Aktivitas Menulis Menghasilkan Hal Positif dan Menyenangkan

Tuesday, August 9, 2022



Tema “Tantangan Ngeblog 10 Pekan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) Makassar kali ini adalah pengalaman menyenangkan terkait aktivitas menulis. 

Kalau saya katakan, hal yang menyenangkan  buat saya dari menulis  adalah dapat cuan rasanya terlalu berlebihan, karena saya hanya mendapatkan job sesekali. Tentu berbeda buat penulis lain yang sudah malang melintang dalam dunia kepenulisan bahkan banyak penulis hebat dan produktif yang betul-betul hidup dari aktivitas menulis serta mendapatkan penghasilan yang tidak sedikit.

Atau saya katakan, pengalaman yang menyenangkan dari aktivitas menulis adalah saya sudah menerbitkan satu buku solo, satu buku ensiklopedi sebagai penulis pendamping dan puluhan buku antologi. Wuis, itu makin berlebihan dan sedikit  memalukan apalagi jika pernyataan itu diketahui oleh penulis yang bukunya sudah terbit puluhan buku solo bahkan ada yang sudah ratusan, best seller pula. 

Oh yah, ada sahabat saya yang ilmu agama Islam-nya  sudah jauh di atas saya pernah bilang begini, “menulis itu sesungguhnya adalah berdakwah, apabila yang kamu tuliskan adalah nasihat-nasihat yang bersumber dari Al Qur’an dan Al Hadist maka pasti itu sangat menyenangkan sekaligus menginspirasi. Maka menulislah agar mendapatkan pahala karena sudah berdakwah."

”Wadidaw…. Itu bukan menyenangkan Bu, melainkan mengerikan.

Siapa saya yang sok-sokan mau berdakwah lewat tulisan.

Lalu hal apa yang menyenangkan dari aktivitas menulis saya, yang kira-kira kalau disebutkan menjadi sesuatu yang tidak biasa, tetapi tidak menjadi bahan cemoohan sehingga pembaca tulisan ini terinspirasi dan mau juga menulis. Ah, saya bingung jadinya. 


Menulis Menjaga Kewarasan 


Menulis menjaga kewarasan? 

Sebelum rasa penasaran menggerus kewarasan maka sebaiknya baca dahulu latar belakangnya.

Jadi, dulu itu waktu saya masih SD, saya sering sekali dicueki oleh guru kelas. Mungkin karena waktu itu penampilan saya  buluk dengan pakaian yang sangat sederhana, padahal Pak guruku tercinta itu hanya tidak mau mengamati wajahku secara saksama, bahwa sebenarnya saya itu menyimpan aura kecantikan yang luar biasa. Hahaha.

Untuk melampiaskan kekesalan, saya tulis semua tentang beliau, semua kekurangannya, sebab kemarahan saya terhadap beliau dan apa saja yang membuatku sedih di dalam buku diariku. 

Plong!


Setiap kali beliau tidak memedulikan saya, maka setiap itu pula saya tulis kekesalan terhadap beliau sekaligus kesedihan saya.

Sebagian kisahnya saya tuliskan di sini. 

Dan, tulisan terakhir tentang beliau pun berakhir di sini. Pak guru merangkulku dalam kasih sayang dan kami berdamai.

Bisa dibayangkan, seandainya waktu itu saya tidak menumpahkan semua kekesalan dan kesedihan saya lewat tulisan,  mungkin saya menderita dalam kesedihan tak berujung.


Back to the old story. Tahun 2015 adalah tahun terhampa dalam hidup saya.

Pernah merasakan berada di suatu tempat, tetapi jiwa serasa melayang? Pernah memaksa pikiran untuk mengakui semua baik-baik saja tetapi di sudut pikiran lain menolaknya? 

Nah, itu saya pada tahun itu.

Dan, Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Dia menunjukkan cara terbaik mengatasi kehampaan jiwa saya setelah hampir menjauh dari-Nya. 

Atas skenario-Nya, suatu waktu saya menemukan tulisan status teman SMP tentang Sekolah Perempuan (SP). Dari sana saya mulai bertanya tentang SP dan segala hal yang berhubungan dengan itu, yaitu menulis.

Bagai menemukan oasis, jiwa yang tadinya gersang perlahan-lahan menjadi sejuk. Kehampaan dan kesedihan perlahan-lahan terurai.

Semua kesedihan dan kehampaan itu tumpah dalam tulisan.

Berhari-hari saya menuliskan semuanya. Rasa sedih, amarah, sakit hati, tentang orang-orang sekitar yang menggunjing, orang yang bersyukur atas musibah yang saya alami, semuanya tanpa tersisa.

Sekali lagi saya merasakan perasaan yang sama puluhan tahun lalu. 

Plong!

Maka tak salah jika saya katakan, pengalaman menyenangkan terkait dengan aktivitas menulis dalam hidup saya adalah saya terbebas dari situasi yang nyaris menghilangkan kewarasan saya. 



Dengan Menulis Saya Mendapatkan Ilmu 


Berkat menulis saya bertemu dengan orang-orang yang memiliki hobi dan passion yang sama. Saya bergabung dalam berbagai komunitas menulis di mana di dalam komunitas-komunitas tersebut, ada saja anggotanya yang tak henti-henti menyebarkan virus menulis.

Bagai resonansi, saya turut bergetar dan terseret dalam pusaran gelombang semangat menulis. 

Tak cukup sampai di situ. Tanpa saya sadari, saya menemukan berbagai ilmu lain selain menulis, seperti ilmu parenting, kesehatan, keuangan bahkan digital marketing secara gratis.

Sungguh menyenangkan menyingkap tirai ketidaktahuan menjadi sesuatu yang terang benderang. 



Menulis Mempertemukan Teman Curhat



Kedengaran aneh, tetapi itulah yang terjadi.

Setelah sekian lama berkecimpung dalam dunia kepenulisan, maka tanpa disengaja saya bertemu dengan teman baru yang asyik untuk diajak bicara.

Awalnya hanya bicara sekitar kepenulisan lalu berlanjut bicara tentang keluarga masing-masing dan terus secara intens saling curhat.

Saat dia galau tentang apa saja, saya menjadi pendengarnya demikian pula sebaliknya. Bukankah saat kita sedih, resah dan gelisah kita hanya membutuhkan telinga untuk didengar?

Mungkin masih ada teman lain di luar sana seperti teman kantor, teman masa kecil bahkan keluarga yang bisa menjadi tempat curhat, tetapi belum tentu ia bisa menjadi pendengar yang baik sekaligus penyimpan rahasia yang aman. 

Nah, saya menemukan dia berkat menulis dan tergabung dalam Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) Makassar. 

Kalau begitu, kita sapa dia dulu yuk!


Hai, teman curhatku, apa kabar? Masih banyak tong sampah yang kau miliki untuk menampung unek-unekku kan? Tenang saja, saya pun masih menyediakan telinga buat mendengar kisahmu dan menampung unek-unekmu. Dijamin rahasia aman.


Makassar, 9 Agustus 2022


Dawiah

READ MORE

Kehidupan Seorang Ibu Ibarat Naik Roller Coaster

Sunday, August 7, 2022




Kehidupan Seorang Ibu Ibarat Naik Roller Coaster


“Kelak, kalau kamu sudah jadi ibu, kamu akan rasakan perasaan mama ini.”


Saya tidak tahu, apakah itu doa, sumpah atau peringatan. Sulit sekali saya membedakannya waktu itu.

Namun, seiring waktu dan kini saya telah menjadi ibu dengan empat putra dan satu putri, saya benar-benar merasakan apa yang mama  rasakan waktu itu. Kecemasan yang mendera.


Kehidupan sebagai ibu dengan berjuta kecemasan mulai terasa sesaat setelah satu anak lahir disusul anak kedua, ketiga, keempat dan kelima. Jadi, kecemasan-kecemasan itu bertambah seiring dengan pertambahan anak.

Satu anak sejuta kecemasan, lima anak, yaaah kalikan sendiri.


Anak Adalah Peniru Ulung


Sejak awal saya tahu, bahwa kecemasan saat anak masih bayi hingga di ambang memasuki masa aqil baliq belumlah apa-apa dibandingkan ketika anak sudah beranjak remaja.

Saat anak masih kecil paling-paling ibu cemas kalau anaknya sakit, cedera, tidak mau makan, lambat berjalan, lambat bicara dan sebagainya. 

Namun, masa itu  adalah masa keemasan seorang anak yang akan menentukan masa depannya. Jika di masa itu, anak kekurangan nutrisi bisa jadi berdampak pada pertumbuhan badannya, seperti mengalami stunting, kurang kreativitas akibat kekurangan suplai nutrisi ke otaknya dan sebagainya.

Selain tentang fisik, penanaman karakter pun dimulai pada usia keemasan itu.

Salah sedikit orang tua bersikap maka seumur hidup dampak buruknya akan dialami anak.

Bapak membentak istrinya atau membentak anak dengan kasar atau memukul maka bisa jadi anak akan mengalami luka pengasuhan. Atau mendapati salah satu orang tuanya malas bekerja, malas bangun pagi, lama di kamar mandi dan sebagainya, bisa jadi hal-hal itu membekas dalam ingatan anak dan tanpa disadari anak meniru. Sebab anak adalah peniru yang ulung.

Jadi, kalau mendapati anak melakukan sesuatu yang sama dengan salah satu orang tuanya itu bukan berarti kelakuannya diwariskan melainkan anak meniru kelakuan orang tuanya.  



Ibu Adalah Madrasah Pertama



Ibu adalah madrasah pertama, kalimat ini sudah sering kita dengar. Bahwa peran ibu sangatlah menentukan karakter anak yang dimulai saat anak masih jadi embrio lalu menjadi janin, bayi, batita, balita, remaja hingga dewasa. 

Apa yang ibu lakukan saat ia hamil kemudian menyusui?

Apakah makanan yang dikonsumsi halal, haram atau ada unsur syubhat semua itu menentukan karakter anak. 

Selain tentang makanan, kelakuan, pikiran dan kebiasaan seorang ibu juga memengaruhi karakter anak kelak saat mereka sudah besar.

Menyadari semua itu, maka hampir setiap waktu saya menyesal untuk berbagai hal yang saya lakukan di masa lalu. Menyesal ketika hamil tidak melakukan ini itu. Menyesal saat mengasuh anak-anak saya tidak melakukan ini itu. Menyesal kenapa melakukan ini itu dan sebagainya.

Dan, pertanyaan yang paling menggelisahkan jiwa keibuan saya adalah ketika kelak saya ditanya, “apakah kamu sudah menjadi madrasah yang baik buat anak-anakmu?”

Astagfirullah! Ya Gafur, Igfirlah!



Bagai Naik Roller Coaster



Jujur, saya tidak pernah naik roller coaster. Takut Ceunah!

Melihatnya saja saya ngeri bagaimana menaikinya. Kata orang yang pernah naik roaller coster, di atas itu tak semuanya mengerikan. Kalau lagi berayun pelan rasanya asyik-asyik saja, tetapi begitu menurun atau menaik dengan kecepatan maksimal, jantung tuh serasa mau keluar. Debarannya sangat dahsyat.

Menurutku, gambaran itu sangat cocok dengan perasaan saya sebagai ibu. Saat anak baik-baik saja di rumah, melakukan kegiatan yang positif rasanya tuh hati tenaang, damai dan tenteram. Bagai di atas roal coaster yang berayun perlahan dengan hembusan semilir angin nan lembut.

Dan, ketika anak bertingkah, masyaallah kepala serasa berdenyut, jantung  berdebar tak karuan sehingga otak serasa tak berkoneksi dengan hati. Mual tapi tak kunjung muntah, macam mana tuh perasaan. Ibarat menaiki roller coaster yang sedang  menukik tajam tanpa ampun. 

Mau teriak yang kencang, malu. Mau diam-diam saja, tetapi syaraf-syaraf di kepala berontak.



Bisakah Berharap?



Jika ditanya, kelakuan apa yang diperbuat anakmu yang membuat kamu berada di situasi paling mencemaskan?

Jawabku, ketika anakku jatuh cinta.


Saat anak mulai memperlihatakan gelagat suka sama lawan jenisnya, maka di situlah saya berkali-kali  beristigfar. 

Ya Rabb, beginilah perasaan mamaku dulu ketika saya mulai suka sama lawan jenis. 

Berbagai pikiran buruk berkecamuk, apalagi kalau ditambah dengan informasi kanan kiri maka makin sempurnalah kecemasan itu.


Saya pernah membersamai mama dalam berbagai situasi seperti itu. Mama sendirian menjaga anak-anaknya karena bapak meninggal dunia di usia relatif muda.

Bagaimana jatuh bangunnya mama menjaga anak-anak gadisnya di tengah himpitan kekurangan ekonomi di mana satu persatu anaknya  tumbuh menjadi gadis yang menawan. 

Ibarat bunga yang sedang mekar-mekarnya maka berbagai kumbang datang mendekat. Dan, mamaku sendirian menjaga bunga itu agar tidak layu sebelum berkembang.

Beliau baru bernapas lega ketika semua anaknya menikah. Dan, saat ia bisa bernapas lega saat itu pula penyakit fisik mulai datang satu persatu.

Mama pernah bertanya ke saya.

“Mungkinkah semua penyakit yang kualami sekarang adalah kumpulan sakit pikiran dan sakit hati di masa lalu?”

Wallahualam Mak.

Saya tidak berani menjawabnya, tetapi perlahan pertanyaan itu menyelusup ke relung hati seakan memberi sinyal, hati-hati sebentar lagi kau akan tiba di titik itu. 


Ya Rabb! 

Bisakah saya berharap anak-anakku tidak jatuh cinta dulu, tidak berkomunikasi secara intens dengan lawan jenisnya dulu, jadi “Sitti Nurbaya” misalnya?

Rasanya mustahil untuk  zaman sekarang. Begitu banyak media yang bisa memudahkan mereka berkomunikasi dan itu semua menjadi jalur-jalur setan dalam menggoda iman. 

Qadarullah, dua anakku telah menikah dan saya sangat bersyukur atas nikmat itu, tetapi masih ada tiga ya Allah. 

Dan, si bungsu itu perempuan ya Rabb!

Katanya, kalau laki-laki “jatuh” ia bagaikan kelapa yang sekalipun jatuh, masih baik-baik saja, tidak hancur-hancur amat, tetapi jika seorang perempuan “jatuh” maka ibaratnya sebutir telur yang jatuh akan menjadi hancur berkeping.

Walau sebenarnya, sama saja.

Anak laki-laki atau anak perempuan jika tidak beres hidupnya efeknya menghancurkan hati orang tua juga.

Terkait dengan perasaan anak terhadap lawan jenisnya, ingin sekali rasanya memohon kepada Allah untuk diberi bocoran tentang siapa jodoh anakku, terutama jodoh si bungsu. Biar hatiku tenang dan bisa tidur lelap. Tetapi itu mustahil.

Bukankah jodoh, maut dan rezeki manusia itu rahasia Ilahi dan telah tercatat di lauhul Mahfudz?


Harapan Itu Masih Ada


Sekalipun rezeki, maut, amal dan jodoh telah tercatat di Lauhul Mahfuz, masih ada harapan sebab Allah swt menjadikan sebab-sebab yang dapat menambah dan mengurangi rezeki, termasuk jodoh.


“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah untuk kalian, maka berjalanlah di penjurunya (untuk berusaha) dan makanlah dari rezeki yang Allah karuniakan dan hanya kepada-Nya (kalian) kembali setelah dibangkitkan.” (al-Mulk: 15).

 

Dalam pengetahuanku yang masih fakir ilmu ini, saya meyakini tidak ada yang tidak bisa manusia usahakan.

Sebab-sebab dijadikan Allah Swt untuk manusia agar ia berpikir, bahwa ia menjadi begini sebab begitu. Ia bisa jadi begitu sebab begini.

Dan, firman Allah Swt dalam surat An-Nur ayat 26 dapat dijadikan tolok ukur untuk menggunakan sebab-sebab tersebut.


“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula) ….” (An-Nur:26)


Jadi kalau perempuan mendapatkan laki-laki keji disebabkan si perempuan itu juga keji demikian pula sebaliknya.

Maka jika seorang perempuan ingin mendapatkan pasangan yang baik maka jadikanlah dirimu perempuan yang baik demikian juga sebaliknya.

Inilah yang selalu saya coba tanamkan dalam pikiran anak-anak saya. Bahwa, kamu bisa mendapatkan pasangan baik apabila kamu berbuat, bersikap, berkata-kata dan berpikir baik juga. Itu janji Allah Swt dan Allah selalu memenuhi janji-Nya.



mardanurdin.com
dokumen pribadi


Duhai diri yang gelisah, masih ada harapan untuk anak-anakmu. Berserah dirilah kepada-Nya dan rangkullah dalam dekapan kasih sayangmu. 

Bisikkan harapan ke telinga batin calon jodoh anakmu dan katakan, 

“Jagalah anakku dalam cintamu dan akan kujaga dia untukmu.” 


Kutipan berikut ini menjadi penutup dari kegelisahan seorang ibu.


“Melarang orang jatuh cinta sama saja membunuhnya secara perlahan-lahan. Maka cara terbaik agar ia tidak dibutakan cinta dan tidak berjalan dalam kesesatan adalah dengan merangkulnya lalu mengajaknya melihat langit dan alam semesta sembari berbisik. “Nak, di atas sana terdapat jodohmu yang masih dirahasiakan Allah. Tunggulah kedatangannya dalam kesucian diri, hati dan cintamu.” Dawiah.

 

Wahai jodoh anakku, pesan ini kukirimkan pula buatmu. Jaga diri baik-baik yah, jangan nakal!



Salam, Makassar Ahad, 7 Agustus 2022


Dawiah 


Catatan: Memenuhi tantangan menulis Tema Mingguan 1Minggu1Cerita; Kehidupan.




READ MORE

Pengalaman Menggunakan Dompet Digital

Saturday, August 6, 2022




Pengalaman Menggunakan Dompet Digital

Sebagai generasi jadul, saya lebih suka membawa dompet kemana-mana terutama jika dompet itu  berisi uang tunai yang banyak  dibandingkan dengan memiliki dompet digital. 

Kepercayaan diri saya bertambah jika dompet itu ada isinya, apalagi jika isinya berupa uang berwarna merah, baru dan banyak. 

Wuiss, serasa jadi ibu sultan.

Ah, andai salah satu anakku dulu kuberi nama Sultan, maka pastilah sekarang perasaan itu terbukti. Ibu Sultan hahaha.


Namun, terkadang ada juga perasaan bangga tatkala belanja sesuatu menggunakan dompet digital. Dalam hati berbisik, “gini-gini saya juga punya dompet digital dan bisa menggunakannya.”

Segitu saja saya sudah merasa keren dibandingkan dengan mama saya dan beberapa teman seumuran yang masih kagok menggunakannya bahkan ada yang belum punya dompet digital. 


Dompet Digital, Kalian Tahu?


Wow, kalau anak milenia dan generasi Z baca pertanyaan saya ini, mereka pasti senyum-senyum sambil berbisik dalam hati, “ibu saja kali yang tidak tahu dompet digital, kami mah ngerti dan sudah biasa menggunakannya.”

Baiklah.


Dari berbagai artikel, setidaknya saya mengetahui terdapat berbagai macam dompet digital, seperti Gopay, OVO, Dana, LinkAja, Jenius, iSaku dan Sakuku. Dari ketuju jenis dompet digital tersebut tiga di antaranya pernah saya install di gawaiku.

Dompet digital OVO pernah saya pasang untuk keperluan job menulis, tetapi setelah itu saya hapus. Sedangkan Dana masih ada, tetapi tak sekalipun saya gunakan.

Satu-satunya dompet digital yang masih bertahan dan sering saya gunakan adalah Gopay, tetapi nasibnya kurang lebih sama dengan Dana, jarang sekali ada isinya. Sekalinya terisi langsung ludes. 


Pengalaman Menggunakan Gopay


Karena ini bukan artikel berbayar (maaf, saya pelit) hahaha, maka saya tidak menuliskan reviewnya. Hanya mau berbagi pengalaman tentang menggunakan dompet digital ini.


Saya menggunakan Gopay karena menginstall aplikasi Gojek. Awalnya saya hanya untuk keperluan naik kendaraan memakai  GoRide atau Gocar saja dan biasanya pembayaran melalui Gopay lebih murah dibandingkan bayar tunai.

Dasar otak emak-emak, hemat pangkal nambah saldo di dompet sudah jadi karakter dasar saya, maka rajinlah saya mengisi Gopay.


Semakin lama semakin keasyikan tuh gunakan Gopay seiring dengan munculnya fitur pesanan makanan.

Kalian tahu kan, betapa dahsyatnya godaan GoFood di Gojek ini. Ada banyak makanan yang nampak enak dan lezat berjejeran di sana.


Nah, yang paling sering mengintip saldo Gopay ku adalah si bungsu Nabila. Lalu dia mencari-cari makanan yang pas dengan saldonya, terus membisikkan rayuan mautnya.

“Ma, pesan makanan na… lapar nih.”

“Ih, mama tidak punya uang lagi tanggal tua ini.”

“Tidak pakai uang tunai ji Ma. Masih ada saldo Gopay ta.”

Yah,  salaaaam!


Saya jadi mikir, kapan ya saya isi tuh si Gopay? Perasaan sudah dua bulan ini tidak mengisinya.

Sejenak saya berpikir sambil melihat jari-jari Nabila yang dengan lincah memesan makanannya.

Oh alaaa… ternyata, payment beberapa artikelku masuk ke Gopay. 


Jadi, kalau ada yang berkomentar. Katanya biasa dapat cuan dari tulisan, tetapi belum kaya-kaya juga. Kalian ngerti kan sekarang? Masa tidak ngerti.


Pssst, cuan nulis itu juga tidak banyak-banyak amat, cukuplah buat beli makanan di Gopay. 


Sip! Tantangan Ngeblok 10Pekan dari  IIDN Makassar tentang pengalaman menggunakan dompet digital telah saya penuhi. 

Semoga masih bisa menaklukkan tantangan berikutnya.


Salam dari Makassar

Dawiah

READ MORE

Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo & Conditioner; Hempaskan Rambut Rontok dan Lepek

Wednesday, August 3, 2022




Hempaskan Rambut Rontok dan Lepek dengan Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo & Conditioner



Sejak memakai hijab, saya merasa tidak pernah bermasalah dengan rambut. Mau lepek, mau mengembang bagai bunga yang mekar di pagi hari atau mau apa pun, saya tidak peduli. Tidak kelihatan juga kan ya.

Tetapi itu dulu.

Akhir-akhir ini saya mulai terganggu dengan rasa gatal pada kulit kepala. “apakah saya kutuan?” Hiii …. tidak sehat sekali rasanya, masa iya saya yang rajin memakai sampo bisa “memelihara” kutu di kepala. 

Dan, yang lebih parah adalah rambut saya rontoknya keterlaluan. 

Makanya saya rajin ganti-ganti sampo, padahal itu bukan solusi yang cerdas.

Di tengah kegalauan soal rambut itu, saya menemukan informasi kalau Scarlett baru-baru ini meluncurkan produk sampo. 

Sebagai pengguna Scarlett, mulai dari body scrub, shower scrub dan body lotion, face care whitening, Scarlett Brightly Essence Toner, serum, hingga maskernya, Scarlett gel mask maka kehadiran sampo itu mengundang rasa penasaran untuk mencobanya.

Singkat cerita, saya mulailah mencoba memakai Scarlett Yordanian Sea Salt shampoo siapa tahu sampo cocok dan ampuh menghentikan kerontokan rambut saya.



Sebelumnya, mari kita lihat dahulu kemasannya.


Kemasan Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo & Conditioner


Botolnya berbentuk kotak dengan sudut membulat pada bagian atas botol dan dilengkapi dengan penutup model fliptop. Karena volumenya lumayan banyak, 250ml maka kemasannya nampak lebih besar dan sedikit tebal.

Pengalaman menggunakan sampo dengan botol yang penutupnya model pump maka menggunakan kemasan botol dengan fliptop itu serasa lebih hemat. Sekalipun tutupnya terbuka, tetapi tidak langsung tumpah isinya dan kita bisa mengatur penggunaannya.

Berbeda dengan beberapa jenis sampo lain yang menggunakan botol berwarna, Scarlett lebih memilih menggunakan kemasan plastik transparan sehingga warnanya terlihat jelas. 



Sampo Scarlett memiliki warna biru laut sedangkan kondisionernya berwarna merah jambu. 

Sebagaimana ciri khas dari produk-produk Scarlett di mana setiap kemasannya dilengkapi dengan logo Scarlett, sampo dan kondisionernya juga demikian. 

Dan, untuk mengecek keaslian produknya, kalian bisa scan stiker hologramnya yang berisi barcode

Setelah mengulas tentang kemasannya, mari kita ulas tekstur dan aromanya.


Tekstur dan Aroma Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo & Conditioner


Tekstur Scarlett Yordanian Shampoo terasa creamy seperti pasta dengan aroma seperti wangi tumbuhan Magnolia. Jujur, saya belum pernah mencium aroma tumbuhan Magnolia, ternyata wangi dan saya suka.

Kabarnya, wangi kondisionernya berasal dari aroma bunga Sedap Malam. 

Wah, saya penasaran, apa betul sewangi itu? Soalnya saya paling suka dengan aroma Evening Primrose alias si bunga Sedap Malam ini. 

Setelah menghirup aromanya, wuiss… bunga Sedap Malam bagaikan tumbuh di sekitar saya. Habis sampoan dan pakai kondisionernya, rasanya baru keluar dari salon untuk perawatan rambut, seharum itu wanginya.


Kandungan dan Manfaat Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo & Conditioner


Nah, ini nih yang paling penting. Kalian harus tahu dan mempelajari apa saja kandungan dan manfaatnya sampo dan kondisioner ini, agar tidak salah memakai sampo, seperti saya yang main ganti-ganti sampo saja setiap kali ketemu sampo yang tidak ramah dengan rambut dan kulit kepala saya.


Pada kemasannya tertulis berbagai macam zat yang terkandung baik dalam sampo maupun kondisionernya, tetapi kandungan utamanya adalah Sea Salt.


Sea Salt dipercaya berfungsi untuk: 

  1. Membantu mengurangi kadar minyak berlebih di kulit kepala.
  2. Membantu mengatasi penumpukan kotoran di permukaan kulit kepala.
  3. Membantu membuka kutikel rambut sehingga perawatan selanjutnya akan menyerap dengan baik.

Sea Salt pada Scarlett Yordanian Shampoo & Conditioner ini memiliki manfaat untuk:

  1. Mengontrol produksi minyak di kulit kepala
  2. Membersihkan kulit kepala
  3. Menguatkan akat rambut
  4. Memberikan volume lada rambut
  5. Mencegah rambut rontok dan bercabang
  6. Menyehatkan foliket rambut dan kulit kepala
  7. Membantu membuat rambut jadi lebih berkilau.


Cara Pemakaian Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo & Conditioner


Cara memakai sampo

Tuangkan Scarlett Yordanian Sea Salt shampoo di telapak tangan secukupnya lalu usapkan pada kulit kepala. Jangan lupa memijitnya perlahan dan lembut. Terakhir bilas dengan air yang cukup.


Cara memakai kondisioner

Setelah rambut dan kulit kepala bersih dari busa-busa sampo, maka waktunya menggunakan kondisionernya.


Tuangkan Scarlett Yordanian Sea Salt conditioner ke telapak tangan secukupnya lalu usapkan ke batang rambut hingga ujungnya (hindari bagian akar rambut/kulit kepala) dengan merata, lalu biarkan sejenak/ selama beberapa menit kemudian bilas. 


Review Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo & Conditioner


Setelah menggunakan Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo & Conditioner selama dua pekan, maka berikut ini reviewnya.


Sebagai pemilik rambut yang kering, mengembang dan sulit diatur, saya tuh rada-rada khawatir juga memakai sampo ini. Soalnya dikatakan kalau sampo ini dapat menyerap minyak berlebih pada kulit kepala. 

Lah, apa kabar dengan rambut dan jenis kulit kepala saya yang memang sudah kekurangan minyak dari sananya?


Ternyata, kehadiran Scarlett Yordanian Sea Salt Conditioner menghempaskan kekhawatiran saya. Habis memakai sampo dan kondisionernya rambut saya aman-aman saja. Saya perhatikan, rambut rontok mulai sedikit berkurang.

Harus memakai rutin nih. Soalnya kerontokan pada rambut saya itu sudah termasuk kategori parah nan memprihatinkan.

Oh yah, sekalipun Scarlett Yordanian Sea Salt Shampoo & Conditioner ini aman buat ibu hamil dan ibu menyusui, tetapi tidak disarankan digunakan buat yang berumur di bawah 13 tahun.


Buat kalian yang tertarik mengurangi rambut rontok dan menjadikan rambut lebih sehat dan berkilau, kalian bisa mendapatkannya melalui salah satu platform Scarlett Whitening.

Klik saja link berikut ini.

Scarlett Yordanian Sea Selt Shampoo 



Selamat mencoba!

READ MORE

Pemimpin Bukan Bos

Tuesday, August 2, 2022




Senin, 1 Agustus, hari ini adalah briefing kedua yang dipimpin oleh kepala sekolah setelah Senin lalu tidak terlaksana karena beliau sedang bertugas di luar daerah.

Seperti biasa, kepala sekolah mencoba membakar semangat guru untuk terus berkarya dengan melihat pencapaian empat rekan guru yang berhasil menjadi  pendamping, narasumber, pelatih atau apa pun itu namanya.

Sebagai sesama guru, saya turut senang melihat pencapaian mereka dan berharap, semoga dengan bertambahnya ilmu mereka berdampak positif pula terhadap siswa-siswi. Jangan sampai, mereka berjaya di tempat lain, sibuk menjadi narasumber di sana-sini sedangkan kewajiban utamanya sebagai guru yang harus masuk kelas mengajar dan mendidik siswa terabaikan.

Bagaimana pun, melatih guru-guru di tempat lain di jam kerja atau sekadar mengikuti zoom yang bertepatan dengan jadwal mengajar pasti akan mengganggu tugas pokoknya.

Sekolah yang berprestasi tidak cukup diukur dari satu sisi saja. Misalnya, karena ada gurunya yang menjadi narasumber di mana-mana atau sekolah itu dikunjungi oleh pejabat, dijadikan percontohan dari sekolah lain dan sebagainya, atau kepala sekolahnya cerdas dan berprestasi.

Menurut saya, sekolah yang baik dan bisa dibilang berprestasi itu harus ditilik dari berbagai faktor, seperti:

Apakah lingkungan sekolah itu kondusif sehingga semua yang terlibat di dalamnya merasa nyaman, aman dan bahagia? Apakah guru-guru dan semua personilnya datang ke sekolah dengan senang hati, siswa-siswa datang ke sekolah dengan semangat yang tinggi tanpa merasa terpaksa.

Apakah proses pembelajaran berjalan dengan tertib dan tidak kaku? Apakah guru-guru mengajar dan mendidik dengan sepenuh hati? Apakah siswa-siswa mengikuti proses pembelajaran dengan hati senang dan gembira?

Ini pendapat pribadi saya, terlepas dari ciri dan tujuan Kurikulum Merdeka Belajar yang sekarang sedang digaungkan oleh Pemerintah. 


Kembali kepada pengarahan kepala sekolah. Salah satu pengarahan beliau adalah himbauan untuk kembali disiplin dalam memakai pakaian dinas yang sesuai dengan aturan, seperti hari Senin dan Selasa memakai baju dinas warna khaki, hari Rabu pakai baju putih dan bawahan hitam dan hari Kamis memakai baju batik lalu hari  Jumat pakaian bebas.

Sekilas tidak ada yang perlu dipermasalahkan, tetapi rupanya ada yang tersinggung. Sayangnya,  guru tersebut menuliskan unek-unek dan kesan penolakannya di WAG sekolah. Dan, ini berbuntut panjang keesokan harinya.


Bagai déjà vu, saat menjadi kepala sekolah beberapa tahun lalu. Jika merasa ada guru atau staf yang menolak, baik secara terang-terangan maupun secara diam-diam maka ada perasaan kesal yang berusaha ditahan sedemikian rupa agar tidak meledak. 

Kesan sebagai pimpinan yang tenang, tidak grasak-grusuk,  arif dan bijaksana, harus tetap dibangun sekalipun itu sedikit menipu diri. 

Bukankah setiap pemimpin itu dituntut untuk mampu memimpin diri sendiri terlebih dahulu, minimal mampu mengontrol dan menguasai emosinya? Dan, yakinlah, ini sungguh tidak mudah. 


Maka biasanya senjata pamungkas yang saya lakukan adalah mengirimkan kembali peraturan yang diterbitkan oleh pemerintah ke WAG, sebagai pengingat, bahwa pimpinan itu tidak asal-asalan menerapkan suatu aturan. Ada dasar hukumnya dan kita semua sebagai rakyat yang taat aturan, wajib hukumnya menaati peraturan tersebut. 


Dan, itulah yang dilakukan kepala sekolah saya. 

Good Job!


Pemimpin Berbeda dengan Bos


Masih dalam suasana deja vu, saya teringat dengan nasihat oleh seseorang yang saya lupa namanya, bahwa menjadi kepala sekolah atau pemimpin dalam suatu unit terkecil dalam lingkup pendidikan, tidak boleh bersifat sebagai bos. 


Harus dipahami, bahwa pemimpin itu berbeda dengan bos. 


Pemimpin adalah seseorang yang mau bekerjasama dengan orang yang dipimpin, merangkul dan memotivasi tanpa menggurui. Orang yang bekerja di bawah seorang pemimpin akan memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi dirinya. 


Sedangkan bos, biasanya suka memerintah dan orang di bawahnya harus melakukan pekerjaan sesuai yang diperintahkan, sehingga orang-orangnya tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi dirinya.


Dalam hal tujuan, pemimpin bertujuan menciptakan atau mengkader calon pemimpin yang akan meneruskan visi misi yang telah ditetapkan.  Sedangkan bos, akan berupaya mempertahankan kekuasaannya dengan tujuan bisa mengendalikan orang-orang di sekitarnya.


Seorang bos cenderung senang dipuji dan dihormati, maka tidak jarang orang di bawah kekuasaannya merasa takut saat berhadapan langsung dengannya.

Sedangkan pemimpin berperilaku sebaliknya, dia tidak gila hormat, bahkan pemimpin suka memuji dan menyemangati sehingga orang yang dipimpinnya bekerja dengan ikhlas karena merasa dimanusiakan.


Dalam hal orientasi, seorang pemimpin memiliki orientasi terhadap visi misi sekolah. Setiap keputusan yang diambil selalu berorientasi ke sana. Bos tidak demikian. Seorang bos selalu berorientasi terhadap profit yang dihasilkan. 

Oleh sebab itu, bos lebih berfokus kepada hasil sedangkan pemimpin lebih berfokus pada proses. 


Demikian pula dalam mengambil keputusan. Seorang pemimpin dalam mengambil keputusan sebelum menjadi suatu kebijakan senantiasa mendengarkan dan memperhatikan usulan-usulan atau ide-ide dari bawahannya.

Sedangkan bos, keputusannya bersifat absolut. 


Pemimpin suka bekerja dalam tim karena lebih menekankan pada “kita” bukan “aku” yang biasanya  sifat ini dimiliki oleh seorang bos.

Jika diulik secara mendalam, perbedaan seorang pemimpin dengan bos itu sangat jauh. 


Namun, kadangkala seseorang yang kedudukannya seharusnya adalah sebagai pemimpin justru bertindak dan berperilaku sebagai bos. 

Setiap berujar, kata keakuannya sangat tinggi. 

Kalau bukan aku, maka tidak akan sukses. Kalau bukan aku, sekolah ini tidak ada apa-apanya. Dibandingkan dengan yang dahulu, akulah yang membuat sekolah ini terkenal, lebih baik, lebih berprestasi dan sebagainya. 

Aku … aku … dan lagi-lagi aku, bla ... bla ... bla...


Oleh sebab itu, sekalipun perbedaan pemimpin dengan bos itu sangat jelas, tetapi oleh orang yang diamanahi sebagai pemimpin suka terkecoh dengan tindakannya sendiri. 


Merasa apa yang dilakukannya sudah mencerminkan dirinya sebagai seorang pemimpin, padahal kenyataannya, sikap-sikapnya, perkataannya, tindakannya bahkan keputusan yang diambilnya justru mewakili sifat bos. 


Mungkin bisa disimpulkan, bahwa seorang bos itu cenderung egois sedangkan seorang pemimpin memiliki kemampuan mengatur sifat ego dalam dirinya.

Sejenak saya merenung. 


Apakah waktu itu, saya telah menjadi seorang pemimpin atau malah bertindak sebagai bos? Wallahualam bissawab. 


Biarlah orang-orang yang pernah (saya merasa) memimpinnya yang akan menjawab. 

 

Cara Menjadi Pemimpin yang Baik

 

Berbagai literatur menuliskan tentang cara menjadi pemimpin yang baik. Minimal menjadi pemimpin dalam keluarganya atau setidaknya menjadi pemimpin untuk diri sendiri.

Dari literatur-literatur tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa menjadi pemimpin yang baik minimal memiliki beberapa sifat berikut ini.


  • Memiliki sifat peduli terhadap bawahannya dan orang-orang di sekitarnya.
  • Mau mendengarkan ide-ide dari orang lain dan siap menerima kritikan dan masukan.
  • Memiliki wawasan luas dan tidak pernah berhenti belajar.
  • Memiliki jiwa besar untuk mengakui kesalahan, tidak menutupi kesalahannya
  • Selalu memberikan apresiasi terhadap prestasi orang lain terutama orang-orang yang berada dalam area kepemimpinannya.
  • Dan, yang paling penting, pemimpin yang baik memiliki kecerdasan emosional yang tinggi.

 

Demikian. Semoga bermanfaat. 

By the way, sudah siapkah Anda menjadi pemimpin?

 

Salam dari Makassar

 

Dawiah 

READ MORE

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Name

Email *

Message *