Perubahan
Maret kemarin, saya sempat membaca tulisan tiga orang peserta Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP). Kebetulan ketiganya adalah alumni ITB yang tergabung dalam komunitas Mama Gajah Ngeblog. Mereka adalah, Mbak Handayani, saya biasa memanggil beliau Mbak Hani, ada juga Teh Shanti dan Mbak Alfi.
Dari yang saya baca-baca di blog mereka, setiap bulan itu ada tantangan menulis di blog dengan tema yang berbeda setiap bulannya. Mengenai proses penentuan temanya, saya tidak tahu, saya bukan bagian komunitas.
Namun, saya sering membaca postingan dari beberapa anggota komunitas tsb, termasuk tema bulan Maret 2026, yaitu “Aku Dulu vs Aku Sekarang.”
Saya terinspirasi dengan tema itu. Maka, saya izin yah kepada anggota Mama Gajah Ngeblog, saya juga mau menulis tentang tema tersebut.
Perubahan Pasti Ada
Menjelang akhir Ramadan 1447H, saya menghadiri acara buka bersama alumni SMPN 7 angkatan 1997. Para alumni mengundang guru-guru, baik yang sudah pensiun maupun yang masih aktif.
Saya yang biasanya malas menghadiri acara bukber menjadi antusias ketika diundang oleh mereka.
Soalnya sejak saya memasuki masa pensiun saya sudah jarang sekali bertemu dengan teman-teman guru. Ada kerinduan tersendiri kepada mereka terutama kepada teman yang lebih dahulu pensiun.
Maka acara buka bersama yang dihelat oleh alumni Angkatan 97 itu bisa jadi cara menuntaskan kerinduan.
Demikian pula kepada murid-murid yang pernah saya ajar beberapa tahun silam. Ajaibnya, saat kami bertemu, banyak yang menyapa dengan kata-kata.
“Ih, Ibu tidak berubah.”
“Ibu masih seperti dulu, masih cantik.”
Ahaaaiii….
Disapa seperti itu, perasaan ini berada di dua persimpangan, antara senang dan tidak percaya. Apakah anak-anak itu yang sekarang bukan anak-anak lagi itu sekadar menghibur atau malah mengejek yah?
Masalahnya tidak mungkin tidak ada perubahan. Saat mereka masih SMP, saya baru berusia 30-an. Lah, 30 tahun kemudian, masa iya tidak ada perubahan.
Mereka saja jelas-jelas sangat berubah. Dari anak SMP yang masih kicis-kicis, sekarang sudah menjadi dewasa, umumnya sudah berkeluarga, bahkan ada yang sudah bercucu.
“Mungkin dulu saat kita menjadi gurunya, muka kita sudah tua.” Bisik teman. Hahaha…
Bisa jadi, makanya saya merasa sedikit diejek.
Namun, apa pun itu. Tidak ada yang statis, pasti kita semua mengalami perubahan.
Tiga puluh tahun lalu, rambut saya masih hitam, lutut masih kuat naik turun tangga berkali-kali, masih santai berpindah dari kelas ke kelas mengikuti alur pergantian jam pelajaran.
Dua tahun menjelang masa pensiun tiba, saya sudah meminta ke bagian kurikulum untuk diaturkan jam mengajar agar tidak naik turun tangga lagi.
Artinya, lutut sudah mulai goyah. Tak sekuat dahulu lagi.
Apa Lagi yang Berubah?
Selain fisik yang tidak sekuat dahulu, pola pikir saya pun berubah.
Dahulu saya cukup ambisius mengejar target yang saya bikin sendiri. Misalnya, dalam pendidikan.
Saya sangat bersemangat berkuliah dan bercita-cita menjadi professor. Mau sekali kuliah sampai S3 agar cita-cita itu tercapai, tapi takdir berkata lain. Ada hal-hal yang menjadikan saya harus berhenti, cukup sampai di S2 saja.
Seiring dengan bertambahnya usia, saya semakin memperkecil cita-cita. Cukuplah mengerjakan hal-hal ringan saja untuk urusan duniawi, tetapi semakin memaksa diri mengejar hal-hal yang berhubungan dengan akhirat.
Sudah tua ini.
Liang lahat semakin dekat.
Ada yang Masih Sama
Namun, dari semua perubahan itu, saya baru menyadari kalau ada yang tidak berubah. Baik saya yang dahulu maupun saya yang sekarang.
Yaitu, semangat untuk terus mengabdi sebagai guru.
Maka ketika saya diamanahi memimpin Taman Kanak-Kanak dalam lingkup persyarikatan Muhammadiyah dalam hal ini ‘Aisyiyah, saya menerimanya dengan senang hati.
Kebetulan tawaran itu diberikan setelah saya memasuki masa pensiun.
Kegiatan lain yang masih sama adalah kegiatan menulis. Masih punya semangat yang sama. Walaupun tidak seproduktif dahulu.
Semangat doang, eksekusinya mesti dipaksa.
Yah, begitulah.
Banyak sekali perubahan yang terjadi. Dari saya yang dahulu menjadi saya yang sekarang. Termasuk hubungan dengan suami. Untuk hal ini, bukan cuma saya yang mengalami perubahan, suami pun demikian.
Mungkin karena kami semakin saling tahu, makin saling memahami sehingga ada hal-hal yang dahulu sulit diterima, sekarang kami bisa menerimanya bahkan kami anggap biasa saja.
Atau sederhananya, kami berfikir dan bersikap. Ah, biarkan sajalah….toh, nanti juga akan begini dan begitu. Sudah hafal.
Mendekati usia pernikahan 37 tahun, masa iya masih belum saling memahami, iya kan?
Maka inilah saya yang dahulu vs saya yang sekarang. Setidaknya itu menurut versi saya sendiri.
Makassar, 2 April 2026
Dawiah

Post a Comment