Perjalanan Cinta

Kamis, 17 Oktober 2019


Bulan Madu

"Habis nikah, mau bulan madu ke mana nih?
Kami hanya berpandangan, senyum-senyum kecut.
Jangankan bulan madu, jalan-jalan ke pasar saja kami tak sempat. Izin kami itu hanya sepekan, dan waktu sepekan itu kami gunakan untuk mengurus segala persiapan pesta pernikahan hingga acaranya selesai.
Esoknya langsung kembali ke daerah tempat tugas kami. 
Siswa-siswa kami sudah menanti.

Selain faktor waktu, ada alasan lain yang paling spesifik sebenarnya.
Kami tak ada dana 🤣

Tapi bukan berarti kami tak menikmati bulan madu, sebab hari-hari kami setelah nikah adalah hari-hari manis  semanis  madu. 

Menikmati sejuknya pagi di desa, melihat gunung Bulusaraung dari kejauhan, menyapa gemericik air di sungai yang mengalir tenang, atau menghirup aroma bunga jagung di kebun sekolah adalah cara kami berbulan madu. 

Perjalanan terjauh yang kami tempuh berdua adalah rutinitas pulang ke kota, menjenguk orangtua. 
Menikmati perjalanan di atas mobil pete-pete, duduk berdempetan dengan penumpang lain adalah kenangan manis yang tak akan terlupakan.

Kami menyebutnya, bulan madu di atas pete-pete 🤣 Jadi tak salah kalau dikatakan, bahagia itu sederhana sesederhana memaknai setiap perjalanan dan peristiwa.


Genap setahun empat bulan, anak pertama lahir. Kami memberinya nama Muhammad Fadlan Afandi.

Harapannya, selalu diberi karunia sesuai arti namanya.

Perjalanan cinta kami makin berwarna. Tidak melulu soal bulan madu.
Ada buah cinta kami yang membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan cinta.

Maka perhatianpun terbagi, antara pasangan, anak, dan pekerjaan.
Kami menjalaninya sambil belajar saling memahami.

Ternyata kehadiran anak, bukan berarti kebahagiaan telah sempurna. Justru di situlah awal perjuangannya.

Lima Tahun Pertama


Katanya, pernikahan akan mendapatkan ujian di setiap selang waktu lima tahun.
Alhamdulillah, lima tahun pernikahan telah kami lewati dan hasilnya adalah tiga orang putra.

Kehidupan di desa sudah kami tinggalkan. Tahun 1993, kami memutuskan kembali ke kota.

Tuntutan untuk menambah ilmu adalah salah satu alasannya, disamping alasan lain tentunya.

Tinggal bersama keluarga besar saya bukanlah pilihan yang mudah, tapi hanya itu satu-satunya opsi.

Saya harus mendampingi mama yang sudah menjanda sejak tahun itu. Untungnya, ayangbeb legawa menerima keadaan itu.

Legawa mungkin hanya dalam hal tertentu. Bagaimanapun, kami  juga ingin memiliki rumah sendiri. Mengerjakan pekerjaan domestik berdua sembari melibatkan  anak-anak.

Namun keadaan tak memungkinkan, sekali lagi saya meminta keikhlasan ayangbeb untuk bertahan beberapa waktu lagi, hingga mama siap menjalani hidup  bersama keenam adik-adik saya.

Periode Ketiga Lima Tahunan Pernikahan 


Sudah 12 tahun kami menikah dan 7 tahun kami lalui bersama keluarga besar saya. Kata kasarnya, hidup menumpang di rumah orangtua.

"Sudah waktunya kita hidup mandiri." Kata ayangbeb.
"Baiklah, mari kita mulai hidup mandiri bersama empat orang putra."

Inilah masa-masa bersama keempat anak kami yang paling menyenangkan. Setiap hari kami sambut subuh dengan drama membangunkan anak.

Keahlian terpendam ayangbeb dikeluarkan semua.
Mulai masak nasi goreng, mencuci, menyetrika, dan segala tetek bengek kerjaan rumah.

Wow! Saya terpana. Ternyata si sabar nan pendiam itu punya bakat terpendam. 
Saya bersorak gembira. 


Akhirnyaaa....


Sejak menikah hingga memasuki periode 20 tahunan kami tak pernah sekalipun pergi berdua ke luar daerah. Kasihan sekali yah 🤭

Beberapa kali kami ke luar daerah untuk urusan tugas tapi tak pernah pergi berdua. 

Oh iya, kami pernah pergi bersama tapi tidak berdua, rame-rame berwisata ke Jogya. Bisalah dianggap berbulan madu, bulan madu tipis-tipis,  hihihi...




Hingga kesempatan itu datang juga.
Tahu ndak, kapan itu kejadiannya? 

Sebenarnya saya malu mengatakannya 🙈, tapi ini kenyataan. 

Saat putra ketiga diwisuda di Curug  Tangeran tahun 2017, kami diundang untuk mendampinginya.
Waktu itu pergi bertiga dengan putra kedua tapi kami merasa berdua saja. Soalnya nginap di hotel berdua.

Yah elaa... hahaha ...

Menyaksikan proses wisuda dan pelantikan putra ketiga dengan upacara semi militer melambungkan  kebahagiaan kami.

Telah kami tunaikan salah satu kewajiban menyekolahkan anak. Walau itu bukan akhir dari kewajiban mendidik anak, karena masih banyak kewajiban lainnya untuk setiap putra putri kami.

Usai prosesi wisuda, kami melanjutkan perjalanan ke Bandung.
Mengunjungi gedung-gedung  bersejarah, alun-alun, dan masjid Agung Bandung.

Tak terbayangkan sebelumnya, jika kami bisa ke kota sejuk ini berdua.

Oh yah, hampir lupa.

Kami juga pernah pergi berdua ke Gorontalo. Tapi tujuannya bukan untuk bulan madu, melainkan menunaikan kewajiban akhir sebagai orangtua bagi putranya, menikahkan si sulung demi
menyempurnakan sunnah Rasul bagi putra sulung.

Alhamdulillah rencana itu berjalan lancar.

Yeaah...kami berhasil mendapatkan menantu. Anak perempuan kami menjadi dua sekarang.

Bisakah itu disebut perjalanan cinta?






Setelah 30 Tahun


Ini  benar-benar perjalanan berdua.
Saat ini kami melakukannya, berdua saudara-saudara! 


Untuk bulan madu?
Bukan!
Hahaha...


Kami datang untuk menghadiri wisudanya si sulung. Tak mengapa bukan perjalanan bulan madu, tapi ini  adalah perjalanan cinta kami berikutnya.

Mendampingi anak dalam merayakan keberhasilannya merupakan salah satu perjalanan cinta. Saya bahagia karenanya.

Kami pergi berdua saja, tujuannya selain untuk acara itu, kami juga akan  menikmati kebersamaan di sisa-sisa usia kami.

Sungguh bahagia melihat ayangbeb bergembira.

Memenuhi permintaan ayangbeb difoto di depan pesawat. Takjub, baru kali ini saya melihatnya narsis. 
Kalau istrinya yang manis ini kan sudah biasa narsis, itu bawaan orok 🥰

mardanurdin.com

Mendengarnya bercanda, walau lebih mirip jahilin saya. Melihatnya tertawa gembira.

Bicara dan makan sebarang adalah kebiasaan yang jarang dilakukannya.
Semua itu adalah bahagia saya yang tak terkira.


Inilah perjalanan kami.
Bulan madu-bulan madu kami.


Tak pernah ribut atau susah Bunda?



Ah, mana ada kehidupan yang mulus terus.

Bertengkar dan diam-diaman bahkan ribut besar juga pernah terjadi.

Pernah mau cerai?


Untungnya tidak.

Saya merasa sangat sulit mendapatkan laki-laki seistimewa ayangbeb.

Bersedia memaafkan semua kesalahan saya, ikhlas menerima kekurangan saya, dan tetap sabar melihat istrinya yang tidak sabaran ini.

Saya yakin, ia juga tak mau jauh-jauh dari saya. Ayangbeb beruntung mendapatkan saya.

Hm, percaya diri itu  perlu saudara-saudara! 🤣

Tak gampang mendapatkan perempuan sepandai saya mengatur keuangan. Dengan dana sedikit bisa membiayai kelima anak-anaknya.

Ikhlas tidak ke salon tiap bulan demi biaya sekolah anak.
Saat istri-istri lain sibuk menata penampilan, memakai perhiasan yang mahal,  saya tetap sabar tampil sederhana demi menjaga kestabilan keuangan.

Cari di mana perempuan seperti itu?
Iya kan...

Tak mudah loh mendapatkan istri sebaik dan seromantis saya, hahaha.

Menyamakan Frekuensi


Kami berusaha saling memahami dan menerima kekurangan masing-masing.
Beradaptasi satu sama lain sangatlah penting.

Menyamakan frekuensi agar terus sejalan bukan perkara gampang, tapi bukan berarti tidak bisa.

Selama kita mau menurunkan ego, maka pastilah bisa.

Satu saja pondasinya, bersandar kepada Allah Swt. Ayangbeb mengajarkan itu.

Bahwa, Allah akan selalu senang melihat hamba-Nya yang mau bersabar dan bersyukur.

Saat masalah datang, ingatlah bahwa, Allah Swt tidak akan memberi cobaan yang tak bisa dipikul hamba-Nya.
Jika itu diyakini, pasti segala permasalahan dapat diatasi.

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya ... " (QS. Al-Baqarah: 286).


Demikianlah perjalanan cinta yang telah kami lalui selama kurang lebih 30 tahun.

Setiap momen adalah bahagia yang Allah berikan kepada kami, dan itu sangat saya syukuri.

Semoga kami masih bisa menikmati bulan madu kesekian hingga perjalanan di dunia berakhir.







Bandung, 18 Oktober 2019

Ditulis di atas kereta Jakarta-Bandung


















5 komentar

  1. Manisnya. Kebahagiaan memang sederhana ya Kak. Dalam keadaan apapun bisa saja merasa bahagia asal Kita tak muluk2 menentukannya

    BalasHapus
  2. Masyaallah bisa sampai diangka 30tahun dalam pernikahan adalah sebuah pencapaian yang luar biasa, semoga Kak Dawiah dan Ayangbeb bahagia bersama sampai akhir hayat. Liburan berdua walau tipis2, tetap kan terasa romantis. Alhamdulilah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga saya bisa menuliskan kisah seperti ini 10 tahun lagi.


      Jadi bertanya² kira² ada mi anakku yang menikah itu? Hihihi

      Hapus
  3. Wah benar bahagia yag bulan madunya.

    Kapan sy jg bisa sprti itu yahh hahaha

    BalasHapus
  4. Wah...sepertinya bun Dawiah dan Ayangbebnya bak langit & bumi kah? Bun ceria banget, bapak kalem berwibawa. Makanya cocok. Haha...
    Semoga langgeng dan kompak selalu yaaa...

    BalasHapus

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Nama

Email *

Pesan *