Fakta atau Mitos Tentang COVID-19

Sunday, April 5, 2020


 
SumberPixabay.com

Ah, pandemi ini telah berhasil memorakporandakan dunia. Bermula di Wuhan, Cina lanjut ke negara lain lalu menyasar Indonesia. Apakah Tuhan telah marah kepada manusia, sehingga menciptakan musuh tak berwujud ini? Cobalah tanya kepada rumput yang bergoyang. Ingat Ebiet G Ade 😆

Tapi ini bukan yang pertama, jauh sebelum kita lahir pandemi ini sudah ada. Tak percaya?
Yuk, teruskan  membacanya. 

Pandemi Berkunjung Setiap Satu Abad



Dari berbagai informasi yang berseliweran di media sosial, dinyatakan bahwa pandemi itu selalu muncul setiap satu abad dimulai  pada tahun  1720, 1820, 1920, dan sekarang tahun 2020.

Tahun 1720 terjadi wabah Marseille yang disebut penyakit Pes yang ditularkan melalui lalat yang terinfeksi virus.  Peristiwa itu dikenal sebagai The Great Plague of Marseille. Jumlah korban meninggal dunia saat itu di benua Eropa diperkirakan 100.000 orang.

Satu abad kemudian, tahun 1820 terjadi lagi pandemi yang dikenal sebagai wabah Kolera Asiatik. Pandemi ini disebabkan oleh bakteri yang ada di Sungai Gangga. Wabah ini menyebar ke Asia Tenggara, Afrika Timur, Timur Tengah hingga ke pantai Mediterana.


Tahun 1920 terjadi lagi pandemi yang mematikan, disebut  Flu Spanyol. Hal ini diakibatkan adanya mutasi genetik dari Virus Influenza yang berubah menjadi virus yang ganas.

Sejarah mencatat, Flu Spanyol menyerang manusia sekitar 500 juta  bahkan lebih di seluruh dunia. Pendemi itu menyasar sampai ke pulau-pulau terpencil di Pasifik hingga ke Kutub Utara.

Sumber: Underwood Archivers- Getty Images


Seratus tahun kemudian, tepatnya tahun ini, tahun 2020 dunia dikejutkan dengan munculnya Virus Corona, disebut juga Covid-19.  Awal penularan virus ini terjadi di Wuhan, Cina sekitar bulan Desember 2019, lalu menyebar ke seluruh dunia pada awal tahun 2020, termasuk di negara kita tercinta, Indonesia.

Sumber: abcnews.go.com

Kasus positiv  covid-19 pertanggal 4 April 2020 pukul 15.45 di seluruh dunia 1.119.109 yang meninggal dunia sebanyak 58.955, sedangkan di Indonesia sendiri kasus positiv sudah mencapai 2092, yang meninggal dunia 191. (Sumber: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, WHO).

Fakta atau Mitos



Pandemi kali ini, sungguh luar biasa. Bukan hanya karena wabah itu sendiri melainkan dampak yang ditimbulkannya sehubungan dengan  informasi yang menyebar sedemikian cepatnya.


Satu orang mengirim informasi via media sosial, maka tak cukup semenit, informasi itu menyebar ke semua orang pengguna media sosial. Sayangnya, tidak semua informasi itu benar. Lebih banyak informasi hoaks, kadang hanya mitos yang diangkat menjadi fakta.

Berikut ini beberapa hal yang kelihatannya fakta tapi sebenarnya hanya mitos. Semua informasi itu diambil dari web World  Health Organization (WHO).

  • Coronavirus mati dan tidak dapat menyebar di daerah dengan iklim panas dan lembap. Ini adalah mitos, faktanya adalah coronavirus baru ini dapat menyebar di semua daerah, bahkan yang beriklum panas dan lembap sekalipun.


  • Mengonsumsi bawang putih dapat mencegah infeksi covid-19 juga mitos. Sekalipun bawang putih memiliki unsur antimikroba. Namun, berdasarkan wabah yang sedang berlangsung belum ada bukti bahwa mengonsumsi bawang putih dapat melindungi kita dari COVID-19.

  • Antibiotik efektif dalam mencegah dan mengatasi coronavirus baru?  Jawabannya, tidak. Antibiotik tidak bisa mengobati virus, antibiotik hanya untuk bakteri. Namun, jika Anda dirawat di rumah sakit karena COVID-19, Anda mungkin menerima antibiotik karena infeksi sekunder yang diakibatkan oleh bakteri juga dapat terjadi.

  • Coronavirus baru hanya menginfeksi lansia, atau orang yang lebih muda juga berisiko tertular? Kenyataannya semua orang dari berbagai kalangan usia bisa terinfeksi coronavirus baru (COVID-19). Namun, lansia, dan mereka yang sudah memiliki kondisi medis (seperti asma, diabetes, penyakit jantung) lebih rentan terinfeksi dan jatuh sakit karena virus.

  • Untuk mencegah COVID-19 perbanyak minum air putih. Meskipun minum air putih mencegah dehidrasi tapi tidak dapat mencegah tertularnya COVID-19.

  • Berendam di air hangat dapat melindungi diri dari COVID-19, ini adalah mitos. Berendam di air hangat, berapa pun temperatur air yang digunakan tidak akan bisa melindungi Anda dari COVID-19, yang ada Anda akan melukai kulit apalagi jika air hangatnya di atas temperatur normal.


Demikianlah beberapa mitos dan anggapan yang salah soal COVID-19. Maka tetaplah berhati-hati dan senantiasa menjaga jemari untuk tidak asal membagikan informasi. Periksa kebenarannya dan carilah informasi yang akurat dari sumber terpercaya.

Semoga pandemi ini segera sirna dari bumi, dan kita semua selamat. Amin.

Referensi:
who.int/indonesia
insanmedika.co.id



Read More

GAGAL JADI ARTIS

Monday, March 30, 2020



Gagal Jadi Artis


Saya selalu bilang ke teman-teman seprofesi, bahwa guru itu sebenarnya artis. Setiap mau masuk kelas, guru harus memperhatikan penampilannya agar sedap dipandang mata, minimal dipandang oleh murid-murid.

Ia harus menjaga suasana hatinya, tetap terlihat gembira sekalipun hati sedang gulana. Artis juga begitu kan, walau sedang berduka jika harus tampil maka ia tak boleh menampakkan kesedihannya.
Ternyata pendapat saya itu keliru.

Artis bisa berpura-pura di depan kamera, akting. Tapi saya tidak bisa. Kalau menutupi suasana hati di depan murid-murid saat di depan kelas pasti bisa, tapi berbicara lancar di depan kamera seakan berbicara di depan murid sungguh sulit.

Sumber gambar: Pixabay.com

Tidak percaya? Baca saja pengalaman saya saat harus akting di depan kamera



Proses Pembuatan Video Pertama


Untuk memutus rantai penyebaran virus copid-19, sekolah diliburkan. Tidak ada pembelajaran tatap muka tetapi pembelajaran harus tetap jalan, maka jadilah pembelajaran itu dilakukan secara daring atau dalam jaringan.

Beberapa teman guru menggunakan aplikasi yang bisa saling menyapa dan tatap muka secara daring, seperti  aplikasi zoom, classroom, dan sebagainya.
Tetapi saya memilih aplikasi sejuta ummat, yaitu whatsapp. Pertimbangannya, hampir semua murid  menggunakan aplikasi ini. Selain itu,   saya bisa menyapa murid  dengan mengirim suara  saja sambil baring dan gunakan pakaian rumah alias daster.

Hari pertama, beberapa teman guru mengirim videonya yang sedang mengajar ke grup whatsapp sekolah, wah kelihatan keren. Sepertinya gampang, cukup menjelaskan materi pelajaran dan direkam. 
Hm, saya juga bisa.

Untuk kelas 8 yang saya ampu kebetulan saya punya animasi  pembelajaran tentang materi Getaran, Gelombang, dan Bunyi. Maka animasi itu saya rekam sembari menjelaskannya. Gampanglah ini.

Nah, giliran mau mengajar ke kelas 9 saya mulai bingung. Cara apa yang bisa saya gunakan agar murid-murid saya tetap merasa diajar. Maka langkah pertama yang saya lakukan adalah  menulis materi itu di blog lalu  bagikan linknya. Lumayan kan  bisa menghalau laba-laba yang sudah mulai bikin sarang di sana.

Materinya bisa dibaca di sini 

Tapi rasanya kurang lengkap, murid tidak menatap saya, nanti mereka kangen, kan kasihan. Percaya diri dikangeni sama murid, ha-ha-ha.

Kata si-Bungsu, “bikin video saja Mak, nanti saya yang rekam-ki.”

Baiklah, siapa takut. Begini-begini, mamakmu ini pernah main teater, dulu.
“Tulis dahulu skenarionya, apa kata pembukanya, materi apa yang mau diajarkan.” Saran si-bungsu.
“Gampang, kan tinggal cuap-cuap, beres.” Saya percaya diri.

Maka jadilah peristiwa itu sebagai kenangan yang tak terlupakan.

Sang kamerawan merangkap sutradara dan editor itu dengan songongnya mengatur-atur saya. Tapi memang begitu kan, sang pemain harus ikhlas diatur-atur oleh sutradara, ya sudahlah ikhlaskan saja diatur dan  ditegur oleh anak sendiri.

“Cut! Bicaranya belepotan Ma, ulangi.” Teriak sang sutradara. Mamanya menurut saja.
“Cut! Jangan okkots, dasar orang Makassar. JANGAN mama, bukan JANGANG.”
“Ulangi, mukanya biasa saja, jangan senyum-senyum tidak jelas begitu.”

Hiii, rasanya ingin jambak rambutnya.

“Sabaaar, ini ujian. Kan mau jadi artis to.” Bapaknya ikutan coddo sambil tersenyum.

Akhirnya setelah beberapa kali mengambil gambar, maka jadilah video itu.

“Mana videonya?” Tak sabar mau melihat muka sendiri
“Mau diedit dulu Ma, ini banyak gambar tidak penting yang muncul.”

Tak lama kemudian video itu jadi. Masya Allah, saya hanya menyapa murid dan menginformasikan tentang tugasnya saja, butuh take berulang kali.

Sumber pribadi


Video Kedua


Memasuki pekan kedua, saya mau direkam lagi. Kali ini persiapannya lebih ribet. Berhubung Kepala Sekolah menghimbau guru-guru  untuk membuat materi pembelajaran yang sehubungan dengan virus corona. Maka seharian saya gunakan waktu mencari informasi penting dan akurat tentang hal tersebut.

Akhirnya ketemulah website WHO, di sana memuat segala hal yang berhubungan dengan pandemi itu. Beberapa gambar saya unduh, rencananya akan  digabung dengan rekaman muka dan suara saya.

Proses rekamanpun dimulai. Eh, sebelumnya saya bongkar lemari dulu, cari-cari baju yang pas. Entah kenapa, selama sepekan di rumah bobot tubuh meningkat pesat. Baju menjadi kecil, eh salah bukan bajunya yang mengecil melainkan badannya yang membesar.

“Saya berdiri saja agar kelihatan lebih langsing.” Sesekali artis boleh ajukan permintaan kan ke sutradara.
“Boleh Ma.”

Sama dengan proses pengambilan gambar sebelumnya,  pengambilan gambar diulang beberapa kali.

“Cut! Agak miring Ma, biar kesannya kurus sedikit.” Mulai deh.
“Cut! Perutnya bisa ditutupi sedikitkah? Pakai buku atau apa gitu.” Ini anak meledek atau apa yah.
Tapi demi sebuah video saya pasrah sajalah.

Akhirnya video selesai, sang editor memperlihatkan hasil editannya.
“Ih, jelek. Kenapa badan semua isinya.” Saya kaget lihat videonya.
“Mama kan berdiri, jadinya kelihatan semua badannya.” Kamerawan bela diri.
“Ya sudah hapus saja yang ada saya, pakai slide saja.”
“Hii, capek-capek direkam ujung-ujungnya tidak digunakan.” Giliran dia yang menggerutu.

Sumber pribadi

Tadaaa… video selesai, isinya semua slide tanpa badan saya.
Gagal deh jadi artis😃




Oh yah, jika videonya diiringi musik zaman sekarang, maklumi saja yah. Yang bikin anak milenia usia 15 tahun. Usulan bapaknya pakai musik Ebiet G Ade ditolak mentah-mentah.
“Ih sudah tidak zaman Pak.”  

Read More

7 Aplikasi Teknologi Ramah Lingkungan

Friday, March 20, 2020


Teknologi Ramah Lingkungan


Tenaga Surya, Solar, Panel Surya, Energi Surya
Sumber Foto: Pixabay.com

Apa yang terbersit di pikiran sahabat  saat mendengar kata teknologi?

Apakah itu berhubungan dengan peralatan? Atau berhubungan dengan cara, atau sarana?
Mari melihat pengertian teknologi ditinjau dari bahasanya
Menurut KBBI V daring, teknologi adalah (1) metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis; ilmu pengetahuan terapan, (2)  keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.

Sedangkan menurut beberapa ahli, antara lain Jascques Ellil, “teknologi merupakan  keseluruhan metode yang secara rasional mengarah pada setiap kegiatan manusia dengan ciri efisiensi.”
Gary J Anglin menjelaskan tentang teknologi sebagai ilmu-ilmu perilaku dan alam serta pengetahuan yang diterapkan secara bersistem dan mensistem untuk memecahkan masalah.

Dari pendapat ahli serta KBBI daring tersebut, maka kita bisa menyimpulkan, bahwa teknologi adalah cara, proses, alat dan segala kegiatan maupun ide yang dibuat dan dikembangkan untuk memudahkan aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari.



Baca juga informasi ilmu lainnya di sini 



Teknologi Ramah Lingkungan


Dalam perkembangannya, teknologi mengalami kemajuan yang luar biasa, sayangnya perkembangan itu berdampak buruk bagi lingkungan. Misalnya, teknologi pengeboran minyak bumi pada tahun 1859 di mana minyak bumi dipompa keluar dari dasar bumi. Ada pula teknologi destilasi minyak bumi yang  mengubah minyak bumi menjadi bahan bakar.

Ada juga penggunaan batubara untuk pembangkit listrik, lalu tahun 1885 Carl Benz menemukan mesin yang dapat bergerak menggunakan bahan bakar bensin. Sehingga  hampir 40% manusia memenuhi kebutuhannya dari minyak bumi.
Namun, salah satu  dampak buruk yang dihasilkan dari penggunaan  minyak bumi adalah pencemaran udara.

Hal inilah yang mendasari munculnya teknologi ramah lingkungan, di mana pembuatan dan penerapannya menggunakan bahan baku  dengan limbah yang minimal sehingga mengurangi bahkan bisa mencegah pencemaran lingkungan.

Bentuk teknologi yang memperhatikan prinsip-prinsip pelestarian lingkungan merupakan penerapan teknologi ramah lingkungan, dalam penerapannya itu, maka teknologi ramah lingkungan harus memenuhi enam prinsip yang disebut 6R.

Refine (menyaring),  memanfaatkan sumber daya alam yang ramah lingkungan
Reduce (mengurangi),  mengoptimalkan penggunaan bahan yang ada demi mengurangi jumlah limbah.
Reuse (penggunaan kembali), adalah menggunakan kembali bahan yang tidak terpakai.
Recycle (daur ulang), merupakan memakai kembali bahan-bahan yang tidak terpakai.
Recovery (pemulihan), memanfaatkan bahan tertentu dari limbah kemudian diproses untuk keperluan lain.
Retrieve Energy (ambil energi), berarti penghematan energi pada suatu produksi.


Baca juga tentang tokoh sastra di sini
Miliki kulit putih dengan konsumsi buah ini


Aplikasi Teknologi Ramah Lingkungan



Aplikasi teknologi ramah lingkungan semakin berkembang, terlihat dari penerapannya di beberapa bidang, seperti bidang energi, bidang lingkungan, bidang industri, bidang rumah tangga, dan lainnya.
Terdapat berbagai jenis teknologi ramah lingkungan yang berhasil diciptakan manusia, berikut ini beberapa contohnya.



Biobag atau Ecoplas

Sumber foto: biobagusa.com


Ini adalah tas yang terbuat dari tepung singkong dan polimer sintetik.  Tepung singkong dapat terurai sampai hancur sehingga tas ini tidak menimbulkan pencemaran pada tanah maupun air. Tas ini lebih ramah lingkungan dibanding menggunakan tas plastik atau kantong plastik.


Menanami Atap Rumah



Atap rumah dijadikan taman, hal ini diilhami dari Taman Gantung Babiloni, yaitu salah satu bagian dari Istana Babilonia. Taman ini bisa mengurangi karbon dioksida dan menyerap panas, sehingga tidak menimbulkan pencemaran udara.


Bioremidiasi



Proses ini menggunakan tanaman untuk menetralisir arsenik dari tanah, memanfaatkan mikroba dan tanaman untuk membersihakan kontaminasi.


Buku Elektronik


Pemasaran Digital, Teknologi, Buku Catatan, Statistik
Sumber foto: Pixabay.com

Buku ini lebih dikenal sebagai e-book. Hal ini berguna untuk mengurangi pemakaian pohon. Sebagaimana kita ketahui, kertas yang dijadikan buku, majalah, koran berasal dari pohon. Penggunaan e-book dapat menekan produksi kertas yang berimbas pada kurangnya penebangan pohon untuk dijadikan kertas.


Selain beberapa contoh penggunaan teknologi ramah lingkungan tersebut di atas, dunia juga mengenal berbagai bangunan yang dibangun dengan teknologi ramah lingkungan. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

Air Tree di Spanyol



Sumber foto: nationalgeographic.com

Bangunan ini dibangun di Madrid yang terbuat dari berbagai bahan-bahan daur ulang. Bangunan ini dilengkapi juga dengan tenaga surya yang berasal dari panel photovoltaic yang berfungsi menyirami tanaman yang ada di Air Tree ini.   

The Reichstag di Berlin



Sumber Foto: originalberliantours.com

Gedung pemerintah ini adalah gedung parlemen tempat para pejabat pemerintah Berlin bekerja. Gedung ini  menggunakan kaca dan cermin yang berfungsi memantulkan cahaya matahari sejauh mungkin, tujuannya agar bangunan tidak bergantung pada penerang buatan. Selain itu, gedung ini dapat pula mengumpulkan air hujan dan mengumpulkan sumber energi. 

The Science Barge di New York



Sumber foto: ryerson.com

Bangunan ini adalah  rumah kaca di atas Hudson River, New York yang dilengkapi dengan tenaga surya di mana tenaga surya itu digerakkan dengan bantuan angin dan bahan bakar bio. Tanaman dalam bangunan ini dikembangakn dengan cara hidroponik. 

Demikianlah beberapa contoh penerapan teknologi ramah lingkungan. Jika sahabat memiliki informasi baru, silahkan tambahkan di kolom komentar ya.


Sumber bacaan:
Buku IPA Kelas 9 terbitan Kemendikbud RI, 2017
Environmnet-indonesia.com



Read More

Menulis di Media Sosial Ada Etikanya

Thursday, February 27, 2020


Menulis di Media Sosial Ada Etikanya

Sumber: Pixabay.com

Bergabung dengan beberapa grup media sosial, seperti grup whatsApp membuka mata saya, kalau ternyata masih banyak yang belum memahami cara  menulis yang baik dan benar di media sosial.

Padahal media sosial itu sudah ada sejak awal tahun 2000, itu artinya keberadaan media sosial sudah memasuki dua dasawarsa. Walau tak dapat dipungkiri, kalau baru satu dasawarsa ini media sosial menjadi sangat populer.

Begitu populernya, sehingga semua lapisan masyarakat dari anak-anak hingga orang sepuhpun piawai menggunakannya. Sayangnya, kelincahan menggunakan media sosial sebagai salah satu sarana bersilaturahim, tidak diikuti dengan kecerdasan dalam menulis.

Sebenarnya ajakan menulis yang baik dan benar di media sosial itu sudah lama dan sudah banyak yang bagikan. Bagaimana etikanya menulis di media sosial, gambar atau foto apa yang layak dibagikan, berita apa saja yang bisa di-share, dan sebagainya.

Tetapi  masih banyak yang belum memahami hal itu, bahwa etika dalam berkomunikasi di media sosial atau di internet pada dasarnya sama saja etika di dunia nyata.

Ada tiga hal yang sering diabaikan oleh pengguna media sosial, di mana hal yang terabaikan itu cenderung membuat pengguna media sosial seakan  tidak beretika dan kurang cerdas.

Ketiga hal itu adalah penggunaan huruf kapital, penempatan tanda baca, dan menyingkat kata.

Baca juga rahasia menulis di sini


Penggunaan Huruf Kapital


Pernahkah sahabat membaca tulisan di  media sosial yang menggunakan huruf kapital semua? Apa yang sahabat rasakan?

Sebelumnya, mari menyimak dahulu pengertian dan fungsi dari huruf kapital.
Huruf kapital atau biasa disebut huruf besar, dalam KBBI diartikan sebagai (1) modal (pokok) dalam perniagaan; (2)  besar (tentang huruf seperti A, B, C, dan seterusnya).

Sedangkan menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), huruf kapital dipakai sebagai: huruf pertama awal kalimat, huruf pertama unsur nama orang, huruf pertama nama agama, kitab suci, huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, atau akademik yang diikuti nama orang, huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang, dan dipakai pada awal kalimat dalam petikan langsung. (PUEBI Daring).

Menilik dari petunjuk penggunaan huruf kapital tersebut, maka menulis di media sosial  yang menggunakan huruf kapital semua adalah tidak sesuai PUEBI.

Menulis  kata atau kalimat dengan huruf besar semua di media sosial bermakna “teriak” atau shouting, sehingga bisa dikategorikan melanggar etika internet (netiket).

Selain itu, kata atau kalimat yang ditulis dengan huruf kapital semua di media sosial tidak ramah pengguna, sulit dibaca, dan sulit dipindai.


Bagaimana perasaan sahabat membaca kalimat berikut?

DISAMPAIKAN KEPADA BAPAK DAN IBU, AGAR SEGERA MENGUMPULKAN BERKASNYA.

Bandingkan dengan kalimat berikut.

Disampaikan kepada bapak dan ibu, agar segera mengumpulkan berkasnya.

Kalimat pertama memberi kesan kesal dan berteriak, sedangkan kalimat kedua, kesannya penulis adalah orang yang ramah dan sopan.

Penggunaan Tanda Baca

 
Sumber: Pixabay
Dalam KBBI, tanda baca adalah tanda yang dipakai dalam sistem ejaan (seperti titik, koma, titik dua). Terdapat pula tanda tanya, yaitu (1) tanda baca (?) yang terdapat pada akhir kalimat tanya, (2) sesuatu  yang memerlukan jawaban atau kebenarannya masih diragukan.

Selain itu, KBBI menjelaskan tentang tanda baca lainnya, yaitu tanda (!) yang  dipakai sesudah ungkapan dan pernyataan yang berupa seruan atau perintah, yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau rasa emosi yang kuat.

Namun, penggunaan tanda baca terutama tanda seru oleh pengguna media sosial terkadang tidak pada tempatnya sehingga kesannya seakan sangat marah.

Contoh.

Disampaikan kepada bapak dan ibu, agar segera mengumpulkan berkasnya!!!!!

Kalimat di atas tidak perlu menggunakan tanda seru, sekalipun tujuannya menyeru atau menghimbau karena berkesan kalau penulis lagi kesal, kecuali si penulis memang sangat marah.

Penggunaan tanda tanya (?) juga kadang terlupakan atau malahan berlebihan.
Contoh.

Siapa yang mengajar hari ini?????

Bandingkan dengan kalimat  berikut.

Siapa yang mengajar hari ini?

Ada pula tulisan yang semestinya menggunakan tanda tanya, tetapi tidak digunakan, akibatnya pembaca atau penerima pesan menjadi bingung.

“Saya ingin ke rumahmu, bapak ada.” 

Kalimat di atas bisa bermakna ganda, mengabarkan akan ke  rumahmu bersama bapak, atau mengabarkan mau ke rumah akan bertemu bapak.
Tentu  berbeda maknanya jika ditulis seperti berikut.

“Saya ingin ke rumahmu, bapak ada?”


Berhentilah Menyingkat Kata!



“Hdpq bersm suamiq sdh bahgia, tak perlu apa2 lg. Hai pr netizn urslh hidp kln msg2 jng urs hdpx org ln.”

Mungkin kalimat di atas bisa dibaca dan dipahami maksudnya, tapi kita pegal membacanya, iya kan?

Apakah tidak boleh menyingkat kata?

Boleh, asal sesuai dengan kaidahnya seperti kaidah-kaidah menyingkat kata berikut ini.

Menyingkat kata nama,  gelar, dan jabatan
Menyingkat nama, gelar, atau jabatan, huruf awal dituliskan dengan diikuti tanda titik di setiap singkatan tersebut. Misalnya,
Sarjana Ekonomi menjadi S.E
Abdul Malik Islami menjadi A.M.Islami

Menyingkat Nama Lembaga
Untuk penyingkatan nama lembaga, saat menuliskan singkatannya maka kita cukup menuliskan huruf depannya saja tanpa menambahkan titik di setiap huruf singkatannya. Misalnya,
Dewan Perwakilan Rakyat menjadi DPR
Universitas Negeri Makassar menjadi UNM

Menyingkat lambang kimia, satuan timbangan dan takaran
Satuan timbangan, takaran, dan lambang kimia, sahabat cukup menuliskan huruf depannya saja tanpa menambahkan titik.
Misalnya,
Oksigen = O
Kilogram = Kg

Menyingkat kata lainnya
Ada pula kata-kata lain yang bersifat umum dapat disingkat, dan aturannya menambahkan titik di akhir kata.
Seperti,
Dan lain lain = dll.
Dan sebagainya = dsb.


Demikian sedikit informasi tentang menyingkat kata.

Yuk, menulis dengan baik dan benar di manapun, terutama di media sosial agar kita tidak terkesan kurang cerdas dan alay.

Apa pendapat sahabat dengan kalimat di bawah ini?

“HDPQ BERSM SUAMIQ SDH BAHGIA, TAK PERLU APA2 LG!!!!

HAI PR NETIZN URSLH HIDP KLN MSG2 JNG URS HDPX ORG LN, NGRTI G???

Read More