HIDAYAH

Friday, July 3, 2020

Fiksi Hidayah

Salsabila mengumpulkan keberaniannya, saat melewati hutan itu. Menurut cerita penduduk, di dalam hutan itu sering terdengar suara tangisan yang menyayat atau suara lolongan anjing yang panjang. Biasa pula terdengar suara sesenggukan yang ngilu. Tetapi Salsabila harus melewatinya karena itulah jalan satu-satunya menuju rumahnya.

Hutan rimbun dengan pohon-pohon besar menjulang. Di pinggir hutan terdapat pohon trembesi yang sangat subur berjejer-jejer di sepanjang jalan, terasa sejuk kala siang hari. Namun, terasa seram di malam hari. Daun-daunnya yang melambai menimbulkan suara berdesir-desir diterpa angin, menambah suramnya malam pekat yang mencekam.

Salsabila mempercepat langkahnya, andai tidak membawa jinjingan ditambah beban berat dipunggungnya, Salsabila pasti sudah berlari kencang demi melewati pinggir hutan ini.

Astagfirullah,  apa yang kupikirkan? Bukankah guru mengajiku   sudah mengajarkan cara melawan rasa takut.  Salsabila menyesali dirinya.

Sejurus kemudian, mulutnya mulai komat-kamit, surah al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas bergantian dibacanya. Semakin mendekati ujung jalan, mulutnya semakin gencar komat-kamit dan anehnya dadanya juga semakin berdegup kencang. Ketakutannya semakin paripurna, karena di ujung jalan itulah, kelamnya malam semakin terasa. Sangat gelap dan sunyi hanya sesekali terdengar suara desiran angin yang menyapu telinganya.

Tiba-tiba Salsabila tersungkur seakan ada yang mendorong tubuhnya. Belum sempat ia bangun,  ia merasa ada sesuatu yang mengangkat tubuhnya, mulutnya terkatup, matanya nanar mencari bentuk yang mengangkat tubuhnya. Ia dibopong, setengah sadar ia merasa terbang melayang dalam pelukan makhluk aneh, yang tingginya melebihi tinggi pohon trembesi. Anehnya ia merasa nyaman dalam dekapan makhluk itu hingga tertidur pulas.

Saat Salsabila terjaga, ia mendapati dirinya terbaring di atas kasur yang empuk dalam kamar luas nan sejuk. Seakan ia berada di bawah pohon trembesi yang rindang padahal ia berada di dalam kamar.

“Assalamu alaikum  Salsabila” Tiba-tiba terdengar suara mendesah seiring dengan terkuaknya pintu kamar. Salsabila kaget lalu mengarahkan pandangannya ke arah pintu. Seorang wanita setengah baya berdiri di sana, tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

“Waalaikumsalam.” Salsabila membalas dengan ragu.

“Aku di mana, siapa kamu?” Pertanyaan Salsabila beruntun membuat wanita itu tertawa halus, memamerkan gigi putihnya.

“Kamu ada di negeriku, jangan khawatir, di sini aman dan kupastikan kamu akan merasa nyaman.” Hibur wanita itu sambil berjalan ke arah Salsabila. Dia menjulurkan tangannya, serupa orang yang ingin bersalaman.

“Perkenalkan saya Mangasih, ibu dari pemuda yang membawamu kemari.” Wanita yang bernama Mangasih itu menyentuh tangan Salsabila. Serasa berdesir darah Salsabila merasakan sentuhan Mangasih, tangannya sangat dingin hingga Salsabila  merasakan jemarinya ikut dingin begitu dinginnya hingga Salsabila merasa hampir menggigil.

“Bangunlah kemudian mandi agar badanmu segar, kamu tidur cukup lama Nak.” Kata Mangasih sambil menyerahkan selembar kain, seperti  handuk tetapi motifnya lebih mirip motif batik. Salsabila menerima kain itu, ia mencium aroma kamboja. Tanpa berkata-kata, Salsabila menuju kamar mandi dan mengguyurkan badannya dengan air yang terpancar dari sebuah bilah bambu.

Aneh, badannya terasa hangat. Padahal jika mengamati air yang memancar dari bilah bambu itu seakan airnya berasal dari lereng gunung. Salsabila sepertinya mengenal bentuk kamar mandi itu, ia merasa tidak asing dan sangat mengenalnya, tetapi ia belum dapat mengingatnya.

Tok..tok..tok.. terdengar ketukan halus pada pintu kamar mandi, “Salsabila, apakah kamu sudah selesai? Suara Mangasih menghalau ingatannya.

“Iya sebentar Bu.” Salsabila sedikit berteriak agar suaranya tidak tenggelam oleh suara gemercik air dari pancuran. Sejurus kemudian, Salsabila keluar dengan balutan kain di badannya. Rautnya terlihat segar sehingga warna kulitnya yang putih semakin menyilaukan mata.

“Kamu pakai baju itu yah, kami tunggu di luar. Makanan sudah disiapkan.” Kata Mangasih sembari meletakkan baju di atas ranjang.


Salsabila mengambil baju itu lalu memakainya, sejenak ia tertegun. Baju itu seperti miliknya sendiri. Warnanya merah jambu, lembut dengan sedikit rumbai-rumbai di ujung lengannya. Jilbab yang disediakan serupa warna bajunya. Agak kebesaran di bagian dagunya sehingga Salsabila mencari jarum pentul untuk disematkan pada jilbab di bagian dagunya. Sejenak dia menatap dirinya sendiri di depan cermin yang berukuran besar, setidaknya lebih besar dari badannya sendiri.

Salsabila melangkah ke luar kamar dengan sedikit ragu. Dia melihat di ruang tengah terdapat meja sedikit lonjong yang dikelilingi kursi-kursi dengan sandaran yang tinggi. Beberapa orang duduk di sana, serempak mereka mengarahkan pandangannya ke arah Salsabila, termasuk Mangasih

Di bagian meja paling ujung, duduklah seorang laki-laki, hidungnya bangir dengan dagu sedikit terbelah, raut mukanya bersih. Laki-laki itu tersenyum, sangat manis sambil menganggukkan kepalanya.

“Duduk di sini Sabila.” Berdesir darah Salsabila demi mendengar namanya disebut seperti itu, hanya keluarga dekatnya yang biasa memanggilnya dengan sebutan itu. Mangasih menunjukkan kursi untuknya, tepat di samping pemuda  itu.

“Aku lagi puasa, apakah sekarang sudah waktunya berbuka?” Tiba-tiba Salsabila teringat tentang puasanya hari itu.

“He-he-he  kamu tertidur lama hingga tidak sadar kalau sekarang ini waktunya sahur.” Pemuda itu menjawab.

“Ayu makan Nak, kemudian kita salat subuh di masjid.” Laki-laki tua berjenggot itu menganggukan kepala. Walaupun wajahnya dipenuhi janggut dan cambang dengan alis tebal juga sudah beruban, tetapi keseluruhan mukanya sangat bersih. Sorot matanya tajam menyiratkan ketegasan namun terasa diri dilindungi kala menatap matanya.

Salsabila duduk dengan sedikit ragu. Dia masih belum mengerti, dia berada di mana, siapa orang-orang ini? Mangasih memperkenalkan satu persatu orang-orang yang ada di sekeliling meja makan. Laki-laki tua berjenggot itu adalah ayah Mangasih, laki-laki dengan tubuh tegap, memakai baju koko warna biru muda itu adalah suami Mangasih dan pemuda ganteng yang selalu curi-curi pandang itu adalah anaknya.

Ada pula seorang perempuan yang hampir seumuran Salsabila memakai jilbab panjang dengan mata kuyu bernama Rosanna dan laki-laki yang paling kecil memakai baju koko warna putih  bernama Hafidz, keduanya adalah tamu seperti dirinya.

Saat mereka menuju masjid, Salsabila mendekati perempuan bermata kuyu itu, ia merasa perempuan itulah yang seharusnya dia dekati untuk mengorek informasi tentang keadaan yang tidak dia mengerti ini.

“Assalamu alaikum..” Salsabila menyapa wanita itu sambil menggapit tangannya.

“Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.” Salsabila sedikit tersentak mendengar suara wanita itu, terdengar sangat jauh namun cukup jelas. Suara itu bagaikan berasal dari dalam kuburan, sayup tetapi jelas terdengar.

“Perkenalkan saya Salsabila, namamu siapa?” Salsabila menepis perasaannya.

“Namaku Rosanna, ternyata kamu belum mengenalku.” Jawabnya dengan sedikit senyum.

“Oh yah, kita pernah berkenalan?” Tanpa sadar Salsabila menjawab dengan suara keras.

“Iya, nanti aku cerita yah, sekarang waktunya kita salat subuh.” Wanita yang bernama Rosanna itu menarik tangan Salsabila memasuki masjid.



Salsabila tertegun saat berada di dalam masjid. Dari luar masjid itu terlihat kecil, pintunya hanya  dua, satu pintu diperuntukkan buat laki-laki dan pintu lainnya untuk tempat masuknya perempuan.

Tetapi siapa sangka di dalam masjid terlihat banyak sekali pintu, bahkan jika diperhatikan lebih seksama lagi, sepertinya tidak ada dinding melainkan sebuah ruangan luas lebih luas dari aula sekolahnya, bahkan seperti lapangan luas tetapi beratap.

Refleks Salsabila mendongak ke arah atap masjid, darahnya berdesir menatap atap masjid yang putih bersih bagai awan putih yang bergelung-gelung. Yah itu bukan atap melainkan awan putih bagaikan hamparan langit luas. Salsabila masih sibuk mengedarkan pandangannya ke setiap sudut masjid, tanpa sadar ia berdecak kagum kala melihat bagian atas setiap pintu masjid, terdapat permata-permata berkilauan bagai berlian, oh bukan berlian tetapi lebih mirip dengan permata yakut dan marjan. Tiba-tiba bahunya disentuh oleh Mangasih.

“Kamu tidak salat sunah?” Bisik Mangasih.

“Oh … eh ... Iya  Bu, aku mau salat sunah.” Salsabila menjawab dengan sedikit gagap, karena kaget.

Salsabila dan Rosanna duduk berdekatan. Tiba-tiba ia mencium aroma melati, Salsabila celingukan mencari sumber aroma itu. Tetapi ia tidak menemukannya. Bahkan yang ia lihat adalah orang-orang yang semakin banyak memasuki masjid. Salsabila merasa pernah melihat pemandangan itu.

Ya, ini seperti suasana lebaran di kotanya, banyak orang yang datang untuk melaksanakan dan merayakan idul fitri, wajah-wajah ceria, pakaian baru nan mewangi.

Tidak!

Ini bukan suasana lebaran, pakaian mereka hampir serupa, putih atau krem. Para lelaki itu tidak memakai kopiah ataupun peci, sedangkan wanita-wanitanya tidak memakai baju warna warni dengan model baju berbagai rupa. Wanita-wanita itu memakai baju serupa dengan baju yang Mangasih berikan kepadanya, baju longdres, lengan panjang yang menutupi jari-jari tangannya, tetapi dengan warna yang berbeda.

Pakaian yang dikenakan oleh semua jamaah perempuan  adalah berwarna putih sedikit pudar dengan kerudung panjang nan lebar hingga hampir menutupi separuh badannya.

Tiba-tiba Salsabila dikagetkan oleh suara azan yang menggema entah dari mana datangnya. Ia tidak melihat ada corong di sana maupun toa di depan masjid tadi.

“Ah, sudahlah, saya salat subuh saja dahulu, sebentar saya mencari sumber suara azan itu.” Salsabila berbicara kepada dirinya sendiri, kemudian berdiri saat mendengar orang iqamah.  

Suara imam terdengar sangat merdu, melafalkan  ayat-ayat Al Qur’an dengan sangat fasih. Ayat-ayat itu seakan menyelisik ke seluruh tubuhnya. Darahnya serasa berhenti mengalir mendengar imam membaca surah ar-Rahman.

“Fa bi’ ayyi aalaa’I robbikumaa tukazzibaan. Ka’annahunnal-yaaquutu wal-marjaan.”

“Fa bi’ ayyi aalaa’I robbikumaa tukazzibaan. Hal jazaa ‘ul-ihsaani illal-ihsaan.”

Baru kali ini Salsabila merasa sendu mendengar ayat suci Al Qur’an dibacakan. Terasa remuk tulangnya, lemas bagaikan badan tanpa roh. Jiwanya seakan melayang ke suatu tempat yang ia tidak tahu dimana. Tanpa sadar ia menangis, awalnya hanya meneteskan air mata, kemudian sesenggukan hingga tangisnya pecah, hampir meraung.

 

“Sabila, hei Salsabila!” Terasa tubuhnya diguncang-guncang oleh seseorang, suaranya sayup terdengar memanggil-manggil namanya.

“Alhamdulillah, akhirnya kamu tersadar Nak.” Terdengar suara ibunya lega.

Salsabila mengusap matanya, ia memandangi orang-orang di sekelilingnya. Ayahnya, ibunya, adiknya, juga beberapa tetangga yang sedang menatapnya cemas.

“Aku kenapa Bu?” Tanyanya heran.

“Kamu pingsan Nak, tetangga menemukanmu di pinggir hutan semalam.” Jawab ibu Salsabila sambil mengusap rambutnya.

“Kakak pingsan, tapi mulut kakak komat kamit mengaji.” Timpal adiknya.

Salsabila duduk tercenung, ingatannya masih terpaut pada peristiwa yang dia alami semalam. Ingat pada masjid yang indah, luas dan sejuk, bahkan masih terngiang suara imam masjid membaca surah Ar-Rahman yang sangat menyentuh batinnya.

Tiba-tiba ia ingat Rosanna. “Apakah kalian kenal Rosanna?”

Mata Ayah dan Ibunya membelalak mendengar pertanyaan Salsabila.

“Kenapa tiba-tiba menanyakan dia Nak?”

“Aku bertemu dengannya Bu, matanya kuyu. Siapakah dia, apakah kalian mengenalnya?”

Ayah dan Ibu Salsabila dan  semua di ruangan itu saling berpandangan. Ibu menghela nafas.

“Rosanna itu kakakmu, tetapi…” Ibu Salsabila menggantung kalimatnya.

“Tetapi kenapa Ibu?” Desak Salsabila

“Dia sudah tiada, meninggal karena diterkam harimau di pinggir hutan.” Sahut Ayahnya.

“Aku ketemu dia  dan kami ke masjid salat subuh.” Gumam Sabila.

“Mungkin dia hadir dalam mimpimu Nak, kakakmu itu meninggal sebelum kamu lahir.” Jelas Ibunya.

“Apakah arti semua ini yah Allah? Aku berada dimana sebenarnya semalam?” Salsabila berbisik lirih. Ayah menatapnya tajam penuh selidik.

“Ceritakan Nak, apa yang kamu rasakan dan apa yang kamu alami?”

Salsabila kemudian bercerita tentang apa yang dialami semalam, seperti mimpi tetapi sangat nyata. Ia mengusap peluhnya lalu meraih gelas dan diminumnya air dalam gelas itu hingga tandas.

Mereka termangu mendengar cerita Salsabila.

Siapa yang tidak mengenal Salsabila. Keluarga, tetangga, dan teman-temannya tahu betul, dia dikenal sebagai gadis remaja yang sukar diatur.

Jika keinginannya tak dipenuhi maka Salsabila akan mengamuk bagai banteng yang terluka. Kedua orang tuanya, keluarga,  bahkan tetangga-tetangganya akan terus melihatnya mengamuk. Memecahkan barang, melemparkan kursi dan apapun yang ada di sekitarnya. Itu akan terus berlangsung hingga keinginannya dipenuhi. 

Itu pula sebabnya ia dikirim oleh orang tuanya bersekolah di kota, tinggal bersama saudara ayahnya. Harapan orang tuanya, Salsabila bisa berubah atas pengasuhan omnya yang tegas.

Perlahan Salsabila bangkit menuju kamar mandi. Di sana ia mengguyur mukanya, mengusap matanya, mengucek-nguceknya seakan tiada percaya dengan apa yang dia alami. Setelah itu dia keluar dengan muka basah.

“Nak, itulah  cara-Nya mencintaimu, Allah Subhanahu Wa’ Taala telah memperlihatkan kekuasaan-Nya.” Kata ayahnya dengan senyum lega di bibirnya.

“Iya Ayah, mulai hari ini aku akan berubah. Maafkan semua kesalahanku.” Salsabila berlari ke dalam pelukan ayahnya.

“Jangan hanya berjanji kepada ayah Nak, berjanjilah kepada dirimu sendiri.” Kata ayahnya sambil merengkuh Salsabila dalam dekapannya.

Begitulah cara Allah mencintai hamba-Nya, memberinya hidayah hingga manusia tidak sanggup memikirkannya, karena tidak dapat dijangkau dengan logika.

Maha Besar Engkau yah Allah dengan segala Kekuasaan-Mu.


Baca juga fiksi lainnya di bawah ini

Gamang 

Secercah Harapan

Dia Butuh Telinga Bukan Mulut


Buku Antologi Ramadhan Kareem

Catatan:

Tulisan ini adalah karya saya yang telah  terbit berupa buku antologi Ramadhan Kareem. Ditulis bersama alumni SP Gelombang 15.  Ditayangkan kembali di sini setelah saya melakukan  proses editing sehingga menjadi lebih hidup dan jelas. Di buku tersebut ada beberapa bagian yang hilang sehingga ceritanya mengambang.


READ MORE

Membangun Kekuatan Keluarga

Wednesday, July 1, 2020

Kekuatan sebuah keluarga. Terkadang ada rasa cemburu dengan orang tua zaman sekarang, terutama yang baru menikah pada tahun 2000-an. Mereka bisa mendapatkan ilmu  pengasuhan anak dan ilmu membina rumah tangga bahagia  dengan gampang.

Ilmu dan informasi itu bisa mereka dapatkan di mana saja, bahkan tak sedikit yang gratis.

Sementara saya dan suami  saat awal membina rumah tangga  hanya bermodalkan cinta tanpa ilmu yang memadai. Saat anak pertama lahir, kami mencari-cari pola pengasuhan anak dengan bertanya kepada orang tua kami masing-masing dan kepada orang-orang di sekeliling yang kelihatannya sukses membina rumah tangga.

Hasilnya sungguh membingungkan. Apa yang disampaikan oleh orang tua saya sangat berbeda dengan apa yang disampaikan oleh mertua, belum lagi dari orang-orang di sekitar.

Teknik memandikan bayi saja caranya berbeda-beda. Walaupun dasarnya sama-sama memandikan.

Apalagi kami mulai membina keluarga di desa, jauh dari orang tua dan keluarga, serta komunikasi belum selancar saat ini. Maka yang terjadi adalah,  saya dan suami banyak mendapatkan informasi-informasi soal pengasuhan anak dari orang-orang sekitar yang tinggal dan besar di desa.

Apakah ilmu mereka termasuk kuno atau modern, wallahu alam. Tetapi kami tetap bertanya dan menerapkannya  sesuai kondisi serta pemahaman kami.

Namun demikian, pola dan teknik membangun keluarga sedikit banyaknya dipengaruhi oleh orang tua kami masing-masing. Keluarga dari pihak saya dan suami tak jarang memberi masukan, bahkan cenderung memaksakan pendapatnya. Ada yang kami terima tapi banyak pula yang ditolak jika itu berbenturan dengan prinsip dan idealisme kami.

Saya yakin, kami bisa bertahan dalam satu keluarga selama 30 tahun dan sebentar lagi memasuki 31 tahun pasti karena anugerah dari Allah Subhanahu Wata’ala semata.

Apakah tak pernah ada konflik?

Beuh, manalah ada suatu keluarga yang tak pernah berkonflik. Pada saat konflik itu datang, kami bisa bertengkar hebat, diam-diaman seharian lalu beberapa saat kemudian, kami berdamai dengan hati masing-masing, meredam amarah sekuat yang kami bisa dan terakhir melupakan amarah.

Jika semua rasa yang tak nyaman itu terlupakan, maka otomatis kedamaian kembali dan tanpa kata maafpun kami sudah saling memaafkan. Kelihatannya sesederhana itu, tapi proses menjalaninya tidak semudah yang dibayangkan.


Membangun Kekuatan Keluarga

Cerita-cerita ringan tentang keluarga saya bisa dibaca di link berikut

Tentang suami di sini

Perjalanan Cinta di sini

Kisah dalam bulan Ramadan di sini


Keluarga Adalah  Organisasi


Walaupun keluarga hanya  unit terkecil dari masyarakat, tetapi keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam membangun sistem dan tatanan sosial suatu bangsa. Maka tak berlebihan jika dikatakan bahwa ketahanan keluarga adalah basis ketahanan bangsa, karena keluarga adalah sekolah pertama dan utama bagi setiap anak sebelum terjun ke masyarakat.

Keluarga merupakan sebuah organisasi yang berbentuk sistem yaitu adanya keterikatan antara satu dengan lainnya, di mana di dalamnya terjadi interaksi antara satu individu dengan individu lainnya (Anderson&Carter,1990).

Bagaimana mengelola suatu keluarga tak lepas dari kepiawaian kita mengelola suatu organisasi sebagai suatu sistem. Jika suatu organisasi memiliki visi dan misi yang disepakati bersama dan aturan-aturan yang disepakati dan dijalankan, demikian pula keluarga.

Ada visi dan misi yang dibangun sejak awal antara suami dengan istri lalu membuat aturan bersama, kemudian dijalankan oleh seluruh anggota keluarga dengan sebaik-baiknya.

Kalau suatu organisasi, visi, misi, dan tujuannya jelas maka keluargapun harusnya seperti itu. Sebelum membina rumah tangga, calon pasangan suami istri membangun pondasi yang kuat terlebih dahulu,  bukan sekedar cinta dan nafsu untuk hidup bersama.

 

Membangun Keluarga Bagai Membangun Rumah

 

Apa yang dilakukan ketika kita akan membangun sebuah rumah?

Pasti kita akan menyurvei dulu lokasinya tempat akan dibangun rumah tersebut, lalu membuat desain rumah, mengumpulkan modal. Jika semuanya sudah tersedia, barulah dimulai dengan membuat pondasinya.

Demikian pula dalam membangun keluarga. Sebelum seorang laki-laki meminang calon istrinya, pasti ia menyurvei dahulu, siapa perempuan itu, tinggal di mana, siapa orang tuanya, bagaimana pergaulannya, dan sebagainya.

Calon istripun melakukan hal yang sama. Siapa calon suaminya itu, apakah ia baik, bertanggung jawab, agamanya bagus, punya pekerjaan, dan sebagainya.

Langkah selanjutnya adalah berkomunikasi dengan calon pasangan, membicarakan desain mau dibawa kemana  nanti rumah tangganya. Jika desain sudah disepakati, mulailah dengan mengumpulkan modal.

Modalnya bukan melulu soal materi melainkan modal cinta, kasih sayang, kepercayaan, ikhlas, dan sabar. Inilah pondasinya. Jika pondasi kuat, sehebat apapun badai menerjang, insya Allah kedua penyangga rumah tangga akan tetap kokoh mempertahankan rumah tangganya dari kehancuran.

 

Sumber Kekuatan  Keluarga

 

Tiap-tiap individu dalam sebuah keluarga merupakan sumber kekuatan bagi anggota keluarga tersebut. Selain itu, mereka juga memiliki posisi dan peran dalam menyelenggarakan keluarga atau biasa disebut  dengan istilah familying” Pearsall (1990).

 

Bukankah membangun sebuah rumah itu tidak hanya memerlukan batu dan semen? Tapi diperlukan pula besi, pasir, kerikil, kayu, dan lainnya. Demikian pula membangun keluarga. Tidak hanya orang tua yang bertanggung jawab atas keutuhan sebuah keluarga, ada anak-anak dan keluarga dari kedua belah pihak.

Agar keluarga kuat maka setiap anggota keluarga harus menguasai perannya masing-masing dan bekerja sama dengan anggota keluarga lain.

Semua anggota keluarga memiliki sikap kepedulian satu sama lain, menjalin komunikasi dengan baik, dan mengelola emosi.

Mungkin ada yang menjawab, saat saya mulai membina rumah tangga saya tak sempat membuat visi dan misi, saya juga tidak membicarakan desain keluarga,  dan seterusnya.

Jangan berkecil hati!

Selama masih dalam satu keluarga, desain bisa dirombak, visi misi bisa diperbaiki seperti rumah yang kadang kita renovasi dan memperbaiki bagian-bagian yang rapuh hingga layak kita tempati lagi.

Begitulah keluarga.

Mari menyusun kekuatan demi menciptakan keluarga yang kuat sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wataala dalam firman-Nya.

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim: 6).

 Semoga bermanfaat. 


READ MORE

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Name

Email *

Message *