Senin, 27 Agustus 2018

GAMANG


10 tahun bukanlah waktu yang singkat dalam  menanti buah hati. Kerinduan yang teramat dalam di hati Nisa akan kehadiran anak selalu datang tanpa diundang.
Rumah yang luasnya cukup untuk 6 kamar berukuran 5 x 4 ditambah ruang tamu, ruang tengah, dan dapur dengan luas 6 x 6 itu terasa sangat lengang. Nisa sedikit menyesal membeli tanah seluas 2500 m2 itu. Walaupun bangunan rumah yang berdiri di atasnya tidaklah terlalu luas, namun tetap terasa sangat sunyi.
Rumah mungilnya yang dikelilingi pekarangan yang luas dan ditumbuhi pepohonan rimbun harusnya menjadi tempat yang sangat nyaman. Namun tidak bagi Nisa apabila kerinduan itu datang dan kesunyian  mendera batinnya.

Seperti malam ini, saat suaminya Ardan sudah terlelap lebih dahulu. Nisa menatap lekat wajah teduh suaminya. Nisa tahu di balik keteduhannya itu ia memendam kerinduan teramat dalam akan kehadiran seorang anak. Sekalipun Ardan tidak pernah mau membahasnya.
Bukannya mereka tidak pernah berusaha. Bahkan beberapa kali konsultasi ke dokter dan mempertanyakan sebab musababnya. Anehnya mereka dikatakan sehat dan tidak ada apa-apa. Ah, mungkin kita belum dipercaya saja. Itu kata suaminya.

Suaminya menggeliat, matanya memicing. Nisa lupa memadamkan lampu kamar. Jika lampu menyala maka suaminya tidak bisa tidur lelap.
"Maaf Kak, aku lupa padamkan lampu." Nisa beranjak dari kursinya untuk memadamkan lampu tidur.
"Tidak apa-apa sayang, kenapa belum tidur? Masih menulis?" Sambung suaminya sebelum Nisa menjawab.
"Tidak, aku lagi menikmati pemandangan indah."
"Pemandangan apa?" Suaminya bangun perlahan. Senyumnya menatap mata indah isterinya. Ia tahu, kata-kata itu selalu keluar dari bibir indahnya setiap kali ia kedapatan menatap dirinya.
"Melihatmu adalah sama saja menikmati pemandangan yang indah, sejuk dan ..."
"Dasar penulis, selalu ada diksi yang menyertainya" Ardan memotong kalimat Nisa sambil mendaratkan  telunjuknya perlahan di bibir Nisa,  membuat bibir indah itu terkatup.

Ardan merangkul pinggangnya lalu mendaratkan kecupan manis di.pipinya.
"Tidur yuk, besok kan ada acaramu di Gedung Erlangga?
"Astagfirullah aku lupa Kak, belum siapkan materinya." Nisa balas merangkul leher suaminya.
"Habis tahajud baru nulis sayang, sekarang sudah jam 22.00." Bujuk suaminya.
Setiap dirayu seperti itu, Nisa tak kuasa menampiknya. Mereka lalu beranjak ke peraduan, saling menatap, berangkulan dan tersenyum bahagia.
Sejurus kemudian pasangan itu terlelap sambil berdekapan.

*************

Nisa beranjak dari sajadahnya usai melaksanakan salat tahajud. Ia meninggalkan suaminya yang masih khusyuk mengaji. Suara serak nan merdu itu selalu menjadi simfoni terindah baginya. Itu pula yang membuatnya jatuh cinta setengah mati.
Ide-ide yang sejak sore tadi sempat mengendap di kepalanya, akan ia eksekusi saat ini.  
Astagfirullah! Kenapa ide-ide itu raib?

Padahal ia harus menulis sesuatu sebagai pembuka dalam rangka acara pelatihan menulis di mana Nisa tampil sebagai narasumbernya.

Ahaaa … Walitonra!

Suara hati Nisa bersorak, sejak Walitonra menjadi asisten pribadinya, ia merasa sangat terbantu. Perempuan muda itu, mantan mahasiswa suaminya sudah setahun ini menjadi asistennya untuk kegiatan-kegiatan kepenulisannya. Nisa tidak perlu repot-repot di depan laptop menuliskan materi. Ia cukup mengirimkan poin-poin penting yang akan ditampilkan, ditambah sedikit diksi dan sedikit arahan. Walitonra bagaikan perwujudan Nisa dalam mengeksekusi ide-ide itu, maka jadilah bahan presentasi yang memukau.
Email sudah terkirim, balasan dari Wali sudah ia terima. Nisa sangat bersyukur mendapatkan Walitonra. Perempuan cantik itu   memiliki ritme kerja yang sama dengannya. Setiap Nisa bangun pada dini hari dan menghubungi Wali via whatsApp, maka tidak perlu menunggu lama, karena  tidak sampai satu menit, mereka sudah terhubung.


Nisa ingat perkenalannya dengan Walitonra saat suaminya membawa perempuan muda itu beberapa waktu lalu.

“Kebiasaan isteriku ini adalah mempersiapkan segala sesuatunya pada dini hari, yah sekitar pukul 02.30 sebelum salat tahajud. Apakah kamu bisa bekerja seperti itu? Tanya Ardan.
“Insya Allah Pak.” Tanpa ragu Wali menjawab pertanyaan Ardan.
“Baiklah kalau begitu, artinya kalian bisa bekerjasama.” Ardan mengangguk sambil mengedipkan matanya ke arah Nisa. Nisa hanya tersenyum kalem.

Baginya Walitonra sudah memikat hatinya sejak ia membaca skripsinya. Sejak itu pula ia mendesak suaminya agar mau membawa Walitonra kepadanya dan mengajaknya bekerjasama.
Gayung bersambut. Walitonra menerima pinangannya. Bukan karena pekerjaan Nisa yang menarik minatnya melainkan karena Ardan, sang dosen pujaan hatinya.

Kembali Nisa menatap layar laptopnya. Satu file terbuka, naskah pada bab 18 seakan melambai untuk dijamah. Tetapi Nisa kehilangan kata. Rasanya sangat sulit mengetik huruf demi huruf. 
Nisa  membuka file outline novelnya. Baginya outline ini sangat membantu, saat kehilangan ide atau saat mumet. Outline membantunya memandu jalannya cerita yang akan  ia tulis.
Dengan mata lurus ia menyelusuri setiap kata dalam outline tersebut. Tetapi kenapa tidak ketemu juga yah idenya, bagaikan benang kusut. Harusnya saat membaca kembali outline itu, ia akan menemukan benang merahnya sehingga ia bisa menuliskan atau menuangkan ide-idenya yang tersumbat.

Nisa tercenung melihat huruf-huruf itu seakan berubah menjadi bulatan-bulatan kecil. Bulatan kecil itu kemudian membesar sedikit demi sedikit lalu berubah menjadi  kepala manusia. 
Kepala bayi!

Kepala itu dilengkapi dengan mata, hidung, mulut mungil dan sedikit rambut yang sangat halus. Matanya nanar menatap monitor laptopnya, seakan yang ia lihat itu nyata adanya. Tiba-tiba gambar pada monitor itu berganti dengan gambar suaminya.
Gambar yang semula diam itu seakan bergerak-gerak serupa video yang sedang diputar. Perlahan ia lihat suaminya mengangkat kepala bayi yang telah berubah wujud menjadi bayi sempurna.  Suaminya tertawa riang sambil menggendong bayi itu, badannya berayun ke kanan dan ke kiri sementara bayi itu tertawa riang.
Entah menit keberapa gambar itu hilang. Monitor laptopnya berubah menjadi gelap lalu padam. Rupanya sejak tadi ia diperingatkan dengan kode tanda silang merah di bagian sudut bawah pada monitor, kalau baterai laptopnya sudah soak.

Astagfirullah! Ada apa denganku?

Apakah ini pertanda kalau suaminya sesungguhnya sangat merindukan anak melebihi kerinduannya sendiri. Apakah ini sinyal yang dikirim Tuhan dan mengabarkan kalau suaminya sangat ingin memiliki anak, tetapi segan mengatakan kepadanya.

Sumber: Pixabay.com

Baca cerita sebelumnya di sini

Cahaya kemerah-merahan di langit bagian timur sudah mulai menyembul, pertanda fajar sudah menyingsing. Nisa beranjak dari kursi putarnya. Ia masuk ke dapur dan mulai menyiapkan sarapan untuk suaminya.
 “Tulisanmu sudah selesai Nis?” Tanya suaminya sambil menuangkan air.
“Kak Ardan sudah mandi?” Bukannya Nisa menjawab pertanyaan suaminya, ia malah balik bertanya. Itu pertanda Nisa tidak konsentrasi.
“Apa yang sedang kamu pikirkan sayang?” Ardan hafal betul karakter isterinya itu.
“ Tidak pikir apa-apa. Masak isteri bertanya begitu, dikira memikirkan yang lain.”
“Aku tahu kamu Nis. Kalau pertanyaan kamu balas dengan pertanyaan pula berarti kamu lagi tidak konsentrasi. Hanya satu hal yang membuat konsentrasimu buyar adalah pikiranmu lagi kalut.”
“Hanya satu pikiran yang bisa membuatku tidak khusyuk.”
“Apakah itu istriku yang cantik?” Ardan  bercanda mencoba menghilangkan  kemasygulan istrinya.
“Kenapa aku belum bisa menyempurnakan kebahagiaanmu Kak?” Keluar juga kalimat tanya itu.
“Siapa bilang kebahagiaanku tidak sempurna sayang? Aku sangat bahagia. Bersamamu adalah bahagiaku yang paripurna.” Ardan menampik kata-kata istrinya. Terdengar gamang di telinga Nisa.
“Keluarga yang sempurna itu adalah keluarga  yang dikarunai anak sebagai pertanda terpautnya kasih sayang, bukti bahwa keluarga itu sehat Kak.”
“Sudahlah Nis, kita jangan memprotes karunia-Nya. Kita sudah diberi cinta, diberi rezeki yang melimpah, kesehatan yang baik apalagi coba?”
“Tetapi kita belum punya anak Kak.” Baru kali ini Nisa menjawab tanya suaminya dengan nada yang agak keras.
“Pasti ada yang salah. Aku mandul Kak.” Gemetar suara Nisa mengucapkan kalimat itu.
“Kita kan sudah periksa Nis. Mulai periksanya di rumah sakit hingga ke dokter ahli kandungan terbaik di kota ini. Semuanya menghasilkan jawaban yang sama, kita berdua sehat. Hanya saja Tuhan belum mempercayai kita sayang.” Ardan membujuk istrinya dengan sabar.
“Lalu kenapa Dia belum mempercayai kita? Apa yang salah dari kita?”
“Bersabarlah sayang. Biarkan Tuhan mengatur hidup kita sesuai skenario-Nya. Jangan sampai kita menggugat Dia, kita tidak punya hak untuk itu.”
Spontan Nisa terdiam mendengar kata-kata suaminya. Ia mengusap dadanya sambil beristigfar dalam hati. “Ya Gafur, ampunilah hamba-Mu ini.

 **************

Malam ini pikiran Nisa melanglang buana. Bayangan gambar dan serupa video yang diputar pada monitor laptopnya tadi pagi terus muncul. Ia mencoba mencari jawaban atas tanyanya sendiri.

Bip … bip … bip … pertanda satu pesan masuk lewat telepon genggamnya. [ Assalamualaikum Bu]. Pesan dari Walitonra.

[ Waalaikumsalam, ada apa Wali? ].
[ Hanya mau mengabarkan, tulisan ibu di koran Fajar hari ini sudah terbit. ]
[ Alhamdulillah, terima kasih ya ]
[ Sama-sama Bu ]

Tiba-tiba pikiran itu muncul. Satu-satunya cara agar suaminya mendapatkan anak adalah ia harus menikah dengan perempuan lain. 
Entah darimana asalnya, ide itu muncul dari pikirannya.

Yah Walitonra solusinya!


 To be continue ….


Minggu, 19 Agustus 2018

Kisah 17-an; Jiwa Patriotisme Nabila




Saya bangga menjadi mamanya Nabila 😊



Bagi bangsa Indonesia, tanggal 17 Agustus adalah hari yang paling membahagiakan. Hari kemerdekaan yang selalu dirayakan sebagai wujud syukur atas terlepasnya bangsa yang kita cintai ini dari belenggu penjajahan. Tidak tanggung-tanggung, kurang lebih 350 tahun bangsa ini dijajah.
Tidak dapat dihitung berapa banyak darah dan keringat yang bercucuran demi membebaskan bangsa dari penjajahan. Berapa banyak pahlawan yang syahid, mempersembahkan jiwa raganya untuk kemerdekaan Republik Indonesia. Semua itu adalah wujud patriotisme yang bersemayam di dada setiap rakyat Indonesia.

Apakah jiwa patriotisme itu hanya dimiliki oleh para pahlawan bangsa ini?

Tentu saja tidak. Ada berbagai cara yang dapat dilakukan atau berbagai bentuk yang membuktikan jiwa patriotisme kita.

Demikian pula putri bungsu saya. Jiwa patriotismenya telah ia  perlihatkan sejak memasuki bangku sekolah. Saya yakin jiwa itu tidak muncul begitu saja,  pasti ada campur tangan dari guru-gurunya, dari buku-buku yang ia baca, dan dari berbagai cerita serta informasi yang ia dengar dan yang dilihatnya.

Saya masih ingat waktu Nabila ikut lomba 17-an untuk pertama kalinya, waktu itu usianya baru 5 tahun, lomba memasukkan paku ke dalam botol. Saat pengumuman dan penyerahan hadiah, Nabila pulang dari lapangan sambil  berteriak-teriak kegirangan, “Saya menang … saya menang … horee!”
Begitu senangnya menerima hadiah padahal ia tidak menang!

Apa rahasianya? Bagaimana mungkin Nabila mendapatkan hadiah, padahal ia tidak memenangkan perlombaan?

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, saat kakak sulungnya mengikuti lomba 17-an, ia pulang menangis karena namanya tidak disebut dan tidak mendapatkan hadiah. Bagaimana mau disebut namanya, ia tidak menang bahkan ia tidak ikut lomba sama sekali, he … he … he …
Dari situlah saya berinisiatif menitipkan “hadiah” untuk anak-anak saya ke panitianya, menang atau tidak menang tetapi dengan satu catatan harus ikut lomba.

Saat kelas III SD jiwa patriotisme Nabila mulai ditumbuhkan melalui kegiatan Pramuka. Sekali sepekan, ia minta izin tinggal di sekolah sampai sore untuk mengikuti latihan Pramuka. Padahal waktu Nabila kelas I hingga kelas II, ia tidak pernah mau tinggal di sekolah. 
Bahkan terlambat sedikit saja dijemput, air matanya sudah menganak sungai. Yang repot adalah bapaknya, karena Nabila hanya mau dijemput sama bapaknya.




Saat Nabila di kelas III 

Melalui kegiatan pramuka itulah, Nabila mulai berani tinggal di sekolah bahkan sudah ikut berkemah di sekolah pada acara PERSAHAD (Perkemahan Sabtu Ahad). Puncaknya adalah saat Nabila ikut berkemah di Caddika Bulurokeng, Kelurahan Biringkanaya selama lima hari.

Mungkin bagi anak-anak seusianya, mengikuti perkemahan dan tidak bertemu dengan orangtuanya selama beberapa hari itu biasa, tetapi bagi kami itu luar biasa. Nabila adalah putri bungsu dan satu-satunya perempuan di keluarga kami. Ia terbiasa dimanjakan baik oleh saya,  bapak dan kakak-kakaknya. Selain itu, ia punya kebiasaan  tidak bisa tidur kalau belum diusap-usap punggungnya. 
Alhamdulillah, berkat ikut pramuka perlahan tetapi pasti, Nabila sudah mulai belajar mandiri.

Tamat SD, Nabila meneruskan Kegemarannya pada kegiatan Pramuka melalui kegiatan Kepanduan Muhammadiyah karena ia bersekolah di SMP Muhammadiyah. Kepanduan Muhammadiyah itu bernama Hizbulwathan. 




Kegiatan Nabila pada Kepanduan Hizbulwathan


Jiwa patriotisme dibalur dengan jiwa seni yang mengalir dari bapaknya menjadikan Nabila semakin sering tampil mewakili sekolahnya dalam setiap perlombaan di bidang seni.



Selain aktif di Hizbulwathan yang disingkat dengan HW itu. Ia juga aktif dalam kegiatan PASKIBRA, walaupun itu masih dalam lingkup sekolahnya saja. Tiga kali  perayaan kemerdekaan di sekolahnya, Nabila selalu ikut andil. Bahkan dua kali ia mengambil peran sebagai pengibar bendera merah putih.




Perwujudan jiwa patriotismenya diperlihatkan dengan mengikuti berbagai kegiatan-kegiatan sosial. Aktif dalam  organisasi pelajar Muhammadiyah hingga kini adalah salah satu buktinya.


Saat dilantik menjadi pengurus cabang Ikatan Pelajar Muhammadiyah Bontoala

Tahun ini Nabila sudah masuk SMA. Apakah kegiatan yang berhubungan dengan perayaan 17-an itu sirna?
Ternyata tidak. Ia masih saja ikut andil walaupun bukan sebagai PASKIBRA.
Saat saya tanya, kenapa tidak ikut PASKIBRA. Ia menjawab, “deh panaski Mama, nanti tambah bolongka.” Ternyata Beliau sudah mulai memperhatikan  fisiknya, pertanda ia semakin menuju kedewasaan.
“Jadi kegiatan apa yang kamu ikuti dalam rangka 17-an tahun ini?”
“Tidak jauhji dari kegiatan PASKIBRA,  ikutka Padus (Paduan Suara).”
“Kan bendera tidak bisa dikibarkan tanpa diiringi lagu kebangsaan kan, nah di situlah saya berperan.” Kata Nabila lugas.
“Wah, anak Mama hebat.” Puji saya tulus.

 

Nabila bersama kelompok Padus SMA Negri IV Makassar


Itulah Nabila dan jiwa patriotismenya. Ia selalu bangga menjadi bagian dari segala kegiatan yang berhubungan dengan perayaan 17-an. Ia juga bahagia mengikuti segala kegiatan sosial, mungkin itu pulalah  yang melatar belakangi ia memilih jurusan IPS.
Bagi saya, apapun pilihannya selama itu baik dan ia bahagia maka saya pasti mendukungnya.
Pupuk terus jiwa patriotismemu Nak, melalui karya nyata untuk Indonesia!
Terus belajar dan berkarya demi kejayaan Indonesia!

Catatan:
Bolong (bahasa Bugis)  = hitam 

Tulisan ini diikutkan dalam  #17anAM #BloggerMakassar17an




Secercah Harapan




Namaku Walitonra, lahir di Makassar 11 November 1996. Entah apa arti namaku, yang pasti setiap aku menanyakan itu kepada  orangtuaku, mereka hanya menjawab kalau nama Tonra adalah nama nenekku, ibu dari  Amboku. Sedangkan Wali artinya penjamin atau  pengurus. Jadi Walitonra itu artinya pengurus nenekku? Lucu juga ya artinya?
Mungkin saja Tonra itu punya makna lain, tetapi Amboku dan Emmaku tidak tahu. Sudahlah, aku tak mau persoalkan arti namaku itu. Toh, sudah 20 tahun nama itu kusandang.
Skripsi ini kutulis sebagai penutup dari semua tugas-tugas yang telah kuselesaikan selama 3,5 tahun. Ini juga menandakan kalau aku telah menyelesaikan pendidikanku di FMIPA jurusan Fisika UNM Makassar.
Katanya sarjana Fisika itu keren. Itu kata  orang, tetapi bagiku “biasa” saja. Aku hanya berusaha membahagiakan kedua orangtuaku, karena mereka ingin sekali anaknya yang manis ini menjadi sarjana fisika. Lebih tepatnya sebagai guru fisika….


Nisa senyum sendiri membaca daftar riwayat hidup mahasiswa suaminya yang bernama Walitonra itu.
Ada dua bagian pada skripsi maupun tesis yang paling sering Nisa baca, yaitu Kata Pengantar di halaman awal dan Daftar Riwayat Hidup pada halaman terakhir.
Bagi Nisa, kata pengantar itu merupakan cerminan kepribadian dari penulisnya. Di sana akan terbaca kepada siapa saja sang penulis akan berterima kasih. Bagaimana untaian kata yang dituliskan sebagai wujud dari rasa terima kasihnya, mengapa dan bagaimana ia berterima kasih, dan sebagainya.

Sedangkan daftar riwayat hidup sudah pasti adalah gambaran jelas tentang siapa penulis skripsi tersebut. Akan diketahui ia lahir dimana dan kapan. Siapa nama orangtuanya, kalau sudah punya pasangan maka akan ketahuan siapa nama pasangannya, bahkan juga akan diketahui siapa nama anak-anaknya. Sekolah sebelumnya dimana, kapan tamatnya, dan sebagainya.

Itu salah satu kegiatan Nisa jika ia berada di dalam ruang baca suaminya.  Merapikan skripsi-skripsi maupun tesis-tesis  dari mahasiswa bimbingan suaminya sambil membaca kata pengantar dan  daftar riwayat hidup.  Begitu seringnya Nisa melakukan itu, sehingga suaminya menggodanya dengan bertanya, siapa nama bapak pemilik skripsi ini, sambil melambai-lambaikan skripsi atau tesis. Ajaib, Nisa bisa langsung menjawab dengan tepat.
Tetapi skripsi yang baru saja ia baca ini, sedikit unik. Baru kali ini Nisa membaca daftar riwayat hidup pada skripsi dengan gaya penulisan yang  jauh dari kesan kaku.

“Baca daftar riwayat hidup lagi Nis?” Ardan menyentuh bahu istrinya lembut. Nisa membalikkan badannya perlahan sambil tersenyum.

“Baru kali ini aku membaca daftar riwayat hidup yang unik.” Nisa memperlihatkan skripsi yang baru saja dibacanya.

“Ooh, itu skripsinya Walitonra, bukan cuma penulisan daftar riwayat hidupnya saja yang unik, orangnya juga unik.” Ujar Ardan suaminya sembari melingkarkan lengannya ke pinggang Nisa.

Nisa menengadah dan  menatap mesra suaminya sambil mengusap lembut dagu yang berjenggot halus itu. Aroma tubuh Ardan yang baru saja mandi mengundang hasrat Nisa untuk mengeratkan pelukannya.

“Kapan ia ujian Kak?” Pikiran Nisa masih terpaut kepada pemilik skripsi itu.
“Walitonra maksudmu Nis?”
“Iya Kak.” Jawab Nisa.
“Kemarin ujiannya, sudah lulus dengan predikat cumlaude.”
“Sudah kuduga, anak itu pasti cerdas.” Perlahan Nisa merenggangkan pelukannya, ia berbalik menyimpan skripsi yang ia pegang  itu di atas meja.

Tangan Ardan masih melingkar di pinggangnya. Iseng Ardan menekan tubuh istrinya hingga merapat ke meja kerjanya. Ia mencium tengkuk istrinya.

“Nisa belum mandi ya? Kita mandi yuk!” Bisik Ardan.
“Kak Ardan kan baru saja mandi.”  Nisa pura-pura tidak mengerti arti ajakan suaminya. 
“Kan belum mandi junub.” Ardan menjawab sambil menggendong istrinya dari belakang.
Nisa tertawa riang. Bagai anak kecil yang sedang disuguhi permainan. Ia menikmati permainan itu.

Menikmati setiap inci sentuhan suaminya. Meresapi setiap desahan kenikmatan yang keluar dari bibir suaminya. Demikian pula Ardan. Ia bahagia melihat senyuman istrinya. Bahagia mendengar rintihan manjanya. Mereka memadu kasih bagaikan merpati yang baru saja bertemu karena dipisahkan oleh jarak ratusan kilometer.
Mereka melabuhkan rindu  tak bertepi.

Cinta yang sempurna.

****************

Untuk Suamiku
Cinta Kita Bagai Melati

Bersyukurlah kepada Tuhan karena cinta kita masih bersatu hingga kini, masih bersemi laiknya bunga melati yang putih, suci, dan mewangi. Selalu menebarkan harumnya manakala mentari menyeruak pagi.
Beruntung kita dipersatukan oleh Tuhan, karena Dia Sang Maha Pengatur, telah mengatur bahwa kita akan selalu saling membutuhkan.
Aku yang bagai melati, perlahan akan layu dan wanginya akan meruap  lalu sirna seiring dengan naiknya matahari pagi. Tetapi aku juga pohon melati yang setiap pagi akan memunculkan bunganya yang putih nan mungil, dan masih dengan wangi yang sama.
Dan kau yang setiap pagi selalu datang memetik bunga melati, menciuminya segenap jiwa, menyimpannya dengan rapi. Lalu dengan telaten merawatnya. Saat melihat bunga melatimu layu, kau membelai daun-daunnya. Karena kau tahu, esok pagi melatimu akan menyembul lagi dari sela-sela daunnya.
Begitulah perumpamaan kita, semakin menua dikikis oleh waktu. Namun cinta kita tetap menjadi melati, walau mungil tetapi putih, suci dan mewangi.
Semoga takdir kebersamaan kita telah sesuai dengan apa yang tertulis di Lauhul Mahfudz.


[Aamiin]

Fika mengomentari tulisan  Nisa pada  kolom komentar di media sosialnya.
Tidak sampai lima menit, telepon genggamnya memberi isyarat, sebuah pesan masuk via whatsApp.
“Nisa!” Fika berseru gembira, sudah lama ia tidak bertemu sahabatnya itu.
[Apa kabar Fik? Kangeeen]
[Kabarku tidak baik, aku juga kangeeen]
[Kenapa tidak baik? Kita ketemuan yuk!]

Fika terdiam sejenak, apa aku curhat saja yah sama Nisa tentang kelakuan Qory terhadapku.

[Yuk! Kapan dan dimana?]
[Sekarang saja, Aku lagi berada di Rumah Makan Potere Pettarani]
[Baik, meluncur]

Tanpa berpikir dua kali,  Fika memesan ojek online sembari meraih tasnya.
Lima belas menit kemudian, handpone Fika berbunyi. Ojek online orderannya sudah ada di depan rumah.

Fika berharap Nisa bisa membantunya atau paling tidak bisa menjadi mediator antara ia dengan Qory, menasehati Qory agar berhenti mengganggu suaminya. Hanya Nisa yang disegani Qory sejak dahulu.
Sikap dewasa dan ketenangan Nisa selalu bisa meredam liarnya perangai  Qory. Entah bagaimana caranya, Nisa selalu bisa “memaksa” Qory berhenti mengejar setiap pemuda yang diburunya, terutama laki-laki yang sudah memiliki pasangan.

Semoga Nisa masih “didengar” Qory sehingga ia mau melepaskan suaminya.   
Semoga doa-doanya di penghujung malam dikabulkan Tuhan melalui Nisa.
Harapan Fika kembali walau itu hanya secercah, namun setidaknya ia berusaha agar pernikahannya tidak kandas.

Cerita sebelumnya di sini

To be continue ….



To be continue …









Sabtu, 11 Agustus 2018

Cinta Dalam Hati



Sepagi ini aku sudah merasakan debaran halus di dadaku. Ia melintas di depanku, mengirimkan aroma wangi tubuhnya. Aku menghirup dalam-dalam, menyerapnya, menikmati aroma itu, lalu kusemayamkan di dalam dadaku. Aku tak mau aroma itu hilang hingga berganti aroma tubuhnya yang baru.
Akan kusimpan aroma itu hingga sore saat aku datang konsultasi di ruangannya.
Aku sudah menyiapkan ruang khusus di dalam dadaku, ruang untuk menyimpan segala sesuatu tentang dia. Laki-laki kesayanganku.

Ah, aku memang selalu cinta padanya. Dari ujung kaki hingga ujung rambutnya tak pernah luput dari perhatianku. Aku tahu  makanan kesukaannya, kebiasaannya memejamkan mata setiap kali mendengar seruan azan sesayup apapun suara itu.
Aku hafal lagu kesukaannya, aku mengerti arti kerutan keningnya, hafal ekspresinya saat marah, saat senang, saat sakit, dan apapun tentangnya.

Sore yang basah.

Sisa  air hujan tergenang manis di jalan yang tidak rata, memercik ke kaki-kaki yang menginjaknya tanpa sengaja. Aku berjalan di antara tanah yang tidak rata itu, mencari jalan aman agar kaus kakiku tidak basa oleh percikan air dalam kubangan kecil itu.

Ruangan kantor FMIPA UNM Makassar masih lengang. Mahasiswa masih banyak yang belum pulang berlibur dari kampung. Hanya di ruangan administrasi terdengar musik lembut pertanda kalau sudah ada aktivitas di sana. Aku melongok ke dalam ruangan itu. Pak Nasrun kepala administrasi menoleh sambil menganggukkan kepalanya.
“Assalamualaikum Pak.”
“Waalaikumsalam, awwe rajin sekali kau Wali.” Sapa Pak Nasrun ramah.
“Iyah Pak, hari ini jadwal bimbinganku yang terakhir, kalau sudah disetujui oleh pembimbingku maka tinggal cari jadwal ujian de.” Jawabku semangat.
“Aamiin, eh adami dosen pembimbingta di ruangannya, ketemuka tadi.”
Iye Pak, terima kasih.”

Debaran di dadaku semakin berdegup kencang saat aku melangkahkan kaki menuju ke ruangannya. Ruangan itu tertutup rapat tetapi aku yakin ia ada di dalam. Hanya ada dua kegiatan yang dilakukannya. Kalau bukan menulis di laptopnya pasti ia mengaji melalui telepon genggamnya.

“Weh, sotoy kamu Wali!”

Suara keras menghardik lamunanku. Suara yang selalu menentang perasaan cintaku padanya.

“Mau taruhan?” Balasku menantang.
“Malas ah, main taruhan. Palingan juga kamu suruh aku mengintip semua kegiatannya sebagai bahan taruhanmu.” Katanya lemas.
“Bhahaha…” Aku terbahak puas.
“Sana pergi!  Saatnya aku menemui cintaku, kesayanganku, kekasih hatiku.” Kataku puas
“Pergi saja. Dasar sinting.”

Astagfirullah!

Percakapan macam apa ini? Bisa-bisanya suara hatiku bicara bersahut-sahutan seperti itu.

“Fokus Wali … fokus woiii…” Suara itu muncul lagi di telingaku.

Baiklah. Bismillah, aku mengetuk perlahan pintu ruangannya.
“Ya silahkan masuk.”
Oh Allah! Suara itu membuatku semakin gemetar.
Tanganku dingin bagaikan  terendam di dalam mangkuk yang berisi es kristal.

Perlahan aku membuka pintu. Tak lupa kusiapkan senyum termanisku.
“Assalamualaikum Pak.”
“Waalaikumsalam.” Ia menjawab salamku sambil memutar kursinya.
“Ada yang bisa Bapak bantu?”
“Iya Pak, skripsiku sudah lengkap.” Jawabku tergagap.
“Berarti bisa langsung ujian di..” Ia membuka map yang kusodorkan kepadanya.
‘Siap Pak” Jawabku mantap.
“Ucapkanlah ‘Insya Allah’ jangan main siap-siap saja.” Ia menatapku lurus sambil tersenyum samar.
“Ha… ha… ha…” Hii … lagi-lagi suara hatiku mengejek puas.
“Eh .. iya eh … Insya Allah Pak.”
“Jangan gugup begitu, belum juga ujian. Bagaimana nanti kalau ujian kamu gugup kayak nenek-nenek ompong.” Candanya sambil melirikku.

Oh Allahku, angkat aku Tuhaaan!

Jerit hatiku. 
Aku merasa melambung melihat lirikannya. Itu pasti lirikan mesra, ia kagum melihat senyumku. Apakah ia sudah jatuh hati kepadaku? Semoga ya Tuhan.

“Woiii … sadar woiii …!” Sahabat hatiku berteriak nyaring.

“Astagfirullah” Seruku tanpa sadar.
“Kenapa?” Matanya menatapku heran.
“Eh ..ah … tidak apa-apa Pak. Maaf Pak, aku tidak sengaja.”
“Jangan gugup, santai saja. Kamu sudah memenangkan perjuangan dalam menyelesaikan skripsimu. Tinggal satu langkah lagi kamu jadi sarjana.’ Hiburnya masih saja melirik mesra ke arahku.

Sekuat tenaga aku menahan segala rasa yang berkecamuk.
“Sekarang kamu hubungi Pak Nasrun, minta jadwal ujian.” Suara itu bagai  perindu yang mendayu.
“Baik Pak, terima kasih.”

Berhasil! Yeaah…aku berhasil bicara tanpa gagap.
Ia mengangguk sambil tersenyum. Kembali gagapku muncul.
Buru-buru aku keluar dari ruangannya. Bisa mati berdiri aku nanti  jika berlama-lama di ruangan itu.

Kulangkahkan kakiku menuju ruang administrasi, saatnya bertemu laki-laki setengah baya yang senyumnya selalu mengembang setiap ada mahasiswa yang datang menemuinya.
Sayangnya senyum Pak Nasrun  itu tidak menimbulkan getaran aneh di dadaku.

“Syukurlah, bagaimana kalau senyuman Pak Nasrun juga memesonamu.” Bisik suara hatiku.
“Iyah yah, bisa kacau duniaku ini.” Balasku geli.

To be continue ….

Cerita ini ada kaitannya dengan cerita sebelumnya, penasaran?

Baca saja di sini, di sini, dan di sini