Atur Sajalah!

Friday, May 13, 2022

 




Akhirnya harus mengalah lagi dengan virus yang masih meresahkan ini. Rencana keluar daerah untuk refresing tertunda lagi dan entah untuk berapa lama.

 

Mungkin setelah masa pensiun tiba di mana usia semakin sepuh dan tubuh semakin lemah atau tidak sama sekali hingga pikniknya pindah ke dunia lain. 

Eh, astagfirullah! Istigfar ah, hi-hi-hi.

 

Lucunya, hanya saya yang kesal sedangkan orang terdekat yang rencananya akan  menjadi teman terindah dalam perjalanan justru tenang-tenang saja malah terkesan lega dan senang.

Mungkin memang sejak awal tak menginginkan rencana jalan-jalan itu. 

 

Saya jadi merenung, kok bisa ya kami hidup bersama hingga puluhan tahun lamanya sedangkan sifat kami jauh berbeda. Bagaikan bumi dan langit. 

Bisa yah, kami merasa klop saja dan membina rumah tangga selama ini padahal misi visi hidup kami berbeda, hobbi kami berbeda, cita-cita berbeda bahkan sudut pandang terhadap satu hal atau masalah selalu berbeda. 

 

Seperti impian saya yang ingin liburan berdua ini sejak awal dia tampak tak bersemangat. Ada saja alasannya untuk menunda rencana itu, padahal itu impian saya sejak anak-anak sudah besar dan sudah aman ditinggalkan di rumah.

 

Setiap kali saya bertanya, kapan bisa jalan berdua maka dia dengan songongnya berkata untuk apa lagi jalan berdua, kita kan selalu berdua, di sekolah berdua, di rumah berdua bla..bla..bla… kan kesal, heuuu.

 

Lalu tiba-tiba terbersit dalam pikiran untuk pergi sendiri, mau kasi pelajaran buat dia bagaimana rasanya ditinggal liburan sama istrinya. 


Namun, saya kok tidak tega yah?

Saya memikirkan, bagaimana kalau tiba-tiba dia sakit?

Bagaimana kalau sakit lambungnya kambuh?

Siapa yang akan mengurus pakaiannya? Sekalipun saya jarang menyeterika, setidaknya sayalah yang selalu mengontrol pakaiannya, pakai baju ini, cuci pakaian salatnya karena sudah dua tiga kali dipakai, dan sebagainya.

 

Akhirnya saya tercenung. Ternyata saya tak bisa pergi jauh-jauh darinya, hahaha.

Maka rencana pergi jalan-jalan saya kubur untuk sementara.

Biarlah kami di rumah saja. Saling mengurus satu sama lain.

 

Masyaallah, dia sangat gembira. Terus dia bilang begini.

Di rumah maki saja di… saya bebaskanki tidak melakukan apa-apa. Mauki tidur-tiduran saja atau mau membaca semua buku-bukuta yang ada di lemari atau mau menulis seharian di laptopta, bebas!”

 

Walaupun sedikit kesal, tetapi bukan Dawiah namanya kalau tidak tahu menggunakan kesempatan. Maka saya ajukan syarat lain.

“Baiklah, tetapi saya mau beli buku baru.”

“Beli saja sebanyak yang dimaui, asal jangan ngomel kalau uang belanjanya habis yah.” 

“Tidaklah, kan bukan uang belanja yang akan saya pakai. Mau pakai uang-ta.”

Dia hanya mengangguk sambil meraih bahu saya. 

“Atur sajalah.” Katanya.

 

Maka persoalan jalan-jalanpun selesai untuk sementara.

Niat dan cita-cita jalan berdua masih saya pelihara dalam hati. Tinggal tunggu waktu yang tepat, lalu rencana itu saya ajukan lagi, heuu...tetap.

 

Begitu ada waktu, maka kesempatan beli buku saya gunakan sebaik-baiknya. Saya ke toko buku, rencananya mau beli buku yang banyak. Dasar jiwa hemat ala emak-emak saya masih ada, jadinya hanya beli tiga buku. 




Pulang dari toko buku, dia bertanya.

“Beli buku berapa?” 

“Tiga saja, padahal saya mau beli banyak.” Sedikit menyesal hanya beli tiga.

“Setelah ketiga buku ini tamat saya baca,  mauka beli lagi na…” 

Kalian tahu apa yang dia bilang?


“Atur sajalah!”

 

Auu ah ….

 

Catatan.

 

Tulisan di atas adalah  curhatan saya saja. Seperti biasa, saya senangnya menulis sesuatu yang remeh temeh seperti ini, hihihi.

Kata seorang mentor menulis, tidak apa-apa menulis yang ringan-ringan sesekali, nanti juga terbiasa akhirnya yang ringan bisa menjadi tulisan yang agak serius sedikit lalu nulis yang betul-betul serius.

 

By the way, tulisan yang serius itu seperti apa yah?

Bantu jawab di kolom komentar yah!

 

 

READ MORE

Cerita Pada Subuh Ramadan dan Hikmah Surat Luqman yang Tak Lekang Oleh Masa

Monday, April 25, 2022

  

 


Pada Subuh 24 Ramadan 1443 H, senang sekali rasanya membuka pintu pagar yang disambut dengan semilir angin yang sejuk, lalu berturut-turut pagar tetangga berderit dan muncul wajah-wajah yang tak asing dengan senyum dan anggukan kepala.


“Sendirian saja Bu Dawiah?”

“Iye, bapaknya anak-anak berangkat duluan.”

 

Percakapan  yang biasa dengan pertanyaan yang biasa pula, tetapi tak mengurangi rasa senang bertegur sapa dengan mereka. 


Hanya sekitar 200 meter dari rumah ke masjid sehingga bisa ditempuh dengan berjalan kaki, cukup dekat sebenarnya, tetapi setidaknya bisalah meregangkan otot-otot kaki apalagi berjalannya beriringan sama tetangga dengan tujuan yang sama.

 

Semakin dekat ke masjid semakin banyak tetangga yang dijumpai maka semakin ramailah suasana di subuh yang biasanya lengang ini. 


Setiba di dalam masjid, sajadah dihamparkan lalu proses perjuangan khusyuk salat sunatpun dimulai.


Harus berjuang khusyuk karena jika lengah sedikit, tengok kanan kiri, senyum kanan kiri maka biasanya berlanjut dengan bercakap-cakap. 

 

Usai salat subuh dan mengucapkan salam, sudah ada jamaah yang duduk di sebelah kanan dan sebelah kiri yang tersenyum lalu acara ngobrolpun dimulai.


Ngobrolnya bisik-bisik sih, tetapi cukup menghalangi suara ustaz yang sedang ceramah. Jangankan menyimak isi ceramah ustaz, suaranyapun nyaris tak terdengar. Heuuu, kebiasaan yang tak boleh ditiru.

 

Maafkan Pak Ustaz, kalau kami tidak ngobrol tipis-tipis, alamat kepala berayun ke kanan dan ke kiri atau tunduk sedalam-dalamnya hingga hampir menyentuh sajadah dan akan tersentak bangun saat jamah di sebelah menggamit paha. 


“Ngantuk ya Bu?”

“Bukan ngantuk lagi, tetapi tertidur sejenak, hihihi.”

 

Sekalipun berusaha menahan kantuk saat ceramah, tetapi pada saat salat, mata dan hati alhamdulillah masih awas kok.


Buktinya surat Luqman yang dibacakan imam nyaring terdengar dan tanpa disengaja kenangan tentang yang menyertai lantunan surat Luqman menyeruak ingatan ke masa-masa mengikuti pengkaderan IPM.

 

Bukan tanpa sebab kalau Surat Luqman ayat 12 hingga 23 selalu dibacakan dan diperdengarkan kepada peserta pengkaderan IPM pada malam terakhir  atau malam pembaitan. 

Melainkan ada nasihat dan hikmah di dalamnya yang diperdengarkan agar menjadi nasihat buat semuanya.

 

Baca juga tentang waktu, Demi Waktu di sini

READ MORE

DEMI WAKTU

Saturday, April 23, 2022


 

Hari ke 22 Ramadan 1443 H

 

Sejak bulan Syakban saya sudah berencana melakukan banyak hal untuk mengisi bulan Ramadan. Rencana itu saya tulis di kepala, heuuu.

 

Harusnya rencana-rencana itu saya tulis di buku atau di notes handpone agar tidak hilang begitu saja dan minimal sebagai pengingat kalau saya punya rencana ini dan itu. 

Maka apa yang awalnya saya anggap sepele dan begitu percaya diri bisa mengeksekusi semua rencana-rencana ternyata gagal.

Rencana itu terlupakan dan semua ide-ide ikut terlupakan.

 

Salah satu rencana dan sudah lama saya niatkan adalah mengaji dengan target menyelesaikan satu juz satu hari, bukan hanya selama dalam bulan Ramadan melainkan setiap hari.

 

Nyatanya, target itu tidak terpenuhi. Walaupun masih mengaji tetapi targetnya tidak terpenuhi. Bahkan hingga di sepuluh hari terakhir Ramadan, bacaan saya masih belum sesuai harapan.

 

 

Rencana kedua adalah saya mau menulis setiap hari yang diawali pada tanggal 1 Ramadan dan temanya sudah tergambar jelas. Hari pertama mau nulis ini itu, hari kedua tulis itu ini, hari ketiga mau bahas ini itu, tetapi sekali lagi saya gagal.

 

Namun, saya masih bisalah menghibur diri. Walaupun dua rencana utama belum terealisasi dengan baik, tetapi masih ada beberapa pekerjaan yang semula tidak direncanakan justru berhasil saya kerjakan.

 

Seperti setoran tulisan di KLIP yang masih terus berlanjut dan malam ini sudah masuk setoran ke-20. Itu berarti saya berhasil mengeksekusi 20 ide menjadi sebuah tulisan.

 

Ada lagi yang di luar rencana, tetapi tiba-tiba terbersit begitu saja, yaitu menulis buku materi pelajaran IPA dan alhamdulillah sudah masuk di Bab 2. 

Entah dari mana ilhamnya, saya merasa perlu menulis satu buku pelajaran sesuai mata pelajaran yang saya ampu sebagai kenang-kenangan kelak saat saya sudah pensiun.

 

Padahal sejak awal saya berniat menulis hal-hal yang berkaitan dengan bulan Ramadan. Kapan lagi kita menjumpai bulan yang penuh rahmat ini kan? 

Tahun depan belum tentu masih hidup dan bisa bertemu bulan Ramadan dan dalam keadaan sehat pula.

 

Namun, itulah manusia hanya bisa berencana, tetapi Allah Swt yang Maha Menentukan.

Mungkin Allah Swt mengarahkan saya untuk fokus menyelesaikan menulis buku materi pelajaran yang saya ampuh itu.


Tidak seharusnya menyalahkan keadaan apalagi takdir?

Yap betul.


Sebab tidak semua yang terjadi dalam hidup kita adalah karena takdir semata. Pasti ada kontribusi kita di dalamnya sehingga kita gagal atau berhasil.

 

Jika sudah mengupayakan dengan berbagai cara dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau berusaha mengeksekusi suatu rencana, kemudian hal itu tidak terjadi maka barulah kita bisa mengatakan, “saya sudah berjuang, tetapi Allah Swt belum menakdirkan hal itu terwujud.”

 

Namun, jika kita hanya berencana tanpa betul-betul berjuang mengusahakan agar rencana itu terealisasi maka jangan salahkan takdir. Salahkanlah diri yang perjuangannya hanya setengah-setengah dan tidak maksimal.

 

Seperti yang saya alami ini.

Saya tidak sepenuhnya berjuang mengusahan rencana-rencana itu, saya masih suka melakukan hal-hal di luar rencana, seperti keasyikan membaca buku, keasyikan mengintip media sosial atau berlama-lama mengobrol selepas salat subuh di masjid.

 

Kalau dihitung-hitung, berapa banyak waktu saya yang terbuang sia-sia. Sekalipun tidak semua yang dilakukan itu buruk, tetapi kesannya sia-sia karena tidak sesuai rencana awal.

 

Ah, seandainya semua rencana-rencana itu saya tuliskan besar-besar dan menyematkannya di dinding, mungkin saya lebih terarah.

 

Hari ini sudah masuk hari ke- 22  Ramadan 1443 H. Masih ada waktu untuk mengejar beberapa ketertinggalan dan sudah harus lebih fokus dalam beribadah agar Ramadan saya tidak berlalu begitu saja.

 

Biarlah ini menjadi tulisan pengingat diri agar esok saya lebih fokus dan lebih berhati-hati menggunakan waktu. 

 

Sebagaimana peringatan Allah Swt atas hamba-Nya yang sering merugi.

 

“Demi masa. Sungguh, manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Asr).

 

Peringatan buat diri yang hina ini, bahwa waktu manusia ada di dunia ini hanya Allah yang mengetahuinya, maka jangan sampai saya meragukannya.

 

“Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menetapkan ajal (kematianmu), dan batas waktu tertentu yang hanya diketahui oleh-Nya. Namun demikian kamu masih meragukannya.” (QS. A- An’am : 2).

 

Makassar, 23 April 2022 M

 

Dawiah

 

 

 

 

READ MORE

Hati-Hati dengan Hati

Monday, April 18, 2022


Hati-Hati dengan Hati



Cinta mati harus dijaga sampai mati. 

Jangan sampai ke lain hati.

Nanti jadinya patah hati.

Hati-hati menjaga hati.

 

Bacanya jangan pakai nada yah, wkwkwk

Ada yang ingat syair di atas? 

 

Yap, itu adalah sebagian syair lagu Cinta Mati, tetapi tulisan ini bukan tentang cinta yang mati atau cinta yang dijaga sampai mati apalagi tentang patah hati melainkan tentang hati-hati dengan hati.

 

Mengapa Hati Harus Dijaga?

 

Hati adalah sesuatu yang sangat penting. Hati merupakan tolok ukur kebaikan, ketenteraman, kedamaian dan hidup matinya seseorang.

 

Begitu istimewanya hati bagi manusia sehingga hati digambarkan dan dituliskan dalam Al-quran beberapa kali. Keadaan hati manusia dalam Al Qur’an diilustrasikan dalam beberapa hal, seperti  hati yang tenteram, hati yang bersih, hati yang buruk, hati yang keras bagai batu, dsb.

 

 "…. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram" (QS. Ar-Ra'd: 28).

 

Hati yang bersih hanya bisa didapatkan apabila beribadah dengan tulus.

 

“…. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS asy-Syu'ara':89).

 

Bagaimana dengan hati yang sakit?

Hati yang berpenyakit adalah akibat dari kebiasaan seseorang berdusta.

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu, dan mereka mendapat azab yang pedih karena mereka berdusta.” (QS. Al-Baqarah: 10).

Selain itu, ada hati yang gelap dan buruk disebabkan keengganan menerima kebenaran Ilahi. Hati ini diilustrasikan seperti kerasnya batu, bahkan lebih keras dari batu dalam QS Al Baqarah: 74.

Ada pula hati yang takabur dan sombong.

“Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), dan mereka adalah orang yang sombong.” (QS. An-Nahl: 22).

Maka bisa disimpulkan bahwa hati merupakan pusat komando perilaku hidup manusia. Jika hati manusia rusak maka rusaklah semua sendi-sendi kehidupan manusia.  

Sebagaimana yang dituliskan dalam hadis yang  diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim. 

“Sesungguhnya di dalam jasad  manusia terdapat segumpal darah. Jika rusak, maka rusaklah semua jasad manusia. Dan jika baik, maka baiklah semua jasad manusia. Segumpal darah itu adalah hati.” (HR Bukhari-Muslim).

 

Penyakit Hati

 

Dr. Syafiq Riza Basalamah dalam tauziahnya menjelaskan bahwa penyakit hati yang paling besar dan sangat berbahaya itu ada dua, yaitu:


Syirik kepada Allah, menyekutukan Allah Azza Wajallah. Ini adalah penyakit hati yang paling tinggi. Manusia dikasi akal, hati dan panca indra oleh Allah tetapi menyembah batu dan berhala, maka bisa dipastikan orangnya sehat, tetapi hatinya yang sakit. 


Iri, dengki dan sombong. Penyakit hati lain yang juga tinggi adalah iri, dengki dan sombong. Ingatlah kisah Iblis yang tak mau menuruti perintah Allah Swt untuk bersujud kepada nabi Adam as karena merasa lebih baik, lebih istimewa fisiknya sehingga merasa tak pantas bersujud. Iblis hasad kepada nabi Adam as. 


Dijelaskan lebih jauh, bahwa hati itu terdiri atas tiga macam, yaitu:


Hati yang Sehat

Yaitu, hati yang selamat dari segala macam penyakit syahwat dan syubhat.


Hati yang Sakit

Hati yang sakit adalah hati yang kadangkala menuruti syahwat dan syubhat, tetapi kadangkala tidak sehingga hati yang sakit masih bisa diobati selama mau berusaha dan berjuang.


Hati yang Mati


Hati yang mati adalah hati  yang tidak mengenal Allah, tidak beribadah kepada Allah  bahkan menyekutukan Allah dan mengikuti syahwat perutnya dan di bawah perutnya. Sehingga bisa juga dikategorikan mereka  tak punya hati.


“Dan sungguh, akan Kami isi neraka jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)…..Mereka seperti hewan ternak…..(QS. Al- Araf: 179).

Manusia yang mati hatinya itu bagaikan binatang ternak bahkan bagai hewan tak berguna.

 

Bagaimana Menjadikan Hati Kita Bersih?

 

Manusia bisa menjadikan hatinya tidak lagi diperbudak oleh syahwat sebab manusia bisa mengontrol syahwatnya buktinya manusia bisa berpuasa.  Hati manusia bisa bersih dari segala macam penyakit dengan cara mengontrol syahwat kita. 

Apa saja yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan hati yang bersih?


Ikhlas

 Tatkala kita beramal maka jagalah hati agar ikhlas. Niatkan ikhlas Lillahi Taala. Mumpung bulan Ramadan, di mana hampir semua elemen melakukan kebaikan, seperti berpuasa, sedekah dan segala kebaikan lainnya. Maka niatkanlah dengan ikhlas. Berharap pahala dari Allah Swt bukan berharap sanjungan dari manusia.

 

Ridho


Ridholah dengan apapun yang diberikan oleh Allah. Ridholah atas apa yang didapatkan. Tempatnya ridho adanya di hati. Tidak ada iri melihat orang-orang di sekitarnya. 


Pandai-pandailah bersyukur, selalu memandang orang-orang “dibawahmu” agar selalu bersyukur dan tidak meremehkan orang-orang yang berada di bawahmu, baik dari segi harta maupun jabatan dan apapun yang melekat di dirinya.


 

Membaca Al-Qur’an

 

Al Quran adalah obat dari segala penyakit hati. Dengan  membaca alquran dan mentadaburrinya maka penyakit hati bisa dihindari.


Dalam Surat Yunus ayat 57, diingatkan bahwa Al quran datang kepada manusia sebagai pelajaran dan penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada serta petunjuk dan rahmat bagi orang yang beriman.


Kita semua perlu menjaga dan mengobati hati kita dengan membaca Al quran sebab di situ ada petunjuk, rahmat dan penyembuh. Al-Quran adalah qalamullah.


 

Semua Akan Dihisab

 

Agar hati kita bersih, maka selalu mengingat bahwa semua akan dihisab. 

Segala hal yang kita miliki, kita alami kelak akan dihisab di hari perhitungan.

Apapun yang dilakukan akan dimintai pertanggungjawaban. Amalan baik baik dan buruk akan diberi balasan.

 

 

Berdoa

 

Hati sifatnya elastis, gampang dibolak-balikkan oleh setan, karena itu mintalah kepada Allah agar hati kita tetap kepada-Nya. Berdoalah agar hati ditetapkan dalam keimanan.

 

“Robbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da iz hadaitanaa wa hablanaa mil ladungka rohma, innaka angtal-wahhaab.”

Artinya:


"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-MU, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS Ali-Imran:8).

 

“Ya Muqalabbal qulub tsabbat qalbi ‘alaa diinik.”


Artinya:


“Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu).  (HR.Tirmidzi no 3522, Ahmad no 302, 315).

 

 
Bersedekah

 

Sedekah adalah bukti kita beriman agar hati kita selamat dan dicintai oleh Allah Swt. Jika cinta-Nya Allah telah kita miliki maka yakinlah ketenangan dan ketenteraman hati akan datang.


 
Berbaik Sangka Sama Saudara

 

Selalu berbaik sangka adalah salah satu kunci agar hati kita bersih, tenang dan damai. Sebaliknya jika ada syakwasangka, keragu-raguan atas perbuatan buruk saudara kita terhadap kita maka hati tak akan tenang. 

Selalu muncul rasa curiga yang berakibat terjadinya kegundahan, kegelisahan dan hati menjadi tidak bersih.


 

Menyebarkan Salam


Menyebarluaskan salam adalah menyebarluaskan kedamaian dan keselamatan, sebagaimana makna dari kalimat 

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.”

"Semoga Allah memberikan kedamaian (kesejahteraan), merahmati serta keberkahan kepada kalian semua.”


 

 Tersenyum


Hendaklah tersenyum kepada saudara-saudara kita sebab senyum adalah sedekah.


“Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu.” (HR Tirmidzi).

 

 

Jangan Bertanya Yang Tidak Perlu


Tidak perlulah bertanya-tanya tentang sesuatu kepada saudaramu. Istilah sekarang, jangan kepo. Hal itu tak akan menambah pahalamu malahan akan merusak hatimu.


 

Mencintai Kebaikan


Tak  beriman seorang muslim sebelum mencintai saudaranya. Arahkan hati kita untuk selalu mendekati dan mencintai kebaikan agar hati kita senantiasa bersih dan sehat.

 



Penutup

 

Manusia yang paling baik adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Sebagaimana hadis Rasulullah SAW,


“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ath-Thabrani, Al-Mu’jam al-Ausath, juz VII, hal. 58, dari Jabir bin Abdullah r.a).

 

Siapakah dia?

Apakah seseorang yang berprofesi dokter? Karena dokter membantu menyembuhkan orang bahkan membantu menyelamatkan orang dari maut.

 

Menurut DR. Syafiq Riza Basalamah, manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain saja tidak cukup, kalau tak menghadirkan hati di dalamnya maka sia-sia. 

Setiap kebaikan dan kebermanfaatan manusia bergantung kepada ketulusan hatinya.

Sebesar apapun manfaat kita terhadap orang lain jika hati tak dihadirkan dalam setiap perbuatannya maka akan menjadi sia-sia.

 

Semoga di pertengahan Ramadan 1443 H ini, hati kita senantiasa disinari dengan sifat-sifat, ikhlas, ridho, mencintai kebaikan, selalu tersenyum, menebarkan salam, bersedekah, selalu berbaik sangka kepada saudara, rajin bersedekah, mencintai kebaikan dan tidak  bertanya sesuatu yang tidak perlu kepada saudara, serta selalu berdoa agar ditetapkan dalam keimanan Islam.

Sebagaimana Rasulullah Saw yang  selalu bermunajat kepada Allah, 

"Ya Allah terangilah hati-hati kami dengan cahaya petunjuk-Mu, seperti Engkau menyinari alam semesta ini selamanya dengan sang surya dan rahmat-Mu."

 

Makassar, 18 April 2022

Dawiah

 

READ MORE

Rumah Kenangan

Thursday, April 14, 2022



 

Akhirnya rumah pertama yang kami miliki menjadi kenangan terindah. Setelah puluhan tahun menjadi milik kami dan sempat menempatinya selama kurang lebih 7 tahun.



Kenangan Indah di Rumah Sederhana


Rumah itu menjadi tempat tumbuh kembangnya anak-anak saya. Menjadi saksi lahirnya cerita-cerita masa kecil mereka, tempat keempat putra saya bermain dan berbagi kebahagiaan, juga berbagi makanan manakala saya dan suami pergi mengajar dan hanya meninggalkan nasi tanpa lauk. Lauknya beli di tetangga dengan porsi yang sama.

 

Si sulung yang tanpa diajari langsung tampil menjadi pemimpin untuk adik-adiknya. Membuat jadwal kerja mulai dari menyapu, mengepel hingga mencuci piring lalu mengatur porsi lauk sesuai kebutuhan. 

Si-putra kedua yang paling bongsor selalu mendapatkan jatah lebih, sesuai ukuran tubuh dan putra keempat yang sabar menerima jatah lauk terakhir.

 

Di rumah itu pula saya belajar menjadi ibu yang sesungguhnya tanpa bantuan mama saya yang selalu sigap membantu tanpa diminta.

Berbeda dengan keempat kakaknya yang sejak lahir sudah diurus dengan sangat baik oleh mama saya. Nabila yang lahir saat saya sudah tinggal terpisah dengan mama, menjadi ajang uji nyali saya merawat bayi. 


Masyaallah, alhamdulillah naluri keibuan saya semakin terpancar nyata. 

Yeeah, saya bisa memandikan bayi dan mengurusnya hingga bisa mandi sendiri. Suatu prestasi yang luar biasa buat saya yang terbiasa didampingi oleh mama dan adik-adik saya.

 

Prestasi lainnya, saya sudah bisa masak berbagai jenis makanan. Dengan bermodalkan resep di majalah atau di koran, saya bebas mengeksekusi bahan makanan menjadi makanan lezat, setidaknya lezat di lidah anak-anak yang dibuktikan dengan makanan yang dilahap tak bersisa.


Walau kadang ada bisik-bisik, “kita habisi karena tak ada lauk lain.” Hahaha.

 

Kenangan yang tak kalah syahdunya adalah suara masjid yang berada tepat di belakang rumah. Panggilan salat yang dikumandangkan lima kali sehari menjadi seruan syahdu nan indah sekaligus menjadi pengingat buat keempat putra saya untuk salat berjamaah di masjid.

 

Para tetangga kadang bertanya, “itu anak-anaknya dikasi makan apa sehingga setiap mendengar azan otomatis beranjak ke masjid, sekalipun lagi asyik-asyiknya bermain?”


Seingat saya, makanan mereka tetap nasi dan lauk seadanya. Hanya saja ada si sulung yang berwibawa mengajak adik-adiknya segera lari ke masjid untuk salat.

 

Saya dan suami bukan orang tua yang keras dalam mendidik, tetapi tidak lembut-lembut amat. Cukuplah kami memberi contoh terutama bapaknya yang tidak banyak bicara, tetapi langsung bertindak dan memperlihatkan contoh. 

 

Di rumah seluas 6 kali 15 meter itu juga tempat saya pertama kalinya belajar berdagang. Mencoba peruntungan membuka toko obat dan kosmetik yang bergantian kami tunggui.

 

Kadang barangnya habis, tetapi uangnya tidak ada. Setelah memeriksa pencatatan, ternyata ada pengeluaran yang tak terduga yang dicatat secara bergantian oleh anak-anak. 


Kadang tertulis, “beli tambahan lauk, karena lauknya dihabiskan oleh kakak Ical.”

Atau tercatat, “beli kelereng untuk gantikan kelerengnya Uci yang habis kalah bermain.”



Gagal Menjadi Juragan Kontrakan



Seiring dengan waktu, satu persatu anak-anak pindah ke rumah lainnya  di “kota” untuk melanjutkan pendidikan. Tinggallah saya dan si sulung yang bertahan dalam kesunyian.

Bapaknya lebih banyak menginap di kota dengan alasan mendampingi anak-anaknya.

 

Memang kalau dihitung, jumlah anak lebih banyak yang tinggal di kota dan kembali “merepotkan” mama saya. Sebab itulah bapaknya beralasan untuk mengurus sendiri anak-anaknya, sekalipun kenyataannya, dia sendiri menumpang makan minum di rumah mama saya.

 

Di ujung keputusasaan, saya akhirnya mengalah dan membujuk si sulung untuk sekalian pindah dan berkumpul dengan bapak dan adik-adiknya. 


Rumah yang sedianya adalah rumah kontrakan dengan harapan, kelak kalau kami pensiun rumah itu akan menjadi sumber penghasilan tambahan.

Lumayanlah, ada lima petak dan kalau disulap bisa menjadi 10 kamar.


Rumah yang sedianya dikontrakan, satu persatu diubah menjadi rumah tempat tinggal keluarga kami. Satu persatu tembok dirubuhkan, kamar mandi diratakan dan tangga disingkirkan.


Lalu impian memiliki rumah sepuluh pintu pupuslah sudah. Sudah pasti saya gagal menjadi juragan kontrakan.


 

Lumayan juga kerugian material yang kami alami.

Namun, saat itu yang paling penting bagi saya adalah berkumpul lagi dengan keluarga. Pasti itulah jalan rezeki keluarga kami yang telah tertulis di Lauhul mahfuz. 

Bahwa, saya tak ditakdirkan menjadi juragan kontrakan, wkwkwk.

 


Selamat Tinggal Rumah Kenangan



Akhirnya kami betul-betul bersatu dan rumah kenangan itu menjadi kosong dan tidak terurus. 

 

Ibarat pacar yang tak digubris, lama-lama juga akan terlupakan. Seperti itulah nasibnya rumah kenangan itu. Saya melupakannya atau lebih tepatnya saya memaksa diri melupakannya.


Hingga suami mengusulkan untuk menjual saja rumah itu. Daripada kosong katanya, nanti menjadi rumah tempat berpestanya para jin dan dedemit. 

 

Namun, rupanya menjual rumah tak semudah menjual jalangkote. 

Bisa dijajakan keliling lorong hingga masuk ke kompleks perumahan mewah atau sekadar di pajang di toko kue bergengsi, karena peminat jalangkote tak memandang starata. 

 

Cukup lama “menjajakannya” kurang lebih 4 tahun. Banyak yang berminat, tapi tak banyak yang siap dengan harganya. 

Ada yang menawar  tidak pakai hati, ada yang menawar pakai hati, tetapi tak punya jantung ada pula yang menawar tidak pakai otak.

Barangkali otaknya disimpan di dengkul.

 

Ada juga yang menawar dengan ancaman kalau rumah itu sudah tak layak disebut rumah, jadi harganya hanya senilai dengan harga tanah.

Mungkin jenis orang yang menawar ini penderita rabun senja sehingga bangunannya  tak terlihat.

Maka maklumilah kalau saya selalu kesal setiap kali ada yang menghubungi dan bertanya-tanya tentang rumah itu.

 

Itu pula sebabnya di papan pengumuman, nomor yang bisa dihubungi adalah nomor handponenya suami.


Saya tak cukup sabar ditelepon oleh calon pembeli atau oleh orang yang pura-pura mau beli, tetapi ujung-ujungnya hanya mau membantu menjualkan alias makelar tanpa modal. 

Cukup modal ludah yang berbusa-busa lalu menawarkan sana sini. 

 

Saya sebagai pemilik yang memiliki ikatan cinta yang kuat dengan rumah itu tak bisa tabah menghadapi calon pembeli yang aneh-aneh.

 

Hari ini, rumah itu benar-benar telah menjadi kenangan yang abadi buat saya dan mungkin anak-anak. Seperti kata  Kang Mamang.

"Ada nama yang abadi di hati, tapi tak bisa dinikahi.” Eh.

 

Ada rumah kenangan, tapi tak bisa dimiliki. Cukuplah menjadi cerita, bahwa dahulu kita pernah memiliki rumah mungil type SSS (Sangat Sederhana Sekali). 

Namun, kenangannya tak sesederhana itu.

 

Kata si sulung, 

janganki sedih na mama kehilangan rumahta, nanti insyaallah ada gantinya.”

 

Ah, kenapa jadi mewek, hiks.

 

Bagaimanapun bentukmu nanti di tangan pemilik baru, kamu akan tetap menjadi rumah kenangan terindah dalam ingatan kami. 

Baik-baik ya sama pemilik barumu. Perlakukanlah dia seperti kamu memperlakukan kami dulu, selalu baik dan memberi aura positif.


Makassar, 14 April 2022


Dawiah



 

 

 

 

 

READ MORE

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Name

Email *

Message *