Kehidupan Seorang Ibu Ibarat Naik Roller Coaster

Sunday, August 7, 2022




Kehidupan Seorang Ibu Ibarat Naik Roller Coaster


“Kelak, kalau kamu sudah jadi ibu, kamu akan rasakan perasaan mama ini.”


Saya tidak tahu, apakah itu doa, sumpah atau peringatan. Sulit sekali saya membedakannya waktu itu.

Namun, seiring waktu dan kini saya telah menjadi ibu dengan empat putra dan satu putri, saya benar-benar merasakan apa yang mama  rasakan waktu itu. Kecemasan yang mendera.


Kehidupan sebagai ibu dengan berjuta kecemasan mulai terasa sesaat setelah satu anak lahir disusul anak kedua, ketiga, keempat dan kelima. Jadi, kecemasan-kecemasan itu bertambah seiring dengan pertambahan anak.

Satu anak sejuta kecemasan, lima anak, yaaah kalikan sendiri.


Anak Adalah Peniru Ulung


Sejak awal saya tahu, bahwa kecemasan saat anak masih bayi hingga di ambang memasuki masa aqil baliq belumlah apa-apa dibandingkan ketika anak sudah beranjak remaja.

Saat anak masih kecil paling-paling ibu cemas kalau anaknya sakit, cedera, tidak mau makan, lambat berjalan, lambat bicara dan sebagainya. 

Namun, masa itu  adalah masa keemasan seorang anak yang akan menentukan masa depannya. Jika di masa itu, anak kekurangan nutrisi bisa jadi berdampak pada pertumbuhan badannya, seperti mengalami stunting, kurang kreativitas akibat kekurangan suplai nutrisi ke otaknya dan sebagainya.

Selain tentang fisik, penanaman karakter pun dimulai pada usia keemasan itu.

Salah sedikit orang tua bersikap maka seumur hidup dampak buruknya akan dialami anak.

Bapak membentak istrinya atau membentak anak dengan kasar atau memukul maka bisa jadi anak akan mengalami luka pengasuhan. Atau mendapati salah satu orang tuanya malas bekerja, malas bangun pagi, lama di kamar mandi dan sebagainya, bisa jadi hal-hal itu membekas dalam ingatan anak dan tanpa disadari anak meniru. Sebab anak adalah peniru yang ulung.

Jadi, kalau mendapati anak melakukan sesuatu yang sama dengan salah satu orang tuanya itu bukan berarti kelakuannya diwariskan melainkan anak meniru kelakuan orang tuanya.  



Ibu Adalah Madrasah Pertama



Ibu adalah madrasah pertama, kalimat ini sudah sering kita dengar. Bahwa peran ibu sangatlah menentukan karakter anak yang dimulai saat anak masih jadi embrio lalu menjadi janin, bayi, batita, balita, remaja hingga dewasa. 

Apa yang ibu lakukan saat ia hamil kemudian menyusui?

Apakah makanan yang dikonsumsi halal, haram atau ada unsur syubhat semua itu menentukan karakter anak. 

Selain tentang makanan, kelakuan, pikiran dan kebiasaan seorang ibu juga memengaruhi karakter anak kelak saat mereka sudah besar.

Menyadari semua itu, maka hampir setiap waktu saya menyesal untuk berbagai hal yang saya lakukan di masa lalu. Menyesal ketika hamil tidak melakukan ini itu. Menyesal saat mengasuh anak-anak saya tidak melakukan ini itu. Menyesal kenapa melakukan ini itu dan sebagainya.

Dan, pertanyaan yang paling menggelisahkan jiwa keibuan saya adalah ketika kelak saya ditanya, “apakah kamu sudah menjadi madrasah yang baik buat anak-anakmu?”

Astagfirullah! Ya Gafur, Igfirlah!



Bagai Naik Roller Coaster



Jujur, saya tidak pernah naik roller coaster. Takut Ceunah!

Melihatnya saja saya ngeri bagaimana menaikinya. Kata orang yang pernah naik roaller coster, di atas itu tak semuanya mengerikan. Kalau lagi berayun pelan rasanya asyik-asyik saja, tetapi begitu menurun atau menaik dengan kecepatan maksimal, jantung tuh serasa mau keluar. Debarannya sangat dahsyat.

Menurutku, gambaran itu sangat cocok dengan perasaan saya sebagai ibu. Saat anak baik-baik saja di rumah, melakukan kegiatan yang positif rasanya tuh hati tenaang, damai dan tenteram. Bagai di atas roal coaster yang berayun perlahan dengan hembusan semilir angin nan lembut.

Dan, ketika anak bertingkah, masyaallah kepala serasa berdenyut, jantung  berdebar tak karuan sehingga otak serasa tak berkoneksi dengan hati. Mual tapi tak kunjung muntah, macam mana tuh perasaan. Ibarat menaiki roller coaster yang sedang  menukik tajam tanpa ampun. 

Mau teriak yang kencang, malu. Mau diam-diam saja, tetapi syaraf-syaraf di kepala berontak.



Bisakah Berharap?



Jika ditanya, kelakuan apa yang diperbuat anakmu yang membuat kamu berada di situasi paling mencemaskan?

Jawabku, ketika anakku jatuh cinta.


Saat anak mulai memperlihatakan gelagat suka sama lawan jenisnya, maka di situlah saya berkali-kali  beristigfar. 

Ya Rabb, beginilah perasaan mamaku dulu ketika saya mulai suka sama lawan jenis. 

Berbagai pikiran buruk berkecamuk, apalagi kalau ditambah dengan informasi kanan kiri maka makin sempurnalah kecemasan itu.


Saya pernah membersamai mama dalam berbagai situasi seperti itu. Mama sendirian menjaga anak-anaknya karena bapak meninggal dunia di usia relatif muda.

Bagaimana jatuh bangunnya mama menjaga anak-anak gadisnya di tengah himpitan kekurangan ekonomi di mana satu persatu anaknya  tumbuh menjadi gadis yang menawan. 

Ibarat bunga yang sedang mekar-mekarnya maka berbagai kumbang datang mendekat. Dan, mamaku sendirian menjaga bunga itu agar tidak layu sebelum berkembang.

Beliau baru bernapas lega ketika semua anaknya menikah. Dan, saat ia bisa bernapas lega saat itu pula penyakit fisik mulai datang satu persatu.

Mama pernah bertanya ke saya.

“Mungkinkah semua penyakit yang kualami sekarang adalah kumpulan sakit pikiran dan sakit hati di masa lalu?”

Wallahualam Mak.

Saya tidak berani menjawabnya, tetapi perlahan pertanyaan itu menyelusup ke relung hati seakan memberi sinyal, hati-hati sebentar lagi kau akan tiba di titik itu. 


Ya Rabb! 

Bisakah saya berharap anak-anakku tidak jatuh cinta dulu, tidak berkomunikasi secara intens dengan lawan jenisnya dulu, jadi “Sitti Nurbaya” misalnya?

Rasanya mustahil untuk  zaman sekarang. Begitu banyak media yang bisa memudahkan mereka berkomunikasi dan itu semua menjadi jalur-jalur setan dalam menggoda iman. 

Qadarullah, dua anakku telah menikah dan saya sangat bersyukur atas nikmat itu, tetapi masih ada tiga ya Allah. 

Dan, si bungsu itu perempuan ya Rabb!

Katanya, kalau laki-laki “jatuh” ia bagaikan kelapa yang sekalipun jatuh, masih baik-baik saja, tidak hancur-hancur amat, tetapi jika seorang perempuan “jatuh” maka ibaratnya sebutir telur yang jatuh akan menjadi hancur berkeping.

Walau sebenarnya, sama saja.

Anak laki-laki atau anak perempuan jika tidak beres hidupnya efeknya menghancurkan hati orang tua juga.

Terkait dengan perasaan anak terhadap lawan jenisnya, ingin sekali rasanya memohon kepada Allah untuk diberi bocoran tentang siapa jodoh anakku, terutama jodoh si bungsu. Biar hatiku tenang dan bisa tidur lelap. Tetapi itu mustahil.

Bukankah jodoh, maut dan rezeki manusia itu rahasia Ilahi dan telah tercatat di lauhul Mahfudz?


Harapan Itu Masih Ada


Sekalipun rezeki, maut, amal dan jodoh telah tercatat di Lauhul Mahfuz, masih ada harapan sebab Allah swt menjadikan sebab-sebab yang dapat menambah dan mengurangi rezeki, termasuk jodoh.


“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah untuk kalian, maka berjalanlah di penjurunya (untuk berusaha) dan makanlah dari rezeki yang Allah karuniakan dan hanya kepada-Nya (kalian) kembali setelah dibangkitkan.” (al-Mulk: 15).

 

Dalam pengetahuanku yang masih fakir ilmu ini, saya meyakini tidak ada yang tidak bisa manusia usahakan.

Sebab-sebab dijadikan Allah Swt untuk manusia agar ia berpikir, bahwa ia menjadi begini sebab begitu. Ia bisa jadi begitu sebab begini.

Dan, firman Allah Swt dalam surat An-Nur ayat 26 dapat dijadikan tolok ukur untuk menggunakan sebab-sebab tersebut.


“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula) ….” (An-Nur:26)


Jadi kalau perempuan mendapatkan laki-laki keji disebabkan si perempuan itu juga keji demikian pula sebaliknya.

Maka jika seorang perempuan ingin mendapatkan pasangan yang baik maka jadikanlah dirimu perempuan yang baik demikian juga sebaliknya.

Inilah yang selalu saya coba tanamkan dalam pikiran anak-anak saya. Bahwa, kamu bisa mendapatkan pasangan baik apabila kamu berbuat, bersikap, berkata-kata dan berpikir baik juga. Itu janji Allah Swt dan Allah selalu memenuhi janji-Nya.



mardanurdin.com
dokumen pribadi


Duhai diri yang gelisah, masih ada harapan untuk anak-anakmu. Berserah dirilah kepada-Nya dan rangkullah dalam dekapan kasih sayangmu. 

Bisikkan harapan ke telinga batin calon jodoh anakmu dan katakan, 

“Jagalah anakku dalam cintamu dan akan kujaga dia untukmu.” 


Kutipan berikut ini menjadi penutup dari kegelisahan seorang ibu.


“Melarang orang jatuh cinta sama saja membunuhnya secara perlahan-lahan. Maka cara terbaik agar ia tidak dibutakan cinta dan tidak berjalan dalam kesesatan adalah dengan merangkulnya lalu mengajaknya melihat langit dan alam semesta sembari berbisik. “Nak, di atas sana terdapat jodohmu yang masih dirahasiakan Allah. Tunggulah kedatangannya dalam kesucian diri, hati dan cintamu.” Dawiah.

 

Wahai jodoh anakku, pesan ini kukirimkan pula buatmu. Jaga diri baik-baik yah, jangan nakal!



Salam, Makassar Ahad, 7 Agustus 2022


Dawiah 


Catatan: Memenuhi tantangan menulis Tema Mingguan 1Minggu1Cerita; Kehidupan.




23 comments

  1. Saya pernah dalam berpikir enggan punya anak (childfree) karena merasa kalau jadi orangtua itu menakutkan. Padahal, dulu saya suka kegiatan yg menantang adrenalin. Tapi saya berpikir kalau jadi ortu lebih menantang drpd naik roller coaster (secara denotatif). Soalnya, naik roller costernya seumur hidup jadi orangtua hehhe. Dan kini, ketika memutuskan mau punya anak dan diperkenankan oleh Tuhan, saya merasa "wow...ternyata aku berani menerima tantangan ini"

    ReplyDelete
  2. Wah aku lagi merasakan banget nih kegelisahan seorang ibu yang anaknya beranjak remaja, anak pertamaku masuk kuliah tahun ini dan anak kedua masuk SMP, udah mulai lirik2an ama lawan jenis dan mamanya deg2an terus nih.

    Semoga aja anak2 kita selalu dilindungi yah mbaaak

    ReplyDelete
  3. Aku pun, anakku sedang beranjak remaja dan rasanya beneran nano-nano deh. Sudah mulai banyak tingkah laku yang bikin pusing hehehe

    ReplyDelete
  4. Bunda, saya juga ga pernah naik roller coaster, phobia ketinggian saya huhuhu . Kalau ke wahana suami dan anak-anak aja yang naik
    Btw, Ibu memang ya naik turun terguncang dahsyat juga lembut berayun rasanya saat mikirn anak-anaknya.
    Aamiin..semoga anak-anak kita semua baik-baik aja, doa terbaik untuk mereka ya Bunda:)

    ReplyDelete
  5. Telinga batin itu gimana contohnya, Bu? Jadi nyesel waktu kecil sering merasa "menggoda" ibu aku dalam tingkat kecemasannya. Sekarang setelah jadi ibu, mulai merasa, "oh dulu itu gini, oh itu gitu."

    ReplyDelete
  6. Ah iya, bener belum terpikirkan oleh saya gimana nanti kalau anak saya jatuh cinta ya. Soalnya anakku baru masuk SD. Memang jadi seorang ibu itu gampang-gampang susah ya. Mungkin kalau anak saya udah dewasa Dan hendak menikah saya bakal ngerasain apa yang ibu rasakan. Tentang kekhawatiran masa depannya mungkin atau salah pilih pasangan.

    ReplyDelete
  7. Setuju banget kalau kehidupan jadi ibu diibaratkan kayak naik Roller Coaster rasanya campur aduk enggak karuan apalagi kalau anak-anak udah mulai beranjak remaja haduh pusing ceunah ngehadapin tingkah lakunya yang ada-ada saja

    ReplyDelete
  8. Huhuhu, kalau orang Jawa bilang "Duwe arek wedhok iku koyo idhak-idhak ri" (Punya anak perempuan itu ibarat orangtua menginjak duri di setiap langkahnya)

    Dan bener, Bunda..
    Ibuku punya anak perempuan satu (aku sendiri) dan anak laki 3 (masku) gak setakut ketika memiliki anak perempuan. Maka waktu lulus kuliah dan aku sempet kerja 1 tahun, langsung ada yang melamar (setelah berkenalan dulu, tentunya), Ibu dan Bapak gak pakai menunda lama, lengsung menikah.
    Hihii~

    Kisah yang dijadikan pelajaran dan kembali teringat setelah membaca blogpost Bunda mengenai "Kehidupan Seorang Ibu Ibarat Naik Roller Coaster".

    ReplyDelete
  9. Doa terbaik marilah kita langitkan senantiasa

    Semoga Yang Maha Pengasih dan Penyayang senantiasa menjaga anak² kita selamat dunia akherat

    ReplyDelete
  10. Ah iya, setuju aku mbak
    Namanya jadi ibu itu seperti naik roller coaster ya
    Setiap masa perkembangan anak, jadi pikiran tersendiri

    ReplyDelete
  11. Masya Allah bun kok pas banget tadi bahasan di salah satu group wa saya juga tentang menjaga anak jaman Now beraat PR banget.

    Meski anak saya menjelang ABG sudah deg2an bun, memang sebaik baik pertolongan minta kepada Allah ya bun.

    Semoga anak2 kita dijaga selalu ya bun, diberi jodoh terbaik 🤲🤲🤲

    ReplyDelete
  12. Dulu saya dikenal perawan tua karena di kampung tahu sendiri usia belasan udah pada nikah. Sementara saya usia 30 blm juga menikah. Banyak yg menjodohkan saya. Tapi saya ga mau. Saya fokus memperbaiki diri. Karena saya ingin pasangan saya kelak tidak kecewa
    Demikian saya pun kepada sepupu dan keponakan selalu menjelaskan kalau ingin dapat pasangan yang baik, Maka kita harus lebih dulu memperbaiki diri

    ReplyDelete
  13. Hmmm aku blom ada di fase itu sih, karena anakku masih kecil. Tp anak-anak kan memang bertumbuh dan suatu saat akan melewati fase itu. Knapa harus khawatir?

    ReplyDelete
  14. Duuh pesen yang terakhir bikin terharu sekaligus tertawa. Hayo calon jodohnya anak mak Dawiah " semangat ya nak"

    ReplyDelete
  15. Jujur pilihanku menikah muda dengan bayangan pacaran halal dan lain-lain bisa berubah 180 derajat saat sudah di posisi menjadi ibu bukan sekedar istri. Ibu rumah tangga itu ternyata sesuatu sekali, bukan cuma rumah yang dipikirin tapi masa depan anak apalagi sudah beranja dari balita nih aku, kudu belajar banyak lagi

    ReplyDelete
  16. Jujur pilihanku menikah muda dengan bayangan pacaran halal dan lain-lain bisa berubah 180 derajat saat sudah di posisi menjadi ibu bukan sekedar istri. Ibu rumah tangga itu ternyata sesuatu sekali, bukan cuma rumah yang dipikirin tapi masa depan anak apalagi sudah beranja dari balita nih aku, kudu belajar banyak lagi

    ReplyDelete
  17. Bagus sekali ini temanya
    Apalagi jika dirutinkan maka termasuk tulisan organik
    Hanya perlu mencari data valid sebagai pendukung tulisan agar lebih baik

    ReplyDelete
  18. Perasaan yang sama nih mba seperti yang kurasakan. Anak sulungku udah gadis nih, kalau melihat dari gelagatnya kayaknya sih udah tau yang namanya naksir gitu deh. Mau juga aaah membisikkan pesan untuk calon jodoh anakku seperti Mba Dawiah.

    ReplyDelete
  19. Semoga anak-anak kita selalu dijagah Allah ya mam. Aku juga kedua anakku beranjak remaja. Emang normal sih suka sama lawan jenis.Tapi selalu kudampingi dan beri pengertian. Alhamdulilah meski laki-laki anak-anak suka aja cerita ama ibunya

    ReplyDelete
  20. Iya Bunda, namanya kecemasan ibu ya jadinya ke mana-mana karena naluri sayang dan melindungi, daripada galau memang berserah diri saja pada Allah daripada overthinking dan jadi sakit fisik ya

    ReplyDelete
  21. Saya juga masih dalam pikiran dan perasaan belum memberikan yang terbaik sebagai ibu 😟Semoga Allah izinkan untuk terus belajar krn jadi ibu itu sejatinya pembelajaran seumur hidup.

    ReplyDelete
  22. iya sama mbak, kadang ada yang bilang, enak ya anaknya dah pada gede. padahal mah punya anak tantangannya berbeda-beda setiap usia. kehidupan tiap harinya saya rasakan bagai naik rollercoaster

    ReplyDelete
  23. emang beda kalau anak udah remaja, kita mesti menempatkan diri sebagai teman dan mau mendengarkan keluh kesah mereka, serius bikin happy lihat anak-anak kalau kita dekat dan mau mendengarkan mereka.

    ReplyDelete

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Name

Email *

Message *