Sabtu, 20 Januari 2018

Berbagi dan Tumbuh Bersama IGI


 Motto IGI (Ikatan Guru Indonesia) yang selalu didengungkan sebagai penyemangat adalah  sharing and growing together  atau berbagi dan tumbuh bersama sungguh ampuh. Demikian ampuhnya sehingga guru-guru yang menjadi anggota IGI bersedia mempersembahkan waktu, tenaga, pikiran, dan materinya untuk belajar bersama lalu berbagi agar dapat tumbuh dan berkembang bersama demi kemajuan pendidikan di Indonesia.

Tujuan mulia itulah yang menghantarkan kami berkumpul di Kantor Kemdikbud kemarin, tepatnya pada tanggal 5-7 Januari 2018 dalam acara pengukuhan 300 pelatih nasional IGI, presentasi kanal-kanal pelatihan IGI, dan pemecahan Rekor Muri Menulis dengan Metode Menemu Baling.

Sebenarnya beberapa kanal pelatihan sudah lama berjalan terutama kanal-kanal yang digawangi oleh para Pimpinan Pusat IGI. Namun tidak sedikit muncul kanal-kanal baru yang dikembangkan oleh para guru dari seluruh Indonesia hingga mencapai 67 jenis pelatihan.
Setiap kanal diketuai oleh pencetus jenis pelatihannya atau foundernya,  kemudian ke- 300 pelatih tersebut memilih kanal-kanal yang dikuasai, diminati, atau pernah mengikuti pelatihan itu sebelumnya. Misalnya, saya pernah mengikuti pelatihan SAGUSAKU sebelumnya, maka saya memilih kanal sagusaku sebagai wadah saya nantinya untuk melatih guru-guru lain yang belum pernah mengikuti kegiatan tersebut.

Kanal-Kanal Pelatihan IGI

Presentasi kanal pelatihan IGI dipandu oleh beberapa pengurus IGI Pusat secara bergantian. Oleh pemandu acara, presentasi kanal dibagi menjadi beberapa sesi dan setiap sesi terdapat 6 kanal yang akan dipresentasikan. Kanal-kanal yang masuk dalam sesi pertama adalah sebagai berikut.

SAGUSANOV atau Satu Guru Satu Inovasi oleh bapak Abd Kholiq. Sagusanov sudah berjalan selama 18 bulan, baik secara online maupun offline di 50 kabupaten kota di seluruh Indonesia, termasuk di Sulawesi Selatan. Sagusanov  bertujuan melatih guru untuk membuat inovasi pembelajaran berbasis android.

Berikutnya adalah SAGUSAE (Satu Guru Satu Ebook) oleh foundernya Bapak Elyas, S.Pd., M.Pd. Ini adalah salah satu sarana untuk mencapai Gapernas, Gerakan Paperless Nasional. Produk yang dihasilkan adalah file APK, yang sudah siap untuk didistribusikan ke smartphone Android. Kegiatan ini sudah pernah dilaksanakan di Makassar yang bertempat di sekolah saya beberapa waktu lalu, tepatnya pada awal tahun 2017.

SAGUSAKA (Satu Guru Satu Aplikasi Koreksi LJK) berbasis android oleh bapak Dahli Ahmad, M.Pd. Kanal ini menggunakan tagline, “Koreksi LJK Semudah Selfie”



SAGUSAMIK (Satu Guru Satu Pembelajaran Matematika yang Bermakna dan Menyenangkan) oleh bapak Abd Karim. Kanal ini khusus untuk bapak ibu guru pengampu mata pelajaran matematika. Bapak Abd Karim menjelaskan, bahwa kanal ini dibuat agar guru dapat mengajarkan matematika dengan suasana yang menyenangkan, sehingga peserta didik tidak lagi menganggap matematimka sebagai pelajaran yang membosankan.

SAGUDELTA (Satu Guru Dua Evaluasi Digital) oleh foundernya bapak Khairuddin. Menurut bapak Khairuddin, kanal ini akan melatih guru membuat soal evaluasi berbasis windows dan android. Kanal ini juga akan melatih guru membuat soal tanpa internet, tanpa Learning Management System. Dan tanpa kelas maya untuk melaksanakan ujian.

SAGUSAVI (Satu Guru Satu Video Pembelajaran) dengan foundernya Widi Astiyono, S.Ag., M.Pd. Kanal pelatihan ini akan melatih guru membuat video pembelajaran berupa video klip atau film pendek yang berdasarkan dari materi pelajaran. Pak Widi Astiyono menjelaskan, dari materi pembelajaran dituangkan ide cerita, sinopsis, skenario, dan bermain peran serta menjadi kameramen.

Setelah sesi pertama selesai, oleh bapak ketua umum IGI Pusat, Muhammad Ramli Rahim meminta kepada yang mewakili Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk memberikan tanggapannya.

Setelah ditanggapi maka acara berlanjut ke sesi yang kedua. Kanal pelatihan yang akan tampil di sesi ini adalah SAGUSARIF, SAGUSAGAME, SAGUSOF 365, SAGUSAKU, SAGUPASI, SAGUSAMEF.

SAGUSARIF adalah singkatan dari Satu Guru Satu Kearifan Lokal. Kanal ini dipresentasikan oleh foundernya, yaitu bapak Arnold Jacobus, M.Pd. Beliau berasal dari IGI Daerah Kota Singkawang. Tujuan Sagusarif adalah mewujudkan tujuan pendidikan nasional dan mempertahankan jati diri bangsa.

Selanjutnya adalah presentasi kanal SAGUSAGAME. Foundernya adalah seorang guru perempuan dari Ponorogo, Ibu Crysna Rhani Ningrum, S.Kom. Sagusagame adalah singkatan Satu Guru Satu Game Edukasi. Kanal pelatihan ini akan melatih guru membuat game edukasi pembelajaran dengan tujuan untuk meningkatkan minat belajar dan prestasi peserta didik.

Oh yah, sebelum beliau tampil mempresentasikan kanalnya. Di luar ruangan kegiatan,  saya dan beberapa teman guru sempat “menodong” beliau,  agar diajari cara membuat game edukasi. Ibu Crysna dengan senang hati meladeni “todongan” kami, dan bersedia dikerumuni oleh guru-guru. Kami sangat antusias memperhatikan Bu Crys menjelaskan cara-cara pembuatan game edukasi. Terima kasih Bu Crysna, IGI Makassar menanti kedatangan ibu dan tim Sagusagame.

Kanal pelatihan selanjutnya yang dipresentasikan oleh foundernya, Ibu Anastasi adalah SAGUSOF 365, Satu Guru Satu Akun Microsoft Office 365. Tujuan kanal ini adalah untuk meningkatkan kompetensi guru agar handal dalam memanfaatkan teknologi. Ada dua hal penting yang akan dimiliki guru setelah mengikuti pelatihan di kanal ini, yaitu: guru akan memiliki lebih banyak ide dalam mendesain kegiatan pembelajaran yang interaktif dan tidak membosankan daripada sebelumnya, dan guru  dapat mengajarkan peserta didiknya bagaimana menggunakan teknologi secara positif.

SAGUPASI (Semua Guru Paham Pendidikan Inklusif) dipresentasikan oleh founder-foundernya yang cantik, Ibu Nur Syamsih, M.Pd dan Ibu Rusnani, M.Pd. Cakupan  output yang diharapkan kanal ini adalah peningkatan dan penguatan layanan Inklusi bagi anak dengan kebutuhan khusus di Sekolah Umum, termasuk di daerah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal) untuk setiap jenjang (PAUD-SD-SMP-SMA/K).

Presentasi selanjutnya di sesi kedua ini adalah SAGUSAMEP (Satu Guru Satu Media Publikasi). Oleh foundernya bapak Abdul Halim menjelaskan bahwa kanal ini akan melatih guru membuat media publikasi untuk sekolah. Keterampilan tersebut bisa pula digunakan guru untuk membuat media pembelajaran di kelas.

Kanal pelatihan terakhir yang tampil di sesi kedua ini adalah kanal tempat saya berkecimpung, yaitu SAGUSAKU. Foundernya adalah seorang perempuan yang luar biasa. Ibu Nur Badriyah, M.Pd.
Satu Guru Satu Buku adalah kanal pelatihan yang akan melatih dan menuntun  guru menulis dan menghasilkan minimal satu buku. Kanal ini memiliki motto “Tingkatkan Kompetensi Raih Berjuta Prestasi.”

Demikianlah sekilas penjelasan tentang sebagian kanal  pelatihan yang diprogramkan oleh IGI. Insya Allah IGI  akan berjuang melatih 1 juta guru di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

“Dialah yang mengutus seseorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS: Al-Jumuah: 2).


Senin, 15 Januari 2018

IGI Menjawab Tantangan

Musa berkata kepadanya, “ Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?
                                                                                                (QS: Al Kahf: 66)

Saat pertama kali melihat agenda kegiatan IGI di grup SAGUSAKU, terbersit di hati kecil saya, “bisakah saya mengikuti kegiatan tersebut?”
Setelah beberapa hari saya menyimak informasi-informasi di grup komunitas IGI, maka saya memutuskan untuk ikut terlibat dalam kegiatan itu. Ini adalah kegiatan awal saya di IGI pada tahun 2018.

Kegiatan penting yang akan IGI lakukan pada tanggal 5-7 Januari 2018, adalah: 1) Temu Nasional dan Pengukuhan Pelatih Nasional IGI; 2) Presentasi Kanal Pelatihan IGI; dan 3) Pemecahan Rekor Muri “Guru Menulis dengan Metode Menemu Baling.”


Pengukuhan 300 Pelatih Nasional IGI

Menjadi pelatih di IGI bukanlah impian awal saya apalagi menjadi target utama. Bergabung di Ikatan Guru Indonesia (IGI) saja sudah memberikan kebahagiaan  dan kebanggaan tersendiri. Sebagai guru yang sudah puluhan tahun mengabdi, saya membutuhkan wadah yang mau menampung aspirasi saya dan aspirasi seluruh guru di Indonesia tanpa membeda-bedakan status dan jabatannya, dan di IGI saya menemukan itu.

Saya bisa belajar dengan siapa saja dan kapan saja tanpa perlu menyiapkan dana yang banyak. Saya bisa mengapresiasikan pengetahuan yang saya miliki tanpa sungkan karena IGI memiliki prinsip  sharing and growing together atau berbagi dan tumbuh bersama. Karenanya kami membangun kebersamaan dan  saling menguatkan agar kami tumbuh bersama demi kejayaan pendidikan di Indonesia.

Karena itulah saya selalu bersemangat, manakala ada kegiatan di IGI sekalipun tempatnya jauh dan membutuhkan biaya yang dirogoh dari kantong sendiri.

Di bandara Sultan Hasanuddin, saya yang sudah janjian dengan dinda Mira Pasolong, wakil ketua PP IGI akhirnya bertemu. Ternyata ada pula Pak Awal Syaddad dan Pak Basri Lahamuddin, jadi kami berempat berangkat bersama menuju Jakarta, tempat pelaksanaan tiga kegiatan tersebut akan berlangsung. 

Kurang lebih 2 jam terbang bersama Lion Air akhirnya kami tiba di Bandara Soekarno Hatta, lalu meneruskan perjalanan ke Mess Provinsi Riau, tempat saya dan dik Mira akan menginap. Mengapa ke Mess Riau, mengapa bukan Mess provinsi Sulawesi Selatan? Niat saya nginap di sana, selain karena itu adalah pilihan dik Mira saya juga ingin menjalin silaturahim dengan guru-guru yang berasal dari Riau. Belakangan saya ketahui kalau yang menginap di Mess Riau bukan hanya guru yang berasal dari Riau melainkan ada juga yang berasal dari Lubuklinggau. 

Setelah beristirahat, siang harinya kami bersiap-siap menuju kantor Kemdikbud tepatnya di Gedung A, lantai 3 untuk mengikuti prosesi pembukaan temu Pelatih Nasional IGI dan pengukuhan 300 pelatih nasional IGI.

Seperti biasanya, acara dimulai dengan pembukaan oleh protokol, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya tiga stanza disusul dengan lagu Mars IGI. Kegiatan ini sedianya dibuka oleh Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, namun karena beliau mendadak diundang bapak presiden untuk menghadiri rapat terbatas, maka beliau diwakili  oleh Bapak Hamid Muhammad, plt Dirjen GTK.

Acara dilanjutkan dengan pengukuhan 300 Pelatih Nasional IGI yang dikukuhkan langsung oleh Ketua Umum PP IGI, Bapak Muhammad Ramli Rahim. Ada yang menarik dari pengukuhan tersebut. 
Prosesi pengukuhan itu saya rekam dan saya kirim ke suami saya. Jawabannya adalah, “IGI hebat ya … bersedia melatih atau menebarkan ilmunya dengan honor maupun tanpa honor.

Sesaat kemudian, acara penyerahan sertifikat yang diserahkan langsung oleh Bapak Hamid Muhammad, plt Dirjen GTK. Dengan terus menebarkan senyuman manisnya, pak Hamid Muhammad menyerahkan sertifikat satu persatu ke 300 guru pelatih nasional IGI.





67 Kanal Pelatihan IGI

Mungkin ada yang bertanya, 300 guru pelatih itu tugasnya apa ya? Apa saja yang dilatihkan dan kepada siapa?

Jawabannya ada pada  kegiatan di hari kedua.

300 pelatih nasional IGI tersebut akan melatih guru-guru lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari Sabang sampai Merauke. Olehnya itu, panitia menyiapkan daftar daerah-daerah yang akan dipilih oleh kami sebagai tempat menebarkan pengetahuan. Daerah-daerah tersebut pada umumnya bukan daerah  yang berada di pusat-pusat kota, bahkan daerah yang terpencillah yang diprioritaskan.

Sebenarnya saya berniat memilih daerah-daerah tempat anak-anak saya bertugas atau berdomisili agar sekalian bisa mengunjungi mereka. Sambil menyelam minum air, sambil bertugas bisa melepas rindu sama anak hehehe … namanya juga usaha. Oleh karena itu, daerah yang saya bidik adalah  Bandung, Nabire, dan salah satu daerah di Sulawesi Selatan, yaitu Sidrap.  

Sayangnya ketiga daerah itu tidak ada dalam daftar. Maka akhirnya saya memutuskan memilih daerah-daerah yang ada di pulau Jawa saja.  Kabupaten Karawang adalah pilihan pertama saya,  daerah ini kan  masih berada di wilayah Jawa Barat, jadi tidak terlalu jauhlah dari Bandung. Dua daerah lainnya adalah Banyuwangi dan Temanggung.

Setelah pemilihan daerah tempat kami akan melatih, acara dilanjutkan dengan presentasi kanal-kanal pelatihan. Terdapat 67 kanal pelatihan IGI dengan menggunakan nama pelatihan khas IGI, yaitu SAGU (Satu Guru) dan ditambahkan dengan nama jenis pelatihannya. Seperti kanal pelatihan yang saya ikuti, yaitu SAGUSAKU (Satu Guru Satu Buku).

Luar biasa!

Dalam waktu kurang dari dua tahun. IGI sudah berinovasi membentuk kanal-kanal pelatihan yang semuanya dibutuhkan oleh guru-guru Indonesia, 67 jenis kanal pelatihan.
Karena kanal pelatihan itu lumayan banyak, maka akan saya perkenalkan satu persatu pada postingan khusus.

IGI adalah suatu organisasi guru yang berorientasi pada peningkatan kompetensi guru. IGI dengan prinsip yang disandangnya, sharing and growing together akan berjuang menjawab tantangan masyarakat dan pemerintah, yaitu menjadi guru profesional.

Sudah lama guru-guru Indonesia disoroti, dipandang sebelah mata, dan bahkan dihina. 

Mengapa? Apa yang salah?

Semuanya itu berawal dari rendahnya mutu pendidikan di negara yang kita cintai ini. Jika ada anak yang bodoh, malas, dan bandel maka yang salah adalah gurunya. Jika pendidikan kacau maka gurunyalah yang amburadul, bodoh, dan tidak pandai mendidik.

SEDIH!

Walaupun kami, guru-guru Indonesia berteriak dan mengatakan,

Itu bukan salah kami saja, orangtua, pemerintah, sistem dan bla .. bla… ikut bertanggung jawab!”

Namun suara kami tertelan oleh riuhnya pemberitaan yang sudah terlanjur meng”hakimi” kami. Itulah fenomena yang terjadi.

Maka mau tidak mau, suka atau tidak suka, kami harus menerima. Tetapi bukan berarti kami diam. Semoga bersama IGI kami guru-guru Indonesia dapat merubah wajah pendidikan Indonesia.

Agar rakyat Indonesia   menjadi bangga kepada gurunya.

Minggu, 31 Desember 2017

Ketika Alumni Sekolah Perempuan Menulis Memoar


Judul Buku: Selaksa Cinta Bakti Ananda
Penulis: Alumni Sekolah Perempuan
Editor dan Proofreader: Alumni Sekolah Perempuan
Cover: Dian Apsari
Layout: Tim Najmubooks
Penerbit: Najmubooks Publishing
Cetakan Pertama Desember 2017
Buku ini berisi kisah inspiratif  dengan tema orang tua, ditulis oleh 68 orang penulis. 
WOW!
Apa yang menarik dari buku antologi ini?





Karena saya sebagai salah satu penulisnya maka tidak adil dong,  kalau saya katakan bahwa, buku ini sangat bagus. Karena itu saya hanya mau menuliskan kembali tanggapan dari orang yang sangat  berkompeten dalam dunia kepenulisan. 
Berikut tanggapan mereka.

“Kisah-kisah yang membuat mata saya menitik, haru biru selalu ada saat menceritakan keluarga dan alumni Sekolah Perempuan sukses menuliskannya dengan sangat baik. Sebuah buku yang wajib Anda baca!”
(Indari Mastuti, Founder Sekolah Perempuan)

”Kenangan kita dengan orang tua tak selalu semanis gula. Sepahit apa pun cinta mereka, jejak ingatan tentang mereka tidak akan pernah hilang. Dalam setiap tarikan napas sejak kita lahir di dunia, ada sentuhan mereka dalam jiwa-jiwa kita. Alumni Sekolah Perempuan mengabadikan kenangan atas sentuhan itu dalam bunga rampai karya bersama. Sungguh karya yang membuat saya berkali-kali mengusap sudut mata.”
(Anna Farida – Kepala Sekolah Perempuan)

“Teman, bicara tentang kedua orang tua tercinta, kadang selalu ada bulir hangat mengalir dari kedua pelupuk mata. Entahlah, kadang ada rasa bersalah karena belum cukup berbakti dan maksimal membahagiakan mereka.
Atas dasar ingin saling mengingatkan bakti kita pada orang tua tercinta, lahirlah antologi ini. Ditulis oleh 68 alumni Sekolah Perempuan. Untuk anda yang ingin berbakti dan membahagiakan kedua orang tua tercinta, milikilah buku ini! Bacalah! Anda akan sadari, apakah anda sudah maksimal berbakti pada orang tua tercinta?”
(Ida Fauziah, Mentor Sekolah Perempuan)

“Selaksa Cinta Bakti Anahda, sebenarnya adalah kisah tentang semangat hidup manusia. Dalam kegagalan, kepahitan, kerasnya perjuangan. Segala yang tak sempurna dalam sosok bernama orang tua, namun mampu memberi makna pada kehidupan berikutnya.”
(Artha Julia Nava, Certified Persoal Branding Strategist | Certified Social Branding Analyst | Writing Mentor)

Saat buku ini berada di tangan saya, maka kebiasaan saya kambuh, yaitu setiap kali akan membaca buku antologi maka saya  membuka lembaran-lembaran buku dengan cepat dan berhenti sesuka saya (maaf yah…soalnya bingung, darimana saya mulai membacanya).

Yap! 
Saya ketemu satu judul “ Anak yang Hilang” karya Sri Widi Handayani Soekarno

Profesi beliau sebagai Inspiring Family Coach dan terapis mempertemukannya dengan orang-orang yang memiliki masalah. Kemudian penulis  menceritakan tentang seorang bapak yang datang berkonsultasi kepadanya. Cerita yang cukup mengaduk-aduk perasaan. Kisah tentang kerinduan seorang bapak  kepada salah seorang anaknya yang pergi tanpa berita. Si bapak datang kepada penulis dengan satu tujuan, “ingin didengarkan.”

Itu hanya satu contoh kisah yang ada di dalam buku ini. Masih  ada 67 kisah lainnya yang tidak kalah seruh, indah, syahdu, dan haru biru. Pokoknya membaca buku ini akan membawa kita menyelam ke dasar hati lalu melambungkan kita menuju alam pikiran kemudian berakhir pada pelangi kehidupan. Penuh warna. 

Oh iyah, di dalam buku ini saya menulis tentang bapak, laki-laki pertama yang saya cintai dan selalu menjadi inspiratif. Beliau bukanlah laki-laki sempurna, namun dalam keterbatasannya saya justru mendapatkan pelajaran kehidupan.

Hidup tidak selalu nyaman tetapi selalu bermakna

Berikut sedikit tulisan saya tentang bapak yang berjudul “Buta Mata Tak Buta Hati.”

Bapakku yang buta tidak pernah mengeluh. ” Jika penglihatanmu diambil oleh Allah, bisa jadi Allah menghukum matamu karena telah lalai melihat kebesaran Allah, atau mungkin Dia memelihara pandanganmu dari melihat maksiat. Bapak tidak tahu, mataku ini berada dalam kategori yang mana, tetapi aku bersyukur karena Allah sudah memberiku kesempatan melihat ciptaan-Nya.” Ucapan beliau itu tidak pernah hilang dari ingatan.”
Jangan risau anakku, Allah selalu menanti kedatangan hamba-Nya, jika engkau berjalan ke arah-Nya maka Dia akan berlari ke arahmu.”

Masihkah Anda ragu memilikinya?


Rabu, 27 Desember 2017

Analisis SWOT Dasar Resolusi Tahun 2018

Sebelum membuat dan menyusun resolusi tahun 2018, maka ada baiknya kita mencari tahu, apa sebenarnya arti dari resolusi itu. Perhatikan arti resolusi menurut  Kamus Bahasa Indonesia Daring berikut ini.


Resolusi adalah: putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal: rapat akhirnya mengeluarkan suatu -- yang akan diajukan kepada pemerintah.

Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan, bahwa membuat resolusi bagi diri sendiri adalah membuat pernyataan tertulis yang menuntut diri sendiri, dan diajukan kepada diri sendiri agar tuntutan itu dipenuhi.  Dengan membuat resolusi saya berharap saya akan menjadi lebih produktif dan lebih fokus terhadap resolusi-resolusi yang telah saya buat.
Teringat dengan resolusi yang saya buat tahun lalu. Resolusi itu saya bagi dua, yaitu resolusi untuk  akhirat dan resolusi untuk dunia, karena setahu saya setiap perbuatan yang dilakukan di dunia akan berdampak kepada kehidupan selanjutnya di akhirat. Dengan membuat resolusi dunia yang diiringi dengan resolusi akhirat saya berharap kehidupan saya akan seimbang antara dunia dan akhirat, karena itu saya selalu berdoa kepada yang Maha Pemberi Kehidupan.
 “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa api neraka.”
Walaupun tidak semua resolusi di tahun 2017 itu terwujud, tetapi paling tidak saya merasa ada dampak positifnya untuk semua aktivitas yang saya lakukan. Tanpa saya sadari, lebih dari seperdua dari resolusi itu telah terwujud dan sedang dalam proses menuju terwujudnya resolusi itu. Maka tidak berlebihan kalau akhir tahun 2017 ini, saya membuat lagi resolusi untuk tahun  2018. Semoga saja resolusi itu menjadi pemantik semangat untuk melakukan sesuatu yang lebih  bermanfaat pada diri sendiri dan orang lain.
Sebelum memutuskan resolusi apa yang akan saya buat, saya akan mencoba membuat semacam  analisis SWOT sederhana, tidak sehebat dan sejelimet  analisis swot suatu perusahaan atau instansi sih. Hanya sekedar analisis untuk bahan evaluasi diri saja.
Bismillah!

Strengths = Kekuatan
Kekuatan apakah yang saya miliki?
Semangat dan tidak pantang menyerah adalah kekuatan yang saya yakini selalu bersemayam di hati dan di jiwa saya. Saya tidak gampang putus asa juga tidak malu untuk terus belajar dan membenahi diri.
Belajar kepada siapa saja, kapan saja, dan di mana saja merupakan modal utama saya. Tidak pernah memandang siapa dia, usianya berapa dan apa jenis pekerjaannya. Selama orang itu memiliki ilmu yang bermanfaat dan bersedia menebarkan ilmunya, pasti akan saya datangi.
Selain semangat, tidak mudah putus asa, dan tidak malu untuk belajar kepada siapapun maka kekuatan lainnya adalah keluarga. Keluarga adalah modal utama saya. Jika suami saya merestui, mama saya mendoakan, anak-anak saya mendukung, dan saudara serta kerabat lainnya ikut mengamini, maka insya Allah semuanya akan lancar.
Sahabat-sahabat terhebat saya,  baik di dunia nyata maupun di dunia maya tidak kalah besar pengaruhnya sebagai sumber kekuatan saya. Berkumpul, bersilaturahim, dan saling menebarkan kebaikan merupakan salah satu cara saya mendapatkan ilmu.
Sumber dari segala kekuatan saya adalah Tuhan. Allah swt. Dia adalah sumber dari segala kekuatan seluruh makhluk-Nya. Saya yakin, bahwa kekuatan yang saya miliki saat ini adalah berkat kemurahan-Nya dan kasih sayang-Nya kepada saya.
Weaknesses = Kelemahan
Kelemahan saya yang paling nyata adalah manajemen waktu yang masih amburadul. Saya masih belum mampu mengatur waktu antara tugas pokok saya sebagai ibu rumah tangga, menjalankan profesi saya sebagai guru, dan menekuni passion saya sebagai penulis. Saya juga belum mampu fokus dalam jangka waktu yang relatif panjang.
Opportunities = Peluang
Dibalik semua kelemahan itu,  saya masih optimis karena ada kekuatan-kekuatan yang saya miliki, keluarga dan sahabat saya yang selalu siap membantu. Selain itu semangat saya yang tidak kenal putus asa untuk terus berjuang dalam mencapai cita-cita dan impian-impian saya. Alhamdulillah, anak-anak saya sudah mandiri, itu berarti saya memiliki waktu luang yang lebih banyak dibandingkan ketika mereka masih kecil-kecil. Peluang saya untuk menjalankan ibadah, belajar, bekerja dan terutama memenuhi semua impian-impian saya tentu akan lebih besar.
Threats = Ancaman
Ancaman yang paling nyata dan kadang-kadang datang menghampiri adalah masalah kesehatan saya. Diusia saya yang tidak muda lagi tentu saja sangat rentan dengan penyakit. Aktivitas saya juga semakin bertambah sehingga rasa lelah semakin sering datang menyerang.
Berdasarkan hasil analisis SWOT ala saya itu, maka saya mencoba menyusun resolusi tahun 2018 sebagai berikut.
Memperbaiki Manajemen Waktu
Hal paling utama yang akan saya reformasi adalah manajemen waktu. Bukankah waktu berada  diposisi tertinggi dalam kehidupan kita? Sebagaimana Allah berfirman dalam kitab-Nya.
“Dan mereka berkata, ”kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan selain kita masa (waktu)….” (QS Al-Jasiyah: 24).

Lebih Produktif Menulis
Alhamdulillah, salah satu resolusi saya tahun 2017 menerbitkan buku solo telah terwujud, juga menjadi kontributor untuk tiga buku antologi. Hal itulah yang  memicu semangat saya untuk semakin produktif lagi menulis. Maka resolusi saya tahun 2018 adalah menyelesaikan buku solo kedua yang sedang dalam proses.  
Blog adalah tempat yang asyik untuk menulis bagi saya, olehnya itu saya akan lebih produktif lagi menggoreskan pena di blog saya.

Menjaga Kesehatan
Kesehatan adalah rezeki yang tidak ternilai harganya. Oleh sebab itu, saya harus menjaga kesehatan saya, istirahat yang cukup dan banyak minum air putih. Saya akan mulai berolah raga secara rutin.
Saya juga akan lebih banyak mengonsumsi buah-buahan dan sayuran. Terutama makanan yang mengandung vitamin A, B, C, D, dan E  juga berbagai jenis bahan  makanan yang mengandung mineral esensial  seperti magnesium dan zinc. Saya juga akan  mengurangi minum minuman yang mengandung kafein. 
Dilansir theragran.co.id (20/12/2017), magnesium menjaga sistem daya tahan tubuh terhadap berbagai jenis penyakit. Sumber magnesium bisa didapatkan dari sayuran hijau, kacang-kacangan, dan ikan. Zinc adalah mineral esensial yang membantu regulasi sel tubuh dan sistem saraf. Kandungan Zinc dapat ditemukan pada sereal dan daging merah.
Sedangkan vitamin A berkhasiat meningkatkan daya tahan tubuh dan anti oksidan. Sumber vitamin A adalah susu, wortel serta sayuran buah berwarna oranye.
Vitamin B yang terdiri dari vitamin B1, B2, B3, B5, B6, dan B12 berkhasiat membantu proses metabolisme, mencegah sakit tenggorokan, menghindari mood yang tidak stabil, mengatur keseimbangan hormon steroid.
Vitamin C berfungsi menjaga ketahanan tubuh. Sumbernya adalah jeruk, tomat, pepaya dan berbagai jenis sayuran dan buah lainnya.
Vitamin D berkhasiat menjaga kesehatan tulang dan gigi. Vitamin D bisa didapatkan pada susu, minyak ikan, dan telur. Vitamin E berperan penting dalam sistem reproduksi. Sumber vitamin E adalah biji-bijian, susu, sayuran, dan telur.
Beruntunglah saya sudah mengenal multivitamin Theragran-M, sehingga saya akan lebih mudah mendapatkan berbagai jenis vitamin dan magnesium yang dibutuhkan oleh tubuh saya.

Theragran-M merupakan kombinasi Multivitamin yang sangat diperlukan oleh tubuh, seperti vitamin A, vitamin B, vitamin C, vitamin D, dan vitamin E. Selain itu, Theragran-M juga mengandung mineral esensia, yaitu magnesium dan zinc. Dengan mengonsumsi multivitamin ini, maka dapat meningkatkan, mengembalikan, dan menjaga daya tahan tubuh, serta mempercepat proses penyembuhan.
Semoga semua resolusi itu dapat terwujud. 

Referensi: 

Kamusbahasaindonesia.org
taiso.co.id
theragran.co.id


Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M

Sabtu, 23 Desember 2017

29 Kisah Inspiratif tentang Ramadan



Judul Buku: Ramadhan Kareem
Penulis: Alumni SP 15
Desainer Cover: Dindin Rasdi
Layout: Dindin Rasdi
Penerbit: Bitread Publishing

Buku ini berisi kisah inspiratif tentang Ramadhan, baik berupa memoar maupun cerpen. Ditulis oleh para perempuan yang tergabung dalam alumni Sekolah Perempuan Gelombang 15, terdiri dari:

Rara Radyanti, Endah Rini, Irienindra, Nur Aynun, Wulansari Apriani, Nurria Betty, Chadijah Hakim, Niken Sari, Titik Suswati, Wahyuni Indriyani, Neni Triani, Yetrie Gustianti, Lily Kholida, dan saya Dawiah
Ada 14 orang penulis yang menulis  29 kisah. Kisah-kisah tersebut dirangkai dengan manis karena ditulis  dalam rangka menyambut dan mengisi bulan Ramadan yang penuh berkah.

Proses penulisan hingga terbitnya tidak lama, hanya selama kurang lebih sebulan dan buku antologi ini terbit. Ada suka duka yang menyertai proses penerbitannnya. Terutama ketika akan  dijadikan bingkisan  buat guru-guru SMP Negeri 7 Makassar dari para alumni SMP Negeri 7 Makassar  angkatan 1987.
Seperti kata Rara Radyanti yang menjadi PJ dalam  proses penerbitannya.
“Ibarat rayap yang bekerjasama membangun istananya, begitulah persahabatn kami sesama alumni Sekolah Perempuan angkatan 15 dalam menyusun buku ini. Kisah-kisah kehidupan penuh inspirasi dalam suka dan duka di bulan penuh hikmah ini, semoga dapat memberikan inspirasi, pemahaman, dan khasanah keilmuan tentang Ramadan.”
 
 14 orang penulis buku ini berada diantara seluruh peserta SP 15
Kehadiran buku ini juga memberi makna dalam bulan Ramadan. Simaklah kata-kata berikut.
 “Kumpulan kisah Ramadan yang penuh warna. Suka dan duka disajikan dalam rangkaian kata yang mempesona. Antologi ini membuat Ramadan lebih bermakna!”
                                    Ida Fauziah (Penulis, Mentor, dan Pengajar di Sekolah Perempuan).
Alhamdulillah, buku ini terbit dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Maka tidaklah berlebihan apabila dikatakan buku Ramadhan Kareem tak akan lekang oleh waktu.
Setiap tahun, buku ini selalu pantas untuk dibaca.
Berikut cuplikan dari tulisan saya dalam “hidayah.”
Salsabila mengumpulkan keberaniannya, saat melewati hutan itu. Menurut cerita penduduk, di dalam hutan itu, sering terdengar suara tangisan yang menyayat, atau suara lolongan anjing yang panjang. Biasa pula terdengar suara sesenggukan yang ngilu. Tetapi Salsabila harus melewati hutan ini, karena itulah jalan satu-satunya menuju rumahnya.
Hutan rimbun dengan pohon-pohon besar menjulang tinggi. Di pinggir hutan terdapat pohon trembesi yang sangat subur berjejer-jejer di sepanjang jalan, terasa sejuk kala siang hari. Namun terasa seram di malam hari. Daun-daunnya yang melambai menimbulkan suara berdesir-desir diterpa angin, menambah suramnya malam pekat yang mencekam…



Kamis, 21 Desember 2017

Merajut Kenangan Bersama Mama

Tanah suci umat Islam, Mekka atau Makka Al Mukarramah adalah impian mama saya  sejak dahulu. Setiap kali melihat tayangan tentang negeri kecintaan umat Islam itu di televisi, mata mama berkaca-kaca. Terharu. Apalagi kalau yang dilihatnya adalah Ka’bah, maka beliau akan selalu berkata. “Semoga kita bisa juga ke sana.”
Suatu waktu, mama menonton televisi dengan tayangan kesukaannya. Tawaf mengelilingi Ka’bah.

“Dawiah, sama-ki nanti pergi ke Mekka nah!” Seru mama.
“Kapan yah kita ke sana?” Mama bicara lagi sebelum saya sempat menjawab seruannya.
“Andaikan Mekka itu dekat, seperti ke Pangkep pasti saya sudah bawa maki ke sana.” Jawab saya sekenanya.
Awwi… kalau seperti ji Pangkep, tiap bulanma ke sana, hahaha…” Mama tergelak sampai bahunya terguncang-guncang.

Saat dana sertifikasi pertama saya  cair, atas izin suami saya berniat menyerahkan dana itu  buat biaya haji mama. Tetapi mama menolak karena dia tidak ingin berangkat sendiri.
“Kenapa Mama menolak?” Tanya saya.
“Mama tidak mau pergi sendiri, nanti kita pergi berdua kalau perlu bertiga dengan suamimu.” Jawabnya seraya menengadahkan kedua tanganya. Berdoa.

Saya hanya bisa menelan ludah. Biaya satu orang saja mahal apalagi bertiga.
Tetapi siapa yang bisa menyangkal doa seorang ibu. Doanya langsung diijabah oleh Allah swt. Setahun kemudian, saya  berhasil mengumpulkan dana untuk setoran haji bersama mama. Bukan hanya berdua melainkan bertiga dengan suami saya.

 “Tunggu 10 tahun ya Bu.” Demikian jawaban pegawai yang melayani kami di kantor Departemen Agama.  Kami hanya diam mendengarnya. Tetapi mama menjawab dengan kesederhanaan pikirannya.
“Biar 20 tahun kami akan menunggu yang penting kami sudah berniat dan berusaha.”

Sejak hari itu, mama rajin belajar dengan bertanya kepada teman-temannya di majlis taklim. Semakin rajin mengaji, mengikuti pengajian-pengajian dan semakin rajin ke masjid. Katanya, untuk latihan agar nanti di tanah suci tidak kagok lagi melaksanakan ibadah.
Ternyata Allah swt sangat sayang sama mama. Entah bagaimana caranya kami mendapatkan rezki untuk berangkat ke tanah suci. Walaupun hanya ibadah umroh, namun setidaknya sudah bisa memenuhi separuh impiannya.

Semalam di Kualalumpur

Hari yang indah, matahari bersinar cerah secerah hati mama. Tidak sedikitpun dia memperlihatkan kelelahan atau kecemasan, padahal ini adalah perjalanan pertamanya menggunakan pesawat terbang.
Pukul 17.30 waktu setempat, rombongan kami tiba di Kualalumpur. Rencananya kami akan menginap semalam di hotel yang telah disediakan oleh pihak travel, dan esoknya kami akan singgah di beberapa tempat sebelum menuju ke bandara dan terbang ke Jedda.
Saat berada di salah satu hotel di Kualalumpur, mama  kedinginan. Beliau memang tidak terlalu suka dengan ruangan yang ada acnya.Saya  mencari remot ac untuk  menonaktifkan ac, sayangnya remot acnya tidak berfungsi. Maka semalaman kami tidur berpelukan agar dapat saling menghangatkan tubuh kami. Serasa saya kembali menjadi bayi, tidur dalam pelukan mama.

Mama paling senang difoto. Ini foto beliau di depan salah satu hotel di Kualalumpur


Hajja! Masuk Pintu Nomor 25

Rombongan kami tiba di Madina sekitar pukul 03.00. Azan subuh berkumandang tepat setelah kami membereskan barang-barang dan tas di kamar hotel. Kami turun dari hotel menuju masjid Nabawi. Kulihat mata mama berbinar-binar, sembari tersenyum semringah dia menggapit lengan saya sambil berbisik.

“Alhamdulillah, Dawiah … engka tongengni ko Madina di .. de’ usangka-sangkai. Sukkuruki mappoji ri puang Allah Taala.”

Artinya:
     Alhamdulillah, Dawiah … kita betul-betul sudah di Madina ya … tidak kuduga. Bersyukurlah kepada Allah Taala.”

Iye Ma …” Saya memeluk mama  dengan penuh rasa haru.

Kami bergandengan mencari pintu masuk masjid Nabawi, tiba-tiba kami dihadang oleh seorang laki-laki yang tinggi besar, memakai jubah putih sambil berteriak. Tangannya menunjuk ke arah selatan. Langkah kaki kami terhenti, kami diam mematung tidak tahu mau berkata apa.

“Hajja mau masuk masjid?” Tanyanya. Masya Allah! Dia menyapa kami dengan bahasa Indonesia.
“Iya Pak.” Jawab saya senang.
“Hajja masuk lewat pintu nomor 25.” Katanya lagi tersenyum sambil berlalu. Mama mengangguk takzim. Laki-laki itu balik mengangguk tak kalah takzimnya.
Mama  memang selalu sopan kepada siapapun.

Subuh di depan Masjid Nabawi bersama mama


Bonus untuk Mama

Berziarah ke makam Rasulullah saw adalah salah satu impian mama. Makam Rasulullah saw berada di dalam masjid Nabawi, ditandai dengan pintu berlapis emas dan warna karpet kehijauan, berbeda dengan warna karpet lainnya di dalam masjid.

Di sebelah mimbar Rasulullah terdapat Raudah, sebuah bilik kecil tempat para peziarah bermunajat kepada Allah swt. Sayangnya, untuk berziarah dan memasuki Raudah bukan hal yang gampang. Biasanya jemaah memasuki makam bersama rombongannya dan sebelumnya harus  antri menunggu giliran. Jika giliran rombongan jemaah tiba untuk masuk makam, masih juga memerlukan perjuangan yang cukup berat untuk sekedar salat dua rakaat, karena biasanya rombongan jemaah lain saling berdesakan. 

Hal inilah yang saya takutkan. Postur tubuh mama kecil ditambah dengan usianya yang sudah tidak muda lagi serta fisiknya yang lemah, mana mungkin beliau mampu bertahan dari desakan jemaah lainnya. Apalagi postur tubuh jemaah dari negara Timur Tengah pada umumnya tinggi dan besar.
Untuk menyiasatinya, saya menggandeng tangan mama mengikuti rombongan jemaah dari Uzbekistan. Saya pikir, kalau kami berada di antara mereka maka kami akan terlindungi oleh tubuh-tubuh mereka yang besar dan kekar.

Tiba-tiba seseorang memanggil kami. “Bu! Kesini Bu!”
Kami menoleh, ternyata ada seorang perempuan bercadar melambaikan tangannya ke arah kami. Mamaku mencengkeram lenganku sambil berbisik.” Astagfirullah, salahki kapang di?”
Perempun bercadar itu mendatangi kami sambil bertanya.
“Ibu berasal dari Indonesia?” Terdengar logat dan bahasa yang tidak asing ditelinga kami. “Iyah Mbak.” Saya balas menjawab dan mama bernafas lega.
“Mbak orang Indonesia kan?” Tanya saya  tanpa ragu.
“Iya, saya berasal dari Purwokerto. Kalian mau ke makam Rasulullah?” Perempuan bercadar memandang kami sambil tersenyum, walaupun bibirnya tidak terlihat karena dia memakai cadar tetapi garis matanya memperlihatkan kalau dia sedang tersenyum. Saya  dan mama mengangguk bersamaan.
“Sini, ikuti Saya.” Perempuan bercadar yang belakangansaya ketahui bernama Ummu Salama itu adalah seorang tenaga kerja wanita, dia bertugas membersihkan masjid Nabawi. Kami mengikuti Ummu Salama yang berjalan ke arah lain yang berlawanan arah dengan rombongan jemaah yang akan berziarah ke makam Rasulullah. Ummu Salama berhenti di depan jalan tempat keluarnya jemaah yang telah selesai berziarah. Dia bercakap sejenak dengan perempuan bercadar lainnya yang bertugas menjaga pintu keluar. Perempuan itu lalu mempersilahkan kami masuk dan Ummi Salama mengangguk ke arah kami kemudian berlalu.

Subhanallah! Saya tidak berhenti  mengucap syukur. Disaat jemaah lain berdesak-desakan memasuki ruang berkarpet hijau dan salat sambil ditunggui oleh teman rombongannya, kami malah mendapatkan tempat yang luang untuk salat sambil ditunggui oleh penjaga yang bercadar. Mamaku salat lalu berdoa sambil menangis. Sejurus kemudian, kami dihalau oleh penjaga. “Hajja … hajja keluar, sudah … sudah.”

Kamipun keluar melalui jalan tempat kami tadi masuk. Sekali lagi mama mengangguk takzim kepada penjaga yang kami lewati, penjaga bercadar itupun balas mengangguk.
Setelah berada di luar masjid, mama duduk di pinggir emperan tokoh, tidak henti-hentinya dia mengucap syukur sambil berkata.

 “Dapatki ini bonus dari Allah, ka banyaknya orang Indonesia ma’jaga, itumi bisaki masuk di ...”

Air Mata Mama di Depan Ka’ba

Pada hari keenam, rombongan jemaah melanjutkan perjalanan menuju Mekka. Singgah sebentar untuk mengambil miqot di Bir Ali lalu perjalananpun dimulai.  Sepanjang jalan menuju Mekka, mama  tidak henti-hentinya mengucapkan “Labbaikallahumma labbaik..”
Rombongan kami tiba di hotel pukul 24.30. Kami hanya menyimpan koper dan bawaan lainnya, lalu turun di pelataran hotel berkumpul bersama jemaah lainnya dan bersiap berjalan menuju Masjidil Haram untuk melanjutkan serangkaian ibadah umroh kami, yaitu  tawaf, sai’, dan tahallul.

Selama tawaf  tak sekalipun terdengar  mama mengeluh karena capek. Padahal jarak dari hotel ke Masjidil Haram lumayan jauh, kemudian tanpa beristirahat kami langsung melakukan tawaf. Mama juga tidak menjadi heboh saat melihat ka’ba, padahal inilah tempat yang sangat dirindukannya. Beliau hanya menangis pelan tanpa suara. Air matanya bagaikan kristal bening, menggantung indah di pipinya yang keriput.

Demikian pula, saat kami melakukan sai’, mama  berjalan dan berlari-lari kecil dari Shafa ke Marwah dengan langkah yang ringan. Kalau urusan jalan kaki, mama  memang jagonya. Tidak sia-sia beliau setiap hari berjalan kaki dari rumah menuju masjid, tiga sampai lima kali sehari.

Alhamdulillah, kami menyelesaikan prosesi ibadah umroh dengan baik. Semoga ibadah umroh kami mabrur.



Kenangan-kenangan yang saya rajut bersama mama tidak terbilang banyaknya, tetapi bersamanya melakukan ibadah umroh adalah kenangan yang  terukir setelah saya sendiri telah menjadi ibu, mama bagi anak-anak saya.



Dari kebersamaan itu, menyadarkan saya bahwa betapa pentingnya menjaga kesehatan jasmani dan rohani. 
Kesehatan jasmani mama terjaga dari rutinnya beliau berjalan kaki dan selalu mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa pernah sekalipun mengeluh. Sementara kesehatan rohaninya, beliau jaga dengan selalu salat fardu tepat waktu, salat malam, dan puasa sunat. 
Mama juga tipe orang yang tidak banyak menuntut, ikhlas mengerjakan apapun, setidaknya itu yang saya  lihat sejak pertama kali saya  mengenalnya.

Sehat terus Mama, semoga keberkahan Allah swt selalu menyertai mama.