Menjelajah Makau: Sensasi Paris dan Venesia dalam Satu Kota

Friday, May 22, 2026

 


www.mardanurdin.com


Menjelajah Makau; Sensasi Paris dan Venesia dalam Satu Kota

Senin pertama di bulan Mei 2026, masuk notifikasi dari Mikka. Dia mengabarkan tentang traveling ke Turki lengkap dengan dokumen itinerarynya. 

Soal jalan-jalan, sahabat saya yang satu ini memang paling jago deh. Biaya untuk jalan-jalan bukan masalah lagi buatnya. Sementara saya, mesti berpikir-pikir sebelum memutuskan untuk meng-iya-kan ajakannya. Karena jenis dompet kita bisa saja sama, tapi jumlah isinya pasti jauh berbeda. 

Seperti perjalanan kami ke China tahun lalu, tiba-tiba saja kirim flayer dan dokumen itinerary.

“Ayoeee, kita ke China – Hongkong, murah-ji.” 

Qadarullah semesta mendukung walaupun sebelum memutuskan tanggal keberangkatan, terjadi diskusi yang cukup alot dalam kelompok kecil kami. Ada beberapa pilihan jadwal dan tempat-tempat yang akan dikunjungi. Namun, akhirnya kami sepakat mengikuti jadwal tour Makau-Zhuhai-Hongkong-Shenzhen pada tanggal 16 November 2025. 


Jakarta – Makau


Berhubung Mikka sudah berangkat duluan ke Jakarta, maka saya, Noni dan anaknya Noni (Nabila) berangkat bertiga dari Makassar ke Jakarta sehari sebelum ke Macau, karena Jakarta – Macau dijadwalkan berangkat pukul 04.00 WIB. Jadi agak sulit kalau tidak menginap semalam di Jakarta. 

Sebenarnya saya ingin sekali bergabung dengan Moslem Tour Makau-Zhuhai-Hongkong-Shenzhen dengan harapan bisa mengunjungi daerah-daerah yang penduduknya mayoritas muslim, mengunjungi masjid-masjid, kulineran makanan halal ala China, dsb.

Sayang waktunya tidak pas dengan teman-teman dari Makassar.Mencocokkan waktu dengan teman seperjalanan itu ternyata cukup sulit. Maka terpaksa ikut rombongan reguler dengan berbagai konsekuensinya. Soal ini, nanti saya cerita yah. 

Alhamdulillah tour reguler ini seru juga. 

Subuh 16 November 2025. Usai menunaikan salat subuh, saya dan Mikka turun ke lobbi hotel. Di sana sudah ada bus yang akan mengantarkan kami ke bandara. Ini adalah layanan khusus buat yang menginap di hotel Ibis budget Jakarta Airport.


Menjelajah Macau/www.mardanurdin.com
Sumber foto: dawiah

Tiba di bandara, orang pertama yang kami cari adalah Noni dengan anaknya, Nabila. Lalu dua orang temannya Mikka, yaitu Mbak Ati dan Bu Mira. Tak lama kami bertemu Hen Hen sebagai pemandu wisata.

Lalu oleh beliau kami diperkenalkan secara singkat dengan rombongan lainnya.

Berkenalan dengan teman seperjalanan itu penting menurutku, karena sekalipun perjalanan singkat, tetapi kita akan terhubung satu sama lain selama perjalanan. 

 

Serunya Photo Stop di Eiffel Makau


Pesawat mendarat di Makau di teriknya siang. Dari jendela pesawat, saya melihat bangunan-bangunan tinggi berdiri rapi, dengan nuansa unik, seperti perpaduan antara Eropa dan Asia.

Makau menghadirkan nuansa Eropa yang begitu kuat. Ada sentuhan Paris, ada pula suasana Venesia yang dibuat sangat megah dan nyaris sempurna. Bagi wisatawan yang suka berburu foto, menikmati arsitektur cantik, atau sekadar ingin merasakan pengalaman berbeda, Makau benar-benar menarik untuk dijelajahi.

Salah satu momen yang paling saya tunggu saat berkunjung ke suatu tempat adalah photo stop. Nah, di Makau kami photo stop di Parisian Macao Eiffel Tower. 

Replika Menara Eiffel yang berdiri megah di kawasan The Parisian Macao ini memang menjadi ikon wisata yang wajib dikunjungi para pelancong.

Begitu bus memasuki area hotel, mata saya langsung tertuju pada menara tinggi yang tampak berkilau terkena cahaya matahari sore. Rasanya seperti sedang berada di Paris, meskipun sebenarnya masih di Asia.

Replika Menara Eiffel di Makau ini dibuat setengah ukuran dari Eiffel Tower asli di Paris. Meski bukan ukuran sebenarnya, suasana romantis khas Prancis tetap terasa kuat. Bangunannya menjulang anggun di tengah kemewahan kawasan wisata Makau.

Tak heran jika banyak wisatawan langsung sibuk mengabadikan momen. Ada yang berfoto bersama keluarga, pasangan, hingga rombongan wisata seperti kami. Hampir setiap sudut terlihat instagramable.

Saya pun tak ingin melewatkan kesempatan itu. Berkali-kali mencoba mencari angle terbaik sambil sesekali tertawa karena antre bergantian mengambil foto.


www.mardanurdin.com
Sumber: Dawiah


Di sekitar area juga terdapat taman kecil, jalan setapak yang rapi, serta bangunan hotel bergaya Eropa yang membuat suasana makin cantik. Bahkan hanya sekadar berjalan santai sambil menikmati udara sore pun terasa menyenangkan.


www.mardanurdin.com
Sumber: dokumentasi Dawiah


Namanya juga photo stop, waktu yang diberikan memang tidak terlalu lama. Namun justru di situlah seninya. Kami harus pintar memanfaatkan waktu untuk menikmati suasana sekaligus mengabadikan momen.

Saya sempat berdiri beberapa menit hanya untuk melihat menara itu dari bawah. Angin sore bertiup cukup sejuk. Orang-orang lalu lalang sambil membawa kamera dan ponsel. Ada rasa bahagia sederhana yang sulit dijelaskan.

Kadang memang, perjalanan tidak harus selalu panjang untuk meninggalkan kenangan. Bahkan persinggahan singkat pun bisa menjadi cerita yang terus diingat.


The Venetian Macao, Mewah dan Menakjubkan


Perjalanan kami kemudian berlanjut ke The Venetian Macao, salah satu ikon wisata paling terkenal di Macau.

Tempat ini dikenal sebagai kasino terbesar di dunia. Namun, bagi saya yang lebih tertarik melihat arsitekturnya, bagian paling menarik justru ada di area pusat perbelanjaannya, yaitu Grand Canal Shoppes.

Saat pertama kali masuk, saya benar-benar dibuat bingung. Perasaan saya waktu itu seperti berada di luar ruangan, padahal sebenarnya masih berada di dalam gedung.

Rupanya, semua itu karena adanya langit buatan yang sangat ikonik. Langit-langit di dalam gedung dilukis menyerupai suasana langit cerah lengkap dengan awan-awan lembut. Pencahayaan diatur sedemikian rupa sehingga terlihat alami dan nyaman di mata.


Menjelajah Makau - www.mardanurdin.com
Dokumentasi Dawiah


Efeknya luar biasa. Tidak terasa seperti berada di pusat perbelanjaan tertutup. Justru suasananya mirip sedang berjalan santai di kota Venesia, Italia.


Menginap di Zhuhai Queen Hotel


Menjelang sore, perjalanan dilanjutkan menuju Zhuhai. Perbatasan Macau–Zhuhai kami lalui dengan proses imigrasi yang cukup melelahkan. Antrian panjang, rasa capek, dan perut yang mulai lapar, semuanya bercampur jadi satu.

Namun, begitu sampai di Zhuhai Queen Hotel, rasa lelah itu sedikit terbayar. Hotelnya sederhana, tidak terlalu mewah, tapi cukup nyaman untuk beristirahat. Bagi saya, setelah perjalanan panjang, yang terpenting adalah tempat untuk merebahkan ubuh dan mengistirahatkan pikiran.

Saya sekamar dengan Mikka, sesuai dengan daftar yang dibagikan oleh Hen Hen sebelum berangkat. Noni dengan anaknya dan Mbak Ati sekamar dengan Mbak Mira.

Perjalanan ini bukan hanya soal berpindah tempat. Tapi juga tentang belajar tentang sabar, tentang menyesuaikan diri, tentang tetap menjaga nilai yang kita yakini, bahkan ketika berada jauh dari lingkungan yang mendukung.

Dan yang paling penting, saya kembali diingatkan, bahwa setiap langkah perjalanan, sejatinya adalah bagian dari skenario terbaik yang Allah tuliskan.

Perjalanan masih panjang. Besok, cerita akan berlanjut di Zhuhai sebuah kota di pesisir selatan yang merupakan bagian dari Provinsi Guangdong. Tiongkok.


Subuh, pukul 04.30. 

Saya dibangunkan oleh dinginnya suhu kamar. 16 derajat! Pantas sangat dingin. Sementara Mikka hanya senyum-senyum melihat saya yang nyaris menggigil. 

Usai salat subuh saya menyingkap gorden untuk melihat pemandangan di sekitar Zhuhai. Dari kejauhan nampak tiga gedung pencakar langit dengan desain atap yang unik. 


www.mardanurdin.com
Dokumentasi Dawiah


Foto gedung itu saya abadikan saat matahari terbit sehingga memberikan warna oranye lembut pada langit dan mempertegas siluet bangunan. 

Lumayan memanjakan mata di pagi hari.


Makassar, 22 Mei 2026


Dawiah


Post a Comment