diperbuat, tetapi menjadikan kita sebagai orang yang memiliki hati yang lapang dan rendah hati sekaligus menambah rasa syukur karena masih diberi kesempatan memberi maaf apalagi dimaafkan.

 

Dr.Frederic Luskin menjelaskan dampak positif bagi kesehatan jika memiliki sifat pemaaf, yaitu pikiran menjadi lebih baik yang menimbulkan harapan, kesabaran, dan rasa percaya diri. Dapat pula mengurangi penderitaan, stres dan kemarahan serta menambah semangat hidup.

 

Sementara itu, Dr. Tyler VanderWeele, direktur Initiative on Health, Religion, and Spirituality di Harvard T.H. Chan School of Public Health, menerangkan manfaat memaafkan, yaitu: mampu menurunkan kadar depresi dan kecemasan secara berkala, dan selanjutnya dapat meningkatkan kebahagiaan, harapan, kepuasan hidup dan harga diri.

 

 

Memaafkan Masih Sulit? Inilah Caranya

 


Kamu masih sulit memaafkan? Lakukanlah empat cara krusial berikut yang dipaparkan oleh Kabrina Rian Ferdiani agar proses mmemaafkan menjadi lebih mudah. 

 

Pertamasadarilah bahwa kita sedang tidak baik-baik saja, sadari bahwa emosi negative sedang berkecamuk dalam diri lalu cari tahu bagaimana menghadapi atau menghindarinya. 

 

Keduaambil keputusan secara sadar untuk memaafkan dan tumbuhkan rasa maaf it uterus menerus. 

 

Ketigahadirkan pikiran positif dalam diri, bahwa bisa jadi orang yang melakukan kesalahan tidak berniat menyakiti melainkan karena berada pada kondisi  yang memaksanya melakukan semua itu 

 

Keempatyakinkan diri bahwa jika memaafkan maka akan merasakan dampak positif dalam diri, seperti ketenangan dan kedamaian dalam jiwa.

 

 

Memaafkan dan Melupakan

 

 


Pernahkah kamu memaafkan seseorang yang telah berbuat salah, tetapi masih terngiang perbuatannya?

 

“Iya, saya maafkan, tapi tidak bisa melupakan perbuatanmu.”

 

Begitu kira-kira ucapan dan pikiran kita. Tidak mengapa, sebab memaafkan dan melupakan adalah dua hal yang berbeda. Memaafkan adalah pekerjaan hati, sedangkan melupakan adalah pekerjaan memori. 

 

Jadi, jika masih kepikiran akan perbuatan atau kesalahan orang terhadap diri, maka itu wajar dan manusiawi. Tidak mengapa, yang penting hati sudah memaafkan.

Langkah selanjutnya adalah mengajak orang yang meminta maaf itu untuk berbuat baik, seperti yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wataala

 

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.”  Al-A’raf : ayat 199.

 

Bagaimana caranya benar-benar memaafkan kesalahan seseorang dan naik level ke melupakan kesalahannya? 

Cara ini tidak selalu bisa dilakukan, tetapi mengubah sudut pandang adalah lebih baik demi kesehatan mental kita. 

 

  1. Yakinkan diri bahwa memaafkan bukan berarti kita lemah, melainkan kekuatan jiwa yang tidak semua orang mampu melakukannya. 
  2. Jangan berharap lebih dan berpikiran bahwa orang yang dimaafkan akan berubah 180 derajat menjadi lebih baik. Biarkan saja, selama tidak mengulangi perbuatannya.
  3. Berhenti menceritakan perbuatan buruk orang yang telah melakukan kesalahan terhadap diri apalagi berusaha menjatuhkannya dan membalasnya. 

Maka lihatlah, betapa diri ini berubah menjadi lebih baik.

Hakikat memaafkan adalah menjadikan diri bening, damai dan lebih cemerlang, seperti kata Tere Liye berikut ini. 

 

Kata maaf tidak bisa mengembalikan yang telah pergi,

 

menghapus salah menjadi benar, yang rusak

 

seketika menjadi baik, tidak bisa.

 

Tapi kata maaf yang tulus dan ikhlas, melampaui ukuran itu semua,

 

melewati ukuran dunia.

 

Kata maaf, bisa menyiram hati menjadi lebih cemerlang,

 

bening, damai. Dan itulah hakikat memaafkan.

 

(Tere Liye)

       

#YukNgeblogLagi

#NgeblogAsyikBarengKEB

 

 


 

Makassar, 24 Oktober 2023



Dawiah

 

 

 

 

Read More

Pulihkan Jiwa; Menulislah

Monday, October 23, 2023






Jaga Kewarasan dengan Menulis - 


Masih ingatkah kalian dengan film Habibie & Ainun?

Yap, film ini dibuat berdasarkan kisah nyata dari mantan Presiden Bacharuddin Yusuf Habibie atau biasa dipanggil BJ Habibie, kisah tersebut ditulis sendiri oleh Bapak BJ Habibie lalu dibukukan dengan judul yang sama, Habibie & Ainun.

Bapak BJ Habibie mengisahkan, ketika Ibu Ainun meninggal dunia, Beliau merasa sangat kehilangan dan mengalami kesedihan yang panjang. Bahkan Beliau pernah bangun tengah malam berjalan sendirian sambil menangis seperti anak kecil.


“Saya tenggelam dalam kesedihan.” (BJ Habibie)


Lalu Beliau berkonsultasi dengan tim dokter, dari hasil analisa tim dokter, ditemukan kalau BJ Habibie mengalami psikosomatis malignant, suatu perasaan kehilangan akibat adanya hubungan yang terlalu dekat. 

Agar Pak BJ Habibie sembuh dari penderitaan psikosomatis malignant, tim dokter memberikan empat opsi cara pengobatan, yaitu:

Pertama, dirawat di rumah sakit jiwa dengan konsultasi rutin dengan psikiater.

Kedua, di rumah saja dengan pendampingan tim dokter yang memantau kesehatannya.

Ketiga, curhat kepada orang-orang terdekat, seperti saudara, teman-teman ibu Ainun, teman-teman Beliau sendiri atau dengan siapa saja.

Keempat, curhat kepada jiwa dan diri sendiri dengan cara menulis.


“Saya pilih opsi keempat, yaitu menulis. Saya me-restart jiwa saya dengan menulis semua kisah kasih bersama Ibu Ainun, dan ternyata saya bisa sehat. Saya sembuh.” (BJ Habibie).


Serupa tapi tak sama dengan kisah Bapak BJ Habibie. Saya pun mengalami kekosongan jiwa yang saya tidak tahu namanya. Seakan tidak punya harapan lagi, tidak bersemangat, tidak juga sedih apalagi menangis. Hampa saja rasanya.

Perasaan itu muncul pada akhir tahun 2015, pasca musibah kebakaran yang menghanguskan rumah saya dan hampir seluruh isinya, dan parahnya lagi, saya tidak melihat langsung kejadian itu. Saat saya datang, semua sudah habis, tersisa reruntuhan bangunan rumah yang menghitam. 

Berbulan-bulan saya mengalami perasaan itu. Orang-orang yang melihat saya menganggap saya kuat karena tidak pernah menangis sebagai tanda bersedih, tidak pula mengeluh, datar saja. 

Namun, saya kehilangan gairah. 

Kurang lebih 3 bulan, keluarga saya menumpang di rumah saudara. Tidur berhimpit-himpitan dan merelakan tuan rumah mengatur semua urusan domestik. 

Saya yang biasanya memiliki kuasa mengatur rumah sendiri menjadi tak bisa berbuat apa-apa. 

Saat suami mengajak berdiskusi untuk mencari solusi agar bisa secepatnya keluar dari “pengungsian,” saya diam saja. Waktu itu yang terpikir adalah menjauh dari rumah yang tinggal puin-puing itu kemudian membeli rumah lain lalu pindah.

Namun, mewujudkan impian itu tidak semudah menyeduh secangkir teh.  Membeli rumah baru saat keuangan sedang miring-miringnya adalah impian yang tidak masuk akal, bagai punduk merindukan bulan.

Hingga rumah terbangun kembali dengan seadanya, tak sekalipun saya mengikuti proses pembangunannya. Saya ikut saja dengan pikiran yang hampa, bahkan hingga saya kembali menempati rumah kami.

Suatu hari, saya membaca status seorang teman yang sedang mengikuti pelatihan menulis di laman facebooknya. Dia bercerita tentang asyiknya belajar menulis kembali setelah sekian puluh tahun tidak menulis.

Bagaiamana ia mengatasi kesedihannya dengan menulis, dan masih banyak lagi. Saya berpikir, mungkin saya pun bisa melakukan hal yang sama. Jiwa hampa ini harus dihidupkan kembali, saya harus bangkit dan bersemangat lagi dengan jalan menulis. 

Seperti kata Bapak BJ Habibie, ternyata saya bisa sembuh, saya bisa sehat lagi. Demikian pula saya. Perlahan, tapi pasti, gairah hidup saya kembali dengan menulis. 

Melihat perubahan sikap saya itu, suami mendorong saya untuk lebih menekuni kepenulisan dengan meng - up grade ilmu menulis saya dengan mengikuti berbagai pelatihan menulis termasuk menulis di blog.

Maka di sinilah saya sekarang. Merasa hidup semakin berarti dan terus memperjuangkan kebaikan-kebaikan dengan manulis hal-hal baik demi hidup yang baik-baik saja.


Menulis = Healing 


Dari kisah Bapak BJ Habibie dan yang saya alami sendiri, maka saya berani menyimpulkan bahwa untuk healing atau penyembuhan jiwa tidak selalu pergi jauh-jauh. Cukup duduk di suatu tempat, ambil alat tulis, bisa pakai gawai, laptop, bahkan pakai kertas dan pulpen kemudian menulislah.

Terapi menulis bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Memang pada mulanya tidak mudah apalagi bagi orang yang belum terbiasa mengungkapkan perasaannya lewat tulisan, tetapi bukan berarti tidak bisa. 

Tulis apa saja tanpa jeda, apa pun yang ada di pikiran, perasaan di hati, tulis terus tanpa membacanya. Jangan pedulikan diksinya, typonya, bahasanya dan aturan lainnya. Yang penting, semua yang bergejolak dalam dada dituangkan lewat tulisan. Hingga di titik tertentu, kelegaan hati dan pikiran itu datang perlahan.


Manfaat Terapi Menulis


Dari berbagai referensi dijelaskan bahwa terapi menulis memiliki banyak manfaat, yakni:


Terapi Gangguan Psikis


Manfaat utama dari terapi menulis adalah mengatasi gangguan psikologi, mulai dari depresi, kecemasan berlebihan, OCD, kecanduan obat-obat tertentu, gangguan makan hingga penyakit kritis.

Menulis merupakan salah satu sarana untuk mengatasi kesedihan atau kehilangan. Bisa juga sebagai jalan dalam mengatasi masalah interpersonal, seperti rendah diri bahkan bisa mengatasi komunikasi yang buruk dengan orang lain.


Mempertajam Ingatan


Menulis catatan harian atau jurnal sangat efektif meningkatkan daya ingat dengan mencatat peristiwa-peristiwa penting setiap hari. Menuliskannya saja sudah bisa membuat diri merasa lebih rileks di penghujung hari. 


Meredakan Stres 


Bagi orang yang pernah mengalami peristiwa yang sangat menegangkan atau traumatis, menulis ekspresif dapat memberikan efek penyembuhan yang signifikan. Biasanya, terapis meminta yang bersangkutan untuk menulis tentang pengalaman traumatis mereka selama 15 menit beberapa hari dalam sepekan. 


Mendapatkan Perspektif Baru


Dengan menuliskan pemikiran, kita dapat melihat sesuatu dari sudut pandang baru. Faktanya, menulis dapat menemukan makna dalam situasi yang menimbulkan stres atau bahkan pengalaman negatif. 


Hidup Menjadi Lebih Berkualitas


Terapis yang telah menggunakan metode ini juga menemukan bahwa kesehatan klien mereka membaik setelah menulis secara teratur. Klien lebih jarang sakit karena sistem imunnya membaik. Bahkan, siswa maupun mahasiswa yang rajin menulis menunjukkan peningkatan prestasi akademik. 


Terapi Menulis untuk Mengeksplorasi Pikiran


Sebenarnya, metode tersebut bukanlah sebuah metode yang menjadi tolak ukur efektif atau tidaknya terapi menulis. Kekuatan terapi ini terletak pada pikiran subjeknya, bukan pada kertas atau alat tulis. Tak perlu menulis, ada juga terapis yang meminta kliennya menulis email saat stres atau kecemasan mulai kambuh. 

Tujuan dari terapi menulis bukan untuk memudahkan pemahaman orang lain, tetapi untuk menciptakan cerita utuh yang dapat dikaitkan dengan ingatan tertentu. 

Ketika seseorang menceritakan peristiwa traumatis secara tertulis, hal itu dapat membantu menghentikan siklus pikiran yang berdampak buruk pada mental. Kunci dari terapi menulis adalah mengeksplorasi perasaan dan emosi sedalam mungkin. Terutama pikiran negatif atau traumatis. Membiasakan diri untuk terpapar emosi tersebut secara perlahan dapat mencerahkan Anda secara spiritual. 

Di sisi lain, mengungkapkan harapan atau optimisme masa depan dalam bentuk tulisan juga dapat membantu menemukan kedamaian dengan pengalaman traumatis. Berfokus pada hal-hal positif juga dapat meredakan trauma. 


Menulis Mencegah Penyakit Alzheimer 


Penyakit Alzheimer adalah salah satu penyakit neurodegeneratif yang paling umum di dunia. Biasanya dialami oleh orang tua, tapi bisa juga dialami oleh orang dari segala usia, bahkan orang yang masih muda. 

Sayang sekali, saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit Alzheimer, tetapi dapat dicegah atau mengurangi risiko terjadinya penyakit Alzheimer.

Berbagai penelitian di bidang kesehatan menemukan bahwa penyaki Alzheimer atau umumnya dikenal sebagai penyakit pikun dapat dicegah dengan melakukan aktivitas merangsang otak, seperti membaca dan menulis.

Aktivitas membaca dan menulis membantu membangun cadangan kognitif di otak, sehingga  dapat membantu mencegah atau memperlambat potensi hilangnya fungsi otak akibat penuaan.

Sebuah studi yang dimuat dalam Jurnal Neurology, American Academy Neurology menyebutkan bahwa kegiatan menulis dapat melibatkan peran otak dan membantu seseorang terhindar dari gangguan memori, salah satunya penyakit Alzheimer. 

Maka menulislah agar sehat jasmani dan rohani!

Tantangan ngeblog bersama Kumpulan Emak Bloger (KEB) hari ke-5.




#YukNgeblogLagi

#NgeblogAsyikBarengKEB


Makassar, 23 Oktober 2023


Dawiah

Read More

Kalau Bukan Karena Ridanya, Saya Sudah Berhenti Ngeblog

Sunday, October 22, 2023

 Inilah Support System Dalam Menjalani Peran Sebagai Bloger - 

 



Dalam hidup saya ada dua orang paling istimewa yang selalu memberi dukungan untuk semua kegiatan yang saya jalani. Walau terkadang keduanya protes jika melihat saya terlalu sibuk dan fokus sama kegiatan tersebut.

Tahun 2010 adalah awal kebangkitan  saya berhibernasi  dari dunia menulis, bahkan dari membaca. Sangat terlambat sebenarnya karena usia saya sudah tidak muda lagi.

Seandainya waktu bisa diputar dan kehidupan dapat dikembalikan ke masa lalu, maka hobi menulis (dulu lebih popular disebut mengarang)  sejak masih SD tidak akan pernah saya hentikan. Inilah salah satu penyesalan saya. Penyesalan lainnya masih banyak sebenarnya, wkwkwk.

Arragh, penyesalan memang selalu datang di akhir, kalau datang lebih dahulu namanya proposal.

Kalau dipikir-pikir, ada alasan yang sangat kuat yang mendasari sehingga saya tidak menulis waktu itu. Terutama perjuangan saya saat masih sekolah yang terpaksa dijalani sambil bekerja. Kemudian ketika ditempatkan mengajar di pelosok desa tanpa listrik dan akses transportasi yang sulit.

Setelah menikah, semakin tidak bisa menulis karena kesibukan mengajar sambil mengurus anak yang lahir hampir tiap tahun plus kuliah lagi. Masa-masa itu, waktu rasanya tidak cukup hanya 24 jam sehari semalam. 

Setidaknya ada alasan untuk mengurangi sedikit penyesalan. Yap, saya bekerja, kuliah dan mengurus rumah tangga. 

Mengapa tahun 2010?

Ini lain lagi ceritanya, nanti deh saya tulis tersendiri.


Pengertian Suami adalah Bentuk Dukungan


Ketika saya memutuskan kembali menulis, saya terkaget-kaget melihat begitu jauh ketertinggalan saya dalam dunia tulis menulis. Betapa literasi berkembang sangat pesat terutama literasi digital. Waktu itu sudah ada facebook yang memungkinkan saya mengenal banyak teman yang menekuni dunia menulis. Melalui facebook pula kemampuan menulis saya diuji untuk sekadar menulis status.

Tahun itu pula untuk pertama kalinya saya dibuatkan blog oleh teman kuliah S2, Akbar Iskandar. Sayangnya blog pertama itu hilang entah kemana, akibat lupa paswordnya.

Kemudian dibuatkan lagi oleh orang yang sama, dan hilang lagi dengan alasan yang sama.

Tahun 2015 saat musibah datang, saya mengalihkan kesedihan, kekecewaan dan sebagainya dengan menulis. Tulisan itu saya simpan pada menu catatan di facebook. Namun, catatan itu saya sembunyikan karena malu jika dibaca orang lain.

Saya perhatikan, teman-teman dunia maya memiliki tulisan yang bagus-bagus, enak dibaca dan tidak kaku. Sementara tulisan saya sangat sederhana, bahkan ada teman yang bilang kalau tulisan saya tidak layak dibaca, hu..hu..hu…hiks

Saat itulah suami saya menyarankan untuk mencari guru menulis agar tulisan saya tidak malu-maluin, katanya. Maka berbagai training menulis pun saya jabani. Mulai dari menulis artikel, kisah inspiratif, copywriting, cerita anak, hingga menulis novel bagi pemula, serta menulis di blog. 

Mentor menulis saya lumayan banyak, dan dana yang dikeluarkan tidak sedikit. 

Alhamdulillah, Beliau sangat mendukung hingga kini.

Jika beliau melihat saya sibuk di depan laptop pada jam-jam makan siang atau makan malam, dengan sabarnya Beliau ke dapur membuat makanannya sendiri sembari bersiul.


“masak, masak sendiri….. makan, makan sendiri… istri lagi menulis, la..la..la…” 


Saat buku solo pertama saya terbit, dengan bangganya Beliau memamerkan ke keluarganya bahkan ke teman-temannya, bahwa istrinya sudah menerbitkan buku. 

Belakangan Beliau mulai mengerti, bahwa istrinya juga seorang bloger. Itu pun setelah saya jelaskan panjang lebar tentang apa itu blog, apa untungnya punya blog, mengapa menulis di blog, dan sebagainya.

Jika ada job menulis/blog yang mengharuskan saya hadir, dengan sabarnya Beliau mengizinkan saya pergi bahkan ketika Ami, putra keempat yang biasa mengantar kemana-mana berhalangan, maka Beliau yang menggantikan  Ami.

Walaupun akhir-akhir ini Beliau  sering “mengusik” saat melihat saya menulis,  bukan karena  tidak rida, melainkan Beliau mau ditemani berbincang atau sekadar mendengarkan ceritanya yang saya hapal mati. Ceritanya itu-itu saja soalnya, wkwkwk.

Waktu Beliau baru memasuki masa purna bakti, dengan sedikit iri, berkata begini.

“Mama nanti kalau pensiun, enak. Bisa tetap sibuk sebagai bloger sedangkan saya, yaah hanya begini-begini saja. Kalau tidak ke masjid, ya siram tanaman, atau cuci piring yang bertumpuk.”

Pernah pula bertanya, “Ma, adakah uangnya kalau jadi bloger?”

Saya jawab, “kadang ada, tapi lebih sering tidak ada.

Lalu dia berkata, “Jadi bloger maki pale Ma, yang penting senang-ki, kalau dapat maki uang, bagi na… ikhlas ja…” Hahaha. 

(Teruslah jadi bloger, yang penting Mama senang. Kalau dapat uang dari ngeblog, jangan lupa dibagi yah. Saya ikhlas kok).

“Siap Pak! Doakan dapat job terus yah… nanti Mama traktir.” 

Sekalipun dengan embel-embel bayaran, tetapi saya paham bahwa itu hanyalah candaan Beliau. Dan saya meyakini bahwa Beliau rida atas keputusan yang saya ambil, yaitu menulis dan ngeblog.


Sang Pendukung Itu Telah Pergi Selamanya


Akhir September tahun ini, sang pendukung keduaku telah pergi selamanya, meninggalkan semangat membara untuk saya, agar terus berkarya. 

Beliau adalah mama saya yang selalu senyum semringah setiap kali saya mengabarkan kalau tulisan saya sudah terbit di blog, padahal Beliau tidak pernah sekalipun melihat blog saya, bahkan apa itu blog, Beliau tidak mengerti.

Senang sekali rasanya mengabarkan semua kegiatan saya kepada Beliau. Terutama kabar tentang kepenulisan. 

“Mama, terbit lagi bukuku, tapi buku borongan.”  Suatu hari saya mengabari perihal buku itu.

Lalu Beliau bertanya, “buku apa itu? Kamu dibayar atau itu bukumu bisa jadi uang?”

Ahaa…. Mamaku setali tiga uang dengan menantunya, suamiku, hahahaha.

“Yaaah, pasti bisa jadi uang karena bukunya dijual.

Beliau terkekeh lalu berkata, “ma’tulisi tuttuno pale namulle to mancaji tau sugi.”

(Kalau begitu kamu terus menulis agar bisa jadi orang kaya) hahaha.

Begitulah mamaku. Dalam pandangannya, setiap karya penulis atau bloger pasti dihargai dengan uang.

Suatu hari saya mendapatkan kiriman paket yang isinya produk Scarlett.  Dengan senangnya, saya memamerkan kepada Beliau.

“Mama, saya dapat ini dari Scarlett untuk saya review di blog.”

“Wah, ada lagi peralatan kecantikanmu. Berkat menulis di blog itu yah?”

“Iya Mama. Alhamdulillah.”

“Perbaiki tulisanmu, supaya yang kasi produk tidak kecewa.”

Pernah pula mama memamerkan ke saudaranya tentang kesibukan saya menulis saat saudaranya itu bertanya, apa saja kesibukan saya?

Dengan bangganya Beliau menjawab.

“Selain guru, Dawiah itu penulis. Selalu dapat pekerjaan, dapat paket bahkan dapat uang dari menulis.”

Ketika kami menunaikan ibadah umroh, ia menjelaskan panjang lebar kepada teman jamaah umroh, bahwa saya adalah anak sulungnya adalah guru dan penulis. Tidak apa-apa tidak disebut bloger, karena bagi Beliau bloger itu adalah penulis. 

Akhirnya pendukung keduaku dan cinta tertinggiku telah pergi memenuhi panggilan Ilahi. Beliau yang selalu mendukung semua kegiatan baik, yang saya lakukan. Kebanggaannya juga kepercayaannya terhadap apa yang saya tekuni adalah bentuk dukungan yang tidak terkira nilainya. 

Jasadnya telah terkubur, tetapi jejak-jejak dukungannya akan selalu terpatri dalam sanubari ini. Semoga mama mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah Subhanahu wataala. Al Fatihah buatmu mamaku tersayang.

Sebagai penutup, saya katakan bahwa, saya bisa terus bersemangat menulis ataupun ngeblog hingga nanti itu adalah berkat rida dari keduanya, suami dan mama. 

Terima kasih atas dukungan kalian dan mohon maaf jika karena saya fokus menulis, kadang kalian terabaikan. 






#YukNgeblogLagi
#NgeblogAsyikBarengKEB


Makassar, 22 Oktober 2023


Dawiah

Read More