Sabtu, 14 April 2018

Menapaki Jejak 32 Tahun


Profesi guru pada era 80-an bukan profesi yang keren. Sangat sedikit  peminatnya, bahkan cenderung dicemooh. Pada umumnya, pelajar-pelajar yang bersekolah di kota menganggap  menjadi guru itu kampungan. Mungkin karena waktu itu,  IKIP lebih banyak diminati oleh pelajar dari daerah. Entahlah.

Ketika tamat SMA, beberapa teman ramai-ramai mendaftar di perguruan tinggi terkeren di kotaku. Aku juga mencoba, sekalipun pilihan itu tanpa restu bapakku. Sambil mendaftar di perguruan favorit itu aku juga mendaftar di Institut Keguruan Ilmu Pendidikan. IKIP Ujung Pandang. Untuk pilihan kedua ini, bapakku sangat rida.

Akhirnya aku hanya  berhasil lolos di IKIP D2. Pasti waktu itu, doa bapakku menembus langit sesuai niatnya, beliau akan bahagia kalau aku menjadi guru.
Kata bapakku, “sekalipun bapak belum pernah bertemu guru yang kaya secara materi, tetapi guru adalah pekerjaan yang paling mulia. Pahala yang akan kamu dapatkan tidak akan pernah terputus hingga kamu tiada, asalkan kamu mengajar, mendidik murid-muridmu dengan benar, baik, dan ikhlas.”
**************
Menyelusuri kembali jejak-jejak masa 32 tahun lalu, mengingatkan akan masa di mana aku dan teman-teman mengabdikan diri di desa Balleangin. Kecamatan Balocci Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan.

Meninggalkan zona nyaman, menuju ke tempat yang penuh tantangan. Tidak ada listrik, tidak ada tempat tinggal, dan  tidak ada  keluarga. Hanya berbekal ijazah D2 dan restu orang tua, aku berangkat ke desa Balleangin dan bersiap mengabdikan diri. Di desa inilah aku bertemu dengan teman yang nantinya akan menjadi saudara seperjuangan.

Aku dan teman-teman adalah guru-guru muda, baik usia maupun ilmu apalagi pengalaman. Ada yang baru dua tahun meninggalkan masa putih-putihnya (waktu itu seragam SMA belum putih abu-abu), bahkan ada yang baru setahun menempuh pendidikan guru dan langsung bertugas.

Bagiku, situasi itu cukup sulit.  Berbekal ilmu seadanya, minim pengalaman, minim fasilitas, minim sarana, dan minim dana. Kami hanya memiliki kekuatan semangat. Walau sulit tetapi tidak menyurutkan niat kami untuk tetap menjalankan tugas sebagai guru.

Walaupun ilmu kami masih sangat sedikit, pengalaman mengajar masih minim tetapi semangat dan usaha kami tidak bisa dipandang sebelah mata.

Setiap malam, diterangi lampu petromaks kami belajar untuk mengajar. Berdiskusi dengan teman-teman seperjuangan, membicarakan tentang metode mengajar yang cocok, bercerita tentang keseruan di kelas, dan sebagainya.
Setiap pagi, kami menyambut murid-murid yang berdomisili di sekitar desa. Tidak sedikit murid kami berasal dari desa lain yang jarak ke sekolah dengan desa mereka lumayan jauh.

 Ada yang berjalan kaki menempuh perjalanan puluhan kilometer untuk mencapai sekolah.  Tiba di sekolah dengan keringat yang membasahi seragam dan  kaki berdebu tetapi mata mereka memancarkan binar kebahagiaan dan semangat membara untuk menuntut ilmu.

Jika hari libur, biasanya kami diundang oleh orangtua murid menikmati hasil panen mereka. Jika musim jagung, kami disuguhi berbagai makanan olahan dari jagung. Musim kacang, kami akan sibuk mengupas kulit kacang, demikian pula jika musim kedelai maka kami kembali disibukkan dengan kegiatan mengupas kulit kedelai, untuk dimasak dan dimakan ramai-ramai. 
Apabila musim kemarau tiba, maka kami akan menikmati indahnya berjalan kaki demi mencari air jernih.

Walaupun hanya tujuh tahun mengabdikan diri di desa ini, namun banyak sekali  manfaat yang kuperoleh selama tujuh tahun itu. Belajar menjadi guru yang sesungguhnya, belajar berbagi dengan teman-teman senasib, belajar mengelola keuangan agar dengan gaji kecil dapat memenuhi kebutuhan hidup yang besar.  

Di desa ini pula aku belajar menjadi isteri sekaligus menjadi ibu untuk dua orang putraku. Mendidik anak dengan fasilitas seadanya ternyata jauh lebih mudah dibandingkan mendidik anak dengan fasilitas serba lengkap.

Bersama ibu IDAH, teman seperjuangan. Kini beliau mengajar di salah satu sekolah negeri di kota Makassar



Kini sekolahku  sudah maju dan indah. Tidak ada lagi lapangan gersang yang dahulu kami olah untuk ditanami ubi jalar. Rumah yang dahulu kami tempati serupa barak berdinding tripleks kayu sudah berubah menjadi gedung sekolah baru.

Alhamdulillah, penduduk di desa ini tidak perlu lagi ke luar daerah jika akan melanjutkan pendidikannya ke tingkat lebih tinggi. SMP, SMA, dan SMK sudah berada dalam satu kompleks.


Semoga desa yang berkesan ini semakin maju. Penduduknya juga kian sejahtera apalagi telah ditunjang dengan listrik yang memadai. Aamiin. 




Sabtu, 17 Maret 2018

For My Husband



Sejak kecil saya suka membaca. Menulis hanya sebatas menulis di buku diary, itupun hanya berisi segala perasaan yang melanda di dada,  menuangkan kemarahan-kemarahan dan kekesalan saya kepada seseorang atau kepada sesuatu.

Seperti  saat saya mendapatkan nilai buruk sehabis ulangan, maka buku diary adalah tempat saya melampiaskan kekecewaan kepada guru.  “Kenapa soalnya terlalu sulit, kenapa soalnya tidak sama dengan materi pelajaran yang saya pelajari, dan lain sebagainya.” Padahal dasarnya, saya saja yang kurang belajarnya.

Menulis tentang apa saja di buku diary berlanjut terus hingga saya menikah. Ketika saya marah kepada suami, maka namanya pasti tertulis di buku diary itu. Jika saya gembira karena limpahan kasih sayangnya, maka kepadanya saya persembahan puisi-puisi cinta. Kadang saya menulis sambil berurai air mata, kadang pula saya menulis dengan senyuman tersungging di bibir.

Tiga tahun  awal penikahan,  saya lalui di desa yang cukup terpencil. Akses menuju ke desa tempat saya bertugas belum terlalu lancar. Pasar tradisionalnya digelar hanya dua kali sepekan. Selain itu, tidak ada toko atau warung yang menjual alat tulis kantor yang lengkap. Karenanya ketika buku diary saya sudah penuh, sementara kebutuhan untuk menulis tidak bisa ditunda, maka pilihannya jatuh kepada buku tulis, seperti buku tulis yang biasa digunakan oleh siswa saya.  

Hingga suatu waktu, buku itu hilang. Seharian saya mencari buku itu, tetapi tidak ketemu juga. Sementara tangan ini sudah gatal untuk menulis. Ada ide di kepala saya untuk menulis puisi atau sekedar kata-kata manis buat suami saya. Waktu untuk menulis saat itu sangat pas, anak saya sudah terlelap di atas ayunannya, suami pergi ke kota untuk menjenguk ibunya. 
Untuk mengantisipasinya, saya mengambil selembar kertas dari buku PR siswa saya, semoga siswa saya itu mengikhlaskan kertasnya.

Di secarik kertas itulah saya menuliskan perasaan cinta saya kepadanya, rasa bahagia, kekaguman dan sebagainya hingga kertas itu penuh, timbal balik. Mungkin kalau waktu itu diketik, paling-paling hanya sekitar 200 hingga 300 kata. Kertas itu kemudian saya lipat dengan rapi, lalu saya selipkan di antara lipatan baju dalam lemari.

Suatu waktu, kertas itu ditemukan oleh suami saya. Ia membacanya. Saya melihatnya. Sambil menahan debaran di dada, mengharap ia datang memeluk saya sambil berucap, “Terima kasih sayang, saya juga selalu sayang sama kamu.” 
Saya deg-degan menanti momen yang saya impikan itu.

Kurang dari lima menit, ia membaca kertas itu. Aneh bin ajaib, suami saya menatap tajam kepada saya. Tatapannya seakan menghunjam ke dalam hati. Saya balas menatapnya dengan mulut melongo sambil bertanya, “Ada apa Pak?”

“Siapa itu Hasbi?” Mulutnya mendesis. Suaranya bagaikan amukan harimau yang tertahan.
“Hasbi? Siapa itu Hasbi?” Saya balik bertanya. Bingung, kenapa nama itu keluar dari bibirnya setelah membaca kertas itu.
“Iniiii…” Katanya sambil menyodorkan kertas itu.
“Di sini Mama menulis kata-kata cinta, sayang, kagum, dan pujian kepada si Hasbi itu!” Suaranya geram, menahan kemarahan yang seakan siap meledak.

Saya meraih kertas itu. 
Yah Rabbi!




Rasanya ingin terbahak-bahak, tetapi saya sadar suami saya sedang dilanda cemburu, maka ketawa itu saya tahan. Namun senyum saya tidak bisa saya sembunyikan. Suami saya semakin murka.
“Kenapa senyum! Mama suka sama dia?” Bentaknya sambil meremas lengan saya.

Sambil menahan senyum saya memeluknya, saya raih lengannya, saya ciumi punggung tangannya. Suami saya belum bergeming. 
Saya merengkuh lehernya, saya mengecup bibirnya. Terasa bibirnya dingin. Saya berbisik halus di telinganya, “Sayang, tulisan itu untuk kamu.”
“Coba baca baik-baik judulnya.” Sambil menyodorkan kertas itu, saya menarik pinggangnya untuk duduk di pinggir ranjang.

Di kertas itu saya menulis judulnya, For My Husband. Karena tulisan itu adalah tulisan tangan, dan tulisan tangan saya kurang rapi sehingga kata Husband dibaca Hasbi. 
Hahaha …

Untunglah, tulisan itu saya akhiri dengan kalimat, “Suamiku, sehat terus ya..dan kamu tetap disayang Allah. Semoga kita akan terus bersama hingga maut memisahkan kita. Aamiin.”

Suami saya tersenyum malu-malu meong  sambil berkata, “Ah siapa suruh tulisanmu jelek, kan saya jadi cemburu.”

Ha…ha…ha… kami tergelak bersamaan sambil berpelukan.
Sejak saat itu, saya berusaha menulis dengan rapi, agar Husband tidak lagi dibaca Hasbi.

Apa kabar dengan buku tulis sekaligus buku diary saya yang hilang?
Nantikan jawabannya di buku antologi "Menulis Berbagi Rasa dan Cerita". 
To be continued …


Senin, 12 Maret 2018

ASYIKNYA KOPDAR DI MAKASSAR DIGITAL VALLEY




Senin, 5 Maret 2018 demikian tanggal yang tertera pada undangan yang disebarkan oleh punggawa IIDN Makassar, Mugniar dan Abby. Bagi saya ini adalah kopdar yang keempat kalinya, sekalipun sudah sering bertemu dengan teman-teman penulis Makassar dan anggota IIDN Makassar  diberbagai acara, namun kopdar sekaligus belajar bersama IIDN Makassar baru empat kali.

Kopdar pertama adalah bertepatan dengan bedah buku “Inspirasi Bunda” pada 22 Desember 2016. Di tempat inilah untuk pertama kalinya saya bertemu dengan punggawa IIDN juga anggota-anggota lainnya, dan oleh-oleh yang saya bawa pulang adalah buku “Inspirasi Bunda.”

Kopdar kedua berlangsung pada 19 Januari 2017 sekaligus belajar “Cara Jitu Menerbitkan Buku dengan Self Publisihing” yang dibawakan oleh Umma Azura. Kali ini saya mendapatkan hadiah buku “Para Abdullah di Sekitar Rasulullah.” Buku tersebut dibagikan sendiri oleh penulisnya, Haeriyah Syamsuddin. Mengenai review buku ini dapat dibaca di sini: http://www.mardanurdin.com/2017/03/buku-yang-menginspirasi.html.

Berikutnya adalah kopdar ketiga  sekaligus bercanda dengan EBI oleh  Kepala Sekolah SP ibu Anna Farida pada 3 Juli 2017.  Kopdar yang asyik dan sangat mengesankan. Bertemu dengan mentor tercinta saya, tentu saja ini adalah sesuatu yang sangat menggembirakan saya.

Inilah kopdar yang keempat sekaligus belajar  “Ngeblog Untuk Pemula” bersama Abby Onety.
Jika pada kopdar pertama dan yang ketiga  bertempat di Regus Graha Pena, maka kopdar kedua di Dilo Makassar, jalan Dr. Ratulangi no 68. Kali ini  kopdar  keempat berlangsung  di Makassar Digital Valley, Jl. AP Pettarani no. 13 Makassar.
Ada nuansa tersendiri ketika kopdar dengan anggota IIDN, silaturahim semakin tejalin dengan baik. Selain itu, saya kembali berkenalan dengan anggota lain yang baru menghadiri kopdar, juga beberapa yang baru gabung di IIDN. Pertemuan ini tidak sekedar kongko-kongko tanpa makna ya teman-teman...  melainkan ada pembelajaran yang akan disampaikan oleh wakil ketua IIDN Makassar.

Dilo adalah tempat yang sudah sering saya datangi, tetapi itu beberapa tahun lalu antara tahun 2007 hingga tahun 2008.  Waktu itu, guru-guru sedang gencar-gencarnya belajar internet demi menyongsong program pemerintah untuk peningkatan kesejahteraan guru melalui program sertifikasi.  Di Dilo (Digital Innovation Laounge) inilah  tempat saya dan beberapa rekan guru untuk pertama kalinya belajar tentang penggunaan email, bahkan beberapa teman belajar membuat email. Dilo yang saya maksudkan itu adalah yang bertempat di Jl. Dr. Sam. Ratulangi Makassar. Beberapa tahun kemudian, saya datang lagi ke Dilo, yaitu dalam rangka kopdar kedua seperti yang saya ceritakan di atas.



Nah, kali ini saya kopdar di Dilo lagi, tetapi bukan  di alamat yang lama melainkan sudah pindah ke Jl. A.P Pettarani. Rupanya Dilo sekarang telah pindah di Gedung Makassar Digital Valley atau MDV. Gedung MDV ini masih baru, hal ini terlihat dari ruangannya yang masih apik. Selain itu, perabotan-perabotannya juga masih baru dan tentu saja sangat bersih.

Memasuki ruangan MDV, kita akan langsung disuguhi suasana yang nyaman dan bersahabat. Pegawai yang bekerja di MDV ini akan menyambut Anda dengan ramah. Selain ruang tamu yang luas dan bersih, terdapat pula ruangan yang digunakan untuk belajar. Ruangan ini cukup luas, dapat menampung sekitar 30 orang.

Ruangannya yang dipenuhi AC tentu saja memberikan kesejukan yang nyaman. Selain itu, dinding-dinding pada setiap ruang didekorasi dengan indah, dan  sangat instagramable sehingga cukup asyik untuk difoto dan berfoto dengan latar belakang dindingnya.
Informasi lainnya adalah, ternyata Digital Valley tidak banyak di Indonesia, dan MDV atau Makassar Digital Valley ini adalah salah satu dari empat Digital Valley yang ada di Indonesia. Keren kan?

Maka kopdar saya yang keempat ini tidaklah sia-sia. Dapat ilmu di tempat yang asyik dan keren sekaligus menjalin silaturahim yang indah.



Sabtu, 03 Maret 2018

SAGUSAKU DELAYING 2018

Menindak lanjuti kegiatan Temu Nasional dan Pengukuhan Pelatih (TNP) bulan Januari 2018 kemarin, maka inilah kegiatan yang bertujuan memantapkan salah satu kanal pelatihan IGI, yaitu Satu Guru Satu Buku (SAGUSAKU). Kanal pelatihan ini adalah kanal pilihan saya sejak awal bergabung di IGI.

Bukan tanpa sebab saya bergabung di kanal ini, semuanya berawal dari keinginan  saya, memiliki buku dan memahatkan karya saya sebagai warisan yang abadi.

Kegiatan TNP menghasilkan satu keputusan penting bagi kanal Sagusaku, bahwa guru yang telah dikukuhkan menjadi pelatih nasional IGI harus dibekali ilmu yang mumpuni, agar proses pelatihan yang akan dilakukan tidak asal-asalan. Oleh karena itu, Sagusaku melakukan pelatihan khusus bagi para pelatihnya dengan nama  “Pelatihan Coach Nasional Sagusaku IGI “Delaying.” Kegiatan ini dilaksanakan di Solo Jawa Tengah.

Mengapa Delaying?

Delaying adalah singkatan dari Desain, Editing, Lay out, dan Marketing. Materi-materi inilah yang akan diberikan kepada pelatih sagusaku delaying 2018.
Walaupun tidak sesuai dengan jadwal pelatihan yang telah dibagikan beberapa hari sebelum pelaksanaan kegiatan ini, namun semua materi yang telah disiapkan oleh panitia tetap terlaksana dengan baik.

Dimulai dengan materi pertama, yaitu proses penerbitan oleh bapak Iqbal  Dawami, kemudain dilanjutkan dengan editing oleh bapak Joko Susilo. Hari pertama kami lalui hingga malam hari. Hari kedua  adalah materi desain cover oleh bapak Gusliani dan Lay Out oleh bapak Peng Keng Sun.

Satu hal yang perlu diketahui, bahwa prinsip IGI yang Sharing and Growing To Gether atau  berbagi dan tumbuh bersama benar-benar telah terbukti. Dari guru untuk guru lalu bersama saling memotivasi dan belajar demi meraih berjuta prestasi.

Adalah seorang guru SD dari Wonogiri yang memiliki skill mengedit suatu naskah, membagikan ilmunya, bapak Joko Susilo. Dimulai dengan informasi tentang sejarah editor yang sudah ada dalam dunia penerbitan buku di Indonesia sejak tahun 1890. Sementara itu, pendidikan editing di Indonesia setingkat diploma tiga (D3) baru dimulai sekitar tahun 1980, yaitu program studi editing D3 di Universitas Pajajaran Bandung.

Editor dalam penerbitan skala besar dibagi menjadi:
·       Chiep Editor adalah seseorang yang memegang kedudukan tertinggi di bagian editorial, bertugas mengontrol, mengelola, dan mengeluarkan keputusan strategis berkaitan dengan proses editorial.
·  Asisten Editor adalah setingkat dengan sekertaris redaksi yang bertugas sebagai pembantu editor yang menangani hal-hal teknis seperti administrasi naskah.
·        Managing Editor adalah seseorang yang mengatur semua kegiatan teknis editorial yang dilaksanakan oleh para editor.
·     Rights Editor adalah staf editor yang bertugas khusus mengurus hal-hal yang berkaitan dengan hak cipta, seperti ISBN dan copyright.
·  Senior Editor bertugas mengatur perencanaan naskah, negoisasi, penjadwalan atau setingkat dengan kepala bagian.
·    Copyeditor adalah staf editor yang bertugas memeriksa dan memperbaiki naskah yang sesuai dengan kaidah yang berlaku sesuai dengan penerbitnya
·   Picture Editor juga adalah staf editor. Tugasnya adalah memeriksa dan memperbaiki bahan-bahan grafis untuk penerbitan.

Materi selanjutnya adalah materi pembuatan desain cover yang dibimbing oleh Pak Guslaini. Nama ngetopnya sih Pak  Bhp, beliau adalah guru muda yang berasal dari Riau. Dengan sabar dan telaten membimbing peserta belajar mengutak-atik aflikasi Photoshop. 

Tahu enggak, di sinilah saya merasa benar-benar sudah sangat matang (hihihi...makanan kali yeh).

Berbekal dengan petunjuk atau tutorial yang disiapkan oleh Pak Bhp, kami belajar hingga larut malam. Semua peserta sangat antusias demikian juga saya. Sayangnya saya belum lulus sampai hari ini, karena saya belum berhasil membuat desain cover buku saya. Tetapi saya pasti akan mempelajarinya. Janji pak Bhp!

Materi yang terakhir adalah materi Lay out. Untuk materi ini ada dua orang hebat yang membawakan materi ini. Pak Bhp (lagi-lagi Bhp, guru muda yang berprestasi dan selalu semangat) dengan bapak Pengkeng Sun. Sama dengan materi desain cover, saya juga masih dalam tahap belajar hingga hari ini.

Seperti pada umumnya pelatihan yang pesertanya berasal dari berbagai daerah, maka nilai positif yang  didapatkan selain materi itu sendiri, adalah silaturahim. Persahabatan dan pertemanan bertambah, jika sudah berkenalan sebelumnya maka perkenalan itu akan semakin akrab. Jika awalnya akrab di dunia maya, maka akan semakin akrab karena bertemu di dunia nyata.

Banyak hal menarik yang terjadi dalam kegiatan IGI kali ini. Terkhusus untuk saya dan teman-teman sekamar. Kami melakukan keseruan-keseruan yang membuat kami selalu kangen. Sekalipun saya yang terdewasa, bukan tertua tetapi bukan berarti saya tidak dapat mengikuti keseruan yang guru-guru muda lakukan.

Seperti menonton sinetron via handpone sambil bersembunyi di dalam selimut, atau selfi bareng,  bahkan mereka dengan nakalnya merekam kegiatan saya saat mengepak barang. Asyik dan membuat kami selalu kangen satu sama lain.

Akhirnya kegiatan selama dua hari telah berakhir. Waktunya para guru kembali ke daerah masing-masing untuk mengajar dan mempraktikkan ilmu yang telah didapatkan.


Saat orang lain mengisi hari libur dengan jalan-jalan atau beristirahat, kami anggota IGI mengisinya dengan belajar. Sesuai dengan salah satu syair dalam lagu Mars IGI, yaitu “Pantang Mengajar Kalau Tidak Mengajar.”


Minggu, 25 Februari 2018

Bapakku yang Selalu Memberi Momen Bahagia


Ditantang menulis dengan tema momen bahagia dalam hidup pastilah aku terima, karena aku lebih senang disuruh mengenang momen bahagia dibandingkan disuruh mengenang momen-momen yang menyedihkan.

Aku tidak mau!

Aku tidak mau mengingat apalagi terkenang-kenang dengan peristiwa yang menyedihkan, karena itu tidak penting lagi untuk dikenang.

Saat aku mulai menulis, maka tanpa disengaja   kenangan-kenangan itu berlompatan keluar dari otak kecilku. Diibaratkan otak itu sedang mengeluarkan cairan-cairan kental  merah dan membara. Melumer kemana-mana, memberikan sensasi kebahagiaan sehingga menarik bibirku membentuk satu lekukan manis. Aku tersenyum.

Sebenarnya banyak momen yang membahagiakan  di sepanjang hidupku yang telah mencapai setengah abad lebih empat tahun ini. Sehingga cukup sulit memilih, mana momen yang “paling” membahagiakan.

Seperti saat melihat ibuku tersenyum terharu menerima amplop gaji pertamaku sebagai guru.  Momen itu sungguh membahagiakan sekaligus membanggakan diriku. Demikian pula ketika melihat bapakku tertawa terkekeh-kekeh membaca surat cinta pertama yang kuterima dari seorang penggemarku, juga selalu terkenang dan membuatku tersenyum-senyum sendiri.

Setiap kali anak gadisku bercerita tentang teman-temannya dengan mata berbinar maka secara tidak langsung momen itu mengingatkan diriku sendiri ketika bercerita kepada almarhum bapakku. Beliau sangat senang mendengarkan aku bercerita tentang teman-temanku, terutama teman laki-laki yang selalu menyelipkan surat ke buku tulisku.

Pura-puranya dia pinjam utuk menyalin catatan padahal niatnya hanya ingin menyelipkan surat. Katanya surat tanda persahabatan tetapi isinya mengungkapkan kekagumannya kepadaku, mengutarakan perasaannya yang membuncah karena melihat senyumku yang manis. 
Setelah membacanya maka aku akan berputar-putar di depan cermin, senyum sendiri untuk memastikan apakah senyumku memang manis seperti yang dikatakan temanku itu.  Lalu bapakku akan datang menyentuh bahuku sambil berkata, “hanya laki-laki dungu yang tidak mau mengakui senyum manismu.” Ah bapakku memang begitu orangnya.



Kemudian bapakku akan berkata lagi, “tetapi sehebat-hebatnya pujian laki-laki kepadamu maka janganlah kau tergoda, karena laki-laki yang baik adalah laki-laki yang tidak mengumbar ucapannya kepadamu, melainkan menyimpannya dalam lubuk hatinya. Ia akan bekerja dengan giat untuk mengumpulkan uang panai kemudian dia  akan datang meminangmu.”
Hem, bapakku memang laki-laki paling romantis yang pernah aku kenal. Beliau selalu menyelipkan nasihat-nasihatnya dengan sangat halus dan santun. 
Itu hanya sebagian kecil momen bahagia dalam hidupku bersama bapakku.

Ketika aku ditugaskan menjadi guru di sebuah desa yang cukup terpencil. Sebuah desa yang terletak di kaki  gunung Bulusarung, maka laki-laki pertama yang datang mengunjungiku adalah bapakku. 
Beliau datang sendiri, memakai kemeja putih yang sangat bersih lengkap kopiah hitamnya. Beliau membawa kepiting dan beberapa buah mangga muda.
Saat aku menyambutnya, beliau berkata,” Dawiah, bapak beli kepiting karena ini yang paling gampang dimasak, cukup cuci dengan air hingga  bersih lalu tambahkan air dan garam terus dimasak.” Hehehe…bapakku sangat paham kalau anaknya yang manis ini belum pandai memasak.

Hari itu aku melihat bapak sangat gembira. Kami makan sambil bercerita, sekali-sekali bapak batuk karena terbahak mendengar ceritaku yang menulis resep memasak nasi.  “Aih.. masa masak nasi saja harus tulis resepnya.” Kata bapakku sambil tergelak-gelak.

Suatu hari, seorang teman datang berkunjung ke rumahku. Seorang laki-laki yang juga teman mengajarku. Dia datang sesaat setelah azan salat ashar dikumandangkan. Bapakku mengajak dia salat berjamaah. Bapak mempersilahkan laki-laki itu menjadi imamnya. Aku melihat keringat di dahi laki-laki itu keluar berbulir-bulir.

Setelah selesai salat berjamaah, bapakku bertanya kepada laki-laki itu, lebih tepatnya menginterogasinya. Di mana rumahnya, siapa orang tuanya, apa pekerjaannya, suku apa, dan sebagainya. Setelah acara interogasi selesai, bapakku memanggil aku lalu menyuruhku menyajihkan teh kepada temanku itu.

Kulihat dahi temanku semakin basah oleh keringat. Saat laki-laki itu pulang, di ujung tangga temanku berbisik, “untung tadi hanya salat ashar, bagaimana kalau salat magrib, pasti aku dikuliti bapakmu kalau tahu aku tidak terlalu fasih mengaji.” 
Hahaha…aku terbahak mendengarnya.

Setelah temanku itu pulang, bapakku berkata, “suruh laki-laki itu datang melamar!”

Ya Allah ya Rabbi, bapakku setuju dengan laki-laki yang berkeringat dingin itu. Laki-laki yang kini menjadi suami dan bapak dari anak-anakku kini.
Momen itu adalah salah satu momen bahagia yang mengawali perjalananku bersama suamiku.
Subhanallah!

Sungguh banyak momen bahagia dalam hidupku. Mungkin kalau setiap momen itu aku tulis maka bisa menjadi beratus-ratus halaman.

Yuhuii … tiba-tiba aku dapat ide. Momen-momen bahagia itu akan aku tulis seluruhnya hingga layak menjadi satu buku. 
Momen yang tidak membahagiakan tidak akan aku tulis, tidak perlulah kesusahan dan kesedihan itu kubagi, cukup aku saja yang tahu karena itu pasti berat. Belum tentu orang lain mampu memikulnya. Tidak ada juga gunanya setiap keterpurukan, kesedihan, musibah dan apapun itu dibagikan kepada orang lain.

Jadi aku akhiri saja tulisan ini, karena momen-momen bahagia itu tiba-tiba saja bermunculan untuk dikenang kembali.

Bismillah. Aku akan menulisnya.



Selasa, 20 Februari 2018

Pernikahan ke-28 Tahun

“Asslamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

“Anak-anakku, cucu-cucuku, menantu-menantuku, dan keluargaku  serta sahabat dan teman-temanku sekalian yang berkenan hadir hari ini.  Acara ini  adalah perayaan pernikahanku dengan suamiku yang ke-50 tahun. Biasanya disebut  perayaan atau peringatan pernikahan emas. Aku tak mengerti mengapa disebut pernikahan emas setelah usia pernikahan memasuki masa 50 tahun. Mungkin karena begitu jarangnya satu keluarga atau pasangan suami isteri yang dapat bertahan bersama dalam ikatan perkawinan selama itu.

Emas adalah logam yang mahal, biasa juga disebut logam mulia. Emas adalah logam yang tidak mudah patah, pecah apalagi retak. Selain itu, emas merupakan benda yang sangat tinggi nilainya, tidak digilas oleh inflasi juga harganya selalu naik dari waktu ke waktu. Mungkin itulah istilah emas disematkan kepada keluarga yang berhasil hidup bersama selama 50 tahun.

Diibaratkan emas,  karena keluarga yang dibina  telah ditempa  selama puluhan  tahun hingga mencapai  50 tahun, ditempa dengan berbagai ujian, cobaan, masalah-masalah yang selalu timbul namun tetap bertahan.

Aku dan suamiku sudah berhasil mencapai itu. Tidak sedikit onak dan duri yang telah kami singkirkan. Banyak  air mata  dengan berbagai sebab yang mengalir  dari kedua mata kami, membasahi pipi-pipi kami. Kesemuanya itu memberikan sensasi tersendiri dalam perjalanan kehidupan keluaga kami.

Terima kasih kepada suamiku yang  telah setia mendampingiku dalam suka dan duka. Terima kasih telah bersamaku mengarungi bahtera ini, walau aku tahu dia  sangat penat bersanding dengan orang sepertiku. Aku si cerewet, kadang egois kadang emosional dan lebih sedikit sabarku dibandingkan kesabarannya, lebih sedikit pengertianku dibandingkan pengertiannya. Aku merasa cinta dan kasih sayangnya   yang sangat besar terhadapku sehingga kami masih bisa bersama hingga saat ini. Terima kasih yang tak terhingga karena masih setia mendampingiku, tanpa pernah sekalipun berniat menduakanku.

Terima kasih  kepada  anak-anakku yang  telah bersedia jadi anakku,  hingga saat ini memberikan  kami cucu-cucu yang manis dan tampan.  Ini adalah peringatan pernikahan emas kami dan kalian telah hadir sebagai penyemangat kami, bunga-bunga cinta kami, walaupun saat ini kami selalu dalam kesunyian karena kalian telah memiliki rumah sendiri, kehidupan keluarga sendiri.

Aku  juga mohon maaf kepada suamiku tercinta. Mungkin aku pernah  membuat oleng perahu kita dan  membiarkanmu mendayung  sendiri bahtera kita. Namun percayalah suamiku, hingga detik ini cintaku, kasih sayangku, masih sama seperti dahulu. Saat pertama kali aku menyatakan kalau aku juga mencintaimu dan bersedia bersamamu mengarungi lautan kehidupan.

Terima kasih, semoga kita berdua masih bisa merayakan peringatan pernikahan berlian.”



Itulah pidato yang  kupersiapkan pada peringatan pernikahan emas kita kelak. Hahaha….

Katanya aku telah mendahului takdir, belum tentu usia pernikahan kami akan mencapai masa 50 tahun.

Yah, namanya juga cita-cita. Masih butuh waktu 22 tahun untuk sampai ke sana. Namun demikian aku tidak perlu menunggu waktu untuk mengucapkan, “SELAMAT, KITA TELAH MENGARUNGI BAHTERA RUMAH TANGGA SELAMA 28 TAHUN.”

Seharusnya aku tulis ini tepat tanggal 14 Februari, yaitu tanggal pernikahan kami 28 tahun lalu.
Tetapi karena sesuatu dan lain hal, maka barulah saat ini aku dapat menuliskannya.

Qadarullah, kami menikah di tanggal itu, tanpa niat apa-apa, apalagi bermaksud mengikuti perayaan hari valentine. Manalah kami tahu tentang hari valentine itu. Kalaupun kami tahu, ada hari kasih sayang itu, kami tidak akan mungkin merayakannya. Lah,  merayakan ulang tahun kelahiran kami saja tidak pernah, apalagi mau merayakan hari yang kami sama sekali tidak tahu seluk beluknya.

Seperti sehelai daun yang jatuh ke bumi, tak akan gugur jika bukan karena telah tertulis di lauhul mahfudz.  Demikian pula hari pernikahan kita. Waktu, tempat dan siapa yang akan menjadi pasangan kita adalah sudah menjadi ketentuan-Nya.

Seperti konsep pidato yang akan kukatakan pada perayaan pernikahan emas kita kelak, maka itulah yang akan aku katakan kepadamu. Maafkan dan terima kasih.

Maafkan karena aku belum menjadi isteri yang sempurna buatmu. Maafkan untuk semua kesalahan-kesalahanku, yang lebih sering lupa akan kewajibanku tetapi malah lebih sering menuntut hak. Maafkan atas waktuku yang hanya sedikit untukmu, tetapi lebih banyak menggunakan waktuku untuk pekerjaan lain.

Terima kasih karena telah menjadi pendamping hidupku yang masih setia hingga saat ini. Terima kasih atas segala kesabaranmu menghadapi diriku yang terkadang lebih mendahulukan perasaanku ketimbang logikaku.

Alhamdulillah.

Hingga saat ini kita masih bersama dan  bersatu dalam suka dan duka.
Semoga kita masih diberi usia hingga kita dapat menimang cucu-cucu kita kelak.
Semoga aku dapat mengucapkan pidato perayaan pernikahan emas kita dan kamu duduk di atas singgasana menatapku dengan senyummu.

Senyum yang selalu aku rindukan.

Sabtu, 20 Januari 2018

Berbagi dan Tumbuh Bersama IGI


 Motto IGI (Ikatan Guru Indonesia) yang selalu didengungkan sebagai penyemangat adalah  sharing and growing together  atau berbagi dan tumbuh bersama sungguh ampuh. Demikian ampuhnya sehingga guru-guru yang menjadi anggota IGI bersedia mempersembahkan waktu, tenaga, pikiran, dan materinya untuk belajar bersama lalu berbagi agar dapat tumbuh dan berkembang bersama demi kemajuan pendidikan di Indonesia.

Tujuan mulia itulah yang menghantarkan kami berkumpul di Kantor Kemdikbud kemarin, tepatnya pada tanggal 5-7 Januari 2018 dalam acara pengukuhan 300 pelatih nasional IGI, presentasi kanal-kanal pelatihan IGI, dan pemecahan Rekor Muri Menulis dengan Metode Menemu Baling.

Sebenarnya beberapa kanal pelatihan sudah lama berjalan terutama kanal-kanal yang digawangi oleh para Pimpinan Pusat IGI. Namun tidak sedikit muncul kanal-kanal baru yang dikembangkan oleh para guru dari seluruh Indonesia hingga mencapai 67 jenis pelatihan.
Setiap kanal diketuai oleh pencetus jenis pelatihannya atau foundernya,  kemudian ke- 300 pelatih tersebut memilih kanal-kanal yang dikuasai, diminati, atau pernah mengikuti pelatihan itu sebelumnya. Misalnya, saya pernah mengikuti pelatihan SAGUSAKU sebelumnya, maka saya memilih kanal sagusaku sebagai wadah saya nantinya untuk melatih guru-guru lain yang belum pernah mengikuti kegiatan tersebut.

Kanal-Kanal Pelatihan IGI

Presentasi kanal pelatihan IGI dipandu oleh beberapa pengurus IGI Pusat secara bergantian. Oleh pemandu acara, presentasi kanal dibagi menjadi beberapa sesi dan setiap sesi terdapat 6 kanal yang akan dipresentasikan. Kanal-kanal yang masuk dalam sesi pertama adalah sebagai berikut.

SAGUSANOV atau Satu Guru Satu Inovasi oleh bapak Abd Kholiq. Sagusanov sudah berjalan selama 18 bulan, baik secara online maupun offline di 50 kabupaten kota di seluruh Indonesia, termasuk di Sulawesi Selatan. Sagusanov  bertujuan melatih guru untuk membuat inovasi pembelajaran berbasis android.

Berikutnya adalah SAGUSAE (Satu Guru Satu Ebook) oleh foundernya Bapak Elyas, S.Pd., M.Pd. Ini adalah salah satu sarana untuk mencapai Gapernas, Gerakan Paperless Nasional. Produk yang dihasilkan adalah file APK, yang sudah siap untuk didistribusikan ke smartphone Android. Kegiatan ini sudah pernah dilaksanakan di Makassar yang bertempat di sekolah saya beberapa waktu lalu, tepatnya pada awal tahun 2017.

SAGUSAKA (Satu Guru Satu Aplikasi Koreksi LJK) berbasis android oleh bapak Dahli Ahmad, M.Pd. Kanal ini menggunakan tagline, “Koreksi LJK Semudah Selfie”



SAGUSAMIK (Satu Guru Satu Pembelajaran Matematika yang Bermakna dan Menyenangkan) oleh bapak Abd Karim. Kanal ini khusus untuk bapak ibu guru pengampu mata pelajaran matematika. Bapak Abd Karim menjelaskan, bahwa kanal ini dibuat agar guru dapat mengajarkan matematika dengan suasana yang menyenangkan, sehingga peserta didik tidak lagi menganggap matematimka sebagai pelajaran yang membosankan.

SAGUDELTA (Satu Guru Dua Evaluasi Digital) oleh foundernya bapak Khairuddin. Menurut bapak Khairuddin, kanal ini akan melatih guru membuat soal evaluasi berbasis windows dan android. Kanal ini juga akan melatih guru membuat soal tanpa internet, tanpa Learning Management System. Dan tanpa kelas maya untuk melaksanakan ujian.

SAGUSAVI (Satu Guru Satu Video Pembelajaran) dengan foundernya Widi Astiyono, S.Ag., M.Pd. Kanal pelatihan ini akan melatih guru membuat video pembelajaran berupa video klip atau film pendek yang berdasarkan dari materi pelajaran. Pak Widi Astiyono menjelaskan, dari materi pembelajaran dituangkan ide cerita, sinopsis, skenario, dan bermain peran serta menjadi kameramen.

Setelah sesi pertama selesai, oleh bapak ketua umum IGI Pusat, Muhammad Ramli Rahim meminta kepada yang mewakili Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk memberikan tanggapannya.

Setelah ditanggapi maka acara berlanjut ke sesi yang kedua. Kanal pelatihan yang akan tampil di sesi ini adalah SAGUSARIF, SAGUSAGAME, SAGUSOF 365, SAGUSAKU, SAGUPASI, SAGUSAMEF.

SAGUSARIF adalah singkatan dari Satu Guru Satu Kearifan Lokal. Kanal ini dipresentasikan oleh foundernya, yaitu bapak Arnold Jacobus, M.Pd. Beliau berasal dari IGI Daerah Kota Singkawang. Tujuan Sagusarif adalah mewujudkan tujuan pendidikan nasional dan mempertahankan jati diri bangsa.

Selanjutnya adalah presentasi kanal SAGUSAGAME. Foundernya adalah seorang guru perempuan dari Ponorogo, Ibu Crysna Rhani Ningrum, S.Kom. Sagusagame adalah singkatan Satu Guru Satu Game Edukasi. Kanal pelatihan ini akan melatih guru membuat game edukasi pembelajaran dengan tujuan untuk meningkatkan minat belajar dan prestasi peserta didik.

Oh yah, sebelum beliau tampil mempresentasikan kanalnya. Di luar ruangan kegiatan,  saya dan beberapa teman guru sempat “menodong” beliau,  agar diajari cara membuat game edukasi. Ibu Crysna dengan senang hati meladeni “todongan” kami, dan bersedia dikerumuni oleh guru-guru. Kami sangat antusias memperhatikan Bu Crys menjelaskan cara-cara pembuatan game edukasi. Terima kasih Bu Crysna, IGI Makassar menanti kedatangan ibu dan tim Sagusagame.

Kanal pelatihan selanjutnya yang dipresentasikan oleh foundernya, Ibu Anastasi adalah SAGUSOF 365, Satu Guru Satu Akun Microsoft Office 365. Tujuan kanal ini adalah untuk meningkatkan kompetensi guru agar handal dalam memanfaatkan teknologi. Ada dua hal penting yang akan dimiliki guru setelah mengikuti pelatihan di kanal ini, yaitu: guru akan memiliki lebih banyak ide dalam mendesain kegiatan pembelajaran yang interaktif dan tidak membosankan daripada sebelumnya, dan guru  dapat mengajarkan peserta didiknya bagaimana menggunakan teknologi secara positif.

SAGUPASI (Semua Guru Paham Pendidikan Inklusif) dipresentasikan oleh founder-foundernya yang cantik, Ibu Nur Syamsih, M.Pd dan Ibu Rusnani, M.Pd. Cakupan  output yang diharapkan kanal ini adalah peningkatan dan penguatan layanan Inklusi bagi anak dengan kebutuhan khusus di Sekolah Umum, termasuk di daerah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal) untuk setiap jenjang (PAUD-SD-SMP-SMA/K).

Presentasi selanjutnya di sesi kedua ini adalah SAGUSAMEP (Satu Guru Satu Media Publikasi). Oleh foundernya bapak Abdul Halim menjelaskan bahwa kanal ini akan melatih guru membuat media publikasi untuk sekolah. Keterampilan tersebut bisa pula digunakan guru untuk membuat media pembelajaran di kelas.

Kanal pelatihan terakhir yang tampil di sesi kedua ini adalah kanal tempat saya berkecimpung, yaitu SAGUSAKU. Foundernya adalah seorang perempuan yang luar biasa. Ibu Nur Badriyah, M.Pd.
Satu Guru Satu Buku adalah kanal pelatihan yang akan melatih dan menuntun  guru menulis dan menghasilkan minimal satu buku. Kanal ini memiliki motto “Tingkatkan Kompetensi Raih Berjuta Prestasi.”

Demikianlah sekilas penjelasan tentang sebagian kanal  pelatihan yang diprogramkan oleh IGI. Insya Allah IGI  akan berjuang melatih 1 juta guru di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

“Dialah yang mengutus seseorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS: Al-Jumuah: 2).