Mari Memetik Hikmah Di Balik Kematian Emmeril Khan Mumtadz

Thursday, June 16, 2022




 

Akhir Mei 2022, kita dikejutkan oleh berita hanyutnya Emmeril Khan Mumtadz putra dari Bapak Ridwan Kamil di sungai Aare kota Bern Swiss.

 

Lalu, media ramai memberitakannya disusul banyaknya postingan dari warganet di semua platform media sosial.

Saya menahan diri, tepatnya menahan jemari untuk tidak ikut menulis apa pun tentang beliau. Cukuplah saya melafalkan doa buat Eril agar husnul khotimah dan semua keluarganya diberi kesabaran dan ketabahan.

 

Mengapa Tidak Ikutan Menulis?

 

Saya tidak ikutan menuliskan apa pun tentang beliau, karena saya punya alasan tersendiri.

 

Pertama, saya tidak tahu mau menulis apa tentang beliau. Lah, saya tahunya Kang Emil (maaf ya, saya ikut-ikutan nulis nama beliau dengan “Kang Emil”) punya anak yang bernama Eril setelah terjadinya musibah itu.

 

Kedua, saya tidak sanggup menahan kesedihan. Yang namanya ditinggal oleh anak untuk selamanya pasti sangat menyedihkan, bagaimanapun caranya pergi dan di mana pun ia bersemayam.  

 

Dua alasan itu saja membuat saya tak sanggup menuliskan tentang beliau. Jiwaku terlalu rapuh untuk sebuah kepergiaan.

Namun, diam-diam saya mengikuti beritanya melalui media sosial Kang Emil. Dan, diam-diam pula saya mengusap air mata sembari mendoakan beliau sekeluarga.

 

Perlahan rasa cemburu menyelusup ke dalam jiwa yang rapuh ini. Cemburu akan indahnya kepergian Eril yang ditangisi oleh berjuta rakyat Indonesia serta doa-doa yang melangit untuk kebahagiaannya di alam keabadiaan. 

 

Betul, Eril meninggal di usia muda, tetapi insyaallah keberadaannya di dunia yang singkat itu tak seringkas amalannya.

Karena selepas kepergiannya, bermunculanlah orang-orang yang menjadi saksi akan kebaikannya, ketulusannya dan semua hal-hal baik yang telah ia lakukanlah. 

Masyaallah!


 

Akhirnya Menulis Tentang Kepergian Emmeril Khan Mumtadz


 

Akhirnya saya menulis tentang Eril. Kenapa? 

Ini semua gara-gara tantangan yang diberikan oleh ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) Makassar.

 

Setelah acara kopdar yang tidak sempat saya hadiri kemarin, Mugniar sang ketua IIDN wilayah Makassar menyampaikan, bahwa akan ada tantangan ngeblog 10 pekan dengan mengikuti ketentuan-ketentuan tertentu, seperti, peserta adalah anggota IIDN Makassar, berkomitmen menulis sebanyak 1 tulisan di blog setiap pekan selama 10 pekan berturut-turut. 

Ketentuan lainnya bisa dilihat di media sosial IIDN Makassar dan IIDN pusat.

 

Selain ketentuan-ketentuan tersebut, ada pula topik tulisan tertentu yang diberikan setiap pekannya. Nah, topik pertama di pekan pertama adalah hikmah tentang kematian putra Bapak Ridwan Kamil.

 

Dalam hati saya, wah, IIDN Makassar jeli juga melihat topik yang lagi ramai diperbincangkan oleh rakyat Indonesia terutama oleh netizen Indonesia. 

Terpaksa deh saya menulis tentang beliau. Namanya juga tantangan, haruslah ditaklukkan. Iya kan?


 

Rahasia Kehidupan; Datang Belakangan Pulang Lebih Duluan


 

Setelah jasad Eril ditemukan hingga dikebumikan, berita tentangnya menaburkan banyak sekali hikmah yang bisa kita petik.

Tentang keikhlasan, kepasrahan, dan ujian keimanan. Bukan saja buat kang Emil, tetapi buat saya dan seluruh orang yang mengikuti beritanya.

 

Bukan sekadar turut berduka cita atau menyaksikan betapa besar ujian yang diberikan kepada keluarga beliau, tetapi bagaimana kita belajar akan keindahan akhlak kang Emil sekeluarga.

 

Kekaguman saya semakin bertambah manakala  tanpa sengaja saya menemukan potongan video Kang Emil di Instagram. 

Pada potongan video itu, beliau berkata,

 

“Seharusnya siapa yang datang duluan dia perginya duluan. Siapa yang datangnya belakangan harusnya pulangnya juga belakangan, tetapi rahasia kehidupan tidak matematik. Ini adalah contohnya, anak saya datang belakangan, tetapi berpulangnya terlebih dahulu.” (Ridwan Kamil).

Masyaallah!

 

Ini adalah puncak keikhlasan Kang Emil sekaligus memaksa kita untuk memetik hikmah atas apa yang terjadi.

Bahwa, sekuat apa pun manusia berjuang mempertahankan diri, jika tiba waktunya dipanggil, maka kematian adalah pasti.

 

Siapa yang tidak mengenal Bapak Ridwan Kamil, terutama di tempatnya berkuasa, tetapi di negeri orang lain, Kang Emil bukan siapa-siapa sehingga hanya bisa pasrah dan mengikuti prosedur pencarian anaknya kepada pemerintah setempat.

 

Coba bayangkan, seandainya peristiwa itu terjadi di Indonesia apalagi jika itu terjadi di daerah kekuasaannya, maka pastilah beliau akan mengerahkan segala daya dan upaya untuk mencari anaknya hingga ditemukan dalam waktu singkat.

 

Namun, Allah Swt sekali lagi memperlihatkan kekuasaan-Nya kepada kita, maka wajar saja jika Bapak Ridwan Kamil menyebutkan kalau kehilangan putra sulungya di negeri orang merupakan semacam ujian kekuasaan pula buat beliau.

 

Apa pun itu, takdir Eril sudah ditentukan sejak rohnya berada di Lauhul Mahfuz. Kita yang masih berada di tempat yang fana ini masih harus berjuang agar kita bisa berakhir dalam kebaikan, bagaimanapun bentuk kematian kita.

 

Eril sudah menyelesaikan amanahnya dengan baik, Insyaallah syahid, sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadist tentang beberapa tanda-tanda kematian yang syahid.

 

“Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Orang yang mati syahid ada lima macam, yaitu orang yang kena tha’un (wabah), orang yang mati karena sakit perut, korban tenggelam, korban yang tertiban reruntuhan dan orang syahid di jalan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim).

 

Sedangkan kita belum tahu, bagaimana bentuk kematian kita kelak, apakah syahid atau tidak? Apakah husnul khotimah (wafat dalam keadaan baik)  atau su’ul khotimah (wafat dalam keadaan buruk).

 

Yang jelas kematian itu pasti dan tidak akan mungkin ditunda walau sesaat.

 

“Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Munafiqun: 11).

 

Tugas kita hanyalah berjuang melakukan hal terbaik dan mencegah diri melakukan hal buruk agar kelak saat ajal tiba, kita wafat dalam keadaan baik. 

Amin ya rabbal alamin.


Makassar, 16 Juni 2020

Wassalam


Dawiah

 

Read More

Siapkan Diri Menyongsong Masa Tua

Sunday, June 5, 2022

 


Jadi tua pasti, merasa bahagia pilihan; sudah siapkah menyongsong masa tua?

Sebenarnya ukuran  lanjut usia (lansia) itu kapan?

Soalnya usia saya sekarang sudah banyak, tetapi belum merasa termasuk kategori lansia deh, wkwkwk.

Baiklah, mari kita lihat klasifikasi lansia menurut WHO. 

 





Klasifikasi lansia itu dibagi menjadi lima tingkatan (WHO,2013) yakni:


  • Usia pertengahan atau paruh baya atau middle age berada di antara usia 45 hingga 54 tahun
  • Lansia atau tua atau elderly, yaitu kelompok usia 55-65 tahun
  • Lansia muda atau young old (ini, saya tidak mengerti maksudnya. Lansia kok muda, hihihi) ini berada di antara usia 66-74 tahun.
  • Lansia tua (old) adalah kelompok usia 75 hingga 90 tahun.
  • Lansia sangat tua (very old) adalah kelompok usia lebih dari 90 tahun

 

Melihat klasifikasi di atas, ternyata saya sudah masuk kelompok eldery (tebak sendiri usia saya). Wuih,  jadi bangga rasanya. Sudah lansia begini, tetapi masih keren, bhahaha.

 

Semakin Tua Semakin Lemah

 

Menjadi tua itu adalah sunnatullah, sesuatu yang pasti dan tidak bisa kita tolak. 

Namun, apakah setelah tua menjadi semakin rapuh dan lemah? Semua tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya.


Soal fisik yang melemah karena  tua, itu sudah pasti. Ibarat daun yang sudah menguning akan gugur pada waktunya. 

Setelah berada di usia 50-an ke atas, maka organ-organ dalam tubuh mulai lelah bekerja, semoga saja mereka tidak unjuk rasa sebelum waktunya. 

 

Mari kita coba ulik organ apa saja yang melemah fungsinya setelah memasuki usia 50-an.

 

Organ Pencernaan

 

Sekalipun organ ini tidak terlalu terpengaruh oleh penuaan bagi kebanyakan orang yang sehat, tetapi ada bagian organ pencernaan yang paling kelihatan perubahannya, yaitu gigi dan indra pengecap.


Saat kita tua, kekuatan gigi semakin berkurang dan indra pengecap pun demikian. 

Organ hati cenderung menjadi lebih kecil akibatnya kemampuan hati menyaring racun dan zat-zat lainnya berkurang.

Dalam usus besar, makanan lebih lambat tercerna sehingga pada sebagian orang yang sudah tua akan lebih sering mengalami sembelit.

 

“Jadi, jangan heran kalau mendengar keluhan orang tua kita yang sepuh selalu mengalami susah buang air besar atau  sembelit.”

 

Ginjal dan Saluran Kemih

 

Jangankan usia 50 tahun, saat menjelang usia 40 tahun saja, ukuran ginjal berangsur-angsur mengecil karena jumlah sel menurun. Selain itu, saluran kemih pun mengalami perubahan yang cukup signifikan saat usia sudah 50 tahun ke atas, seperti:


Volume maksimal urin yang dapat ditahan kandung kemih mengalami penurunan, otot-otot kandung kemih menjadi terlalu aktif, otot-otot yang mengontrol pengeluaran urin keluar dari tubuh tidak dapat menutup rapat dan bagi laki-laki kelenjar prostat cenderung membesar.

 

“Pantas tetangga saya sudah tidak mampu lagi menahan kencing lebih dari 15 menit. Kalau dipaksakan, bisa kencing di celana dia.” Eh, itu tetangga saya atau siapa …. Hahaha.

 

Organ Reproduksi

 

Pengaruh penuaan pada organ reproduksi paling jelas terlihat pada perempuan dibandingkan pada laki-laki. 

Pada perempuan, ovarium dan uterusnya akan menyusut seiring dengan pertambahan usianya. Jaringan vaginanya menipis, kering dan kurang elastis.

 

Lah iya, perempuan mengalami masa menopause sedangkan laki-laki tidak. Maka jangan heran, seorang kakek berusia 70 tahun bisa dikaruniai anak selama pasangan halalnya masih usia produktif.

 

Tiga organ itu saja dahulu yang kita bahas, takutnya kalian tidak bisa meneruskan bacanya, keburu takut tua. LOL.

 

 

 

Lakukan Aktivitas yang Membahagiakan

 

 

Bukankah menjadi tua itu anugerah dari Ilahi? 

Orang yang sudah tua pasti telah mengalami masa muda sedangkan yang masih muda belum tentu mengalami masa tua.


Kalimat itu bisa dijadikan penghibur diri sekaligus alasan kita bersyukur.

Banyak cara yang bisa dilakukan dalam mengisi hari-hari tua kita, apalagi kalau masih berada di level elderly sampai level young old.


Lakukanlah aktivitas yang membahagiakan, seperti berikut ini.

 

Olahraga

 

Salah satu aktivitas fisik yang cukup penting bagi lansia adalah berolahraga. Jenis olahraganya yang ringan-ringan saja, seperti jalan kaki, berenang atau senam khusus lansia.

 

Membuat Kerajinan Tangan

 

Jangan dibilang merajut itu pekerjaan nini-nini saja yah…, karena sebelum mereka menjadi tua tentunya sudah belajar merajut sejak muda. Nah, kegiatan merajut bisa menjadi alternatif kegiatan di masa tua. Bisa juga menggambar, melukis atau kerajinan tangan lainnya.

 

Berkebun


Kegiatan ini cukup sederhana dan menjadi alternatif kegiatan di masa tua. Menanam, menyiram, menyiangi tanaman pengganggu dan membersihkan sampah di sekitar tanaman adalah aktivitas fisik yang menyehatkan karena bisa memenuhi kebutuhan vitamin D yang berasal dari sinar matahari.

 

 

Memasak


Bagi pencinta kuliner dan hobi memasak, maka kegiatan ini bisa terus dilakukan. Selain untuk berkreasi dan memenuhi gizinya, kegiatan ini juga menyenangkan.

 


Bermain Musik


Bagi lansia yang bisa bermain musik, hari-hari lowongnya bisa diisi dengan memainkan alat musik.

Konon di negara-negara luar, bermain musik dan menari adalah kegiatan rutin yang dilakukan para lansia. Kabarnya, kegiatan ini jika dilakukan dengan gembira sambil bercengkerama dengan teman-temannya dapat mencegah penyakit demensia dan Parkinson.


 

Memelihara Hewan


Bagi  pencinta hewan,  kegiatan memelihara hewan bisa menjadi alternatif aktivitas bagi lansia.  Selain sebagai sarana menyalurkan hobi, memelihara hewan bisa juga menjadi sumber penghasilan.

 

 

Berorganisasi


 

Aktif di organisasi, baik itu organisasi kemasyarakatan maupun organisasi keagamaan bisa mengatasi perasaan tidak berguna atau perasaan tidak dibutuhkan. Terutama jika ikut menjadi relawan, seperti menggalang dana pada suatu kegiatan atau penggalangan dana bagi yang terkena dampak bencana.


 

Membaca dan Menulis


 

Membaca di klub buku atau di rumah sendiri merupakan kegiatan yang ringan, mudah dan menyenangkan. Selain membaca, menulis juga bisa menjadi pilihan. 

Sekalipun membaca dan menulis suatu kegiatan yang terpisah, tetapi bisa seiring dan sejalan.


Manfaat membaca selain dapat meningkatkan pengetahuan, merangsang daya pikir, meningkatkan imajinasi dan meningkatkan konsentrasi serta mengurangi stres, kabarnya dapat pula terhindar dari risiko penyaklit Alzheimer.

 

Demikian pula menulis, manfaatnya sama dengan membaca. Manfaat lain dari pada menulis adalah bisa mencurahkan unek-unek melalui tulisan, sehingga tidak menimbulkan kegalauan yang berkepanjangan sehingga mengakibatkan stres. 


 

Sudah Siapkah Menyongsong Masa Tua?


 

Siap tidak siap jika kita diberi usia yang panjang oleh Allah Swt, maka harus diterima dan disyukuri.  Jangan galau, apalagi kalau masih sehat karena  banyak hal yang bisa dilakukan, seperti yang diuraikan di atas.


Kuncinya adalah harus bahagia, seburuk apapun fisik yang dialami. Tubuh boleh melemah, tetapi jiwa dan ruhani harus semakin dikuatkan.

 

Menurut Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah, kunci lansia bahagia adalah husnudzon (positif thinking)kepada orang lain. Tidak hasad dan  dengki serta selalu lemah lembut. 


Hasad adalah penyakit yang menyerang ruhani yang mengakibatkan pada jiwa yang tidak tenang. Apabila jiwa tidak tenang maka dampaknya pada jasad yang bisa menimbulkan berbagai penyakit pada fisik.

 

Sumber gambar: Instagram Aisyiyah Pusat


 

Yuk, kita songsong masa tua dengan bahagia, karena menjadi tua itu pasti sedangkan menjadi bahagia adalah pilihan.


Makassar, 5 Juni 2022

Wassalam


Dawiah



 

 

Read More

Drama Hari Senin

Friday, June 3, 2022


 

 

I don't like Mondays
(Tell me why)
I don't like Mondays
(Tell me why)

 


Ada apa dengan hari Senin?

Mengapa ada yang tidak suka dengan hari Senin?

Bukankah hari Senin itu adalah awal kita bekerja dan berkegiatan? Bagi pekerja kantoran, hari Senin harusnya disambut dengan semangat membara.

Pun bagi ibu rumah tangga, terutama  yang memiliki anak sekolah, maka hari Senin pastilah hari yang sangat sibuk.

 

Drama Hari Senin di Rumahku

 

Sebagai guru yang masih aktif sampai hari ini, hari Senin bagi saya dan suami adalah hari penuh semangat dan menggembirakan.

Hari di mana kami akan bersegera ke sekolah karena ada upacara penaikan bendera yang disusul dengan pengarahan singkat oleh kepala sekolah, sekaligus waktu untuk bertemu dengan semua personil sekolah.

 

Upacara penaikan bendera bukan sekadar rutinitas setiap hari Senin ataupun seremonial penghormatan kepada bendera merah putih semata, melainkan ada proses pembelajaran di situ, seperti, pembelajaran kedisipilinan, kebangsaan dan sarana membangkitkan jiwa patriotisme.

 

Berbeda dengan kegiatan saya di sekolah setiap hari Senin, di rumah kami, hari Senin adalah hari "gajian Minggu-an” untuk anak-anak saya.

Istilah itu disematkan oleh anak-anak, karena hanya sekali sepekanlah  mereka mendapatkan uang jajannya.

 

Saya membiasakan memberi uang jajan sekali sepekan sebagai cara mendidik mereka dalam mengelola keuangan. 

Hanya sekali sepekan menerima uang jajan dan selama sepekan itu, tidak ada uang jajan tambahankecuali jika tiba-tiba ada temannya yang kena musibah dan mereka menyumbang buat yang kena musibah maka barulah ada uang tambahan untuk mengganti uang yang telah disumbangkan.

 

Pernah mencoba memberi uang jajan pada malam Senin dengan harapan esoknya bisa mengerjakan hal lain.

 

Ternyata gagal. 

Uang yang sedianya akan dipergunakan selama sepekan, ludes hanya dalam waktu semalam.  Alasannya sungguh klasik. 


Dipakai belanja makanan karena kelaparan malam-malam.

Heuuu, makanya waktu pemberian uang jajan kembali ke jadwal  semula, yaitu setiap hari Senin pagi.

 

Selain hari gajian buat anak-anak. Hari Senin juga adalah hari drama perebutan kaus kaki.

 

Entah kenapa kaus kaki yang bersih selalu menghilang di pagi hari, terutama pada hari Senin padahal malamnya kaus kaki itu sudah saya simpan di lemari sepatu dengan jumlah yang pas, empat pasang dengan ukuran yang berbeda-beda.

 

Untuk si putra sulung, kedua dan ketiga tidak masalah jika kaus kaki mereka tertukar karena ukuran kakinya relatif sama.  Berbeda halnya jika itu terjadi pada putra keempat, sebab di antara keempatnya dialah yang memiliki ukuran kaki paling kecil.

 

Anehnya, justru dialah yang paling sering kehilangan kaus kaki. Maka jadilah ia memakai kaus kaki kebesaran dengan bantuan karet gelang untuk menjaga agar kaus kakinya tidak melorot.

 

Mungkin itu pula sebabnya, suami saya mengganti kaus kakinya dengan kaus kaki loreng-loreng.

Sebab dulu, saat masih memakai kaus kaki warna putih atau hitam maka nasibnya akan sama dengan putra keempat, wkwkwk.

 

Siapakah yang sering memakai kaus kaki si putra keempat? 

Sampai saat ini misteri itu belum terungkap. Padahal mereka sudah tidak berebutan kau kaki lagi, hahaha.

 

Drama lainnya di hari Senin adalah pembagian sarapan nasi kuning yang dicampur dengan nasi putih. Berhubung karena pada hari Senin ada upacara penaikan bendera di sekolah, maka  saya harus cepat-cepat menyiapkan segala sesuatunya dan yang tidak bisa saya lakukan adalah membuatkan sarapan. 

Maka solusinya adalah membeli nasi kuning. Beli empat bungkus lalu dicampur dengan nasi putih supaya jumlahnya banyak. 

 

Dramanya di mana?


Kalau tidak sempat dibagikan di piring masing-masing, maka ada saja anak yang hanya kebagian nasi putih dengan lauk sedikit.  Siapa yang terakhir maju ke meja makan, maka dialah korbannya, hahaha.

 

Ah, rasanya masih ingin mengulang kenangan itu, hiks.

Bagi-bagi uang jajan setiap hari Senin pagi, mengatur kaus kaki mereka agar tidak tertukar satu sama lain, membagikan sarapan nasi kuning yang dicampur nasi putih di atas piring masing-masing, dan masih banyak lagi.

 

Sebagai penutup dari tulisan tentang hari Senin sebagai Tantangan Tema Menulis (TTM) KLIP pekan ini, saya menitipkan pesan.

 

Jika saat ini anak kalian masih kecil atau masih usia sekolah maka nikmatilah kebersamaan itu. Jangan mengeluh apalagi menghardik apabila terjadi drama, sebab kelak, keadaan itu akan menjadi kenangan indah yang mempererat kekeluargaan kalian.

 

"Sejauh apapun anak-anak pergi, rumah kenangan masa kecil akan selalu memanggilnya pulang." Dawiah.

 

Makassar, 3 Juni 2022

Wassalam.

Dawiah

Read More

Wahai Diri, Waktumu Tak Banyak Lagi

Wednesday, June 1, 2022



 

Hari ini rapor KLIP sudah keluar dan hasil yang saya peroleh cukup memuaskan. Setidaknya saya bisa mempertahankan badge excellent dengan jumlah setoran tulisan sebanyak 20, total jumlah kata 15517 dan rata-rata kata persetoran 776 kata. 


Alhamdulillah. Saya bersyukur sudah berhasil hingga sejauh ini, sekalipun belum memenuhi target yang saya canangkan dan belum juga menulis tema yang sama untuk setiap setoran tulisan.

 

Namun, di balik rasa senang itu saya mendapatkan kabar yang bikin hati saya  campur aduk. Yah, sedih, terharu, bangga dan bikin  jleb juga. 

Soal kenapa hati serasa jleb, teruskan baca tulisan ini, nanti juga tahu alasannya.

 

Adalah Mbak Rijo Tobing salah seorang penulis paling produktif di KLIP mengundurkan diri dari KLIP. Melalui postingannya, beliau menganalogikan bahwa selama di KLIP ia ibarat seorang pelajar yang masih duduk di bangku sekolah dan masih dalam pengawasan orangtuanya.


Makan, minum dan belajarnya masih diatur dan diawasi oleh orang tua.  Lalu, saat beliau memutuskan keluar dari KLIP, ia merasa sudah siap mandiri. Ibarat mahasiswa yang pergi merantau demi pendidikan sehingga harus mengatur sendiri jadwalnya.

 

Sampai di sini, hati saya mulai merasa gimanaaaa gitu …

Saya yang sok mengaku sebagai penulis, mesti diingatkan dan diawasi oleh KLIP baru mau memaksakan diri menulis.


Kalau bukan karena diingatkan oleh teman-teman di KLIP melalui setorannya, terutama Mbak Rijo yang tak pernah absen menyetorkan tulisannya setiap hari, barangkali saya tidak terpicu menulis juga.


Penulis yang tidak menulis layak disebut sebagai apa? Itu kata Mbak Rijo. Beliau berkata lagi, 


“saya harus menulis tak peduli ekosistem dan sistemnnya ada atau tidak ada dan tanpa iming-iming badge.”

 

Hello! 

Apa kabar diriku?

Masih mengejar badge, masih menunggu feeling good karena lebih banyak bad mood nya. 


Masih suka keasyikan scroll-scroll media sosial apalagi kalau lagi tak ada ide. Menulis hanya karena tak ingin terlempar dari grup, menulis hanya karena melihat teman-teman komunitas yang ramai-ramai ngelist, dan sebagainya. 

Nah inilah yang bikin hati saya JLEB.

 

Padahal sesungguhnya, saat ini saya sedang kejar-kejaran dengan waktu. Sebelum masa pensiun tiba, saya sudah harus memiliki habits menulis tanpa iming-iming apapun, seperti yang dilakukan Mbak Rijo sekarang.

 

Sebelum masa lansia menyapa, itupun kalau umur saya panjang, saya sudah harus memiliki karya sebagai prestasi yang akan dikenang oleh anak cucu saya.

 

Lah, bagaimana bisa tercipta suatu karya jika masih santai kayak di pantai. 

Masih sering mengulur-ulur waktu sekalipun ide sudah berdesakan di kepala, lebih sering terabaikan karena malah asyik ngobrol baik ngobrol di dunia maya maupun di dunia nyata.

 

Wahai diri!

Kamu sudah berada di lingkungan orang-orang dengan frekuensi yang sama, sudah bergabung di berbagai komunitas menulis dan lingkaran pertemananmu 80% adalah penulis, maka belajarlah dari mereka.

 

Tak perlulah jauh-jauh belajar kepada Tere Liye yang sangat produktif dengan novel yang selalu  best seller atau meneladani Dee Lestari dengan karya fenomenalnya. 

Itu terlalu tinggi impianmu.

 

Cukuplah mempelajari dan mencontoh  konsistensi menulisnya Mbak Rijo Tobing yang menulis tak pernah kurang dari 1000 kata perhari. 

Ada pula Lendyagassi, peserta KLIP juga yang bulan ini menulis dengan jumlah kata 1500-an perhari.


Atau lihatlah Mugniar, bloger Makassar yang hampir setiap hari menulis di blog seakan tak pernah kehabisan ide. 

 

Baiklah, dengan mengucapkan bismillah dan dengan restu mama papa, eh.


Malam ini saya sambut bulan Juni dengan niat yang tulus dan sungguh-sungguh untuk terus menulis dan meng- upgrade ilmu menulis  juga memanajemen waktu agar lebih produktif.

 

Ingat, waktumu tak banyak lagi, maka gunakanlah waktu itu dengan sebaik-baiknya. Korbankan waktu santaimu, kurangi waktu tidur-tiduranmu, hilangkan rasa malasmu demi keberhasilan yang dicita-citakan.

 

“Barang siapa yang mengejar keberhasilan tanpa mau berkorban, maka ia telah menghabiskan umurnya untuk mengejar kemustahilan.” (Ustaz Muhammad Nuzul Dzikri).


Makassar, 1 Juni 2022

Dawiah 

Read More