Kamis, 09 Agustus 2018

Persahabatan yang Ternoda


Halaman sekolah dipenuhi gadi-gadis belia. Mengenakan pakaian seragam putih abu-abu, mereka duduk bergerombol di bawah pohon ketapang. Satu-satunya pohon yang paling besar di halaman SMAN IV Makassar. Gadis-gadis itu bercengkrama sambil sesekali menggoda murid pria yunior mereka. Beberapa meter dari situ, duduk tiga orang gadis yang sedang serius berbicara. Kayaknya ada hal sangat penting sedang mereka bahas.
Gadis putih tinggi semampai itu bernama Fika, mukanya manis dengan lesung pipit yang menambah manis dirinya, duduk paling tengah adalah gadis berkulit putih dan  berkerudung. Gerakannya sangat lembut, gemulai, di jilbabnya tersemat nama yang manis Anisa Salsabila, di sebelah kiri terlihat gadis berkulit sedikit coklat. Postur tubuhya lebih  tinggi dari kedua temannya. Dari cara bicaranya serta gerakan tubuhnya, dialah yang paling lincah di antara kedua temannya.
“Ry, kamu serius tidak mau menikah sebelum sarjana? Tanya Fika
“ Seriuslah, aku hanya mau menikah dengan laki-laki yang sudah mapan, tidak mau ah pacaran sama teman mahasiswa nantinya, mereka pasti kere. Hanya menunggu kiriman orang tuanya saja.
“Hahaha…kamu sudah berpikir sejauh itu Ry” Anisa yang berkerudung itu tertawa lembut
“Ya iyalah, namanya juga cita-cita dan harapan.”
“Kamu bagaimana Fik, apakah  mau langsung nikah, tidak mau kuliah dulu?
“Tergantung…” Jawaban Fika menggantung
“Tergantung apa?”
“Tergantung yang melamar. Kalau tamat sekolah  Bakti mau melamar, yah langsung nikahlah, bhahaa…” Mereka terbahak serentak.
“Kamu Nis? Mau kuliah atau mau seperti Fika?” Pertanyaan Qory diarahkan kepada kedua sahabatnya.
“Aku mau lanjutkan hafalan Qur’anku dulu, terus menunggu dilamar oleh guru mengajiku.” Nisa tersenyum malu saat menyebut guru mengajinya.
Persahabatan yang manis semanis gadis-gadis belia itu.
Hampir setiap istirahat, mereka berbicara serius. Membicarakan rencana-rencana masa depan, cita-cita, dan harapan-harapan mereka. Tiga kepala memiliki latar belakang yang berbeda pastilah sudut pandang mereka terhadap  masa depan juga berbeda
Fika berasal dari keluarga yang berkecukupan, ayahnya adalah pebisnis yang sukses. Hidup tenang dalam rumah mewah. Ia tidak perlu capek-capek memikirkan uang belanja, cukup menyodorkan daftar kebutuhannya dan telepon genggamnyapun berbunyi, pertanda uang dari ayahnya telah masuk. Walaupun hidup berkecukupan, Fika tetaplah Fika yang tenang. Ia tidak serta merta menjadi gadis pemboros dan angkuh. Penampilannya biasa saja, sama dengan gadis-gadis lain di sekolahnya. Tidak banyak yang tahu tentang kehidupan mewah keluarganya, kecuali kedua sahabatnya Qory dan Nisa dan beberapa orang di kelasnya.
Lain halnya dengan Anisa, gadis manis berkerudung itu adalah gadis yang populer di sekolah. Siapa yang tidak mengenalnya? Dua kali sepekan, foto dan tulisannya terpampang di majalah dinding. Hampir setiap upacara hari Senin, namanya disebut oleh pembina upacara sebagai pemenang lomba, baik sebagai juara dalam lomba menulis puisi, lomba menulis essay, lomba menulis cerpen, bahkan juara dalam lomba membaca puisi. Yah, dialah Anisa Salsabila. Gadis berbakat itu selalu tampil sederhana dan memikat. Ia memikat para guru dan siswa dengan penampilannya yang berkerudung, dengan bakatnya yang luar biasa. Ia terkenal dengan sebutan “Penulis yang Alim.”  
Tidak kalah populer dari Anisa, Qory juga sangat populer. Ia pemain basket sekaligus  pemain volly. Setiap ada pertandingan basket atau volly, Qory selalu dielu-elukan.
Qory dan Bakti sering bertemu di lapangan basket. Kadang mereka latihan bersama. Tetapi tidak pernah sedikitpun Qory memperhitungkan keberadaan Bakti.  Pikirnya paling-paling Bakti berasal dari keluarga biasa, atau bisa jadi ia juga miskin seperti dirinya
Begitulah persahabatan mereka, memiliki karakter yang berbeda tetapi tetap bersahabat, saling menerima kelebihan dan kelemahan masing-masing.
****************
Siapa Fika, Bakti, dan Qory? Silahkan baca di sini dan di sini

Fika menghela nafas, dia menatap album foto usang yang telah berusia hampir 20 tahun itu, di dalam album itu terpatri kenangannya bersama Bakti dan kedua sahabatnya. Foto-foto saat Bakti latihan dan berlomba, saat Bakti menerima piala kemenangannya. Juga ada foto Qory dengan kaos basket kebanggaannya, tertawa lebar sambil mengangkat piala.
Entah mengapa, setiap ada Qory berfoto dengan pialanya maka ada juga Bakti dengan pose yang serupa. Begitu seringnya kejadian itu berulang, sampai-sampai Nisa pernah berkomentar.
“Lebih cocok Bakti berjodoh dengan Qory, mereka serasi sama-sama pemain basket.”
Fika cemberut sambil meninju halus bahu sahabatnya. Sedangkan Qory hanya terbahak menggodanya. Ia mngangkat bahu cuek.
“Tenang saja Fik, Bakti itu tidak masuk dalam kategoriku.” Qory merangkul sahabatnya
“Tuh yang masuk dalam kategori Qory.” Balas Nisa sambil memonyongkan bibir manisnya ke arah guru olahraga mereka. Sontak Fika tergelak. Qory hanya tersenyum penuh arti sambil berbisik
“Psst kalau Pak Hery mau, kenapa tidak?”
“Ih .. dia itu sudah punya istri Ry?” Mata Fika melotot kesal
“Mana perduli dia Fik, yang penting mapan” Kata Nisa
“Dan kayaaa!” Seru Qory.  Ketiga gadis itu tertawa serentak.
Fika menutup album foto itu dengan kesal.
“Ah sejak dahulu kamu memang sudah memproklamirkan karakter burukmu Ry, kenapa aku bisa lupa akan hal itu.” Fika menghela nafas untuk kesekian kalinya.
Fika benar-benar baru menyadari keteledoranya. Memperkenalkan suaminya yang sudah mapan dan sukses kepada sahabatnya itu. Padahal sejak dahulu ia sudah tahu, apa dan bagaimana sahabatanya itu.
Masih pantaskah ia disebut sebagai sahabat?
Tidak lagi, Qory sudah menjadi penjahat baginya. Perampok cintanya.
Persahabatn mereka sudah ternoda.



Persahabatan tak akan kekal jika tidak menghadirkan iman dan cinta di dalamnya.

To Be Continued ……


36 komentar:

  1. Paragraf pertama langsung mengingatkan ku masa2 SMA. ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setting ceritanya memanga anak-anak SMA hehehe..

      Hapus
  2. Serem ya semoga kita di jauhkan dari sahabat yg demikian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cukup dalam cerita saja ya mbak, hehehe

      Hapus
  3. Patah hati aku Bund. So syedih :(

    BalasHapus
  4. Penasaran sama lanjutannya, ceritanya ringan dan seru mba haha. Kereeeen.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tunggu cerita lanjutannya mbak...

      Hapus
  5. Persahabatan tak akan kekal jika tidak menghadirkan iman dan cinta di dalamnya...Setujuuu:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes. Kalau tak ada iman dan cinta maka semua akan berantakan.

      Hapus
  6. Amit-amit, semoga dijauhkan dari orang yang seperti ini. Amin

    BalasHapus
  7. sepandai2nya kita memilih sahabat. tetap hancur jika sahabat yang kurang tau posisi didalam kehidupan

    BalasHapus
    Balasan
    1. TMT = Teman makan Teman eh..SMS di .. Sahabat Makan Sahabat

      Hapus
  8. Oemge! Sahabat kok begitu. Keren, aku nunggu lanjutannya mba.

    BalasHapus
  9. Ah, perasaanku ikut hancur membacanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes! Berhasil bikin dek Niar BAPER

      Hapus
  10. Cerita itu nyata atau hanya sekedar cerita? Semoga kita memiliki sahabat-sahabat yang baik dan santun...Aamiin

    BalasHapus
  11. Seru buat saya baca cerita ini krn setting tempatnya di sekolah sy wktu SMA hahahah

    BalasHapus
  12. Nunggu lanjutannya mbaak.. Apa yang akan terjadi?

    BalasHapus
  13. Hiks hiks potek hatiku. Jangaaan sampai punya sahabat macam ini

    BalasHapus
  14. Setuju,persahabatan membutuhkan iman dan cinta untuk menjaga kelanggengannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kita dapat sahabat yang seperti itu

      Hapus
  15. Ada ya yang begini? Dulu semasa sekolah aku jauh dari pikiran mau menikah dulu. Pokoknya maunya kerja terus dapat duit banyak hahaha ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Qory juga mau dapat duit yang banyak, tapi dengan cara jalan pintas hihihi

      Hapus
  16. Huaaa.. sediih bacanya.. yang kayak gini banyak ya sekarang di realita. Semoga kita dijauhkan dari para penjahat cinta ya bun..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiin. Semoga itu hanya ada dalam cerita ya mbak.

      Hapus
  17. Duh, gemes bacanya kak tapi penasaran dengan lanjutannya...

    BalasHapus
  18. Tidak baeknya deh kadi sahabat. Inimi mungkin yang di bilang di tikung?

    BalasHapus
  19. Sesek bacanya.. hiks,, ikutan sebal kalau ada yang ganggu rumah tangga orang, semoga pernikahan kita selalu dalam lindungan Allah. AMIN.. makasi bunda udah jadi pengingat menjaga rumah tangga��

    BalasHapus