Renungan Satu Dekade

Thursday, January 2, 2020



 Renungan satu dekade


Awal tahun 2020 Masehi, saya melihat banyak yang menuliskan keberhasilannya selama satu dekade.  Mungkin niatnya sebagai   bentuk rasa syukur atas semua pencapaiannya.

Atau bisa jadi sebagai pemicu untuk lebih baik lagi pada tahun ini. Wallahualam.

Saya menulis renungan satu  dekade ini niatnya adalah  untuk mengenang  apa saja yang telah saya alami selama itu, sekaligus untuk mengusik hati dan pikiran saya, agar lebih baik di masa yang akan datang.


10 tahun itu adalah waktu yang lama, tapi berada sesudah masa itu berlalu justru terasa  sangat singkat. Terutama kenangan dan  rentetan kejadian yang membekas dalam ingatan. Seakan hal itu baru kemarin terjadi.
Baik itu kejadian baik maupun kejadian buruk.

Bukankah yang membekas dalam ingatan itu hanya dua? Yaitu kebahagiaan dan kesedihan.  Peristiwa yang biasa-biasa akan berlalu begitu saja bahkan  bisa jadi terlupakan.

Bagaimana dengan Masa Satu Dekadeku?


Hampir satu dekade memikul tanggung jawab sebagai kepala sekolah  di sekolah yang berstatus swasta.
Banyak hal  menakjubkan yang saya alami. Mendengar keluh kesah guru honorer, melihat semangat luar biasa mereka, tetap tampil modis walau dompet menipis, senyum manis padahal hati meringis.

Tiga bulan tak terima honor sebab dana BOS belum cair. Sekalinya cair langsung amblas, bayar utang dan cicilan.

Saya membersamai mereka, terus menyemangati dan menjanjikan, bahwa mungkin kalian kurang uang tapi yakinlah akan berlimpah pahala selama ikhlas membagi ilmu.

Kadang dihujat diam-diam, bahkan diumpat melalui   media sosial. Disebut sebagai pemimpin zalim.

Saya tahu tapi pura-pura tak tahu. Tak penting saya layani, karena hanya akan mengotori jiwa dan akan menyurutkan semangat.

Jika mata batinnya terbuka suatu saat, maka pastilah penyesalan mendera.
Manakala mereka tahu, bahwa apa yang disangkakan tidaklah  demikian adanya.

Bukan perkara mudah mengelola manajemen peninggalan pemimpin sebelumnya  yang terlanjur amburadul,  juga   menata administrasi yang porak poranda.

Merangkul hati yang kecewa karena gagal berada di posisi yang ia perjuangkan. Mengajak kerja sama orang-orang yang tak biasa kerja tim, memberi ruang bagi jiwa yang selalu merasa jemawa, tak biasa diperintah karena biasanya memerintah.

Kompleks!

Banyak kisah pilu namun tak sedikit yang membahagiakan. Manakala melihat murid-murid berhasil menamatkan sekolahnya lalu melanjutkan  ke sekolah yang lebih baik sarana dan prasarananya.

Bahagia  saat  mendengar cerita mereka, bahwa berkat ajaran disiplin yang saya terapkan membuat mereka tak kagok dengan sekolah baru dengan penerapan disiplin yang tinggi.

Kadang berjumpa dengan orang tua murid yang manis di depan tapi sinis di belakang. Ah, jangankan orang tua, gurupun ada yang begitu.
Pura-pura baik tapi berusaha menusuk dari belakang.

Saya pikir  itu biasa.

Itu baru kepala sekolah belum jadi camat, wali kota, gubernur, apalagi presiden. Pastilah lebih banyak lagi orang yang menghujat mereka.
Saya mengibaratkan,  bicara manis saat disuguhi kopi manis, saat  gulanya habis maka tersisa kopinya. Pahit.

Sepahit mulut, sikap, dan gerakannya. Arragh!

mardanurdin.com
Foto menjelang perpisahan tahun 2018
Foto studio Elegan Makassar



Kunjungan ke Benteng Rotherdam tahun 2011



mardanurdin.com
Kegiatan Gerakan Literasi Sekolah tahun 2017

Baca juga:  Bermunajat dan Bermuhasabah    dan     Curahan Hati 


Jangan Meninggalkan Jejak Buruk


Satu dekade berlalu, saya masih di sini. Di dunia pendidikan yang saya cintai. Akan terus di situ hingga ajal menjemput.
Mungkin saya akan pensiun  mungkin juga tidak. Terserah jalan hidup apa yang diberikan oleh Allah. Saya hanya menjalaninya dan berusaha melakoninya dengan sebaik-baiknya.

Menjadi kepala sekolah atau tidak, sama saja. Tetap guru judulnya.

Setidaknya saya pernah di posisi itu. Bisalah bercerita ke anak cucu kelak dan menjadikannya bahan pembelajaran.

Bahwa menjadi pemimpin walau sekecil apapun, akan tetap dimintai pertanggung jawaban kelak di hadapan Allah Swt.

Mungkin saya bukan pemimpin yang baik, banyak kesalahan yang saya lakukan, banyak hati yang saya lukai oleh sikap, perkataan dan kebijakan yang saya ambil.

Kadang jemawa mungkin juga sedikit congkak. Wallahualam.

Saya hanya berharap, siapapun yang saya sakiti mau dan ikhlas memaafkan saya sebagaimana saya telah ikhlas memaafkan orang-orang yang telah berbuat tidak baik  terhadap saya.

Menata Hati Menata Tulisan


Sebenarnya saya sudah ada draf  tulisan tentang suka duka menjadi kepala sekolah di sekolah swasta. Tapi saya masih dalam proses menata hati.

Kenapa menata hati, bukannya menata tulisan?

Setelah saya baca-baca ternyata tulisan itu ada sedikit tendensi rasa kecewa, sakit hati, dan amarah.
Karenanya saya simpan beberapa saat. Saya tidak mau meninggalkan jejak buruk dalam hidup sekalipun hanya lewat tulisan.

Bukankah tulisan itu abadi seabadi peredaran zaman?

Mungkin tulisan saya itu tidak sebagus dan seabadi tulisannya penulis-penulis legenda, seperti Buya Hamka, Pramoedya, Marah Rusli, Pipiet Senja, dan lainnya. 

Mungkin pula tidak sepopuler tulisan karya penulis ngetop seperti Agatha Cristy, Tere Liye, Asma Nadia, Helvy Triana Rosa, dan yang lainnya.

Tetapi setiap hal yang kita lakukan di dunia, kelak akan dimintai tanggung jawab di akhirat sekalipun hanya sebiji sawi, termasuk tulisan.

"(Luqman berkata), “Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha Halus, Maha Mengetahui."                                                                                                  (QS. Luqman: 16)

Tulisan bagaikan perkataan, jika sudah keluar dan dibaca orang maka tulisan itu tidak bisa lagi ditarik atau disembunyikan.  

Cukuplah dengan dosa-dosa masa lalu yang terlanjur tercatat dalam kitab malaikat, dan saya berusaha terus menerus mohon ampunan atas semua itu sembari berdoa,  semoga dilindungi dari godaan setan yang setiap saat mengintai dan merayu agar menjadi pengikutnya. Nauzubillah.

Selamat menjalani hari-hari di tahun 2020. Semoga kita masih bisa bersua di tahun berikutnya.


69 comments

  1. Maasyaa Allah. Kereen.

    Semoga makin sukses, saudariku, sahabatku ๐Ÿ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaamiin, terima kasih sayang.
      Sukses juga sahabat rasa saudaraku

      Delete
  2. Ah, bagusnya kalau jadi buku ini, Kak. Pengalaman selama menjadi kepala sekolah.
    Baarakallahu fiik. In syaa Allah jadi amal jariyah ta'.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iye sudah ada naskahnya tapi masih pikir-pikir dulu. Eh belum ada juga judul pasnya hehehe

      Delete
  3. Masya Allah..lamanya tawwa kiprahta' di dunia pendidikan di' kak. Semoga bisa selalu memberikan manfaat bagi orang lain. Aamiiin...

    ReplyDelete
  4. Semangaaaattt itu patut ditiru. Terima kasih sudah berbagi pengalamannya Mba. Sangat bermanfaat.

    ReplyDelete
  5. Jadi guru saja saya sudah ngos ngosan.. wdaw tidak terbayangkan ribetnya menjadi kepala sekolah. Tanggung jawab yang berat sekali pastinya. eh, tapi saya bukan guru yang menikam dari belakang lho yaa ehehe.
    Salut dengan Bunda yang tetap berkiprah di dunia pendidikan. Semoga semakin sukses dengan buku solo nya kedepannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan dong, tidak baik sama orang pengecut itu.
      Aamiin makasih doanya ya, doa yang sama untuk mbak.

      Delete
  6. JAdikan tulisannya bun, pasti akan banyak ilmu yang bisa dibagikan selama menjadi kepala sekolah. Biar saya puna ilmunya sebelum menjadi kepsek. Heheheh

    ReplyDelete
  7. Baca tulisan Bunda, saya seakan-akan masuk ke dunia Kepala Sekolah. Salam sayang Bunda, saya guru juga, dan almarhum mertua saya dua-duanya dari dunia pendidikan, ada yang jadi kepala sekolah juga. Jadi pengingat saya juga, jangan meninggalkan jejak buruk. Barokallah Bunda

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam sayang kembali, yuk menuai kebaikan agar dapat memetik kebaikan pula

      Delete
  8. Pengalaman yang luar biasa mak. Tapi mmg benar tetap jadi kepala sekolah maupun tidak kita tetap tak lepas dr pertanggungjawaban diri. Barakallah bajagia selalu di manapun berada ya...

    ReplyDelete
  9. MasyaAllah, Bun. Aku selalu salut sama orang-orang yang terjun di dunia pendidikan dan kesehatan. Buat aku, itu profesi yang sama sekali nggak mementingkan diri sendiri. Hidupnya adalah untuk orang banyak. Semoga senantiasa diberikan kesehatan agar dapat terus mengayomi ya, Bun.

    Aku juga sedang memperbaiki banyak hal di tahun 2020 ini. Semoga Allah lapangkan jalannya. Saling mendoakan ya, Bun.

    ReplyDelete
  10. Salut kepada bunda yang bisa tetap santai biarpun ada anak buahnya yang bicara buruk di belakang. Semoga tetap menjadi kepala sekolah yang baik seterusnya.๐Ÿ˜ƒ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah berhenti jadi Kepala Sekolah, kembali jadi guru๐Ÿฅฐ

      Delete
  11. gado2 kehidupan, kenapa seperti gado2? krn berisi aneka sayuran yg kadang malas untuk diaduk agar bersatu. Tetap semangat & sujses terus ya Mba

    ReplyDelete
  12. Aamiin.. Selalu suka dengan semangatnya Bunda. Terus saja Bun maju yang selama kita merasa berada dalam jalur yg benar insya Allah akan dibantu olehnya. Toh tidak mungkin kita menyenangkan setiap orang. Tetap semangaat

    ReplyDelete
  13. Wahhh mantep nih jadi kepala sekolah, semoga pekerjaan yang saat ini dijalani tetap berjalan lancar, sukses selalu ya bu.. Dan tetap semangat untuk bisa membagi ilmu kepada penerus bangsa ini, sukses bu!

    ReplyDelete
  14. Waaaah pengalaman jadi kepala sekolahnya luar biasa Bu. Saya tahu itu bukan pekerjaan mudah. Membawahi banyak guru2 dengan bermacam karakter, murid2, blm lagi orangtuanya. Dulu pas msh sekolah, SMP kalo ga salah, saya sempet mikir sbnrnya apa tugas kepala sekolah. Dia ga mengajar, jarang kliatan :p. Tp setelah dewasa, aku jd tau, tugas mereka lebih berat drpd guru2nya. Dan bener kata ibu, sebagai pengajar, dr segi uang mungkin ga terlalu besar, tp pahala yang mengalir insyaallah ga akan putus sampai alam kubur.

    ReplyDelete
  15. Bunda sayang... teruslah menjalani hodup Bunda sebagaimana Bunda inginkan dan harapkan. Pasti Bunda akan mendapatkan kebahagiaan hakiki di dalamnya. Celoteh kanan kiri itu biasa, yang penting Bunda hepi. Betul kan? Ihihi anak piyik ngasih koemnnya kebanyakan ya bun.. udah ah gitu aja takit kualat akumah... sehat selalu ya Bunda sayang.. God be with you!

    ReplyDelete
  16. Semoga ke depan semakin sukses bunda.

    ReplyDelete
  17. Speechless. Kadang yuni pikir, cuma tulisan tak bermakna, belum tentu dibaca orang. Hingga kadang masa bodoh apakah nanti jika ada yang tak sengaja membacanya bisa mengerti alih-alih sakit hati.

    Ah, yuni butuh pembelajaran lebih. Semoga bisa lebih baik ke depan. Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar. Sekecil apa pun tindakan kita, kelak akan dimintai pertanggung jawabannya.

      Delete
  18. Semoga betulan jadi buku nih pengalaman jadi KepSek. Sepuluh tahun lama juga kalau diingat-ingat. Kalau engga yaaa sebentar, cuma lewat...

    ReplyDelete
  19. Jadi benar ya, semakin tinggi pohon angin yang menerpa juga makin gede. Menjadi orang biasa dengan amanah tingkat RT aja udah anginnya nggoyang terus, apalagi kepala sekolah. Untungnya Bunda Dawiah positif banget. Bisa melaluinya dengan bahagia, justru sangat produktif berkarya. Semoga dekade berikutnya semakin berkah ya, Bund. Amiin

    ReplyDelete
  20. Bunda, saya bacanya sambil ngangguk-angguk nih...membenarkan apa yang Bunda tuliskan. Semangat terus ya, semoga lelah menjadi lillah, amanah yang diemban jadi berkah. Aamiin

    ReplyDelete
  21. Masya Allah bunda, barokallah... sudah satu dekade menjadi kepsek pasti banyak banget yang udah dilewati yaaa..... Dengannya kita akan makin tegar, dan benar untuk mengupayakan agar tidak meninggalkan jejak yang buruk. Tetap semangat bunda

    ReplyDelete
  22. Pengalaman Bunda luar biasa dan sangat menginspirasi.
    Setiap jabatan pasti memiliki konsekwensinya masing-masing ya, ada yang suka ada juga yang tidak.
    Benar kata Bunda, biarkan saja mereka berbicara apapun. Yang penting kita kerjakan yang terbaik karena semua kelak akan ada pertanggungjawabannya.

    ReplyDelete
  23. Terima kasih sudah mengingatkan. Satu dekade telah berlalu dan semoga apa-apa kebaikan yang telah kita lakukan dalam masa itu dapat terus dipertahankan bahkan ditingkatkan. Dan, apa-apa yang tidak baik, bisa kita tinggalkan.

    ReplyDelete
  24. Bener bun, menuliskan apa saja yang sudah terjadi dan rencana 10 tahun ke depan itu penting banget, sebagai wujud syukur, dan pastinya biar ke depannya kita bisa lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  25. Semoga selalu amanah memegang tanggung jawab sebagai kepala sekolah ya mb. Sabar saat ada masalah dan membero solusi terbaik buat anak didik dan para guru serta bijaksana. Aamiin

    ReplyDelete
  26. MashaAllah pengalamannya luar biasa bunda. Memang gak mudah ya jadi pemimpin, terus semangat ibu kepala sekolah. Semoga di tanganmu bermunculan generasi berintegritas :) Amin

    ReplyDelete
  27. Maasya Allah, ternyata jadi kepala sekolah itu ga mudah ya. Memimpin sekolah termasuk guru dan murid. Belum kalau nerima berita yang enggak mengenakkan ya, Bu. Ga kebayang gimana jungkir balik perasaan. Semoga Ibu sehat selalu agar bisa terus membersamai murid dan guru di sekolah

    ReplyDelete
  28. Luar biasa pengalamannya, Ibu. Pasti bangga saat anak didik mulai melangkah ke jenjang berikut, trs pas dijalan, masih disapa. Jadi guru memang pahlawan tanpa tanda jasa.

    ReplyDelete
  29. Mashaa Allah, Bunda itu selalu memberiku inspirasi.

    Dinamika berprofesi memang selalu ada ya, Bun? Tapi itu enggak surut kan niat kita untuk selalu memperbaiki diri dan berbagi.

    Sukses selalu ya Bunda sayang๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜

    ReplyDelete
  30. Bunda itu salah satu editor favorit saya. Terima kasih selama ini menemani saya belajar menulis artikel dengan baik. Baca cerita bunda ini, bikin takjub. Semoga saya seberuntung bunda. Barakallah

    ReplyDelete
  31. Pengalamannya sangat berharga sekali ya kak untuk pribadi, sekaligus buat para pembaca blog ini

    ReplyDelete
  32. Renungan yang Jleb banget Bunda. Memang benar ya. 10 tahun itu bukan masa yang singkat, itu periode yang cukup panjang namun setelah berlalu kita pasti akan merasakan hal yang sama. Seoalah periode itu baru kita lewati kemarin.

    Btw menjadi pemimpin memang nggam ya Bund. Banyak yang manis di depan tapi sinis di belakang. Biasalah, orang-orang hanya melihat apa yang kita hasilkan tanpa tahu proses yang sudah kita lewati. Btw nyinggung soal guru honerer jadi ingat waktu masih ngajar dengan status tersebut, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf bunda komentar saya ini banyak typonya ternyata. Saya perbaiki ya kata-kata yang typo, maksud saya

      *seolah
      *nggak
      *honorer

      Delete
  33. Satu dekade dilalui dengan penuh kerikil ya bunda. Tapi semuanya bukan halangan untuk maju.

    Sebagai blogger dan aktif di media sosial, meninggalkan jejak digital yang buruk itu akan kembali ke kitanya juga ya, jadi sebaiknya apa yang sudah diketik adalah hal yang bermanfaat buat orang banyak.

    ReplyDelete
  34. Semangatnya luar biasa, terima kasih telah berbagi pengalaman

    ReplyDelete
  35. Masya Allah. Tulisan sangat menarik dan pengalaman yang sangat menginspirasi..��

    ReplyDelete
  36. MasyaaAllah keren Bu Kepsek. Betul perjuangan guru InsyaaAllah akan berbuah banyak kelak di akhirat. InsyaaAallah. Btw saya orang Makassar, SMAnya terasa familiar, hehe. Kayaknya pernah kungjungin. Ibu nama skeolahnya apa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pernah jadi Kepsek di salah satu sekolah SMP swasta

      Delete
  37. Mba, tulisan yang menginspirasi saya. Jangankan jadi kepala sekolah..


    Jadi ibu di rumah pun, nantinya saya akan ditanya bagaimana mendidik mereka (anak-anak) karena mereka adalah titipan yang diamanahkan pada saya. Kadang saya bentak kadang saya cubit. Tentu ini saja pun bikin saya cukup takut untuk menghadapi bab pertanggungjawaban.
    Semangat ya Mba semoga kiprah di dunia pendidikan beramal jariyah kelak.. Aamiin

    ReplyDelete
  38. Masyaallah pengalamannya sungguh hebat bun, tak menyangka ada blogger dengan status kepala sekolah. seneng banget baca pengalamannya jadi banyak belajar. sukses selalu ya buun dan tetap menginspirasi.

    ReplyDelete
  39. Wahh, bu kepsek.. semoga apa yg dilakukan selama 1 dekade itu tidak sia2 dan berkah. Semoga kedepan lebih baik dan baik terus ya

    ReplyDelete
  40. Menjadi pemimpin itu nggak gampang, tapi ibu berhasil menjalaninya selama 10 tahun. Biarkan orang lain dengan pikirannya masing-masing, ibu harus tetap semangat untuk kebaikan.

    ReplyDelete
  41. luar biasa renungan satu dekadenya
    muhasabah diri memang penting untuk melihat kembali capaian untuk kemudian menjadi momentum perbaikan

    ReplyDelete
  42. Saya auto-smile mbak marda, pas yg bagian "tetap tampil modis walau dompet menipis, senyum manis padahal hati meringis"

    Hebat ya.. tetap bs bersabar meski gaji 3 bulan blm dibayar. Semoga Allah limpahkan rezeki yg barokah utk para guru honorer. Aamiin

    ReplyDelete
  43. Satu dekade saya? Hm... sepuluh tahun lalu umur saya baru 11 tahun, masih seorang anak dan sepertinya kebanyakan hidup saya masih dibayang-bayangi orangtua, kayaknya dekade berikutnya saya baru akan merenung, hehe. Tetap semangat terus bu untuk menjadi yang lebih baik

    ReplyDelete
  44. Waktu sepuluh tahun memang terasa lama, tapi memang bisa menjadi kosong kalau tidak diisi hal-hal bermanfaat. Sebagai Kepala Sekolah tentunya banyak hal bermanfaat yang sudah dilakukan,saya tahu kadang kala pasti terasa lelah, tapi tetap semangat,ya, Bu.

    ReplyDelete
  45. kenangan indah itu memang tak terlupakan ya. apalagi kalau sudah diabadikan dalam bentuk tulisan. keren deh

    ReplyDelete
  46. Wah, kebetulan saya belum pernah menuliskan tentang apa yang terjadi pada diri saya selama satu dekade ini. Saya hanya pernah menuliskan tentang perjalanan hidup saya selama tahun 2019 itu seperti apa. Kontemplasi satu dekade, sangat baik buat dilakukan nih. Bisa untuk bersyukur sekaligus koreksi serta evaluasi.

    ReplyDelete
  47. Tulisannya bagus kok Bu, mengalir bagai bercerita dengan orang dekat. Renungannya itu bisa kami rasakan.

    ReplyDelete
  48. kepsek masih bisa ngeblog..keren amat ya..hehe...salut deh ibu
    dengan pencapaian2nya

    ReplyDelete
  49. Tetap semangat bu, memang pemimpin itu tak mungkin bisa menyenangkan semua orang. Yang penting tetap berjalan di koridor yang benar sesuai dengan peraturan

    ReplyDelete
  50. Jangan meninggalkan jejak buruk. Noted banget. Zaman aku diamanahi jabatan dulu, selalu berdoa, semoga tuntas tugas sampai selesai masanya, dan sehat. Soalnya sebelum-sebelum aku, jadi pada sakit. Semoga sehat selalu ya Bun...

    ReplyDelete
  51. jadi kepala sekolah di suatu sekolah mungkin untuk orang lain sangatlah susah namun setelah saya baca bahwa ibu tetap semangat untuk memberikan yang terbaik bagi" anak Indonesia

    ReplyDelete
  52. Kata pepatah, semakin tinggi pohon semakin kencang angin yang berhembus, Bu Kepala Sekolah. Semoga segala kejelekan yang berhembus merupakan pertanda ujian dan menaikkan derajat sebagai manusia. Amiin.

    ReplyDelete
  53. Berat banget ya Mbak jadi pemimpin itu, konon ketika kita menjadi pemimpin, amanah itu sudah membuat satu kaki kita di syurga dan satu lagi di neraka. Tentang kemana kaki yang satunya akan membersamainya satunya lagi, tergantung dengan bagaimana kita menjalani amanah yang diberi. Semoga Allah tuntun Mbak menjadi pemimpin yang Dia redhoi.

    ReplyDelete
  54. Tetap semangat bu kepala sekolah..berikan yang terbaik anggap pekerjaan adalah pelayanan kepada Tuhan #edisimenyemangatidirisendirijuga

    ReplyDelete
  55. Semangattttt mbak, pantang menyerah selalu memberika yang terbaik untuk sekolah yah bu...

    ReplyDelete
  56. Semoga apa yang selama ini kita lakukan adalah yang terbaik. Amin

    ReplyDelete
  57. MasyaAllah.. diberi amanat menjadi kepala sekolah itu memang tidak mudah. Tapi kata seorang kawan, amanat tidak akan salah pilih tuannya. Semangat terus..

    ReplyDelete

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Name

Email *

Message *