PEREMPUAN BAIK INDONESIA LEBIH BAIK

Minggu, 19 Mei 2019

Tulisan ini pernah saya ikutkan lomba pada ulang tahun IIDN, alhamdulillah menang, sekalipun bukan juara 1, atau 2, bahkan 3.

Dan saya bangga telah menuliskan ini, karena telah berhasil menyuarakan hati para perempuan. Terlebih lagi berhasil menang dan berhak mendapatkan kiriman hadiah. 
Selembar kain batik adalah bukti kemenangan itu.



Sumber gambar: Pixabay

Perempuan Baik,  Indonesia Lebih Baik


Selama kurang lebih 30 tahun menjadi guru,  telah memberi saya kesempatan bertemu, berbicara bahkan mendengarkan curahan hati ibu-ibu, orang tua siswa saya. 
Dari mereka saya banyak belajar tentang hidup, banyak mendengar informasi tentang kerasnya kehidupan yang mereka jalani dan dari mereka pula saya melihat banyak penderitaan, kekhawatiran sekaligus rasa tidak percaya diri bahkan cenderung pesimis tentang masa depannya.

Karenanya saya mencoba menuliskan curahan hati mereka agar dapat dijadikan salah satu alasan, bahwa  Indonesia bisa lebih baik apabila perempuannya baik, karena saya sangat yakin, bahwa di tangan perempuanlah Indonesia bisa lebih baik.

Perempuan yang akan melukis negara ini dengan garis-garis ketegasannya, sehingga anak-anaknya juga tegas melawan segala godaan yang akan menjerumuskan mereka ke dalam kenistaan.

Perempuan yang akan melukis dan menggoreskan sapuan halus dengan  kuas cinta agar anaknya menjadi lebih perasa, lebih halus budi pekertinya. Dia pula yang akan menumpahkan cat segala warna pada kanvas kehidupan anaknya sehingga hidup anak-anaknya lebih berwarna dan dinamis.

Namun demikian untuk menciptakan perempuan-perempuan hebat, yang tegas tetapi lembut, yang perasa namun dinamis, diperlukan alasan dan berbagai sarana agar mereka dapat menunaikan tugas mulianya.


Bahagiakan Perempuan


Percaya atau tidak, di Indonesia masih banyak ditemukan kasus perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT,  Perlakuan KDRT  itu, bukan hanya karena dipukul, disiksa fisiknya melainkan siksaan lain berupa siksaan pada jiwanya dan perasaanya.

Masih banyak ditemukan, laki-laki sebagai kepala rumah tangga justru melimpahkan tanggung jawabnya kepada istrinya. Sifat keegoisan laki-laki yang menyerahkan seluruh tanggung jawabnya untuk membina dan mendidik anaknya tanpa mau berkontribusi dalam mengayomi anak  mereka.

Bahkan beberapa di antaranya ditinggalkan oleh suami disebabkan oleh berbagai hal, ditinggalkan dalam kesusahan ditambah dengan tanggung jawab memelihara dan membesarkan anak.

Bagaimana mungkin Indonesia bisa lebih baik jika perempuan terutama ibu tidak bahagia.

Bukankah perempuan adalah multitalenta, ia bisa berperan sebagai ibu, dokter, guru, asisten rumah tangga yang mengerjakan segala jenis pekerjaan rumah, mulai jadi tukang masak, tukang cuci, bahkan jadi tukang bersih-bersih.
Bahagaikanlah Perempuan!

Jika perempuan bahagia, maka siapapun akan takjub  dengan kekuatan yang dimilikinya.

Pelayanan Kesehatan Prima


Indonesia akan lebih baik apabila kesehatan setiap rakyatnya terpelihara, terutama perempuan.
Tahukah pemirsa, masih banyak rakyat Indonesia  yang mendapatkan pelayanan kesehatan  buruk.

Mereka diperlakukan tidak nyaman karena kurang mampu membayar. Dimulai ketika akan melahirkan di rumah sakit bersalin. Mereka akan mendapatkan  pelayanan berbeda antara pasien umum dengan pasien yang  mengandalkan kartu BPJS.

Tidak berhenti sampai di situ, pemilik kartu BPJS atau Badan Penyelenggara Jaminan Sosial juga rupanya berstarata dan berkelas-kelas. Semakin sedikit  iuran yang dibayar oleh pengguna maka akan semakin rendah pula kelasnya.
Semakin rendah kelasnya  maka pelayanan kesehatan yang diterima juga akan semakin minim.

Bayangkanlah, seorang ibu yang melahirkan dengan kondisi seperti di atas, akan mendapatkan pelayanan kesehatan minim, maka alih-alih mendapatkan perawatan prima agar ibu dan anaknya sehat malah mendapatkan perlakuan sebaliknya.

Singkatnya, pelayanan kesehatan di negara yang kita cintai ini belum merata untuk semua rakyatnya. Bahkan beberapa kasus, adanya seseorang yang tidak selamat jiwanya karena ditolak oleh rumah sakit, tentu saja dengan berbagai alasan.

Maka jaminlah kesehatan seluruh rakyat Indonesia, apabila mereka sehat maka mereka akan berkarya. Terutama kaum perempuan. Kalau perempuan, ibu sehat, maka akan melahirkan generasi yang sehat pula.

Sumber gambar: Pixabay

Pemahaman yang Salah pada Program Pendidikan Gratis


Beberapa daerah di Indonesia menggunakan pendidikan gratis sebagai bahan “jualan” pada saat pemilihan kepala daerah atau PILKADA, sejauh ini memang ampuh.

Namun pernahkah mereka memikirkan dampaknya?

Tidak dipungkiri, pendidikan gratis memang cukup membantu, tetapi beberapa masyarakat sering kebablasan memandang  pendidikan gratis itu, sehingga menganggap semua kebutuhan pendidikan anaknya adalah gratis.

Bagi orang tua yang mengerti tentang pentingnya pendidikan, biasanya secara sukarela menyiapkan segala keperluan pendidikan anaknya, tetapi bagaimana dengan sebahagian orang tua lainnya, yang memandang pendidikan hanya sekedar mendapatkan selembar ijazah semata, mereka dengan entengnya menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah.

Mereka seakan tidak mau tahu, bahwa belajar baik di sekolah atau di mana saja tentu memerlukan dana, baik untuk kesediaan buku-buku pelajarannya maupun peralatan belajarnya.

Bukan program pendidikan gratis yang salah, melainkan cara mensosialisasikannya yang tidak benar. Sebaiknya pemerintah menjelaskan, bahwa pendidikan gratis hanya untuk membiayai beberapa komponen saja dari seluruh pembiayaan sekolah, tetapi kesediaan buku pelajaran bagi anaknya, adalah tetap menjadi tanggung jawab orang tua.  

Perempuan Harus Cerdas


Perempuan harus cerdas, ini adalah harga mati bagi bangsa Indonesia jika ingin lebih baik. Bukankah sudah sering kita dengar istilah, bahwa perempuan adalah tiang negara.

Diibaratkan jika sebuah bangunan yang memiliki tiang rapuh, maka sudah dipastikan bangunan itu tidak akan bertahan lama. 
Demikian pula suatu negara. 
Jika ibu tidak cerdas maka pendampingan terhadap putra-putrinya juga tidak cerdas, akibatnya hanya akan menghasilkan keturunan yang tidak cerdas, dan akan menghasilkan generasi yang lemah. 

Maka bimbinglah kaum perempuan, biarkan dia menghabiskan waktu luangnya untuk belajar, agar dapat menjadi ibu cerdas dengan harapan generasi yang lahir dari rahim ibu cerdas akan menghasilkan keturunan yang cerdas.

Bukan hanya itu, seorang ibu yang cerdas akan menangani setiap problem kehidupannya dengan bijak dan cerdas.

Marilah wahai perempuan-perempuan Indonesia! 
Benahi dirimu dengan ilmu, kuatkan jiwamu dengan iman, haluskan budimu dengan akhlak. 

Sadarilah, di tanganmu akan lahir generasi penerus yang akan menjadikan Indonesia lebih baik.


12 komentar

  1. Maschun Sofwan19 Mei 2019 23.35

    Perempuan, istimewakan perempuan, karena perempuan aku ada, aku bisa seperti ini dan aku bisa berada di dunia ini.

    BalasHapus
  2. Perempuan memang harus cerdas karena mereka adalah sekolah pertama anak-anaknya. Kebayang kalau ibunya tidak tahu apa-apa dan tidak mau belajar apa-apa.

    BalasHapus
  3. Tulisannya indah sekali bunda tentang perempuan, selamat ya bunda pernah masuk dalam pemenang di IIDN:) memang wanita itu benar-benar mulia dalm kehidupannya.

    BalasHapus
  4. Betul Bun, perempuan memang harus bahagia ya agar semuanya berjalan baik. Dan bahagia itu katanya tidak sulit selama kita bersyukur dan merasa cukup dgn yg ada.

    BalasHapus
  5. Perempuan harus cerdas. Setuju aku. Tapi harus bahagia juga sih...

    BalasHapus
  6. Setuju banget bun. Peremouan harus bahagia agar kuat mengerjakan semua tugasnya. Jika dia tersakiti, kemampuannya seketikapu akan hilang, bahkn akan muncul masalah baru.

    BalasHapus
  7. Sewaktu tinggal di pesisir Maluku, sering sekali aku ngeliat tindakan KDRT pada ibu-ibu. Tapi kita nggak bisa berbuat banyak, paling hanya memisahkan mereka sementara agar terhindar dari pukulan suaminya. Hikss

    BalasHapus
  8. Keren mba tulisannya. Aku sangat setuju bahwa perempuan itu harus cerdas tapi juga harus bahagia yang utama, kita kaum yang juga menggunakan hati dalam mengerjakan sesuatu pasti akan lebih baik kalau dengan perasaaan yang baik pula

    BalasHapus
  9. Nahh suka gak abis pikir aku juga Bun, sama orangtua yang anggap sekolah gratis itu bener-bener for free macam di Jerman atau negara lain gitu, pedahal kaaaan... hihihi kagak lagi! Emang mungkin sosialisasi programnya yg enggak open jadi banyak yang salah persepsi.

    BalasHapus
  10. Terdapat kebijakan yang berbeda antara setiap pemca tentang pendidikan gratis, sebagai contoh di DKI, gratis itu termasuk buku sekolah yang dipinjamkan sekolah. Tetapi untuk pemda yang lain, buku tidak termasuk dalam fasilitas

    BalasHapus
  11. Pantas ya Bund kalau perempuan itu memang tiangnya negara.
    Suatu negara dan bangsa akan maju Dan beradab jika para perempuannya cerdas dan sehat lahir batin.
    So, tulisan Bunda ini mewakili tentang perlunya perempuan menjadi pintar dan berdaya :)

    BalasHapus
  12. Setuju, perempuan itu harus cerdas. Karena di tangan perempuan cerdas, cikal bakal lahirnya generasi bangsa yang berkualitas

    BalasHapus

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Nama

Email *

Pesan *