Rabu, 18 Juli 2018

Tipu Daya


Selalu mesra. Itulah yang dijaga Bakti, katanya demi menjaga keharmonisan keluarga. Tentu saja Fika setuju dengan suaminya. Diperlakukan seperti itu melambungkan perasaan Fika, merasa dicintai setengah mati. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Rumah tangganya dipenuhi kasih sayang, kebutuhan finansial tercukupi, anak-anak yang sehat dan pandai.
Sempurna.
Sore  yang basah. Sisa-sisa air hujan masih menggenangi jalan.  Bagi warga   Makassar, turunnya hujan adalah berkah yang tak terhingga. Cuaca kota Makassar yang suhunya bisa saja mencapai 35 derajat celcius atau lebih penyebabnya.
Fika bergegas masuk ke rumahnya lewat pintu samping. Pintu yang menghubungkan antara garasi mobil dengan ruang tengah. Setengah berlari ia masuk kamar untuk mengganti bajunya yang basah. Karena terburu-buru, tadi siang ia tidak periksa bagasi mobilnya. Ternyata payung yang selama ini selalu ikut di mobilnya  tidak ada.
“Oh iyah kemarin kan Qory pinjam payung itu.” Fika menggumam setengah menggerutu.
Akibatnya Fika basah saat membantu anaknya menyeberangi jalan. Jilbabnya digunakan untuk menutup kepala  anaknya.
Fika sudah rapi lagi, bajunya yang  basah sudah melayang ke mesin cuci. Sejenak ia melihat handpone, ada pesan dari suaminya melalui whatsApp.
Andii, jangki lupa antarki ana’ta les piano na ... “ Bakti selalu menulis sesuai dialeg yang biasa mereka gunakan sehari-hari.
Ingatki juga, makan siang. Ka kita itu selalu telat makan, ingat maag ta nanti kambuh lagi.” Ditambah emotikon love.
Hati Fika berbunga membaca pesan itu. Dengan lincah ia membalas pesan suaminya.
Iye Daeng, baruka ini pulang antarki ana’ta.” Fika membalas ditambah emotikon love.
Saat ia bersiap ke dapur menemui asisten rumah tangganya, tiba-tiba bel rumahnya berbunyi.
“Sitti, tabe lihatki  siapa yang datang!” Seru Fika. Yang dipanggil bergegas keluar melewati ruang tengah. Bi Siti belum sampai di ruang tamu, pintu sudah terkuak. Kepala Qory menyembul sambil berseru.
“Hai  Sitti!”
“Astagfirullah, kagetku.” Bi Siti berseru dalam dialeg khas Makassarnya sambil mengusap dada.
“Hi..hi..hi  santai maki saja.” Bukannya minta maaf, Qory malah cekikikan melihat ekspresi Sitti.
Fika hanya geleng-geleng kepala melihat kejahilan sahabatnnya itu
“Hai Qory, masuk yuk!” Seru Fika dari balik pintu kamarnya.
“Aku sudah duduk kale, hehehe…” Jawab Qory santai sambil menghempaskan pantatnya di atas sofa yang empuk.
“Ha..ha…ha.., belum juga dipersilahkan, eeh..sudah nyosor duluan.” Canda Fika sambil tergelak.
“Maaf ya Fik,  Sitti kelamaan buka pintunya, yaa… aku langsung masuk saja”
Fika dan Qory adalah dua perempuan yang seumuran, mereka bersahabat sejak masih SMA. Qory lebih sering berkunjung ke rumah Fika bahkan menginap. Lain dengan Fika, ia paling malas keluar rumah apalagi berkunjung ke rumah temannya. Sejak tamat SMA, mereka sudah tidak bertemu lagi. Fika pindah ke kota lain mengikuti orang tuanya.
Hampir 10 tahun mereka terpisah. Hingga akhirnya dipertemukan lagi melalui reuni sekolah. Persahabatan itu kembali terjalin.
Qory asyik melihat foto-foto yang tertata rapi di dinding ruang tengah. Matanya terpaku pada satu foto ukuran yang paling besar, foto pernikahan Fika.
Fika menyentuh halus bahu sahabatnya itu,
“Kapan kamu nikah? Ayolah Ry … jangan terlalu  memilih.”
“Aku tidak pemilih Fik, jodohnya saja yang belum ketemu.” Qory menghela nafas.
“Lah … yang datang waktu reuni bersama kamu itu siapa?  Bukannya pacar kamu Ry?”
“Iya, ia itu memang pacarku, tetapi  kami sudah bubar.” Lesu Qory menjawab pertanyaan sahabatnya
“Beuh.. kenapa? Kelihatannya dia baik, sopan, dan ganteng pula.”
“Ah, bagiku ganteng urusan kesekian, yang penting mapan dulu. Kalau hanya bermodalkan cinta  saja, percuma Fi. Bikin pusing saja nantinya.”
Mata Fika sedikit membelalak.
“Ternyata waktu tidak bisa merubah pandanganmu tentang laki-laki yah Ry.” Kini Fika yang menghela nafas.
“Kamu enak Fik, dapat suami kaya, punya bisnis sukses, lumayan ganteng lagi.”
“Ry, awal kami menikah  suamiku bukan siapa-siapa. Dia masih karyawan biasa.”
“Tetapi kan sudah punya modal, orangtuanya pemilik perusahaan itu yah tinggal diteruskan saja.” Bantah Qory.
“Iya memang, tetapi masuk ke perusahaan orang tuanya itu tidak langsung diberi jabatan, ia harus melalui proses dari awal dahulu, Jadi karyawan biasa, gaji kecil, diuji dahulu dan seterusnya hingga ia bisa berada di posisi sekarang.”
“Nah, posisi yang seperti itulah yang kumau. Aku malas ah kalau harus mulai dari awal. Bersusah-susah. Aku sudah capek Fik, jadi orang susah.” Qory memotong pembicaraan Fika.
Fika hanya menggeleng-geleng sambil tersenyum. Mencoba memaklumi prinsip sahabatnya.
Bagi Qory, kehidupan rumah tangga sahabatnya itu bikin iri semua orang, tak terkecuali dirinya. Jauh di dasar hatinya, ia mendambakan kehidupan yang serba berkecukupan  seperti kehidupan keluarga Fika.
“Fik, sebentar malam kita keluar yuk!” Qory mengalihkan pembicaraan.
“Kemana?” jawab Fika acuh.
“Kita ke café, sekali-sekali kamu senang-senang sedikitlah. Masa  kegiatan kamu hanya itu-itu saja. Apakah kamu tidak bosan?
“Kadangkala bosan juga  Ry, tetapi ini konsekuensi atas pilihanku sendiri.
“Santailah sedikit, kita ke café atau ke mall, atau aku kenalkan kamu ke teman-temanku yang heboh. Kamu bisa menikmati keseruan bersama mereka.” Bujuk Qory
Fika mnengangguk. “Ok sebentar malam, kamu jemput aku yah, mumpung Daengku masih di Kalimantan.
Sejak hari itu, Fika menemukan dunia yang lain.
Bersenang-senang dengan teman-teman baru yang dikenalkan Qory, berjalan-jalan ke mall, belanja, ke salon, dan sesekali ke kafe.

****************************

Dunia baru. Teman baru dan penampilan baru. Fika makin cantik.
Kulitnya semakin mulus karena rajin dirawat di salon. Belum lagi dibalut dengan baju-baju yang mahal dan trendi.
Sementara itu, Bakti bergelut dengan pekerjaannya yang kian hari kian menumpuk. Kadangkala ia duduk termangu melihat penampilan isterinya yang semakin cantik dan modern. Bakti semakin jatuh cinta.
Tetapi waktu untuk bersama isterinya semakin tergerus oleh kesibukannya yang menumpuk. Selain itu, di kantor Bakti selalu ditempel sama Qory. Dengan berbagai alasan, Qory berusaha menghalangi Bakti untuk pulang cepat.
Entah bagaimana caranya, tiba-tiba Qory dipindahkan ke kantornya. Menjadi utusan Pak Rifan, rekan bisnisnya. Katanya untuk memperlancar hubungan kerja sama mereka, maka Qory menjadi sekertarisnya. Bakti tak kuasa menolak.
Ikhlas atau tidak, Bakti terpaksa selalu bertemu dengan Qory. Bagi Bakti, Qory terlalu agresif, dan ia tidak suka perempuan dengan tipe seperti itu. Namun apa mau dikata, mereka satu tim.
Qory cukup cerdas dan sigap mengimbangi gaya kerja Bakti. Dan itulah salah satu alasan Bakti tetap mau bekerja sama. Walaupun di pikirannya terkadang muncul kengerian yang ia sendiri tidak dapat menganalisanya dengan baik.
Itu tipu daya Qory. Ia menggunakan segala cara untuk menarik perhatian Bakti. Baginya laki-laki seperti Bakti lah yang pantas menjadi suaminya.
Soal Bakti suami sahabatnya. Tidak masalah baginya.
Toh ia akan rela berbagi suami dengan Fika, yang penting Qory bisa icip-icip kesuksesan Bakti. Kalau Fika tidak mau, maka ia harus berjuang sekuat kemampuannya melawan Qory.
“Maaf Fik, kamu bukan lawan yang tangguh buatku.”

 To be continued ..........



20 komentar:

  1. Lumayan menghibur mbak ceritanya....sempat penasaran juga Bakti mau tidak ya, sama pelakor?

    BalasHapus
  2. penasaearnku sm kelanjutannya kam

    BalasHapus
  3. penasaran sama kelanjutannya kak

    BalasHapus
  4. Awalnya manis.. tapi kok kesana sananya ngeri sih huhuhuhu... Bisa skalimi bikin novel kak.. keren keren keren. Saya suka saya suka.

    BalasHapus
  5. Kak Dawiah, aku nge-fans padamu deh. Keren sekali tulisan ta. Mauka belajar nulis seperti ini dong, ajarka nah ? 😊. Aku menunggu lanjutan ceritanya, dumba-dumba apa yang akan dilakukan oleh qory.

    BalasHapus
  6. Kondisi seperti tsb dimasa sekarang ga sedikit memang, saya terkejut seorang cewek dg gampang meminta segala macam barang ke pacarnya..
    Kadang siibu juga ga ketinggalan minta...hehehe. saya malu mengetahui ada orang seperti itu.

    BalasHapus
  7. Wah, Bu Dawiah udah nyer-bung aja nih. Bisa nih dilanjut ke novel :)

    BalasHapus
  8. Kepoooo iih sama lanjutannya...

    BalasHapus
  9. Suka kalimat ini,"sore yang basah", kebayang habis hujan rintik di sore hari trus ada teh hangat dan pisang goreng. Eh... kok larinya ke makanan, jaga sembung bawa golok hahahaa... btw suka bangat ceritanya Bun... lanjutkaannn

    BalasHapus
  10. sukaaaa sama ceritanya!
    Ditunggu lanjutannya Bunda, penasaran saya

    BalasHapus
  11. Ini mi yang namanya "Teman Makan Teman" ��

    BalasHapus
  12. Alamak,,, Bunda satu ini multalented banget ya. Non fiksi ok, fiksi pun jago. ini endingnya gimana, Bun? penasaraaannn hehe

    BalasHapus
  13. Bunda Dawiaaah, ditunggu yaa kelanjutannya. Pelajaran berharga yang bisa dipetik, sebaiknya jangan mengundang pelakor datang ke rumah ya Bunda hehehe. Mengerikan.

    BalasHapus
  14. ahhh, penasaran kak dengan ceritanya...

    kenapa saya ballisi sama ini qory di' hahahah

    BalasHapus
  15. Aah..kenapa berhenti...!!hihihi
    Padahal ceritanya lagi seru-serunya. Etapi kalau dari sisi ceritanya, sepertinya itu cerita yang banyak terjadi ya...ngeri juga ngebayangin akhir cerita ini.

    BalasHapus
  16. Dilanjut mbak, duh urusan pelakor gk ada habisnya buat dijadiin ide cerbung gini. Penasaran endingnya

    BalasHapus
  17. Masya Alloh. Tadinya kirain mau baca artikel, rupanya fiksi. Bener2 mengaduk perasaan pembaca. Hayuukk, mana kelanjutannya? 😁😁

    BalasHapus
  18. Duh, cerbungnya bikin gemes, hehe. Pemilih tapi yg dipilih malah misua orang. Ditunggu lanjutannya ya, Bund 😊

    BalasHapus
  19. karakter qory sejak awal terbangun sudah 'liar'.. :)
    i see a potential twist

    BalasHapus
  20. Takukka baca lanjutannya hahaha. Nanti direbut ki Bakti. Dddeh.
    Btw, saya sekarang ndak betah baca fiksi, Kak, bagus sekali pun. ndak tahu kenapa. Sudah lama saya tidak baca fiksi tapi sekarang lagi ada buku yang lagi pelan-pelan saya baca. Buku fiksi yang dikasih sama seorang teman, yang dia tulis sendiri. Untung cerpen dan unik ki, jadi masih bisa saya baca.

    BalasHapus