Minggu, 27 Mei 2018

"Jonga Merah" Kebanggaan Sulawesi Selatan



Gara-gara mendapatkan undangan  buka puasa bersama dari  PT. Sermani Steel.
Saya jadi tahu  kalau seng yang terpasang di rumah kami itu adalah produk PT. Sermani Steel. 

Suasana saat buka puasa bersama 

Yang saya ingat waktu rumah kami dibangun tahun 1999, suami saya membeli seng yang berstempel kijang warna merah.
Itu adalah rekomendasi dari tukang dan mama saya.
"Kalau mau awet atap  rumahmu pakai seng cap Jonga Merah.



Hem, saya jadi penasaran, apa betul seng itu masih dikenali hingga kini? Mengingat semakin banyak bermunculan berbagai jenis merek seng.

Maka saya mengajukan pertanyaan, “Seng apa yang bagus dipakai untuk atap rumah?” Pertanyaan itu saya kirimkan ke  berbagai grup whatsApp yang saya ikuti. Grup alumni SMA saya, grup  keluarga, grup guru-guru sekolah saya, grup guru-guru sekolah suami saya, grup orangtua siswa, dan bahkan ke  grup murid-murid saya.
Saya juga mengajukan pertanyaan  langsung ke tukang-tukang batu yang kebetulan sedang bekerja di rumah saya saat ini,
Tahukah apa jawaban mereka?
70% menjawab Seng Cap Jonga Merah
20% menjawab Seng Sermani.
5 % menjawab Seng Kijang Merah, termasuk jawaban dari  anak sulung saya.
5% menjawab tidak tahu. Mereka ini adalah murid-murid saya yang masih SMP

Menakjubkan!

Hampir 100% warga Makassar sangat mengenal seng produksi PT. Sermani Steel ini, sekalipun penyebutan mereknya berbeda-beda tetapi maksudnya sama. 

Sumber foto: Atik Muttaqin

Mengapa lebih banyak orang memilih seng sebagai atap rumah?

Masyarakat Indonesia pada umumnya menggunakan seng sebagai atap rumah, karena seng memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan produk  atap lainnya, misalnya: asbes dan genteng.
Atap seng lebih ringan dibandingkan dengan asbes maupun genteng sehingga lebih mudah pemasangannya. Gampang didapatkan, karena setiap toko bangunan menjual seng. Tahan terhadap korosi. Selain itu, seng juga dapat dibeli dalam bentuk lembaran maupun dalam jumlah yang besar.

Satu-satunya kekurangan penggunaan seng sebagai atap rumah adalah suara yang berisik pada saat ada hujan. Tetapi hal ini bisa diantisipasi dengan pemasangan plafon.

Bagi masyarakat Sulawesi Selatan hingga Sulawesi Barat pemilihan seng pada umumnya dipercayakan kepada satu merek saja (berdasakan survei kecil-kecilan di atas), yaitu Seng Sermani  atau Seng Cap Jonga Merah. Tentu saja ini bukan tanpa alasan.

Lihatlah riwayatnya!

PT. Sermani Steel yang memproduksi seng ini berdiri pada tahun 1996 lalu beroperasi pada tahun 1970. Sejak saat itu, hasil produksinya berupa seng langsung memikat hati masyarakat Sulawesi.  Produk yang dihasilkan sangat teruji dan memenuhi standar serta mengacu kepada ISO 9001.

Untuk memenuhi standar ISO 9001 tidak gampang, karena harus mengikuti berbagai prosedur yang berstandar internasional. ISO tdak sembarangan menetapkan tanpa melihat berbagai faktor, karena hal ini terkait dengan masyarakat di seluruh dunia. Standar ISO 9001 merupakan standar untuk mutu perusahaan  dan produk yang dihasilkan.

Perusahaan yang ingin mendapatkan standar ini, harus menggunakan sistem manajemen mutu ISO 9001 selama paling sedikit tiga bulan serta harus lulus audit sertifikasi.

Tidak cukup sampai di situ. Seng Cap Jonga Merah telah teruji dan terbukti dapat bertahan hingga 15 tahun. Hal ini dapat dilihat dari ketebalannya, lebih tebal dari seng merek lain juga lebih berat.

Selain itu, proses produksi seng ini melalui pencelupan atau galvanized mencapai suhu 5000C, tujuannya adalah untuk memastikan seluruh lembaran seng terlapisi dengan baik.

Sermani Spandeck Galvalume

Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia mulai mengenal sekaligus menggunakan jenis atap lain, yaitu  spandeck. Spandeck merupakan atap berbentuk gelombang yang bahannya adalah platzincalume G550 dengan ketebalan yang bervariasi. Biasanya digunakan sebagai atap pabrik, gudang, dan atap kanopi rumah. Pada umumnya spandeck terbuat dari aluminium dan seng.

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama masyarakat Sulawesi Selatan hingga Sulawesi Barat, PT. Sermani Steel juga memproduksi spandeck dengan spesifikasi sebagai berikut.

  1. Bahannya terbuat dari Baja Lapis Zinc Aluminium. 
  2. Tegangan Leleh Minimum saat produksi 550 MPa, 
  3. lebar efektifnya 750 mm,
  4. sedangkan jenis gelombangnya terdiri dari 5 gelombang.

Kebanggaan Masyarakat Sulawesi Selatan

Warga Sulawesi Selatan terutama yang berdomisili di kota Makassar patut berbangga, karena perusahaan sekeren ini ada di kota Makassar, dikelola serta  kepemilikan saham didominasi putra daerah Makassar.

Adalah almarhum Bapak  Syamsuddin Daeng Mangawing seorang putra daerah merupakan pemilik 50% saham PT. Sermani Steel, sedangkan 50% lainnya dimiliki masing-masing 25% oleh Marubeni-Itochu Steel dan JFE Steel. Saat ini direktur utamanya adalah putra bungsu almarhum Syamsuddin Daeng Mangawing yaitu, Bapak Rudy S Syamsuddin.

H. Rudy S Syamsuddin (Managing Direstor PT. Sermani Steel). Sumber foto: Abby Onety

Artinya, keberadaan dan kemajuan PT. Sermani Steel sedikit banyaknya akan mempengaruhi perekonomian rakyat Sulawesi Selatan.

Semoga hasil produksi PT. Sermani Steel ini semakin berkualitas sehingga kian dicintai oleh seluruh masyarakat Sulawesi Selatan bahkan dapat menyebar ke seluruh Indonesia. Aamiin.

Jumat, 18 Mei 2018

Indahnya Kedamaian


Empat hari sebelum memasuki bulan suci Ramadan tepatnya Minggu tanggal 13 Mei 2018, kita dikejutkan oleh bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya. Jawa Timur. Tiga gereja tersebut adalah Gereja Santa Maria Tak bercela di Jalan Ngagel, Gereja Kristen Indonesia di Jalan Diponegoro, dan Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno.

Sungguh memilukan.

Dilakukan oleh keluarga muslim. Suami isteri dan dua orang anaknya yang berusia 16 tahun dan 18 tahun, terlebih lagi mereka melibatkan dua anak kecil yang belum mengerti apa-apa. Sontak, hati setiap rakyat Indonesia menjadi sedih dan cemas.

Maka suka tidak suka, mau tidak mau masyarakat non muslim akan selalu waspada dan mungkin juga curiga kepada saudara setanah airnya yang muslim. Jangan salahkan mereka karena yang seimanpun bisa saja memiliki perasaan yang sama.
Walaupun perasaan itu tidak seharusnya timbul, karena perbuatan keluarga itu yang diberi label TERORIS bukan ajaran agama Islam dan ajaran dari agama apapun.

Saya yakin, agama apapun tidak mungkin mengajarkan kebencian, pembunuhan, apalagi bunuh diri. Agama apapun mengajarkan dan menganjurkan pemeluknya untuk tidak saling membunuh. Termasuk agama Islam. 

Bahkan secara tegas larangan membunuh dan bunuh diri sangat jelas dituliskan dalam kitabullah.

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu, “Janganlah kamu menumpahkan daramu (membunuh orang) dan mengusir dirimu (saudara sebangsamu) dari kampung halamanmu.” Kemudian, kamu berikrar dan bersaksi.” (QS Al-Baqarah: 84).

 “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS An-Nisa’: 29).

Sungguh rugi mereka yang membunuh anak-anaknya karena kebodohan tanpa pengetahuan, dan mengharamkan rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka dengan semata-mata membuat-buat kebohongan terhadap Allah. Sungguh, mereka telah sesat dan tidak mendapat petunjuk.” (QS Al-An’am: 140).

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Membunuh mereka itu sungguh suatu dosa yang besar.” (QS Al-Isra’: 31).

Allah SWT telah memerintahkan manusia untuk saling memupuk persaudaraan dengan berkasih sayang.

“Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang di antara kamu dengan orang-orang yang pernah kamu musuhi di antara mereka. Allah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Al-Mumtahanah: 7).

“Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.” (QS Al-Balad: 17).

Jika berkasih sayang dan tidak membunuh serta bunuh diri sudah dituliskan dan diperintahkan dalam kitabullah, lalu mengapa masih saja ada orang-orang yang melakukannya serta memilih hidup dalam kebencian?

Sumber gambar: Pixabay.com

Pastilah karena ia tidak mempelajari kitabnya sebagai petunjuk dalam hidup beragama, atau bisa jadi ia memiliki persepsi yang salah tentang ayat-ayat yang diturunkan oleh Allah SWT sehingga menjadi sesat. Ini merupakan tipu daya syetan yang berwujud manusia untuk menimbulkan perpecahan sehingga rasa persatuan dan kesatuan menjadi hilang.

Lihatlah caranya!

Pelakunya adalah  muslim, kemudian yang diserang adalah tempat ibadah non muslim maka sangat jelas motifnya, yaitu ingin menghancurkan rasa toleransi dan kerukunan umat beragama. Jika kita terpancing, maka yakinlah tidak ada lagi rasa toleransi dan akan selalu timbul rasa curiga satu sama lain.
Bukankah sikap toleransi merupakan sikap lapang dada untuk menghormati dan membiarkan pemeluk agama untuk melaksanakan ibadah mereka, menurut ajaran dan ketentuan agama masing-masing?

Kita memiliki agama yang berbeda, cara ibadah yang berbeda, tauhid yang berbeda. Tetapi ingatlah, ada yang sama, yaitu agama kita masing-masing mengajarkan kepada pemeluknya untuk melakukan kebaikan dan melarang  melakukan kejahatan.

Sumber gambar: Kompas.com



Jika ada yang melakukan kejahatan, yakinilah bahwa yang melakukan itu adalah oknum. Bukan perintah agama siapapun, termasuk agama Islam. 
Yakinlah saudaraku, bahwa:
Teroris itu bukan Islam dan Islam bukan teroris 

Mari suarakan.  Damai Itu Indah!

 “Lakum diinikum wa liya diin”
“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (QS Al Kafirun: 6).


Ditulis pada 1 Ramadan 1439 H/ 17 Mei 2018 M

Sabtu, 14 April 2018

Menapaki Jejak 32 Tahun


Profesi guru pada era 80-an bukan profesi yang keren. Sangat sedikit  peminatnya, bahkan cenderung dicemooh. Pada umumnya, pelajar-pelajar yang bersekolah di kota menganggap  menjadi guru itu kampungan. Mungkin karena waktu itu,  IKIP lebih banyak diminati oleh pelajar dari daerah. Entahlah.

Ketika tamat SMA, beberapa teman ramai-ramai mendaftar di perguruan tinggi terkeren di kotaku. Aku juga mencoba, sekalipun pilihan itu tanpa restu bapakku. Sambil mendaftar di perguruan favorit itu aku juga mendaftar di Institut Keguruan Ilmu Pendidikan. IKIP Ujung Pandang. Untuk pilihan kedua ini, bapakku sangat rida.

Akhirnya aku hanya  berhasil lolos di IKIP D2. Pasti waktu itu, doa bapakku menembus langit sesuai niatnya, beliau akan bahagia kalau aku menjadi guru.
Kata bapakku, “sekalipun bapak belum pernah bertemu guru yang kaya secara materi, tetapi guru adalah pekerjaan yang paling mulia. Pahala yang akan kamu dapatkan tidak akan pernah terputus hingga kamu tiada, asalkan kamu mengajar, mendidik murid-muridmu dengan benar, baik, dan ikhlas.”
**************
Menyelusuri kembali jejak-jejak masa 32 tahun lalu, mengingatkan akan masa di mana aku dan teman-teman mengabdikan diri di desa Balleangin. Kecamatan Balocci Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan.

Meninggalkan zona nyaman, menuju ke tempat yang penuh tantangan. Tidak ada listrik, tidak ada tempat tinggal, dan  tidak ada  keluarga. Hanya berbekal ijazah D2 dan restu orang tua, aku berangkat ke desa Balleangin dan bersiap mengabdikan diri. Di desa inilah aku bertemu dengan teman yang nantinya akan menjadi saudara seperjuangan.

Aku dan teman-teman adalah guru-guru muda, baik usia maupun ilmu apalagi pengalaman. Ada yang baru dua tahun meninggalkan masa putih-putihnya (waktu itu seragam SMA belum putih abu-abu), bahkan ada yang baru setahun menempuh pendidikan guru dan langsung bertugas.

Bagiku, situasi itu cukup sulit.  Berbekal ilmu seadanya, minim pengalaman, minim fasilitas, minim sarana, dan minim dana. Kami hanya memiliki kekuatan semangat. Walau sulit tetapi tidak menyurutkan niat kami untuk tetap menjalankan tugas sebagai guru.

Walaupun ilmu kami masih sangat sedikit, pengalaman mengajar masih minim tetapi semangat dan usaha kami tidak bisa dipandang sebelah mata.

Setiap malam, diterangi lampu petromaks kami belajar untuk mengajar. Berdiskusi dengan teman-teman seperjuangan, membicarakan tentang metode mengajar yang cocok, bercerita tentang keseruan di kelas, dan sebagainya.
Setiap pagi, kami menyambut murid-murid yang berdomisili di sekitar desa. Tidak sedikit murid kami berasal dari desa lain yang jarak ke sekolah dengan desa mereka lumayan jauh.

 Ada yang berjalan kaki menempuh perjalanan puluhan kilometer untuk mencapai sekolah.  Tiba di sekolah dengan keringat yang membasahi seragam dan  kaki berdebu tetapi mata mereka memancarkan binar kebahagiaan dan semangat membara untuk menuntut ilmu.

Jika hari libur, biasanya kami diundang oleh orangtua murid menikmati hasil panen mereka. Jika musim jagung, kami disuguhi berbagai makanan olahan dari jagung. Musim kacang, kami akan sibuk mengupas kulit kacang, demikian pula jika musim kedelai maka kami kembali disibukkan dengan kegiatan mengupas kulit kedelai, untuk dimasak dan dimakan ramai-ramai. 
Apabila musim kemarau tiba, maka kami akan menikmati indahnya berjalan kaki demi mencari air jernih.

Walaupun hanya tujuh tahun mengabdikan diri di desa ini, namun banyak sekali  manfaat yang kuperoleh selama tujuh tahun itu. Belajar menjadi guru yang sesungguhnya, belajar berbagi dengan teman-teman senasib, belajar mengelola keuangan agar dengan gaji kecil dapat memenuhi kebutuhan hidup yang besar.  

Di desa ini pula aku belajar menjadi isteri sekaligus menjadi ibu untuk dua orang putraku. Mendidik anak dengan fasilitas seadanya ternyata jauh lebih mudah dibandingkan mendidik anak dengan fasilitas serba lengkap.

Bersama ibu IDAH, teman seperjuangan. Kini beliau mengajar di salah satu sekolah negeri di kota Makassar



Kini sekolahku  sudah maju dan indah. Tidak ada lagi lapangan gersang yang dahulu kami olah untuk ditanami ubi jalar. Rumah yang dahulu kami tempati serupa barak berdinding tripleks kayu sudah berubah menjadi gedung sekolah baru.

Alhamdulillah, penduduk di desa ini tidak perlu lagi ke luar daerah jika akan melanjutkan pendidikannya ke tingkat lebih tinggi. SMP, SMA, dan SMK sudah berada dalam satu kompleks.


Semoga desa yang berkesan ini semakin maju. Penduduknya juga kian sejahtera apalagi telah ditunjang dengan listrik yang memadai. Aamiin. 




Sabtu, 17 Maret 2018

For My Husband



Sejak kecil saya suka membaca. Menulis hanya sebatas menulis di buku diary, itupun hanya berisi segala perasaan yang melanda di dada,  menuangkan kemarahan-kemarahan dan kekesalan saya kepada seseorang atau kepada sesuatu.

Seperti  saat saya mendapatkan nilai buruk sehabis ulangan, maka buku diary adalah tempat saya melampiaskan kekecewaan kepada guru.  “Kenapa soalnya terlalu sulit, kenapa soalnya tidak sama dengan materi pelajaran yang saya pelajari, dan lain sebagainya.” Padahal dasarnya, saya saja yang kurang belajarnya.

Menulis tentang apa saja di buku diary berlanjut terus hingga saya menikah. Ketika saya marah kepada suami, maka namanya pasti tertulis di buku diary itu. Jika saya gembira karena limpahan kasih sayangnya, maka kepadanya saya persembahan puisi-puisi cinta. Kadang saya menulis sambil berurai air mata, kadang pula saya menulis dengan senyuman tersungging di bibir.

Tiga tahun  awal penikahan,  saya lalui di desa yang cukup terpencil. Akses menuju ke desa tempat saya bertugas belum terlalu lancar. Pasar tradisionalnya digelar hanya dua kali sepekan. Selain itu, tidak ada toko atau warung yang menjual alat tulis kantor yang lengkap. Karenanya ketika buku diary saya sudah penuh, sementara kebutuhan untuk menulis tidak bisa ditunda, maka pilihannya jatuh kepada buku tulis, seperti buku tulis yang biasa digunakan oleh siswa saya.  

Hingga suatu waktu, buku itu hilang. Seharian saya mencari buku itu, tetapi tidak ketemu juga. Sementara tangan ini sudah gatal untuk menulis. Ada ide di kepala saya untuk menulis puisi atau sekedar kata-kata manis buat suami saya. Waktu untuk menulis saat itu sangat pas, anak saya sudah terlelap di atas ayunannya, suami pergi ke kota untuk menjenguk ibunya. 
Untuk mengantisipasinya, saya mengambil selembar kertas dari buku PR siswa saya, semoga siswa saya itu mengikhlaskan kertasnya.

Di secarik kertas itulah saya menuliskan perasaan cinta saya kepadanya, rasa bahagia, kekaguman dan sebagainya hingga kertas itu penuh, timbal balik. Mungkin kalau waktu itu diketik, paling-paling hanya sekitar 200 hingga 300 kata. Kertas itu kemudian saya lipat dengan rapi, lalu saya selipkan di antara lipatan baju dalam lemari.

Suatu waktu, kertas itu ditemukan oleh suami saya. Ia membacanya. Saya melihatnya. Sambil menahan debaran di dada, mengharap ia datang memeluk saya sambil berucap, “Terima kasih sayang, saya juga selalu sayang sama kamu.” 
Saya deg-degan menanti momen yang saya impikan itu.

Kurang dari lima menit, ia membaca kertas itu. Aneh bin ajaib, suami saya menatap tajam kepada saya. Tatapannya seakan menghunjam ke dalam hati. Saya balas menatapnya dengan mulut melongo sambil bertanya, “Ada apa Pak?”

“Siapa itu Hasbi?” Mulutnya mendesis. Suaranya bagaikan amukan harimau yang tertahan.
“Hasbi? Siapa itu Hasbi?” Saya balik bertanya. Bingung, kenapa nama itu keluar dari bibirnya setelah membaca kertas itu.
“Iniiii…” Katanya sambil menyodorkan kertas itu.
“Di sini Mama menulis kata-kata cinta, sayang, kagum, dan pujian kepada si Hasbi itu!” Suaranya geram, menahan kemarahan yang seakan siap meledak.

Saya meraih kertas itu. 
Yah Rabbi!




Rasanya ingin terbahak-bahak, tetapi saya sadar suami saya sedang dilanda cemburu, maka ketawa itu saya tahan. Namun senyum saya tidak bisa saya sembunyikan. Suami saya semakin murka.
“Kenapa senyum! Mama suka sama dia?” Bentaknya sambil meremas lengan saya.

Sambil menahan senyum saya memeluknya, saya raih lengannya, saya ciumi punggung tangannya. Suami saya belum bergeming. 
Saya merengkuh lehernya, saya mengecup bibirnya. Terasa bibirnya dingin. Saya berbisik halus di telinganya, “Sayang, tulisan itu untuk kamu.”
“Coba baca baik-baik judulnya.” Sambil menyodorkan kertas itu, saya menarik pinggangnya untuk duduk di pinggir ranjang.

Di kertas itu saya menulis judulnya, For My Husband. Karena tulisan itu adalah tulisan tangan, dan tulisan tangan saya kurang rapi sehingga kata Husband dibaca Hasbi. 
Hahaha …

Untunglah, tulisan itu saya akhiri dengan kalimat, “Suamiku, sehat terus ya..dan kamu tetap disayang Allah. Semoga kita akan terus bersama hingga maut memisahkan kita. Aamiin.”

Suami saya tersenyum malu-malu meong  sambil berkata, “Ah siapa suruh tulisanmu jelek, kan saya jadi cemburu.”

Ha…ha…ha… kami tergelak bersamaan sambil berpelukan.
Sejak saat itu, saya berusaha menulis dengan rapi, agar Husband tidak lagi dibaca Hasbi.

Apa kabar dengan buku tulis sekaligus buku diary saya yang hilang?
Nantikan jawabannya di buku antologi "Menulis Berbagi Rasa dan Cerita". 
To be continued …


Senin, 12 Maret 2018

ASYIKNYA KOPDAR DI MAKASSAR DIGITAL VALLEY




Senin, 5 Maret 2018 demikian tanggal yang tertera pada undangan yang disebarkan oleh punggawa IIDN Makassar, Mugniar dan Abby. Bagi saya ini adalah kopdar yang keempat kalinya, sekalipun sudah sering bertemu dengan teman-teman penulis Makassar dan anggota IIDN Makassar  diberbagai acara, namun kopdar sekaligus belajar bersama IIDN Makassar baru empat kali.

Kopdar pertama adalah bertepatan dengan bedah buku “Inspirasi Bunda” pada 22 Desember 2016. Di tempat inilah untuk pertama kalinya saya bertemu dengan punggawa IIDN juga anggota-anggota lainnya, dan oleh-oleh yang saya bawa pulang adalah buku “Inspirasi Bunda.”

Kopdar kedua berlangsung pada 19 Januari 2017 sekaligus belajar “Cara Jitu Menerbitkan Buku dengan Self Publisihing” yang dibawakan oleh Umma Azura. Kali ini saya mendapatkan hadiah buku “Para Abdullah di Sekitar Rasulullah.” Buku tersebut dibagikan sendiri oleh penulisnya, Haeriyah Syamsuddin. Mengenai review buku ini dapat dibaca di sini: http://www.mardanurdin.com/2017/03/buku-yang-menginspirasi.html.

Berikutnya adalah kopdar ketiga  sekaligus bercanda dengan EBI oleh  Kepala Sekolah SP ibu Anna Farida pada 3 Juli 2017.  Kopdar yang asyik dan sangat mengesankan. Bertemu dengan mentor tercinta saya, tentu saja ini adalah sesuatu yang sangat menggembirakan saya.

Inilah kopdar yang keempat sekaligus belajar  “Ngeblog Untuk Pemula” bersama Abby Onety.
Jika pada kopdar pertama dan yang ketiga  bertempat di Regus Graha Pena, maka kopdar kedua di Dilo Makassar, jalan Dr. Ratulangi no 68. Kali ini  kopdar  keempat berlangsung  di Makassar Digital Valley, Jl. AP Pettarani no. 13 Makassar.
Ada nuansa tersendiri ketika kopdar dengan anggota IIDN, silaturahim semakin tejalin dengan baik. Selain itu, saya kembali berkenalan dengan anggota lain yang baru menghadiri kopdar, juga beberapa yang baru gabung di IIDN. Pertemuan ini tidak sekedar kongko-kongko tanpa makna ya teman-teman...  melainkan ada pembelajaran yang akan disampaikan oleh wakil ketua IIDN Makassar.

Dilo adalah tempat yang sudah sering saya datangi, tetapi itu beberapa tahun lalu antara tahun 2007 hingga tahun 2008.  Waktu itu, guru-guru sedang gencar-gencarnya belajar internet demi menyongsong program pemerintah untuk peningkatan kesejahteraan guru melalui program sertifikasi.  Di Dilo (Digital Innovation Laounge) inilah  tempat saya dan beberapa rekan guru untuk pertama kalinya belajar tentang penggunaan email, bahkan beberapa teman belajar membuat email. Dilo yang saya maksudkan itu adalah yang bertempat di Jl. Dr. Sam. Ratulangi Makassar. Beberapa tahun kemudian, saya datang lagi ke Dilo, yaitu dalam rangka kopdar kedua seperti yang saya ceritakan di atas.



Nah, kali ini saya kopdar di Dilo lagi, tetapi bukan  di alamat yang lama melainkan sudah pindah ke Jl. A.P Pettarani. Rupanya Dilo sekarang telah pindah di Gedung Makassar Digital Valley atau MDV. Gedung MDV ini masih baru, hal ini terlihat dari ruangannya yang masih apik. Selain itu, perabotan-perabotannya juga masih baru dan tentu saja sangat bersih.

Memasuki ruangan MDV, kita akan langsung disuguhi suasana yang nyaman dan bersahabat. Pegawai yang bekerja di MDV ini akan menyambut Anda dengan ramah. Selain ruang tamu yang luas dan bersih, terdapat pula ruangan yang digunakan untuk belajar. Ruangan ini cukup luas, dapat menampung sekitar 30 orang.

Ruangannya yang dipenuhi AC tentu saja memberikan kesejukan yang nyaman. Selain itu, dinding-dinding pada setiap ruang didekorasi dengan indah, dan  sangat instagramable sehingga cukup asyik untuk difoto dan berfoto dengan latar belakang dindingnya.
Informasi lainnya adalah, ternyata Digital Valley tidak banyak di Indonesia, dan MDV atau Makassar Digital Valley ini adalah salah satu dari empat Digital Valley yang ada di Indonesia. Keren kan?

Maka kopdar saya yang keempat ini tidaklah sia-sia. Dapat ilmu di tempat yang asyik dan keren sekaligus menjalin silaturahim yang indah.



Sabtu, 03 Maret 2018

SAGUSAKU DELAYING 2018

Menindak lanjuti kegiatan Temu Nasional dan Pengukuhan Pelatih (TNP) bulan Januari 2018 kemarin, maka inilah kegiatan yang bertujuan memantapkan salah satu kanal pelatihan IGI, yaitu Satu Guru Satu Buku (SAGUSAKU). Kanal pelatihan ini adalah kanal pilihan saya sejak awal bergabung di IGI.

Bukan tanpa sebab saya bergabung di kanal ini, semuanya berawal dari keinginan  saya, memiliki buku dan memahatkan karya saya sebagai warisan yang abadi.

Kegiatan TNP menghasilkan satu keputusan penting bagi kanal Sagusaku, bahwa guru yang telah dikukuhkan menjadi pelatih nasional IGI harus dibekali ilmu yang mumpuni, agar proses pelatihan yang akan dilakukan tidak asal-asalan. Oleh karena itu, Sagusaku melakukan pelatihan khusus bagi para pelatihnya dengan nama  “Pelatihan Coach Nasional Sagusaku IGI “Delaying.” Kegiatan ini dilaksanakan di Solo Jawa Tengah.

Mengapa Delaying?

Delaying adalah singkatan dari Desain, Editing, Lay out, dan Marketing. Materi-materi inilah yang akan diberikan kepada pelatih sagusaku delaying 2018.
Walaupun tidak sesuai dengan jadwal pelatihan yang telah dibagikan beberapa hari sebelum pelaksanaan kegiatan ini, namun semua materi yang telah disiapkan oleh panitia tetap terlaksana dengan baik.

Dimulai dengan materi pertama, yaitu proses penerbitan oleh bapak Iqbal  Dawami, kemudain dilanjutkan dengan editing oleh bapak Joko Susilo. Hari pertama kami lalui hingga malam hari. Hari kedua  adalah materi desain cover oleh bapak Gusliani dan Lay Out oleh bapak Peng Keng Sun.

Satu hal yang perlu diketahui, bahwa prinsip IGI yang Sharing and Growing To Gether atau  berbagi dan tumbuh bersama benar-benar telah terbukti. Dari guru untuk guru lalu bersama saling memotivasi dan belajar demi meraih berjuta prestasi.

Adalah seorang guru SD dari Wonogiri yang memiliki skill mengedit suatu naskah, membagikan ilmunya, bapak Joko Susilo. Dimulai dengan informasi tentang sejarah editor yang sudah ada dalam dunia penerbitan buku di Indonesia sejak tahun 1890. Sementara itu, pendidikan editing di Indonesia setingkat diploma tiga (D3) baru dimulai sekitar tahun 1980, yaitu program studi editing D3 di Universitas Pajajaran Bandung.

Editor dalam penerbitan skala besar dibagi menjadi:
·       Chiep Editor adalah seseorang yang memegang kedudukan tertinggi di bagian editorial, bertugas mengontrol, mengelola, dan mengeluarkan keputusan strategis berkaitan dengan proses editorial.
·  Asisten Editor adalah setingkat dengan sekertaris redaksi yang bertugas sebagai pembantu editor yang menangani hal-hal teknis seperti administrasi naskah.
·        Managing Editor adalah seseorang yang mengatur semua kegiatan teknis editorial yang dilaksanakan oleh para editor.
·     Rights Editor adalah staf editor yang bertugas khusus mengurus hal-hal yang berkaitan dengan hak cipta, seperti ISBN dan copyright.
·  Senior Editor bertugas mengatur perencanaan naskah, negoisasi, penjadwalan atau setingkat dengan kepala bagian.
·    Copyeditor adalah staf editor yang bertugas memeriksa dan memperbaiki naskah yang sesuai dengan kaidah yang berlaku sesuai dengan penerbitnya
·   Picture Editor juga adalah staf editor. Tugasnya adalah memeriksa dan memperbaiki bahan-bahan grafis untuk penerbitan.

Materi selanjutnya adalah materi pembuatan desain cover yang dibimbing oleh Pak Guslaini. Nama ngetopnya sih Pak  Bhp, beliau adalah guru muda yang berasal dari Riau. Dengan sabar dan telaten membimbing peserta belajar mengutak-atik aflikasi Photoshop. 

Tahu enggak, di sinilah saya merasa benar-benar sudah sangat matang (hihihi...makanan kali yeh).

Berbekal dengan petunjuk atau tutorial yang disiapkan oleh Pak Bhp, kami belajar hingga larut malam. Semua peserta sangat antusias demikian juga saya. Sayangnya saya belum lulus sampai hari ini, karena saya belum berhasil membuat desain cover buku saya. Tetapi saya pasti akan mempelajarinya. Janji pak Bhp!

Materi yang terakhir adalah materi Lay out. Untuk materi ini ada dua orang hebat yang membawakan materi ini. Pak Bhp (lagi-lagi Bhp, guru muda yang berprestasi dan selalu semangat) dengan bapak Pengkeng Sun. Sama dengan materi desain cover, saya juga masih dalam tahap belajar hingga hari ini.

Seperti pada umumnya pelatihan yang pesertanya berasal dari berbagai daerah, maka nilai positif yang  didapatkan selain materi itu sendiri, adalah silaturahim. Persahabatan dan pertemanan bertambah, jika sudah berkenalan sebelumnya maka perkenalan itu akan semakin akrab. Jika awalnya akrab di dunia maya, maka akan semakin akrab karena bertemu di dunia nyata.

Banyak hal menarik yang terjadi dalam kegiatan IGI kali ini. Terkhusus untuk saya dan teman-teman sekamar. Kami melakukan keseruan-keseruan yang membuat kami selalu kangen. Sekalipun saya yang terdewasa, bukan tertua tetapi bukan berarti saya tidak dapat mengikuti keseruan yang guru-guru muda lakukan.

Seperti menonton sinetron via handpone sambil bersembunyi di dalam selimut, atau selfi bareng,  bahkan mereka dengan nakalnya merekam kegiatan saya saat mengepak barang. Asyik dan membuat kami selalu kangen satu sama lain.

Akhirnya kegiatan selama dua hari telah berakhir. Waktunya para guru kembali ke daerah masing-masing untuk mengajar dan mempraktikkan ilmu yang telah didapatkan.


Saat orang lain mengisi hari libur dengan jalan-jalan atau beristirahat, kami anggota IGI mengisinya dengan belajar. Sesuai dengan salah satu syair dalam lagu Mars IGI, yaitu “Pantang Mengajar Kalau Tidak Mengajar.”


Minggu, 25 Februari 2018

Bapakku yang Selalu Memberi Momen Bahagia


Ditantang menulis dengan tema momen bahagia dalam hidup pastilah aku terima, karena aku lebih senang disuruh mengenang momen bahagia dibandingkan disuruh mengenang momen-momen yang menyedihkan.

Aku tidak mau!

Aku tidak mau mengingat apalagi terkenang-kenang dengan peristiwa yang menyedihkan, karena itu tidak penting lagi untuk dikenang.

Saat aku mulai menulis, maka tanpa disengaja   kenangan-kenangan itu berlompatan keluar dari otak kecilku. Diibaratkan otak itu sedang mengeluarkan cairan-cairan kental  merah dan membara. Melumer kemana-mana, memberikan sensasi kebahagiaan sehingga menarik bibirku membentuk satu lekukan manis. Aku tersenyum.

Sebenarnya banyak momen yang membahagiakan  di sepanjang hidupku yang telah mencapai setengah abad lebih empat tahun ini. Sehingga cukup sulit memilih, mana momen yang “paling” membahagiakan.

Seperti saat melihat ibuku tersenyum terharu menerima amplop gaji pertamaku sebagai guru.  Momen itu sungguh membahagiakan sekaligus membanggakan diriku. Demikian pula ketika melihat bapakku tertawa terkekeh-kekeh membaca surat cinta pertama yang kuterima dari seorang penggemarku, juga selalu terkenang dan membuatku tersenyum-senyum sendiri.

Setiap kali anak gadisku bercerita tentang teman-temannya dengan mata berbinar maka secara tidak langsung momen itu mengingatkan diriku sendiri ketika bercerita kepada almarhum bapakku. Beliau sangat senang mendengarkan aku bercerita tentang teman-temanku, terutama teman laki-laki yang selalu menyelipkan surat ke buku tulisku.

Pura-puranya dia pinjam utuk menyalin catatan padahal niatnya hanya ingin menyelipkan surat. Katanya surat tanda persahabatan tetapi isinya mengungkapkan kekagumannya kepadaku, mengutarakan perasaannya yang membuncah karena melihat senyumku yang manis. 
Setelah membacanya maka aku akan berputar-putar di depan cermin, senyum sendiri untuk memastikan apakah senyumku memang manis seperti yang dikatakan temanku itu.  Lalu bapakku akan datang menyentuh bahuku sambil berkata, “hanya laki-laki dungu yang tidak mau mengakui senyum manismu.” Ah bapakku memang begitu orangnya.



Kemudian bapakku akan berkata lagi, “tetapi sehebat-hebatnya pujian laki-laki kepadamu maka janganlah kau tergoda, karena laki-laki yang baik adalah laki-laki yang tidak mengumbar ucapannya kepadamu, melainkan menyimpannya dalam lubuk hatinya. Ia akan bekerja dengan giat untuk mengumpulkan uang panai kemudian dia  akan datang meminangmu.”
Hem, bapakku memang laki-laki paling romantis yang pernah aku kenal. Beliau selalu menyelipkan nasihat-nasihatnya dengan sangat halus dan santun. 
Itu hanya sebagian kecil momen bahagia dalam hidupku bersama bapakku.

Ketika aku ditugaskan menjadi guru di sebuah desa yang cukup terpencil. Sebuah desa yang terletak di kaki  gunung Bulusarung, maka laki-laki pertama yang datang mengunjungiku adalah bapakku. 
Beliau datang sendiri, memakai kemeja putih yang sangat bersih lengkap kopiah hitamnya. Beliau membawa kepiting dan beberapa buah mangga muda.
Saat aku menyambutnya, beliau berkata,” Dawiah, bapak beli kepiting karena ini yang paling gampang dimasak, cukup cuci dengan air hingga  bersih lalu tambahkan air dan garam terus dimasak.” Hehehe…bapakku sangat paham kalau anaknya yang manis ini belum pandai memasak.

Hari itu aku melihat bapak sangat gembira. Kami makan sambil bercerita, sekali-sekali bapak batuk karena terbahak mendengar ceritaku yang menulis resep memasak nasi.  “Aih.. masa masak nasi saja harus tulis resepnya.” Kata bapakku sambil tergelak-gelak.

Suatu hari, seorang teman datang berkunjung ke rumahku. Seorang laki-laki yang juga teman mengajarku. Dia datang sesaat setelah azan salat ashar dikumandangkan. Bapakku mengajak dia salat berjamaah. Bapak mempersilahkan laki-laki itu menjadi imamnya. Aku melihat keringat di dahi laki-laki itu keluar berbulir-bulir.

Setelah selesai salat berjamaah, bapakku bertanya kepada laki-laki itu, lebih tepatnya menginterogasinya. Di mana rumahnya, siapa orang tuanya, apa pekerjaannya, suku apa, dan sebagainya. Setelah acara interogasi selesai, bapakku memanggil aku lalu menyuruhku menyajihkan teh kepada temanku itu.

Kulihat dahi temanku semakin basah oleh keringat. Saat laki-laki itu pulang, di ujung tangga temanku berbisik, “untung tadi hanya salat ashar, bagaimana kalau salat magrib, pasti aku dikuliti bapakmu kalau tahu aku tidak terlalu fasih mengaji.” 
Hahaha…aku terbahak mendengarnya.

Setelah temanku itu pulang, bapakku berkata, “suruh laki-laki itu datang melamar!”

Ya Allah ya Rabbi, bapakku setuju dengan laki-laki yang berkeringat dingin itu. Laki-laki yang kini menjadi suami dan bapak dari anak-anakku kini.
Momen itu adalah salah satu momen bahagia yang mengawali perjalananku bersama suamiku.
Subhanallah!

Sungguh banyak momen bahagia dalam hidupku. Mungkin kalau setiap momen itu aku tulis maka bisa menjadi beratus-ratus halaman.

Yuhuii … tiba-tiba aku dapat ide. Momen-momen bahagia itu akan aku tulis seluruhnya hingga layak menjadi satu buku. 
Momen yang tidak membahagiakan tidak akan aku tulis, tidak perlulah kesusahan dan kesedihan itu kubagi, cukup aku saja yang tahu karena itu pasti berat. Belum tentu orang lain mampu memikulnya. Tidak ada juga gunanya setiap keterpurukan, kesedihan, musibah dan apapun itu dibagikan kepada orang lain.

Jadi aku akhiri saja tulisan ini, karena momen-momen bahagia itu tiba-tiba saja bermunculan untuk dikenang kembali.

Bismillah. Aku akan menulisnya.