Refleksi Diri; Dua Tahun Menjalani Masa Pensiun

Thursday, August 6, 2026


 

Refleksi Diri/ www.mardanurdin.com



"Bukankah setelah pensiun hidup akan lebih santai?"

 

Sering sekali teman-teman yang akan pensiun bertanya seperti kalimat di atas. Mungkin itu cara penghiburan diri menjelang masa pensiun datang. Atau mungkin, pertanyaan itu dilontarkan tatkala sudah lelah  bekerja dan  mengikuti ritme kerjanya guru-guru muda yang gesit. 


Namun, saya  tidak pernah melontarkan pertanyaan seperti itu. Sebab jauh sebelum masa pensiun itu tiba, saya sudah menyusun planing  terstruktur. 

 

Ada banyak hal yang akan saya lakukan nanti. Menulis adalah prioritas pertama dan yang kedua adalah menjahit. Dua kegiatan itu adalah hobi yang selama ini saya tekuni di sela-sela kesibukan mengajar.  


Selain itu, saya berencana akan semakin aktif berorganisasi di Aisyiyah yang selama ini saya ikuti kegiatan Aisyiyah di hari-hari libur saja.


 

Akhirnya Punya Banyak Waktu


 

Teringat jelas hari ketika SK Pensiun itu resmi berlaku. Tanggal 1 Januari 2025. 

Dalam benak saya, berkata, 


"Akhirnya, saya punya banyak waktu." Waktu untuk menulis. Waktu untuk menjahit. Waktu untuk berorganisasi. Waktu yang selama puluhan tahun terasa begitu mahal.”


Hingga suatu sore pada rapat  pengurus pimpinan cabang, hasil rapat  memutuskan saya harus “turun” mengelola TK yang bermasalah sebagai kepala sekolah.


Bismillah, saya terima dengan baik. Saya pikir, 

“Ah, ini hanya sekolah kecil.” 

Tugasnya pasti tidak akan terlalu berat. 

Sekolah yang akan saya pimpin hanya sekolah sederhana dengan jumlah murid sedikit. Paling banyak sekitar dua puluh murid saja. Ditangani oleh dua guru bantu juga, amanlah.

Nyatanya, saya keliru.

 

Dari luar, mungkin orang mengira pekerjaan kami tidak terlalu banyak. Namun, di balik sekolah kecil itu, tersimpan tanggung jawab yang tidak kecil. Saya kembali berhadapan dengan dunia administrasi sekolah yang sebenarnya sudah saya tinggalkan saat pensiun. 


Menyusun berbagai dokumen, membuat laporan, mengatur program sekolah, mempersiapkan berbagai kebutuhan pembelajaran, berkomunikasi dengan orang tua, hingga memastikan sekolah berjalan dengan baik setiap hari.

 

Kadang saya tersenyum sendiri. Rupanya, menjadi kepala sekolah di sekolah kecil bukan berarti pekerjaannya juga kecil. Justru karena jumlah tenaga yang terbatas, hampir semua hal harus ikut saya pikirkan. 


Ada pekerjaan yang bisa didelegasikan, tetapi tidak sedikit pula yang akhirnya harus saya kerjakan sendiri.


 

Anugerah Terindah


 

Refleksi Diri/ www.mardanurdin.com
Dokumen Dawiah


Di balik kerepotan dan lelahnya mengurusi sekolah “sederhana” itu, saya justru merasa senang dan menikmati peran itu. Setiap pagi di jam-jam sekolah, saya disambut wajah-wajah polos nan ceria adalah anugerah terindah yang tidak semua pensiunan bisa merasakannya. 


Semakin bahagia rasanya manakala melihat mereka tumbuh lebih percaya diri, belajar berbagi, berani berbicara di depan teman-temannya, hingga memeluk guru sebelum pulang sekolah adalah kebahagiaan yang tidak ternilai.

 

Anak-anak murid selalu mengingatkan saya bahwa pendidikan bukan hanya tentang mengajar, tetapi juga tentang menyentuh hati. Saya kembali merasakan energi yang sulit dijelaskan. 


Menjadi kepala sekolah bukan hanya tentang administrasi atau memimpin sebuah lembaga. Bagi saya, ini adalah kesempatan untuk menanamkan nilai, membangun karakter, dan menjadi bagian dari perjalanan awal kehidupan anak-anak.


Bukankah itu anuegrah terindah yang tak ternilai harganya?

 

Ada yang Hilang Diam-Diam


 

Namun, di balik semua kebahagiaan itu, ada satu hal yang mulai saya rasakan hilang dari keseharian saya. Saya semakin jarang menulis.

 

Padahal menulis sudah menjadi bagian dari hidup saya. Setoran tulisan di Kelas Literasi Ibu Profesional (Klip) yang sebelumnya saya usahakan konsisten, sekarang sudah jarang  bahkan di semester awal tahun 2026. Saya gagal karena dua syarat tidak bisa saya penuhi, yaitu mereview atau meresensi minimal dua buku. 

 

Blog yang selama ini menjadi rumah buat saya berbagai cerita dan pengalaman juga semakin jarang saya isi. Padahal, blog bukan hanya tempat menyimpan tulisan. 


Blog adalah jejak perjalanan, ruang berbagi, sekaligus pengingat bahwa setiap pengalaman layak diabadikan.

 

Kadang saya membuka halaman blog sendiri dan berpikir, "Sudah lama sekali tidak ada tulisan baru." 


Saya lihat di blog utama mardanurdin.com, tulisan terakhir yang saya posting tertanggal 22 Mey 2026. Blog lainnya, blog lama yang tahun lalu saya kembalikan menjadi blog gratisan terakhir posting September 2025

Belum lagi draf-draf tulisan serta naskah yang sudah tahunan mangkrak. 

 

Begitu pula dengan hobi menjahit.

Mesin jahit yang dulu hampir setiap minggu saya gunakan, kini lebih sering tertutup kain pelindung. 


Sesekali saya memandanginya sambil berkata dalam hati, 

"Nanti ya, kalau sudah ada waktu." 

Sayangnya, waktu itu seperti tidak pernah benar-benar datang.

Ada rasa bersalah karena mengkhianati planing sendiri yang katanya sudah terstruktur itu.

 


Sudah Tidak Adakah Ide?


 

Setelah kembali berkecimpung di dunia pendidikan yang selalu saya cintai, rasanya semakin banyak ide tulisan bermunculan. Ada banyak cerita  yang layak dituliskan. 


Tingkah lucu anak-anak, perjuangan orang tua yang mengatasi drama anaknya yang akan ditinggalkan di sekolah, perjuangan guru honorer, materi pelajaran baru bagi anak PAUD, tantangan mengelola sekolah, hingga pelajaran hidup yang saya peroleh di usia pensiun.

 

Ide-ide itu datang silih berganti. Sayangnya, sebagian besar hanya mampir sebentar sebelum akhirnya raib. 


Saya sadar bahwa kembali mengabdi sebagai guru atau kepala sekolah bukan penghalang untuk terus menulis. Sebab itu bukan dua dunia yang berbeda. Justru keduanya saling menguatkan. 


Pengalaman memimpin sekolah memberi saya cerita yang tak akan pernah habis. Sementara menulis membantu saya mengabadikan pengalaman itu agar tidak hilang ditelan waktu. 


Perlahan saya mulai menyadari bahwa yang hilang bukanlah ide dan kemampuan menulis, melainkan kebiasaan untuk menyediakan waktu bagi tulisan untuk ditorehkan.


Karena pada akhirnya, kesibukan akan selalu datang silih berganti, tapi tulisan yang tidak pernah ditulis akan menjadi cerita yang hilang selamanya.

 

Barangkali yang saya perlukan bukan waktu yang lebih banyak, melainkan disiplin untuk kembali menyediakan ruang bagi menulis. 


Saya tidak mau membiarkan kesibukan menjadi alasan untuk berhenti berkarya. Karena suatu hari nanti, yang akan saya kenang bukan hanya daftar pekerjaan yang selesai, tetapi juga kisah-kisah yang berhasil saya abadikan melalui tulisan.

 

Semoga setelah menulis refleksi ini, saya bisa kembali lebih konsisten mengirimkan tulisan di Klip dan menghidupkan kembali blog yang sudah cukup lama sepi. 


Bukankah setiap perjalanan akan terasa lebih bermakna ketika diceritakan?

 


Melirik Mesin Jahit

 

 

Hobi kedua ini sebenarnya tidak pernah benar-benar saya tinggalkan. Setiap pikiran sumpek, saya pasti datang dan duduk di depan mesin jahit. Sekadar menjahit pakaian yang sobek sudah bisa membuat hati terasa lebih ringan.

 

Ada ketenangan yang sulit dijelaskan ketika menghamparkan kain di atas meja lalu mengatur pola, menggunting, dan merader.  


Demikian pula ketika mulai menjahit. Saat kaki menekan dinamo mesin jahit, tangan mengarahkan kain, dan jarum bergerak naik turun dengan irama yang teratur. 


Bunyi mesin jahit seolah menjadi musik yang menenangkan, mengusir penat yang selama ini memenuhi kepala.


Menjahit bukan hanya soal menghasilkan produk, seperti pakaian, taplak meja, dan lainnya. Menjahit bagi saya adalah cara saya merawat jiwa.  


Di sela-sela suara mesin jahit, saya belajar berdamai dengan pikiran, mensyukuri waktu yang Allah berikan, dan menemukan kembali kebahagiaan dalam hal-hal sederhana yang sering kali terlupakan.

 

Pada akhirnya saya menyadari bahwa menjadi kepala sekolah atau mengajar, menulis dan menjahit adalah tiga kegiatan yang harus saya rawat sebagai bentuk rasa syukur saya kepada-Nya. 



Refleksi diri; dua tahun menjalani masa pensiun
Dokumen Dawiah



Makassar, 6 Agustus 2026



       Dawiah












 

 

 

 

 

Read More