Menulis Bebas Bisa Menghalau Writer’s Block

Wednesday, October 13, 2021







Sudah beberapa hari ini saya tidak berniat menulis apalagi posting di blog.

Ide sih ada saja yang muncul di kepala, tetapi saya acuh tak acuh dan malahan asyik membaca cerita fiksi di aplikasi membaca online.

Anehnya, saya mengeluhkan ke teman tentang kemandekan menulis saya itu. Bilang tak ada idelah, lagi bad mood lah, lagi sibuk dengan kerjaan sekolah, lagi pelatihan dan sebagainya.

Lucu kan?

Kalau dipikir-pikir, sepertinya saya memang lagi berada di suasana hati yang buruk. 

Ini untuk urusan menulis, apa lagi ya namanya? Istilah bahasa Inggris soalnya dan saya rada-rada deh kalau urusannya istilah dalam bahasa asing.

Oh ya, writer’s block!

Baru ingat saya. Itu tuh keadaan di mana penulis mengalami kebuntuan dalam menulis. 

Psst, dibisikin sama Om Google yang baik hati dan tidak pelit ilmu.

Katanya lagi, orang yang mengalami writer’s block biasanya dipicu oleh beberapa hal, antara lain.

  • Penulis melakukan riset yang lama sehingga idenya tidak jalan.
  • Takut tulisannya dikritik. Ini nih tidak siap mentalnya.
  • Terlalu perfeksionis, ingin menghasilkan tulisan yang sempurna.

Lah, terus saya berada di level mana?

Pertama, saya tidak sedang meriset untuk tulisan di blog pribadi saya. Ada sih tulisan saya yang mandek karena persoalan riset. Itu tuh naskah fiksi yang pernah saya ikutkan di tantangan menulis di facebook jadi buku. Ada yang ingat nda?

Tidak yah? Yah sudah wkwkwk.

 

Kedua, saya tidak pernah takut dikritik kok. Kritik saja tulisan saya. Saya siap dan berterima kasih. Bukankah itu tambahan ilmu buat saya? Malahan merasa tersanjung, karena itu berarti tulisan saya dibaca dengan sepenuh hati, bukan sekedar menggugurkan kewajiban ngebewe, hahaha.

Hayoo, ada yang tersinggung perkara blog walking ini?


Ketiga, saya tidak perfeksionis. Bagi saya tidak ada manusia yang sempurna termasuk tulisan. Kan, yang sempurna itu hanya Yang Maha Sempurna itu sendiri. Makanya saya percaya diri saja menulis dan posting di blog, bahkan saya percaya diri menarsiskannya di semua media sosial saya, wkwkwk.

Lalu kenapa saya mengalami kemandekan menulis?

Apa? Jawablah Ferguzo!

Yah, sudahlah. Lupakanlah penyebabnya. Lebih baik kita cari saja solusinya. Tidak baik loh, seorang yang mengaku-ngaku penulis tetapi tidak menulis kayak saya.

Ngaku penulis, tapi tidak ada tulisannya

Ngaku bloger, tetapi blognya berisi sarang laba-laba bahkan ada yang sudah lupa kunci blognya ditaruh di mana.

Untungnya saya belum sampai di level itu. Blog saya masih aman, laba-labanya masih enggan bercokol lama-lama di sana. Lah saya rajin membersihkannya kok.

Apalagi kunci untuk membuka buka blog utama saya, masih aman. Setiap hari saya buka, minimal mengecek, kapan terakhir saya posting.

Bahkan tahun ini berhasil menerbitkan dua buku non fiksi, sekalipun buku antologi. 

Tidak apa-apa kan? Antologi itu juga buku kok. Tenang saja, masih bisa dipamerkan di media sosial. Ha-ha-ha. Dawiah emang begitu orangnya.


Kembali ke solusi agar tidak kelamaan mandek menulisnya.

Sekali lagi Om Google menjadi ujung tombak saya dalam mencari jawabannya, yaah minimal dapat informasi tentang cara menghentikan writer’s block dalam jiwa saya yang mulai rapuh.

Ih, apa seeh…

Dari berbagai sumber yang ditampilkan oleh si Om yang tak pelit ilmu itu saya mendapatkan beberapa caranya.

Mau bilang terima kasih dulu sama si Om ah, I love you tallu cabbu Om Google! Mmuahhh!!

Apa katanya Om Google?


Membaca Buku dan Mencari Inspirasi di Media Sosial


Yang ini sih sudah saya lakukan. Membaca buku hingga tamat. Bahkan saking asyiknya saya membaca hingga lupa menulis.

Terus buka media sosial. Ini apa lagi, makin buntu. Yang ada, saya malah keasyikan membuka-buka semua media sosial. Mulai dari grup WhatsApp, baca-baca kirimannya anggota grup terus ke Facebook, pindah ke Instagram terusss hingga nontonin orang masak-masak di Tiktok.

Kurang apa lagi coba?

Jika kalian mengalami hal yang sama, jangan mencontoh saya ya.

Tidak baik.

Siapa tahu, kalian menemukan ide dan makin lancar menulis setelah membaca dan membuka media sosial. Iya kan?

 

Berolahraga Ringan

 

Katanya, sehabis olahraga biasanya badan segar dan pikiran kembali jernih.

Ok, saya lakukan!

Saya jalan-jalan sore dong di mal, lanjut jajan hamburger (kata driver tercinta, tak sahih jalan di mal tanpa makan) Bhahaha.

Woii, saya salah dalam menginterpretasikan olahraga. Bukan begitu yang namanya olahraga. Makanya saya gagal total.

 

Ingat Motivasi Menulis

 

Cobalah ingat-ingat lagi motivasimu menulis. Biasanya ampuh tuh untuk membangkitkan semangat menulis kita. Ini masih saran dari si Mbah.

Apa yah motivasi menulis saya?

Dahulu sebelum merasakan nikmatnya dapat transferan hasil menulis, motivasi saya adalah mencurahkan isi hati. Sayangnya saat ini, tidak semua curahan hati bisa dituangkan.

Masa iya saya curhat tentang Ayangbeb yang kian hari kian manja. Maunya disiapkan sarapan yang lengkap lauknya. Ada sayur bening kesukaannya, ada ikan masak kuning dan sambal tomat.

Ih, tidak asyik sekali kan dituliskan? 

Kalau sifat manjanya muncul, saya tidak perlu tulis di blog, cukup mengirim link tiktok yang berisi pesan yang isinya seperti ini.

“Kalau kamu mengharapkan istrimu punya penghasilan maka bersiaplah dia tak bisa 100% mengurus rumah tangga. Kalau kamu mengharapkan istrimu mengurus rumah tanggamu secara penuh, maka kamu harus bersiap memiliki penghasilan yang lebih banyak, sebab istrimu tak bisa membantumu. Berkacalah! Setampan apakah kamu, sekaya apakah kamu? Sudah sempurnahkah kamu?”

Daaaan, saya sukses membuatnya terpaku. LOL.

Ingat! Ini jangan dicontoh. Terutama yang baru membina rumah tangga, bisa perang dunia kalian.  Hahaha.

Motivasi saya menulis lainnya adalah ingin mendapatkan cuan. 

Cuan darimana coba? Lah, kemarin saya dapat job menulis, saya tolak. Tidak sesuai dengan hati nurani.

Oh yah, ada sih pesanan artikel, sudah disetujui jumlah payment nya, tiga artikel sekaligus, tetapi belum ada brief nya. Kalau briefnya sudah ada, produknya sudah datang kan enak tuh. Langsung, cuss nulis!

Apa lagi yah cara menghalau writer’s block?

 

Menulis Bebas


Nah, ini masih kata Om Google. Katanya menulis bebas itu bisa memancing otak kita untuk menggali kata-kata yang sebenarnya sudah ada dalam memori. 

Benarkah itu?

Baiklah, saya menulis bebas saja. Saya mau menulis apa saja yang ada di pikiran saya. Apaaaa saja.

Termasuk tulisan ini.

Ih, ternyata sudah lebih 900 kata tanpa saya sadari. Terima kasih Om Google. selanjutnya saya posting di blog ah.

Terima kasih kalian sahabatku sudah meluangkan waktunya membaca tulisan bebas saya. Sampai jumpa dengan tulisan saya yang lebih terarah dan berbobot.

By the way, tulisan ini judulnya apa yah?

Ini saja kali, “Menulis Bebas Bisa Menghalau writer’s block.

Bisa juga nih kalian baca-baca tentang Rahasia Menulis di Blog. Ihsss, gaya juga ya saya, sok-sok kasi nasihat tentang menulis, padahal sering mandek juga. Ha-ha-ha.

 

Makassar, 13 Oktober 2021

Dawiah

READ MORE

JEJAK

Tuesday, September 21, 2021

 




Setiap kaki melangkah selalu ada jejak yang ditinggalkan. Di manapun kaki menjejak, lama atau sekejap tetap saja meninggalkan jejak.

Demikian dalam hidup kita. Sesingkat apapun kita hidup pasti ada jejak yang berkesan untuk orang-orang di sekeliling  atau setidaknya untuk orang yang pernah mengenal diri kita.

Apakah kesannya buruk atau baik, tergantung jejak apa yang ditinggalkan.

Maka senja ini saya menulis ini sebagai salah satu jejak yang akan saya tinggalkan buat siapapun yang membacanya. Semoga saja jejak ini memberi kesan baik.

 

Celoteh Senja

 

Setelah sekian lama tak ke mall lebih tepatnya ke Gramedia, akhirnya saya berkunjung jua. Demi apa coba Kalau bukan demi menuntaskan rasa kangen dengan aroma buku dan wanginya roti  Bread Talk.

Eh, bicara-bicara, kenapa ya kalau masuk mall kita selalu disambut dengan aromah makanan yang mengundang selera. Apa memang begitu cara marketingnya?

Ini kenapa larinya ke makanan, wkwkwk.

Jadi, yang mau saya celotehkan sebenarnya adalah keterkejutanku melihat perubahan diri dalam kamera.

Ceritanya saat saya ke Mall Ratu Indah Makassar (MARI) ada dua keinginan yang sudah lama terpendam yang akan saya tuntaskan hari itu, yaitu berkunjung ke Gramedia dan makan burger.

Menyusuri setiap lorong Gramedia serasa berada di tempat yang menyuguhkan keindahan. Senang saja rasanya melihat deretan buku dari berbagai jenis.

Hingga saya tiba di suatu area di mana saya menemukan buku #HidupKadangBegitu karya Gus Nadir & Kang Maman.

Wuih, harus diabadikan ini.

Seperti biasa jika ke Mall ada semacam kewajiban untuk mengambil gambar sebagai bukti kalau saya sudah ke Mall apalagi kalau ke toko buku. Merasa keren saja begitu, hahaha.

Oh yah, ini adalah sisi lain dari diri saya yang tak perlu dirahasiakan. Narsis lewat pose, wkwkwk. Tetapi bukan pengertian narsis yang sebenarnya ya.

Jadi arti narsis sebenarnya itu yang bagaimana? Berselancarlah, maka Mba Google akan menjawabnya.

Kembali ke kenarsisan saya.

Maka sibuklah si anak ganteng motret emaknya yang tidak tahu diri ini. Cekrek gaya begitu. Ganti gaya, cekrek lagi dan lagi. Setiap satu kali cekrek saya lihat hasilnya. Ah, kurang bagus. Cekrek lagi. Lihat lagi, cekrek lagi sampai muka si tukang motret cemberut.

Rupanya ada yang beda pada foto-foto saya itu. Pipi saya makin cubby. Ini pasti sudut pengambilan motretnya yang tidak bagus. Setelah puluhan kali pengambilan gambar dan saya bergaya bagai foto model, hasilnya sama saja.



Diambil dari sisi manapun tetap nampak tembemnya?

Apakah ini efek peningkatan massa otot pipi?

Tapi dilihat-lihat, bukan hanya pipi. Perut, paha, dan semuanya makin tak berbentuk.

Duhai jiwa yang mulai rapuh!

Kemana badan langsing bagai gitar terbalik yang dahulu dibanggakan?

Kemana kulit kencang, mulus bak bulan purnama dilihat dari bumi?

Kalau dilihat dekat, tuh bulan kan tidak ada mulus-mulusnya.

Sejenak kemudian saya tersadar.

Astagfirullah!

Ternyata badan ini sudah senja. Sebentar lagi malam lalu gelap dan tiada.

Wah, harus makin kencang nih bertobatnya terutama ibadah. Harus makin berjuang nih perbaiki pikiran, hati dan semuanya.

Makin jaga silaturahim, makin perbaiki ucapan, sikap dan tulisan.

Biar tidak meninggalkan jejak buruk.

Terima kasih sudah memotret yang berujung kata istigfar. Untungnya anaknya sabar, hihihi.

 

Celoteh Pagi

 

Saya mengikuti dua pelatihan daring sekaligus?

Masyaallah!

Ternyata selain suka narsis, sisi lain dari jiwa saya adalah selalu mau eksis. Minimal dikenal oleh dunia pendidikan kalau saya ini adalah  guru yang selalu mau belajar, iya kan?

Eh, tidak ding.

Itu faktor kebetulan saja. Iseng-iseng daftar, eh lolos. Padahal saya berharap tidak lolos. Padahal saya pikir tidak lolos karena faktor usia. Berdasarkan pengalaman waktu daftar jadi guru penggerak. Saya gagal alias ditolak karena ada pembatasan usia.

 

Baiklah.

Kita lihat saja, apakah guru yang sudah banyak umurnya seperti saya ini bisa bersinergi dengan guru yang masih sedikit umurnya?

Usia boleh berkurang, tetapi semangat jangan biarkan surut.

Nah, kalian yang masih muda bisa nih menjadikan saya dan yang seumuran saya sebagai sumber motivasi diri.

Bisikin hatinya lalu katakan.

"Masa sih saya kalah semangat sama yang sudah banyak umurnya?"

Kamu tahu ndak?

Pagi akan selalu berterima kasih kepada senja. Malampun demikian. Sebab jika senja tak mau beranjak maka malam tak akan bisa eksis apalagi pagi.

Itu perumpaan yang ngaco sih.

Pagi, senja dan malam kan aturan yang pasti yang telah diatur oleh Yang Maha Pengatur, tetapi tak apalah dianggap benar. Toh perumpaan itu sendiri tak pernah protes.

 

Celoteh Pagi Part 2

 

Apa yang ada di pikiranmu saat melihat orang lain sukses dalam kariernya?

"Ah, dia pantas sukses karena memiliki privilege dari orang tuanya."

"Orang tuanya kaya sih, makanya gampang mengakses jalan menuju kesuksesan."

"Pantaslah ia sukses, sudah turunan dari sononya."

 

Tahukah kalian?

Kalimat-kalimat itu cenderung menyurutkan semangat juangmu.

Memandang rendah dirimu sendiri dan tidak meninggikan keluargamu bahkan tidak menghargai usaha orang tuamu.

Giliran melihat orang dari kalangan tak mampu meraih kesuksesan, barulah berpikir.  "Dia memang pekerja keras, tekun dan selalu bersemangat."

Bahkan ada yang tega mengatakan, ah  itu hanya faktor kebetulan semata.

Pada dasarnya setiap manusia telah memiliki privelege sejak ia lahir.

Begitu matanya melihat dunia, maka saat itu ia telah diberikan hak istimewa oleh Allah Swt.  Hak istimewa untuk hidup dan berjuang sampai menutup mata selamanya.  Hanya manusia sering ngeyel. Maunya menang sendiri lalu menantang takdir. Padahal sejak awal kita sudah diberi akal dan hati untuk digunakan mengelola kehidupan kita.

 

Mau jadi apa?

Mau melakukan apa?

Mau bagaimana?

Tergantung niat, usaha dan zona kita masing-masing.

Sebab manusia memiliki zonanya masing-masing tergantung takdir yang Allah Swt tetapkan.  Namun, jangan selalu menyalahkan takdir atau menjadikannya alasan untuk sebuah kegagalan maupun keterpurukan.

"Sudah takdirku jadi orang gagal.

Saya maunya jadi orang baik, tetapi takdir membawaku jadi orang tidak baik"

 

Hello, sebelum keadaan buruk menimpa, apakah kita sudah berusaha yang keras, berdoa yang kencang, apakah prosesnya sudah dijalani dengan baik?

Jangan-jangan kita memang pemalas. Setiap mendapatkan kesempatan  disia-siakan.  Atau jangan-jangan selalu abai. Setiap mendapatkan pekerjaan selalu menundanya bahkan diacuhkannya.

Mendahulukan keluhan daripada aksi. Makanya kurang dipercaya, kurang dihargai, kurang diperhitungkan dsb.  

Cobalah bekerja dengan baik, rajin dan tekun.Setelah itu barulah menyerahkan hasilnya kepada takdir.

Sebab kita kan tidak bisa mengintip Lauhul Mahfudz sehingga tidak bisa mendapatkan bocoran tentang takdir kita.


Hikmah Celoteh

 

Tulisan yang saya sebutkan sebagai celoteh merupakan pikiran-pikiran saya yang timbul setiap kali berada di suatu tempat atau sedang melakukan sesuatu, bertemu dengan sia, berbicara dengan siapa dan apa saja yang saya alami.

Sungguh tak elok  mendapati tulisan terukir tanpa makna. Olehnya itu saya mencoba mengambil hikmah atas semua yang terjadi pada saya dari sudut pandang saya sebagai muslimah.

 

Tentang Umur

 

Manusia tak bisa menampik, bahwa semakin bertambah usia maka penglihatan semakin berkurang. Segala jenis gangguan pada mata datang menghampiri. Mulai dari rabun jauh, rabun dekat, rabun mata tua hingga katarak.

Katanya, Allah Swt sedang mengajak kita untuk mengoptimalkan mata hati kita agar siap melihat Akhirat agar kelak mata hati kita tak buta sebagaimana Allah Swt memperingati hamba-Nya.

 
“Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang di dalam dada.” (QS:  Al-Hajj: 46).

 

Jadi, yang sekarang matanya sudah rabun seperti mata saya. Yuk bisa yuk, kita pertajam mata hati kita dengan banyak bermuhasabah dan semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Seperti seorang yang mendambakan jabatan yang melakukan pendekatan-pendekatan, cari-cari muka di depan bos agar dipromosikan. Kan begitu yah? Masa sih yang hanya punya kekuasaan sedikit dan berbatas itu, manusia rela menghamba kepadanya demi apa yang dimaui.

Sedangkan kepada Sang Pemilik segala kekuasaan tak berbatas pula, kita enggan cari-cari muka.

Kita semua yakin bukan, kalau usia makhluk hidup tak bisa diprediksi oleh siapapun, karena itu sifatnya gaib. Boleh memohon dipanjangkan usia, tetapi mau sepanjang apa? Mau lebih 100 tahun?

Katanya, boleh minta sama Allah agar kita diberi umur panjang, tetapi ingatlah Allah Swt sudah memperingatkan kita.


“Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadian (nya). Maka mengapa mereka tidak mengerti? (QS:Yasin: 68).

 

Maka jangan heran, orang yang sudah tua biasanya masuk kategori uzur.  Tubuhnya semakin lemah dan sakit-sakitan. Sifat dan sikapnya terkadang mendekati sifat kanak-kanak.

Kata Allah, Aku sudah memperingatkan loh.

Sebelum jatah usia kita habis. Mari mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Sebab kematian itu PASTI.

“Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kukuh….” (QS. An-Nisa’: 78).


Demikian, semoga bermanfaat

Makassar, 20 Sepetember 2021

Dawiah

READ MORE

REVIEW; Glowtening Serum Scarlett

Thursday, September 16, 2021



Hai … hai … hai kalian pendamba kulit glowing!

Saya datang lagi  bawa informasi keren nih. Info yang akan membuat kalian bahagia, karena berhubungan dengan kecantikan kalian yang paripurna.

Jadi tuh baru-baru ini saya melihat Scarlett meluncurkan produk terbarunya, yaitu Glowtening Serum. Sebagai orang pencinta produk dalam negeri, pastinya saya penasaran dong.

Biar rasa penasaran tak menimbulkan efek tumbuhnya jerawat, maka saya cobalah serum yang katanya bisa bikin kulit wajah kita kencang dan tampak muda karena memperlambat penuaan itu.

Setelah beberapa hari pemakaian, saya terpana saudara-saudara!

Terutama ketika melihat efek positifnya di kulit wajah si cantik Nabila. Pssst, serum ini saya pakai berdua dengan si-bungsu Nabila. Biasalah, emak hemat dikitlah ceritanya.

Penasaran dengan Glowtening Serum ini? Baca terus ya reviewnya.

 

Kandungan dan Manfaat Glowtening Serum Scarlett

 

Terdapat empat kandungan utama yang ada pada serum ini, di mana semua kandungan itu memiliki manfaat yang menunjang kecemerlangan kulit wajah kita. Keempat kandungan itu adalah sebagai berikut.

 

Tranexamide Acid


Kandungan ini tuh berfungsi meredakan peradangan kulit, melindungi kulit dari sinar UV dan meratakan warna kulit. Jadi bolehlah kita ucapkan, selamat tinggal kulit wajah belang-belang.

 

Niacinamide


Bahan ini berkhasiat melembabkan kulit, menyamarkan noda hitam dan mengendalikan produksi minyak di wajah. Buat kalian yang kulit wajahnya berminyak, bahan ini nih yang kalian butuhkan. Jangan biarkan wajahmu terlalu akrab dengan tisu wajah lagi, kecuali saat membersihkan wajah.

 

Geranium Oil

 

Geranium Oil ini ampuh  menyamarkan garis halus pada wajah dan mengencangkan kulit sehingga memperlambat penuaan. Makanya saya gunakan serum ini, agar kulit tuaku bisalah diturunkan level tuanya, ha-ha-ha.

 

Allantoin


Tahukah kalian, kalau tubuh kita secara alami memperoduksi kolagen berupa protein? Nah, kolagen ini tuh yang bertugas memelihara kesehatan dan kecantikan kulit kita.

Namun, kolagen ini suka ngambek. Apalagi kalau kita kurang asupan makanan yang memicu berkurangnya produksi kolagen dalam tubuh, tetapi sekarang ini kita bisa merangsang pertumbuhan kolagen melalui berbagai cara.

Salah satunya menggunakan skin care yang mengandung bahan yang merangsang pertumbuhan kolagen.

Nah, pada Glowtening Serum Scarlett salah satu bahannya mengandung Allantoin yang mampu merangsang pertumbuhan kolagen pada kulit. Selain itu, Allantoin juga kaya akan antioksidan.



Demikian penjelasan tentang kandungan dan manfaat pada Glowtening Serum ini. Bagaimana cara pakainya? Lanjut bacanya yuk!

 

Cara Pakai Glowtening Serum Scarlett

 

Agar kalian mendapatkan hasil yang maksimal, kulit lebih cerah, glowing dan sehat maka bisa menggunakan Glowtening Serum sebagai serum kedua dikombinasikan dengan Brightly Serum.




Jika kalian memiliki kulit yang berjerawat tidak disarankan memakai produk mencerahkan, tetapi menggunakan  Acne Serum lalu dikombinasikan dengan menggunakan Glowtening Serum.

Jadi penggunaan Acne Series + Glowtening Serum dapat membantu menyembuhkan atau meredakan peradangan jerawat atau  beruntusan, juga bisa membantu mencerahkan kulit dan memudarkan bekas jerawat dan noda hitam.

 

Hasil Pemakaian Glowtening Serum Scarlett

 

Saya tuh tidak gampang percaya sama produk-produk yang menjanjikan kulit bisa glowing dalam waktu singkat. Apalagi yang namanya pemutih kulit wajah. Mana ada produk yang bisa menyulap kulit dari hitam berubah putih dalam waktu singkat.

Kalau mencerahkan atau memudarkan bekas jerawat atau nampak lebih kenyal dan sebagainya, bolehlah. Namun, itupun tidak serta merta hasilnya. Semuanya butuh proses kan Esmeralda?

Makanya saya percaya sama produk-produk Scarlett ini, karena semua pemakaian produknya memerlukan proses yang tidak singkat untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Termasuk penggunaan Glowtening Serum ini. Setelah beberapa hari pemakaian dan dipakai secara rutin, kita bisa melihat progressnya. Kulit jadi lebih cerah, lebih glowing terutama kulit menjadi lebih kenyal.

 

Amankah Pemakaian Glowtening Serum Scarlett

 

Produk - produk Scarlett diproduksi oleh PT. Sinar Alfa Omega, Banten. Produk Scarlett ini adalah produk lokal dan sudah terdaftar di BPOM. Jadi aman kok, tenang saja. Kalian boleh cek nomornya di BPOM.

 

Harga dan Tempat Belanja Glowtening Serum Scarlett

 

Semua produk Face care Scarlett per produk harganya Rp 75.000,. Jadi kalau ada yang menjual di bawah harga itu, patut dicurigai keasliannya deh.

Kalian bisa order melalui:

Line (@scarlett_whitening).

Shopee: Scarlett_Whitening.

Shopee Mall: Scarlett Whitening Official Shop.

Atau bisa juga melalui WhatsApp (0877-0035-3000).         

 

Nah semua sudah saya informasikan. Tinggal kalian nih yang memilih. Mau kulitnya glowing dengan skin kare yang aman dan harga terjangkau atau mau tetap  setia dengan kulit kusamnya.

Rawatlah kulit sedini mungkin agar tidak menyesal di kemudian hari. 

READ MORE

Ternyata Kita Sudah Tua

Friday, September 10, 2021

Kalimat ini keluar dari bibir suami tercinta. Baru sadar rupanya.

Kemarin-kemarin kemana saja? Wkwkwk.

 



Sebenarnya beliau sering menyadari kalau kami ini sudah tua, tetapi kadang sulit mengakui. Katanya, masih mau dianggap muda, kuat, sehat dan berenergi.

Kenyataannya tak seindah harapan.

Jiwa mudanya masih menggelora, terutama yang berhubungan dengan musik.

Dia bisa bertahan main musik berjam-jam, main gitar, main elekton tunggal (ini saya tak tahu nama tepatnya) sambil bernyanyi.

Dari lagu lawas hingga dangdut ia mainkan, tapi lagu kekinian apalagi lagu barat, mati kutu dia. Soal lagu barat, ia tak pernah suka. Jangankan menyanyikannya, mendengarkannyapun ia ogah.

Untuk urusan selera musik, kami bagai kucing dan anjing. Tak pernah akur, hahaha.

Saya suka mendengar lagu berbahasa Inggris walau tak mengerti arti syairnya.

Sedangkan dia paling suka lagu dangdut dan sesekali lagu pop Indonesia.

 

Kembali soal perkara TUA.

Beliau selalu protes kalau saya katakan dia sudah tua, padahal tak lama lagi dia berada pada level kepala enam. Baginya soal tua itu hanya perkara sudut pandang.

Katanya lagi,  banyak yang usianya 20-an malah lebih loyo, semangat juangnya rendah, malas beribadah, tapi rajin bermalas-malasan. Mereka itu jauh lebih tua daripada kita ini yang alhamdulillah masih semangat menjalankan tugas, tekun bekerja, bersabar menjalankan kewajiban sebagai umat Islam, dsb.

Baginya, orang seperti itu usianya jauh lebih tua karena mereka lemah.

Untuk pandangan ini, saya setuju.

Betapa banyak anak muda yang penampakannya lebih tua dari usia sesungguhnya.

Tinggal di rumah bersantai tak menghasilkan karya, duduk selonjoran sambil main game online, sementara orang tuanya bekerja dari pagi hingga sore ketemu malam dan pagi lagi.

Habis itu dengan seenak perutnya minta jatah uang jajan, uang kuota dengan berdalih buat belajar.

Yah, otak mereka tidak berkembang bahkan cenderung mundur seperti orang tua yang uzur, sakit-sakitan dan menuju pikun.

Eh, kenapa saya ngedumel yah? LOL

 

Untungnya anak-anak kami tidak demikian, kalaupun ada yang mendekati gejala-gejala seperti itu, pasti saya dan bapaknya langsung mengeluarkan kalimat-kalimat motivasi, inspirasi hingga kata-kata mutiara yang akan membuat telinganya mendenging, hahaha.

Namun, bukan perkara itu yang menyadarkan beliau dan mengakui kalau ternyata kita sudah TUA, melainkan  pertemuan dengan murid-murid yang pernah kami ajar sekitar tahun 1985.

 

Di suatu acara pesta  pernikahan yang digelar oleh sahabat kami. Teman seangkatan mengajar tahun 1985. Beliau berhasil menghadirkan murid-murid kami, alumni angkatan pertama.

Akhirnya mereka reuni kecil-kecilan dengan teman-teman seangkatannya sekaligus menjadi ajang silaturahim dengan guru-gurunya termasuk kami berdua. (Kebetulan saya dan suami mengajar di sekolah yang sama).

Saat kami berjumpa dengan mereka, suami menggamit lengan saya lalu berbisik,

“Ma, itu mantan murid kita ya?”

“Iya, kenapa memang?” Saya jawab sambil berbisik.

“Ternyata kita suda tua, mereka saja yang dahulu masih anak-anak, masih SMP sekarang sudah nampak dewasa akhir.” Suaranya terdengar lirih.

Saya pikir suara lirihnya itu sekedar menyembunyikannya dari telinga mantan murid-murid kami itu, ternyata tidak. Ia merenung dan seakan baru menyadari kalau kami memang sudah tua.

Terbukti saat kami pulang, di atas mobil, kalimat itu ia ulang lagi.

“Ternyata kita betul-betul sudah tua ya Ma.”

Hahaha.

 

Yap, kita sudah tua sayang!

Lihatlah rambut kita, sudah berubah warnanya, nampak berkilau  saat diterpa cahaya. Kita juga sudah tak bisa melompat sambil mengsmes bola voli bahkan tak bisa main voli lagi seperti dulu.

Minyak angin dan minyak urut sudah masuk dalam daftar belanja bulanan kita.

Beberapa jenis makanan sudah mulai kita hindari karena takut dengan asam urat dan kolesterol tinggi.

Kamu sudah berhenti minum kopi kan? Kita juga makin rajin makan sayur dan buah karena proses pencernaan kita sudah mulai aus.

Oh yah, sekedar saran, buah yang paling pas kita konsumsi adalah pisang, pepaya, mangga matang, anggur, semangka dan buah yang lembek lainnya. 

Jangan coba-coba gigit kedondong apalagi mengais isinya dari bijinya menggunakan gigi. Sebaiknya digeprek-geprek dulu sebelum dikunyah atau dibikin jus saja sekalian, lebih aman untuk gigi yang mulai tanggal satu-satu.

Makin getollah beribadah, jangan ditunda apalagi lalai. Kurangi main musik dan perbanyak mengaji.

Kita memang sudah tua, tetapi ajal tak pernah memilih berdasarkan usia. Walau usia masih muda jika waktunya tiba, manusia tak kuasa menampiknya. 

Bersyukurlah kita masih hidup dan tiba di masa tua. Itu artinya Allah Swt masih memberi kita waktu dan kesempatan untuk terus menerus memperbaiki diri dan menabung pahala.

Jangan bangga dengan usia tuamu ya sayang. Jangan biarkan setan menabur keangkuhan sedikitpun tentang sehatmu, semangatmu, ibadahmu, kesabaranmu dan apapun yang bisa membuat kita lalai.

Kita banyak dosa di masa lalu, jangan sampai kita terus menumpuk dosa lagi padahal usia kita semakin tua.

 

Kita sudah tua kan, Ayangbeb!

Baca juga cerita lainnya tentang saya dan Ayangbeb DI SIN  ada juga  DI SINI

READ MORE

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Name

Email *

Message *