Membangun Kekuatan Keluarga

Wednesday, July 1, 2020

Kekuatan sebuah keluarga. Terkadang ada rasa cemburu dengan orang tua zaman sekarang, terutama yang baru menikah pada tahun 2000-an. Mereka bisa mendapatkan ilmu  pengasuhan anak dan ilmu membina rumah tangga bahagia  dengan gampang.

Ilmu dan informasi itu bisa mereka dapatkan di mana saja, bahkan tak sedikit yang gratis.

Sementara saya dan suami  saat awal membina rumah tangga  hanya bermodalkan cinta tanpa ilmu yang memadai. Saat anak pertama lahir, kami mencari-cari pola pengasuhan anak dengan bertanya kepada orang tua kami masing-masing dan kepada orang-orang di sekeliling yang kelihatannya sukses membina rumah tangga.

Hasilnya sungguh membingungkan. Apa yang disampaikan oleh orang tua saya sangat berbeda dengan apa yang disampaikan oleh mertua, belum lagi dari orang-orang di sekitar.

Teknik memandikan bayi saja caranya berbeda-beda. Walaupun dasarnya sama-sama memandikan.

Apalagi kami mulai membina keluarga di desa, jauh dari orang tua dan keluarga, serta komunikasi belum selancar saat ini. Maka yang terjadi adalah,  saya dan suami banyak mendapatkan informasi-informasi soal pengasuhan anak dari orang-orang sekitar yang tinggal dan besar di desa.

Apakah ilmu mereka termasuk kuno atau modern, wallahu alam. Tetapi kami tetap bertanya dan menerapkannya  sesuai kondisi serta pemahaman kami.

Namun demikian, pola dan teknik membangun keluarga sedikit banyaknya dipengaruhi oleh orang tua kami masing-masing. Keluarga dari pihak saya dan suami tak jarang memberi masukan, bahkan cenderung memaksakan pendapatnya. Ada yang kami terima tapi banyak pula yang ditolak jika itu berbenturan dengan prinsip dan idealisme kami.

Saya yakin, kami bisa bertahan dalam satu keluarga selama 30 tahun dan sebentar lagi memasuki 31 tahun pasti karena anugerah dari Allah Subhanahu Wata’ala semata.

Apakah tak pernah ada konflik?

Beuh, manalah ada suatu keluarga yang tak pernah berkonflik. Pada saat konflik itu datang, kami bisa bertengkar hebat, diam-diaman seharian lalu beberapa saat kemudian, kami berdamai dengan hati masing-masing, meredam amarah sekuat yang kami bisa dan terakhir melupakan amarah.

Jika semua rasa yang tak nyaman itu terlupakan, maka otomatis kedamaian kembali dan tanpa kata maafpun kami sudah saling memaafkan. Kelihatannya sesederhana itu, tapi proses menjalaninya tidak semudah yang dibayangkan.


Membangun Kekuatan Keluarga

Cerita-cerita ringan tentang keluarga saya bisa dibaca di link berikut

Tentang suami di sini

Perjalanan Cinta di sini

Kisah dalam bulan Ramadan di sini


Keluarga Adalah  Organisasi


Walaupun keluarga hanya  unit terkecil dari masyarakat, tetapi keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam membangun sistem dan tatanan sosial suatu bangsa. Maka tak berlebihan jika dikatakan bahwa ketahanan keluarga adalah basis ketahanan bangsa, karena keluarga adalah sekolah pertama dan utama bagi setiap anak sebelum terjun ke masyarakat.

Keluarga merupakan sebuah organisasi yang berbentuk sistem yaitu adanya keterikatan antara satu dengan lainnya, di mana di dalamnya terjadi interaksi antara satu individu dengan individu lainnya (Anderson&Carter,1990).

Bagaimana mengelola suatu keluarga tak lepas dari kepiawaian kita mengelola suatu organisasi sebagai suatu sistem. Jika suatu organisasi memiliki visi dan misi yang disepakati bersama dan aturan-aturan yang disepakati dan dijalankan, demikian pula keluarga.

Ada visi dan misi yang dibangun sejak awal antara suami dengan istri lalu membuat aturan bersama, kemudian dijalankan oleh seluruh anggota keluarga dengan sebaik-baiknya.

Kalau suatu organisasi, visi, misi, dan tujuannya jelas maka keluargapun harusnya seperti itu. Sebelum membina rumah tangga, calon pasangan suami istri membangun pondasi yang kuat terlebih dahulu,  bukan sekedar cinta dan nafsu untuk hidup bersama.

 

Membangun Keluarga Bagai Membangun Rumah

 

Apa yang dilakukan ketika kita akan membangun sebuah rumah?

Pasti kita akan menyurvei dulu lokasinya tempat akan dibangun rumah tersebut, lalu membuat desain rumah, mengumpulkan modal. Jika semuanya sudah tersedia, barulah dimulai dengan membuat pondasinya.

Demikian pula dalam membangun keluarga. Sebelum seorang laki-laki meminang calon istrinya, pasti ia menyurvei dahulu, siapa perempuan itu, tinggal di mana, siapa orang tuanya, bagaimana pergaulannya, dan sebagainya.

Calon istripun melakukan hal yang sama. Siapa calon suaminya itu, apakah ia baik, bertanggung jawab, agamanya bagus, punya pekerjaan, dan sebagainya.

Langkah selanjutnya adalah berkomunikasi dengan calon pasangan, membicarakan desain mau dibawa kemana  nanti rumah tangganya. Jika desain sudah disepakati, mulailah dengan mengumpulkan modal.

Modalnya bukan melulu soal materi melainkan modal cinta, kasih sayang, kepercayaan, ikhlas, dan sabar. Inilah pondasinya. Jika pondasi kuat, sehebat apapun badai menerjang, insya Allah kedua penyangga rumah tangga akan tetap kokoh mempertahankan rumah tangganya dari kehancuran.

 

Sumber Kekuatan  Keluarga

 

Tiap-tiap individu dalam sebuah keluarga merupakan sumber kekuatan bagi anggota keluarga tersebut. Selain itu, mereka juga memiliki posisi dan peran dalam menyelenggarakan keluarga atau biasa disebut  dengan istilah familying” Pearsall (1990).

 

Bukankah membangun sebuah rumah itu tidak hanya memerlukan batu dan semen? Tapi diperlukan pula besi, pasir, kerikil, kayu, dan lainnya. Demikian pula membangun keluarga. Tidak hanya orang tua yang bertanggung jawab atas keutuhan sebuah keluarga, ada anak-anak dan keluarga dari kedua belah pihak.

Agar keluarga kuat maka setiap anggota keluarga harus menguasai perannya masing-masing dan bekerja sama dengan anggota keluarga lain.

Semua anggota keluarga memiliki sikap kepedulian satu sama lain, menjalin komunikasi dengan baik, dan mengelola emosi.

Mungkin ada yang menjawab, saat saya mulai membina rumah tangga saya tak sempat membuat visi dan misi, saya juga tidak membicarakan desain keluarga,  dan seterusnya.

Jangan berkecil hati!

Selama masih dalam satu keluarga, desain bisa dirombak, visi misi bisa diperbaiki seperti rumah yang kadang kita renovasi dan memperbaiki bagian-bagian yang rapuh hingga layak kita tempati lagi.

Begitulah keluarga.

Mari menyusun kekuatan demi menciptakan keluarga yang kuat sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wataala dalam firman-Nya.

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim: 6).

 Semoga bermanfaat. 


48 comments

  1. Anak, pasangan dan harta benda sejatinya adalah UJIAN buat kita ya.
    Bismillah, selalu ikhlas dan serahkan takdir terbaik pada Yang Maha Kuasa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak. Anak adalah amanah, rezeki sekaligus ujian buat orang tuanya

      Delete
  2. Selamat Hari Keluarga
    Luar biasa, saya berkaca dengan cermat melihat judul besar dan isi dari artikel ini. Terima kasih

    ReplyDelete
  3. Aku nanti kalau pilih pasangan ya harus sama visi dan misinya. Kudu sepakat katakan lah soal vaksin. Gak mudah memang buat berumah tangga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak muda bukan berarti tidak bisa kan? Saya doakan semoga bisa dapat jodoh yang sevisi, semisi ya

      Delete
  4. Untuk orang Islam, memang harus selalu kembali ke sini ya Kak

    "Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim: 6).


    masya Allah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keluarga adalah organisasi yang tidak hanya cukup dibangun dengan cinta. Kadang ada yang melupakan ini.

      Delete
  5. Dalam rumah tangga konflik merupakan hal yang biasa terjadi. Konflik merupakan bumbu penyedap dalam berumah tangga. Sebab dengan adanya konflik membuat kita menjadi lebih bijaksana lagi dalam menghadapi permasalahan dalam rumah tangga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jika ditanggapi dengan kepala dingin dan bersedia duduk bersama untuk mencari solusi, masalah adalah jalan menuju kedewasaan dalam berumahtangga.

      Delete
  6. Aku merasakan hal yang sama sih mbak.
    Anak pertamaku sudah SMA dan dulu waktu lagi ASI merasanya buta banget. Harus rajin beli buku dan majalah, konsultasi ke bidan juga. Ibu zaman sekarang tinggal browsing aja di hape dan langsung mendapatkan semua informasi haha

    Semoga keluarga kita bisa selalu menjadi sumber kekuatan yah mbak

    ReplyDelete
  7. Masya Allah menuju 31 tahun, awet selalu ya Mba sampai nanti. Iya Mba, sekarang informasi lebih mudah diakses ya dibandingkan zaman dulu, waktu anak saya yang pertama juga saya masih meraba-raba.

    ReplyDelete
  8. Keluarga itu memang tempat semuanya yaa mb dawiah, komplit. Belajar dunia dan akhirat juga bisa lewat keluarga. Organisasi paling dasar sebelum menjejaki oragnisasi di luar rumah ya keluarga dulu. Semua bisa dilakukan dengan Team Work yang hebat saling dukung dan menghargai hingga membangun kekuatan keluarga itu sendiri. MasyaAlloh harta yang paling berharga adalah keluarga *auto nyanyi

    ReplyDelete
  9. Beda jaman beda cara ya mbak tapi semua ada seni dan perjuangannya yg pasti tak terlupakan

    ReplyDelete
  10. Terima kasih ilmunya Bu, memang semua ilmu parenting maupun ilmu dalam berumah tangga itu kembali kepada individu dan visi misi keluarga ya. Semua harus belajar sesuai battlenya masing-masing.

    ReplyDelete
  11. Sama seerti pengalaman saat memiliki anak pertama karena jauh dari keluarga. Bingung kadang sampai nangis sendiri. Apalagi kerikil kehidupan hampir datang setiap saat.
    Artikelnya menginspirasi saya untuk instropeksi dan memperbaiki kehidupan kami dalam berkeluarga yang masih dalam hitungan jari

    ReplyDelete
  12. MasyaAllah, tetep romantis sekali ya buk.. Pelajaran penting nih buat kami yg belum atau akan berkeluarga..

    ReplyDelete
  13. MasyaAllah ibuuu. Saya jadi ingat ibu saya yang juga memasuki usia pernikahan ke 30 tahun ini.
    Mudah-mudahan keluarga selalu menjadi sumber kekuatan kita. Selamat Hari keluarga ❤️

    ReplyDelete
  14. terima kasih mba untuk sharingnya, saya jadi membayangkan kelak nanti kalau sudah berkeluarga, bagaimana bisa menyatukan dua keluarga yang berbeda, mingling dengan keluarga baru. setuju banget agar keluarga berjalan dengan baik setiap orang memang harus sadar dengan perannya masing-masing ya mba

    ReplyDelete
  15. Samaa, waktu awal2 pernikahan, apalagi saat hamil anak pertama, ya kadang bingung sendiri berdua suami haha, akhirnya beli setumpuk buku-buku untuk dibaca. Zaman sekarang ini informasi bisa didapatkan dari banyak sumber. Selain keluarga dekat, teman, buku, dengan googling juga akan banyak didapat jawaban dari apa yang menjadi pertanyaan kita ya. Makasih sharingnya mbak.

    ReplyDelete
  16. Memang benar mba, di awal menikah pasti ada perbedaan atau ketidakcocokan. Namanya saja dua manusia berbeda budaya dan kebiasaan tiba-tiba tinggal serumah. Namun kembali lagi, bahwa rasa saling memiliki akan mengalahkan ego masing-masing.

    ReplyDelete
  17. Sama halnya dengan pola pengasuhan orang tua jaman dulu dengan sekarang, soalnya kata mamahku waktu lihat aku mengasuh anakku dia nyeletuk "anak sekarang ngasuh anak begitu ya?". Jadi aku pun selalu memberi pengertian kepada mamahku bahwa pola asuh anak dulu dan sekarang sebenarnya tidak jauh beda hanya saja sekarang lebih modern.

    ReplyDelete
  18. Saya memahami arti keluarga, tetapi suka ada yang terasa hampa, canggung ketika berkumpul bersama keluarga, kenapa ya mbak?

    ReplyDelete
  19. Sebagai anak muda yng belum menikah, haus sekali akan petuah macam gini😥 sedih bacanya ketika ternyata saya sudah di garis terakhir padahal pengen tahu lebih dalam lagi😫 beritahu dan didiklah kmi buuuuuuu

    ReplyDelete
  20. Baca postingan ini adeem bangett. Ada contoh konflik, ada penyelesaian juga. Udah 30 tahun, semoga selalu samawa yaa, Mbak. Ini aku menuju 7 tahun.

    ReplyDelete
  21. Dulu saya dan suami juga saat awal membina rumah tangga hanya bermodalkan cinta tanpa ilmu yang memadai, sama lah seperti yang bunda tulis, hehe...

    ReplyDelete
  22. Alhamdulillah semoga sehat dan bahagia selalu bunda sekeluarga. 31 tahun..wow. iya, kita harus kompak sekeluarga ya biar terasa tentram menjalani hari

    ReplyDelete
  23. MasyaAllah, sungguh membina keluarga memang mendatangkan pahala. Itu sebabnya, upaya menuju kesana pun butuh perjuangan ya, Bun. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan dan terus digali ilmunya saat biduk pernikahan dalam genggaman.

    ReplyDelete
  24. MasyaAllah, semoga sakinah mawadah warohmah ghih bu, Selamat hari Keluarga

    ReplyDelete
  25. Makasih sharingnya. Sudah melewati 30 th an tentu banyak melewati asam garamnya. Menjaga agar keluarga kokoh memang perlu dipelajari nih 🙏😊

    ReplyDelete
  26. Jadi semakin bersemangat saya Mbak Dawiyah, dalam mendidik anak², merawat cinta kasih bersama suami, keluarga yg baik memang idaman semua orang ya

    ReplyDelete
  27. Masyaallah, sudah hampir 31 tahun berkeluarga ya mbak. Panjang jodohnya hingga akhir hayat ya. Boleh nih resep-resepnya supaya awet

    ReplyDelete
  28. Setuju banget sama tulisannya kak, membangun keluarga harus kompak ya bagaikan organisasi, walaupun banyak pemikiran yang ga sama harus saling memahami karena latar belakang kita dari keluarga yang berbeda

    ReplyDelete
  29. Suka sekali dengan surat At Tahrim yang disampaikan di sini.. sangat tepat untuk membangun keluarga yang selamat sampai ke sana..terima kasih atas ilmunya

    ReplyDelete
  30. wah dalem banget kalimat ini :Tiap-tiap individu dalam sebuah keluarga merupakan sumber kekuatan bagi anggota keluarga tersebut. kita ibarat sapu lidi ya bun jika bersama-sama terasa ringan melaksanakan tugas hehe

    ReplyDelete
  31. masyaaallah mba, barakallahu untuk keluarga kamu, sehat terus, bahagia dunia akhirat, kompak, dan selalu rukun terus sampai Jannah nanti

    ReplyDelete
  32. Dalam perkawinan selalu ada konflik tentunya karena perpaduan dua pribadi yang berbeda. Hanya komunikasi yang bisa mencairkan suasana kembali asik dan nyaman untuk semuanya

    ReplyDelete
  33. MasyaAllah Bun, happy anniversary jelang 31 tahun yaa. Benar banget Bun, kadang kita suka iri ya dengan pola interaksi ayah dan ibu kita yaa. Tapi tentu saja, kita juga harus ingat bahwa setiap zaman ada pelakunya. Jika ada ujian dalam pernikahan, kata seorang ustaz, badai itu akan berlalu, jadi jangan ditambah dengan drama drama tak perlu.

    ReplyDelete
  34. Visi dan misi yang diusung dalam keluarga harus saling dikomunikasikan. Selayaknya menjalankan bahtera, nahkodanya harus kompak. Tak ada satu yang lebih daripada yang lain. Tujuan akhirnya adalah mewujudkan keluarga bahagia dengan anak-anak yang sholih sholiha sebagai penyejuk iman.

    ReplyDelete
  35. Ujian berumah tangga itu gak hanya di awal yaa, Bunda.
    Selalu ada ujian di tiap lapisan.
    Semoga bisa selalu senada seirama bersama pasangan.

    ReplyDelete
  36. Masya Allah mbak. Udah 30 tahun. Semoga samawa ya mbakku. Seneng baca ceritanya. Pelajaran buatku nih mbak tulisan ini penuh hikmah

    ReplyDelete
  37. waktu itu sempat bahas visi misi keluarga sama suami yang ada kita cekakak cekikikan dan malah copas dari visi misi google

    ReplyDelete
  38. Kuncinya keharmonisan keluarga itu adalah saling mengerti, memahami dan komunikasi yang baik ya Mbak. Semoga saja kita semua bisa terus menjaga keutuhan keluarga masing-masing.

    ReplyDelete
  39. MasyaAllah udah 30 tahun bersama, langgeng dan awet selalu mbak :D
    Idem kami di sini jg hidup jauh dr keluarga mbak, tantangannya banyak, tapi insyaAllah kalau kompak bisa survive ya mbak. Apalagi kalau emnyangkut soal anak2 hehe

    ReplyDelete
  40. Masya Allah, menuju 31 tahun ya, Mak.

    Aku, Agustus nanti, menuju 27 tahun.

    ... dan masih terus belajar dan belajar agar tetap harmonis dan romantis!

    ReplyDelete
  41. Banyak hikmah yang dipetik selama menjalani tahun-tahun awal sebuah pernikahan. Suka, duka yang terlewati akhirnya akan menjadi kenangan yang sangat berharga untuk kelak dibagikan kepada anak-anak.

    Pengalaman hidup para leluhur, sedikit tidaknya akan memberi warna dalam kehidupan keluarga kita sekarang.

    Intinya, hidup berkeluarga itu bagaikan sebuah ruangan kelas dimana setiap individu yang ada di dalamnya harus siap untuk terus belaja dan mengambil manfaat dari pembelajaran kehidupan yang dialami.

    ReplyDelete
  42. Memang benar ya, mbak, kalau membangun keluarga itu sama dengan membangun rumah. Dan komunikasi itu sebagai hal yang paling utama supaya bangunan itu bisa berdiri tegak

    ReplyDelete

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Name

Email *

Message *