Pemimpin Bukan Bos

Tuesday, August 2, 2022




Senin, 1 Agustus, hari ini adalah briefing kedua yang dipimpin oleh kepala sekolah setelah Senin lalu tidak terlaksana karena beliau sedang bertugas di luar daerah.

Seperti biasa, kepala sekolah mencoba membakar semangat guru untuk terus berkarya dengan melihat pencapaian empat rekan guru yang berhasil menjadi  pendamping, narasumber, pelatih atau apa pun itu namanya.

Sebagai sesama guru, saya turut senang melihat pencapaian mereka dan berharap, semoga dengan bertambahnya ilmu mereka berdampak positif pula terhadap siswa-siswi. Jangan sampai, mereka berjaya di tempat lain, sibuk menjadi narasumber di sana-sini sedangkan kewajiban utamanya sebagai guru yang harus masuk kelas mengajar dan mendidik siswa terabaikan.

Bagaimana pun, melatih guru-guru di tempat lain di jam kerja atau sekadar mengikuti zoom yang bertepatan dengan jadwal mengajar pasti akan mengganggu tugas pokoknya.

Sekolah yang berprestasi tidak cukup diukur dari satu sisi saja. Misalnya, karena ada gurunya yang menjadi narasumber di mana-mana atau sekolah itu dikunjungi oleh pejabat, dijadikan percontohan dari sekolah lain dan sebagainya, atau kepala sekolahnya cerdas dan berprestasi.

Menurut saya, sekolah yang baik dan bisa dibilang berprestasi itu harus ditilik dari berbagai faktor, seperti:

Apakah lingkungan sekolah itu kondusif sehingga semua yang terlibat di dalamnya merasa nyaman, aman dan bahagia? Apakah guru-guru dan semua personilnya datang ke sekolah dengan senang hati, siswa-siswa datang ke sekolah dengan semangat yang tinggi tanpa merasa terpaksa.

Apakah proses pembelajaran berjalan dengan tertib dan tidak kaku? Apakah guru-guru mengajar dan mendidik dengan sepenuh hati? Apakah siswa-siswa mengikuti proses pembelajaran dengan hati senang dan gembira?

Ini pendapat pribadi saya, terlepas dari ciri dan tujuan Kurikulum Merdeka Belajar yang sekarang sedang digaungkan oleh Pemerintah. 


Kembali kepada pengarahan kepala sekolah. Salah satu pengarahan beliau adalah himbauan untuk kembali disiplin dalam memakai pakaian dinas yang sesuai dengan aturan, seperti hari Senin dan Selasa memakai baju dinas warna khaki, hari Rabu pakai baju putih dan bawahan hitam dan hari Kamis memakai baju batik lalu hari  Jumat pakaian bebas.

Sekilas tidak ada yang perlu dipermasalahkan, tetapi rupanya ada yang tersinggung. Sayangnya,  guru tersebut menuliskan unek-unek dan kesan penolakannya di WAG sekolah. Dan, ini berbuntut panjang keesokan harinya.


Bagai déjà vu, saat menjadi kepala sekolah beberapa tahun lalu. Jika merasa ada guru atau staf yang menolak, baik secara terang-terangan maupun secara diam-diam maka ada perasaan kesal yang berusaha ditahan sedemikian rupa agar tidak meledak. 

Kesan sebagai pimpinan yang tenang, tidak grasak-grusuk,  arif dan bijaksana, harus tetap dibangun sekalipun itu sedikit menipu diri. 

Bukankah setiap pemimpin itu dituntut untuk mampu memimpin diri sendiri terlebih dahulu, minimal mampu mengontrol dan menguasai emosinya? Dan, yakinlah, ini sungguh tidak mudah. 


Maka biasanya senjata pamungkas yang saya lakukan adalah mengirimkan kembali peraturan yang diterbitkan oleh pemerintah ke WAG, sebagai pengingat, bahwa pimpinan itu tidak asal-asalan menerapkan suatu aturan. Ada dasar hukumnya dan kita semua sebagai rakyat yang taat aturan, wajib hukumnya menaati peraturan tersebut. 


Dan, itulah yang dilakukan kepala sekolah saya. 

Good Job!


Pemimpin Berbeda dengan Bos


Masih dalam suasana deja vu, saya teringat dengan nasihat oleh seseorang yang saya lupa namanya, bahwa menjadi kepala sekolah atau pemimpin dalam suatu unit terkecil dalam lingkup pendidikan, tidak boleh bersifat sebagai bos. 


Harus dipahami, bahwa pemimpin itu berbeda dengan bos. 


Pemimpin adalah seseorang yang mau bekerjasama dengan orang yang dipimpin, merangkul dan memotivasi tanpa menggurui. Orang yang bekerja di bawah seorang pemimpin akan memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi dirinya. 


Sedangkan bos, biasanya suka memerintah dan orang di bawahnya harus melakukan pekerjaan sesuai yang diperintahkan, sehingga orang-orangnya tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi dirinya.


Dalam hal tujuan, pemimpin bertujuan menciptakan atau mengkader calon pemimpin yang akan meneruskan visi misi yang telah ditetapkan.  Sedangkan bos, akan berupaya mempertahankan kekuasaannya dengan tujuan bisa mengendalikan orang-orang di sekitarnya.


Seorang bos cenderung senang dipuji dan dihormati, maka tidak jarang orang di bawah kekuasaannya merasa takut saat berhadapan langsung dengannya.

Sedangkan pemimpin berperilaku sebaliknya, dia tidak gila hormat, bahkan pemimpin suka memuji dan menyemangati sehingga orang yang dipimpinnya bekerja dengan ikhlas karena merasa dimanusiakan.


Dalam hal orientasi, seorang pemimpin memiliki orientasi terhadap visi misi sekolah. Setiap keputusan yang diambil selalu berorientasi ke sana. Bos tidak demikian. Seorang bos selalu berorientasi terhadap profit yang dihasilkan. 

Oleh sebab itu, bos lebih berfokus kepada hasil sedangkan pemimpin lebih berfokus pada proses. 


Demikian pula dalam mengambil keputusan. Seorang pemimpin dalam mengambil keputusan sebelum menjadi suatu kebijakan senantiasa mendengarkan dan memperhatikan usulan-usulan atau ide-ide dari bawahannya.

Sedangkan bos, keputusannya bersifat absolut. 


Pemimpin suka bekerja dalam tim karena lebih menekankan pada “kita” bukan “aku” yang biasanya  sifat ini dimiliki oleh seorang bos.

Jika diulik secara mendalam, perbedaan seorang pemimpin dengan bos itu sangat jauh. 


Namun, kadangkala seseorang yang kedudukannya seharusnya adalah sebagai pemimpin justru bertindak dan berperilaku sebagai bos. 

Setiap berujar, kata keakuannya sangat tinggi. 

Kalau bukan aku, maka tidak akan sukses. Kalau bukan aku, sekolah ini tidak ada apa-apanya. Dibandingkan dengan yang dahulu, akulah yang membuat sekolah ini terkenal, lebih baik, lebih berprestasi dan sebagainya. 

Aku … aku … dan lagi-lagi aku, bla ... bla ... bla...


Oleh sebab itu, sekalipun perbedaan pemimpin dengan bos itu sangat jelas, tetapi oleh orang yang diamanahi sebagai pemimpin suka terkecoh dengan tindakannya sendiri. 


Merasa apa yang dilakukannya sudah mencerminkan dirinya sebagai seorang pemimpin, padahal kenyataannya, sikap-sikapnya, perkataannya, tindakannya bahkan keputusan yang diambilnya justru mewakili sifat bos. 


Mungkin bisa disimpulkan, bahwa seorang bos itu cenderung egois sedangkan seorang pemimpin memiliki kemampuan mengatur sifat ego dalam dirinya.

Sejenak saya merenung. 


Apakah waktu itu, saya telah menjadi seorang pemimpin atau malah bertindak sebagai bos? Wallahualam bissawab. 


Biarlah orang-orang yang pernah (saya merasa) memimpinnya yang akan menjawab. 

 

Cara Menjadi Pemimpin yang Baik

 

Berbagai literatur menuliskan tentang cara menjadi pemimpin yang baik. Minimal menjadi pemimpin dalam keluarganya atau setidaknya menjadi pemimpin untuk diri sendiri.

Dari literatur-literatur tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa menjadi pemimpin yang baik minimal memiliki beberapa sifat berikut ini.


  • Memiliki sifat peduli terhadap bawahannya dan orang-orang di sekitarnya.
  • Mau mendengarkan ide-ide dari orang lain dan siap menerima kritikan dan masukan.
  • Memiliki wawasan luas dan tidak pernah berhenti belajar.
  • Memiliki jiwa besar untuk mengakui kesalahan, tidak menutupi kesalahannya
  • Selalu memberikan apresiasi terhadap prestasi orang lain terutama orang-orang yang berada dalam area kepemimpinannya.
  • Dan, yang paling penting, pemimpin yang baik memiliki kecerdasan emosional yang tinggi.

 

Demikian. Semoga bermanfaat. 

By the way, sudah siapkah Anda menjadi pemimpin?

 

Salam dari Makassar

 

Dawiah 

18 comments

  1. Setuju Bunda, seorang pemimpin sebaiknya jangan mbossy. Bekerjasama dan memberi kesempatan bawahan buat mengembangkan potensi diri gak akan jatuhin wibawa seorang pemimpin. Terima kasih sudah berbagi pengalaman Bunda Kepsek🤩

    ReplyDelete
  2. Bunda, keren banget sharingnya. Saya pribadi masih harus banyak belajar untuk jadi pemimpin buat anak-anak. Apalagi mereka sudah beranjak dewasa, kayaknya peran saya sebagai pemimpin dalam rumah tangga harus diubah supaya tetap aman jaya, ya. Makasih Bunda sudah diingatkan ^-^

    ReplyDelete
  3. Halo bunda, saya setuju bahwa pemimpin bukan bos. Saya merasakan Bun, saat kerja dulu punya pemimpin tapi nggak nge boss gitu. Pemimpin yang bijaksanalah yang bakal gerakkan anggotanya utk patuh pada aturan. Gitu kan Bunda. Terimaksih atas sharingnyaaa.. 😊

    ReplyDelete
  4. Bukankah setiap pemimpin itu dituntut untuk mampu memimpin diri sendiri terlebih dahulu, minimal mampu mengontrol dan menguasai emosinya? setuju dengan statment ini. pemimpin dengan bos memang beda

    ReplyDelete
  5. Seringnya malah pada lupa...Sudah jadi pemimpin lalu berlagak boss, jaga jarak dengan anak buah, baperan, maunya omongan dia harus dituruti. Eh...semoga bukan saya...Makasih sharingnya...

    ReplyDelete
  6. Saya setuju sekali dengan pendapat ta mengenai sekolah berprestasi.
    Maka, penetapan sistem zonasi membutuhkan pembuktian itu. Dulu sekolah2 tertentu dianggap berprestasi karena memang masuknya disaring, anak2 yang nilainya tinggi2 yang masuk situ. Sekarang, setelah anak2 biasa yang masuk, apakah masih mampu mengatakan dirinya sekolah berprestasi?

    ReplyDelete
  7. Yup... berbeda antara pemimpin dengan bos... menjadi bos mudah dengan adanya jabatan tapi menjadi seorang pemimpin butuh kemampuan lebih dari sekedar bos

    ReplyDelete
  8. beda banget pemimpin dan bos, walaupun secara fisik tidak ada, kharisma pemimpin tetap ada
    dan setiap orang adalah pemimpin, minimal untuk dirinya sendiri

    ReplyDelete
  9. Sepakat Kak, karakter pemimpin jauh berbeda dengan karakter bos. Seorang pemimpin tentunya mampu menjadi contoh yang baik bagi timnya, mampu mengeksplorasi kelebihan maupun kekurangan personilnya, dan yang paling penting adalah memberikan ruang kepada personilnya untuk berkembang sepesat-pesatnya sesuai kemampuan masing-masing.

    ReplyDelete
  10. Setuju sekali Bunda. Meskipun untuk menjadi seorang pemimpin yang baik itu tidak mudah, tetapi harus terus belajar. Kadangkala pemimpin ini membutuhkan kritik saran dari anggotanya, agar perilakunya tetap pada koridor yang seharusnya. Pengalaman saya, punya kepala sekolah yang tidak bisa menerima kritik saran, akhirnya memilih mengundurkan diri. Kalau seperti ini kan, tidak memberikan contoh yang baik untuk anak buahnya.

    ReplyDelete
  11. Betul memang masalah kedisiplinan memakai seragam ini menjadi tantangan di hampir semua instansi. Bahkan instansi swasta pun memiliki masalah yang sama. Dan memang benar, penyelesaiannya ya dengan leadership dengan kepemimpinan bukan dengan gaya ngebossi.

    ReplyDelete
  12. Hmm.. topik berat ini, hehe.. tapi pasti saya setuju kalau pemimpin beda dengan bos. Hubungan antara pemimpin dengan anggota yang dipimpin biasanya bukan alasan uang, tetapi organisasi. Sedangkan bos dan karyawan ada urusan uang di tengah-tengah keduanya. Paling tidak itu perbedaan paling mencolok

    ReplyDelete
  13. Setujuuuu... Pemimpin dan boss jauh berbeda. Pernah bekerja di sekolah yang kepala sekolahnya memang seorang pemimpin, mengayomi kami, bahkan saya merasa seperti anaknya.

    ReplyDelete
  14. Keren nih. Wah, dulu kepsek ya Bu. Pasti merasakan bagaimana sulitnya jadi kepsek. Hehe ..

    Katanya sih susah. Harus ngatur sekian banyak karakter guru yang harus dimengerti satu sama lai. Belum lagi koordinasi dengan sesama guru. Waaah ..

    Jadi kepsek emang super!

    ReplyDelete
  15. MasyaAllah, terima kasih sharingnya, Mbak.

    Setidaknya belajar siap memimpin diri sendiri dulu atau lingkup kecil lainnya. Ternyata harus banyak belajar supaya tidak terkesan nge-bossy, hanya memerintah

    ReplyDelete
  16. Iya senang ada guru yang aktif dan berkarya di banyak tempat asal jangan lupa tugas utamanya mengajar, bukannya jam kosong melulu

    ReplyDelete
  17. Perbedaan pemimpin dan Bos menurust saya nih, bund.
    Goal seorang pemimpin (dapat amanah dari organisasi) adalah kaderisasi, jadi dia harus bisa mengkader tim-nya menjadi sehebat dia agar organisasi terus berjalan.
    Sedangkan bos lebih ke "one men show", dia merasa tim-nya nggak bakal maju jika tanpa si bos ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju. Pada dasarnya pemimpin yg baik adalah yg bisa menghasilkan kader yg jauh lebih baik dari dia. Nice komen Mak.

      Delete

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Name

Email *

Message *