Menjadi Operator PPDB Pada Masa Pandemi

Saturday, July 25, 2020


PPDB 2020

Menjadi Operator PPDB SMP Pada Masa Pandemi menyisakan banyak cerita


Pelaksanaan penerimaan peserta didik baru untuk sekolah tingkat dasar dan menengah pertama baru saja usai. Proses pendaftaran ulang bagi peserta didik yang lolos juga telah rampung.

Seperti biasanya, pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) selalu membawa cerita yang beragam, tetapi pada dasarnya persoalannya sama, yaitu para orang tua calon peserta didik baru dan peserta didik itu sendiri akan menerima hasil yang menggembirakan atau  mengecewakan.

Seperti tahun ini, sekalipun pelaksanaan PPDB  masih berdasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010, yaitu Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan dan  teknis pelaksanaannya diatur berdasarkan pada peraturan pemerintah yang terbaru, yaitu Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 44 Tahun 2019, tetapi terdapat  perubahan yang cukup signifikan. Hal ini dipicu oleh adanya pandemi.

Untuk mengantisipasi penyebaran pandemi, maka pelaksanaan PPDB tahun 2020 dilaksanakan secara daring penuh, dengan persyaratan dan jalur yang sama dengan tahun sebelumnya.

 

Perbedaan Pelaksanaan PPDB Tahun 2019 dengan PPDB Tahun 2020


Untuk kedua kalinya saya diamanahi tugas sebagai operator Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), yaitu pada tahun 2019 dan tahun ini, 2020. Persyaratan dan jalur pendaftaran tidak terlalu berbeda di mana terdapat empat jalur pendaftaran, yaitu:

  1. Afirmasi, jumlah kuotanya 15% dari dari daya tampung sekolah
  2. Prestasi, jumlah kuota 10% dengan ketentuan, 5% untuk jalur prestasi akademik dan 5% untuk jalur prestasi non akademik.
  3. Perpindahan tugas orang tua/wali  dan anak guru, jumlah kuotanya 5% dari daya tampung sekolah
  4. Zonasi, jumlah kuotanya ditetapkan sebesar 70% dari daya tampung sekolah, terdapat 3% untuk jalur calon peserta didik inklusi.

Apa yang berbeda dengan tahun lalu?

Satu-satunya yang berbeda adalah proses pendaftarannya dilakukan secara dalam jaringan (daring) secara keseluruhan. Mulai dari pendaftaran awal menyangkut pembuatan akun, mengirim berkas, verifikasi data, pengumuman kelulusan, hingga pendaftaran ulang.

Sedapat mungkin semua dilakukan secara daring, sementara operator PPDB bertugas memverifikasi semua data calon peserta didik yang terkirim ke server pendaftaran PPDB.

Sebenarnya pendaftaran daring sudah dilakukan tahun sebelumnya, tetapi proses verifikasi data masih dilakukan secara luar jaringan (luring). Para orang tua calon peserta didik baru bersama anaknya datang ke sekolah mengumpulkan berkasnya, lalu operator melakukan verifikasi berkas.

Sedangkan PPDB tahun 2020, proses verifikasi data dilakukan dengan cara mengunggah semua berkas yang diminta.

Sayangnya, masyarakat masih banyak yang belum familier dengan sistem itu. Dari sinilah segala permasalahan timbul. Ditambah lagi dengan server yang sering eror saat proses pendaftaran berlangsung.

 

Syarat Kelulusan PPDB Tahun 2020

                                                                             

Beberapa jam setelah pengumuman, seorang ibu, tetangga saya datang ke rumah. Beliau mempertanyakan penyebab anaknya tidak lulus sementara tetangganya lulus.

“Kenapa anak tetangga saya lulus sementara anak saya tidak, katanya jalur zonasi dilihat dari jarak  antara rumah dengan  sekolah?”

“Ada pertimbangan lain bu selain jarak rumah, yaitu usia.” Saya mencoba menjelaskan.

“Anak saya seumuran dengan dia.” Balasnya ketus.

Aups!  Saya kehabisan kata-kata.

Kemudian saya teringat proses selama memperivikasi data calon peserta didik, bahwa ada hal-hal yang menjadi faktor ditolaknya berkas yang dikirim.

“Apakah ibu mengunggah  semua berkas yang diminta server?” Saya mencoba mencari informasi dari si ibu.

“Menurut orang yang mendaftarkan anak saya, semua sudah dilakukan”

“Apakah terlihat  di layar laptop atau di gawai tanda ceklis  berwarna hijau?” Saya masih berusaha mencari informasi penyebab anaknya tidak lulus.

“Tidak semua, ada satu yang tidak berwarna hijau yaitu Kartu Keluarga (KK) saya, bahkan bertanda silang.” Jawabnya lemah.

“Nah, itulah penyebabnya anak ibu tidak lulus.”

Si ibu manghela napas sembari berkata, “saya tidak tahu bu guru, kenapa KK saya ditolak.”

Beberapa penyebab calon peserta didik tidak lulus adalah berkas yang dipersyaratkan tidak terunggah semua, yakni Ijazah atau Surat Keterangan Lulus (SKL), foto calon peserta didik baru, akta kelahiran, dan Kartu Keluarga (KK) dengan catatan tanggal berlakunya kartu keluarga paling lama 30 Juni 2019. 

Sedangkan untuk jalur afirmasi, dilengkapi dengan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari kelurahan atau melampirkan/mengunggah Kartu Indonesia Pintar (KIP) atau Kartu Indonesia Sehat (KIS) atau kartu maupun Surat Keterangan termasuk dalam Program Keluarga Harapan (PKH).

Untuk jalur perpindahan orang tua/wali dan anak guru, dilengkapi dengan surat keterangan dari kantor tempat  orang tua bekerja bahwa yang bersangkutan pindah tugas, atau dari kelurahan setempat yang menerangkan bahwa orang tersebut pindah karena alasan tertentu. Sementara anak guru, hanya berlaku bagi guru yang bertugas di tempat anaknya akan medaftar. 

Sedangkan jalur inklusi dilengkapi dengan surat keterangan dari rumah sakit atau dokter atau yang bertanggung jawab atas anak inklusi tersebut yang menerangkan bahwa si anak adalah termasuk inklusi.

 

Pengalaman Menjadi Operator PPDB Pada Masa Pandemi

 

Menjadi operator PPDB pada tahun ini, di mana pandemi masih ada dan kita takut pada sesuatu yang tak terlihat tetapi nyata keberadaannya, memberikan pengalaman yang cukup berbeda dengan  tahun sebelumnya.

Masih teringat tahun lalu, saya dan tim operator PPDB melayani orang tua dan calon peserta didik baru tanpa diliputi rasa was-was. Kami berinteraksi dengan bebas, tertawa-tawa, saling bercanda dan ada pula kesal-kesalnya lalu diakhiri dengan senyum perdamaian.

Orang tua dan anaknya antri dengan tertib sementara panitia di bagian penerimaan berseru memanggil nama berdasarkan nomor antrian. Kadang diselingi dengan sedikit teriakan karena suaranya tenggelam di tengah riuhnya suara pendaftar.

Tahun ini, panitia dan para operator PPDB bekerja dalam kesunyian. Hanya sesekali kami bercanda dengan sesama operator, itupun dilakukan dari jarak sedikit jauh dan suara yang terdengar serasa sangat jauh karena dibatasi oleh masker yang menutupi mulut dan hidung kami.

Orang tua calon peserta didik hanya bisa menghubungi operator melalui seluler jika ada hal yang ingin ditanyakan atau menyampaikan kendala yang dialami saat melakukan pendaftaran daring.

Namun, manusia bisa berencana tapi Allah Ta’ala yang menentukan. Sebagus apapun usaha manusia menciptakan suatu teknologi komunikasi,  tetapi berkomunikasi secara langsung jauh lebih baik.

Maka itulah yang terjadi pada hari ke-10. Server down dan eror. Para orang tua bingung dan operator PPDB pusing.

Bagaimana mengatasi hal ini, sementara masih banyak pendaftar yang belum berhasil mengunggah berkasnya. Lebih parahnya lagi, ternyata banyak pendaftar yang tidak mengerti cara mendaftar secara daring. Kami hanya bisa mengarahkan pendaftar ke kantor Diknas Kota untuk melaporkan hal itu.

Namun timbul masalah baru. Kantor Diknas Kota Makassar diserbu pendaftar, banyak yang tidak sabar, antrian mengular bahkan hampir tidak lagi memperhatikan  prosedur kesehatan, tidak jaga jarak, abai menggunakan masker, dan sebagainya.

Hingga tiga hari sebelum pendaftaran berakhir, operator PPDB diberi kewenangan melayani pendaftar di ruangan operator, dengan tetap memberlakukan prosedur kesehatan. Tidak dilayani kalau tak pakai masker, masuk ke ruangan satu persatu, tidak berkerumun, cuci tangan sebelum masuk ruangan, dan sebagainya.

Kesempatan ini disambut baik oleh orang tua calon peserta didik. Kamipun melayani mereka dengan baik, memperlihatkan berkas apa saja yang belum diunggah. Memberi kesempatan menunjukkan lokasi rumahnya dengan  memperlihatkan google maps dan sebagainya.

Alhamdulillah, masalah bisa teratasi dengan baik.

Ternyata komunikasi secara langsung jauh lebih efektif dibandingkan dengan komunikasi daring, terutama bagi orang tua dan calon peserta didik baru yang masih awam dengan teknologi komunikasi. 

Namun demikian harus disadari, bahwa ini baru awalnya. Kelak bisa jadi semua urusan pendaftaran harus dilakukan dengan cara daring, maka kita harus berbenah dari sekarang. Suka tidak suka, mau tidak mau, siapapun kita harus mengejar dan jangan tinggal diam serta menjadi penonton semata, karena kita sudah berada di era teknologi yang semakin maju.

Selamat saya ucapkan kepada orang tua yang telah berhasil mendampingi anaknya hingga lulus ke sekolah yang diinginkan. Bagi yang tidak berhasil, jangan berkecil hati, masih banyak sekolah lain, sekolah swasta yang bisa menampung anak-anak kita. Yang penting anak harus terus bersekolah, di manapun tempatnya dan dengan cara apapun.

Baca juga cerita-ceritaku sebagai guru pada link berikut.

  1. Efektifkah Belajar Daring di sini
  2. Gagal Jadi Artis di sini


 


33 comments

  1. Whoaaa, penuh dengan DRAMAAAA ya Mak.
    Udahlah pandemi, aturan PPDB emang bikin emak2 rentan kejang! :D

    ReplyDelete
  2. Wah kebayang tak mudah jadi operator PPDB, yg ada perubahan sistem dan sempet bikin banyak ortu siswa protes, apalagi di masa pandemi, lengkaplah sudah ya mbak.
    Pdhl operator hanya kerja sesuai SOP tp ya krn berhubungan langsung mau gak mau kudu menerima keluhan ortu hehe.
    Semoga yg kisruh2 tak terjadi lg tahun2 berikutnya aamiin

    ReplyDelete
  3. Aduh rempongnya, dih Kak. Baru baca bagian awal saja saya pusing mi. Kasihan juga orang tua siswa apalagi kalau di-upload-kan sama orang lain, dia tidak tahu persis.

    ReplyDelete
  4. Bunda..kebayang deh kerja operator PPDB saya. Server down ga cuma di daerah, di Jakarta aja bermasalah..hiks. Dan sistem yang berubah, duh. Semoga ini adalah awal yang baru bagi perbaikan sistem yang lebih baik lagi.
    Btw, kalau di Jakarta ga perlu upload dokumen, karena sudah otomatis ada di database saat siswa bersekolah di sekolah sebelumnya...Jadi lebih mudah

    ReplyDelete
  5. Pusing ya kalau server sudah eror. Sebetulnya PPDB ini jika ada sosialisasi yang tepat,masyarakat yg awam pasti paham. Seperti melakukan rapat dengan orang tua murid oleh masing-masing sekolah atau pemerintah daerah baik kota atau kabupaten terjun langsung.

    ReplyDelete
  6. Hahhaaa, Buun..
    Aku baca PPDB langsung auto nyut2an, 2x mengikuti PPDB onlen pas anak masuk SMP sama SMA, udah bagian bapaknya yang ngecek,nyerah, blom lagi aturan yang beda2.
    Kbayang deh pas bagian operator rempongnya.

    Semoga lebih baik lagi PPDB Onlen tahun berikutnya, meski pro dan kontra tetep semangat buat semuanyaaa.

    ReplyDelete
  7. Wah kebayang mba ribetnya jadi operator di masa pandemi gini, belum lagi banyak keluhannya kan dari para ortu dan belum lagi kendala servernya

    ReplyDelete
  8. Kemarin-kemarin baca drama PPDB dari sisi wali murid sekarang dari sisi operator PPDB pun ternyata ada aja dramanya ya, Mbak. Anak saya baru tahun 2022 mungkin ikut PPDB kayanya harus mulai mempelajari sistem dan banyak tanya mulai dari sekarang. Semoga tahun-tahun ke depana sistemnya lebih baik.

    ReplyDelete
  9. memang PPDB tahun ini super istimewa ya mba dan banyak yang bertanya-tanya. Apalagi di Jakarta yang sempat hebooh yaa

    ReplyDelete
  10. kebayang mbak jadi operator di masa seperti ini, apalagi nggak semua ortu melek teknologi kan? salut sih karena butuh kesabaran dan toleransi yang tinggi

    ReplyDelete
  11. waaah pastinya terasa berbeda banget yaa di masa masa seperti iniii, terasa lebih ribet yaaa, semoga wabah ini bisa segera teratasi dengan baik huhu

    ReplyDelete
  12. Kebayang sih ribetnya,,cmn tetap semangat...cmn aku agak blm feel sm sistem PPDB ini..gmna gtu...but anyway yah dijlnkn dan didukung aja

    ReplyDelete
  13. waah ujung tombak pelaksanaan PPDB nih para operator, semoga tahun depan sudah lebih mudah dan kondisi jg lebih mendukung yaa..dag dig dug krn tahun depan harus dampimgi anak ppdb nih

    ReplyDelete
  14. Sepertinya, tahun ini memang segalanya penuh drama, termasuk PPDB ya.. Terutama ttg kebijakan usia itu, hehe..

    ReplyDelete
  15. i a sure is be cool eksprience and make you know more about that.maybe the next year you will be expert

    ReplyDelete
  16. Mau gak mau memang kita semua akhirnya dituntut jangan gaptek banget. Karena bebepa proses sekarang mulai daring, termasuk PPDB

    ReplyDelete
  17. Kebayang riwehnya ya mba jadi Operator PPDB SMP Pada Masa Pandemi kyk gini... Pusing tapi hrs ttep semangat demi anak2

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener mbak... baca ceritanya gini aja udah berasa riwehnya. Gimana kalau mengalami langsung, bakal capek jiwa dan raga deh. huhuu

      Delete
  18. Sebagai pelaksana PPDB detil dengan masalah ini wajib banget ya, Mak. Biar kita siap menghadapi complain ortu. Tadi aku deg-degan lho bacanya pas ortu yang bahas soal usia yang sama. Ternyata hal yang tampak sepele itu bisa jadi masalah dan suka kita abaikan

    ReplyDelete
  19. Kalau biasanya baca pengalaman orangtua murid yang ribet ngurusin anaknya yang PPDB. Kali ini saya baca dari sudut pandang operatornya. Ya sama aja yaa ribetnya. Belum urusan server yang error atau masalah lainnya. Ckckck..

    ReplyDelete
  20. Wah drama banget yah kak ceritanya. Memang penyesuaian diri di masa pandemi ini memaksa kita untu banyak banget melakukan perubahan. Semangat terus ya kak

    ReplyDelete
  21. wah ternyata oh ternyata... Bisa jadi kasus sepwrti ini banyak terjadi di daerah.. Semoga PPDB berikutnya lebih baik lagi ya..

    ReplyDelete
  22. Ini loo, Bunda...yang aku takutkan kalau segalanya serba online.
    Ada beberapa orangtua yang masih kesulitan dan akhirnya gagal mendaftarkan anaknya sekolah.
    Sediih...
    Semoga apa-apa yang serba online juga diikuti dengan teknologi yang semakin baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penting juga sosialisasi kepada masyarakat mengenai PPDB Online begini.
      Tapi minatnya gimana niih...Bunda?
      Semakin meningkat atau turun?

      Delete
  23. Sabar banget Mbak Marda menghadapi orang tua siswa yang protes. Salut banget saya.... :) Kadang ya mereka yang salah, tapi kasian juga ya Mbak, banyak yang kurang paham dan kurang mengikuti teknologi. Semangat selalu Mbak Marda :) Cerita pengalamannya inspiratif bangettt!

    ReplyDelete
  24. Wah kebayang rempongnya ya, saya hanya sempet disibukan soal ini saat si sulung saja, tapi itu juga dia yg ngurus sendiri..Anak selanjutnya ga ada yang mau ke negeri walau agak dipaksa juga. padahal rumahku strategis deket banget sekolah2 favorit. Aku ga direpotkan soal ini tapi memang bebannya jd ke biaya karena biaya mesantren jauh berlipat lipat dari negeri. Banyak berdoa jadinya semoga dilancarkan rezekinya hehe...

    ReplyDelete
  25. Sepertinya tahun ini PPDB memang paling banyak dramanya ya kalau dulu yang diutamakan itu faktor lokasi, sekarang faktor usia juga hal kelengkapan administrasi yang mungkin masih sebagian orang belum mendapatkan info secara benar, semoga ke depannya semakin lebih baik sistem PPDB ini

    ReplyDelete
  26. Di berbagai daerah adaaa aja ya mba keluhan orangtua tentang PPDB saat ini. Rata-rata pada protes kenapa anaknya justru kalah dengan yang usianya lebih tua. Saya sendiri kurang paham karena tidak mengalami. Anak saya sekolah di swasta soalnya. :)

    ReplyDelete
  27. Lumayan juga letihnya ngurusin operator penerimaan gini ya mbak, apalagi kalau ada orang tua yang komplain harus diberi jawaban yang sesuai juga ya.

    ReplyDelete
  28. Alhamdulillah semua sudah terlewati dengan baik ya mbak, tinggal kenangan yang akan terus dikenang hingga nanti bialsa diceritakan ke anak cucu

    ReplyDelete
  29. Betul nih, belum semua masyarakat paham dgn dunia online. Mau ga mau hrs bisa saat mau mendaftarkan anaknya sekolah. Harus banyak2 sabar dgn semua drama dan ceritanya yaa mbakk...

    ReplyDelete
  30. PPDB daring sebenarnya lebih simpel ya, Mbak. Irit tenaga dan juga waktu. Tapi bagi sebagian orang tua yang belum familiar ya emang harus ada yang dampingi biar bisa daftarin anaknya. Btw, aku malah baru tau kalau KK ada tanggal berlakunya. Hihihi.

    ReplyDelete
  31. yah sedih banget gegara kartu keluarganya ga terverifikasi gagal ya mba anaknya, jadi takut nh masalah administrasi begini semoga kelak anak2ku dimudahkanNya aamiin

    ReplyDelete

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Name

Email *

Message *