Day4: Cara Memilih Pemimpin dari Sudut Pandang Islam; Pengajian Oleh Ustaz Agung Wirawan

Sunday, February 4, 2024






---- Cara Memilih Pemimpin Dari Sudut Pandang Islam: Pengajian Oleh Ustaz Agung Wirawan ---



Kali ini saya menulis dengan tema bebas, mumpung ilmu yang saya dapatkan kemarin masih segar dalam ingatan. Berarti tema untuk hari ini Day4 pindah ke hari berikutnya. 

 

3 Februari 2024, saya bersama ibu-ibu pengurus ‘Aisyiyah menghadiri pengajian yang diadakan oleh Bapak Iqbal Parewangi di Hotel UIN Alauddin Makassar. Pengajian itu menghadirkan Drs. Agung Wirawan yang akan memberi dakwah Islamiah dengan tema “cara Memilih Pemimpin.”

 

Saya pikir, tema ini sangat relevan dengan situasi menjelang pemilihan umum di negara kita. Setidaknya ini akan membuka pikiran kita, bagaimana cara memilih pemimpin yang insyaallah lebih baik untuk kejayaan Indonesia dari sudut pandang agama Islam.

 

Ustaz Agung memulai pengajian dengan menceritakan kisah Nabi Sulaiman Alaihisalam, bahwa suatu waktu, Nabi Sulaiman Alaihisalam berkata bahwa, ia akan menggilir  100 istrinya dalam satu malam dan masing-masing istrinya akan melahirkan anak laki-laki, yang nanti akan berjihad di jalan Allah. Ternyata setelah itu, hanya satu istrinya yang melahirkan anak laki-laki dan itupun lahir dalam keadaan cacat.


Cerita ustaz Agung adalah salah satu hadis yang diriwatkan oleh Ahmad 7715 dan Bukhari 5242 sebagai berikut.

 

“Sulaiman bin Daud pernah mengatakan, “Saya akan menggilir 100 istriku semalam ini lalu masing-masing istri akan melahirkan anak lelaki, yang nanti akan berjihad di jalan Allah. Namun, Sulaiman lupa mengucapkan ‘InsyaaAllah’. Lalu Sulaiman menggilir keseratus istrinya, tetapi tidak ada yang melahirkan anak selain satu istri yang melahirkan setengah anak. Kemudian Rasulullah Sallalahu alaihi wasallam berkata, “seandainya Sulaiman mengatakan, ‘InsyaaAllah’ maka sumpahnya tidak gagal dan akan mendapatkan apa yang diinginkannya.” (HR. Ahmad 7715 dan Bukhari 5242).

 

Dari hadis tersebut, pak Ustaz mengingatkan jamaah yang akan melakukan sesuatu untuk selalu mengikutkan Allah dalam setiap rencananya. 


“Selalu ucapkan InsyaaAllah (Jika Allah mengizinkan), karena semua kejadian dalam hidup kita tidak akan pernah terjadi jika Allah Subhanahu wataala tidak mengizinkannya.”

Ini pengingat bagi semua calon legislatif terutama ketiga pasangan calon presiden dan semua pendukungnya, karena sesungguhnya presiden Indonesia sudah tercatat di Lauhulmahfuz, tetapi tidak ada seorang pun yang tahu atau belum tahu sebelum perhitungan suara berakhir nanti. 

 

Seandainya manusia bisa ngintip, pasti tidak akan ada lagi acara kampanye apalagi debat capres cawapres bukan? Ngapain bela-belain capres A jika kita sudah tahu kalau nantinya yang akan menjadi presiden Indonesia adalah capres X. Begitu kira-kira.

 

Ada tiga sifat yang harus dimiliki oleh calon pemimpin, di mana ketiga sifat itu yang insyaaAllah akan memberi pengaruh baik pada saat menjalankan pemerintahan kelak ketika dia terpilih menjadi pemimpin, yaitu:

 

  • Pertama. Bagaimana dia menjalankan ibadahnya. Apakah ia sungguh-sungguh atau tidak? Jika menjalankan ibadahnya saja tidak sungguh-sungguh dan tidak jujur pada agamanya, bagaimana bisa menjalankan pemerintahan dengan sungguh-sungguh dan jujur pula. Dengan kata lain, dia tidak memiliki integritas yang mumpuni. Maka pilihlah pemimpin yang memiliki integritas yang tinggi.
  • Kedua. Memiliki sifat ihsan atau selalu berbuat baik dan mempunyai kapabilitas dalam melakukan sesuatu.
  • Terakhir, memiliki kepedulian pada rakyat atau punya loyalitas kepada rakyat.

 

Lebih jauh dijelaskan oleh Pak Ustaz, bahwa selain melihat sifat-sifat baik tersebut, dianjurkan juga untuk TIDAK memilih pemimpin yang memiliki tiga sifat buruk, yaitu:

 

  • Pertama, jangan pilih calon pemimpin yang selalu berbuat keji kepada rakyat maupun kepada dirinya sendiri.
  • Kedua, jangan pilih calon pemimpin yang selalu mungkar. Melanggar perintah Tuhan.
  • Ketiga, jangan pilih calon pemimpin yang suka bertindak sewenang-wenang. 

 

Jadi, marilah berdoa agar kita mendapatkan pemimpin yang memenuhi kriteria-kriteria tersebut agar negeri Indonesia yang kita cintai ini menjadi negeri yang Baldatun thoyyibatun warabbun ghofur. Negeri yang mengumpulkan kebaikan alam dan kebaikan perilaku penduduknya.

 

Bagaimana cara kita memilih pemimpin sesuai kriteria? Periksalah tread record-nya, amati sikap-sikap dan perkataan-perkataannya, lalu tentukan pilihanmu dengan mengucapkan “bismillah”

Jangan golput yah.


Pesan terakhir yang disampaikan oleh Ustaz Agung Wirawan, Pemilu semakin dekat dan jadikan ajang ini sebagai jalan untuk menjalankan perintah Allah Subahanahu wata’ala sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Maidah ayat 2.


“ …… wa ta’aawanuu ‘alal-birri wat-taqwaa wa laa ta’aawanuu ‘alal-ismi wal-‘udwaani wattaqulloh, innalloha syadiidul-‘iqoob.”

“ …. Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.” (Al-Maidah:2).

 

Jika pemimpin yang kamu pilih nantinya tidak terpilih atau gagal melenggang ke istana, jangan marah apalagi sakit hati. 


Ingatlah kisah semut yang membantu Nabi Ibrahim Alaihisalam ketika beliau dibakar. Semut tahu kalau air yang ia bawa tidak berpengaruh apa-apa, tetapi ia terus menyiram api yang besar itu dengan setetes demi setetes air yang dibawanya, lalu berkata,

 “setidaknya Allah tahu kepada siapa saya berpihak.”


Jangan sampai kita menjadi cicak yang ikut meniupkan api saat nabi Ibrahim dibakar sehingga Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda.


“Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh cicak. Beliau bersabda,”Dahulu cicak ikut membantu meniup api (untuk membakar) Ibrahim ‘alaihis salam.” (HR. Bukhari, no.3359).

 

Jadi, sudahkan kamu menentukan pilihanmu? 

Siapa nih capres pilihanmu?


Eh, aups. Rahasia dong, cukup kamu dan Allah yang tahu saja yah.




Setidaknya kita sudah menentukan kepada siapa kita berpihak, semoga keberpihakan kita itu merupakan pihak yang diridhoi oleh Allah subhanahu wa ta’ala, terlepas apakah dia yang dipilih oleh Allah untuk menjadi pemimpin bangsa ini atau bukan. 


Tema lainnnya bisa dibaca di sini 

 

#Tulisan ini adalah bagian dari Tantangan Menulis 29 hari tahun kabisat 2024, di mana saya menantang diri sendiri untuk menulis sesuai tema#


 

Makassar, 1 Februari 2024

 

Dawiah

 

 

 

Read More

Day3: Strategi Efektif untuk Mengelola dan Meningkatkan Sisi Positif Diri: Kunci Menuju Kesejahteraan Mental

Saturday, February 3, 2024

  







---- Day3: Strategi Efektif untuk Mengelola dan Meningkatkan Sisi Positif Diri: Kunci Menuju Kesejahteraan Mental ----

 

 

Apa yang kamu rasakan ketika ditinggal oleh orang yang dikasihi? Sedih, merasa menyesal, merasa sendiri, dan sebagainya.

Kepergian orang tercinta sudah pasti menggoncangkan perasaan sehingga kesedihan pun tak bisa dilawan.

Tidak apa-apa. Biarkan air mata mengalir, tetapi jangan meraung-raung dan mengeluarkan kalimat-kalimat menyesalkan kejadian yang terjadi apalagi menggugat Tuhan. Nauzubillah.

 

Barangkali kita memerlukan jeda sejenak agar bisa melangkah lagi. Kesedihan dan rasa kehilangan jangan sampai berlarut-larut karena akibatnya bisa menimbulkan rasa putus asa, overthingkin dan bisa jadi memunculkan pikiran negative sehingga tanpa disadari setan pun masuk menggoda untuk bertindak di luar nalar. 

 

Apa pula yang dirasakan ketika berada di situasi di mana orang lain tidak menerima keberadaan kita? Dianggap tidak mampu dan gagal. Atau kita memang gagal dalam melakukan suatu pekerjaan, salah dalam mengambil keputusan, dan sebagainya. 

Kecewa, sudah pasti, tetapi jangan kelamaan kecewanya. Bangkitlah dan segera mengelola pikiran positif diri kita. Jangan berlama-lama dalam keterpurukan.

 

Di sinilah pentingnya mengelola pikiran positif yang akan membawa pada ketenangan jiwa karena positif diri merupakan sikap mental yang melibatkan keyakinan dan penghargaan terhadap diri sendiri. 

Mempertahankan sikap positif terhadap diri sendiri memiliki banyak manfaat, termasuk meningkatkan kesejahteraan mental dan fisik. 

 

Bagaimana caranya mengelola dan meningkatkan sisi positif diri agar kesehatan mental tetap terjaga?

 

Yang utama adalah kita harus mengakui bahwa dalam diri kita ada sisi positif yang dimiliki, maka sisi positif itu harus dikuatkan. 


Mengelola Sisi Positif Diri


Berikut adalah beberapa sisi positif diri yang bisa diakui dan dikuatkan demi meraih kesejahteraan mental diri.

 

Pengakuan Prestasi

Identifikasi dan apresiasi prestasi diri, baik besar maupun kecil. Pengakuan atas usaha dan pencapaian dapat meningkatkan rasa bangga pada diri sendiri.


Kemampuan untuk Belajar


Pahami bahwa setiap pengalaman, baik positif maupun negatif, dapat dijadikan peluang untuk belajar. Kemampuan untuk terus belajar dan berkembang merupakan aspek positif diri yang kuat.

 

Keberanian untuk Menghadapi Tantangan

Sisi positif diri juga mencakup kemampuan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan dengan keberanian. Mengatasi hambatan dapat memperkuat keyakinan diri.

 

Kepribadian dan Nilai-nilai Positif


Kenali nilai-nilai dan sifat positif dalam diri kita. Apakah itu kejujuran, empati, kerja keras, atau sifat positif lainnya, mengakui dan mengembangkan aspek-aspek ini dapat meningkatkan citra diri.


 

Kesehatan Fisik dan Mental


Berkontribusi pada kesehatan fisik dan mental adalah bentuk perhatian positif terhadap diri sendiri. Merawat tubuh dan pikiran kita dapat meningkatkan rasa percaya diri dan kebahagiaan.


 

Hubungan Positif


Perhatikan hubungan positif yang dimiliki dengan orang-orang di sekitar kita. Berinteraksi dengan orang-orang yang mendukung dan positif dapat memperkuat perasaan positif terhadap diri sendiri.


 

Fleksibilitas dan Resilience


Kesanggupan untuk bersikap fleksibel dan tangguh di dalam menghadapi perubahan dan ketidakpastian juga mencerminkan sisi positif diri. Ini menunjukkan adaptabilitas dan kemampuan untuk bangkit dari kesulitan.


 

Mengakui Keunikan Diri Sendiri


Setiap orang unik. Mengakui kalau diri kita adalah unik dan istimewa dapat  membangun rasa harga diri dan kebahagiaan.



Berbagi dan Membantu Orang Lain


Tahukah kamu, kalau membantu orang lain dan berbagi kebaikan dapat meningkatkan perasaan positif terhadap diri sendiri?

Yap, keikhlasan untuk berbagi akan memberikan dampak positif pada orang lain dan diri sendiri.

 

Selalu ingat bahwa memahami dan menghargai sisi positif diri merupakan langkah awal dalam mencapai kesejahteraan dan kesuksesan pribadi. Jangan ragu untuk merayakan pencapaian kecil dan terus bekerja pada pengembangan diri kamu.

 

Penting untuk diingat bahwa memiliki sisi positif diri bukan berarti mengabaikan aspek-aspek yang perlu diperbaiki atau berkembang. Namun, memiliki fondasi positif dapat membantu kita lebih baik dalam menanggapi perubahan dan tantangan dalam hidup.

 

Selain mengelola dan meningkatkan sisi positif diri, jangan lupa untuk mengelola sisi negatif diri, karena setiap manusia pasti memiliki sisi negative.

 

Mengelola sisi negative diri memerlukan waktu dan usaha yang konsisten. Proses ini adalah perjalanan yang berkelanjutan, dan penting untuk melatih kesabaran dan mencari dukungan yang diperlukan.

Mengelola sisi negatif diri adalah keterampilan yang sangat penting untuk menjaga kesejahteraan mental dan emosional. 



Mengelola Sisi Negatif 


 

Berikut adalah beberapa strategi yang dapat membantu kita mengelola sisi negatif diri.

 

Self-awareness (Kesadaran Diri)

 

Pertama-tama, kenali dan sadari pikiran-pikiran negatif yang muncul. Kesadaran diri memungkinkan kita untuk mengidentifikasi pola-pola pikiran yang merugikan dan memahami sumbernya.


 

Asumsi Positif


Coba pertanyakan dan tantang asumsi negatif tentang diri sendiri. Alihkan lalu  fokus dari pikiran negatif dan pertimbangkan interpretasi yang lebih positif atau realistis terhadap situasi.


 

Afirmasi Positif


Gunakan afirmasi positif untuk menggantikan pikiran negatif. Buatlah pernyataan positif tentang diri dan ulangi secara teratur untuk membangun rasa percaya diri. 

 

Belajar dari Pengalaman


Lihatlah kegagalan atau kesalahan sebagai peluang belajar daripada sebagai tanda kegagalan pribadi. Identifikasi apa yang dapat dipelajari dari pengalaman tersebut dan terapkan pembelajaran tersebut untuk pertumbuhan pribadi.

 

Fokuslah pada Keberhasilan


Ingatlah dan akui pencapaian diri, bahkan yang kecil sekalipun. Fokus pada keberhasilan untuk membantu mengubah fokus dari kekurangan menjadi potensi dan kemampuan.

 

Jangan Terlalu Keras pada Diri Sendiri


Akuilah bahwa kita tidak sempurna. Terima kenyataan bahwa semua orang memiliki kelemahan dan membuat kesalahan. Jangan terlalu keras pada diri sendiri dan terapkan belas kasih diri.


 

Batasi Perbandingan


Hindari membandingkan diri dengan orang lain. Setiap individu memiliki perjalanan dan pengalaman yang unik. Fokus pada pertumbuhan pribadi diri sendiri. 


 

Fokus Pada Masa Depan

 

Daripada sibuk memikirkan masa lalu yang jelas-jelas telah terjadi, lebih baik fokus memikirkan masa depan sekalipun masa depan belum tentu bisa diraih, tetapi setidaknya ada harapan di sana.

 

 

Cari Dukungan


Berbicaralah dengan teman, keluarga, atau profesional jika kamu merasa kesulitan mengelola pikiran negatif. Mendapatkan dukungan dapat membantu kita mendapatkan perspektif baru dan strategi untuk mengatasi sisi negatif diri.


 

Cari Bantuan Profesional


Jika sisi negatif diri kamu memengaruhi kesejahteraan mental dan emosional secara signifikan, pertimbangkan untuk mencari bantuan dari seorang profesional kesehatan mental seperti psikolog atau terapis.

 

 

Jaga Kesehatan Fisik


Pola makan sehat, olahraga teratur, dan istirahat yang cukup dapat berdampak positif pada kesejahteraan mental kita. Kesehatan fisik yang baik dapat membantu menjaga keseimbangan mental dan emosional.


 

Latih dan Tingkatkan Jiwa Spiritual


Mendekatlah lebih dalam pada agama yang dianut, tingkatkan ibadah dan pendekatan diri kepada Sang Khalik. Berdoalah sungguh-sungguh kepada-Nya, karena ketenangan yang sesungguhnya akan terjadi atas izin-Nya.

 

Mengelola sisi negatif diri memerlukan waktu, kesabaran, dan latihan berkelanjutan. Penting untuk diingat bahwa perubahan tidak terjadi secara instan, dan setiap langkah kecil menuju pemahaman diri yang lebih baik merupakan kemajuan yang berarti.

 

Demikian. Semoga kita bisa tetap berada di jalur yang positif dalam rangka menuju kesejahteran mental kita.

 

#Tulisan ini adalah bagian dari Tantangan Menulis 29 hari tahun kabisat 2024, di mana saya menantang diri sendiri untuk menulis sesuai tema#

 

Makassar, 3 Februari 2024

 

Dawiah

 

 

 

 

Read More

Day 2, Menembus Batas: Pengalaman Pertama Kali Menulis dan Mengatasi Creative Block

Friday, February 2, 2024



Day2 _ www.mardanurdin.com




___ Day 2 Menembus Batas: Pengalaman Pertama Kali Menulis dan Mengatasi Creative Block ___

 

Selalu ada yang pertama untuk setiap hal dalam kehidupan manusia. Sekalipun itu hal kecil yang nampaknya sesuatu yang remeh, tetapi hal remeh di mata orang lain belum tentu sama buat yang mengalaminya.

 

Seperti yang saya lakukan sepuluh tahun terakhir ini. Sangat serius belajar kembali menulis dengan mengikuti berbagai pelatihan kepenulisan dari yang gratis hingga yang berbayar, dari biaya pelatihan puluhan ribu hingga jutaan, padahal usia sudah berada di kepala empat. 


Psst, 13 tahun lalu, usia kepala empat, jadi sekarang usia saya berapa …. Hitung sendiri yah, jangan malas, wkwkwk. 

Salam takzim.


 

Pertama Kali Mengikuti Kelas Kepenulisan


 

Tahun 2011 untuk pertama kalinya saya menulis di blog, tapi blognya hilang, seperti yang sering saya curhatkan di beberapa postingan blog saya. Kemudian  betul-betul serius belajar yang dibuktikan dengan membayar biaya Latihan menulis pada tahun 2016. Berarti baru sekitar 7 tahun lebih saya kembali serius belajar menulis. 

Pengalaman pertama yang menentukan langkah saya selanjutnya untuk menekuni dunia kepenulisan adalah saat mengikuti kelas menulis secara online di Sekolah Perempuan pada tahun 2017. 

Waktu itu, belajar online belum ada di kelas-kelas kepenulisan bahkan belum ada di sekolah-sekolah sementara masa belajar di sekolah perempuan ini adalah 3 bulan.

 

Peserta pelatihan tersebar di berbagai daerah di Indonesia demikian juga mentornya. Ada Anna Farida yang berdomisili di Jakarta, beliau juga merupakan kepala sekolah untuk Sekolah Perempuan. Lalu ada Ida Fauzia rahimahullah yang waktu itu masih bermukim di Malaysia. 

Nah, mentor saya yang satu ini berdomisili di Amerika, lupa di bagian mana tepatnya. Beliau adalah Artha Juli Nava.

Yang terakhir adalah Indari Mastuti si pemiliki Sekolah Perempuan (SP) sekaligus mentor yang bermukim di Bandung.

Sungguh suatu pengalaman yang sulit dilupakan. 

Belajar pada malam hari lalu beberapa peserta kesulitan mengakses internet sehingga ada yang bela-belain naik ke atas atap demi mendapatkan sinyal.



Sekolah Perempuan _ www.mardanurdin.com
Sumber Foto: Indscript


 

Sebelumnya, saya juga mengikuti beberapa kali pelatihan daring di grup facebook yang dimentori langsung oleh Indari Mastuti, dan yang paling berkesan saat dimentori oleh teh Indari adalah harus bangun dini hari. Karena beliau buka kelas pada setiap jam 02.00 WIB atau sekitar 03.00 WIT.

 


Pertama Kali Menang Lomba Menulis 


 

Yeeaaah, akhirnya saya berhasil menaklukkan diri sendiri untuk mengikuti lomba menulis. Jauh sebelumnya, puluhan tahun silam, saya beberapa kali mengikuti lomba mengarang. Bahkan pernah meraih juara 3, tapi itu dulu waktu masih SMP, di mana tulisan tangan menjadi bahan pertimbangan kemenangan, hahaha.

 

Lomba pertama yang saya ikuti adalah menulis artikel tentang perempuan dalam rangka memperingati milad ke-7 komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Bukan juara harapan 1, 2, 3 apalagi juara 1, tetapi saya bersyukur karena masuk 10 besar dan berhak mendapatkan hadiah kain batik yang cantik. 

Sebahagia itu, setelah hiatus puluhan tahun dari kegiatan menulis apalagi ikut lomba. Bukan hanya kemenangan itu yang saya syukuri melainkan kemenangan melawan ketidakpercayaan diri sendiri mengingat usia yang sudah setengah abad lebih.


 

Pertama Kali Bergabung di Komunitas Penulis 


 

Komunitas menulis pertama yang saya ikuti adalah komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) pada tahun 2016. Dari sanalah saya bertemu kemunitas serupa sekalipun tidak sama, seperti komunitas bloger.

 

Saya termangu-mangu ketika pertama kali bergabung di komunitas-komunitas penulis dan bloger. Melihat para penulis yang masih muda, ibu-ibu atau para emak yang sangat aktif menulis di sela-sela kesibukannya mengurus keluarga, ada juga pekerja kantoran yang jarang absen menulis di blog padahal kesibukannya itu pasti tidak sedikit.

 

Semakin tidak percaya diri manakala membaca tulisan-tulisan mereka yang keren dan sudah melek teknologi sejak dahulu kala sementara saya baru berkenalan dengan itu semua setelah berada di usia yang tidak muda lagi. 

Ada yang sudah melanglang buana dalam dunia kepenulisan sejak usia muda sementara saya di usia seperti itu masih bergelut dengan keluh kesah dalam buku agenda yang semakin lama semakin menipis akibat selalu disobek. 

Tidak sedikit yang menjadi langganan juara dalam ajang lomba menulis dan blog.

Ah, lagi-lagi tentang usia akibat keterlambatan menyelami dunia kepenulisan yang dinamis.


 

Pertama Kali Menerbitkan Buku


 

Masyaallah, ternyata bisa juga punya buku yang di dalamnya terdapat karya saya. Ini lagi-lagi lomba menulis yang diadakan oleh Indscript yang foundernya Indari Mastuti di mana tulisan dari peserta yang lolos akan dibukukan dalam satu buku antologi.


Huaaa, senangnya luar biasa, padahal itu baru buku antologi, hehehe.

Bangga Menjadi Ibu adalah judul buku itu. Ada dua tulisan yang saya kirim, tetapi hanya satu yang lolos. Alhamdulillah, semakin bersemangat belajar lagi.


Buku Bangga Menjadi Ibu _ www.mardanurdin.com
Sumber: Dokumen Dawiah


 

Buah dari ikut kelas Sekolah Perempuan, terbitlah buku solo pertama saya, semoga bisa terbit lagi buku solo kedua dan seterusnya. Amin.

Buku ilmiah popular itu merupakan hasil mentoring dari mentor kecehku, Anna Farida yang berjudul “Analisis Tes Tertulis” Terima kasih Bu Anna kesayangan.


Buku: Analisis Soal Tes Tertulis - www.mardanurdin.com
Sumber Foto: Dokumen Dawiah


 

Blog Pertama di Dunia Antah Berantah


 

Kadang sedih manakala mengingat blog yang pertama kali dibuatkan oleh teman kuliah, adik Akbar Iskandar pada tahun 2011. 

Blog itu berisi artikel-artikel dan tugas-tugas kuliah saat kuliah S2 di Penelitian Evaluasi Pendidikan (PEP) UNM Makassar.

Isinya “daging” semua, karena artikel dan tugas-tugas berupa makala itu sudah diperiksa sama dosen yang ahli di bidangnya masing-masing. Ada juga beberapa terjemahan yang sayang sekali untuk dibuang.

 

Bukan hanya blog pertama itu, ada lagi blog berikutnya yang nasibnya sama. Hilang entah kemana akibat keteledoran saya, lupa kata sandinya, huaa hahahaha. 

Semakin nampak efek usianya wkwkwk.

 

Saya baru berani bikin blog lagi setelah selesai S2 seiring dengan semakin masuknya saya ke dunia literasi. Alhamdulilah, kata sandinya sudah ingat apalagi sekarang semakin melek teknologi. Semua itu berkat bergaul dengan bloger-bloger hebat di berbagai komunitas bloger yang saya ikuti. Pada umumnya, bloger-bloger itu tidak pelit ilmu. Berkah yang sekali lagi wajib saya syukuri.


 

Pertama Kali Belajar Menulis Cerita Fiksi


 

Berbagai pelatihan menulis saya ikuti, mulai pelatihan menulis artikel, kisah inspiratif hingga menulis cerita anak. Maka tak lengkap rasanya jika mencoba menulis fiksi.


Berbekal dengan hobi membaca cerpen dan novel, saya merasa, nampaknya menulis fiksi bisa ditaklukkan. Maka saya pun ikut pelatihan menulis novel selama 1 bulan. Alhamdulillah, sampai saat ini naskah novel itu masih berupa draf yang entah sampai kapan berubah menjadi tulisan utuh.

 

Tidak apa-apa, bujukku pada diri sendiri

Bahwa saya telah memilih dunia ini sebagai tempat berbagi aneka rasa.

Sebab ketika pertama kali berniat menulis, maka saat itu pula saya menguatkan niat itu dan terus melangkah tanpa mau tahu masa lalu yang terlewati. Saya mau belajar dan saya bahagia atas keputusan itu. 

 

Pada akhirnya saya memutuskan untuk mengisi masa purnabakti saya nanti di tahun 2025 dengan menulis dan ini menjadi alasan dalam mengatasi creative block yang sering datang tanpa diundang lalu pergi tanpa pamit, seperti jailangkung saja. 

 

 

#Tulisan ini adalah bagian dari Tantangan Menulis 29 hari tahun kabisat 2024, di mana saya menantang diri sendiri untuk menulis sesuai tema.#

 

 

Makassar, 2 Februari 2024

 

Dawiah

 

 

 

 

 

Read More

Day 1, Tema Tantangan Menulis 29 Hari Tahun Kabisat 2024

Thursday, February 1, 2024

 


Day1 #TantanganMenulis" _ www.mardanurdin.com



---- Day 1 Tema Tantangan Menulis ----

 

 

Tahun 2024 adalah tahun kabisat, di mana pada bulan Februari jumlah harinya bukan 28 hari melainkan 29 hari sehingga jumlah hari dalam satu tahun  adalah 366 hari.

 

Sebab itulah tahun kabisat 2024 ini saya jadikan momentum untuk menantang diri sendiri menulis selama 29 hari dengan tema random dan sesuka hati.

Saya akan menulis apa yang saya rasakan, saya lihat dan yang terbersit di hati, yang muncul di pikiran, yang menyeruak dari balik pintu kenangan, dan apa pun akan menjadi tema tulisan dalam tantangan ini.

 

Sebenarnya saya mau mengajak orang sekitar, tetapi tantangan ini tidak ada reward-nya. Jadi malu sendiri. Kasi tantangan kok, tidak pakai hadiah atau sekadar penghargaan, wkwkwk.

 

Namun, untuk menolong pikiran saya agar lebih muda menaklukkan tantangan ini maka saya coba menyusun sendiri temanya untuk 10 hari pertama. 


Tema Tantangan Menulis


Tema Tantangan Menulis_www.mardanurdin.com


 

  • Hari ke-2, temanya adalah “Yang Pertama.”  Dalam hidup kita selalu ada yang pertama dalam suatu keadaan atau suatu peristiwa yang dialami sebelum terjadi sesuatu berikutnya. Mungkin itu pertama kali naik pesawat, naik kapal laut, pertama kali jatuh hati, pertama kali makan es krim dan apa pun itu. 

  • Hari ke-3 tantangannya adalah “Sisi Positif Versi Diri Sendiri.” Ini penting untuk merawat kesehatan jiwa, bahwa setiap orang memiliki sisi terbaik dari dirinya, tetapi jarang disadari sehingga kadang ada yang selalu menganggap dirinya biasa saja. Padahal bisa jadi dia melampaui dirinya sendiri. Maka menyadari sisi positif diri sendiri, menurut saya sangat penting. Alih-alih menanti pujian orang lain, lebih baik memuji diri sendiri, tentu saja dengan jujur mengakui segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Namun, yang akan saya tulis pada hari ke-3 nanti adalah sisi positifnya saja. Soal sisi negative diri, cukuplah saya dan Allah saja yang tahu, eh, malaikat bisa juga diajak, soalnya dia pencatat amalan baik dan buruk kita bukan? Ok deh, malaikat! Kamu diajak. Hahaha. 

  • “Tahun 2023, peristiwa apa yang paling membahagiakan?” Ini adalah tema hari ke-4. Untuk soal ini, saya perlu merenung dalam-dalam agar aura kebahagiaan itu muncul lagi.

  • Tema hari ke-5 adalah “mengelola duka.” Salah satu mengelola duka atau kesedihan adalah berdamai dengan sedih itu sendiri. Mudahkah? Lihat saja nanti, bagaimana mengelola kesedihan versi saya.

  • Tema hari ke-6, “Buku yang Menginspirasi” Kamu pernah membaca sebuah buku yang saat tamat atau bahkan belum tamat membacanya, tiba-tiba hatimu bersorak, ahaaa… ini nih yang saya cari! Nah, itu tuh yang akan saya tuliskan. Sepertinya mudah. Yah, kita lihat saja nanti.

  • Hari ketujuh, sepertinya saya mulai bingung, tema apa yang akan saya tulis. Daripada bingung, saya ambil “tema bebas” saja. Maksudnya, tulis apa saja, sesuka hati seperti niat awal saya menantang diri sendiri ini. 

  • Nah, setelah tema bebas, perlu sedikit mengekang diri agar tidak bebas-bebas amat. Maka saya mengambil tema untuk hari kedelapan ini, yaitu “makanan dan kenangan.” 

  • Tema hari ke-9 saya akan menulis tentang teman lama dan teman baru. Mana nih teman lama yang masih setia sampai sekarang atau mana teman lama yang telah menghilang dan digantikan oleh teman baru. Mengapa terjadi seperti itu?

  • Tibalah kita di sepertiga bulan. Sepuluh hari pertama di bulan Februari tahun Kabisat, 2024. Tema yang saya rencanakan akan tulis adalah “kenangan yang harus dilupakan.” 

 

Tadinya saya hanya mendapatkan ide tema sampai hari ke sepuluh, tetapi ternyata saya menemukan ide lagi untuk 10 hari berikutnya.

 

  • Tema untuk hari ke-11 adalah “Caraku Merawat Diri.” Merawat diri di sini adalah betul-betul menyangkut perawatan fisik. Kalau perawatan hati, bisa dimasukkan ke tema selanjutnya.

  • Nah, tentang perawatan jiwa saya masukkan ke tema hari ke-12. Mungkin nanti saya akan mencari referensi-referensi yang sesuai. 

  • Berhubung akhir-akhir ini saya sering menonton chanel YouTube, maka bisalah masuk menjadi tema tulisan pada hari ke-13, yaitu “chanel YouTube yang sering ditonton.

  • Ada YouTube ada juga akun media sosial, maka tema hari ke-14 adalah akun Instagram siapa yang paling sering dilihat.

  • Hari ke-15, kembali ke tema bebas. Apa saja bisa ditulis di hari kelima belas ini.

  • Tema hari ke-16 adalah “peristiwa yang menyedihkan” Untuk tema ini tidak melulu soal peristiwa yang menimpa kita. Itu sih nauzubillah. Semoga kita semua terhindar dari hal-hal buruk. Tentang tema di hari ke-16 ini, peristiwa menyedihkan yang mau ditulis bisa saja peristiwa yang menimpa orang dekat kita, orang jauh atau bahkan peristiwa di luar sana.

  • Berhubung ini sudah melewati pertengahan bulan, masa iya tidak ada satu pun buku yang telah tamat dibaca. Iya kan? Karena itu tema untuk hari ke-17 adalah “review buku bacaan bulan ini.” Bisa juga buku yang dibaca sepanjang tahun 2023.

  • Habis review buku, bolehlah menulis review tempat ngopi atau café. Maka tema hari  ke-18 adalah “tuliskan review tempat ngopi yang pernah didatangi.

  • Biasanya sebelum ngopi, didahului dengan makan. Oleh sebab itu untuk tema hari ke-19 adalah “review tempat makan yang pernah dikunjungi.”
  • Sekalipun masa liburan pada tahun 2023, saya tidak kemana-mana, tetapi bolehlah ditulis “Review Tempat Wisata” event itu sudah lama berwisata ke tempat tersebut. 


Wah, ternyata sisa sembilan hari lagi menuju akhir bulan Februari, tetapi saat ini saya sudah kehabisan ide. Bagaimana kalau tema hari ke-21 dan seterusnya dikasi tema bebas saja? Setujukah kalian?

 

Atau bisa juga mengikuti cara salah satu komunitas menulis yang pernah melakukan tantangan seperti ini untuk member komunitasnya, yaitu ada beberapa hari di mana penulis menulis tema bebas yang bisa kapan saja digunakan. Misalnya pada hari ke-1 hingga hari ke-10, memasukkan dua tema bebas maka tema lainnya pindah ke hari berikutnya. 


Yup, kita lihat saja nanti. 



Jumlah Kata



Bagaimana dengan jumlah kata untuk setiap tema? Biasanya ada jumlah kata batas minimal, misalnya minimal 1000 kata. Wah, kalau untuk jumlah kata sebanyak itu, saya belum berani menantang diri sendiri. 

Jadi, mari kita sepakati bahwa jumlah kata untuk setiap tema tulisan minimal 300 kata. 

Psst, ada yang berkata dalam hati, “kita kok diajak?”

“Lah, yang menantang diri sendiri siapa?” 

Iya juga yah, wkwkwk

 

Maka kesepakatan itu sebaiknya kesepakatan antara tulisan ini dengan penulisnya saja agar tidak ada sangsi jika melanggar aturannya nanti, misalnya tema tidak sesuai dengan harinya atau tulisan tidak ada dalam tema sama sekali. 

 

Niat saya sebenarnya hanya mau menulis sesuka hati, tetapi kadang menulis sesuka hati itu menjadi tidak menulis sama sekali. Olehnya itu tantangan ini dihadirkan. 


Menantang diri sendiri, memberi hadiah untuk diri sendiri atau “menghukum” diri sendiri jika melanggar pada dasarnya adalah upaya untuk mendisiplinkan diri sendiri saja. 

Setidaknya melatih otak untuk bekerja  sekaligus melemaskan jari-jari.

Demikian, tantangan ini dibuat. Jika ada yang berminat mengikuti tantangan ini, saya sambut dengan senang hati. 

“Ayo menulis bareng-bareng!” 


Read More