Insyaallah hari ini adalah pertemuan terakhir untuk jadwal kuliah pendalaman materi bagi kelas 011 IPA PPG dalam jabatan kategori 2 Tahun 2022, di mana saya diberi amanah sebagai guru pamong mendampingi dosen dari Universitas Negeri Makassar (UNM).
Sejak memasuki kelas dengan materi Kegiatan Pengembangan Perangkat Pembelajaran Materi Langkah ke - 4 Explorasi Alternatif Solusi pada kelas 011 IPA kemudian langkah ke – 5 Menentukan Solusi hingga tiba pada langkah ke – 6 Membuat Rencana Aksi, setidaknya ada sepuluh permasalahan yang ditemukan oleh bapak dan ibu guru peserta PPG tahun ini.
Kesepuluh permasalahan itu adalah hasil identifikasi mereka di kelas-kelas yang mereka ajar. Demi mengabadikan hasil identifikasi tersebut, saya menuliskannya di sini.
Apa sajakah kesepuluh masalah tersebut? Berikut pemaparannya.
Peserta Didik Kurang Aktif Mengikuti Proses Pembelajaran
Pada umumnya guru-guru yang mengalami keadaan peserta didik (selanjutnya saya menggunakan kata siswa) yang kurang aktif, cenderung merasa siswanya yang memang tidak mau aktif dilihat dari keadaan siswa yang hanya datang, duduk, mendengar dan pulang.
Sekalipun begitu, guru tidak bisa serta merta menyalahkan siswa, karena pasti ada sesuatu yang salah dalam proses pembelajaran.
Bisa jadi materi yang disajikan kurang menarik atau gurunya yang tidak mampu mengelola kelas dengan baik sehingga tak bisa memancing keaktifan siswa.
Untuk permasalah ini, umumnya peserta PPG mencoba mengatasinya dengan menggunakan berbagai jenis model pembelajaran atau penggunaan media, metode dan sebagainya.
Peserta Didik Kurang Berminat Belajar IPA
Sebenarnya untuk mengukur siswa berminat atau tidak berminat diperlukan satu alat ukur yang valid dan reliabel. Namun, berdasarkan diskusi yang kami lakukan melalui zoom, umumnya para guru peserta PPG menyimpulkan, bahwa siswa yang kurang berminat belajar IPA dilihat dari sikap siswa yang nampak bermalas-malasan selama proses pembelajaran berlangsung.
Yap, bisa jadi demikian, sebab jika dilihat dari pengertian minat itu sendiri, bahwa seseorang yang berminat melakukan sesuatu ditunjukkan dengan sikapnya yang penuh perhatian dan selalu berusaha terlibat dalam setiap proses pembelajaran. Dia juga memperlihatkan perhatian yang lebih serta memperlihatkan respon yang tinggi.
Peserta Didik Tidak Termotivasi Belajar IPA
Motivasi dan minat nampaknya serupa, tetapi tidak sama. Jika minat diartikan sebagai kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu atau bergairah melakukan sesuatu, maka motivasi merupakan dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan sesuatu dengan tujuan tertentu.
Terdapat dua jenis motivasi terkait dengan pembelajaran siswa, yaitu: motivasi belajar intrinsik dan motivasi belajar ekstrinsik. Perbedaan dari kedua jenis motivasi belajar siswa ini terletak pada asal munculnya motivasi itu sendiri.
Motivasi belajar intrinsik dipengaruhi oleh keinginan siswa itu sendiri karena ingin mencapai tujuan tertentu, misalnya mau mendapatkan nilai baik agar bisa lanjut ke sekolah yang diinginkan, atau masuk ke perguruan tinffi tertentu, mau membanggakan orang tua, dan sebagainya.
Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul karena faktor dari luar, seperti lingkungan, misalnya karena berada di lingkungan teman-temannya yang mau berprestasi sehingga merasa harus belajar juga, atau karena janji akan diberikan hadiah oleh orang tua jika mendapatkan prestasi atau meraih nilai tinggi.
Permasalahan yang kerap didapatkan guru IPA adalah siswa tidak termotivasi mengikuti pelajaran IPA dan ini tentu memengaruhi keaktifan belajar siswa maupun pencapaian pengetahuan IPA. Untuk masalah seperti ini, biasanya guru memikirkan akar permasalahannya lalu mencari solusi pemecahannya agar siswa yang diajar termotivasi belajar IPA.
Kemampuan Peserta Didik Dalan Memahami Konsep IPA Rendah
Permasalahan berikutnya yang diperoleh dari hasil identifikasi guru-guru adalah siswa kurang memahami konsep IPA. Jika dikaji lebih mendalam, pemahaman konsep IPA di SMP bisa jadi dipicu oleh ketidakmampuan guru IPA dalam mengajarkan konsep IPA itu sendiri, hal ini dikarenakan latar belakang pendidikan guru IPA yang beragam.
Pelajaran IPA di SMP itu mencakup pelajaran Biologi, Fisika dan Kimia. Sedangkan guru-guru yang mengajar IPA biasanya berlatarbelakang pendidikan yang berbeda. Kalau bukan berlatar pendidikan Biologi biasanya berlatar pendidikan Fisika atau pendidikan Kimia.
Beberapa kali saya berbincang-bincang dengan guru-guru yang mengajar IPA, ada yang mengaku cukup kesulitan mengajar materi Biologi karena ia berlatar belakang pendidikan Fisika atau sebaliknya.
Walau demikian, tanggung jawab guru untuk mengajar di kelas tak bisa diabaikan begitu saja. Oleh karena itu, guru-guru IPA harus terus mengupgrade ilmu pengetahuannya terutama untuk materi IPA yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya.
Sering Terjadi Minskonsepsi IPA Pada Peserta Didik
Terjadinya miskonsepsi IPA pada siswa ini biasanya disebabkan oleh latar belakang pendidikan gurunya. Seperti yang dikemukakan sebelumnya. Terjadinya miskonsepsi IPA jauh lebih berbahaya daripada kekurang mampuan siswa dalam memahami konsep-konsep IPA, dan ini tidak bisa dianggap hal yang biasa.
Guru-guru IPA harus lebih berhati-hati dalam menjelaskan konsep-konsep IPA apa pun latar belakang pendidikannya.
Kemampuan Literasi Sains Peserta Didik Rendah
Masalah lain yang banyak ditemukan di kelas adalah rendahnya pengetahuan anak dalam literasi sains. Dari berbagai kajian literatur dijelaskan, bahwa ruang lingkup sains dilihat dari tiga komponen utama, yaitu sains dilihat dari aspek produk (pengetahuan), aspek keterampilan proses (psikomotorik), dan aspek sikap ilmiah (afektif).
Aspek produk dalam sains meliputi beragam produk dan hasil temuan dalam sains diantaranya fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori. Yang paling penting dipahami, bahwa literasi sains bersifat multidimensional bukan hanya pemahaman terhadap pengetahuan sains, melainkan lebih dari itu.
Berdasarkan apa yang dikemukakan oleh para guru peserta PPG yang mengidentifikasi masalah rendahnya literasi sains ini di kelasnya, umumnya disebabkan oleh model dan strategi pembelajaran yang dilakukan oleh guru tidak cukup memadai dalam menerapkan literasi sains.
Hasil Penilaian Kognitif IPA Peserta Didik Rendah
Hasil penilaian kognitif IPA atau penilaian pengetahuan IPA siswa juga banyak diangkat oleh guru peserta PPG dan akar masalahnya disebabkan oleh berbagai macam, mulai dari model pembelajaran yang diterapkan hingga penggunaan media pembelajaran.
Hasil Penilaian HOTS IPA Peserta Didik rendah
Higher Order Thinking Skills (HOTS) merupakan keterampilan berpikir tingkat tinggi bagi peserta didik menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan terutama saat hasil PISA dirilis pada tahun 2015 yang diikuti oleh 72 negara.
Indonesia berada pada peringkat ketiga dari bawah untuk sains, peringkat terakhir untuk membaca, peringkat kedua dari bawah untuk matematika. Tentu ini sangat memprihatinkan buat kita semua.
Berdasarkan kajian-kajian oleh para ahli, siswa Indonesia dinilai tidak mampu menyaingi negara-negara lain karena masih lemah dalam hal berpikir tingkat tinggi.
Hal ini seiring dengan hasil identifikasi masalah yang ditemukan oleh guru peserta PPG.
Tidak Bisa Menggunakan Media Pembelajaran IPA
Masalah lain yang ditemukan adalah siswa belum terbiasa menggunakan media pembelajaran IPA. Barangkali yang dimaksud adalah siswa kurang terampil menggunakan alat atau media saat melakukan eksperimen, atau praktik-ptaktik IPA baik di dalam laboratorium maupun di luar laboratorium.
Menurut saya, hal ini bukan masalah siswa saja melainkan masalah guru itu sendiri. Karena pada dasarnya, siswa itu hanya mengikuti apa yang diarahkan atau diperintahkan oleh gurunya.
Jika guru menggunakan media pembelajaran dalam setiap proses pembelajaran maka lambat laun media pembelajaran IPA menjadi sesuatu yang tidak asing lagi bagi siswa. Misalnya, penggunaan mikroskop, pengukuran arus dengan amperemeter, dan sebagainya.
Pencapaian Hasil Belajar IPA Peserta Didik Kurang
Masalah terakhir yang ditemukan oleh guru peserta PPG adalah hasil belajar IPA siswa kurang. Umumnya peserta PPG mendapatkan akar masalahnya karena berbagai sebab, misalnya penggunaan media pembelajaran IPA yang kurang maksimal, kurang menerapkan model pembelajaran, metode dan strategi yang tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan bahan ajar.
Demikianlah sepuluh masalah-masalah yang umum ditemukan oleh guru-guru peserta PPG Dalam Jabatan Tahun 2022. Dan, berdasarkan pengalaman saya sebagai guru yang mengajar mata pelajaran IPA, masalah-masalah tersebut sering pula saya alami dari tahun ke tahun.
Namun, setiap masalah selalu ada jalan untuk mengatasinya. Bapak ibu guru peserta PPG telah belajar banyak tentang cara mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut. Mereka telah menemukan solusi lalu merancang perangkat pembelajaran untuk dipraktikkan nanti saat PPL bahkan ketika mereka kembali ke sekolah masing-masing.
Hikmah yang saya dapatkan sebagai guru pamong di PPG ini tak ternilai harganya. Bahwa tugas guru yang utama adalah menanamkan nilai-nilai baik agar tercipta karakter yang baik dan mencerdaskan mereka sebagai generasi penerus bangsa.
Demikian, semoga bermanfaat.
Makassar, 1 Oktober 2022
Dawiah




