---- Cara Memilih Pemimpin Dari Sudut Pandang Islam: Pengajian Oleh Ustaz Agung Wirawan ---
Kali ini saya menulis dengan tema bebas, mumpung ilmu yang saya dapatkan kemarin masih segar dalam ingatan. Berarti tema untuk hari ini Day4 pindah ke hari berikutnya.
3 Februari 2024, saya bersama ibu-ibu pengurus ‘Aisyiyah menghadiri pengajian yang diadakan oleh Bapak Iqbal Parewangi di Hotel UIN Alauddin Makassar. Pengajian itu menghadirkan Drs. Agung Wirawan yang akan memberi dakwah Islamiah dengan tema “cara Memilih Pemimpin.”
Saya pikir, tema ini sangat relevan dengan situasi menjelang pemilihan umum di negara kita. Setidaknya ini akan membuka pikiran kita, bagaimana cara memilih pemimpin yang insyaallah lebih baik untuk kejayaan Indonesia dari sudut pandang agama Islam.
Ustaz Agung memulai pengajian dengan menceritakan kisah Nabi Sulaiman Alaihisalam, bahwa suatu waktu, Nabi Sulaiman Alaihisalam berkata bahwa, ia akan menggilir 100 istrinya dalam satu malam dan masing-masing istrinya akan melahirkan anak laki-laki, yang nanti akan berjihad di jalan Allah. Ternyata setelah itu, hanya satu istrinya yang melahirkan anak laki-laki dan itupun lahir dalam keadaan cacat.
Cerita ustaz Agung adalah salah satu hadis yang diriwatkan oleh Ahmad 7715 dan Bukhari 5242 sebagai berikut.
“Sulaiman bin Daud pernah mengatakan, “Saya akan menggilir 100 istriku semalam ini lalu masing-masing istri akan melahirkan anak lelaki, yang nanti akan berjihad di jalan Allah. Namun, Sulaiman lupa mengucapkan ‘InsyaaAllah’. Lalu Sulaiman menggilir keseratus istrinya, tetapi tidak ada yang melahirkan anak selain satu istri yang melahirkan setengah anak. Kemudian Rasulullah Sallalahu alaihi wasallam berkata, “seandainya Sulaiman mengatakan, ‘InsyaaAllah’ maka sumpahnya tidak gagal dan akan mendapatkan apa yang diinginkannya.” (HR. Ahmad 7715 dan Bukhari 5242).
Dari hadis tersebut, pak Ustaz mengingatkan jamaah yang akan melakukan sesuatu untuk selalu mengikutkan Allah dalam setiap rencananya.
“Selalu ucapkan InsyaaAllah (Jika Allah mengizinkan), karena semua kejadian dalam hidup kita tidak akan pernah terjadi jika Allah Subhanahu wataala tidak mengizinkannya.”
Ini pengingat bagi semua calon legislatif terutama ketiga pasangan calon presiden dan semua pendukungnya, karena sesungguhnya presiden Indonesia sudah tercatat di Lauhulmahfuz, tetapi tidak ada seorang pun yang tahu atau belum tahu sebelum perhitungan suara berakhir nanti.
Seandainya manusia bisa ngintip, pasti tidak akan ada lagi acara kampanye apalagi debat capres cawapres bukan? Ngapain bela-belain capres A jika kita sudah tahu kalau nantinya yang akan menjadi presiden Indonesia adalah capres X. Begitu kira-kira.
Ada tiga sifat yang harus dimiliki oleh calon pemimpin, di mana ketiga sifat itu yang insyaaAllah akan memberi pengaruh baik pada saat menjalankan pemerintahan kelak ketika dia terpilih menjadi pemimpin, yaitu:
- Pertama. Bagaimana dia menjalankan ibadahnya. Apakah ia sungguh-sungguh atau tidak? Jika menjalankan ibadahnya saja tidak sungguh-sungguh dan tidak jujur pada agamanya, bagaimana bisa menjalankan pemerintahan dengan sungguh-sungguh dan jujur pula. Dengan kata lain, dia tidak memiliki integritas yang mumpuni. Maka pilihlah pemimpin yang memiliki integritas yang tinggi.
- Kedua. Memiliki sifat ihsan atau selalu berbuat baik dan mempunyai kapabilitas dalam melakukan sesuatu.
- Terakhir, memiliki kepedulian pada rakyat atau punya loyalitas kepada rakyat.
Lebih jauh dijelaskan oleh Pak Ustaz, bahwa selain melihat sifat-sifat baik tersebut, dianjurkan juga untuk TIDAK memilih pemimpin yang memiliki tiga sifat buruk, yaitu:
- Pertama, jangan pilih calon pemimpin yang selalu berbuat keji kepada rakyat maupun kepada dirinya sendiri.
- Kedua, jangan pilih calon pemimpin yang selalu mungkar. Melanggar perintah Tuhan.
- Ketiga, jangan pilih calon pemimpin yang suka bertindak sewenang-wenang.
Jadi, marilah berdoa agar kita mendapatkan pemimpin yang memenuhi kriteria-kriteria tersebut agar negeri Indonesia yang kita cintai ini menjadi negeri yang Baldatun thoyyibatun warabbun ghofur. Negeri yang mengumpulkan kebaikan alam dan kebaikan perilaku penduduknya.
Bagaimana cara kita memilih pemimpin sesuai kriteria? Periksalah tread record-nya, amati sikap-sikap dan perkataan-perkataannya, lalu tentukan pilihanmu dengan mengucapkan “bismillah”
Jangan golput yah.
Pesan terakhir yang disampaikan oleh Ustaz Agung Wirawan, Pemilu semakin dekat dan jadikan ajang ini sebagai jalan untuk menjalankan perintah Allah Subahanahu wata’ala sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Maidah ayat 2.
“ …… wa ta’aawanuu ‘alal-birri wat-taqwaa wa laa ta’aawanuu ‘alal-ismi wal-‘udwaani wattaqulloh, innalloha syadiidul-‘iqoob.”
“ …. Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.” (Al-Maidah:2).
Jika pemimpin yang kamu pilih nantinya tidak terpilih atau gagal melenggang ke istana, jangan marah apalagi sakit hati.
Ingatlah kisah semut yang membantu Nabi Ibrahim Alaihisalam ketika beliau dibakar. Semut tahu kalau air yang ia bawa tidak berpengaruh apa-apa, tetapi ia terus menyiram api yang besar itu dengan setetes demi setetes air yang dibawanya, lalu berkata,
“setidaknya Allah tahu kepada siapa saya berpihak.”
Jangan sampai kita menjadi cicak yang ikut meniupkan api saat nabi Ibrahim dibakar sehingga Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh cicak. Beliau bersabda,”Dahulu cicak ikut membantu meniup api (untuk membakar) Ibrahim ‘alaihis salam.” (HR. Bukhari, no.3359).
Jadi, sudahkan kamu menentukan pilihanmu?
Siapa nih capres pilihanmu?
Eh, aups. Rahasia dong, cukup kamu dan Allah yang tahu saja yah.
Setidaknya kita sudah menentukan kepada siapa kita berpihak, semoga keberpihakan kita itu merupakan pihak yang diridhoi oleh Allah subhanahu wa ta’ala, terlepas apakah dia yang dipilih oleh Allah untuk menjadi pemimpin bangsa ini atau bukan.
Tema lainnnya bisa dibaca di sini
#Tulisan ini adalah bagian dari Tantangan Menulis 29 hari tahun kabisat 2024, di mana saya menantang diri sendiri untuk menulis sesuai tema#
Makassar, 1 Februari 2024
Dawiah








