Minggu, 18 November 2018

Novel Lama yang Masih Membekas Dalam Ingatan




Dari semua jenis bacaan yang pernah saya baca, bacaan jenis  fiksilah yang paling sering saya baca. Rasanya asyik saja manakala menelusuri kata demi kata lalu dirangkai menjadi kalimat yang  mendramatisasi hubungan antar manusia atau antar makhluk.

Seakan berada dalam alur yang diciptakan oleh penulisnya. Ikut serta atau hanya sekedar jadi penonton atas kejadian atau konflik yang dialami oleh tokoh-tokoh hasil rekayasa penulis.

Masih teringat jelas novel pertama yang saya baca, yaitu Siti Nurbaya; Kasih Tak Sampai karangan Marah Rusli. (Ketahuan umurnya, hehehe…).
Saya masih mendapati novel itu ditulis dan dicetak dalam bahasa Melayu dengan menggunakan ejaan lama, dimana kata “U” ditulis “OE”, atau kata “J” dituliskan dengan “DJ.”
 
Sumber Foto: Yahoo.com


Tokoh yang berperan dalam novel inipun masih sangat jelas. Ada Syamsulbahri sebagai tokoh protagonis, juga Sitti Nurbaya. Lalu ada tokoh antagonisnya, yaitu Datuk Maringgi. Sedangkan tokoh pendukungnya adalah Sultan Mahmud Syah ayah Syamsulbahri, Baginda Sulaeman, Siti Maryam, teman-teman Syamsulbahri yakni Zainularifin dan  Bakhtiar.

Setting cerita novel ini  terdiri atas dua bagian, yaitu di kota Padang dan di Jakarta dengan latar waktu sekitar tahun 1920-an.
Novel Siti Nurbaya; Kasih Tak Sampai  ini diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1922.

Novel kedua yang masih lekat dalam ingatan saya adalah “Salah Asuhan” karangan Abdoel Moeis. Diterbitkan oleh Balai Pustaka dan dirilis pada tahun 1928.
Sumber gambar: Yahoo,com

Novel Salah Asuhan ini menceritakan tentang cinta terlarang antara Hanafi dan Qory dikarenakan perbedaan kebangsaan. Sedangkan setting ceritanya mengambil latar kota Solok Sumatra dan Semarang.

Adalah Hanafi seorang pemuda terpelajar berdarah Minangkabau yang dipaksa menikah dengan Rafiah oleh mamaknya karena balas jasa. Pertemuan Hanafi dengan cinta lamanya Qory menjadikan Hanafi berhati dua. Hanafi  menceraikan dan meninggalkan Rafiah demi menikahi Qory yang berdarah indo-Prancis.

Rupanya perbedaan latar belakang keduanya menimbulkan konflik yang tak berkesudahan. Puncaknya Qory meminta cerai lalu pergi ke Semarang. Hingga akhirnya meninggal dunia akibat penyakit kolera yang dideritanya. Karena didera rasa penyesalan yang teramat dalam, Hanafi akhirnya jatuh sakit. Ia memilih kembali ke Solok dan minta maaf kepada mantan isterinya Rafiah, juga kepada ibunya.

Novel ketiga yang masih lekat dalam ingatan adalah Tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang dirilis pada tahun 1938. Setting cerita karangan Hamka ini adalah Cilacap, Makassar, Minangkabau, serta Jakarta yang dahulu masih bernama Batavia.  
 
Sumber gambar: Yahoo.com
Dikisahkan tentang Pendekar Sutan yang diasingkan ke Cilacap selama 12 tahun, lalu menetap di Makassar. Hasil pernikahan Pendekar Sutan dengan gadis Makassar, Daeng Habibah membuahkan anak yang diberi nama Zainuddin.

Setelah Zainuddin menjadi yatim piatu, ia berangkat ke Minangkabau. Sayangnya kehadiran Zainuddin di Minangkabau tidak diterima dengan baik, karena masyarakat Minangkabau menarik struktur kekerabatan dari ibu. Ia dianggap bukan darah Minangkabau karena ibunya berdarah Bugis.

Rasa kesedihan akibat terkucilkan itulah yang kerap ia curahkan kepada Hayati hingga menimbulkan benih-benih cinta di antara mereka. Singkat cerita, hayati dijodohkan dengan Azis kakak kandung sahabatnya, Khadijah dan Zainuddin diusir dari tanah Minangkabau.

Mengetahui kekasihnya Hayati telah menikah membuat Zainuddin putus asa, ia lalu pergi ke Batavia lalu ke Surabaya. Di Surabaya inilah Zainuddin meraih kesuksesan sebagai penulis. Di saat yang bersamaan keluarga Azis dan Hayati pindah pula ke Surabaya.

Azis yang memiliki kebiasaan buruk menjadikan keluarganya dalam kesusahan. Lalu Zainuddin datang sebagai penolong. Sayangnya konflik rumah tangga Hayati dan Azis berujung pada keputusasaan yang membuat   Azis bunuh diri.
Walaupun Zainuddin menolong keluarga Hayati hingga Aziz berterima kasih dan menitipkan istrinya Hayati kepadanya, tetapi Zainuddin tidak bisa memaafkan Hayati. Zainuddin masih menyimpan dendam atas penghianatan Hayati yang meninggalkannya dan menikah dengan Azis.
Hayati akhirnya disuruh pulang ke Batipuh dengan menumpangi kapal Van der Wijck. Dalam perjalanan, kapal itu tenggelam yang  membuat Hayati meninggal dunia. Sepeninggal Hayati, hati Zainuddin dirundung kesedihan hingga ia sakit dan berujung pada kematian. Ia dikuburkan di samping kuburan kekasihnya Hayati.

Ketiga novel itu memang sangat populer pada era tahun 1970-an. Bahkan oleh guru bahasa Indonesa saya, waktu itu dijadikan bahan bacaan untuk kemudian ditelaah. Jadi jangan heran kalau ketiga novel itu masih saya ingat hingga kini.

Teman-teman yang pencinta bacaan fiksi, novel atau buku fiksi apakah yang masih membekas dalam ingatan?


Jawab di kolom komentar yah.



52 komentar:

  1. Novel-novel di atas pernah aku baca semua Mbak, ya karena tugas sekolah juga sih. Tapi yang aku suka itu karyanya Hamka yang Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Waktu itu belum kenal sama Dee Lestari dkk sih. Hehehe.

    BalasHapus
  2. Buku yang paling berkesan buat saya salah satunya Harry Potter. Gak pernah bosa baca buku ini. Saya suka banget :)

    BalasHapus
  3. Rasanya saya juga sudah baca ketiganya, Kak. Atau mungkin dua, yang Salah Asuhan saya belum baca. Para sastrawan kita ini punya kelebihan ya, Kak, dalam mengekspresikan dan mengimajinasikan karyanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Btw, baru kita' baca lagikah? Detailnya kita' tuangkan di sini.

      Hapus
  4. Saya suka Tentang Kamu nya Tere Liye. Meski bukan novel lama tapi novel ini membuatku "sudi" untuk kembali membaca novel.

    BalasHapus
  5. Kalau novel lokal saya dulu jarang baca, bacanya novel luar jaman anak-anak hehe karya enid blyton seperti lima sekawan dulu jadi favorit

    BalasHapus
  6. Saya sudah baca ketiga novel itu waktu SD, dan baca lagi waktu kuliah, sekarang jadi pengen baca lagi, legend banget deh novelnya

    BalasHapus
  7. Aku belum pernah baca buku-buku diatas nih. Kalau novel yang membekas banget itu Miss Jutek , novel ini aku baca waktu kelas 1 SMP tapi masih aku ingat banget.

    BalasHapus
  8. Samalah saya Bun. Dulu disuruh guru baca karya² Pujangga Baru. Hebat iiih...masih ingat jalan ceritanya...

    BalasHapus
  9. Bunda saya suka suka baca novel. Sitti Nurbaya ini juga saya baca dulu. Lalu lanjut nonton sinetronnya di TVRI hihihi
    Untuk novel Salah Asuhan dan Tengggelamnya Kapal Van der Wick juga baca.
    Jadi tugas pelajaran waktu SMP dan SMA.
    Wah kok jadi pengin baca ulang ya saya. Apa masih dijual ya novelnya..duh

    BalasHapus
  10. Lha, kok aku juga suka ketiganya, Mbak. Sampai jaman dulu tuh aku nggak bisa kelewat nonton sinetron Salah Asuhan sama Kasih ak Sampai ini. Favoritku pokoknya, padahal masih jaman SD.

    BalasHapus
  11. Wah mba. Saya malah belum pernah baca novel-novel di atas hiks. Jadi penasaran. Apalagi sampai ada yang difilmkan ya dan terkenal. Sata kebanyakan baca novel asma nadia ama tere liye

    BalasHapus
  12. Aku belum mbaca yang Tenggelamnya Kapal Van Der Wuick tapi udah nonton filmnya. Bagus sekali filmnya mba. Tapi endingnya dibuat berbeda dengan bukunya. Bagus mba yuk nonton

    BalasHapus
  13. Wah Bunda bacaannya berisi semua ih. Aku mah penggemar fiksi menye-menye doang hehehe..

    BalasHapus
  14. Dua novel yang disebutkan di awal artikel ini juga kubaca lho mba, pas jaman masih SMP dulu. Untuk pelajaran Bahasa Indonesia diwajibkan membaca buku ini dan membedahnya bersama-sama di kelas. Aku suka lho dengan cerita-cerita seperti ini. Kalau aku sih, ada beberapa novel yang selalu kuingat. Silkworm karya Robert Galbraith dan Harry Potter karya JK Rowling. Dan faktanya, Galbraith dan Rowling itu orangnya ya sama :)) Rowling memang luar biasa banget daya fantasinya. Out of the box.
    Selain itu aku juga suka John Grisham, novelnya yang paling kusuka adalah A Time To Kill. Judulnya sih ngeri, tapi ceritanya enggak sih, justru baguuuss banget. Mengangkat ketidaksetaraan ras yang ada di Amerika.
    Untuk novel Indonesia, sampai sekarang idolaku tetap S. Mara Gd. Meski sudah tidak mengeluarkan novel baru lagi, Tante Mara ini telah berhasil memikat hatiku melalui novel serialnya, dengan Kapten Polisi Kosasih dan Gozali sebagai pemeran utamanya.

    BalasHapus
  15. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck itu aku suka banget. Udah dua kali baca. Filmnya pun udah aku tonton. Tapi sayangnya aku nggak punya Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Aku cuma pernah punya novel Di Bawah Lindungan Ka'bah.

    BalasHapus
  16. Aku suka banget bukunya Hamka, Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjck, sampe sekarang setiap adegan ya belum bisa kulupakan. Hayati oh Hayati

    BalasHapus
  17. Sama kaya Mba Myra dan Mba Uniek, Harry Potter! Sesuka itu sampai nggak pernah bosen baca ulang novelnya meski udah hafal. Tetep tegang, tetep berdebar-debar padahal ya udah tau endingnya kaya apa. Begitulah kalau udah cinta ya Mba, hahahaha.

    BalasHapus
  18. Huaaaa, novel yg fenomenal semua. Udah pada diangkat ke layar lebar juga, tp tak satu pun saya membacanya :D

    BalasHapus
  19. Aku juga baca sastra lama dan dulu teman2ku pasti merasa aneh. Kisah mereka tuh sedih, tapi abadi sampai nanti

    BalasHapus
  20. Ayat ayat cinta mba kalo aku, sama buku nya mba Alaika Abdullah wkwkm

    BalasHapus
  21. siti nurbaya mbak, menurut saya kisah ini, sangat menarik dan mengalir

    BalasHapus
  22. Aku baru nonton filmnya, belum pernah baca novelnya. Pasti ada sensasi yang berbeda ya, Mbak. Kalau bacaan fiksi, aku suka banget sama yang judulnya Diorama Sepasang Albanna karya Ari Nur. Setelahnya sih buanyaaak. Entahlah, saking nggak jagonya jadi karya setiap penulis buatku selalu istimewa.

    BalasHapus
  23. kebetulan ibuku guru sastra, jadi beliau punya semua novel ini hehe. semua novel hebat ini adalah sejarah dalam dunia sastra

    BalasHapus
  24. Wahh... Novel2 keren tuh. Dulu waktu SMA pernah diresensi dan dikupas dlm kelas. Kita seumuran ya Mb Dawiah...hehe

    BalasHapus
  25. Saya belum pernah baca novel2 di atas, tapi pernah liat sinetron/filmnya. Situ Nurbaya mah pas saya masih SD. Tak terlupakan. Nah, Kalo novel yg sangat berkesan itu AAC nya Kang Abik Karena saat itu membersamai saya saat merantau. Terasa banget ruh perjuangannya bagi saya. Setelah ya, banyaaak sih novel yg saya suka. Rata2 romance :)

    BalasHapus
  26. Novel yang pernah aku baca sampe selesai sambil diresapi cuma Twilight, jadi itulah yang masih membekas dalam hati hehehe :D

    BalasHapus
  27. Ketiga novel di atas keren keren banget ya, Mbak. meskipun sudah lama tapi masih terkenang ceritanya. Saya nonton Siti Nurbaya itu waktu kelas 3 SD dan masih inget banget alur ceritanya dan malah jadi kepingin searching di YT, ada enggak ya.

    BalasHapus
  28. Semua novel nya sudah pernah aku baca mbak..bahkan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck aku nonton filmnya sampai 2 kali saking bagusnya.

    BalasHapus
  29. Justru kalo novel lama cerita nya itu seperti magic ingat trus ya mba kyk membekas gitu akupun msh ingat jln cerita novel2 diatas

    BalasHapus
  30. Novel-novel di atas itu, karya yang sangat terkenal hingga difilmkan ya, Bunda..
    Tetapi satu pun, belum sempat saya baca, hiks ...

    BalasHapus
  31. Buku Siti Nurbaya itu dulu jadi buku pertama untuk bahan tugas pas masa kuliah dulu hehehe jadi kangen baca buku itu lagi, bagus soalnya topik yang diangkat :)

    BalasHapus
  32. Novel yg sdh difilmkan semua nih ya. Aku suka novel detektif ��

    BalasHapus
  33. Heuu~
    Sedih niaan...

    Itulah mengapa kita tidak boleh terlalu membenci sesuatu atau mencintai sesuatu yaa...
    Karena ternyata batasnya tipis.

    Aku jadi terenyuh baca Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

    BalasHapus
  34. Ini bacaanku waktu smp nih, yang bikin aku kesemsem sama karya2nya para sastrawan baik pujangga lama maupun baru. Memperkaya banget karya2 mereka ini. Favoritku Rubuhnya Surau Kami karya AA Navis

    BalasHapus
  35. Mbak itu novel2 yang aku baca sejak kecil, ada di perpus sekolahku. Novel2 bagus yang banyak pesan moralnya ya? Kangen sama karya2 sastra kyk gtu...

    BalasHapus
  36. Kalau ngomongin soal Novel yang berkesan ada salah satu novel yang aku suka. Dan menginspirasi diriku untuk menulis. Still karya Esti Kinasih

    BalasHapus
  37. Novel-novel yang Bunda sebut itu sebetulnya dibaca karena ada tugas sekolah. Tapi sampai sekarang masih ingat. Jadi kangen ingin baca lagi ...^_^

    BalasHapus
  38. iya sama. Nyaris semua novel2 lama karangan pujangga baru, pujangga lama, masih terkesan dalam ingatanku. Terutama yang karangannya sutan takdir alisyahbana dan hamka. duh... terkesan banget. Tapi novel jaman sekarang juga ada sih beberapa yang aku suka banget. Kapan2 aku tulis juga ah di blogku versi ak.

    BalasHapus
  39. Aku udah baca semua novel klasik ini mbaaa. Inget banget terbitan Balai Pustaka dan pinjamnya dari perpustakaan sekolah SMP 2 Tanjung Karang. i love them.. gaya bahasa klasik dan latar belakang budaya yang kental membuat aku tau lebih banyak tentang Indonesia!

    BalasHapus
  40. Aku suka yang tenggelamnya kapal Van der Wijck
    Berasa nonton drakor aja sih
    Dan jadi tahu kalau semua itu bisa saja menjadi nyata. Ga kaget ada kisah mirip dalam hidupku

    BalasHapus
  41. Wah itu novel-novel legendaris yang saya baca di perpustakaan sekolah saat SMA. Walaupun bahasa sastranya sangat tinggi ya.

    BalasHapus
  42. Klo saya lebih tertarik ke bacaan nonfiksi kak. Tapi bukan berarti tak suka dgn bacaan fiksi. Skali2 butuh juga baca novel

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asyik baca novel dek, seakan terbang ke awan-awan. Eh itu sayaji hahaha

      Hapus
  43. novel-novel di atas pernah saya baca saat masih SMP, Mba. masih ada lagi teman-temannya; SALAH PILIH, LAYAR TERKEMBANG, AZAB & SENGSARA, SENGSARA MEMBAWA NIKMAT, ATHEIS

    *ketahuan umurnya nih :D

    BalasHapus
  44. Klo saya novel Kembang Padang Kelabu & Kapus biru...novel tua yg membuat haru biru membacanya..hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Generasi sesudahnya ya Mbak..suka juga saya

      Hapus
  45. Saya gak pernah baca novel ketiganya di atas tapi nonton filmnya.
    Sayangnya film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk beda banget akhir ceritnya antara novel dan film.

    Kalo buku fiksi yang paling berkesan buat saya itu "Little House on The Praire" yang ditulis dalam versi Bahasa Indonesia. Novelnya saya baca setelah nonton filmnya di tv masa kecil dulu. Jadi suka novelnya karena emang udah suka duluan sama filmnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ih buku "Little House on The Praire" belum pernah saya baca, padahal sukaku nonton filmnya di tv.

      Hapus
  46. Judul-judul novel yang kak Dawiah tulis akrab di telingaku, tapi belum pernah baca. Saya juga suka fiksi, terutama yang berbau misteri (bukan horor), atau fantasi. Favoritku waktu ABG dulu seri petualangan Lima Sekawan-nya Enid Blyton. Ingat sekali dulu waktu SMP, kalau pas jadwalnya pinjam buku di perpustakaan selalu baku rebutan sama teman-teman pinjam buku-bukunya Lima Sekawan ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buku Lima Sekawan juga dulu sering saya baca, bahkan pernah saya miliki. Sayangnya sudah terbakar.

      Hapus