Sabtu, 11 Agustus 2018

Cinta Dalam Hati



Sepagi ini aku sudah merasakan debaran halus di dadaku. Ia melintas di depanku, mengirimkan aroma wangi tubuhnya. Aku menghirup dalam-dalam, menyerapnya, menikmati aroma itu, lalu kusemayamkan di dalam dadaku. Aku tak mau aroma itu hilang hingga berganti aroma tubuhnya yang baru.
Akan kusimpan aroma itu hingga sore saat aku datang konsultasi di ruangannya.
Aku sudah menyiapkan ruang khusus di dalam dadaku, ruang untuk menyimpan segala sesuatu tentang dia. Laki-laki kesayanganku.

Ah, aku memang selalu cinta padanya. Dari ujung kaki hingga ujung rambutnya tak pernah luput dari perhatianku. Aku tahu  makanan kesukaannya, kebiasaannya memejamkan mata setiap kali mendengar seruan azan sesayup apapun suara itu.
Aku hafal lagu kesukaannya, aku mengerti arti kerutan keningnya, hafal ekspresinya saat marah, saat senang, saat sakit, dan apapun tentangnya.

Sore yang basah.

Sisa  air hujan tergenang manis di jalan yang tidak rata, memercik ke kaki-kaki yang menginjaknya tanpa sengaja. Aku berjalan di antara tanah yang tidak rata itu, mencari jalan aman agar kaus kakiku tidak basa oleh percikan air dalam kubangan kecil itu.

Ruangan kantor FMIPA UNM Makassar masih lengang. Mahasiswa masih banyak yang belum pulang berlibur dari kampung. Hanya di ruangan administrasi terdengar musik lembut pertanda kalau sudah ada aktivitas di sana. Aku melongok ke dalam ruangan itu. Pak Nasrun kepala administrasi menoleh sambil menganggukkan kepalanya.
“Assalamualaikum Pak.”
“Waalaikumsalam, awwe rajin sekali kau Wali.” Sapa Pak Nasrun ramah.
“Iyah Pak, hari ini jadwal bimbinganku yang terakhir, kalau sudah disetujui oleh pembimbingku maka tinggal cari jadwal ujian de.” Jawabku semangat.
“Aamiin, eh adami dosen pembimbingta di ruangannya, ketemuka tadi.”
Iye Pak, terima kasih.”

Debaran di dadaku semakin berdegup kencang saat aku melangkahkan kaki menuju ke ruangannya. Ruangan itu tertutup rapat tetapi aku yakin ia ada di dalam. Hanya ada dua kegiatan yang dilakukannya. Kalau bukan menulis di laptopnya pasti ia mengaji melalui telepon genggamnya.

“Weh, sotoy kamu Wali!”

Suara keras menghardik lamunanku. Suara yang selalu menentang perasaan cintaku padanya.

“Mau taruhan?” Balasku menantang.
“Malas ah, main taruhan. Palingan juga kamu suruh aku mengintip semua kegiatannya sebagai bahan taruhanmu.” Katanya lemas.
“Bhahaha…” Aku terbahak puas.
“Sana pergi!  Saatnya aku menemui cintaku, kesayanganku, kekasih hatiku.” Kataku puas
“Pergi saja. Dasar sinting.”

Astagfirullah!

Percakapan macam apa ini? Bisa-bisanya suara hatiku bicara bersahut-sahutan seperti itu.

“Fokus Wali … fokus woiii…” Suara itu muncul lagi di telingaku.

Baiklah. Bismillah, aku mengetuk perlahan pintu ruangannya.
“Ya silahkan masuk.”
Oh Allah! Suara itu membuatku semakin gemetar.
Tanganku dingin bagaikan  terendam di dalam mangkuk yang berisi es kristal.

Perlahan aku membuka pintu. Tak lupa kusiapkan senyum termanisku.
“Assalamualaikum Pak.”
“Waalaikumsalam.” Ia menjawab salamku sambil memutar kursinya.
“Ada yang bisa Bapak bantu?”
“Iya Pak, skripsiku sudah lengkap.” Jawabku tergagap.
“Berarti bisa langsung ujian di..” Ia membuka map yang kusodorkan kepadanya.
‘Siap Pak” Jawabku mantap.
“Ucapkanlah ‘Insya Allah’ jangan main siap-siap saja.” Ia menatapku lurus sambil tersenyum samar.
“Ha… ha… ha…” Hii … lagi-lagi suara hatiku mengejek puas.
“Eh .. iya eh … Insya Allah Pak.”
“Jangan gugup begitu, belum juga ujian. Bagaimana nanti kalau ujian kamu gugup kayak nenek-nenek ompong.” Candanya sambil melirikku.

Oh Allahku, angkat aku Tuhaaan!

Jerit hatiku. 
Aku merasa melambung melihat lirikannya. Itu pasti lirikan mesra, ia kagum melihat senyumku. Apakah ia sudah jatuh hati kepadaku? Semoga ya Tuhan.

“Woiii … sadar woiii …!” Sahabat hatiku berteriak nyaring.

“Astagfirullah” Seruku tanpa sadar.
“Kenapa?” Matanya menatapku heran.
“Eh ..ah … tidak apa-apa Pak. Maaf Pak, aku tidak sengaja.”
“Jangan gugup, santai saja. Kamu sudah memenangkan perjuangan dalam menyelesaikan skripsimu. Tinggal satu langkah lagi kamu jadi sarjana.’ Hiburnya masih saja melirik mesra ke arahku.

Sekuat tenaga aku menahan segala rasa yang berkecamuk.
“Sekarang kamu hubungi Pak Nasrun, minta jadwal ujian.” Suara itu bagai  perindu yang mendayu.
“Baik Pak, terima kasih.”

Berhasil! Yeaah…aku berhasil bicara tanpa gagap.
Ia mengangguk sambil tersenyum. Kembali gagapku muncul.
Buru-buru aku keluar dari ruangannya. Bisa mati berdiri aku nanti  jika berlama-lama di ruangan itu.

Kulangkahkan kakiku menuju ruang administrasi, saatnya bertemu laki-laki setengah baya yang senyumnya selalu mengembang setiap ada mahasiswa yang datang menemuinya.
Sayangnya senyum Pak Nasrun  itu tidak menimbulkan getaran aneh di dadaku.

“Syukurlah, bagaimana kalau senyuman Pak Nasrun juga memesonamu.” Bisik suara hatiku.
“Iyah yah, bisa kacau duniaku ini.” Balasku geli.

To be continue ….

Cerita ini ada kaitannya dengan cerita sebelumnya, penasaran?

Baca saja di sini, di sini, dan di sini


26 komentar:

  1. Terima kasih saudariq Dawiah tetaplah menulis dan semoga sukses selalu Aamiin

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah memang luar biasa tulisannya,semoga sukses selalu dan teruslah berkarya saudariq Dawiah

    BalasHapus
  3. Penasaran sama kelanjutannya... ^_^

    BalasHapus
  4. deh bunda dari unm parang tambung juga yah. saya juga parang tambung bun tapi FT

    BalasHapus
  5. lanjutkaaaaaann... penasaran nih hehehe...

    BalasHapus
  6. Bhahahahaha penasaran dong Bund. Tambah getol aja ngefiksi-nya. Btw emang paling nggak enak kalau ketemu yg bikin deg deg serrr, yee pengalaman zaman muda dulu sih.

    BalasHapus
  7. Bunda... makassar banget 😍😍 penasaraaaan

    BalasHapus
  8. Luar biasa tulisannya mba.. ditunggu mba kelanjutan cerita fiksinya.. mantap

    BalasHapus
  9. Duh saya baca bikin saya juga ikut deg2an berasa saya yang disenyumin sama si dosen. Bagus mba ceritanya 👍🏻

    BalasHapus
  10. Eh jadi ini tentang mahasiswi yang jatuh cinta pada dosennya ya? Gimana kelanjutannya, Mbak? Ditungguin ya..

    BalasHapus
  11. Senyummu begitu memesonaku...
    Cieee..
    Dan saya penasaran jadinya:)

    BalasHapus
  12. Wah ini mah realita berbalut fiksi. Lanjutkan bun.... aku juga suka fiksi, sayangnya bang ilham (baca; ide) lagi ambekan. 😁

    BalasHapus
  13. Ceritanya bikin pinisiriiiinn Bunda.. jadinya gimana ini endingnya?

    BalasHapus
  14. Asli Mak penasaran deh waaah ini sudah episode keberapakah? Siap berselancar mencari kepingan yg lain lah ini biar penasarannya tertuntaskan

    BalasHapus
  15. Hehe...penasaran ki apa beng kelanjutanna...kutunggu ki nah..
    ������ Salam ewako...!

    BalasHapus
  16. Latjutkan mbak, kepo endingnya. Tulisannya selalu sampe ke hati

    BalasHapus
  17. Tulisannya kurang panjangggg. Iihh kak Dawiah bikin penasaran deh.. segera launching ya

    BalasHapus
  18. Deuh jadi ingat jaman masih jatuh cinta... Aroma parfumnya pun udh bikin klepek-klepek hehehe...

    BalasHapus
  19. Weh lucu ini.
    Jatuh cinta sama fosen 😍😍😍

    BalasHapus