Renungan Satu Dekade

Thursday, January 2, 2020



 Renungan satu dekade


Awal tahun 2020 Masehi, saya melihat banyak yang menuliskan keberhasilannya selama satu dekade.  Mungkin niatnya sebagai   bentuk rasa syukur atas semua pencapaiannya.

Atau bisa jadi sebagai pemicu untuk lebih baik lagi pada tahun ini. Wallahualam.

Saya menulis renungan satu  dekade ini niatnya adalah  untuk mengenang  apa saja yang telah saya alami selama itu, sekaligus untuk mengusik hati dan pikiran saya, agar lebih baik di masa yang akan datang.


10 tahun itu adalah waktu yang lama, tapi berada sesudah masa itu berlalu justru terasa  sangat singkat. Terutama kenangan dan  rentetan kejadian yang membekas dalam ingatan. Seakan hal itu baru kemarin terjadi.
Baik itu kejadian baik maupun kejadian buruk.

Bukankah yang membekas dalam ingatan itu hanya dua? Yaitu kebahagiaan dan kesedihan.  Peristiwa yang biasa-biasa akan berlalu begitu saja bahkan  bisa jadi terlupakan.

Bagaimana dengan Masa Satu Dekadeku?


Hampir satu dekade memikul tanggung jawab sebagai kepala sekolah  di sekolah yang berstatus swasta.
Banyak hal  menakjubkan yang saya alami. Mendengar keluh kesah guru honorer, melihat semangat luar biasa mereka, tetap tampil modis walau dompet menipis, senyum manis padahal hati meringis.

Tiga bulan tak terima honor sebab dana BOS belum cair. Sekalinya cair langsung amblas, bayar utang dan cicilan.

Saya membersamai mereka, terus menyemangati dan menjanjikan, bahwa mungkin kalian kurang uang tapi yakinlah akan berlimpah pahala selama ikhlas membagi ilmu.

Kadang dihujat diam-diam, bahkan diumpat melalui   media sosial. Disebut sebagai pemimpin zalim.

Saya tahu tapi pura-pura tak tahu. Tak penting saya layani, karena hanya akan mengotori jiwa dan akan menyurutkan semangat.

Jika mata batinnya terbuka suatu saat, maka pastilah penyesalan mendera.
Manakala mereka tahu, bahwa apa yang disangkakan tidaklah  demikian adanya.

Bukan perkara mudah mengelola manajemen peninggalan pemimpin sebelumnya  yang terlanjur amburadul,  juga   menata administrasi yang porak poranda.

Merangkul hati yang kecewa karena gagal berada di posisi yang ia perjuangkan. Mengajak kerja sama orang-orang yang tak biasa kerja tim, memberi ruang bagi jiwa yang selalu merasa jemawa, tak biasa diperintah karena biasanya memerintah.

Kompleks!

Banyak kisah pilu namun tak sedikit yang membahagiakan. Manakala melihat murid-murid berhasil menamatkan sekolahnya lalu melanjutkan  ke sekolah yang lebih baik sarana dan prasarananya.

Bahagia  saat  mendengar cerita mereka, bahwa berkat ajaran disiplin yang saya terapkan membuat mereka tak kagok dengan sekolah baru dengan penerapan disiplin yang tinggi.

Kadang berjumpa dengan orang tua murid yang manis di depan tapi sinis di belakang. Ah, jangankan orang tua, gurupun ada yang begitu.
Pura-pura baik tapi berusaha menusuk dari belakang.

Saya pikir  itu biasa.

Itu baru kepala sekolah belum jadi camat, wali kota, gubernur, apalagi presiden. Pastilah lebih banyak lagi orang yang menghujat mereka.
Saya mengibaratkan,  bicara manis saat disuguhi kopi manis, saat  gulanya habis maka tersisa kopinya. Pahit.

Sepahit mulut, sikap, dan gerakannya. Arragh!

mardanurdin.com
Foto menjelang perpisahan tahun 2018
Foto studio Elegan Makassar



Kunjungan ke Benteng Rotherdam tahun 2011



mardanurdin.com
Kegiatan Gerakan Literasi Sekolah tahun 2017

Baca juga:  Bermunajat dan Bermuhasabah    dan     Curahan Hati 


Jangan Meninggalkan Jejak Buruk


Satu dekade berlalu, saya masih di sini. Di dunia pendidikan yang saya cintai. Akan terus di situ hingga ajal menjemput.
Mungkin saya akan pensiun  mungkin juga tidak. Terserah jalan hidup apa yang diberikan oleh Allah. Saya hanya menjalaninya dan berusaha melakoninya dengan sebaik-baiknya.

Menjadi kepala sekolah atau tidak, sama saja. Tetap guru judulnya.

Setidaknya saya pernah di posisi itu. Bisalah bercerita ke anak cucu kelak dan menjadikannya bahan pembelajaran.

Bahwa menjadi pemimpin walau sekecil apapun, akan tetap dimintai pertanggung jawaban kelak di hadapan Allah Swt.

Mungkin saya bukan pemimpin yang baik, banyak kesalahan yang saya lakukan, banyak hati yang saya lukai oleh sikap, perkataan dan kebijakan yang saya ambil.

Kadang jemawa mungkin juga sedikit congkak. Wallahualam.

Saya hanya berharap, siapapun yang saya sakiti mau dan ikhlas memaafkan saya sebagaimana saya telah ikhlas memaafkan orang-orang yang telah berbuat tidak baik  terhadap saya.

Menata Hati Menata Tulisan


Sebenarnya saya sudah ada draf  tulisan tentang suka duka menjadi kepala sekolah di sekolah swasta. Tapi saya masih dalam proses menata hati.

Kenapa menata hati, bukannya menata tulisan?

Setelah saya baca-baca ternyata tulisan itu ada sedikit tendensi rasa kecewa, sakit hati, dan amarah.
Karenanya saya simpan beberapa saat. Saya tidak mau meninggalkan jejak buruk dalam hidup sekalipun hanya lewat tulisan.

Bukankah tulisan itu abadi seabadi peredaran zaman?

Mungkin tulisan saya itu tidak sebagus dan seabadi tulisannya penulis-penulis legenda, seperti Buya Hamka, Pramoedya, Marah Rusli, Pipiet Senja, dan lainnya. 

Mungkin pula tidak sepopuler tulisan karya penulis ngetop seperti Agatha Cristy, Tere Liye, Asma Nadia, Helvy Triana Rosa, dan yang lainnya.

Tetapi setiap hal yang kita lakukan di dunia, kelak akan dimintai tanggung jawab di akhirat sekalipun hanya sebiji sawi, termasuk tulisan.

"(Luqman berkata), “Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha Halus, Maha Mengetahui."                                                                                                  (QS. Luqman: 16)

Tulisan bagaikan perkataan, jika sudah keluar dan dibaca orang maka tulisan itu tidak bisa lagi ditarik atau disembunyikan.  

Cukuplah dengan dosa-dosa masa lalu yang terlanjur tercatat dalam kitab malaikat, dan saya berusaha terus menerus mohon ampunan atas semua itu sembari berdoa,  semoga dilindungi dari godaan setan yang setiap saat mengintai dan merayu agar menjadi pengikutnya. Nauzubillah.

Selamat menjalani hari-hari di tahun 2020. Semoga kita masih bisa bersua di tahun berikutnya.


Read More

Makan Jalangkote Lorong Sambil Begadang

Wednesday, December 18, 2019


Makan Jalangkote Sambil Begadang di Jalangkote Lorong 


Assalamualaikum.

“Anak-anak, apakah kalian kenal makanan ringan ini?” Saya bertanya ke muridku sambil memperlihatkan gambarnya.

Sontak mereka menjawab.
“Kenaaal Bu!”

Hahaha…. nih bu guru suka iseng sama muridnya. Siapa juga warga Makassar yang tidak kenal makanan ringan yang bentuknya mirip pastel ini.
Jalangkote, itulah nama penganan khas Makassar. Seantero Makassar sangat mengenalnya.

Perbedaan Jalangkote dengan Pastel


Banyak yang  mengira, kalau jalangkote dan pastel adalah makanan yang sama, padahal berbeda.

Bentuknya serupa tetapi kue pastel memiliki kulit yang tebal sedangkan kulit jalangkote lebih tipis. Isiannya juga berbeda.

Pada umumnya pastel berisi bihun, wortel, telur, atau kadang sedikit daging ayam. Sedangkan jalangkote isinya lebih lengkap, yaitu wortel, kentang, tauge, bihung, daging ayam atau daging sapi yang dicincang halus, dan telur.

Pastel biasanya dimakan dengan cabai rawit sedangkan jalangkote dimakan bersama sambal.
Nah, sambal jalangkote juga khas. Cabai rawit dicampur air cuka, gula pasir, dan bawang putih yang dicincang halus.

Jalangkote Lorong


Adakah  sahabat pembaca yang belum pernah berkunjung ke Makassar?
Ke Makassar yuk!

Kalau sahabat ke Makassar, tak lengkap rasanya jika belum menikmati penganan gurih ini.
Di mana mendapatkannya?

Penjual jalangkote di Makassar lumayan banyak dan tersebar di banyak tempat. Tetapi jika sahabat lagi kena “penyakit” mager alias malas gerak, gampang.

Tinggal gunakan gadgetnya, cari di aplikasi Gojek atau Grab maka akan terlihat berbagai tempat yang menjual jalangkote.

Nah, supaya sahabat tidak bingung karena banyaknya pilihan yang tersedia, langsung ketik saja JALANGKOTE LORONG, maka langsung muncul deh gambar jalangkote yang menggoda selera.


Saya rekomendasikan jalangkote ini, karena saya sudah mencobanya.

Ceritanya nih, saya dikirimi oleh pemiliknya sicantik Rahayu Rajab, itu kejadian beberapa hari lalu. Kebetulan sekali, saya sekeluarga sangat suka penganan ini.

Begitu paket jalangkote dibuka, anak-anak langsung menyerbu sambil berseru.

Sikaaat!

Refleks saya balas berseru, “Tungguuu, saya mau foto dulu, hahaha…”

Sumber pribadi 

Sumber IG Jalkot_lorong

Habis foto-foto dalam keadaan utuh, saya tinggalkanlah jalangkote tersebut.
Saya sibuk pilih-pilih foto jalangkote, untuk   dipajang di instagram.

Pas saya berbalik, masya Allah!
Jalangkotenya sisa satu biji.

“Wuih hampir-mi tidak nu-sisakanka.”
“Maaf Mak, kami kalap. Barusan-ku makan jalangkote seenak ini.” kata Ami.
“Ah, masa?”
“Coba maki Mak, gurih sekali isinya.” Katanya lagi meyakinkan.

Dan tadaaa…
Jalangkote lorong langsung amblas di mulut saya, daaan yang terjadi saudara-saudara saya lupa foto tampilan isiannya hahaha…

Betul kata Ami, isian jalangkote lorong ini sangat  gurih, padat, dan lengkap. Ada wortel, kentang, laksa, tauge, daging cincang dan telur.   
Selain itu, kulit jalangkotenya juga renyah dan tidak melempem jadi saat digigit, terasa kriuk-kriuk maknyus.

Sambalnya juga sangat maknyus, pas di lidah deh pokoknya.

Oh yah, menurut pemiliknya Rahayu Rajab, walaupun Jalangkote Lorong  baru fokus sejak 4 bulan terakhir ini, namun sudah bisa menjual lebih 100 biji perhari. 
Dan kebanyakan pelanggannya membeli lewat online.

Tapi kalau sahabat mau berkunjung dan penasaran dengan tempat usahanya, silahkan datang saja ke Jl. Jalahong Dg Mattutu no.104 Makassar  

Kabar baiknya lagi, sahabat bisa memesan jalangkote di JALANGKOTE LORONG sampai jam 22.00. Jadi bisa dinikmati sambil begadang kan?

Masih penasaran dengan Jalangkote lorong?  

Sumber pribdai


Kepoin instagramnya yuk!  


#13tahunBloggerAM
#AMdukungUMKM


Read More

Bermunajat Demi Meraih Mugabat Ilahi

Wednesday, December 11, 2019

Bermunajat dan Bermuhasabah Demi Meraih Mugabat Ilahi

Kalau bukan  sahabat dan murid-murid saya   yang mengucapkan selamat milad melalui  grup whatsAap  maka pastilah hari ini berlalu begitu saja.

Mereka mengingatnya sedang saya lupa, astagfirullah! Pertanda apakah itu?
Jangan bilang karena faktor usia yah. Karena sejak dahulu saya memang selalu lupa soal tanggal kelahiran saya. Soalnya tanggalnya pas di tengah, di mana tanggal gajian sudah lewat sepuluh hari.

Andai tanggal kelahiran saya berada di awal bulan, pasti akan selalu saya ingat seiring dengan munculnya  ingatan akan tanggal gajian, heuu..

Ais … itu alasan saja, nda ada hubungannya kan?

Walau begitu, saya patut bersyukur telah dikaruniai umur sebanyak ini. Berarti malam ini, di saat saya menulis tulisan ini, secara sahih usia saya sudah 55 tahun lebih beberapa jam.

Karena  kata  mama, saya lahir pas matahari menampakkan cahanya.   


Tiba-tiba saya merasa melankolis dan sangat takut akan sesuatu yang saya tidak tahu itu apa. Saya teringat keluarga, sahabat, dan teman yang telah lama pergi menghadap Sang Ilahi sebelum usianya mencapai usia 50 tahun.

Mereka tak diberi waktu untuk menanti, jangankan menanti hari esok, sedetikpun tidak. Waktunya tiba dan saat itu pula ia diambil lalu namanya berubah menjadi jazad, setelahnya ia dilabeli tambahan nama almarhum atau almarhumah.

Lalu mengapa saya begitu jemawa mendapatkan usia sebanyak itu?
Jantung serasa berhenti mengalirkan darah dan perlahan-lahan mata ini menjadi basah.  

“Apa yang kamu banggakan wahai jiwa yang angkuh?”
Tunduklah!

Renungkan semua perbuatanmu di masa lalu.


Bersujud dan tangisilah dirimu!
Sesungguhnya dirimu itu sangat kotor, kalau saja Allah Ta’ala tidak menutup aibmu, maka pastilah tak ada satu makhlukpun yang akan mendekat karena kebusukan dosamu.

Astagfirullah!
Astagfirullah!
Astagfirullah!

Di usia 55 tahun ini, saya bermunajat kepada-Mu.
Berilah hamba kesempatan untuk memperbaiki diri, lindungilah jiwa lemah ini dari godaan setan yang terus menerus mengintai hati yang terlengah.

 “Dan Tuhanmu Maha Pengampun, memiliki kasih sayang. Jika Dia hendak menyiksa mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan siksa bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu tertentu (untuk mendapat siksa) yang mereka tidak akan menemukan tempat berlindung dari-Nya)” ( QS: Al-Kahf ayat 59). 

Membaca surat Al Kahf di atas, harapan saya menyeruak, bahwa janji Allah pasti nyata adanya. Dia akan menepatinya. Kasih sayang-Nya telah menaungi  jiwa-jiwa yang nelangsa.

Biarlah masa itu berlalu. Saya telah diberi usia hingga saat ini, itu bertanda Allah masih memberi kesempatan untuk memperbaiki diri.

Bagitu yakinkah dirimu akan diampuni?

Yah! Saya sangat yakin.

Bukankah Allah Ta’ala berfirman melalui hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, bahwa:
“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku…”(HR.  Bukhari nomor 6970 dan Muslim 2675).   
Maka hadiah yang harusnya saya syukuri seiring dengan bertambahnya usia, adalah saya  masih diberi kesempatan untuk  bermuhasabah. Setidaknya sampai jatah umur saya habis.

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh (bahwa) mereka akan mendapat ampunan dan pahala yang besar.” (QS:  Al-Maidah: 9).

Maka harapan apa yang paling ingin saya wujudkan dengan bertambahnya usia ini?

Bimbinglah diri ini yah Allah, agar tetap menjaga iman dan beramal saleh  demi meraih  ampunan-Mu serta mendapatkan pahala yang besar.

Tunjukkanlah jalan yang lurus, jalan yang Engkau ridhoi jalan menujuh mugabat-Mu. Aamiin.

Selamat berkurangnya jatah umurmu Dawiah!

Baca juga cerita ulang tahunnya suami tercinta di sini
Read More

Menjelang Keberangkatan Haji, Ketahui 6 Hal Ini

       Bismillahirrahmanir rahim

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi yang sanggup mengadakan perjalanan ke baitullah.” (QS Ali-Imron 97).
 
Sumber pribadi 

Jika sahabat telah dianugerahi rezeki berangkat haji, selain melakukan persiapan-persiapan teknis, seperti yang saya tuliskan pada postingan sebelumnya, maka sangat penting pula mengetahui kegiatan-kegiatan apa saja yang harus dilakukan menjelang keberangkatan haji.

Berikut ini saya tuliskan enam  hal yang perlu diketahui dan disiapkan sebelum berangkat dan tiba di Arab Saudi.

    1. Menjaga Kondisi Kesehatan


Secara prosedural pemerintah sudah melaksanakan kewajibannya. Memeriksa kesehatan calon jamaah haji, memberi pengarahan, bahkan mengecek kebugaran melalui latihan fisik ringan.

Namun itu sama sekali tak ada gunanya,  jika calon jamaah haji tidak menjaga sendiri  kondisi kesehatannya.

Lalu, apa yang saya lakukan?

Pertama, saya mulai rajin berolahraga. Jalan kaki selepas salat subuh, minimal 30 menit jalan kaki. Selain itu, setiap hari Sabtu atau Ahad pagi saya meluangkan waktu olahraga, lari-lari kecil dan atau jalan kaki.

Kedua, saya semakin rajin konsumsi buah dan sayuran. Mulai mengurangi asupan nasi, gula dan turunannya, juga makanan yang berbahan dasar terigu dan makanan berminyak.

Ketiga, mengurangi ngemil dan minum kopi. Karena saya penyuka kopi.  Setiap hari, saya bisa minum kopi dua hingga tiga cangkir. Nah, kebiasaan ini saya kurangi hingga akhirnya berhenti minum kopi.

Masya Allah, efeknya sungguh luar biasa. Badan rasanya ringan dan segar. Bahkan berat badan saya turun hingga 2 kg.


    2. Selesaikan Urusan Pribadi, Dinas dan Sosial Kemasyarakatan



Yang tak kalah pentingnya adalah menuntaskan semua urusan-urusan di tanah air. Misalnya, sahabat punya utang, maka bayarlah sebelum berangkat. Kan tak elok, jika sahabat berangkat ke tanah suci beribadah tetapi meninggalkan utang kepada orang lain.

Bayarlah semua tagihan-tagihan, seperti tagihan  listrik, tagihan air atau PDAM, tagihan internet  untuk satu bulan berjalan. Siapkan pula untuk satu bulan ke depan, nah kalau yang ini bisa dititipkan kepada keluarga untuk dibayarkan pada bulan berikutnya. 

Bagi sahabat yang berstatus ASN atau karyawan suatu perusahaan, maka ajukanlah surat cuti segera setelah mengetahui jadwal keberangkatannya.


    3. Siapkan Bekal Untuk Keluarga yang Ditinggalkan



Berhubung jamaah haji reguler akan tinggal selama kurang lebih 40 hari, maka sangat penting menyiapkan bekal untuk keluarga yang akan ditinggalkan.
Masa iya, anak-anak dan keluarga yang akan ditinggalkan dalam keadaan kekurangan pangan.

Olehnya itu, periksalah  kecukupan bahan makanannya, ini berlaku untuk bahan makanan yang bisa disimpan lama, seperti beras, minyak kelapa, gula pasir, dan sebagainya.

Untuk kebutuhan makanan yang tidak tahan lama, seperti ikan dan sayuran, maka bekalnya dalam  bentuk uang belanja yang bisa dititipkan kepada anggota keluarga yang dipercaya, agar keluarga terutama anak-anak terjamin dan terpenuhi kebutuhannya selama sahabat berada di tanah suci.


    4. Menyiapkan Dokumen


Salah satu barang bawaan yang paling penting disiapkan adalah dokumen. Dokumen itu berupa Surat Panggilan Masuk Asrama (SPMA), bukti setor pelunasan ONH warna biru, buku kesehatan, buku paspor, dan KTP.

Walaupun KTP tidak digunakan di Arab Saudi, karena sudah ada paspor dan surat visa, tetapi tak mengapa dibawa untuk penanda identitas diri.

Jika sahabat merasa perlu uang belanja tambahan selain living cost yang nantinya akan diberikan menjelang keberangkatan, maka bolehlah membawa uang tambahan.

Kalau tak mau repot, uang rupiahnya  ditukarkan terlebih dahulu ke bank di tanah air. Tapi saya sarankan, lebih baik membawa kartu ATM juga untuk jaga-jaga.

Berdasarkan pengalaman saya, nilai tukar rupiah ke mata uang riyal lebih murah jika langsung menarik via ATM dibandingkan menukarnya di bank atau di money changer.


    5. Apa yang Dilakukan Selama Berada di Asrama Haji Embarkasi



Pada saat kedatangan di Asrama Haji Embarkasi, jemaah haji harus menyerahkan Surat Panggilan Masuk Asrama  (SPMA) dan bukti setor lunas BPIH warna biru ke petugas dan mengumpulkan koper  besar ke panitia bagian pengumpulan koper.  Koper ini langsung dibawa ke bandara dan akan diterima kembali  setelah tiba di Arab Saudi.

Jemaah haji akan menginap semalam di asrama haji embarkasi dan akan mengikuti beberapa kegiatan, antara lain:

  • Pemeriksaan kesehatan dan pemberian masker, botol semprot, tissu, dan kantong kencing.
  • Pemberian gelang identitas sekaligus berkenalan dengan jemaah haji lain yang berada dalam satu kloter. Terutama berkenalan dengan anggota kelompok dan regu dan yang tak kalah pentingnya, berkenalan dengan petugas-petugas haji yang akan menyertai jemaah haji selama dalam perjalanan hingga di Arab Saudi.


Siapa saja para petugas itu?


Dalam satu kloter terdapat petugas operasional yang menyertai jemaah haji yang terdiri dari:

Tim Pemandu Haji Indonesia (TPHI) sebagai ketua Kloter.
Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI)
Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) sebagai pelayan kesehatan
Ketua Rombongan dan Ketua Regu, biasanya dipilih dari jemaah haji.

Jemaah haji dikelompokkan berdasarkan pertimbangan domisili jemaah dan keluarga. Setiap 11 orang jemaah haji dikelompokkan dalam satu regu dan setiap 4 regu dikelompokkan dalam satu rombongan, jumlahnya 44 orang ditambah satu orang petugas haji sehingga  menjadi 45 orang.

Selama di asrama haji, jemaah haji dianjurkan mengikuti pembinaan manasik haji. Pembinaan atau bimbingan haji ini penting, karena akan dicontohkan cara melakukan tawaf dengan mengelilingi miniatur ka’bah, melakukan sai, dan melempar jumroh.

Bahkan dibimbing cara menaiki pesawat terbang dan menggunakan fasilitas pesawat termasuk cara menggunakan toliet. Bersyukur di embarkasi Ujung Pandang, terdapat miniatur pesawat terbang yang bisa dinaiki. Suasana dan perlengkapan persis dengan pesawat terbang asli.

Beberapa jam sebelum berangkat, jemaah haji berkumpul di aula untuk dilepaskan secara simbolis oleh Kepala Depatemen Agama atau yang mewakili. 

Selanjutnya jemaah haji akan  menerima paspor (sebelumnya dikumpul di  panitia pemberangkatan haji Depag untuk diuruskan visa) dan  uang living cost atau biaya hidup selama di Arab Saudi sebesar 1500 Real Saudi.

Sumber Pribadi


    6. Jadilah Jemaah Haji yang Baik



Tibalah saatnya jemaah haji berangkat menuju bandara embarkasi. Jemaah haji akan menaiki bus berdasarkan nomor bus yang telah ditentukan. Nomor bus biasanya disesuaikan dengan nomor kelompoknya, mulai kelompok satu hingga kelompok 10 dipandu oleh petugas haji dan ketua kelompok.

Naiklah ke bus dengan tertib. Perhatikan tas tentengan dan tas paspor, jangan sampai ketinggalan. Tas paspor sebaiknya digantungkan ke leher kemanapun pergi selama proses pelaksanaan ibadah haji.

Patuhi larangan yang berlaku, seperti tidak  membawa benda tajam, barang yang mudah meledak, tulisan yang bersifat provokatif, narkoba, dan rokok.

Ketertiban dalam memulai perjalanan sejak dari rumah ke asrama haji, lalu menuju bandara embarkasi hingga naik ke pesawat adalah sangat membantu petugas haji.

Bukankah mematuhi semua aturan dan tertib dalam melaksanakannya, merupakan  cerminan dari sikap diri yang baik bukan?

Demikianlah sahabat, semoga bermanfaat.




Read More

Catatan Hari Guru Nasional, Beragam itu Indah

Tuesday, November 26, 2019


Ada yang unik pada peringatan Hari Guru Nasional kali ini. Setidaknya buat saya yang memilih aktif di salah satu organisasi guru Indonesia selain PGRI.
Sebelum saya cerita soal itu, mari kita tengok dulu sejarah munculnya Hari Guru Nasional.

Sejarah Terbentuknya HGN


Tahun 1912 bediri perkumpulan yang diberi nama Persatuan Guru Hinda Belanda (PGHB). Anggotanya terdiri dari para kepala sekolah, guru bantu, guru desa, dan siapa saja yang bekerja dalam lingkungan pendidikan, serta perangkat sekolah.

Pada masa itu, bermunculan pula berbagai organisasi guru dengan latar belakang yang beragam, mulai latar belakang agama, kebangsaan, dan sebagainya.

Tahun 1932, didasari oleh niat untuk merdeka dan lepas dari intervensi penjajah serta keinginan yang kuat untuk merdeka, maka pengurus PGHB mengubah namanya menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI).

Saat itu, secara bertahap jabatan kepala sekolah Belanda mulai diambil alih orang Indonesia. Dengan mengusung perjuangan untuk memperbaiki nasib guru Indonesia dan akhirnya menjadi perjuangan nasional.

Tidak lama kemudian, pendudukan Belanda diambil alih oleh Jepang. Maka nama PGI yang mencerminkan kebangsaan Indonesia ditutup oleh pemerintah Jepang.

Seratus hari setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, PGI menggeliat.

Hal ini ditandai dengan diadakannya Kongres Guru Indonesia yang dilaksanakan pada  tanggal 24-25 November 1945. Dari kongres itulah terlahir Persatuan Guru Republik Indonesia atau PGRI, yang menyatukan semua organisasi guru yang   berlatar belakang berbeda.

Menyikapi perjuangan guru di tanah air, maka  Pemerintah RI menjadikan momentum itu untuk menetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional, melalui Kepres No 78 Tahun 1994.

Maka tidak bisa dipungkiri, bahwa kelahiran PGRI merupakan momentum lahirnya peringatan untuk guru-guru Indonesia.

Peringatan Hari Guru adalah Peringatan untuk Guru Indonesia


Usia kemerdekaan Indonesia sudah berada di angka 74 tahun. Demikian pula Hari Guru Indonesia.  Jika ditilik dari jumlah usianya, maka hari guru Indonesia sudah sepuh.  Usia itu mengindikasikan kalau guru-guru Indonesia seharusnya sudah sangat “dewasa”

Tapi apakah guru-guru itu secara personal sudah cukup dewasa menyikapi peringatan ini? Sudah bisakah ia menerima perbedaan sebagai bentuk keberagaman?

Mari kita lihat pidato Menteri Pendidikan Indonesia, Nadiem Anwar Makarim.
Salah satu isi pidato Bapak Menteri adalah, “ Anda tahu bahwa setiap anak memiliki kebutuhan berbeda, tetapi keseragaman telah mengalahkan keberagaman sebagai prinsip dasar birokrasi.

Jika kata “anak” saya adaptasikan ke guru itu sendiri, maka betapa banyak keberagaman yang dimiliki dan selayaknya  dilakukan oleh guru tapi menjadi tersendat demi keseragaman.

Terkadang kita terkungkung oleh keseragaman penampilan dan  keseragaman organisasi hingga membelenggu kebebasan berpikir kita, akhirnya wawasanpun menjadi korban.

Baiklah, saya mau bercerita tentang acara peringatan HGN kemarin di kotaku.  Sebenarnya oleh panitia dan orang-orang yang mengatur kegiatan perayaan itu, tidak membatasi organisasi guru tertentu untuk hadir di acara peringatan tersebut.

Tapi barangkali sebagian guru, dan semoga hanya segelintir saja yang menganggap kalau perayaan hari itu adalah perayaan Hari PGRI, karenanya dengan lugas ia “mengusir” saya yang tampil berbeda.

Saya bisa saja beradu argumen dengannya, tapi saya pikir itu hanya buang-buang energi saja. Tak ada untungnya sama sekali.

Tapi saya menjadi iba kepadanya, iba akan ketidak tahuannya, bahwa sejarah telah mencatat setiap tanggal 25 November itu diperingati sebagai Hari Guru Nasional.

Karenanya semua guru dari organisasi guru manapun berhak menghadirinya. Berhak menikmati euforia perayaan sebagai harinya.

Keseragaman pakaian itukah penyebabnya, hingga menutup wawasannya tentang Hari Guru Nasional? Semoga saja tidak.
Jika YA.

Maka patutlah ia merenungi dalam-dalam pesan pidato Bapak Menteri Pendidikan, Nadiem Anwar Makarim berikut ini.

Anda frustasi karena Anda tahu bahwa di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan  anak, bukan kemampuan menghafal

Anda tahu bahwa setiap anak memiliki kebutuhan berbeda, tetapi keseragaman telah mengalahkan keberagaman sebagai prinsip dasar birokrasi.

Mari mengadaptasi pidato itu ke diri sendiri, lalu menempatkan posisi anak ke posisi diri sebagai guru.

Jangan membuat diri frustasi hanya karena tak mampu berkolaborasi.
Bukalah pikiranmu!

Dunia membutuhkan guru-guru yang siap bekerja sama dengan semua pihak demi kemajuan pendidikan anak bangsa.

Terimalah perbedaan sebagai bentuk keberagaman, karena beragam itu indah. 


Selamat Hari Guru.


Sumber Pribadi

Sumber Pribadi

Baca juga:
 Hari Pendidikan Nasional di sini  



Read More