Muhammad Rahmatullah, CEO Dr. Metz Restorative Clinic

Friday, November 11, 2022


 

Muhammad Rahmatullah, Ceo Dr Metz Restorative Clinic

 

Tidak semua orang bisa menjadikan rintangan sebagai peluang,  hanya orang-orang yang diberi daya kreativitas tinggi, inovatif, memiliki kepercayaan diri yang kuat dan tangguhlah yang bisa melakukan itu. 

Sifat-sifat itulah yang dimiliki oleh dr. Muhammad Rahmatullah, CEO Dr. Metz Restorative Clinik. 

Bagaimana seorang dokter yang memulai petualangan bisnisnya dari digital marketing menjadi sebuah klinik dengan nama brand  Dr. Metz Restorative Clinik dan sukses?

 

Transformasi Rumah Cantik Irna Menjadi Klinik Kecantikan 

 

Klinik restoratif, Klinik kecantikan

Tantangan terberat yang dihadapi dr. Muhammad Rahmatullah adalah modal. Beliau tidak memiliki modal yang cukup besar sehingga harus memulai usaha dengan modal seadanya. Berbekal tempat yang berukuran 2x3 meter, dr. Muhammad Rahmatullah memulai bisnis kecantikan dengan membuka salon yang diberi nama Rumah Cantik Irna. 


Setelah kurang lebih 10 tahun, sekitar tahun 2019, Rumah Cantik Irna bertransformasi menjadi klinik yang dibranding sendiri oleh ownernya, yaitu Dr.Metz Restorative Clinic. Maka praktis, klinik ini telah beroperasi sekitar tiga tahun. 

Tahap demi tahap ia berjuang membangun kliniknya hingga sekarang sudah memiliki 3 lantai dengan fasilitas yang memadai.

 

Kenapa diberi nama Dr. Metz Restorative Clinic?

Menurut tim Dr.Metz yang diwakili oleh Muhariyadi Kuncoro dalam zoom bersama Indscript pada 2 November lalu, Dr. Metz diambil dari nama beken dr. Muhammad Rahmatullah waktu beliau kuliah di kedokteran Universitas Jenderal Ahmad Yani.

Ternyata nama brand itu membawa berkah sehingga klinik itu terus berkembang bahkan di Sukabumi tempat ia praktik, sudah dapat menyediakan sekitar 24 skincare.

 

Muhammad Rahmatullah Dokter Ahli Jerawat

 

Dr Metz skincare

Lulusan Pascasarjana Anti Aging Medicine Universitas Udayana ini memiliki pengalaman menangani pasien yang hancur wajahnya karena kesalahan penggunaan skincare

Itu pula sebabnya, beliau menamai kliniknya sebagai restorative karena mayoritas pasien yang datang ke kliniknya itu adalah  mereka yang sedang mengalami beberapa kasus, salah satunya adalah kondisi wajah berjerawat.

 

Jika dahulu sewaktu masih berupa salon, hampir semua jenis permasalahan kulit ditangani. Setelah dibranding sebagai klinik restorative, Dr Metz mengkhususkan menangani pasien-pasien korban kosmetik abal-abal. 

 

 

Mengapa Tertarik Sebagai Dokter Estetik?

 

 


Menurut beliau, sekalipun dulu tidak bercita-cita sebagai dokter kecantikan, tetapi ia menyadari kalau jiwanya itu ada di service sehingga memilih berbisnis di bagian jasa    kecantikan. Seiring berjalan waktu, ia menyadari bahwa ternyata ia mampu mengubah orang dalam transformasi hidupnya. Dulu ada pasien yang jerawatan, lalu  menjadi depresi, malu, takut ketemu orang lain. Ternyata setelah kulit wajahnya menjadi tidak berjerawat lagi dan hidupnya jauh lebih berubah.

 

“Kondisi yang paling menginspirasi saya adalah bagaimana saya memberikan yang terbaik buat orang lain. Saya bahagia melihat pasien-pasien saya tidak lagi depresi akibat kulit wajahnya yang rusak karena jerawat. Selain memperbaiki kulit yang berjerawat, saya juga mengubah mindset mereka agar kehidupannya menjadi lebih baik.” 

 

Muhammad Rahmatullah Sebagai CEO Dr Metz Restorative Clinik

Klinik restoratif kecantikan

 

Selain sebagai dokter, Muhammad Rahmatullah juga sebagai pebisnis dengan mengembangkan beberapa layanan yang masih ada hubungannya dengan kecantikan kulit.  Saat ini ia mengembangkan Dr Metz Skincare, Foreman Skincare bahkan mulai merambah pada pelayanan konsultasi online, yaitu Doctorx Software. 

Doctorx Sofware Klinik Kecantikan adalah software cloud yang menggunakan infrastruktur as Service yang akan memantau kinerja klinik kecantikan.


Yang menarik dari Doctorx Sofware Klinik Kecantikan ini adalah pelayanan yang diberikan adalah gratis. 

“Kami melayani konsultasi gratis via WhatsApp. Silahkan mengirimkan keluhannya seputar kulit wajah, nanti kami akan membantu dengan memberikan saran sesuai masalah kulitnya.” Demikian yang disampaikan oleh Dr.Metz melalui zoom beberapa hari lalu. 

Jika kalian ingin mendapatkan edukasi seputar kecantikan kulit, silahkan mengikuti IG Dr.Metz di akun @doktermetz atau kunjungi kanal Youtube dokter Metz.


READ MORE

CURHAT

Sunday, October 2, 2022

 








Curhat

Sebenarnya saya ingin melampiaskan kekesalan tentang berbagai hal yang saya rasakan akhir-akhir ini, tetapi itu tidak mungkin saya lakukan. Pikiran warasku melarang, karena pada dasarnya itu sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Malahan bisa jadi menambah masalah baru.


Maka sedapat mungkin saya meredamnya. Namun, meredam rasa gelisah, kekesalan bahkan amarah adalah sesuatu yang tidak nyaman. Ibarat balon yang telah penuh dengan udara, tetapi masih juga ditiup maka yang ada balonnya bisa meletus.  


Bumm!!


Sudahlah  suara letusannya memekakkan telinga, balonnya pun pecah berantakan. Maka saya berpikir, rasa ini harus dikeluarkan, dilampiaskan seluruhnya agar tidak tertinggal sedikit pun di dalam hati.

Tetapi bagaimana caranya?


Biasanya kalau saya kesal kepada anak-anak yang tidurnya kelamaan atau lambat bergerak saat saya membutuhkan bantuannya, atau apalah itu, saya membuat gaduh di dapur (Hiiii, ini jangan ditiru ya teman-teman).


Cuci piring sambil ngomel, masak sambil ngomel, nyapu sambil ngomel. Pokoknya ngomel!


Jika kekesalan itu belum juga hilang, saya mengadu ke suami, meminta bantuannya untuk meneruskan omelan saya. Sayangnya, si ayangbebku itu bukan tipe orang yang gampang dihasut. 

Dengan santainya ia akan berkata, “kamu saja yang ngomel, saya sih tidak.”


Atau dia  bilang begini, “cukuplah kamu yang berkurang kecantikanmu karena amarah, saya tak mau kegantenganku berkurang gara-gara ikutan emosi.”


Jika kalian berada di posisi saya, bagaimana perasaan kalian?

Saya yakin, kalian makin emosi kan? Hahaha.


Ada yang bilang, jika kamu sedang marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Jika masih juga marah, maka berbaringlah. Masih marah juga, maka basuhlah wajahmu lalu berwudhu. 


Kedengarannya mudah, tetapi tidak semudah mempraktikkannya. Soalnya saya pernah melakukannya. Saat marah saya bangkit dari duduk lalu berdiri, lah, emosi saya ikutan berdiri. 


Saya berbaring, malah ketiduran dan marah itu masuk ke dalam mimpi. Mimpi diburu anjing gila pula. Saya  terbangun dari tidur dengan napas ngos-ngosan bagai habis “berlari kencang”  maka makin emosilah saya. 


Jurus terakhir, saya berwudhu lalu salat sunat. Lah, habis salat saya tertidur di atas sajadah, sayangnya saya tidak bermimpi padahal saya berharap mengalami mimpi indah.


Sesuatu yang indah, sekalipun itu hanya mimpi akan terasa juga senangnya. Namun, mimpi bagi orang seperti saya belum tentu itu ilham, mungkin hanya bunga-bunga tidur yang tidak nyata. Jadi, ngapain menikmati sesuatu yang tidak nyata sekalipun itu indah. Jadi untuk apa saya berharap bermimpi indah, toh itu tidak nyata.

Jadi kau maunya apaaaa?

Mimpi indah atau mimpi buruk? Ha-ha-ha-ha-ha.



Hidup Sekali, Berarti, lalu Mati






Untungnya saya mempunyai hobi yang bisa menghempaskan semua kekesalan di hati. Cukup duduk di pojokan lalu membaca atau menuliskan semua rasa yang ada. Saya bisa asyik menulis di notes handpone atau menulis langsung di laptop. 

Saya menuliskan semua kekesalan, kemarahan dan kesedihan atau apa pun itu. 


Nah, buku yang berhasil menghalau kekesalan saya hari ini adalah buku karya Ahmad Rifa’I Rif’an. Seperti biasa, saya tidak menulis reviewnya karena belum tuntas saya baca. Saya hanya mau bilang, kalau buku ini bagus. Judulnya saja sudah meneduhkan hati.


Ada beberapa kutipan yang rasanya sangat mengena di hati yang sedang kacau, kesal apalagi bersedih. 


“Jangan pernah meremehkan mahakarya Tuhan dengan pilihan hidup kita yang kerdil. Jangan pernah melecehkan mahakarya Tuhan dengan aktivitas kita yang kecil.” (Ahmad Rifa’I Rif’an)



Saya memaknai kutipan di atas sesuai perasaan saya saat membaca buku ini, bahwa jangan remehkan mahakarya Tuhan dengan mengisi hidup kita dengan kemarahan. 

Siapa mahakarya Tuhan itu? Yah, saya, kamu, kita!

Jadi, jangan kesal-kesal lagi yah wahai emosi jiwaku. 


“Berjihadlah sesuai dengan peran sosial yang telah kau pilih.” (Ahmad Rifa’I Rif’an)


Ada dua kata yang istilahnya berbeda, tetapi maksudnya sering disamakan, yaitu jihad dan qital. Jihad berarti perjuangan dalam arti yang umum, sedangkan qital berarti peperangan. (halaman 32)


Islam tidak pernah mempersempit makna jihad pada perang saja. Namun, jihad bisa berarti berperang melawan hawa napsu.

Kemarahan, kekesalan dan kesedihan adalah napsu yang bisa berkobar bagai api yang menyala-nyala. Dan, itu adalah napsu yang dibisikkan oleh setan, maka berjihadlah dengan memerangi hawa napsumu wahai jiwa yang rapuh. 


Satu lagi kutipan yang berhasil menembus kepala saya dalam buku ini, yaitu:


“Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tetapi  satu telunjuk (tulisan) sanggup menembus jutaan kepala.” (Sayyid Quthb)


Kalimat-kalimat yang terukir dalam buku ini telah mampu menembus kepala hingga ke dasar otakku. 

Mungkin terlalu tinggi jika saya berharap tulisan saya akan menembus jutaan kepala orang, tetapi tulisan itu akan meredakan amarah, kekesalan dan kesedihan saya adalah nyata adanya.


Manusia itu memang selalu berkeluh kesah, tetapi Allah Swt telah membekali manusia dengan hati dan pikiran, maka gunakanlah hati untuk mengelola perasaan dan perdayakan pikiran untuk memikirkan akibat dari meluapkan perasaan secara membabi buta.


Seperti pesan dalam buku ini, hidup hanya sekali maka isilah dengan sesuatu yang berarti sebab setelahnya kita akan mati.


Alhamdulillah, saya telah berhasil mencurahkan hati saya melalui tulisan ini. Mohon maaf jika temanya random. Namanya juga curhat kan yah.


Baca juga curhatan saya lainnya di sini 📌 Sepatutnya Kita Saling Mengenal


Makassar 2 Oktober


Dawiah



READ MORE

10 Masalah Pembelajaran IPA Hasil Identifikasi Guru Peserta PPG Dalam Jabatan Tahun 2022

Saturday, October 1, 2022





Insyaallah hari ini adalah pertemuan terakhir untuk jadwal kuliah pendalaman materi bagi kelas 011 IPA PPG dalam jabatan kategori 2 Tahun 2022, di mana saya diberi amanah sebagai guru pamong mendampingi dosen dari Universitas Negeri Makassar (UNM). 


Sejak memasuki kelas dengan materi Kegiatan Pengembangan Perangkat Pembelajaran Materi Langkah ke - 4 Explorasi Alternatif Solusi pada kelas 011 IPA kemudian langkah ke – 5 Menentukan Solusi hingga tiba pada  langkah ke – 6 Membuat Rencana Aksi, setidaknya ada sepuluh permasalahan yang ditemukan oleh bapak dan ibu guru  peserta PPG tahun ini. 


Kesepuluh permasalahan itu adalah hasil identifikasi mereka di kelas-kelas yang mereka ajar. Demi mengabadikan hasil identifikasi tersebut, saya menuliskannya di sini.

Apa sajakah kesepuluh masalah tersebut? Berikut pemaparannya.



Peserta Didik Kurang Aktif Mengikuti Proses Pembelajaran


Pada umumnya guru-guru yang mengalami keadaan peserta didik (selanjutnya saya menggunakan kata siswa) yang kurang aktif, cenderung merasa siswanya yang memang tidak mau aktif dilihat dari keadaan siswa yang  hanya datang, duduk, mendengar dan pulang. 

Sekalipun begitu, guru tidak bisa serta merta menyalahkan siswa, karena pasti ada sesuatu yang salah dalam proses pembelajaran. 

Bisa jadi materi yang disajikan kurang menarik atau gurunya yang tidak mampu mengelola kelas dengan baik sehingga tak bisa memancing keaktifan siswa.


Untuk permasalah ini, umumnya peserta PPG mencoba mengatasinya dengan menggunakan berbagai jenis model pembelajaran atau penggunaan media, metode dan sebagainya.



Peserta Didik Kurang Berminat Belajar IPA



Sebenarnya untuk mengukur siswa berminat atau tidak berminat diperlukan satu alat ukur yang valid dan reliabel. Namun, berdasarkan diskusi yang kami lakukan melalui zoom, umumnya para guru peserta PPG menyimpulkan, bahwa siswa yang kurang berminat belajar IPA dilihat dari sikap siswa yang nampak bermalas-malasan selama proses pembelajaran berlangsung. 


Yap, bisa jadi demikian, sebab jika dilihat dari pengertian minat itu sendiri, bahwa seseorang yang berminat melakukan sesuatu ditunjukkan dengan sikapnya yang penuh perhatian dan selalu berusaha terlibat dalam setiap proses pembelajaran. Dia juga memperlihatkan perhatian yang lebih serta memperlihatkan respon yang tinggi.



Peserta Didik Tidak Termotivasi Belajar IPA



Motivasi dan minat nampaknya serupa, tetapi tidak sama. Jika minat diartikan sebagai kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu atau bergairah melakukan sesuatu, maka motivasi merupakan dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan sesuatu dengan tujuan tertentu. 


Terdapat dua jenis motivasi terkait dengan pembelajaran siswa, yaitu: motivasi belajar intrinsik dan motivasi belajar ekstrinsik. Perbedaan dari kedua jenis motivasi belajar siswa ini terletak pada asal munculnya motivasi itu sendiri.


Motivasi belajar intrinsik dipengaruhi oleh keinginan siswa itu sendiri karena ingin mencapai tujuan tertentu, misalnya mau mendapatkan nilai baik agar bisa lanjut ke sekolah yang diinginkan, atau masuk ke perguruan tinffi tertentu, mau membanggakan orang tua, dan sebagainya.


Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul karena faktor dari luar, seperti lingkungan, misalnya karena berada di lingkungan teman-temannya yang mau berprestasi sehingga merasa harus belajar juga, atau karena janji akan diberikan hadiah oleh orang tua jika mendapatkan prestasi atau meraih nilai tinggi.


Permasalahan yang kerap didapatkan guru IPA adalah siswa tidak termotivasi mengikuti pelajaran IPA dan ini tentu memengaruhi keaktifan belajar siswa maupun pencapaian pengetahuan IPA. Untuk masalah seperti ini, biasanya guru memikirkan akar permasalahannya lalu mencari solusi pemecahannya agar siswa yang diajar termotivasi belajar IPA.



Kemampuan Peserta Didik Dalan Memahami Konsep IPA Rendah


Permasalahan berikutnya yang diperoleh dari hasil identifikasi guru-guru adalah siswa kurang memahami konsep IPA.  Jika dikaji lebih mendalam, pemahaman konsep IPA di SMP bisa jadi dipicu oleh ketidakmampuan guru IPA dalam mengajarkan konsep IPA itu sendiri, hal ini dikarenakan latar belakang pendidikan guru IPA yang beragam.


Pelajaran IPA di SMP itu mencakup pelajaran Biologi, Fisika dan Kimia. Sedangkan guru-guru yang mengajar IPA biasanya berlatarbelakang pendidikan  yang berbeda. Kalau bukan berlatar pendidikan Biologi biasanya berlatar pendidikan Fisika atau pendidikan Kimia. 


Beberapa kali saya berbincang-bincang dengan guru-guru yang mengajar IPA, ada yang mengaku cukup kesulitan mengajar materi Biologi  karena ia berlatar belakang pendidikan Fisika atau sebaliknya.


Walau demikian, tanggung jawab guru untuk mengajar di kelas tak bisa diabaikan begitu saja. Oleh karena itu, guru-guru IPA harus terus mengupgrade ilmu pengetahuannya terutama untuk materi IPA yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya.



Sering Terjadi Minskonsepsi IPA Pada Peserta Didik



Terjadinya miskonsepsi IPA pada siswa ini biasanya disebabkan oleh latar belakang pendidikan gurunya. Seperti yang dikemukakan sebelumnya. Terjadinya miskonsepsi IPA jauh lebih berbahaya daripada kekurang mampuan siswa dalam memahami konsep-konsep IPA, dan ini tidak bisa dianggap hal yang biasa. 

Guru-guru IPA harus lebih berhati-hati dalam menjelaskan konsep-konsep IPA apa pun latar belakang pendidikannya. 




Kemampuan Literasi Sains Peserta Didik Rendah



Masalah lain yang banyak ditemukan di kelas adalah rendahnya pengetahuan anak dalam literasi sains. Dari berbagai kajian literatur dijelaskan, bahwa ruang lingkup sains dilihat dari tiga komponen utama, yaitu  sains dilihat dari  aspek produk (pengetahuan), aspek keterampilan proses (psikomotorik), dan aspek sikap ilmiah (afektif).  


Aspek produk dalam sains meliputi beragam produk dan hasil temuan dalam sains diantaranya fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori.  Yang paling penting dipahami, bahwa literasi sains bersifat multidimensional bukan hanya pemahaman terhadap pengetahuan sains, melainkan lebih dari itu.

 

Berdasarkan apa yang dikemukakan oleh para guru peserta PPG yang mengidentifikasi masalah rendahnya literasi sains ini di kelasnya, umumnya disebabkan oleh model dan strategi pembelajaran yang dilakukan oleh guru tidak cukup memadai dalam menerapkan literasi sains. 



Hasil Penilaian Kognitif IPA Peserta Didik Rendah



Hasil penilaian kognitif IPA atau penilaian pengetahuan IPA siswa juga banyak diangkat oleh guru peserta PPG dan akar masalahnya disebabkan oleh berbagai macam, mulai dari model pembelajaran yang diterapkan hingga penggunaan media pembelajaran.



Hasil Penilaian HOTS IPA Peserta Didik rendah



Higher Order Thinking Skills (HOTS) merupakan keterampilan berpikir tingkat tinggi  bagi peserta didik menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan terutama saat hasil PISA dirilis pada tahun 2015 yang diikuti oleh 72 negara. 


Indonesia berada pada peringkat ketiga dari bawah untuk sains, peringkat terakhir untuk membaca, peringkat kedua dari bawah untuk matematika. Tentu ini sangat memprihatinkan buat kita semua. 

Berdasarkan kajian-kajian oleh para ahli, siswa Indonesia dinilai tidak mampu menyaingi negara-negara lain karena masih lemah dalam hal berpikir tingkat tinggi.

Hal ini seiring dengan hasil identifikasi masalah yang ditemukan oleh guru peserta PPG.



Tidak Bisa Menggunakan Media Pembelajaran IPA 



Masalah lain yang ditemukan adalah siswa belum terbiasa menggunakan media pembelajaran IPA. Barangkali yang dimaksud adalah siswa kurang terampil menggunakan alat atau media saat melakukan eksperimen, atau praktik-ptaktik IPA baik di dalam laboratorium maupun di luar laboratorium. 


Menurut saya, hal ini bukan masalah siswa saja melainkan masalah guru itu sendiri. Karena pada dasarnya, siswa itu hanya mengikuti apa yang diarahkan atau diperintahkan oleh gurunya. 

Jika guru menggunakan media pembelajaran dalam setiap proses pembelajaran maka lambat laun media pembelajaran IPA  menjadi sesuatu yang tidak asing lagi bagi siswa. Misalnya, penggunaan mikroskop, pengukuran arus dengan amperemeter, dan sebagainya.



Pencapaian Hasil Belajar IPA Peserta Didik Kurang 



Masalah terakhir yang ditemukan oleh guru peserta PPG adalah hasil belajar IPA siswa kurang. Umumnya peserta PPG mendapatkan akar masalahnya karena berbagai sebab, misalnya penggunaan media pembelajaran IPA yang kurang maksimal, kurang menerapkan model pembelajaran, metode dan strategi yang tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan bahan ajar.



Demikianlah sepuluh masalah-masalah yang umum ditemukan oleh guru-guru peserta PPG Dalam Jabatan Tahun 2022. Dan, berdasarkan pengalaman saya sebagai guru yang mengajar mata pelajaran IPA, masalah-masalah tersebut sering pula saya alami dari tahun ke tahun.  


Namun, setiap masalah selalu ada jalan untuk mengatasinya. Bapak ibu guru peserta PPG telah belajar banyak tentang cara mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut. Mereka telah menemukan solusi lalu  merancang perangkat pembelajaran untuk dipraktikkan nanti saat PPL bahkan ketika mereka kembali ke sekolah masing-masing.


Hikmah yang saya dapatkan sebagai guru pamong di PPG ini tak ternilai harganya. Bahwa tugas  guru yang utama adalah menanamkan nilai-nilai baik agar tercipta karakter yang baik dan mencerdaskan mereka sebagai generasi penerus bangsa.

Demikian, semoga bermanfaat.



Makassar, 1 Oktober 2022


Dawiah 

READ MORE

2 dari 9 Jenderal Muslim Terhebat Sepanjang Sejarah

Sunday, September 25, 2022





Baiklah.

Sepertinya saya memang harus kembali ke blogku ini, untuk menuliskan segala isi hati juga opini-opini yang sepuluh hari terakhir ini tidak tersalurkan. 

Sepuluh hari tak menulis apa pun serasa mengalami burnout, untungnya tidak, karena saya belum kehilangan minat dan motivasi untuk semua hal, masih cukup produktif dan intinya mental jiwa masih sehat dan alhamdulillah fisik masih baik-baik saja.

Kalaupun ada sedikit keluhan di sana-sini, anggaplah itu karena faktor usia saja.


Bermula dari pesan yang dikirimkan oleh rekan sejawat, Ibu Hj. Martiningsih bahwa sejak malam itu saya ditunjuk menjadi guru pamong pada Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan (PPG daljab) kategori II. Awalnya saya berpikir hanya ditugaskan selama lima hari sesuai jadwal yang dikirimkan oleh admin, tetapi ternyata berlanjut dengan jadwal kedua sehingga jadilah hari-hariku itu dipenuhi dengan kegiatan berzoom-zoom ria bersama  Ibu dosen, Dr. Wahidah Sanusi. 

Saya memaknai, bahwa selalu ada konsekuensi pada setiap keputusan yang kita pilih  demikian pula pilihan yang telah saya putuskan, saya harus merelakan waktu berleha-leha sambil membaca buku setiap pulang mengajar demi menjalankan tugas sebagai guru pamong.

Padahal sepekan sebelum menjalankan tugas sebagai guru pamong, paket buku pesanan saya sudah mendarat manis di atas meja. Tampilan kovernya sungguh menggoda seakan melambai-lambai untuk disentuh dan dibuka terus dibaca. 

Seharusnya saya punya waktu untuk memenuhi kecanduan itu, tetapi sehabis kegiatan zoom, badan rasanya lelah nian dan jadinya tepar deh. 

Untungnya sebelum kegiatan yang cukup menyita waktu dan pikiran itu, saya sudah menuliskan draf ini. Yaitu tulisan tentang 2 dari 9 Jenderal Muslim Terhebat Sepanjang Sejarah.

Sebenarnya ini tuh judul buku yang ditulis oleh H. Muhammad Yusuf bin Abdurrahman, seharusnya saya tuliskan ulasannya, tetapi belum tuntas saya baca. 

Cukup memprihatinkan memang, mengingat buku ini saya beli pada tahun 2020, wkwkwk.


Siapakah 2 dari 9 Jenderal Muslim Terhebat Itu? 


Sebelumnya, mari kita lihat terlebih dahulu nama-nama sembilan jenderal muslim yang tertulis dalam buku ini.


  1. Sa’ad bin Abi Waqqah, dikenal sebagai panglima perang Qidsyiah
  2. Abu Ubaidah bin Jarrah, pembebas negeri Syam
  3. Khalid bin Walid, dinamai pedang Allah yang terhunus
  4. Amr bin Ash, penakluk Mesir dan Baitul Maqdis
  5. Qa’qa bin Amr, dijuluki sebagai komandan yang setara 1000 pasukan
  6. Al-Mutsanna bin Haritsah, komandan paling paham tantara Persia
  7. Thariq bin Ziyad, pembebas Andalusia
  8. Salahuddin al-Ayyubi, pembebas Baitul Maqdis
  9. Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel


Dari kesembilan jenderal muslim itu, saya tuliskan sedikit tentang dua di antaranya.


Pertama, Sa’ad bin Abi Waqqash, Panglima Perang Qidsyiah


Yang menarik dari Sa’ad bin Abi Waqqash ini adalah dia memeluk agama Islam saat usia belia, yaitu 17 tahun. Itulah sebagian berpendapat kalau beliau orang ketiga yang pertama memeluk agama Islam, tetapi ini masih diperdebatkan dan diperlukan kajian yang mendalam.

Dituliskan bahwa, ada tiga keistimewaan Sa’ad bin Abi Waqqash, yaitu: dia terkenal dengan kemakbulan doanya, dijamin masuk surga dan ahli memanah. 

Saat terjadi perang di daerah Qidsyiah, Khalifah Umar bin Khathab Ra memerintahkan kepada Sa’ad bin Abi Waqqash untuk memimpin pasukan kaum muslimin menuju negeri Persia melalui surat. Atas pertolongan Allah Swt, Sa’ad bin Abi Waqqash berhasil memenangkan peperangan itu.


Kedua, Abu Ubaidah bin Jarrah, Pembebas Negeri Syam


Abu Ubaidah dikenal sebagai seorang yang  zuhud terhadap dunia. Namun, sekalipun zuhud terhadap dunia, Abu Ubaidah adalah seorang pembela Islam yang tidak gentar dan kuat pendirian. Beliau adalah salah satu sahabat Nabi yang terang-terangan mengumumkan dirinya masuk Islam dan berdakwah secara terang-terangan di saat yang lainnya masih sembunyi-sembunyi pada waktu itu.

Berikut beberapa peperangan yang dilakukan Abu Ubaidah bersama Rasulullah.

  • Perang Badar
  • Perang Uhud
  • Pemimpin pasukan ke Dzil Qashash
  • Pemimpin pasukan al-Khabath
  • Perang Dzatus Salail
  • Peristiwa Fathu Makkah


Kehebatan kedua jenderal Islam ini tercatat dalam sejarah Islam dengan tinta emas. Bahwa, di zaman Rasulullah terdapat orang-orang kuat dan hebat yang tidak memedulikan keselamatannya demi membela agama Allah Swt. Karena itulah Islam berkembang sangat pesat hingga kini.

Tugas kita sekarang sebagai umat Islam adalah terus menjaga kesucian agama ini dengan menjadikan pribadi kita sebagai pribadi yang Islami. Sebab peperangan yang sesungguhnya adalah memerangi hawa nafsu. 


Demikian, semoga bermanfaat.


Makassar, 25 September 2022


Dawiah


READ MORE

Sepatutnya Kita Saling Mengenal

Saturday, September 10, 2022


 Sepatutnya Kita Saling Mengenal
 

Sudah 31 tahun saya menjadi ibu dan selama itu pula saya merasa sangat mengenal anak-anak saya. Kenyataannya sekadar tahu namanya saja, mengenal ciri-ciri fisiknya dan kebiasaan-kebiasaan masa kecilnya. Selebihnya, saya merasa mulai tidak mengenalinya.

 

Satu persatu anak-anak beranjak dewasa dan dalam proses pendewasaan itu mereka menemukan banyak hal baru yang tidak mereka dapatkan dalam keluarga. Mereka menemukan pengalaman-pengalaman baru, bertemu dengan orang-orang baru dan mulai bisa “melupakan” orang tuanya sekadar untuk bertanya, warna baju apa yang cocok dipakainya saat mau ke kondangan.

 

Sederhana, tetapi itu kadang menorehkan sedikit luka di hati. Luka yang seharusnya tidak boleh ada. Semacam goresan silet di kulit paling tipis di sudut-sudut kuku. Cukup dipijit, luka itu pun akan sembuh. 


Namun, jika terus-terusan tersileti maka luka bisa berhari-hari. Terlalu lebay, saya pikir, tetapi itulah yang terjadi di sudut hati ini manakala teringat masa kecil mereka. Masa-masa manis yang menghangatkan hati tatkala ingatan itu menyeruak. 

 

Saya mencoba menampik kerinduan akan masa itu. Ketika suami mengatakan kerinduannya, kutepis dengan kalimat, “mereka sudah besar, sudah tidak “membutuhkan” kita lagi. 


Beri mereka kesempatan melukis sendiri kanvas kehidupannya.” Nyatanya, saya pun memiliki rasa yang sama, saya hanya mencoba menghiburnya lebih tepatnya menghibur diri sendiri.

 

Kemarin suami bertanya, “apakah anakmu yang di luar pulau pernah menelponmu akhir-akhir ini?”


Dengan tegar kukatakan, “jangan repotkan mereka dengan minta dihubungi terus.”


Sembari berpikir, “iya yah, mereka tidak menghubungiku, apakah mereka telah lupa?”


Lalu saya tertawa, menertawakan pikiranku sendiri. 

Ia merangkulku sambil berkata, “hush,  cup … cup …cup.” 


Sebal kan? Dia tahu kalau tentang anak, saya sering berbohong, membohongi diri sendiri. 

 

Semalam saya terbangun, tiba-tiba ingatan saya kembali ke masa lalu. Saat pertama kali merasa bahwa nasihat orang tua adalah sesuatu yang menyiksa, merenggut kebebasanku dan mengekang pikiranku.

 

Kemudian di usia 25 tahun, bapak menyerahkan tanggung jawabnya atas diri saya  kepada orang yang baru dikenalnya, bukan keluarga, bukan kerabat, tetapi  yang beliau yakini bisa menjaga saya hingga akhir hayat.

 

Itu berarti hanya 25 tahun saya hidup bersama mereka dan hanya kurang lebih 17 tahun, saya bergantung kepada mereka, karena selebihnya, saya merasa memiliki kehidupan sendiri, pikiran sendiri dan lebih sering mengambil keputusan sendiri. 

 

Sekalipun begitu, saya masih seorang anak buat mereka. Masih sangat membutuhkan bapak dan mama di saat-saat genting dalam perjalanan kehidupan saya. Saat sedih, saat susah, sakit, hamil, melahirkan, menyusui dan sebagainya. 


Kata  “mamaaa..”  selalu spontan keluar dari bibir saya saat tersentak, kaget, kesakitan bahkan saat saya sangat bahagia.

 

Bapak sudah lama meninggal dan separuh hidupnya ia habiskan sebagai bapak buat anak-anaknya.  Saya pun meradang, kenapa dahulu saya kurang menghabiskan waktu bersamanya, padahal ia telah mengorbankan masa mudanya demi menciptakan kesenangan buat saya dan adik-adik.  

 

Saya meradang, kenapa tidak menggunakan waktu singkat itu untuk membuatnya bersenang-senang, kenapa kami tidak saling melepaskan tameng sebagai bapak dan anak lalu menghadirkan diri sebagai pribadi yang utuh lalu kami saling mengenal dan saling memahami satu sama lain agar dapat berbagi bahagia bukan sebagai anak dan bapak semata, melainkan sebagai manusia seutuhnya. 

 

Kenapa saya tidak memeluknya erat-erat, kenapa harus malu menelungkupkan wajah dalam pangkuannya sebagaimana dahulu sering saya lakukan ketika masih kecil. Ia telah pergi sebelum saya menyadarinya. Sudah terlambat.

 

Kesempatan itu sudah tidak ada lagi buat saya dan bapak, tetapi saya masih punya kesempatan buat mama, buat anak saya, suami saya, saudara-saudara saya dan semua orang yang ada dalam kehidupan saya.

 

Ibu saya sekarang berusia sekitar 82 tahun, itu karunia yang tidak semua orang miliki karena dengan begitu ia “terpaksa” menyaksikan segala perubahan pada anak-anaknya lengkap dengan konflik batin yang menyertainya. 


Diam-diam saya mengamatinya dan semakin menyadari kalau ia selalu kesepian. Ia hidup dengan kenangan-kenangan dan mungkin kenangan itu sudah tidak utuh lagi. 


Tak bisa disangkal, itulah konsekuensinya hidup lebih lama dan terpaksa berada dalam situasi seperti itu. 

 

Saya tidak kuasa mengubah situasi itu, sekalipun mau berjuang melakukannya.


Namun, setidaknya saya selalu berinteraksi dengannya dan merasa telah menempatkannya sebagai manusia seutuhnya. Ia adalah ibu saya, manusia yang memiliki cinta tertinggi saya selain suami dan anak-anak.

 

Pagi ini saya mencoba meyakinkan diri, bahwa kelak, entah kapan, saya pun akan berada di situasi ibu yang sekarang. Mungkin saya akan sendiri atau mungkin berdua dengan suami, yang pasti kami tidak tahu siapa di antara kami yang lebih dahulu terbebas dari rasa sepi itu. 

 

Apabila masa itu tiba, mungkin saya tidak bisa lagi menuliskannya sebagai bentuk pelampiasan seperti yang selama ini saya lakukan, karena itu saya menuliskannya sekarang.


Bukan meramal nasib, tetapi menyiapkan jiwa raga, karena saya yakin, masa itu pasti akan datang. Bukankah tanda-tandanya sudah mulai muncul sedikit demi sedikit? Bukankah itu peringatan buat diri ini untuk secepatnya berbenah dalam menata hati? 

 

Sejatinya kita saling memahami, bahwa kita adalah manusia seutuhnya tanpa tameng yang menutupi hal-hal baik dan indah dari sisi diri kita masing-masing. 


Bahwa, pada dasarnya manusia itu memiliki fitrah di dalam dirinya, saya, kamu dan semua yang ada di sekitar kita, masing-masing mengusung kefitraannya sendiri. 

 

Maka sudah sepatutnya kita saling mengenal, melepaskan topeng dan membangun kepercayaan diri bahwa, orang-orang di sekitar itu adalah baik, tergantung dari sudut pandang kamu menilainya.


Kalaupun ada yang jahat, maka kejahatannya itu bukan untuk kita, tetapi untuk dirinya sendiri. Mari berkontemplasi demi kesehatan jiwa raga kita.


 

Sekian

Makassar, 10 September 2022

 

Dawiah

 


READ MORE

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Name

Email *

Message *