Tiga Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia

Rabu, 08 Januari 2020



 Tiga Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia


Sebenarnya bukan hanya tiga tokoh sastra Indonesia yang paling berpengaruh di Indonesia, setidaknya itu yang ditulis oleh Jamal D. Rahman dkk dalam bukunya “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.”  Dari judulnya saja, terdapat 33 tokoh bukan?

Namun saya hanya akan menuliskan tiga di antaranya. Ketiga tokoh tersebut adalah sastrawan-sastrawan idola saya. Sebagian besar karya-karya mereka pernah saya baca dan masih teringat sampai sekarang.
Siapa sajakah mereka?  Yuk teruskan membacanya.

HAMKA


Sumber: Ensiklopedi. Kemdikbud

Terlahir dengan nama Abdul Malik Karim Amrullah pada 17 Februari 1908 di Sungai Batang, Tanjung Raya, Agam, Sumatera Barat. Menggunakan nama pena HAMKA setelah beliau bergelar haji. Hamka atau biasa dipanggil buya Hamka, telah menulis berbagai jenis karya. Yang dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu karya sastra, sejarah dan agama.

Karya fenomenalnya dalam bidang agama, adalah Tafsir Al Azhar yang ditulisnya selama dalam masa tahanan,  akibat tuduhan melakukan  gerakan subversif. Tafsir Al Azhar ini ditulis antara tahun 1964 – 1966.
Selain itu, ada pula buku agama yang berjudul Falsafah Hidup (1939), Tasawuf Modern (1939).

Dalam bidang sejarah, Buya Hamka menulis buku-buku  yang berjudul, Sejarah Umat Islam, JamaludinAl-Afghani, Sejarah Islam di Sumatra, Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah, dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatra.
Sedangkan buku sastra, jangan ditanya berapa banyak karyanya. 

Lihatlah karyanya, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Mandi Cahaya di Tanah Suci, Mengembara di Lembah Nyl, Di tepi Sungai Dajlah, dan masih banyak lagi.
Bahkan salah satu karya fenomenalnya telah difilmkan pada tahun 2013, yaitu Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.

Baca juga Novel Lama yang Masih Membekas Dalam Ingatan di sini

MARAH RUSLI 


Siapa yang tidak mengenal novel  Sitti Nurbaya,  Novel ini sangat dikenal sejak pertama kali ditulis oleh Marah Rusli pada tahun 1922 hingga saat ini. Begitu terkenalnya kisah ini, sehingga jika ada seseorang menikah atas dasar pilihan orang tuanya, maka orang tersebut akan dikatakan sebagai orang yang hidup di zaman Sitti Nurbaya.

Sumber: Ensiklopedi. Kemdikbud


Kisah tentang kawin paksa yang dialami oleh pemeran utamanya, Sitti Nurbaya dan hubungannya dengan adat Minangkabau sangat melegenda, tetapi jika lebih ditelisik lagi, maka akan ditemukan persoalan yang lebih kompleks dari sekedar kawin paksa. 

Persoalan itu antara lain, tentang poligami yang tidak disetujui oleh penulis melalui tokoh Ahmad Maulana, sebagaimana ucapannya berikut ini.

“Sebenarnya pikiranku, sekali-sekali tidak setuju dengan adat beristri banyak, karena lebih banyak kejahatanya daripada kebaikannya’ kata Ahmad Maulana, sambil termenung mengembuskan asap rokoknya. “Banyak kecelakaannya yang sudah kudengar dan banyak sengsaranya yang sudah kulihat dengan mata kepalaku sendiri.” (hal. 192).


Selain itu, Marah Rusli  berbicara pula tentang emansipasi wanita, perhatikanlah dialog berikut.

“…Sebab itu, haruslah perempuan itu terpelajar, supaya terjauh ia dari bahaya, dan terpelihara anak, suaminya dengan sepertinya…" (hal. 205).


Terlihat dengan jelas pikiran-pikiran moderen Marah Rusli. Dia sudah berpikir labih jauh melampaui pemikiran-pemikiran orang lain di zamannya. Maka tidak salah jika H.B Jassin memberinya gelar sebagai Bapak Roman Modern Indonesia.

Walaupun  Siti Nurbaya adalah karya  terbaiknya, sehingga mendapatkan hadiah dari Pemerintah Indonesia pada tahun 1969, Marah Rusli menulis pula beberapa roman lain. 

Pada tahun 1963, novel ini diterbitkan dalam edisi bahasa Melayu dan menjadi salah satu buku wajib dalam pelajaran kesusasteraan di sekolah-sekolah lanjutan di Malaysia.  Pada tahun 1991, TVRI menyiarkan sinetron Sitti Nurbaya dan mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat, maka sejak saat itu, cerita tentang Sitti Nurbaya semakin melegenda.

Marah Rusli, penulis novel legendaris itu lahir di Padang tanggal 7 Agustus 1889. Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah rendahnya diselesaikan di Padang, ia melanjutkan  pendidikan Sekolah Guru di Bukittinggi. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Dokter Hewan Bogor (kini Institut Pertanian Bogor) dan selesai pada tahun 1915.

Review buku bisa dibaca di sini   
Trilogi Gumaman Kang Maman 

MERARI SIREGAR


 
Sumber: Ensiklopedi. Kemdikbud

Sastrawan ini lahir pada 13 Juli 1896 di Siporok, Tapanuli, Sumatera Utara. Meninggal dunia pada 23 April 1941 2i Kalianget, Madura.

Karyanya yang terkenal adalah Roman Azab dan Sengsara, dianggap sebagai pemula dalam kehidupan prosa Indonesia Modern. Roman yang diterbitkan pada tahun 1920 ini merupakan roman pertama yang diterbitkan oleh Balai Pustaka.

Buku ini mencerminkan salah satu karya sebagai permulaan kesusatraan prosa Indonesia modern. Roman Azab dan Sengsara sepertinya ditulis berdasarkan pengalaman dan pengamatan Merari Siregar sejak masa kecil, hal ini terlihat dari nasihat-nasihat yang beliau sisipkan dalam karyanya ini, tentang adat dan kebiasaan yang kurang baik kepada bangsanya.

Perhatikanlah, kutipan-kutipan dari penulis yang menunjukkan hal tersebut.

“Saya mengarang ceritera ini, dengan maksud menunjukkan adat dan kebiasaan yang kurang baik dan sempurna di tengah-tengah bangsaku, lebih-lebih di antara orang berlaki-laki. Harap saya diperhatikan oleh pembaca.”
“Hal-hal dan kejadian yang tersebut dalam buku ini meskipun seakan-akan tiada mungkin dalam pikiran pembaca, adalah benar beaka, cuma waktunya kuatur-artinya dibuat berturut-turut supaya ceritera lebih nyata dan terang.”
Beliau juga adalah seorang penyadur, sadurannya diberi judul Si Jamin dan Si Johan, yang disadur dari gubahan Justus van Maurik yang berjudul “Jan Smees”, yang terdapat dalam kumpulan cerpen Justus van Maurik yang berjudul Lift het Volk.

Selain Azab dan Sengsara serta Si Jamin dan si Johan yang terkenal, terdapat pula beberapa karya yang tidak terkenal, seperti Binasa Karena Gadis Priangan, Balai Pustaka.


Jadi  siapakah tokoh sastra yang kalian kagumi?

Baca juga review buku lainnya di sini 




20 komentar

  1. Bagus ya karya-karya mereka, klo saya mengagumi Buya Hamka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita sama Mbak, saya juga pengagum Buya Hamka

      Hapus
  2. Itu juga tokoh sastrawan idola saya Mbak. Beberapa waktu lalu, saya juga sempat menonton lagi cerita Siti Nurbaya. Baru bisa merasakan kisahnya dengan sungguh-sungguh.

    BalasHapus
  3. Wah ketiganya adalah sastrawan legendaris Indonesia ya Bun. Aku plg inget sinetronnya Sitti Nurbaya waktu itu... masih kecil hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kecil-kecil nontonya Sitti Nurbaya, pantas saja nggak mau dinikahkan dengan pilihan orang tuanya hahaha, bercanda simbok, sotoy banget ya saya...

      Hapus
  4. ohh ternyata marah rusli toh penulis bukunya siti nurbaya. Baru tau setelah baca artikel ini hahaha. terimakasih suhu,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum lahirki waktu sastrawan itu dibahas di sekolah, saya saja masih SD hehehe

      Hapus
  5. Sudah pernah baca karya ketiga tokoh sastra tersebut. Bahkan sempat berkunjung ke Rumah Buya Hamka yang ada di Sumbar.Karya besar mereka melegenda dan tak lekang ditelan masa. Hebat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuiis keren berkunjung ke Rumah Buya Hamka, mau juga ah suatu saat nanti.

      Hapus
  6. Nggak salah, yang tiga ini memang sangat dikenal. Kebetulan aku mengikuti karya dari ketiga sastrawan di atas. Terutama Marah Rusli dan Merari Siregar, hehe, aku sudah baca buku-bukunya sejak SD.

    BalasHapus
  7. Jaman SMA ketiga pujangga ini buku-bukunya sering jadi bahan diskusi setelah diresensi. Karya-karyanya keren dan sampai kini melegenda.

    BalasHapus
  8. Buya Hamka, ga tau kenapa saya bolak balik baca buku dibawah lindungan kabar. Tp ketiganya sastrawan hebat yg pernah dimiliki I donwsia.

    BalasHapus
  9. Kalau saya Buya Hamka, pernah baca bukunya juga Di Bawah Lindungan Kabbah. Eh dari tiga tokoh sastra yang disebutkan di atas Merari Siregar saja yang saya nggak tahu

    BalasHapus
  10. Ada dulu masanya karya-karya beliau-beliau ini jadi bahan untuk sinetron dan film ya. Andai sekarang bisa dibuat lagi ya dengan cara pandang berbeda.

    BalasHapus
  11. Membaca nama-nama di atas, saya jadi rindu mau baca kembali novel-novel dulu
    novel yang sarat cerita budaya dan perjalanan manusia.
    sekarang susah ya dapat fisiknya, kalau e-book mungkin banyak tapi saya yang nda suka kalau baca e-book hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga kurang suka baca e-book, efek mata yang cepat kering kalau terpapar cahaya dari laptop atau hp

      Hapus
  12. Dari ketiganya belum perh satu pun saya baca novelnya. Cuman nonton setelah novelnya difilmnya, hehe..

    BalasHapus
  13. Dari 3 tokoh yang tulis diatas, saya hanya familiar di 2 tokoh itu. Hamka dan Mara Rusli. Karya keduanya benar benar telah melekat dihati saya. Klo nyebut nama keduanya langsung ingatka pelajaran bahasa indonesia

    BalasHapus
  14. Dari tiga nama di atas, cuma Merari Siregar yang baru saya tahu. Yang dua sebelumnya juga sekadar tahu sih..hahahah. Parah bener yak saya. Untung ada informasi di postingan ini yang sudah dirangkum, jadi tinggal dibaca saja.

    BalasHapus

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Nama

Email *

Pesan *