Senin, 10 Desember 2018

TRILOGI GUMAMAN KANG MAMAN




Assalamuaalaikum sahabat pembaca.

Pernahkah Kamu “tersesat” di dalam sebuah toko buku?
Mencari-cari jalan pulang tetapi tidak ketemu, lalu mengembara di lorong-lorong berdinding rak-rak buku. Kamu akan singgah di setiap rak, menatap dengan seksama setiap sampul buku dalam rak tersebut. Mengamati dan sesekali meraih dan membaca bagian belakang sampulnya.

Itulah  yang sering saya alami manakala masuk ke toko buku, tersesat di dalam toko buku dan biasanya tersandera oleh satu atau dua bahkan lebih buku yang menatap garang.

Anehnya saya merasa senang disandera dan tersesat. Rasanya saya menemukan dunia baru yang lebih indah dari dunia nyata. Beuh...

Nah, beberapa waktu lalu, saya kembali tersesat dan disandera oleh tiga buku sekaligus. Buku itu berwarna terang sehingga keberadaannya sangat menonjol. Bukan itu saja, cover buku tersebut seakan menatap dan mengajak kenalan, padahal saya sudah kenal dengannya. Wajahnya tidak asing buat saya, sering muncul di televisi.

Agar terbebas dari sanderaannya maka ketiga buku itu saya ambil,    sebagai alat tukar agar saya bisa keluar dari toko dengan aman, damai, sentosa dan bahagia. Ketiga buku itu adalah Trilogi Gumaman Kang Maman.

Tadaaaaa .... Inilah  buku Trilogi Gumaman Kang Mamang,
  karya Kang Maman


Sesaat kemudian, ketiga buku tersebut berhasil mejeng di rak buku saya untuk beberapa waktu lamanya. Setiap kali saya melewati rak, buku itu bersembunyi seakan malu-malu meong.

Setelah melewati tiga purnama, akhirnya saya meraih buku pertama, buku berwarna merah muda. Tidak butuh waktu lama untuk menuntaskannya. Alhamdulillah.

Judul: Notulen = Tidak Asli Tapi Hamba Allah
Penulis: Maman Suherman
Editor: Linda Irawati
Penata Isi: Langit Amaravati
Desain Kover Baru: Raysa Kania
Desain Kover Lama: Dyndha Hanjani Putri
Karikatur: Leo Si Penatap Bulan
Penerbit: Grasindo. PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta


Penuturan dalam buku ini sarat dengan makna tetapi santai. Hal ini ditunjukkan pula pada cara penulisannya. Jika buku-buku bergenre novel hanya berisi tulisan sepenuh halaman maka di buku Kang Maman ini sama sekali tidak monoton.

Terdapat banyak warna dan huruf-huruf berbagai bentuk. Sangat bervariasi. Ini sangat cocok bagi pembaca dengan karakter visual.

Penuh warna dan gambar yang  "lucu"


Saya jadi ingat buku diary saya dahulu kala.  Bentuk dan ukuran huruf yang bervariasi, warna warni dan diberi gambar serta tanda-tanda yang mewakili makna tulisannya.

Menariknya, setiap awal tulisan ditandai dengan tanda pagar atau hasteg. Dimulai dengan #1 hingga # 50. Sangat kekinian.

#1 hingga #8, Kang Maman berbicara tentang mantan, cinta, setia, dan kebahagiaan. Dan di hasteg 4 saya berterima kasih kepada Kang Maman. Mengapa? Beliau menulis. 

” Dan, mari saling mengingatkan: Cantik itu ejaannya bukan K.U.R.U.S.” (Halaman 11).😄

#1 Jangan pernah memaki mantan. Sebaliknya, berterimakasihlah, karena
Mantan adalah guru terbaik. (Halaman 6).

Pada #9, Kang Maman bercerita tentang proses penyelesaian skripsinya di Jurusan Kriminologi FISIP UI. Beliau juga menyuarakan kerisauannya terhadap kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang disebutnya “luka sosial”

#10, Kang Maman menuliskan tujuh alasan meninggalkan seseorang. Menggelitik, terutama bagi yang baru saja ditinggalkan.

“Percayalah, Aku meninggalkanmu dengan sepenuh luka di hatiku.”
(Halaman 42).

Saya baru mengenal dengan baik personil Warkop Prambors atau Warkop DKI, juga segala sesuatu tentang grup lawak ini. Semuanya tersaji dengan lengkap di # 11. 

Satu lagi yang saya tangkap dari tulisan Kang Maman, adalah selalu sarat dengan nasihat kebajikan. Itu pula yang tertulis dalam hasteg-hasteg selanjutnya.

#12 misalnya, bertutur tentang tanda akhir zaman.

 “Dia selalu memberi hari yang indah untuk pemilik hati yang selalu bersabar dan bersyukur.” (Halaman 60).

“Masih takut dengan pahitnya cinta? Bukankah kopi justru sempurna karena rasa pahitnya? Begitu juga cinta …” (Halaman 67) #13.

#24, saya tersentak dan segera mohon ampun. Gambaran di kepala saya selama ini, bahwa pelawak itu hanya menghabiskan waktunya untuk ketawa-ketiwi ternyata tidak sepenuhnya benar.

Kang Maman menceritakan keikutsertaannya dalam grup WhatsApp Majelis Pengajian Pelawak, di mana dalam grup itu mereka saling menasihati, ditaburi ajakan untuk selalu mengingat-Nya yang ditulis oleh seniman-seniman komedi yang tergabung dalam grup itu.


“ … Jika titah Allah hanya beban. Jika urusan Allah hanya dagang, jangan harap kecintaan-Nya akan datang….” 
(Tulisan komedian Gilar pada halaman 102).

#27. Bang Komeng dan Kang Maman, persahabatan keduanya digambarkan dengan sangat indah.

“Dan dari Bang Komeng, aku temukan mutiara terindah dalam kehidupan bersama: Persahabatan abadi!” (Halaman 115).

Ada kisah yang serupa tapi tak sama dengan kisah yang dituliskan Kang Maman dengan kisah saya, yaitu kisah nenekku yang buta huruf #42.

Bagaimana kisah ini mampu melemparkan ingatan saya ke seorang figur perempuan tua yang juga saya panggil dengan sebutan nenek. Sama-sama buta huruf, tidak bisa mengaji tetapi sangat rajin salat. Al fatihah untuk keduanya, nenek saya  dan neneknya Kang Mamang. 

Bahwa keikhlasan dalam mencintai-Nya juga pengabdian yang tulus dalam beribadah tidak melulu harus didasari dengan ilmu yang mumpuni, mungkin dengan tauhid sudah cukup. 

Walaupun untuk zaman ini, sudah tidak relevan lagi, karena arus informasi sudah sangat maju. Jadi tidak ada alasan lagi, kita menjadi buta huruf.

Terdapat gumam-gumam dari “mulut” Kang Maman yang tertulis dalam buku ini. Bagaimana Beliau berkeluh kesah tentang korupsi seperti yang dituliskan dalam #14.  Tumpas hingga kempes.

Atau kerisauannya terhadap ibu yang mengajarkan bahasa asing kepada anaknya hanya demi memamerkannya di ruang publik. Bahkan silang pendapat, menebar berita hoax juga tentang politik ditanggapinya dengan nasihat yang bijak.

“Ingatkan hati, kita tak akan bisa bersalaman jika tangan terus terkepal.”
(Halaman 144).

Dengan sangat manis, Kang Maman mengakhiri tulisan pada  #50 dengan lima kumpulan sentilan pendek.

Saat suatu hubungan berakhir dan usai, bukan berarti dua orang berhenti saling mencintai, mereka hanya berhenti saling menyakiti.

Andai yang tak berilmu mau diam sejenak, niscaya gugur perselisihan yang banyak. –Ali bin Abi Thalib ra.

Persahabatan laksana tangan dengan mata. Saat tangan terluka, mata pun menangis, meneteskan air mata. Saat mata menangis, tanganlah yang  menghapus air mata.

Kerap ada nama yang tertulis di hati. Tetapi tak bisa tertulis di buku nikah.

Menderita itu menggenggam erat, lekat melengket. Bahagia itu ikhlas melepaskan.

Maka pantaslah buku ini banyak diminati pembaca.

Best Seller!

Minggu, 09 Desember 2018

Wisuda XIII STT Bandung 2018; Menyongsong Masa Depan Cemerlang






Suasana Hotel Harris & Convention Festival Citylink, Bandung pastinya terasa hikmat saat 183 wisudawan dari dua program studi diwisuda. Ada rasa haru, syukur sekaligus lega karena telah berhasil menaklukkan segala aral hingga berhasil meraih predikat sarjana.
Ke-183 sarjana  tersebut terdiri atas 106 sarjana Teknik Indutri dan 77 orang sarjana Teknik Informatika. Maka otomatis Wisuda ke XIII STTB tahun 2018 ini telah  menggenapkan lulusannya sebanyak 1355 orang sarjana.
Seberapa kenalkah Anda dengan Sekolah Tinggi Teknologi Bandung ini?
Yap, Sekolah Tinggi Teknologi Bandung atau STT Bandung berkampus di jalan Soekarno-Hatta nomor 368 Bandung.   Berdiri sejak  tanggal 5 Oktober 1991 (Nomor SK Dirjen DIKTI: 197/DIKTI/Kep/1992).
Dikenal dengan taglinenya “Your Partner Global Competition.” yang menunjukkan STT Bandung memiliki standar mutu internasional.  Tujuannya adalah untuk menghasilkan lulusan berupa tenaga ahli yang kompeten dan mampu bersaing serta menghadapi tantangan global.
Saat ini STT Bandung memiliki 120 orang pengajar berkualifikasi S2 (96%) dan ditargetkan pada tahun 2019,  77% tenaga pengajarnya berkualifikasi S3. Demikian yang disampaikan oleh Ketua STTB, Bapak Muchammad Naseer, S.Kom.,M.T saat memberikan sambutannya.
Demi menghasilkan lulusan yang berkualitas dan berkompeten di bidangnya, STT Bandung melakukan kerjasama dengan berbagai lembaga. Hal ini dibuktikan dengan   penandatangan MOU antara STTB dengan beberapa lembaga, di antaranya PT POS, Bank Sampah Bersinar, Universitas Nasional PASIM, PT SLU, CMYK, dan HUNGCHI Taiwan.

Bapak Muchammad Naseer juga  menyampaikan, bahwa lulusan STT Bandung pada umumnya tidak akan menganggur. Hal ini disebabkan dengan adanya permintaan dari perusahaan-perusahaan bergengsi untuk menyalurkan lulusannya di perusahaan tersebut. Ini juga menunjukkan bahwa tenaga kerja di bidang teknik sangat  dibutuhkan.

Ketua STT Bandung, Muchammad Naseer, S.Kom.,MT


Tidak butuh waktu lama bagi lulusan STTB untuk mendapatkan pekerjaan. Hanya 45 hari sejak menyelesaikan studi, lulusan STTB sudah masuk ke dunia kerja maupun kewirausahaan (Muchammad Naseer).

Ucapan terima kasih disampaikan oleh ketua yayasan Dadang Hermawan kepada semua jajaran dosen maupun non dosen STT Bandung atas semua prestasi yang telah dicapai, menghasilkan lulusan yang berkualitas serta berguna bagi dunia dan akhirat.
Sekedar informasi, saat ini ada 13 orang mahasiswa sedang menjalani program internsip di Taiwan, di mana gaji yang diterima 4 hingga 6 kali lebih besar daripada UMR Bandung. Bukan hanya itu, merekapun berpeluang melanjutkan  kuliah ke jenjang S2 di Jepang atau di Taiwan. WOW banget kan?
Kelebihan lainnya yang dimiliki oleh STT Bandung adalah tingginya inovasi yang dimiliki baik dosen maupun oleh mahasiswanya. Terbukti pada bulan Oktober 2018, STT Bandung berhasil meraih penghargaan atas produk inovasi karya mahasiswa dan dosen dengan produk Smart Kitchen System dalam program Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi Perguruan Tinggi 2018.

Prosesi wisuda kali ini juga mengumumkan wisudawan terbaik dan skripsi terbaik, di antaranya adalah  Fitri Kurniawati, S.T, Inggi Sri Astuti, S.T. dan Srikanti Astuti, S.T sebagai wisudawan dengan skripsi terbaik dari teknik industri.

  



Menarik juga adalah STT Bandung ramah disabilitas. Terbukti dengan hadirnya Tina Sri Handayani sebagai pembicara yang mewakili wisudawan. Bukan karena Tina Sri Handayani sebagai penyandang disabilitas, melainkan karena Beliau merupakan mahasiswa berprestasi  peraih tiga medali dalam ajang Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) V 2018. 




Semoga para wisudawan dapat mengaplikasikan ilmu yang telah diraih demi menyongsong masa depan cemerlang.

Selamat yah!



Rabu, 05 Desember 2018

Saat Pensiun, Haruskah Kita Galau?





Assalamualaikum sahabat.
Baca judul di atas jangan langsung salah menduga yah? Dikiranya saya sudah pensiun jadi mau curhat. Padahal belum, tetapi curhatnya memang iya. Hahaha …

Saya mau membagi cerita tentang teman yang sudah pensiun, lebih tepatnya hasil perbincangan saya dengan mereka. Disimak yah…

Pensiunan Pertama

“Bagaimana kabar-ta setelah memasuki masa pensiun?” Saya memulai percakapan sambil menatap matanya yang kuyu.
“Begini-mi ini kalau sudah tua maki, muncul semua-mi penyakit.” Jawabnya, dengan nada pilu.
“ Sakit apa-ki?” kembali saya tanya dengan menyentuh bahunya.
“ Sakit hati” Jawabnya ketus.

Beuh …. Rada-radanya mau curhat nih teman saya. Okelah , saya ladeni sok perhatian, aslinya kepo.

“Kenapa-ki sakit hati, sama siapa?”
“Sama semuanya. Sama suami yang makin rajin olahraga dan  saya ditinggal di rumah, sama anak-anak, masa saya dijadikan baby sister .. bla..bla..”
Beberapa menit saya jadi pendengar setia sambil membayangkan bagaimana dan apa yang akan saya lakukan saat saya pensiun.

Belajar dari curhatan teman tersebut, saya berpikir bahwa,  kalau pensiun itu tiba maka saya akan lebih rajin berolahraga. Suami teman saya itu rajin banget olahraga kan, bedanya saya akan mengajak Ayangbeb ikutan olahraga. Jangan sampai Beliau sakit hati kalau saya tinggal dan sehat sendiri, hahahaha… Kenyataannya sekarang Beliau lebih rajin olahraga.



Tidak mau jadi baby sister ah.. Tapi saya juga pingin gendong-gendong cucu.
Sesekali boleh lah 😃



Pensiunan kedua

Saat antri di salah satu bank, saya bertemu lagi dengan teman yang juga sudah pensiun. Terjadi lagi perbincangan seperti berikut ini.

“Masya Allah, ibu masih segar setelah sekian lama pensiun. Bagi resepnya Bu.” Saya jujur mengatakan itu. Terlihat dari matanya yang cerah dan senyumnya yang semringah. Lumayan kan dapat resep untuk persiapan pensiun.

“Alhamdulillah Dek. Rahasianya gampang-ji, jangan lupa bahagia.” Jawab Beliau enteng.
“Apa kegiatan-ta sekarang?” mencoba mengulik. 
Lupakan kata Jangan Lupa Bahagia. Sudah basi.

“Setiap terima uang pensiun saya keliling ke rumah anak-anak saya. Pekan pertama saya ke rumah anak sulung, pekan kedua ke rumah adiknya, pekan ketiga ke rumah sibungsu dan pekan keempat kembali ke rumah, luluran,  panggil tukang pijit, siram-siram bunga, dan sebagainya.” Cerita si Ibu sangat bersemangat.
 Wuii…. Bagus juga nih resepnya.

“Berdua-ki sama bapaknya jalan?” Ingat kalau Beliau masih bersama suami.
“Tidak, dia di rumah-ji. Malas-ki pergi-pergi.” Katanya sedikit ketus.
“ Oooo…”

Tidak jadi ah ikuti resepnya, saya kan mau pergi bersama Ayangbeb. Setia gitu sampai tua. Aamiin.




Pensiunan ketiga

Lain lagi cerita teman yang baru  pensiun lima tahun terakhir.
“Setelah pensiun, apa kegiatan Ibu?”
“Oh banyaaak.” Jawabnya antusias.
“Apa saja Bu.” Saya tak kalah antusiasnya.
“Saya ikut majlis taklim setiap akhir pekan, ikut senam jantung dua kali sepekan, saya juga merajut bersama kelompok ibu-ibu RT.”

Wow saya terpukau!

“Apalagi kegiatannya Bu?” Masa cuma tiga kegiatan itu dibilang banyak.
Nyinyir saya dalam hati.

“Saya juga rajin ke salon, yaah hanya sebulan sekali. Tiap Sabtu malam saya jalan-jalan ke Mall dan makan-makan dengan teman kelompok ibu-ibu pensiun.”
“Bersama suami Bu?” Tetep kepoin kabar suaminya.
“Suami saya kan sudah almarhum.” Jawabnya sendu.
“Maaf Bu, saya tidak tahu.” Menyesal tanyakan itu.
“Tidak apa-apa, tapi walaupun suami sudah tiada masih ada anak-anak saya yang selalu datang ke rumah, tidak setiap hari tapi mereka bergantian datang.”
“Ibu merawat cucu?”   Tanya saya lagi. Membayangkan Beliau jadi baby sister.
“Tidak. Malas urus cucu. Anak saya datang sendiri, hanya mengantarkan uang belanja karena uang pensiunan saya tidak cukup.”

Kalau tiap akhir pekan jalan ke Mall, belanja dan makan-makan.  Terus ke salon tiap bulan,  uang pensiun manalah cukup Bu. Batin saya, tidak berani bilang ke Beliau takut ditabok, hiiii …😃

Pensiunan keempat

Bapak yang satu ini lumayan istimewa, fisiknya masih bugar, masih mengajar di salah satu sekolah swasta, dan masih rajin ikut kegiatan-kegiatan lainnya.

“Apa kabar Pak, saya lihat Bapak masih aktif mengajar.”
“Alhamdulillah sehat, itu-ji kutahu mengajar Dek.” Jawabnya dengan senyum dikulum.
“Bersyukur-ki masih bisa mengajar dan terutama masih sehat.”
“Yah begitulah, saya masih ada tanggungan, istri masih menuntut gaji seperti waktu saya masih aktif. Sebenarnya saya sudah lelah tapi mau apalagi terpaksa cari sekolah swasta yang masih mau menerima pensiunan seperti saya.”

Kasihan juga bapak ini, mengajar karena terpaksa saja.

“Kenapa bapak tidak menggunakan uang pensiunnya untuk berbisnis misalnya.” Sok-sok kasi solusi.
“Uang pensiunan saya sudah habis, SK sudah digadaikan di bank untuk ambil kredit jangka panjang.
“Untuk apa Pak ambil uang kredit.”
“Untuk biaya pesta anak saya.” Bisiknya pilu.

Asli bengong!
Tuing … tuing … tuing

Pensiunan kelima

Saya melihat teman satu ini biasa-biasa saja. Kesehariannya di rumah seperti ibu-ibu pada umumnya, beres-beres rumah, merawat bunga, ke pasar, masak dan duduk-duduk di teras membaca sambil minum teh. 
Santai sekali hidupnya, paling tidak itu yang saya lihat. 
Mau tanya-tanya ah.

“Assalamualaikum Bu, bunganya segar semua.” Basa-basi biar tidak dicurigai.
“Waalaikumsalam. Segar karena selalu saya rawat.” Jawabnya datar.
“Dari dulu ibu suka merawat bunga di?”
“Oh tidak, mana ada waktu. Pergi pagi pulang sore. Sampai di rumah urus anak-anak, suami dan sebagainya.” Jawabnya cepat.
“Jadi ibu merawat bunga setelah ibu pensiun?”
“Tidak juga.” Mukanya tiba-tiba muram. 

Nah loh…nah loh…

“Saya merawat bunga setelah melewati tiga tahun pensiun. Tahun pertama pensiun saya stres, tahun kedua saya sakit-sakitan, tahun ketiga saya menjadi langganan psikiater. Lalu psikiater itu  manyarankan agar saya mencari kegiatan yang bermanfaat. Nah, ini-mi yang saya lakukan.”

Saya termangu mendengarnya.

“Maaf Bu, apakah sebelum pensiun tidak melakukan persiapan apa-apa?”
“Persiapan apa Dek? Saya terlalu sibuk di kantor dan urus keluarga. Saya mengupayakan segalanya agar suami dan anak-anak bahagia dan tercukupi semua kebutuhannya.” Beliau menggeser duduknya, badannya tegak dan sorot matanya terlihat tajam.

Apakah ia menyesal telah melakukan semuanya. 
Entahlah.

 “Maaf Bu, apakah ibu menikmati kegiatan ibu sekarang ini.”
“Saya hanya berusaha menikmatinya Dek, tidak tahu melakukan apa lagi. Tunggu ajal saja, kapan datang menjemput.” Jawabnya pasrah.
“Kalau adek lihat saya duduk minum teh, itu saya lakukan sambil mengenang masa-masa kesibukan saya.” Katanya lagi. Masih dengan nada pasrah.

Saya menelan ludah. 
Pahit.

Insya Allah Desember 2024 saya memasuki masa pensiun, pensiun jadi guru di sekolah. Semoga umur saya panjang sehingga bisa menikmati masa pensiun itu.
Tetapi saya hanya pensiun di sekolah, selebihnya saya akan terus bekerja dan mengajar di tempat lain. 

Woiii  …. Kamu sudah tuir Dawiah!

Siapa bilang?

Selama masih hidup “usia” saya akan terus muda dan bergelora. Itu prinsip yang baru saya canangkan 10 tahun terakhir. Pede amat.
Emang pedelah, namanya juga harapan. 

Pensiun itu kan hanya istilah yang diberikan kepada para pekerja yang sudah selesai masa kerjanya. Setiap profesi berbeda-beda masa kerjanya sehingga berbeda pula usia pegawainya saat memasuki masa pensiun.

Masa kerja yang dimaksudkan di sini adalah masa kerja di suatu instansi tertentu dan diikat dengan Surat Keputusan (SK). Karenanya tidak berarti yang pensiun sudah harus berhenti bekerja dan melakukan aktivitas.

Misalnya, saya guru dan akan pensiun jadi guru di sekolah pemerintahan. Namun bukan berarti saya harus berhenti jadi guru, berhenti mengajar dan mendidik.

Masih ada tempat lain, cara lain, media lain untuk tetap menjadi guru dan mengajar. Saya juga akan terus menulis, ngeblog dan terutama membaca. Termasuk membaca jiwamu, heuu…

Kok bisa?

Bisalah! Apa yang tidak bisa di zaman digital kini.

Menurut saya, selama masih ada waktu maka persiapkanlah masa pensiun itu dengan sebaik-baiknya. Dari segi materi, waktu, dan terutama mental.

Jangan habiskan seluruh waktumu demi mengejar pemenuhan finansial keluarga. Kalau urusan uang, pastilah tidak akan ada cukupnya.

Berikan waktu khusus untuk diri sendiri, istilah sekarang me time gitu.
Lakukan kegiatan yang bermanfaat dan bisa berguna di masa yang akan datang. Misalnya mengasah keterampilan menulis, keterampilan kerajinan, dan keterampilan lainnya.

Mudakan jiwamu dengan tetap bergaul dengan yang muda-muda.
Itu saya hihihi … bergaul dengan blogger-blogger muda agar saya bisa menangkap jiwa mudanya. 
Jangan malu berdekatan dan bergaul dengan mereka asal tidak malu-maluin saja.

Kalau sahabat pembaca, apa tipsnya nih dalam rangka menyambut masa pensiun atau masa tua nanti. 
Kasi tanggapannya di kolom komentar yah.

Apapun pilihanmu tetap bahagia dunia akhirat karena itu tujuan akhir kita.
Sesibuk apapun dirimu jadikan ibadah prioritas utamamu.
Qoute Dawiah



Minggu, 02 Desember 2018

Wonderful Indonesia; Nikmati Kesejukan dan Keindahan Taman Wisata Alam Bantimurung






Jika Anda ke Sulawesi Selatan, wonderful Indonesia mana yang akan kalian kunjungi? 
Kota Makassar!
Yap. Jika ke Makassar,  Anda bisa mengunjungi Pantai Losari sambil menikmati pisang epe di malam hari. Mau beribadah saat ada di pantai ini? Jangan khawatir, ada masjid terapung yang berada di timur pantai Losari, namanya Masjid Amirul Mukminin.

Tetapi rombongan saya, ada lima bus. Widih … banyak gitu toh?  Masjid Amirul Mukminin bisa menampung jamaah sampai 500 orang. Serius!

Selain leha-leha di Pantai Losari, Anda bisa juga mengunjungi situs-situs bersejarah di jantung kota ini. Benteng Rotterdam yang berdiri megah peninggalan Kesultanan Gowa pada abad ke-17. Di dalam area benteng, ada Museum Lagaligo yang bisa menambah wawasan Anda tentang Makassar.  

Kurang lengkap ah,  kalau hanya mengunjungi kotanya saja, ada yang lain?
Oh ada, tenang saja.

Anda bisa datang ke Tana Toraja. Daerah yang memiliki keunikan ritual yang tidak akan Anda temukan di daerah lain. Menikmati perjalanan ke Tana Toraja, Anda akan disuguhi pemandangan gunung yang “ajaib.”

Ada juga Tanjung Bira yang berlokasi di Kabupaten Bulukumba. Cukup jauh sih jaraknya dari Makassar, sekitar 200 km.

“ … tetapi jaraknya terlalu jauh. Waktu saya tidak cukup, ada yang dekat nggak?” Kata teman saya yang berkunjung beberapa bulan lalu.

Kita ke Bantimurung!

Dijamin Anda akan menemukan kesejukan dan menikmati keindahan alamnya. Tidak jauh dari kota Makassar, hanya berjarak kurang lebih 50 km. Dengan menggunakan kendaraan umum juga gampang, tersedia pete-pete yang siap mengantar ke lokasi wisata.

Taman Wisata Alam Bantimurung

Taman wisata ini dikenal juga dengan nama Taman Nasional Bantimurung. Lokasinya berada di Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan. Tidak terlalu lama menuju ke lokasi ini, hanya sekitar 1 jam perjalanan dari kota Makassar.

Akhirnya perjalanan wisata demi menikmati wonderful Indonesia di Makassar kami mulai. Berangkat sekitar pukul 08.00, Alhamdulillah tiba di kota kabupaten  Maros sekitar pukul 08.45 dengan kecepatan mobil yang sedang.

Perjalanan diteruskan ke Bantimurung. Hawa kesejukan sudah terasa sejak memasuki daerah Bantimurung. Sepanjang jalan kami  menikmati pemandangan yang sejuk di mata. Melihat deretan rumah-rumah khas Makassar, rumah panggung yang sederhana tetapi artistik.

Sekitar 20 menit kemudian kami sudah menemukan belokan di sebelah kiri, Patung Monyet Toakala menandai kalau kami sudah mulai memasuki Taman Wisata Alam Bantimurung.

Wonderful Indonesia; Pintu masuk Taman Wisata Alam Bantimurung


Air Terjun Bantimurung

Kesejukan dan keindahan itu semakin terasa manakala kami memasuki area Taman Wisata Alam Bantimurung. Suara gemericik air yang berasal dari air terjun sudah terdengar jelas sejak memasuki pintu gerbang.
Eits, sebelum masuk beli kacis dulu dong. Tidak mahal, cukup bayar Rp. 20.000/orang.  

Area taman wisata alam Bantimurung ini terdiri dari batuan kapur yang berada di bagian kiri dan kanan sungai.  Batuan kapur itu   membentuk bukit-bukit terjal. Bahkan di dalam sungaipun kita akan menemukan batuan kapur yang cukup besar dan tersebar. Biasanya digunakan sebagai pijakan bagi pengunjung untuk berpindah dari satu batu ke batu yang lain.

Di sela-sela batu, mengalir air tumpahan dari air terjun.   Air terjun melalui batu cadas dari ketinggian kurang lebih 15 meter dengan lebar sekitar 20 meter.

Wonderful Indonesia; Air Terjun Bantimurung

Wonderful Indonesia Air Terjun Bantimurung


Berhubung kami datang pada musim kemarau, maka air terjunnya tidak terlalu banyak. Biasanya jika musim hujan, air terjunnya sangat deras dan lemparan airnya jauh sehingga pengunjung bisa  masuk ke bawah air terjun “bersembunyi” di antara batu cadas dan air terjun, sensasinya mereka tidak basah, hehehe ….

Wonderful Indonesia; Batu-batu kapur di sekitar air terjun Bantimurung


Musim hujan juga biasanya memunculkan cekungan-cekungan pada sungai, biasanya  dimanfaatkan untuk berendam dan berenang karena memiliki volume air yang cukup banyak.  

Goa Mimpi dan Goa Batu

Tak lengkap rasanya jika tidak mengunjungi objek wisata lainnya yang masih berada dalam kawasan ini, yaitu Goa Mimpi dan Goa Batu. Di sisi kiri batu cadas tempat mengalirnya air terjun, terdapat tangga besi yang digunakan pengunjung untuk naik ke atas bukit, jalan menuju  ke kedua goa tersebut.

Mengapa disebut Goa Mimpi?

Di dalam Goa Mimpi ini terdapat stalakit yang menggantung di atas langit-langit goa. Jika diterangi dengan lampu maka akan terlihat kristal-kristal yang bening dan sangat indah, memantulkan cahaya sehingga terasa berada di alam mimpi. Mungkin itulah sebabnya disebut Goa Mimpi.

Wonderful Indonesia; Goa cantik yang dipenuhi Stalakit 


Goa Batu sendiri berada cukup jauh dari area air terjun, butuh waktu sekitar 20 menit dan harus ditempuh dengan jalan kaki. Cukup lelah berjalan menyusuri  lorong goa sejauh  30 meter, namun akan terbayar saat memandang keindahan stalakit dan stalagmite-nya yang memukau.

Setelah puas menyusuri lorong kedua gua tersebut, saya dan rombongan kembali. Rupanya kelelahan berkorelasi dengan rasa lapar. Tak perlu khawatir, di luar area taman wisata terdapat kios-kios yang menyediakan berbagai jenis makanan khas Makassar.

Anda juga bisa menikmati jagung bakar, kacang tanah baik yang dimasak maupun disangrai. Selain itu, di sisi jalan terdapat kios-kios yang menjual pernak-pernik bertema kupu-kupu. Mau mengoleksi awetan kupu-kupu yang telah dibingkai juga bisa. Hampir setiap kios menyediakannya.

Taman Kupu-kupu

Hm kenapa disebut taman kupu-kupu yah?

Dalam Buku Rencana Pengelolaan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (Tahun 2006) menuliskan bahwa terdapat  103 jenis kupu-kupu yang tersebar di kawasan wisata Bantimurung. Dua jenis di antaranya memiliki sebarang yang sangat terbatas, hanya bisa hidup dan berkembang pada habitat hutan di pinggir sungai. Kupu-kupu itu adalah Troides haliptron dan Papilio blumei.  

Olehnya itu,  pemerintah membuat penangkaran kupu-kupu demi melindungi kupu-kupu tersebut agar tidak punah. Area penangkaran kupu-kupu tersebut masih berada dalam area taman wisata Bantimurung, tetapi untuk memasuki area taman kupu-kupu itu sendiri, kita harus masuk dari pintu yang lain, lebih tepatnya loket lain hehehe…

Yaa … beli tiket lagi dong. Yap, tapi tidak mahal, cukup bayar Rp. 15.000. Anda sudah bisa masuk ke area Taman Kupu-kupu.


Dalam area ini terdapat satu bangunan kecil, serupa museum yang menyimpan awetan ratusan jenis kupu-kupu, dilengkapi dengan nama setiap jenis kupu-kupu. Informasi yang edukatif kan. 

Bagi pengunjung yang suka dengan tantangan, perjalanan bisa diteruskan ke atas lereng bukit menuju jembatan Helena Sky Brigde. Banyak yang memanfaatkan jembatan ini untuk menguji nyali atau sekedar foto-foto.

Jembatan Helena Sky Brigde ini dibangun di atas tebing 100 meter. Wuii tinggi juga ya. 

Di atas jembatan Helena Sky Brigde



Anda ingin melihat Taman Wisata Alam Bantimurung serta menikmati sensasinya? Naiklah ke jembatan ini, dijamin anda puas.

Sahabat blogger punya juga tempat wisata di Wonderful Indonesia? Yuk, ikut blog competition Wonderful Indonesia. Lihat informasinya di sini