Sabtu, 11 Agustus 2018

Cinta Dalam Hati



Sepagi ini aku sudah merasakan debaran halus di dadaku. Ia melintas di depanku, mengirimkan aroma wangi tubuhnya. Aku menghirup dalam-dalam, menyerapnya, menikmati aroma itu, lalu kusemayamkan di dalam dadaku. Aku tak mau aroma itu hilang hingga berganti aroma tubuhnya yang baru.
Akan kusimpan aroma itu hingga sore saat aku datang konsultasi di ruangannya.
Aku sudah menyiapkan ruang khusus di dalam dadaku, ruang untuk menyimpan segala sesuatu tentang dia. Laki-laki kesayanganku.

Ah, aku memang selalu cinta padanya. Dari ujung kaki hingga ujung rambutnya tak pernah luput dari perhatianku. Aku tahu  makanan kesukaannya, kebiasaannya memejamkan mata setiap kali mendengar seruan azan sesayup apapun suara itu.
Aku hafal lagu kesukaannya, aku mengerti arti kerutan keningnya, hafal ekspresinya saat marah, saat senang, saat sakit, dan apapun tentangnya.

Sore yang basah.

Sisa  air hujan tergenang manis di jalan yang tidak rata, memercik ke kaki-kaki yang menginjaknya tanpa sengaja. Aku berjalan di antara tanah yang tidak rata itu, mencari jalan aman agar kaus kakiku tidak basa oleh percikan air dalam kubangan kecil itu.

Ruangan kantor FMIPA UNM Makassar masih lengang. Mahasiswa masih banyak yang belum pulang berlibur dari kampung. Hanya di ruangan administrasi terdengar musik lembut pertanda kalau sudah ada aktivitas di sana. Aku melongok ke dalam ruangan itu. Pak Nasrun kepala administrasi menoleh sambil menganggukkan kepalanya.
“Assalamualaikum Pak.”
“Waalaikumsalam, awwe rajin sekali kau Wali.” Sapa Pak Nasrun ramah.
“Iyah Pak, hari ini jadwal bimbinganku yang terakhir, kalau sudah disetujui oleh pembimbingku maka tinggal cari jadwal ujian de.” Jawabku semangat.
“Aamiin, eh adami dosen pembimbingta di ruangannya, ketemuka tadi.”
Iye Pak, terima kasih.”

Debaran di dadaku semakin berdegup kencang saat aku melangkahkan kaki menuju ke ruangannya. Ruangan itu tertutup rapat tetapi aku yakin ia ada di dalam. Hanya ada dua kegiatan yang dilakukannya. Kalau bukan menulis di laptopnya pasti ia mengaji melalui telepon genggamnya.

“Weh, sotoy kamu Wali!”

Suara keras menghardik lamunanku. Suara yang selalu menentang perasaan cintaku padanya.

“Mau taruhan?” Balasku menantang.
“Malas ah, main taruhan. Palingan juga kamu suruh aku mengintip semua kegiatannya sebagai bahan taruhanmu.” Katanya lemas.
“Bhahaha…” Aku terbahak puas.
“Sana pergi!  Saatnya aku menemui cintaku, kesayanganku, kekasih hatiku.” Kataku puas
“Pergi saja. Dasar sinting.”

Astagfirullah!

Percakapan macam apa ini? Bisa-bisanya suara hatiku bicara bersahut-sahutan seperti itu.

“Fokus Wali … fokus woiii…” Suara itu muncul lagi di telingaku.

Baiklah. Bismillah, aku mengetuk perlahan pintu ruangannya.
“Ya silahkan masuk.”
Oh Allah! Suara itu membuatku semakin gemetar.
Tanganku dingin bagaikan  terendam di dalam mangkuk yang berisi es kristal.

Perlahan aku membuka pintu. Tak lupa kusiapkan senyum termanisku.
“Assalamualaikum Pak.”
“Waalaikumsalam.” Ia menjawab salamku sambil memutar kursinya.
“Ada yang bisa Bapak bantu?”
“Iya Pak, skripsiku sudah lengkap.” Jawabku tergagap.
“Berarti bisa langsung ujian di..” Ia membuka map yang kusodorkan kepadanya.
‘Siap Pak” Jawabku mantap.
“Ucapkanlah ‘Insya Allah’ jangan main siap-siap saja.” Ia menatapku lurus sambil tersenyum samar.
“Ha… ha… ha…” Hii … lagi-lagi suara hatiku mengejek puas.
“Eh .. iya eh … Insya Allah Pak.”
“Jangan gugup begitu, belum juga ujian. Bagaimana nanti kalau ujian kamu gugup kayak nenek-nenek ompong.” Candanya sambil melirikku.

Oh Allahku, angkat aku Tuhaaan!

Jerit hatiku. 
Aku merasa melambung melihat lirikannya. Itu pasti lirikan mesra, ia kagum melihat senyumku. Apakah ia sudah jatuh hati kepadaku? Semoga ya Tuhan.

“Woiii … sadar woiii …!” Sahabat hatiku berteriak nyaring.

“Astagfirullah” Seruku tanpa sadar.
“Kenapa?” Matanya menatapku heran.
“Eh ..ah … tidak apa-apa Pak. Maaf Pak, aku tidak sengaja.”
“Jangan gugup, santai saja. Kamu sudah memenangkan perjuangan dalam menyelesaikan skripsimu. Tinggal satu langkah lagi kamu jadi sarjana.’ Hiburnya masih saja melirik mesra ke arahku.

Sekuat tenaga aku menahan segala rasa yang berkecamuk.
“Sekarang kamu hubungi Pak Nasrun, minta jadwal ujian.” Suara itu bagai  perindu yang mendayu.
“Baik Pak, terima kasih.”

Berhasil! Yeaah…aku berhasil bicara tanpa gagap.
Ia mengangguk sambil tersenyum. Kembali gagapku muncul.
Buru-buru aku keluar dari ruangannya. Bisa mati berdiri aku nanti  jika berlama-lama di ruangan itu.

Kulangkahkan kakiku menuju ruang administrasi, saatnya bertemu laki-laki setengah baya yang senyumnya selalu mengembang setiap ada mahasiswa yang datang menemuinya.
Sayangnya senyum Pak Nasrun  itu tidak menimbulkan getaran aneh di dadaku.

“Syukurlah, bagaimana kalau senyuman Pak Nasrun juga memesonamu.” Bisik suara hatiku.
“Iyah yah, bisa kacau duniaku ini.” Balasku geli.

To be continue ….

Cerita ini ada kaitannya dengan cerita sebelumnya, penasaran?

Baca saja di sini, di sini, dan di sini


Kamis, 09 Agustus 2018

Persahabatan yang Ternoda


Halaman sekolah dipenuhi gadi-gadis belia. Mengenakan pakaian seragam putih abu-abu, mereka duduk bergerombol di bawah pohon ketapang. Satu-satunya pohon yang paling besar di halaman SMAN IV Makassar. Gadis-gadis itu bercengkrama sambil sesekali menggoda murid pria yunior mereka. Beberapa meter dari situ, duduk tiga orang gadis yang sedang serius berbicara. Kayaknya ada hal sangat penting sedang mereka bahas.
Gadis putih tinggi semampai itu bernama Fika, mukanya manis dengan lesung pipit yang menambah manis dirinya, duduk paling tengah adalah gadis berkulit putih dan  berkerudung. Gerakannya sangat lembut, gemulai, di jilbabnya tersemat nama yang manis Anisa Salsabila, di sebelah kiri terlihat gadis berkulit sedikit coklat. Postur tubuhya lebih  tinggi dari kedua temannya. Dari cara bicaranya serta gerakan tubuhnya, dialah yang paling lincah di antara kedua temannya.
“Ry, kamu serius tidak mau menikah sebelum sarjana? Tanya Fika
“ Seriuslah, aku hanya mau menikah dengan laki-laki yang sudah mapan, tidak mau ah pacaran sama teman mahasiswa nantinya, mereka pasti kere. Hanya menunggu kiriman orang tuanya saja.
“Hahaha…kamu sudah berpikir sejauh itu Ry” Anisa yang berkerudung itu tertawa lembut
“Ya iyalah, namanya juga cita-cita dan harapan.”
“Kamu bagaimana Fik, apakah  mau langsung nikah, tidak mau kuliah dulu?
“Tergantung…” Jawaban Fika menggantung
“Tergantung apa?”
“Tergantung yang melamar. Kalau tamat sekolah  Bakti mau melamar, yah langsung nikahlah, bhahaa…” Mereka terbahak serentak.
“Kamu Nis? Mau kuliah atau mau seperti Fika?” Pertanyaan Qory diarahkan kepada kedua sahabatnya.
“Aku mau lanjutkan hafalan Qur’anku dulu, terus menunggu dilamar oleh guru mengajiku.” Nisa tersenyum malu saat menyebut guru mengajinya.
Persahabatan yang manis semanis gadis-gadis belia itu.
Hampir setiap istirahat, mereka berbicara serius. Membicarakan rencana-rencana masa depan, cita-cita, dan harapan-harapan mereka. Tiga kepala memiliki latar belakang yang berbeda pastilah sudut pandang mereka terhadap  masa depan juga berbeda
Fika berasal dari keluarga yang berkecukupan, ayahnya adalah pebisnis yang sukses. Hidup tenang dalam rumah mewah. Ia tidak perlu capek-capek memikirkan uang belanja, cukup menyodorkan daftar kebutuhannya dan telepon genggamnyapun berbunyi, pertanda uang dari ayahnya telah masuk. Walaupun hidup berkecukupan, Fika tetaplah Fika yang tenang. Ia tidak serta merta menjadi gadis pemboros dan angkuh. Penampilannya biasa saja, sama dengan gadis-gadis lain di sekolahnya. Tidak banyak yang tahu tentang kehidupan mewah keluarganya, kecuali kedua sahabatnya Qory dan Nisa dan beberapa orang di kelasnya.
Lain halnya dengan Anisa, gadis manis berkerudung itu adalah gadis yang populer di sekolah. Siapa yang tidak mengenalnya? Dua kali sepekan, foto dan tulisannya terpampang di majalah dinding. Hampir setiap upacara hari Senin, namanya disebut oleh pembina upacara sebagai pemenang lomba, baik sebagai juara dalam lomba menulis puisi, lomba menulis essay, lomba menulis cerpen, bahkan juara dalam lomba membaca puisi. Yah, dialah Anisa Salsabila. Gadis berbakat itu selalu tampil sederhana dan memikat. Ia memikat para guru dan siswa dengan penampilannya yang berkerudung, dengan bakatnya yang luar biasa. Ia terkenal dengan sebutan “Penulis yang Alim.”  
Tidak kalah populer dari Anisa, Qory juga sangat populer. Ia pemain basket sekaligus  pemain volly. Setiap ada pertandingan basket atau volly, Qory selalu dielu-elukan.
Qory dan Bakti sering bertemu di lapangan basket. Kadang mereka latihan bersama. Tetapi tidak pernah sedikitpun Qory memperhitungkan keberadaan Bakti.  Pikirnya paling-paling Bakti berasal dari keluarga biasa, atau bisa jadi ia juga miskin seperti dirinya
Begitulah persahabatan mereka, memiliki karakter yang berbeda tetapi tetap bersahabat, saling menerima kelebihan dan kelemahan masing-masing.
****************
Siapa Fika, Bakti, dan Qory? Silahkan baca di sini dan di sini

Fika menghela nafas, dia menatap album foto usang yang telah berusia hampir 20 tahun itu, di dalam album itu terpatri kenangannya bersama Bakti dan kedua sahabatnya. Foto-foto saat Bakti latihan dan berlomba, saat Bakti menerima piala kemenangannya. Juga ada foto Qory dengan kaos basket kebanggaannya, tertawa lebar sambil mengangkat piala.
Entah mengapa, setiap ada Qory berfoto dengan pialanya maka ada juga Bakti dengan pose yang serupa. Begitu seringnya kejadian itu berulang, sampai-sampai Nisa pernah berkomentar.
“Lebih cocok Bakti berjodoh dengan Qory, mereka serasi sama-sama pemain basket.”
Fika cemberut sambil meninju halus bahu sahabatnya. Sedangkan Qory hanya terbahak menggodanya. Ia mngangkat bahu cuek.
“Tenang saja Fik, Bakti itu tidak masuk dalam kategoriku.” Qory merangkul sahabatnya
“Tuh yang masuk dalam kategori Qory.” Balas Nisa sambil memonyongkan bibir manisnya ke arah guru olahraga mereka. Sontak Fika tergelak. Qory hanya tersenyum penuh arti sambil berbisik
“Psst kalau Pak Hery mau, kenapa tidak?”
“Ih .. dia itu sudah punya istri Ry?” Mata Fika melotot kesal
“Mana perduli dia Fik, yang penting mapan” Kata Nisa
“Dan kayaaa!” Seru Qory.  Ketiga gadis itu tertawa serentak.
Fika menutup album foto itu dengan kesal.
“Ah sejak dahulu kamu memang sudah memproklamirkan karakter burukmu Ry, kenapa aku bisa lupa akan hal itu.” Fika menghela nafas untuk kesekian kalinya.
Fika benar-benar baru menyadari keteledoranya. Memperkenalkan suaminya yang sudah mapan dan sukses kepada sahabatnya itu. Padahal sejak dahulu ia sudah tahu, apa dan bagaimana sahabatanya itu.
Masih pantaskah ia disebut sebagai sahabat?
Tidak lagi, Qory sudah menjadi penjahat baginya. Perampok cintanya.
Persahabatn mereka sudah ternoda.



Persahabatan tak akan kekal jika tidak menghadirkan iman dan cinta di dalamnya.

To Be Continued ……


Senin, 06 Agustus 2018

Sakit Tak Terperikan


Perlahan subuh beranjak. Mentari menyembul malu-malu dari balik awan.
Fika beranjak dari atas sajadahnya. Sejak tengah malam ia duduk di atas sajadah itu.  Perasaannya gelisah. Untuk menepis kegelisahannya, Fika meninggalkan peraduannya lalu  mengerjakan salat malam diteruskan dengan mengaji. Ia sudah biasa melakukan itu. Terlebih lagi jika suaminya sedang tidak ada di rumah.
Sesaat kemudian ia meraih handponenya. Beberapa pesan masuk melalui whatsApp.
Satu persatu pesan itu dibuka.
Tiga  pesan gambar dari pengirim yang tidak dikenalnya. Keningnya berkerut, tidak biasanya ia mendapat kiriman gambar maupun foto dari nomor yang tidak dikenalnya. Ia ragu membuka pesan itu. Tetapi rasa penasarannya tak dapat ia bendung. Jantungnya berdebar. Jangan-jangan foto porno. Begitu yang ada di pikirannya. Akhirnya ia memutuskan, ia harus melihat pesan itu.
Perlahan ia menekan gambar pertama, terlihat bulatan kecil berputar perlahan menandakan gambar sedang diunduh.
Foto terlihat jelas. 
Deg!
Foto suaminya sedang tertidur di atas ranjang, telanjang dada. Bagian perutnya ke bawah ditutupi selimut warna putih. Jantung Fika berdegub kencang. Kenapa suaminya mengirim foto?
Ah … bukan! 
Foto itu bukan kiriman suaminya, nomor pengirim pesan bukan nomor suaminya. Lalu siapa yang mengirim? Terjadi dialog dalam batinnya. Sebaiknya kubuka saja pesan kedua, siapa tahu bisa menjawab rasa penasaranku. Fika membatin.
Dengan menahan debaran di dadanya, Fika menekan layar handponenya tepat di atas pesan gambar yang kedua. Rasanya lama sekali menanti hasil unduhan foto.
Unduhan selesai. Foto kedua terbuka jelas. Qory tersenyum lebar dengan pose dan posisi yang sama dengan suaminya. Dada Qory terlihat jelas. Terbuka.  Jantung Fika seakan berhenti berdetak sepersekian detik. Ia mengamati foto Qory dengan saksama. Ia merasa foto pertama dan foto kedua ada hubungannya. Tangannya gemetar. Sungguh gemetar. Dentuman di dadanya bagai dihantam godam.
Apakah Qory yang mengirim foto itu? Apa hubungannya dengan foto yang pertama? Tiba-tiba ingatan Fika berkelabatan pada pertanyaan Qory beberapa hari lalu.
“Fik mana yang kamu pilih, suamimu selingkuh lalu berzina atau berpoligami?”
Waktu itu Fika gelagapan menjawab, “Eh aku tidak tahu. Dua-duanya tidak nyaman.”
Mungkinkah foto-foto itu adalah jawaban atas pertanyaan Qory?
Ya Allah, kalau itu benar-benar terjadi, apa yang harus aku lakukan? Tangan Fika lemas tetapi menggenggam dengan keras handponenya. Apakah jawaban yang sebenarnya ada pada pesan gambar yang ketiga?
Fika menutup mata. Tangannya gemetar. Jari-jarinya seakan kaku. Perlahan ia menekan pesan gambar ketiga. Bulatan kecil terlihat berputar.
Gambar diunduh.
Fika tidak berani melihat proses itu, ia menutup mata sambil menahan debaran dadanya yang semakin berdegup kencang. Fika yakin foto itu sudah terunduh, tetapi ia takut melihatnya. Sungguh ia sangat takut.  Namun rasa keingintahuannya memaksa ia harus melihat foto itu.
Perlahan ia mengintip foto ketiga. Matanya nanar melihat foto itu. Lambungnya serasa perih.
Hatinya perih.
Sekujur tubuhnya lemas. Ia terduduk di pinggir ranjang dengan badan limbung.
Fika meraih bantal lalu ia benamkan wajahnya di situ. Ia menangis dan meraung. Ia berteriak sekencang-kencangnya. Teriakannya terbenam dalam bantal. Semakin keras ia berteriak semakin keras pula  ia benamkan wajahnya ke dalam bantal.
“Oooo Daeng… huuu..huuu.. Daeng!” Tubuh Fika  menggigil. Benar-benar menggigil menahan sakit luar biasa. Air matanya menganak sungai. Fika meninju-ninju kasur, bantal dan dadanya sendiri.
Hati siapa yang tidak sakit? Jiwa siapa yang akan kuat? Tubuh siapa yang tidak gemetar?
Melihat foto suami berpelukan dengan sahabatnya sendiri!
SATU SELIMUT DI ATAS RANJANG!
“Daeeeeeng!
“ Qory …!
“Kalian kurang ajar!”
“Biadab kalian!”
Fika berteriak. Mencengkeram handpone.  Ia menggerung marah. Bagaikan banten yang terluka. Ia membuka lemarinya, mengacak-acak isi lemari itu.  Fika menatap foto suaminya yang terpajang manis di dinding kamarnya.
“Fotomu tidak pantas dipajang di kamar ini” Fika mendesis marah.
Sangat marah!
“Pyaaar!
Bingkai foto menghantam dinding ruangan.
 Baca kisah sebelumnya di sini 
************************

Malam semakin mengkelam demikian pula hati Fika.
Seharian menahan sakit yang tak terperikan, sungguh itu menguras energinya. Ia tertidur di atas sofa dengan mata sembap. Untunglah  kedua anaknya sedang berlibur ke rumah neneknya sehingga tidak melihat keadaannya.
Derik pintu pagar membuatnya terjaga. Perlahan ia bangun dan berdiri. Mengintip dari balik gorden. Bakti pulang.
Dadanya seakan menggemuruh.
Sekuat tenaga ia menahan diri agar penghuni rumah lain tidak mengetahui perasaannya. Bagaimanapun, ia harus menjaga harga diri suaminya terutama harga dirinya.
Jika suami selingkuh, bukan hanya menorehkan perih tetapi juga rasa malu. Malu karena merasa tidak dicintai lagi. Malu karena merasa tidak dibutuhkan.
Tidak dihargai.
Raut muka Bakti menyiratkan kelelahan. Ia menghindar bertatapan  dengan isterinya. Rasa  bersalah menghantuinya. Sekalipun Bakti sadar kalau ia sudah diperdaya oleh Qory. Ia dan Qory tidak melakukan apa-apa. Namun mendapati dirinya terbangun di dalam kamar hotel hanya mengenakan celana pendek, itu sudah cukup membuatnya merasa sangat cemas. Apa yang akan dikatakannya kepada Fika, jika hal itu ia ketahui.
Perlahan Fika menyentuh tangan suaminya. Jemarinya meremas lengan kokoh suaminya, lengan yang selalu ia rindukan, lengan yang selalu memberinya kedamaian kala bersandar atau direngkuh dalam pelukan. Tetapi tidak lagi saat ini.  
Terbayang, lengan kokoh itu merengkuh bahu orang lain, memeluknya dengan sayang. Beuuh…tanpa sadar, rahangnya mengatup keras. Jiwanya kembali tergoncang.
“Sejak kapan Daeng selingkuh sama Qory?” Fika bertanya tanpa basa-basi, membuat Bakti gelagapan.
“Apa maksudmu Ndi?” Bakti balik bertanya, pura-pura tidak mengerti. Hatinya diliputi kecemasan. Fika tidak langsung menampik pertanyaan suaminya, ia malah meraih telepon genggamnya. Dengan tangan gemetar ia membuka galeri foto lalu disodorkan ke Bakti.
“Lihat maki sendiri Daeng.” Suara Fika parau.
Bakti melihat foto-foto itu dengan mata membulat. Ia geram. Ini pasti perbuatan Qory.
“Ini tidak seperti yang Ndi bayangkan.”
“Kalau Daeng melihat foto orang lain seperti ini, apa yang ada dipikiran ta?”  Jawaban seperti ini sudah diperkirakan Fika.
“Itu tipu dayanya Qory. Ia memberiku minuman sehingga aku tertidur, selanjutnya aku tidak tahu lagi apa yang ia lakukan.”
“Yang pastinya, aku tidak selingkuh dengan siapapun apalagi dengan Qory. Percayalah Ndi, tidak ada orang lain yang bisa menggantikan ta’ di hatiku.” Bakti masih berusaha menenangkan hati isterinya.
Fika tidak bergeming. Sakit hatinya tidak bisa diobati hanya dengan kata-kata rayuan Bakti. Dahulu kata-kata itu sudah bisa menerbangkan angannya ke awan-awan, membuatnya jatuh hati lalu ikhlas meladeni suaminya dengan sepenuh hati.
Itu dulu, sebelum foto-foto itu memorak-porandakan semua bangunan cintanya.
“Jika itu memang tipu dayanya Qory, buktikan kepadaku, mulai hari ini Daeng tidak bekerja sama lagi dengan dia.” Fika memcoba berdamai dengan hatinya.
“Pasti akan kubuktikan, Aku sudah memecat dia sejak aku di kamar itu.” Lega hati Bakti, setidaknya ia merasa dimaafkan dan diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.
Namun jauh di lubuk hati Fika, sakit itu tidak begitu saja hilang. Ia hanya mencoba membujuknya agar tidak membuatnya meraung. Toh saat ini ia tidak bisa memutuskan apapun. Ia masih sibuk dengan luka hatinya.



Beginikah luka yang dirasakan para istri yang suaminya mendua?
Begini perihkah hati perempuan yang suaminya berselingkuh?
To be continued ...
Catatan:
Daeng = Kakak,  (bahasa Bugis/Makassar)
Andi =  Adik
Ndi = panggilan singkatan untuk kata Andi dalam bahasa Bugis/Makassar





Sabtu, 04 Agustus 2018

HIJRAH

Tujuh tahun lalu, saat aku pindah dari rumah lama ke rumah yang sekarang kutempati, tiba-tiba kesadaran itu muncul kalau aku mengalami perubahan peristiwa yang berbeda setiap tujuh tahun. Aku menyebutnya sebagai     lompatan  peristiwa.

Tujuh tahun berada dalam suatu tempat lalu pindah ke tempat lain dan  tujuh tahun kemudian pindah lagi ke tempat lain, dan tujuh tahun berikutnya pindah lagi ke tempat yang baru.  Empat  kali tujuh tahun berada di tempat yang berbeda. Mungkinkah tujuh tahun kemudian aku pindah lagi? 
Mungkin ke dunia lain?
Wallahualam Bissawab.



Ajaibnya, proses perubahan dalam  kurun  waktu tujuh tahun itu bukan hanya soal pindah tempat saja, tetapi juga perubahan tempat kerja, perubahan kebiasaan, perubahan pola pikir, dan perubahan perasaan.

Uniknya lagi setiap tujuh tahun aku merasa déjà vu, sehingga aku merasa tidak asing lagi dengan peristiwa yang kualami.  Aku mau memberikan nama atas setiap peristiwa itu dengan kata HIJRAH.

Sekalipun kata HIJRAH lebih umum dikenal sebagai peristiwa pindahnya  Nabi Muhammad saw bersama sebagian pengikutnya dari Mekah ke Medinah demi menyelamatkan diri dari tekanan kaum kafir Quraisy. Tetapi bukankah HIJRAH itu bisa juga diartikan sebagai berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu.  Bisa saja alasan itu karena ingin berada di tempat yang lebih baik, atau bisa jadi karena ingin mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang baik.

Hijrah, kuartikan juga sebagai meninggalkan  perangai buruk menuju sikap yang lebih baik, meninggalkan  hati yang kotor ke  hati yang lebih bersih.  Bahkan aku artikan hijrah itu sebagai meninggalkan lingkungan  pergaulan atau komunitas yang buruk menuju lingkungan dan  komunitas yang baik. Meninggalkan  sesuatu yang membuatku sakit menuju sesuatu yang bisa menjadikanku lebih sehat. Sehat rohani dan jasmani.

Tujuh Tahun Pertama

Tanpa sengaja aku membuka sebuah dompet, di dalamnya kutemukan sebuah benda berbentuk segiempat. Benda itu dibungkus kain  putih yang dililiti benang hitam. Rasa penasaran mendorongku untuk membuka benda itu. Lilitan benang hitam kugunting dengan hati-hati lalu kubuka kain pembungkus benda itu helai demi helai hingga pada helai terakhir. Terlihat ada semacam kertas foto ukuran 4 x 6 tetapi tanpa gambar.

Oh, rupanya itu memang dua lembar kertas foto yang disematkan satu sama lain dengan menggunakan benang putih. Kedua foto itu disatukan  dengan menghadap-hadapkan gambarnya sehingga yang terlihat hanya kertas putih bagian belakang foto.
Perlahan-lahan aku mengurai benang putih hingga kedua foto terlepas.

Astagfirullah!

Salah satu foto itu adalah fotoku dan foto lainnya adalah foto laki-laki yang sangat aku kenal. Diam-diam aku mengambil fotoku, kumasukkan ke dalam dompetku sedangkan foto laki-laki itu aku sobek-sobek lalu kubuang ke dalam kloset.

Itulah terakhir kali aku menginjakkan kaki di rumahnya.  Aku tak tahu,  apakah ada hubungan antara kloset yang busuk dengan foto yang kubuang di dalamnya.  Sebab setelahnya,  aku memandang orang dalam foto yang kubuang itu seakan melihat kloset.

Sama busuknya dan menjijikkan!

Peristiwa itulah yang mengawali tujuh tahun pertamaku dalam  sakit yang ajaib.
Mengapa kusebut ajaib?

Sebab sakit itu tidak dapat didiagnosa dokter sehingga tidak ada satu reseppun yang bisa dituliskannya untukku. Dua kali tujuh tahun, aku “menikmati” penyakit unik itu. Kadang datang menyerang disaat aku terlelap sehingga tidurku terganggu. Terkadang muncul saat aku tertawa senang menyebabkan tawaku terhenti berganti tangis memilukan. Sungguh, masa itu adalah masa yang berat dan menyiksa.

Namun aku meyakini janji Allah dalam kitab suciku.

Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada Kami ada suatu catatan yang menuturkan dengan sebenarnya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan).” (QS: Al-Mu’minun; 62).  


Keyakinan itulah yang menjadikanku sanggup memikulnya, buktinya aku masih berdiri tegak hingga kini. Aku bisa melampauinya dengan melakukan banyak hal baik dalam hidupku.
Dua kali tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat, namun saat melompati tahun ke-15 dan seterusnya hingga kini, masa itu sudah tak terasa. Bahkan aku cenderung lupa jika di masa lalu aku pernah mengalaminya.

Itu kisahku, rekam jejak dalam kehidupanku. Menjadi kenangan yang tak mungkin terhapus begitu saja. Namun aku tak perlu mengenangnya terlalu dalam. Cukuplah kulirik sejenak sebagai pengingat agar arah yang akan kutempuh tidak membentur sesuatu. Bagaikan kaca spion yang hanya dilirik sejenak dan sekedarnya saja.

Seperti kata para leluhur,  setiap kesalahan yang dilakukan orang lain terhadap diri kita pastilah akibat dari perbuatan kita sendiri, atau ada peristiwa “resonansi” antara kita dan orang tersebut. Bisa jadi yang kualami itu adalah buah dari perbuatanku juga yang tidak kusadari.

Semoga setiap rekam jejak yang buruk dan tidak baik dapat ditimpa oleh rekam jejak lainnya yang lebih baik. Ibarat file yang salah kemudian dihapus lalu ditimpa dengan revisi  file lainnya. Walaupun tidak sesederhana itu.

Setidaknya setiap kesalahan dapat diampuni lalu ditutupi dengan kebaikan, maka kuyakini itulah hijrahku yang pertama.

Memaafkan dan melupakan.

To be continued …

Senin, 30 Juli 2018

Hijup Store Kini Hadir di Makassar


Hijup Store kini hadir di Makassar. Yeeaaa!

Begitulah seruan kebahagiaan  muslimah pencinta busana-busana Islam di Makassar. Bayangkan saja, jika selama ini belanja di Hijup via online biasanya muncul kekhawatiran, jangan-jangan ukurannya tidak pas nih, atau penasaran dengan kualitas kainnya karena tidak bisa diraba (sekalipun selama ini, Hijup selalu memberikan kepuasan bagi customer baik yang belanja online maupun offline). Namanya juga perempuan kan yah, adaaa saja rasa was-was di hati.
Dengan kehadiran Hijup Store di Makassar maka semua kekhawatiran itu akan hilang. Para customer bisa langsung melihat, meraba bahkan mencobanya. Yakin puas kan.


Mengapa Hijup Memilih Makassar?

Sebagai salah satu kontributor penjualan Hijup yang mengalami peningkatan hingga 500% sejak hadirnya Hijup offline store, maka wajar saja kalau Makassar dipilih oleh Hijup sebagai kota ke-5 diadakannya Grand Opening pada 28 Juli 2018. Sebelumnya Grand opening Hijup Store juga telah dilakukan di Jakarta, Palembang, Lombok, dan Bandung.

Berlokasi di Jalan Pengayoman nomor 11 Makassar, Grand Opening Hijup Store Makassar menghadirkan Anastasi Gretti Schender  (Gege) sebagai Head Creative Content Hijup, dan dua orang yang berperan sebagai  entrepreuner Adelia Pasha dan Indah Nada Puspita  yang dikenal sebagai pengisi acara Hijap Traveling di salah satu televisi swasta. Kedua perempuan cantik itu merupakan representasi muslimah yang telah menginspirasi gaya busana muslimah Indonesia, tentu saja hal ini sejalan dengan misi Hijup yang menghadirkan gaya busana yang Islami.



Foto: by Mangkawani 


Foto by Mangkawani 


"Semoga kehadiran Hijup Offline Store di kota Makassar ini menjadi langkah awal Hijup untuk selalu dekat di hati para konsumennya.” Gege.








Hijup Ada Akibat Keresahan Seorang Diajeng Lestari

Berawal dari keresahan pendirinya, Diajeng Lestari untuk mendapatkan busana muslim yang berkualitas, gampang, dan tidak ribet maka Diajeng mendirikan HijUp.com untuk membantu muslimah-muslimah Indonesia dalam hal mendapatkan busana muslim yang berkualitas. Melalui HijUp inilah, Diajeng menggaet desainer-desainer Indonesia yang mumpuni, sepert: Irsalina, Dian Pelangi, Jenahara, Vivi Zubedi, NRH X Nabilia, Ria Miranda, dan beberapa orang desainer lainnya. 

Hijup berperan penting dalam menghubungkan pembeli dan pengguna busana Islam dengan para desainer. Sebagai perantara, maka Hijup membangun hubungan simbiosis mutualisme antara desainer dengan customer di mana para desainer Indonesia dapat berkarya dan mendapatkan keuntungan, sedangkan customer atau calon pembeli bisa memenuhi kebutuhannya terhadap busana yang lebih Islami, trendi dan berkualitas. Melalui Hijup, Diajeng Lestari bertekad memajukan produk dalam negeri dengan mengusung brand lokal Indonesia ke kancah internasional.

Sumber Foto: digitalnewsasia.com



Diajeng: “Banyak hal yang melatarbelakangi saya mendirikan Hijup.     Secara internal, Saya  ingin menjadikan muslimah selalu percaya diri dan bahagia dengan hijabnya.  Secara eksternal, saya ingin mengubah wajah industri Islamic fashion di Indonesia menjadi lebih baik. Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, jika  industri fashion Islam dikelola dengan baik, maka indusrti ini dapat menjadi salah satu penopang ekonomi Indonesia."





 








Apa Kata Owner Hijup Store Makassar?

Husni Farid Abdat sebagai salah satu Owner Hijup Store Makassar dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada tim Hijup Mbak Anastasi Gretti, mbak Adelia Pasha, dan Indah  Nada Puspita  serta kepada loyal custumer yang selalu mensuport. Husni menjelaskan bahwa mereka bertiga me
beberapa hal yang mendasari keterlibatannya dalam menghadirkan Hijup store di Makassar, yaitu berdasarkan atas  kecintaannya  terhadap fashion muslim Indonesia, ingin memajukan fashion muslim Indonesia, dan  memiliki visi misi yang sama dengan Hijup, yaitu ingin memajukan local brand produk di Indonesia.

Foto by Mugniar


Hijup Store Makassar digawangi oleh tiga owner beserta masing-masing pasangannya, yaitu  Bapak Husni Farid Abdat dan   Ibu Irsalina, Bapak Fahmi Muhammad Abdat dan Ibu Mira Faris, serta Bapak Adnan Muhammad Abdat dan Ibu Sarah.
Bapak Husni Farid Abdat yang mewakili owner lain menutup sambutanya  dengan harapan kehadiran dapat memenuhi kebutuhan muslimah untuk berbelanja. Dan mono doa dari hijup, dapat memberi pilihan berbelanja untuk muslimah Makassar

Keseruan Acara Grand Opening Hijup Store Makassar


Acara grand opening ditutup dengan peragaan busana karya  dari desainer-desainer Indonesia, seperti Irsalina dan  Ria Miranda. Ada tujuh busana yang diperagakan oleh model dan salah satu modelnya adalah
Setelah peragaan busana usai, para hadirin dipersilahkan masuk ke dalam toko untuk melihat produk-produk Hijup sekaligus berbelanja. Beruntungnya lagi, Belanja di Hijup store Makassar kali ini akan mendapatkan potongan harga 20%. Asyik kan?