Wisuda IXV Tahun 2020 STT Bandung

Sunday, January 12, 2020


Sekolah Tinggi Teknologi Bandung  Mewisuda 209  Mahasiswa pada Wisuda XIV Tahun 2020




Apa yang tebersit di pikiran sahabat, manakala menyaksikan prosesi wisuda?  Terharu dan bangga kan?

Sayapun begitu, terharu, senang, dan bangga sembari berdoa, semoga para wisudawan dapat mengamalkan ilmunya dan mengaplikasikannya di masyarakat.

Perasaan dan doa itu berulang lagi kemarin pada Sabtu, 11 Januari 2020, saat menyaksikan prosesi wisuda mahasiswa STTB pada acara wisuda ke-  XIV di Harris Hotel & Conventions Hall, padahal saya hanya menyaksikannya melalui live streaming di instagram STTBandung.

Prosesi Acara




Pukul 08.00 acara dibuka oleh pembawa acara yang diteruskan dengan masuknya para wisudawan diiringi lagu dari paduan suara mahasiswa STTB.

Selanjutnya adalah penampilan tarian selamat datang oleh mahasiswa dari tim Unit Seni Tari STT Bandung, dilanjutkan dengan acara pembukaan  Rapat Senat Terbuka oleh Ketua STT Bandung, bapak Muchammad Naseer, S.Kom.,M.T.

Setelah menyanyikan secara berturut-turut lagu Kebangsaan Indonesia Raya, Mengheningkan Cipta, dan lagu Mars Sekolah Tinggi Teknologi Bandung, acara dilanjutkan dengan laporan dari ketua STTB, bapak Muchammad Naseer, S.Kom.,M.T.  Selanjutnya adalah sambutan oleh Ketua Yayasan, Dr.Dadang Hermawan.

Menghadirkan Keynote Speaker Hebat




Acara yang tak kalah pentingnya pada upacara wisuda XIV STTB ini adalah pembacaan orasi oleh Dr.Ing. Ilham Akbar Habibie, MBA. Melihat dan mendengar orasi ilmiah beliau  serasa menghadirkan bapak Prof Dr. BJ Habibe. Secara Pak Ilham itu adalah putra sulung beliau.

Pada kesempatan itu, Ilham Akbar membawakan orasi ilmiahnya yang berjudul “Peranan Generasi Muda dalam Penerapan Teknologi dan Inovasi di Era 4.0.”

Beliau memaparkan empat hal yang perlu diperhatikan oleh negara manapun di dunia untuk mencapai potensi maksimal untuk masa depan, yaitu:

     1. Berinvestasi ke Human Capital
     2. Berinvestasi ke Ilmu Pengetahuan & Teknologi (IPTEK)
     3. Membina dan mendukung Inovasi & Kewirausahaan
     4. Meminimalkan Kemiskinan

Berinvestasi ke Human Capital dan ke IPTEK merupakan prasyarat untuk membina dan mendukung inovasi dan kewirausahaan. Ketiga hal ini akan memberi kontribusi signifikan dan berkesinambungan dalam meminimalkan kemiskinan.

Masih dalam orasi Pak Ilham, terdapat lima megatrends global yang mengubah dunia, yaitu (1) urbanisasi cepat (2) perubahan iklim dan kelangkaan sumber daya (3) pergeseran kekuatan ekonomi global (4) perubahan demografi dan sosial (5) Gebrakan teknologi. Untuk menjawab pertanyaan dan  memenuhi kebutuhan dari kelima megatrends ini diperlukan teknologi, inovasi, dan kewirausahaan.

Orasi ilmiah Pak Ilham diakhiri dengan kesimpulan sebagai berikut.

  •  Ekonomi di masa mendatang harus menghandalkan pada inovasi agar dapat memiliki daya saing tinggi. Untuk mencapainya, masyarakat terutama pemuda perlu aktif di UKM rintisan, seperti Start-Up diberdayakan dengan teknologi informasi dan komunikasi.
  • Mengerti dan menguasai rincian dan proses teknologi - inovasi -kewirausahaan adalah kunci untuk pengembangan negara dan bangsa di masa mendatang.

 Wisudawan Wisudawati Terbaik


Sebanyak 209 mahasiswa diresmikan sebagai lulusan STTB yang berasal dari tiga program studi yang terdiri dari 113 mahasiswa Teknik Industri, 70 mahasiswa Teknik Informatika, dan 26 mahasiswa Desain Komunikasi Visual.

Dari sekian banyak wisudawan dan wisudawati terdapat beberapa di antaranya yang meraih prestasi yang membanggakan. Mereka mewakili jurusannya masing-masing.

Siapa sajakah mereka?.

Program Teknik Industri 

  Virgiawan Candra Bhakti, S.T peraih skripsi terbaik dengan judul, “Perancangan dan Pengembangan Hospital Transfer Bed dengan Pendekatan Karakuri.”

    Indra Rukmana, S.T peraih skripsi terbaik dengan judul, “Optimasi Produksi Dyeing Finishing dengan Metode Integer Linear Programming”

    Zaenal Uyun, S.T peraih skripsi terbaik dengan judul, “Perbaikan Produk Meja Belajar Lipat Multifungsi Ergonomis untuk Meningkatkan Motivasi dan Semangat Belajar Menggunakan Metode Kasei Engineering”


 Wisudawan terbaik  adalah Dheyu Laksmi  Wulandari, ST

Program Teknik Informatika


   Deri Hermawan,  S.Kom peraih skripsi terbaik dengan judul, “Aplikasi 3D Virtual Reality Sebagai Media Bantu Terapi Acrophobia Berbasis Android.”

   Regina Sukma Citra, S.Kom peraih skripsi terbaik dengan judul, “Klarifikasi Ujaran Kebencian dengan Metode Naïve Bayes Classification di Sosial Media Facebook Berbasis WEB”

    Yasti Aisyah Primianjani, S.Kom peraih skripsi terbaik dengan judul, “Rancang Bangun Sistem Pemutus Aliran Listrik KwH Meter Pascabayar Berbasis WEB Menggunakan Mikrokontroler”

Wisudawan terbaik Muhammad Rizal Mutaqin, S.Kom.


Program Desain Komunikasi Visual  


  Andri Setiawan, S.Ds peraih skripsi terbaik dengan judul, “Perancangan Aplikasi Rencana Anggaran Biaya Membangun Rumah”

   Bagus Arya Suseno, S.Ds peraih skripsi terbaik dengan judul, “Perancangan Sistem Informasi Pelayanan Publik dan Peta Wilayah RT )7 RW 08 Baleendah Kabupaten Bandung”

  Luthfi Alfaritzi, S.Ds peraih skripsi terbaik dengan judul, “Perancangan Boardgame Pengenalan Permainan Tradisional Jawa Barat untuk Anak (Usia 8-12 tahun) di Kota Bandung”

Wisudawan terbaik  adalah Tiffani Zeta D, S.Ds


Alasan Kuliah di STTB


Salah satu yang menarik minat orang tua untuk memasukkan anaknya kuliah  di STTB adalah, STT Bandung selalu menghasilkan lulusan yang siap bekerja dan terjun langsung ke masyarakat.

Maka tak heran jika terdapat tiga  perusahaan bersedia bekerjasama yang dibuktikan dengan penandatanganan MoU kerjasama dengan perusahaan tersebut, yaitu PT. Dirgantara Indonesia, Jasa Marga, dan Biofarma.


Selain itu, apa yang diorasikan oleh Pak Ilham, terutama untuk menjawab peranan generasi muda dalam teknologi dan inovasi di Era 4.0 sangat sejalan dengan program-program yang ditawarkan oleh STT Bandung di mana tujuannya adalah menghasilkan lulusan dan tenaga ahli yang mumpuni dan dapat bersaing di Era 4.0.


Demikian hasil liputan upacara wisuda XIV Tahun 2020 Sekolah Tinggi Teknolgi Bandung.

Selamat kepada orang tua wisudawan dan para wisudawan, semoga ilmunya berkah dan dapat berkontribusi langsung dalam meminimalkan kemiskinan di Indonesia melalui inovasi-inovasinya.  



Read More

Tiga Tokoh Sastra yang Berpengaruh di Indonesia

Thursday, January 9, 2020



 Tiga Tokoh Sastra yang Berpengaruh di Indonesia


Sebenarnya bukan hanya tiga tokoh sastra Indonesia yang paling berpengaruh di Indonesia, setidaknya itu yang ditulis oleh Jamal D. Rahman dkk dalam bukunya “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.”  Dari judulnya saja, terdapat 33 tokoh bukan?

Namun saya hanya akan menuliskan tiga di antaranya. Ketiga tokoh tersebut adalah sastrawan-sastrawan idola saya. Sebagian besar karya-karya mereka pernah saya baca dan masih teringat sampai sekarang.
Siapa sajakah mereka?  Yuk teruskan membacanya.

HAMKA


Sumber: Ensiklopedi. Kemdikbud

Terlahir dengan nama Abdul Malik Karim Amrullah pada 17 Februari 1908 di Sungai Batang, Tanjung Raya, Agam, Sumatera Barat. Menggunakan nama pena HAMKA setelah beliau bergelar haji. Hamka atau biasa dipanggil buya Hamka, telah menulis berbagai jenis karya. Yang dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu karya sastra, sejarah dan agama.

Karya fenomenalnya dalam bidang agama, adalah Tafsir Al Azhar yang ditulisnya selama dalam masa tahanan,  akibat tuduhan melakukan  gerakan subversif. Tafsir Al Azhar ini ditulis antara tahun 1964 – 1966.
Selain itu, ada pula buku agama yang berjudul Falsafah Hidup (1939), Tasawuf Modern (1939).

Dalam bidang sejarah, Buya Hamka menulis buku-buku  yang berjudul, Sejarah Umat Islam, JamaludinAl-Afghani, Sejarah Islam di Sumatra, Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah, dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatra.
Sedangkan buku sastra, jangan ditanya berapa banyak karyanya. 

Lihatlah karyanya, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Mandi Cahaya di Tanah Suci, Mengembara di Lembah Nyl, Di tepi Sungai Dajlah, dan masih banyak lagi.
Bahkan salah satu karya fenomenalnya telah difilmkan pada tahun 2013, yaitu Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.

Baca juga Novel Lama yang Masih Membekas Dalam Ingatan di sini

MARAH RUSLI 


Siapa yang tidak mengenal novel  Sitti Nurbaya,  Novel ini sangat dikenal sejak pertama kali ditulis oleh Marah Rusli pada tahun 1922 hingga saat ini. Begitu terkenalnya kisah ini, sehingga jika ada seseorang menikah atas dasar pilihan orang tuanya, maka orang tersebut akan dikatakan sebagai orang yang hidup di zaman Sitti Nurbaya.

Sumber: Ensiklopedi. Kemdikbud


Kisah tentang kawin paksa yang dialami oleh pemeran utamanya, Sitti Nurbaya dan hubungannya dengan adat Minangkabau sangat melegenda, tetapi jika lebih ditelisik lagi, maka akan ditemukan persoalan yang lebih kompleks dari sekedar kawin paksa. 

Persoalan itu antara lain, tentang poligami yang tidak disetujui oleh penulis melalui tokoh Ahmad Maulana, sebagaimana ucapannya berikut ini.

“Sebenarnya pikiranku, sekali-sekali tidak setuju dengan adat beristri banyak, karena lebih banyak kejahatanya daripada kebaikannya’ kata Ahmad Maulana, sambil termenung mengembuskan asap rokoknya. “Banyak kecelakaannya yang sudah kudengar dan banyak sengsaranya yang sudah kulihat dengan mata kepalaku sendiri.” (hal. 192).


Selain itu, Marah Rusli  berbicara pula tentang emansipasi wanita, perhatikanlah dialog berikut.

“…Sebab itu, haruslah perempuan itu terpelajar, supaya terjauh ia dari bahaya, dan terpelihara anak, suaminya dengan sepertinya…" (hal. 205).


Terlihat dengan jelas pikiran-pikiran moderen Marah Rusli. Dia sudah berpikir labih jauh melampaui pemikiran-pemikiran orang lain di zamannya. Maka tidak salah jika H.B Jassin memberinya gelar sebagai Bapak Roman Modern Indonesia.

Walaupun  Siti Nurbaya adalah karya  terbaiknya, sehingga mendapatkan hadiah dari Pemerintah Indonesia pada tahun 1969, Marah Rusli menulis pula beberapa roman lain. 

Pada tahun 1963, novel ini diterbitkan dalam edisi bahasa Melayu dan menjadi salah satu buku wajib dalam pelajaran kesusasteraan di sekolah-sekolah lanjutan di Malaysia.  Pada tahun 1991, TVRI menyiarkan sinetron Sitti Nurbaya dan mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat, maka sejak saat itu, cerita tentang Sitti Nurbaya semakin melegenda.

Marah Rusli, penulis novel legendaris itu lahir di Padang tanggal 7 Agustus 1889. Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah rendahnya diselesaikan di Padang, ia melanjutkan  pendidikan Sekolah Guru di Bukittinggi. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Dokter Hewan Bogor (kini Institut Pertanian Bogor) dan selesai pada tahun 1915.

Review buku bisa dibaca di sini   
Trilogi Gumaman Kang Maman 

MERARI SIREGAR


 
Sumber: Ensiklopedi. Kemdikbud

Sastrawan ini lahir pada 13 Juli 1896 di Siporok, Tapanuli, Sumatera Utara. Meninggal dunia pada 23 April 1941 2i Kalianget, Madura.

Karyanya yang terkenal adalah Roman Azab dan Sengsara, dianggap sebagai pemula dalam kehidupan prosa Indonesia Modern. Roman yang diterbitkan pada tahun 1920 ini merupakan roman pertama yang diterbitkan oleh Balai Pustaka.

Buku ini mencerminkan salah satu karya sebagai permulaan kesusatraan prosa Indonesia modern. Roman Azab dan Sengsara sepertinya ditulis berdasarkan pengalaman dan pengamatan Merari Siregar sejak masa kecil, hal ini terlihat dari nasihat-nasihat yang beliau sisipkan dalam karyanya ini, tentang adat dan kebiasaan yang kurang baik kepada bangsanya.

Perhatikanlah, kutipan-kutipan dari penulis yang menunjukkan hal tersebut.

“Saya mengarang ceritera ini, dengan maksud menunjukkan adat dan kebiasaan yang kurang baik dan sempurna di tengah-tengah bangsaku, lebih-lebih di antara orang berlaki-laki. Harap saya diperhatikan oleh pembaca.”
“Hal-hal dan kejadian yang tersebut dalam buku ini meskipun seakan-akan tiada mungkin dalam pikiran pembaca, adalah benar beaka, cuma waktunya kuatur-artinya dibuat berturut-turut supaya ceritera lebih nyata dan terang.”
Beliau juga adalah seorang penyadur, sadurannya diberi judul Si Jamin dan Si Johan, yang disadur dari gubahan Justus van Maurik yang berjudul “Jan Smees”, yang terdapat dalam kumpulan cerpen Justus van Maurik yang berjudul Lift het Volk.

Selain Azab dan Sengsara serta Si Jamin dan si Johan yang terkenal, terdapat pula beberapa karya yang tidak terkenal, seperti Binasa Karena Gadis Priangan, Balai Pustaka.


Jadi  siapakah tokoh sastra yang kalian kagumi?

Baca juga review buku lainnya di sini 




Read More

Renungan Satu Dekade

Thursday, January 2, 2020



 Renungan satu dekade


Awal tahun 2020 Masehi, saya melihat banyak yang menuliskan keberhasilannya selama satu dekade.  Mungkin niatnya sebagai   bentuk rasa syukur atas semua pencapaiannya.

Atau bisa jadi sebagai pemicu untuk lebih baik lagi pada tahun ini. Wallahualam.

Saya menulis renungan satu  dekade ini niatnya adalah  untuk mengenang  apa saja yang telah saya alami selama itu, sekaligus untuk mengusik hati dan pikiran saya, agar lebih baik di masa yang akan datang.


10 tahun itu adalah waktu yang lama, tapi berada sesudah masa itu berlalu justru terasa  sangat singkat. Terutama kenangan dan  rentetan kejadian yang membekas dalam ingatan. Seakan hal itu baru kemarin terjadi.
Baik itu kejadian baik maupun kejadian buruk.

Bukankah yang membekas dalam ingatan itu hanya dua? Yaitu kebahagiaan dan kesedihan.  Peristiwa yang biasa-biasa akan berlalu begitu saja bahkan  bisa jadi terlupakan.

Bagaimana dengan Masa Satu Dekadeku?


Hampir satu dekade memikul tanggung jawab sebagai kepala sekolah  di sekolah yang berstatus swasta.
Banyak hal  menakjubkan yang saya alami. Mendengar keluh kesah guru honorer, melihat semangat luar biasa mereka, tetap tampil modis walau dompet menipis, senyum manis padahal hati meringis.

Tiga bulan tak terima honor sebab dana BOS belum cair. Sekalinya cair langsung amblas, bayar utang dan cicilan.

Saya membersamai mereka, terus menyemangati dan menjanjikan, bahwa mungkin kalian kurang uang tapi yakinlah akan berlimpah pahala selama ikhlas membagi ilmu.

Kadang dihujat diam-diam, bahkan diumpat melalui   media sosial. Disebut sebagai pemimpin zalim.

Saya tahu tapi pura-pura tak tahu. Tak penting saya layani, karena hanya akan mengotori jiwa dan akan menyurutkan semangat.

Jika mata batinnya terbuka suatu saat, maka pastilah penyesalan mendera.
Manakala mereka tahu, bahwa apa yang disangkakan tidaklah  demikian adanya.

Bukan perkara mudah mengelola manajemen peninggalan pemimpin sebelumnya  yang terlanjur amburadul,  juga   menata administrasi yang porak poranda.

Merangkul hati yang kecewa karena gagal berada di posisi yang ia perjuangkan. Mengajak kerja sama orang-orang yang tak biasa kerja tim, memberi ruang bagi jiwa yang selalu merasa jemawa, tak biasa diperintah karena biasanya memerintah.

Kompleks!

Banyak kisah pilu namun tak sedikit yang membahagiakan. Manakala melihat murid-murid berhasil menamatkan sekolahnya lalu melanjutkan  ke sekolah yang lebih baik sarana dan prasarananya.

Bahagia  saat  mendengar cerita mereka, bahwa berkat ajaran disiplin yang saya terapkan membuat mereka tak kagok dengan sekolah baru dengan penerapan disiplin yang tinggi.

Kadang berjumpa dengan orang tua murid yang manis di depan tapi sinis di belakang. Ah, jangankan orang tua, gurupun ada yang begitu.
Pura-pura baik tapi berusaha menusuk dari belakang.

Saya pikir  itu biasa.

Itu baru kepala sekolah belum jadi camat, wali kota, gubernur, apalagi presiden. Pastilah lebih banyak lagi orang yang menghujat mereka.
Saya mengibaratkan,  bicara manis saat disuguhi kopi manis, saat  gulanya habis maka tersisa kopinya. Pahit.

Sepahit mulut, sikap, dan gerakannya. Arragh!

mardanurdin.com
Foto menjelang perpisahan tahun 2018
Foto studio Elegan Makassar



Kunjungan ke Benteng Rotherdam tahun 2011



mardanurdin.com
Kegiatan Gerakan Literasi Sekolah tahun 2017

Baca juga:  Bermunajat dan Bermuhasabah    dan     Curahan Hati 


Jangan Meninggalkan Jejak Buruk


Satu dekade berlalu, saya masih di sini. Di dunia pendidikan yang saya cintai. Akan terus di situ hingga ajal menjemput.
Mungkin saya akan pensiun  mungkin juga tidak. Terserah jalan hidup apa yang diberikan oleh Allah. Saya hanya menjalaninya dan berusaha melakoninya dengan sebaik-baiknya.

Menjadi kepala sekolah atau tidak, sama saja. Tetap guru judulnya.

Setidaknya saya pernah di posisi itu. Bisalah bercerita ke anak cucu kelak dan menjadikannya bahan pembelajaran.

Bahwa menjadi pemimpin walau sekecil apapun, akan tetap dimintai pertanggung jawaban kelak di hadapan Allah Swt.

Mungkin saya bukan pemimpin yang baik, banyak kesalahan yang saya lakukan, banyak hati yang saya lukai oleh sikap, perkataan dan kebijakan yang saya ambil.

Kadang jemawa mungkin juga sedikit congkak. Wallahualam.

Saya hanya berharap, siapapun yang saya sakiti mau dan ikhlas memaafkan saya sebagaimana saya telah ikhlas memaafkan orang-orang yang telah berbuat tidak baik  terhadap saya.

Menata Hati Menata Tulisan


Sebenarnya saya sudah ada draf  tulisan tentang suka duka menjadi kepala sekolah di sekolah swasta. Tapi saya masih dalam proses menata hati.

Kenapa menata hati, bukannya menata tulisan?

Setelah saya baca-baca ternyata tulisan itu ada sedikit tendensi rasa kecewa, sakit hati, dan amarah.
Karenanya saya simpan beberapa saat. Saya tidak mau meninggalkan jejak buruk dalam hidup sekalipun hanya lewat tulisan.

Bukankah tulisan itu abadi seabadi peredaran zaman?

Mungkin tulisan saya itu tidak sebagus dan seabadi tulisannya penulis-penulis legenda, seperti Buya Hamka, Pramoedya, Marah Rusli, Pipiet Senja, dan lainnya. 

Mungkin pula tidak sepopuler tulisan karya penulis ngetop seperti Agatha Cristy, Tere Liye, Asma Nadia, Helvy Triana Rosa, dan yang lainnya.

Tetapi setiap hal yang kita lakukan di dunia, kelak akan dimintai tanggung jawab di akhirat sekalipun hanya sebiji sawi, termasuk tulisan.

"(Luqman berkata), “Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha Halus, Maha Mengetahui."                                                                                                  (QS. Luqman: 16)

Tulisan bagaikan perkataan, jika sudah keluar dan dibaca orang maka tulisan itu tidak bisa lagi ditarik atau disembunyikan.  

Cukuplah dengan dosa-dosa masa lalu yang terlanjur tercatat dalam kitab malaikat, dan saya berusaha terus menerus mohon ampunan atas semua itu sembari berdoa,  semoga dilindungi dari godaan setan yang setiap saat mengintai dan merayu agar menjadi pengikutnya. Nauzubillah.

Selamat menjalani hari-hari di tahun 2020. Semoga kita masih bisa bersua di tahun berikutnya.


Read More

Makan Jalangkote Lorong Sambil Begadang

Wednesday, December 18, 2019


Makan Jalangkote Sambil Begadang di Jalangkote Lorong 


Assalamualaikum.

“Anak-anak, apakah kalian kenal makanan ringan ini?” Saya bertanya ke muridku sambil memperlihatkan gambarnya.

Sontak mereka menjawab.
“Kenaaal Bu!”

Hahaha…. nih bu guru suka iseng sama muridnya. Siapa juga warga Makassar yang tidak kenal makanan ringan yang bentuknya mirip pastel ini.
Jalangkote, itulah nama penganan khas Makassar. Seantero Makassar sangat mengenalnya.

Perbedaan Jalangkote dengan Pastel


Banyak yang  mengira, kalau jalangkote dan pastel adalah makanan yang sama, padahal berbeda.

Bentuknya serupa tetapi kue pastel memiliki kulit yang tebal sedangkan kulit jalangkote lebih tipis. Isiannya juga berbeda.

Pada umumnya pastel berisi bihun, wortel, telur, atau kadang sedikit daging ayam. Sedangkan jalangkote isinya lebih lengkap, yaitu wortel, kentang, tauge, bihung, daging ayam atau daging sapi yang dicincang halus, dan telur.

Pastel biasanya dimakan dengan cabai rawit sedangkan jalangkote dimakan bersama sambal.
Nah, sambal jalangkote juga khas. Cabai rawit dicampur air cuka, gula pasir, dan bawang putih yang dicincang halus.

Jalangkote Lorong


Adakah  sahabat pembaca yang belum pernah berkunjung ke Makassar?
Ke Makassar yuk!

Kalau sahabat ke Makassar, tak lengkap rasanya jika belum menikmati penganan gurih ini.
Di mana mendapatkannya?

Penjual jalangkote di Makassar lumayan banyak dan tersebar di banyak tempat. Tetapi jika sahabat lagi kena “penyakit” mager alias malas gerak, gampang.

Tinggal gunakan gadgetnya, cari di aplikasi Gojek atau Grab maka akan terlihat berbagai tempat yang menjual jalangkote.

Nah, supaya sahabat tidak bingung karena banyaknya pilihan yang tersedia, langsung ketik saja JALANGKOTE LORONG, maka langsung muncul deh gambar jalangkote yang menggoda selera.


Saya rekomendasikan jalangkote ini, karena saya sudah mencobanya.

Ceritanya nih, saya dikirimi oleh pemiliknya sicantik Rahayu Rajab, itu kejadian beberapa hari lalu. Kebetulan sekali, saya sekeluarga sangat suka penganan ini.

Begitu paket jalangkote dibuka, anak-anak langsung menyerbu sambil berseru.

Sikaaat!

Refleks saya balas berseru, “Tungguuu, saya mau foto dulu, hahaha…”

Sumber pribadi 

Sumber IG Jalkot_lorong

Habis foto-foto dalam keadaan utuh, saya tinggalkanlah jalangkote tersebut.
Saya sibuk pilih-pilih foto jalangkote, untuk   dipajang di instagram.

Pas saya berbalik, masya Allah!
Jalangkotenya sisa satu biji.

“Wuih hampir-mi tidak nu-sisakanka.”
“Maaf Mak, kami kalap. Barusan-ku makan jalangkote seenak ini.” kata Ami.
“Ah, masa?”
“Coba maki Mak, gurih sekali isinya.” Katanya lagi meyakinkan.

Dan tadaaa…
Jalangkote lorong langsung amblas di mulut saya, daaan yang terjadi saudara-saudara saya lupa foto tampilan isiannya hahaha…

Betul kata Ami, isian jalangkote lorong ini sangat  gurih, padat, dan lengkap. Ada wortel, kentang, laksa, tauge, daging cincang dan telur.   
Selain itu, kulit jalangkotenya juga renyah dan tidak melempem jadi saat digigit, terasa kriuk-kriuk maknyus.

Sambalnya juga sangat maknyus, pas di lidah deh pokoknya.

Oh yah, menurut pemiliknya Rahayu Rajab, walaupun Jalangkote Lorong  baru fokus sejak 4 bulan terakhir ini, namun sudah bisa menjual lebih 100 biji perhari. 
Dan kebanyakan pelanggannya membeli lewat online.

Tapi kalau sahabat mau berkunjung dan penasaran dengan tempat usahanya, silahkan datang saja ke Jl. Jalahong Dg Mattutu no.104 Makassar  

Kabar baiknya lagi, sahabat bisa memesan jalangkote di JALANGKOTE LORONG sampai jam 22.00. Jadi bisa dinikmati sambil begadang kan?

Masih penasaran dengan Jalangkote lorong?  

Sumber pribdai


Kepoin instagramnya yuk!  


#13tahunBloggerAM
#AMdukungUMKM


Read More