ABOUT ME

Rabu, 23 Januari 2019





Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Terima kasih sudah berkenan mampir ke blog saya.  Perkenalkan, saya Mardawiah. Menggunakan nama pena Dawiah.   Haiss gaya 😂

Blog ini saya gunakan untuk  menuliskan segala hal,  tentang apa saja yang saya lihat, saya alami, dan semua yang saya rasakan.

Sebenarnya ini blog yang kesekian. Blog-blog sebelumnya berada di dunia antah berantah, heuuuh. Selain blog ini, ada satu blog saya lainnya, yaitu: https://dawiahnatsir.blogspot.com/  tetapi sudah jarang dikunjungi, mungkin  sudah dipenuhi  sarang laba-laba.

Saya baru serius belajar menulis saat usia saya sudah setengah abad lebih, tepatnya diusia 51 tahun. Apakah saya menyesal karena sudah terlambat?

Ah, bagi saya tidak ada kata terlambat, selama masih punya kesempatan dan diberi usia, kenapa harus menyesal?  
Bukankah setiap manusia memiliki zona waktunya masing-masing.

Saat ini saya masih aktif sebagai guru di salah satu SMP di Makasar. Saya juga ibu rumah tangga dari empat putra dan satu putri.

Belum banyak karya saya, tetapi ada beberapa yang bisa saya tuliskan:

  1. Buku Solo, judul “Analisis Soal Tes Tertulis.” Terbit tahun 2017
  2. Beberapa antologi:

  • Bangga Jadi Ibu,  terbit tahun 2016
  • The Unspoken Love, terbit tahun 2017
  • Ramadhan Kareem, terbit tahun 2017
  • Selaksa Cinta Bakti Ananda, terbit tahun 2017
  • The Journey of Writing, terbit tahun 2018
  • The Gift of Writing, terbit tahun 2018
  • Ensiklopedi Pramuka, terbit tahun 2018

Menjadi   kontributor di media online: http://emakpintar.org/ sejak tahun 2016.
Pernah pula menjadi kontributor di UC News, tetapi akun saya sudah tutup. Tinggal kenangan deh.

Sejak menekuni dunia kepenulisan, beberapa kali ikut pelatihan kepenulisan, antara lain.
Pelatihan menulis di Sekolah Perempuan, Mengikuti program SAGUSAKU IGI, Mengikuti berbagai training menulis di Indscript, alumni Juragan Artikel, dan beberapa workshop lainnya.
Banyak pengalaman menarik selama ikutan ngeblog, tetapi belum sempat saya tuliskan. Semoga lain kali.

Yuk kita saling kenal, silahkan hubungi saya di akun-akun berikut.

         












READ MORE

SULUNG YANG ULUNG

Selasa, 22 Januari 2019






Saat saya berniat menulis tentang si-sulung ini, saya minta izin sama dia. Bagaimanapun  sekarang Beliau itu sudah dewasa, saya khawatir ia malu kalau “aibnya” dipublish.

Alhamdulillah, Beliau mengizinkan katanya, “dengan senang hati.”

Kenapa minta izin?  Kan tidak lucu kalau saya digugat oleh anak sendiri lalu kena jerat undang-undang IT dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan,  berhubung karena kisah masa kecilnya dipublish.

Lahir pada bulan Juni 1991 dengan wajah yang persis sama dengan wajah bapaknya. Saya beri nama Muhammad Fadlan Afandi, lebih akrab dipanggil Fandi.

Begitu miripnya, sampai-sampai teman SD bapaknya bisa langsung menebak kalau ia itu adalah anak temannya, padahal kami belum saling mengenal satu sama lain. 
Peristiwa itu terjadi di ruang tunggu, ruang praktik Dr.  Farid. 

Waktu itu, saya bawa Fandi berobat ke dokter anak, kami hanya berdua karena bapaknya juga kurang sehat. usianya sekitar tiga tahun. Walaupun dia sakit, tapi masih lincah berlarian ke sana kemari.

Seorang laki-laki yang seumuran dengan bapaknya, tidak berhenti memperhatikan Fandi. Mungkin karena sangat penasaran, beliau langsung mendatangai saya dan bertanya.

Tabe Bu, itu anak-ta?”
“Iye, kenapa Pak?” Saya balik bertanya.
“Ibu istrinya Nasir, anaknya itu Nasir di?” Tanyanya beruntun.
“Iye, kenapa bapak tahu, pernah-ki ketemu?”
“Lama sekali-mi saya tidak ketemu sama bapak. Tapi dari tadi saya perhatikan anak-ta, itu mukanya persis teman SD ku dulu, namanya Nasir. Makanya saya langsung tebak, pasti ini anaknya teman SD ku.” Jawabnya dengan mata berbinar, menyiratkan kalau tebakannya berhasil.

“ooo… begitu di?”

“Benarkah to Bu, kita istrinya temanku. Titip salam ya sama dia.” Jawabnya senang.

Maka berbincanglah kami, sekaligus ia memperkenalkan istrinya. Mereka juga membawa anak sulungnya berobat.

Pulangnya saya ceritakan kejadian itu dan bapaknya  jawab begini.
“Betul toh, Fandi itu anakku.” Sambil mengedipkan mata.

Hahaha… siapa juga yang meragukannya.

Satu hal yang saya sesali sehubungan dengan masa kecilnya, ia tidak menikmati asi eksklusif. Waktu itu pengetahuan saya tentang ASI belum ada. Bahkan kalau ke Posyandu, ibu-ibu dan petugas Posyandu lebih ribut membicarakan jenis-jenis susu formula. 

Tapi bukan karena itu juga alasannya, melainkan karena saya hamil anak kedua sebelum saya mengalami haid pertama pascamelahirkan.

Betapa sedihnya, saat pertama kali mau menghentikan dia menyusu. Usianya hanya terpaut 18 bulan dengan anak kedua. Maka praktis Fandi berhenti ASI saat usianya belum menginjak dua tahun.  

Kalau Tidak Bodoh Sekali, Dia Akan Pintar Sekali

Kalau anaknya tidak bodoh sekali maka ia akan pintar sekali. 

Kalimat itu diucapkan oleh dokter ahli syaraf yang merawat Fandi. Duhai betapa nelangsanya.

Ceritanya, waktu itu Fandi  terjatuh dari tangga, jarak jatuhnya sekitar 2 meter dan pingsan selama kurang lebih 10 menit. Sesaat setelah sadar Fandi muntah dua kali. Maka spontan kami melarikannya ke dokter terdekat.

Karena dokter anak lagi tak ada di tempat, maka saya daftarkan Fandi ke dokter ahli syaraf. Yah karena ini berhubungan dengan kepalanya yang terbentur saat jatuh, mungkin dokter ahli syaraf bisa membantu menanganinya. Itu yang kami pikirkan waktu itu.

Setelah diperiksa, dokter menyimpulkan kalau Fandi kena gegar otak. Ia harus diterapi sampai sembuh.
Maka jadilah Fandi sebagai langganan pasien dokter ahli syaraf.

Diakhir proses terapinya, dokter mengatakan bahwa, saya harus ekstra mendampingi Fandi serta memantau perkembangan otaknya, karena bisa jadi ia akan mengalami kemunduran perkembangan otak atau malah mengalami kemajuan yang pesat.

“Maksud dokter bagaimana?” Untuk mempertegas pernyataannya.
“Anak ibu, bisa saja tidak pandai atau malah sangat pandai. Kalau tidak terlalu bodoh yah sangat pandai.” Jelasnya lugas.  

“Ya Allah! Jadi apa yang harus saya lakukan agar anak saya tidak idiot?”
“Bukan idiot Bu, tapi tidak pintar.” Ah sama saja pikirku.
“Berdoalah Bu, kan ibu sudah  ikhtiar dengan melakukan terapi, kalau Allah berkehendak, apapun bisa terjadi.”

Maka jadilah hari-hari saya diliputi rasa cemas dan malam-malam penuh doa khusus buatnya.

Sirnalah Sudah Kecemasan


Tanda-tanda kalau otak Fandi tidak rusak sebenarnya sudah mulai terlihat, sejak beberapa bulan  setelah paristiwa jatuhnya dari tangga itu. 
Usianya baru 2,5 tahun, dan ia sudah pandai membedakan warna dan mengelompokkannya. 

 Walaupun agak lambat berbicara dan lambat pula berjalan.
Dia lancar berjalan saat teman-teman seusianya sudah bisa berlari,  dia baru terbata-bata berbicara saat anak-anak seusianya sudah bisa bernyanyi.

Namun perkembangan otaknya luar biasa. 

Enam bulan setelah jadi langganan dokter syaraf dan diterapi, ia menunjukan perkembangan yang signifikan. 

Fandi bisa mengarahkan matanya pada lensa okuler lalu mengatur lensa objektif pada mikroskop untuk mendapatkan gambar obyek yang terang.   

Ia bisa melakukannya selama berjam-jam, dan tidak mau berhenti sebelum obyek yang dilihatnya  terlihat jelas.  Walaupun ia tidak tahu gambar apa yang ia amati.

Selain itu, ia sangat suka memainkan garpu tala. Ia pukulkan ujung garpu tala lalu mendekatkannya ke selembar kertas. Saat kertas itu ikut bergetar ia tertawa kesenangan, bola matanya berputar-putar bahagia. 
Seakan memberitahu kalau kertas itu ikut bergetar akibat getaran pada garpu tala.

Yah, ia sangat akrab dengan alat-alat laboratorium IPA. 
Pastilah akrab,  tempat bermainnya di laboratoirum IPA, hehehe…

Saat itu,  saya masih bertugas di SMP Balocci, kebetulan saya jadi kepala lab IPA, maka setiap mengajar di lab,  Fandi selalu saya bawa dan ia senang sekali bermain dengan alat-alat laboratorium.  

Kecemasan atas perkembangan kecerdasan Fandi baru betul-betul sirna setelah  ia  masuk SD. 

Akibat pernyataan dokter yang terus membayangi pikiran, maka jadilah saya mama-mama yang selalu merepotkan gurunya. Hampir setiap hari saya bertanya kepada guru kelasnya. 

Apalagi kalau melihat kebiasaannya di rumah yang tidak mau membaca, ia lebih senang pelajaran berhitung. Setiap kali diberikan buku bacaan, ia tepis dan ia ganti dengan pelajaran berhitung.

Pernah satu waktu saya ke sekolahnya, oleh gurunya ia diberi PR berhitung tersendiri. Saya protes, kenapa anak saya diperlakukan tidak sama dengan temannya. Temannya diberi PR berhitung tiga nomor eh anak saya diberi PR enam nomor dan berbeda pula dari yang lainnya.

Ternyata menurut gurunya, kalau diberi PR yang sama pasti temannya meniru sama dia, tidak jadi PR tapi dikerjakan saat itu juga.
Masih menurut gurunya, kalau dia  menuliskan PR  di papan tulis, Fandi menulis di buku PR langsung dengan jawabannya, nah temannya tahu dan meniru. Maka tidak jadi PR deh. Olehnya itu, ia diberi soal tersendiri dan lebih banyak.

Alhamdulillah, saya lega. 
Ternyata Fandi  tidak masuk kategori tidak pandai sekalipun dalam hal membaca masih kurang, setidaknya otaknya masih bekerja dengan baik.

Anak Manja yang Dimanjakan

Saya melihat Fandi suka sekali mengaji, atas dasar itulah saya masukkan ia ke pesantren selepas tamat SD. Ia ikhlas saja dimasukkan ke sana, tetapi bapaknya kurang ikhlas.

Bagaimana tidak saya katakan demikian,  tiap hari ia berkunjung ke pesantren. Kalau tahu ada anak lain yang mengganggu maka Beliau pasang badan. 

Saya menyesal juga kenapa ya saya tidak masukkan ke pesantren yang jauh, biar bapaknya tidak terlalu sering berkunjung ke pesantren.

Lah,  ini pesantrennya  selalu dilewati tiap pulang mengajar, maka jadilah ia rajin berkunjung.

Selama di pesantren,  beberapa kali Fandi mewakili pesantrennya mengikuti lomba matematika. Walau tidak pernah menang tetapi masuk 10 besar dan mewakili pesantrennya sudah membuat saya bangga. Setidaknya ia lebih pandai matematika dari santri lainnya.

Sayangnya, cita-cita saya agar Fandi jadi  penghafal Al Qur’an  tidak tercapai. Walaupun begitu, saya tetap bangga kepadanya. Karena ia tumbuh menjadi pemuda yang baik, rajin sholat, terutama pergaulannya terkontrol.
Ia selalu menjadi contoh yang baik untuk adik-adiknya.

Cat Hitam Tanda Stres

Suatu waktu, Fandi minta uang untuk beli cat. Ia ingin mengecat kamarnya. Sebagai mama yang baik, saya senang. Fandi sudah mulai mandiri. Maka saya berikan uang itu, dan percaya ia pasti bisa melakukannya.

Alhasil ia beli cat, lalu bersama temannya ia cat kamarnya dan dengan bangga ia pamerkan kepada saya.

“Ma,  sudah-mi kucat kamarku, masuk maki, nyaman sekali suasananya.”

Daaan ... saya tertegun.

Kamarnya dicat warna hitam!

Dinding dan plafonnya semua hitam. Astagfirullah! 
Apa bagusnya coba?

Kamar yang hanya seluas 3 kali 3 meter itu semuanya gelap. 

Begitu bapaknya datang, Beliau geleng-geleng kepala sambil berkata.
“Gigimu mami yang kelihatan Nak, itu juga kalau kau ketawa.” Hahaha….

Peristiwa itu terjadi selepas tamat SMA. Kata adiknya.
 “Fandi stres mama, tidak lulus di UNHAS.”

Yah sudahlah, saya hanya minta dia untuk mengubah warna plafonnya jangan hitam semua, dan dindingnya diberi sedikit sentuhan putih agar tidak terlalu kelabu.

Apakah itu pertanda stres? Saya tidak tahu. Yang pasti ia kecewa karena tidak lulus di beberapa perguruan tinggi negeri.

Oleh bapaknya, ia didaftarkan di STIMIK Handayani.
“Yang penting ia kuliah, tidak perduli di perguruan tinggi mana. Kalau tinggal di rumah, ia bisa tambah stres.” Bagitu pikir bapaknya.

Satu hal yang saya kagumi dari Fandi, ia tidak gampang putus asa. Selama setahun ia menjalani kuliah di STIMIK sambil ikut bimbingan belajar. Targetnya adalah tahun berikutnya ia harus lulus di teknik UNHAS.

Alhamdulillah, Allah mengabulkan harapannya. Ia lulus dan menyelesaikan S1 nya di teknik UNHAS  dengan nilai yang memuaskan.




Gagal Lanjut S2


Kenapa Fandi gagal lanjut S2, padahal saya sudah setuju dan bersedia membiayai kuliahnya? 
Postingan berikutnya saja yah saya ceritakan.


Bersambung …











READ MORE

Blog Favorit untuk Blogwalking; Khusus Makasar

Minggu, 20 Januari 2019



Saat rasa malas datang menyapa, apa yang akan kamu lakukan?

Jawabannya berbeda-beda. Ada yang bisa rajin kembali setelah melakukan perjalanan, misalnya pergi rekreasi atau sekedar jalan-jalan di mall. Ada pula yang mengatasi rasa malasnya dengan belanja, dengan berolahraga, tidur, dan sebagainya.

Bahkan mama saya bisa menemukan gairah kerjanya kembali setelah pulang dari pasar, walaupun  yang dibeli hanya seikat  sayur kangkung dan sebungkus terasi.

Kalau hanya malas mengerjakan pekerjaan domestik, mungkin bisa dihandle oleh orang lain. Bisa minta bantuan sama asisten rumah tangga, atau kalau tidak punya  bisa beli makanan yang siap saji. Untuk urusan bersih-bersih, mencuci, menyeterika, dan sebagainya, kita bisa panggil asisten rumah tangga yang kerja paruh waktu.

Tetapi kalau malas menulis, siapa coba yang bisa membantu. Tidak ada.


Beberapa hari ini saya juga mengalami rasa malas itu. Mungkin karena habis sakit, jadi fisik terasa belum segar, atau itu hanya alasan yang dibuat-buat oleh badan saya, agar  beristirahat panjang lalu ujung-ujungnya terasa malas. Istilah anak zaman now, mager.


Sementara itu, keinginan untuk menulis kembali terasa menggebu, tetapi malas memulai. Biasanya saya atasi dengan membaca buku. Kalau belum juga sembuh, maka saya lari ke blog orang.

Biasanya saya pilih blog yang sudah sering saya kunjungi, sehingga tidak perlu terlalu lama untuk mencarinya. Ada beberapa blog yang tanpa sengaja saya hafal karena terlalu seringnya berkunjung.

Nah, kali ini saya mau mengabarkan blog siapa saja yang sering saya kunjungi, tetapi saya batasi hanya untuk bloger Makasar saja.


mugniar.com


Pemilik blog ini adalah seorang ibu rumah tangga bernama Mugniar Marakarma. Saya lebih sering memanggil dia dengan kata Dek Niar. Beliaulah bloger Makassar  pertama yang saya kenal, lalu menerima saya ke dalam grup IIDN Makasar. Sebelumnya saya lebih banyak aktif di IIDN pusat. 

Dari blognya, saya banyak belajar tentang konsistensi menulis dengan ejaan yang disempurnakan. Saya  belum pernah menemukan satu kata maupun kalimat yang gaya bahasanya mengikuti gaya bahasa kekinian di mana cenderung menyalahi aturan EBI.

Atau ada bahasa daerah, bahasa asing yang ditempatkan seenaknya. Jikapun ada, maka pasti ditulis dengan tulisan miring pertanda kata itu berasal dari bahasa asing.

Berada di dalam blog  https://www.mugniar.com/ membawa kita untuk menyelami berbagai macam informasi yang akurat dan up to date. 

Jumlah artikelnya, jangan ditanya berapa banyak. Menekuni dunia menulis dan ngeblog sejak tahun 2006 dan mengelola blognya yang sekarang sejak tahun 2011, itu bukanlah pekerjaan mudah. 

Dan saya nyaman berlama-lama di blog itu.

daenggassing.com

Ini adalah blog yang sering saya kunjungi diam-diam tanpa meninggalkan jejak, hehehe…. Saya malu berkomentar.

Baru satu kali ketemu dengan pemilik blog ini. Ternyata cukup tampan dan berwibawa (Piss Daeng, itu kesan pertama).

Saya suka dengan kisah-kisah perjalanannya, terutama kalau Beliau bercerita tentang kekhasan suatu daerah. Rasanya saya juga berada di tempat itu. Pertama kali mengetahui  tentang daerah perbatasan antara Indonesia dengan Timur Leste  itu di blog ini, saya malas baca sejarah soalnya.

Ada dua menu kategori yang saya suka intip-intip, bukan intip saja sebenarnya karena biasanya saya tidak berhenti sebelum tuntas membacanya, yaitu OPINI dan TRAVEL. Hanya satu sub kategori yang tidak pernah saya intip di kategori OPINI, yaitu sepakbola dan yang paling sering saya baca adalah Cerita Ringan.

Enak membacanya, ringan seringan topik yang dibahas. Saya agak malas membaca yang berat-berat, hidup sudah berat. Eh.
Nah, kalau selera kita sama, silahkan kunjungi blog http://daenggassing.com/

Dijamin Anda akan puas

abbyonety.com

Bukan karena kami memiliki persamaan profesi, sehingga saya juga suka jalan-jalan ke blog ini, melainkan saya suka membaca kisah-kisah perjalanannya dari satu tempat ke tempat lainnya.

Mungkin itu pertanda kalau saya sebenarnya suka traveling, tetapi takut melakukannya sendirian.  Siapa tahu suatu saat Abby mau mengajak saya jalan-jalan, eh.

Apa yang menarik dari blog https://www.abbyonety.com/ ?

Selain kisah-kisah perjalanannya, saya juga kagum akan kerajinannya menulis, juga keberaniannya melawan tantangan. Tantangan menulis maksudnya, seperti ketika Beliau ikut tantangan menulis selama 15 hari bersama anggota IIDN pusat dan yang terakhir, 30 hari menulis bersama Blogger Perempuan. Wow!

Ia mampu menaklukkan tantangan itu, padahal ia tetap rajin menjalankan tugasnya sebagai guru.

Prok …Prok…Prok untuk Abby.

Bloger Perempuan Tiga Serangkai


Saya sebut tiga serangkai, karena mereka terdiri dari tiga perempuan muda dan  cantik serta suka mensupport saya, hehehe.  Subyektif sekali.
Sudah lama saya mengenal bloger cantik  pemilik blog https://www.qiahladkiya.com ini, tetapi Beliau tidak mengenal saya. Pengagum rahasia nih ceritanya, hehehe…

Saya memang begitu kawan!

Suka kagum diam-diam tapi malu-malu mengakuinya. Yang paling saya sukai dari blognya  Zilqiah Angraini adalah foto-fotonya yang selalu bagus. Foto-foto itu seakan nyata adanya.

Sebagai orang yang berasal dari zaman old dan sangat tidak piawai memotret maka tidak salah dong, kalau saya suka intip-intip hasil bidikan kameranya.

Setiap tulisannya selalu disertai foto yang menarik, seakan mempertegas akan apa yang ditulisnya. Qiah, nama sapaannya adalah salah satu dari bloger perempuan tiga serangkai yang saya sebutkan di atas.

Perempuan lainnya adalah Eryvia Maronie  adalah pemilik blog  https://www.emaronie.com

Saya suka gayanya bercerita. Ringan, santai, dan terkadang lucu. Apalagi kalau sudah bercerita tentang Faisa atau Beliau biasa memanggilnya  Pica, lucu dan menggemaskan.

Saya juga suka intip-intip reviewnya tentang tempat makan yang dia kunjungi, cuma intip karena saya tak pandai mereview tempat makan apalagi mereview makanannya. Kalau saya datang ke tempat makan biasanya hanya fokus untuk makan, hehehe…
Gaya kepenulisannya yang santai tapi serius memberikan daya tarik tersendiri buat saya. 

Kedua perempuan bloger Makasar itu  pernah berkolaborasi dengan perempuan pemilik blog https://www.fillyawie.com/. Judul kolaborasinya  unik dan lucu, Sannengtalks.

Mereka bertiga selalu kompak menulis dengan tajuk #sannengtalks. Saya salah satu pembaca setianya, makanya saya sebutkan mereka sebagai Bloger Perempuan Tiga Serangkai.

Oh yah, di blog Teh Awie ini, kita akan menemukan artikel-artikel life style beauty dan fashion.
Berbagai artikel yang berhubungan dengan fashion  akan kita dapatkan dalam blog ini, demikian juga informasi tentang kosmetik.

Kalau kalian seselera dengan saya,  silahkan berkunjung ke blog yang saya sebutkan di atas. 

Jangan lupa meninggalkan jejak di blog mereka ya.










READ MORE

Kopdar IIDN Makassar Akhir Tahun 2018: Penuh Drama dan Banjir Sponsor

Sabtu, 29 Desember 2018


Assalamualaikum sahabat pembaca.


Menulis adalah keterampilan dasar manusia, tetapi menulis dengan baik dan benar perlu proses pembelajaran dan latihan terus menerus. Olehnya itu, seseorang yang ingin menjadi penulis membutuhkan teman yang sevisi, teman yang memotivasi tanpa menjatuhkan, dan berada di lingkungan yang sesuai.

Kata orangtua dahulu, kalau mau wangi bergaullah dengan penjual minyak wangi. Jadi kalau mau jadi penulis bergaullah dengan penulis. Tzaah!

Bayangkan, betapa senangnya jika kita berkumpul dengan orang-orang yang sevisi. Kita bisa saling memotivasi, dan saling berbagi ilmu serta informasi demi peningkatan kualitas diri, terutama dalam hal menulis.

Kita juga butuh wadah untuk berlatih, di mana di dalamnya ada orang-orang yang mau berbagi ilmu, mau memberi masukan, dan kritik yang membangun demi peningkatan kualitas tulisan. 

Mungkin itulah salah satu tujuan komunitas IIDN ini dibentuk. Menghimpun ibu-ibu yang memiliki hobi, minat, dan cita-cita yang sama. Menulis.

Maka   patutlah saya  berterima kasih kepada IIDN, karena di sanalah saya mendapatkan kembali gairah menulis yang sekian puluh tahun mati suri. Bisa dibilang, inilah titik balik kembalinya saya ke dunia kepenulisan. Walaupun masih terbilang newby.

Sebelum saya menceritakan drama yang terjadi saat mengikuti kopdar akhir tahun 2019 dengan member IIDN Makassar.  Simak dahulu informasi tentang IIDN.

Mengenal IIDN


IIDN adalah singkatan dari Ibu-Ibu Doyan Nulis, suatu komunitas menulis yang didirikan oleh Indari Mastuti pada 24 Mei 2010. Dengan visi “Mencerdaskan Perempuan Indonesia.” IIDN sudah memiliki 10.000 lebih member yang tersebar di seluruh Indonesia, termasuk di Makassar.

Selain itu, IIDN memiliki misi yang sangat keren.

  • Menerbitkan minimal 1 buku untuk setiap anggota IIDN
  • Meningkatkan produktifitas anggota di berbagai media di Indonesia
  • Meningkatkan kemampuan anggota dalam bidang penulisan
  • Mempererat kolaborasi positif antar anggota di berbagai bidang



Lihat visi dan misinya, maka tidak ada alasan  untuk tidak bergabung di komunitas ini kan?

Kembali ke cerita drama yang saya maksudkan di atas. Ini terjadi  saat menuju ke lokasi dan saat  kopdar itu berlangsung. 

Sebenarnya lokasi tempat acara KOPDAR IIDN Makassar itu tidak terlalu jauh dari rumah saya. Tepatnya berada  di Hotel Education, jl. Andi Djemma Makassar. 
 Google Maps menginformasikan kalau hanya butuh waktu 22 menit dari rumah saya untuk sampai ke sana. Kalau tak ada aral sih. 


Drama Pertama


Setelah menyatakan bersedia hadir, maka hari itu saya bergegas melakukan pekerjaan domestik. Kan, tidak lucu kalau tinggalkan rumah dalam keadaan berantakan. Apa kata Ayangbeb?😄

      Pukul 13.30 saya pesan ojol (ojek online), tidak lama handpone memberi sinyal kalau dapat driver yang siap menjemput. Eh … dibatalkan oleh drivernya, katanya  posisinya jauh dan hujan.

Kalau jauh, ok lah yah, tapi kalau alasannya hujan?
Kan pakai mobil, kenapa juga hujan dijadikan alasan. Beuh.

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya dapat ojol juga. Drivernya adalah laki-laki tambun berkacamata, sopan, dan ramah.

Saat di dalam mobil, drivernya bertanya.
“Di bagian mana-ki mau turun Bu?”
“Maksudnya?” Balik tanya.
“Kan ibu mau ke Jl. Andi Djemma, panjang itu jalan Bu.” Driver menjawab dengan sabar.
“Oh maaf, saya mau ke Hotel Education.”
“Dimana itu di?”
“itu-mi saya juga tidak tahu, tadi cari di google maps tidak terbaca-ki.”

Sementara itu, saya lihat percakapan di grup WA, ada  Abby  yang menginformasikan kalau Hotel Education terbaca sebagai Edotel Hotel, dan informasi itu saya teruskan ke pak driver.

“Oh iye Bu, kulihat-mi juga.” Jawabnya riang seriang hati saya.

Lima menit kemudian mobilpun  bergerak lincah.  saya sudah duduk manis manja  di belakang Pak sopir yang sedang bekerja diiringi bunyi hujan.

Tik … tik … tik  … bunyi hujan di atas atap mobil.
Airnya turuun tidak terkira …
Cobalah tengok kaca-kaca mobil …
Muka belakang basah semua …

Serius, lagu itu saya senandungkan dalam hati. Mencoba berdamai dengan cuaca yang dingin.

Drama Kedua


Memasuki jalan Veteran, tanda-tanda kemacetan mulai datang tetapi masih berjalan walaupun lajunya sedikit melambat. Naaa … saat mobil berbelok ke Jalan Andi Djemma, barulah kemacetan itu benar-benar terjadi.

Bahkan 500 meter dari Edotel Hotel, semua kendaraan seakan berhenti. Ada beberapa mobil dan motor yang balik arah. Mungkin pikirnya, daripada bermacet-macet ria lebih baik pulang atau cari jalan lain.

Untuk menempuh jarak sejauh 500 meter itu, kami menghabiskan waktu kurang lebih 45 menit. 
Masya Allah! Luar biasa kotaku kini. 

Drama Ketiga

Saya sudah membayangkan kalau member IIDN yang hadir tidak sebanyak yang datang pada  kopdar IIDN tahun lalu.  Terlihat di grup facebook IIDN, yang bersedia hadir hanya 9 orang. Itupun terhitung dengan jumlah pengurusnya sebagai pengundang.


Ada juga yang agak ragu, makanya pilihan “mungkin” yang  dicontreng (kalau yang ini tingkat kehadirannya bisa dibilang  maybe no mybe yes).

Jumlah yang hadir itu tidak sampai 1/30 dari member IIDN Makassar. Lah jumlah membernya saja sudah 435. Tapi yah itulah kenyataannya. Hujan, macet, dan bla…bla.. menjadi musababnya.  

Kegiatan yang awalnya direncanakan akan menulis di blog bersama-sama itu pupus sudah. Bukan karena yang hadir hanya sedikit,  tetapi saya dan beberapa teman lainnya datang telat. Lagi-lagi alasannya karena macet.

Sebenarnya acara ini tidak sepenuhnya tidak berhasil,  karena masih ada Ibu Misrah yang buka laptop dan sempat berdiskusi tentang blognya kepada Mugniar, ketua IIDN Makassar.


Sayapun tak mau kalah, buka blog dan tanya-tanya, lalu atur-atur tema blog. Walaupun belum tuntas setidaknya dapatlah sedikit ilmunya. 

Banjir Sponsor


Kabar bagusnya, acara ini dibanjiri sponsor. Tengok yuk, siapa saja sponsornya.



Salah satu penyebab batalnya suatu acara, adalah ketika tidak dapat tempat yang memadai. Alhamdulillah, kopdar kali ini  dapat sponsor dari SMKN 6 Makassar, Edotel Hotel. Terima kasih saya ucapkan kepada Bapak Drs. Amar Bakti.

Ada ibu cantik nan dermawan Ibu Ida Sulawati owner Aminah Akil Silk. Beliau telah menyiapkan kain sutra dengan berbagai jenis motif dan warna yang indah.


Ada pula Andi Bunga Tongeng, ibu cantik nan lincah owner Kamummu. Terima kasih ya Unga.

Abby Onety Collection juga tak mau ketinggalan. Kalau yang ini nih miliknya Ibu Ketua 2 IIDN Makassar. Terima kasih dinda.

Sponsor berikutnya adalah Sophie ETC Makassar. Disamping menyediakan produk-produknya untuk peserta kopdar, juga menghadirkan Ina dan Chiko  yang siap mengajar ibu-ibu make up  Sophie Paris, termasuk cara melukis alis.

Sayangnya saya belum sempat belajar melukis alis, Ina dan Chiko harus balik ke kantornya. Terima kasih ya Ina dan Chiko.


Tak lupa pula saya ucapkan terima kasih kepada  Nunu Amir. Beliau juga mensponsori acara ini dengan memberikan buku Membuat Blog dengan 3 Platform.

Semoga para sponsor semakin sukses usahanya, kariernya, dan apapun yang dikerjakan. Insya Allah semua yang telah diberikan akan menjadi amal jariah.  Aamiin.  
Semoga pula ibu-ibu yang tergabung di dalam komunitas ini, tidak berhenti belajar dan semakin produktif. Termasuk saya tentunya.

Yuk, kita belajar bersama dan jadilah ibu yang cerdas!


Sumber:
Facebook Ibu-Ibu Doyan Nulis Interaktif.


READ MORE

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Nama

Email *

Pesan *