ULANG TAHUN

Senin, 11 November 2019


Apakah yang ada di pikiran sahabat tentang ulang tahun?

Tak sedikit yang merayakannya, baik besar-besaran maupun secara sederhana. Merayakan atau memperingatinya merupakan tanda  syukur atas dipanjangkannya usia, sehingga ditambahkan doa-doa agar usia bertambah, sehat, dan bahagia.

Sayangnya, di keluarga kami tak pernah sekalipun merayakan ulang tahun secara meriah. Syukur-syukur kalau sempat mengingatnya. Momen pertambahan usia berlalu begitu saja, bahkan Ayangbeb lebih sering lupa.
Jangankan ulang tahun saya, anak-anaknya, ulang tahunnya saja beliau lebih sering lupa. Setiap diingatkan, ia cuek saja.
Seperti kemarin, si sulung mengucapkan selamat ulang tahun kepada bapaknya di WAG keluarga, lalu disambut meriah dari anggota keluarga lainnya.

Apa yang terjadi?

Tak sekalipun Ayangbeb menanggapinya. Datar saja.

Padahal tanggal kelahirannya adalah tanggal cantik yang gampang diingat. 11 November atau 11-11, itu tanggal cantik bukan?
Maka tak salah kalau si sulung menggunakan tanggal itu saat memilih acara pesta pernikahannya tahun lalu.

Selain tanggal cantik, itu juga bertepatan dengan ulang tahun bapaknya. Katanya, sebagai kado ulang tahun. Bapaknya senyum-senyum cuek saja. Beuh.

Mungkin karena kecuekannya terhadap peristiwa ulang tahun  itulah, maka berdampak kepada saya dan anak-anak. Ikutan cuek bahkan cenderung lupa.
Siapapun anggota keluarga yang ulang tahun, kami biasa saja. Tidak ada yang istimewa.

Oh yah, pernah juga sebenarnya ada kehebohan dalam keluarga besar kami, saat si sulung ulang tahun ke 17. Katanya karena  sweet seventeen  maka si sulung meminta hadiah ke saya, tante-tante, dan om nya. Tidak tanggung-tanggung, ia minta dibelikan handpone.

Maka gaduhlah kami. Karena yang minta ini adalah cucu pertama dalam keluarga besar dari pihak saya, maka semua “terpaksa”  menyumbang demi sebuah handpone. Walau kami tahu kalau itu adalah modusnya si sulung untuk mendapatkan barang impiannya.

Sejak itu, anak-anak saya juga ponakan-ponakan lainnya selalu meminta hadiah di saat sweet seventeen-nya  tiba. Walau tak sebesar permintaan si sulung.

Apakah dirayakan?


Tidak ada dalam kamus kami, merayakan ulang tahun. Tapi menghadiri perayaan ulang tahun kala diundang, saya pasti datang. Untungnya saya tak pernah diundang, hihihi …
Kecuali ulang tahun anak teman, maka yang datang adalah anak saya  yang biasanya diantar oleh tante-tantenya.

Suatu waktu, si bungsu Nabila tiba-tiba merengek minta dirayakan ulang tahunnya. Saat itu usianya menjelang 4 tahun.
Mungkin karena sering  menghadiri undangan ulang tahun teman-temannya maupun tetangga, maka ia ingin juga seperti itu.

Saya menjanjikan, nantilah saat Nabila berusia 5 tahun.

Rupanya janji itu ia catat dalam pikirannya. Lima hari sebelum tanggal ulang tahunnya, ia sudah mengingatkan.

“Mama sudah janji kan?  Kalau Nabila ulang tahun yang ke lima,  mama mau rayakan.”
Waduh, ingat saja dia!

Karena ini janji, maka mestilah ditunaikan.

Sehari sebelumnya, saya sampaikan ke adik-adik saya tentang rencana itu. Maka dilakukan persiapan yang tidak ribet, cukup siapkan kue ulang tahun, panggil sepupu-sepupunya, lalu makan ramai-ramai.

Dampaknya luar biasa.
Selama setahun, si bungsu tiada henti-hentinya mengenang peristiwa itu. Padahal tidak ada acara tiup lilin, tamu yang datang juga adalah saudara sepupunya yang hampir tiap hari main bersama, bahkan tidak ada kado istimewa.

Beruntungnya, ia tidak minta lagi perayaan ulang tahunnya  hingga saat ini. Saya yakin, perjanjian kami saat itu masih terpatri dalam ingatannya.

“Baiklah, mama nanti rayakan tapi cukup sekali itu yah!”  

UlangTahun Ayangbeb


Kemarin di sekolah, ada salah seorang rekan guru berulang tahun, diberi kejutan manis dari anak-anaknya. Tiba-tiba anak-anaknya datang membawa kue ulang tahun, lengkap dengan lilin yang sudah menyala.
Spontan guru-guru bersorak, lalu ramai-ramai menyanyikan lagu ulang tahun.


Panjang umurnya…panjang umurnya… panjang umurnya …. serta mulia… serta muliaaa … serta muliaa…

Sesi berikutnya diisi dengan foto-foto. Saya melihat kilatan-kilatan bahagia di wajah ibu yang sedang ulang tahun itu.

Saya berbisik ke Ayangbeb.

“Hari ini bapak juga ulang tahun kan … mau-ki  juga saya kasi kejutan manis?”
Sambarang tong kau.” Jawabnya sambil melengos pergi.
Hahaha….

Tulisan ini saya persembahkan kepada suami tercinta, Ayangbeb.

Baca juga tentang perjalanan cinta kami di sini. 




Walau ulang tahunnya tak dirayakan, setidaknya saya menuliskan ini sebagai tanda syukur atas usianya yang ke 57 tahun.

Jika Allah Swt memberi kami usia yang panjang hingga menjadi kakek dan nenek, semoga kami masih sehat dan tetap bersama menjalani hari-hari hingga waktu akhir kami tiba.

Selamat bertambah usia, suamiku, mantan terindahku. 

Tetaplah menjadi suami yang bersahaja, mencintai saya dan anak-anak apa adanya.  




READ MORE

Perjalanan Cinta

Kamis, 17 Oktober 2019


Bulan Madu

"Habis nikah, mau bulan madu ke mana nih?
Kami hanya berpandangan, senyum-senyum kecut.
Jangankan bulan madu, jalan-jalan ke pasar saja kami tak sempat. Izin kami itu hanya sepekan, dan waktu sepekan itu kami gunakan untuk mengurus segala persiapan pesta pernikahan hingga acaranya selesai.
Esoknya langsung kembali ke daerah tempat tugas kami. 
Siswa-siswa kami sudah menanti.

Selain faktor waktu, ada alasan lain yang paling spesifik sebenarnya.
Kami tak ada dana 🤣

Tapi bukan berarti kami tak menikmati bulan madu, sebab hari-hari kami setelah nikah adalah hari-hari manis  semanis  madu. 

Menikmati sejuknya pagi di desa, melihat gunung Bulusaraung dari kejauhan, menyapa gemericik air di sungai yang mengalir tenang, atau menghirup aroma bunga jagung di kebun sekolah adalah cara kami berbulan madu. 

Perjalanan terjauh yang kami tempuh berdua adalah rutinitas pulang ke kota, menjenguk orangtua. 
Menikmati perjalanan di atas mobil pete-pete, duduk berdempetan dengan penumpang lain adalah kenangan manis yang tak akan terlupakan.

Kami menyebutnya, bulan madu di atas pete-pete 🤣 Jadi tak salah kalau dikatakan, bahagia itu sederhana sesederhana memaknai setiap perjalanan dan peristiwa.


Genap setahun empat bulan, anak pertama lahir. Kami memberinya nama Muhammad Fadlan Afandi.

Harapannya, selalu diberi karunia sesuai arti namanya.

Perjalanan cinta kami makin berwarna. Tidak melulu soal bulan madu.
Ada buah cinta kami yang membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan cinta.

Maka perhatianpun terbagi, antara pasangan, anak, dan pekerjaan.
Kami menjalaninya sambil belajar saling memahami.

Ternyata kehadiran anak, bukan berarti kebahagiaan telah sempurna. Justru di situlah awal perjuangannya.

Lima Tahun Pertama


Katanya, pernikahan akan mendapatkan ujian di setiap selang waktu lima tahun.
Alhamdulillah, lima tahun pernikahan telah kami lewati dan hasilnya adalah tiga orang putra.

Kehidupan di desa sudah kami tinggalkan. Tahun 1993, kami memutuskan kembali ke kota.

Tuntutan untuk menambah ilmu adalah salah satu alasannya, disamping alasan lain tentunya.

Tinggal bersama keluarga besar saya bukanlah pilihan yang mudah, tapi hanya itu satu-satunya opsi.

Saya harus mendampingi mama yang sudah menjanda sejak tahun itu. Untungnya, ayangbeb legawa menerima keadaan itu.

Legawa mungkin hanya dalam hal tertentu. Bagaimanapun, kami  juga ingin memiliki rumah sendiri. Mengerjakan pekerjaan domestik berdua sembari melibatkan  anak-anak.

Namun keadaan tak memungkinkan, sekali lagi saya meminta keikhlasan ayangbeb untuk bertahan beberapa waktu lagi, hingga mama siap menjalani hidup  bersama keenam adik-adik saya.

Periode Ketiga Lima Tahunan Pernikahan 


Sudah 12 tahun kami menikah dan 7 tahun kami lalui bersama keluarga besar saya. Kata kasarnya, hidup menumpang di rumah orangtua.

"Sudah waktunya kita hidup mandiri." Kata ayangbeb.
"Baiklah, mari kita mulai hidup mandiri bersama empat orang putra."

Inilah masa-masa bersama keempat anak kami yang paling menyenangkan. Setiap hari kami sambut subuh dengan drama membangunkan anak.

Keahlian terpendam ayangbeb dikeluarkan semua.
Mulai masak nasi goreng, mencuci, menyetrika, dan segala tetek bengek kerjaan rumah.

Wow! Saya terpana. Ternyata si sabar nan pendiam itu punya bakat terpendam. 
Saya bersorak gembira. 


Akhirnyaaa....


Sejak menikah hingga memasuki periode 20 tahunan kami tak pernah sekalipun pergi berdua ke luar daerah. Kasihan sekali yah 🤭

Beberapa kali kami ke luar daerah untuk urusan tugas tapi tak pernah pergi berdua. 

Oh iya, kami pernah pergi bersama tapi tidak berdua, rame-rame berwisata ke Jogya. Bisalah dianggap berbulan madu, bulan madu tipis-tipis,  hihihi...




Hingga kesempatan itu datang juga.
Tahu ndak, kapan itu kejadiannya? 

Sebenarnya saya malu mengatakannya 🙈, tapi ini kenyataan. 

Saat putra ketiga diwisuda di Curug  Tangeran tahun 2017, kami diundang untuk mendampinginya.
Waktu itu pergi bertiga dengan putra kedua tapi kami merasa berdua saja. Soalnya nginap di hotel berdua.

Yah elaa... hahaha ...

Menyaksikan proses wisuda dan pelantikan putra ketiga dengan upacara semi militer melambungkan  kebahagiaan kami.

Telah kami tunaikan salah satu kewajiban menyekolahkan anak. Walau itu bukan akhir dari kewajiban mendidik anak, karena masih banyak kewajiban lainnya untuk setiap putra putri kami.

Usai prosesi wisuda, kami melanjutkan perjalanan ke Bandung.
Mengunjungi gedung-gedung  bersejarah, alun-alun, dan masjid Agung Bandung.

Tak terbayangkan sebelumnya, jika kami bisa ke kota sejuk ini berdua.

Oh yah, hampir lupa.

Kami juga pernah pergi berdua ke Gorontalo. Tapi tujuannya bukan untuk bulan madu, melainkan menunaikan kewajiban akhir sebagai orangtua bagi putranya, menikahkan si sulung demi
menyempurnakan sunnah Rasul bagi putra sulung.

Alhamdulillah rencana itu berjalan lancar.

Yeaah...kami berhasil mendapatkan menantu. Anak perempuan kami menjadi dua sekarang.

Bisakah itu disebut perjalanan cinta?






Setelah 30 Tahun


Ini  benar-benar perjalanan berdua.
Saat ini kami melakukannya, berdua saudara-saudara! 


Untuk bulan madu?
Bukan!
Hahaha...


Kami datang untuk menghadiri wisudanya si sulung. Tak mengapa bukan perjalanan bulan madu, tapi ini  adalah perjalanan cinta kami berikutnya.

Mendampingi anak dalam merayakan keberhasilannya merupakan salah satu perjalanan cinta. Saya bahagia karenanya.

Kami pergi berdua saja, tujuannya selain untuk acara itu, kami juga akan  menikmati kebersamaan di sisa-sisa usia kami.

Sungguh bahagia melihat ayangbeb bergembira.

Memenuhi permintaan ayangbeb difoto di depan pesawat. Takjub, baru kali ini saya melihatnya narsis. 
Kalau istrinya yang manis ini kan sudah biasa narsis, itu bawaan orok 🥰

mardanurdin.com

Mendengarnya bercanda, walau lebih mirip jahilin saya. Melihatnya tertawa gembira.

Bicara dan makan sebarang adalah kebiasaan yang jarang dilakukannya.
Semua itu adalah bahagia saya yang tak terkira.


Inilah perjalanan kami.
Bulan madu-bulan madu kami.


Tak pernah ribut atau susah Bunda?



Ah, mana ada kehidupan yang mulus terus.

Bertengkar dan diam-diaman bahkan ribut besar juga pernah terjadi.

Pernah mau cerai?


Untungnya tidak.

Saya merasa sangat sulit mendapatkan laki-laki seistimewa ayangbeb.

Bersedia memaafkan semua kesalahan saya, ikhlas menerima kekurangan saya, dan tetap sabar melihat istrinya yang tidak sabaran ini.

Saya yakin, ia juga tak mau jauh-jauh dari saya. Ayangbeb beruntung mendapatkan saya.

Hm, percaya diri itu  perlu saudara-saudara! 🤣

Tak gampang mendapatkan perempuan sepandai saya mengatur keuangan. Dengan dana sedikit bisa membiayai kelima anak-anaknya.

Ikhlas tidak ke salon tiap bulan demi biaya sekolah anak.
Saat istri-istri lain sibuk menata penampilan, memakai perhiasan yang mahal,  saya tetap sabar tampil sederhana demi menjaga kestabilan keuangan.

Cari di mana perempuan seperti itu?
Iya kan...

Tak mudah loh mendapatkan istri sebaik dan seromantis saya, hahaha.

Menyamakan Frekuensi


Kami berusaha saling memahami dan menerima kekurangan masing-masing.
Beradaptasi satu sama lain sangatlah penting.

Menyamakan frekuensi agar terus sejalan bukan perkara gampang, tapi bukan berarti tidak bisa.

Selama kita mau menurunkan ego, maka pastilah bisa.

Satu saja pondasinya, bersandar kepada Allah Swt. Ayangbeb mengajarkan itu.

Bahwa, Allah akan selalu senang melihat hamba-Nya yang mau bersabar dan bersyukur.

Saat masalah datang, ingatlah bahwa, Allah Swt tidak akan memberi cobaan yang tak bisa dipikul hamba-Nya.
Jika itu diyakini, pasti segala permasalahan dapat diatasi.

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya ... " (QS. Al-Baqarah: 286).


Demikianlah perjalanan cinta yang telah kami lalui selama kurang lebih 30 tahun.

Setiap momen adalah bahagia yang Allah berikan kepada kami, dan itu sangat saya syukuri.

Semoga kami masih bisa menikmati bulan madu kesekian hingga perjalanan di dunia berakhir.







Bandung, 18 Oktober 2019

Ditulis di atas kereta Jakarta-Bandung


















READ MORE

Yuk, Kenali Beberapa Jenis Daun dan Manfaatnya

Senin, 14 Oktober 2019


 Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, betapa banyak Kami tumbuhkan di bumi itu berbagai  macam (tumbuh-tumbuhan) yang baik? Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.” (QS. Asy-Syu’ara’: 7-8).

Sahabat pembaca, tahukah kalian berapa banyak jenis tumbuhan yang ada di dunia? Jika dalam Al Qur’an menyebutkan “banyak” maka pastilah kata itu diartikan sebagai tak terhingga, sehingga sangat sulit dihitung jumlahnya.

Bayangkan, jumlah pohon yang merupakan bagian dari  jenis tumbuhan saja,  yang tumbuh di dunia saat ini diperkirakan lebih dari tiga triliun. Hal ini berdasarkan hasil penelitian Thomas Crowther, peneliti dari Universitas Yale Amerika Serikat pada tahun 2015.  (bbc.com).

Ini baru pohon. Tumbuhan yang berbatang keras dan besar, yang biasanya tumbuh di darat, belum termasuk tumbuhan yang hidup di air atau hidrofit. 
Tumbuh-tumbuhan itu diciptakan Allah bukanlah tanpa sebab. 

Lihat saja firman Allah berikut ini.

“…. Kami lebihkan tumbuhan yang satu dari yang lainnya dalam hal rasanya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” (QS. Ar-ra’d: 4).

Ini berarti pada umumnya tumbuhan memiliki manfaat bagi makhluk hidup yang lain. Mulai dari akar, batang, daun, hingga bunga dan buah serta bijinya.
Salah satu bagian tumbuhan yang sering dimanfaatkan sebagai obat adalah daun. 
Tapi bukan berarti semua jenis daun tumbuhan berkhasiat sebagai obat yah.

Nah, kali ini saya akan menuliskan beberapa jenis daun yang biasa digunakan sebagai obat.

            Daun Lidah Buaya


Sumber: Pixabay.com


Lidah buaya adalah tumbuhan dengan nama latin aloe ferox mill, mengandung isobarbalsin, ilat baya, dan jadam. Ciri-cirinya adalah batang basah, tinggi mencapai 0,5 meter, daunnya tebal berair, berbentuk taji dengan tepi bergerigi, dan bunganya berbentuk tongkol serta berwarna orange.

Daun lidah buaya berkhasiat untuk pengobatan pada beberapa jenis penyakit, yaitu: ambeien atau wasir, kencing manis, asma, batuk, dan dapat pula digunakan untuk mencegah rambut rontok.

Sebagai obet ambein, daun lidah buaya setengah batang (karena daunnya berbentuk batang) diparut kemudian ditambahkan air setengah cangkir lalu diperas. Diminum dengan menambahkan dua sendok madu, lalu diminum sehari tiga kali.

         Daun Sosor Bebek



sumber: Pixabay.com

Sosor bebek atau ceker bebek atau jukut kawasa dengan nama latin kalanchoe pinnata Lam, adalah sejenis tumbuhan berbatang basah dengan tinggi batang mencapai lebih satu meter, tumbuh liar di tanah berbatu.

Biasanya dijadikan tanaman  hias dan bahan jamu. Daunnya tebal, bentuk lonjong dengan tepi daun yang bergerigi. Warnanya hijau cenderung abu-abu.

Ciri khas daunnya adalah banyak mengandung air, lembar daunnya mudah dipatahkan dengan tangkai daun bersayap. Bunganya berwarna merah atau orange. Sangat mudah dibiakkan, karena cukup dengan stek atau dengan daunnya yang telah ditumbuhi tumbuhan baru pada bagian lekuk-lekuk daunnya.

Manfaat daun sosor bebek ini antara lain, sebagai obat ambeien atau wasir, lambung nyeri, rematik, payu dara bengkak, batuk darah, dan sebagai obat penurun panas.

Cara mengolanya adalah dimasak dengan tiga gelas air hingga menjadi satu gelas, kemudian diminum tiga kali sehari.

         Daun Iler



Sumber: Pixabay.com

Tumbuhan iler mempunyai banyak nama, misalnya ada yang menamainya sebagai miana, jawer, kotok, kentangan, dan pilado. Demikian pula nama latinnya yang lebih dari satu nama, yakni Coleus atropurpureus Benth, Coleus blemui Bent, Coleus laciniatus Benth, dan Coleus ingratus Bent.

Ciri-ciri tumbuhan ini adalah batangnya basah, tinggi mencapai 1,5. Bentuk daun segitiga atau bulat telur. Warna daunnya ungu, tepi daun berlekuk-lekuk, dan sedikit berbulu. Tumbuh liar di kebun maupun di ladang dan di pekarangan rumah.

Tumbuhan ini mengandung alkaloida, mineral dan minyak terbang. Sehingga daun ini dapat digunakan sebagai obat kencing manis, menjadikan haid teratur, juga mengobati keputihan, cacingan, dan ambeien. Biasa pula dimanfaatkan sebagai obet bisul, borok, luka, dan koreng.

Untuk menggunakan daun iler sebagai obat, maka harus direbus dengan satu liter air terlebih dahulu hingga airnya bersisa setengah liter, dan diminum dua kali sehari.

         Daun Duduk



Sumber: Pixabay.com


Disebut juga potong kajang, gerji, dan guluwalang. Nama latinnya adalah Desmodium triquetrum Dc dan Pteroloma triquetrum Benth
Tumbuhan  ini tumbuh liar di ladang dan di hutan dengan tinggi hingga 3 meter. Daunnya berbentuk lonjong, tersusun, yang dekat tangkai, lembar daunnya kecil dan agak bulat. Bunganya berwarna merah muda.

Tumbuhan ini mengandung kalium, zat samak dan asam kersik. Bagian tumbuhan yang biasa digunakan sebagai obat adalah daun, biji, dan akar.

Tumbuhan ini digunakan untuk mengobati penyakit kencing batu, pinggang nyeri, masuk angin, demam, disentri, dan ambeien atau wasir.

         Daun Selada



Sumber: Pixabay.com

Tumbuhan selada biasa juga disebut selada air, kenci, dan jembah. Tumbuhan yang diberi nama latin Nasturtium officinale R. Br ini mengandung vitamin A, B, C, dan zat besi, kasium, phosphor serta protein dan minyak.

Bagian tumbuhan selada yang biasa digunakan sebagai obat adalah semua bagian tumbuhan. Tumbuh liar dekat perairan dengan bentuk daun segitiga, rasanya manis dan tidak berbunga. 

Biasanya digunakan untuk mengobati penyakit hipertensi, urat dara mengeras, ambeien atau wasir, dan terkilir.

              Daun Sudamala



Sumber: Pixabay.com


Artemisia latifolia Rumph, Artemisia vulgaris Linn, adalah nama-nama latin dari tumbuhan sudamala. Di Indonesia, tumbuhan  sudamala biasa juga disebut tumbuhan manis, suket gajahan, baru vina, dan brobos kebo.

Ciri-ciri tumbuhan ini adalah batangnya yang basah dengan tinggi tumbuhan mencapai 2 meter. Bentuk daunnya bulat telur, cabangnya banyak. Bunga majemuk, kecil dan berwarna kuning. Daun pada tumbuhan sudamata mengandung minyak terbang, artemisin, dan zat samak.

Daun ini berkhasiat menyembuhkan  penyakit lemah syahwat, disentri, keputihan, mimisan, wasir, dan dapat pula menambah nafsu makan.

          Daun Andewi



Sumber: Pixabay.com

Tumbuhan andewi dikenal pula dengan nama andepi, andebi, sasawi, sayur cina, dan jabung. Tumbuhan dengan nama latin Cichorium endervia Linn ini mengandung vitamin A, B, dan C. 
Juga mengandung zat besi dan kalsium. Semua bagian tumbuhan Andewi dapat digunakan sebagai obat, termasuk daunnya.

Ciri-ciri tumbuhan andewi adalah batangnya terasa basah, tinggi mencapai 1,5 meter. Daunnya tunggal, bentuk bulat telur dengan lekuk-lekuk pada ujungnya, bunganya berwarna biru muda yang tumbuh di ketiak daun. Daun ini dikenal sebagai sayuran, yaitu sawi atau sasawi.

Karena tumbuhan ini mengandung vitamin A, B, dan C. Juga mengandung zat besi dan kalsium, maka dapat dimanfaatkan sebagai obat untuk berbagai jenis penyakit, antara lain: batuk, rajasinga, demam, keputihan, dan ambeien.

Cara penggunaanya adalah cukup dijadikan lauk dan dimakan tiga kali sehari sebanyak 10 lembar.

         Daun Putri



Sumber: Pixabay.com

Daun ungu, handeleum, kroton, demung dan daun wungu adalah nama-nama yang digunakan di Indonesia pada tumbuhan ini. Nama botaninya adalah Graptophyllum pictum Griff dan Graptophyllum hortense Nees.

Tumbuhan ini biasa digunakan sebagai pagar hidup karena termasuk tumbuhan perdu dengan tinggi mencapai 6 hingga 7 meter. Bentuk daunnya lonjong, tumbuh berhadapan dengan warna hijau keunguan. Bunganya bentuk bintang dan  berwarna ungu.

Mengandung alkaloida, sehingga bermanfaat sebagai obat ambeien atau wasir. Dapat pula digunakan untuk mengobati penyakit borok dan bisul.

Cara penggunaannya adalah:  6 lembar daun putri ditumbuh atau diremas-remas lalu dicampur dengan 100 ml air matang kemudian ditambahkan satu sendok madu, kemudian diminum.

Masih banyak lagi jenis daun yang biasa digunakan sebagai obat. Tapi untuk kali ini, cukup delapan jenis daun dulu yah. 

Demikian, semoga bermanfaat.






READ MORE

Pasang Surutnya Harapan Mama

Selasa, 17 September 2019


Saya takut bermimpi naik haji, mencukupi makan kalian 2 kali sehari saja saya sudah bersyukur, ditambah kalian sekolah minimal tamat SMA. Alhamdulillah.”


Itu kata-kata  mama puluhan tahun silam.
Ia sadar diri, bahwa berhaji itu memerlukan biaya yang tidak sedikit.  

“Untungnya ibadah haji hanya diperuntukkan bagi yang mampu, bagaimana-mi kalau diwajibkan seperti ibadah salat dan  puasa, aiss …  manrasana, hehehe…”

Sebagai single parent dan membiayai 5 orang  anak, bukanlah perkara gampang bagi mama.  Hanya bermodalkan rumah petak yang disewakan kepada anak sekolahan, mama berjuang menghidupi anak-anaknya. Beliau harus menahan segala keinginan dan impian-impiannya.
Sampai-sampai beliau takut bermimpi menunaikan ibadah haji.

Waktu itu, saya berbisik dalam hati, “Insya Allah, saya akan membayar  ongkos naik haji mama.” Tetapi saya hanya berani berbisik dalam hati. Takut memberinya harapan yang tak pasti.

Berani Merajut Mimpi


Impian ibarat pengharapan, jika tak punya impian,   bagaikan bunga yang layu sebelum berkembang. Namun demikian, kadang kita dihadapkan pada suatu keadaan dimana kata impian serupa dengan khayalan semata.

Mungkin begitulah pikiran  mama. Ia sadar bahwa keadaan ekonominya sama sekali tidak mendukung untuk membayar ongkos naik haji. Ia merasa tergolong orang tidak mampu.

Saya yakin, saat berbisik dalam hati berniat membayarkan ongkos haji mama, malaikat mengaminkan doa saya dan Allah mendengarnya. Karena 17 tahun kemudian, tabungan kami cukup untuk menyetor ongkos naik haji. Setidaknya kami berhasil mendapatkan nomor porsi.

Binar-binar kebahagiaan mama tak dapat disembunyikan. Ia terkekeh bahagia.
Walaupun pada saat kami mendaftar ada salah seorang pegawai Departemen Agama yang bicara, kalau kami harus menunggu 8 tahun baru bisa berangkat.

Semburat kekecewaan tiba-tiba menyelimuti wajah mama.  Saya bisikkan ke telinga mama.  
“Jangankan 8 tahun, 10 tahunpun  tidak mengapa.  Yang penting  Allah Swt sudah mencatat nama kita sebagai calon jamaah haji.”

Mama hanya mengangguk, entah beliau paham atau tidak.
Maka sejak saat itu, mama mulai merajut impiannya. Naik haji.

Cobaan Datang dalam Penantian Panjang


8 tahun berjalan tanpa terasa dan  mama semakin tak sabar dalam penantian panjangnya, apalagi kesehatannya mulai menurun.
Tahun 2018, beliau mulai gelisah.
"Katanya kita menunggu 8 tahun dan sekarang sudah 8 tahun sejak pendaftaran, kenapa nomor porsi kita belum keluar?"

Ternyata perkiraan pegawai Departemen Agama saat itu justru lebih pendek waktunya dibandingkan kenyataannya. Kami harus menunggu hingga 9 tahun lamanya.

Sebelumnya, pada tahun 2017 penyakit tb menyerang mama. Beliau harus menjalani pengobatan selama enam bulan. Harapannya ke baitullah menipis. Ia sangat putus asa.

Kami anak-anaknya hanya bisa menghibur, bahwa seseorang yang akan diundang Allah akan selalu diuji. Mungkin diuji kesabarannya atau bisa jadi "dicuci" agar saat waktunya nanti mama sudah bersih jiwa raganya dan siap wukuf di Arafah.

Lepas masa pengobatan, mama dikatakan bersih dari penyakitnya.
Kembali harapannya menyeruak. Sayangnya panggilan berhaji itu belum datang.

Akhir tahun 2018 saya memberi kabar bahagia, insya Allah nomor porsi haji kami sudah masuk tahun 2019.
Tak henti-hentinya mama mengucap syukur. Beliau mulai menyusun kembali asa yang sempat surut.

Cobaan Kedua


Rupanya Allah masih sayang mama. Dia masih mau bercengkerama dengan zikir-zikir beliau. Allah rindu dengan doa-doa mama, maka cobaan kedua menyapa beliau.

Mama mengeluh sakit di bagian pinggul dan pangkal paha. Ia tak mampu menopang tubuhnya. Tidak bisa jalan. Untuk ke kamar mandi saja ia harus ngesot, merangkak. karena tidak bisa berdiri dan akhirnya  beliau  diopname.

Setelah mengikuti serangkaian pemeriksaan termasuk foto rontgen, oleh dokter dikatakan bahwa tulang duduknya mengalami patah, dan tidak ada jalan lain selain operasi.

Setelah berembuk dengan keluarga akhirnya kami memutuskan untuk tidak mengambil jalan operasi melainkan  mencari pengobatan alternatif.

Singkat cerita, mama dipertemukan  dengan orang yang pandai mengurut. Saat pergi ke rumah tukang urut itu beliau menggunakan kursi roda, bahkan disentuh pinggulnya saja beliau meringis kesakitan.

Masya Allah pulangnya ia bisa jalan kaki, tidak ada lagi keluhan di bagian tulang ekornya. Hanya sedikit nyeri di bagian paha.

Pengobatan alternatif itu beliau jalani selama sebulan. Lambat laun kesehatan mama mulai  membaik. Mama sudah bisa berjalan perlahan walau tak bisa jalan jauh dan lama.

Tiga bulan kemudian, ia kembali mengeluh. Kali ini sakitnya di bagian punggung. Tiba-tiba badannya kelihatan sedikit membungkuk. Kembali mama putus asa. Ia tidak mau menyinggung apapun yang berhubungan dengan ibadah haji.

Jika  sakit di bagian punggungnya itu datang,   mama mengerang kesakitan. Ia sangat putus asa.
"Saya memang sudah ditakdirkan tidak berhaji sampai pergi menghadap Sang Ilahi."
Saya kesal mendengar ucapannya.
"Ma, tidak ada orang yang berhak mendahului keputusan Allah. Jangan putus asa, kita harus ikhtiar."

Kali ini saya berinisiatif membawanya ke Ratulangi Clinik Centre, saya dapat informasi kalau di klinik tersebut ada dokter ahli tulang dan sendi. Beliau dokter yang diakui oleh pasien-pasiennya sebagai dokter yang mumpuni.

Namanya dr. Arman, caranya memeriksa pasien  menenangkan dan mama terkesan.
Dari pemeriksaan yang intensif, mama dinyatakan menderita penyakit  osteoporosis.
Beberapa tulang punggungnya patah akibat keropos.
Tetapi dr. Arman meyakinkan mama jika beliau bisa bertahan asal rajin minum obat dan berhenti beraktivitas yang bisa memicu patah tulangnya yang lain.

Maka rutinlah beliau minum obat selama 3 bulan.
Memasuki bulan kedua, perkembangan kesehatannya mulai menunjukkan perubahan yang cukup signifikan.
Beliau tidak lagi mengeluh sakit, sudah mulai berjalan perlahan lagi, bisa duduk dengan sedikit tegak walaupun masih menggunakan kursi roda jika berjalan jauh.

Harapannya ke tanah suci kembali membara. Senyumnya sudah mulai semringah lagi. Bahkan semakin ceria dan bersemangat saat saya memperlihatkan undangan manasik hajinya.

"Positif-mi ini kita terdaftar sebagai calon jamaah haji, Dawiah?"

"Insya Allah Ma. Makanya mama harus sehat. Jangan lagi bandel, ikuti saran dokter." Mama masih juga tak mau berhenti melakukan kegiatan yang membahayakan tulangnya.

Hari-hari Indah di Madinah


Tanggal 15 Juli 2019 adalah waktu pemberangkatan kami. Mama masih dengan kursi rodanya, terlihat lemah namun ada harapan dan semangat di matanya.
Sudah tak ada lagi keraguan. Beliau sangat yakin bisa mengerjakan semua rukun haji dengan baik.

Kepada keluarga dan orang-orang yang datang menjenguknya,  beliau berkata, “Yang penting  anak dan menantuku sehat, saya pasti bisa menjalankan semua rukun haji.”
Saya yakin, itu adalah doanya  seyakin saya,  bahwa Allah pasti mengabulkan doanya.

Saya, suami, dan mama terdaftar sebagai calon jamaah haji kloter 14 embarkasi Makassar, UPg-14.
Tanggal 17 Juli 2019 sekitar pukul 11.00 waktu setempat, rombongan kami  tiba di bandar udara Internasional Prince Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah Arab Saudi.

Selama 8 hari di Madinah, mama masih harus melanjutkan minum  obat osteoporosisnya. Dengan sabar beliau menjalani hari-hari di Madinah.
Saya hanya bisa membawanya  salat berjamaah di masjid Nabawi setiap subuh, magrib, dan isya.

Mama mengerti bahwa mendorong kursi rodanya di siang bolong sangatlah tidak kondusif, baik untuk kesehatannya sendiri  maupun kesehatan pendorongnya, yaitu saya, karena suhu saat itu di Madinah mencapai 48oC.

Saya salat zuhur di  masjid Nabawi tanpa beliau, sedang salat asar saya menemaninya di hotel. 
Saat diberitahu oleh jamaah lain, kalau salat Arba’in saya tidak cukup karena setiap salat asar saya tidak ke masjid, dengan entengnya mama menjawab, 

“Saya yang akan mencukupkannya.”

Apakah itu diijabah oleh Allah atau tidak, wallahualam bissawab.

Hari kelima, saat pulang salat subuh tiba-tiba mama meminta turun dari kursi rodanya, beliau mencoba jalan kaki.

Masya Allah, mama berjalan perlahan sejauh 100 meter, saya mengikutinya sambil mendorong kursi rodanya yang kosong dengan hati yang gemuruh.

Duhai Allah, sungguh besar kasih sayang-Mu kepada mama.

Hari-hari di Madinah al munawwarah adalah saat terindah bersama mama. Mendorongnya di atas kursi, menungguinya antri berziarah ke makam Rasulullah.

Demikian pula saat ziarah ke masjid Quba, masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah Saw pada tahun 1 Hijriah, atau sekitar tahun 622 Masehi hingga ke Jabal Uhud.
Semburat kebahagiaannya tak bisa ia tutupi seiring semangatnya yang menderu mengalahkan sisa-sisa sakit di bagian punggungnya.

Sehatlah terus mama, doakan saya dengan doa-doa terbaik. Karena mama adalah perantara untuk menuju kepada rida Allah.


mardanurdin.com

Di masjid Quba, sumber pribadi




mardanurdin.com
Di Masjid Nabawi, sumber pribadi



“Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silahkan sia-siakan orang tua kalian.” (HR. Tirmidzi).


READ MORE

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Nama

Email *

Pesan *