Minggu, 18 November 2018

Novel Lama yang Masih Membekas Dalam Ingatan




Dari semua jenis bacaan yang pernah saya baca, bacaan jenis  fiksilah yang paling sering saya baca. Rasanya asyik saja manakala menelusuri kata demi kata lalu dirangkai menjadi kalimat yang  mendramatisasi hubungan antar manusia atau antar makhluk.

Seakan berada dalam alur yang diciptakan oleh penulisnya. Ikut serta atau hanya sekedar jadi penonton atas kejadian atau konflik yang dialami oleh tokoh-tokoh hasil rekayasa penulis.

Masih teringat jelas novel pertama yang saya baca, yaitu Siti Nurbaya; Kasih Tak Sampai karangan Marah Rusli. (Ketahuan umurnya, hehehe…).
Saya masih mendapati novel itu ditulis dan dicetak dalam bahasa Melayu dengan menggunakan ejaan lama, dimana kata “U” ditulis “OE”, atau kata “J” dituliskan dengan “DJ.”
 
Sumber Foto: Yahoo.com


Tokoh yang berperan dalam novel inipun masih sangat jelas. Ada Syamsulbahri sebagai tokoh protagonis, juga Sitti Nurbaya. Lalu ada tokoh antagonisnya, yaitu Datuk Maringgi. Sedangkan tokoh pendukungnya adalah Sultan Mahmud Syah ayah Syamsulbahri, Baginda Sulaeman, Siti Maryam, teman-teman Syamsulbahri yakni Zainularifin dan  Bakhtiar.

Setting cerita novel ini  terdiri atas dua bagian, yaitu di kota Padang dan di Jakarta dengan latar waktu sekitar tahun 1920-an.
Novel Siti Nurbaya; Kasih Tak Sampai  ini diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1922.

Novel kedua yang masih lekat dalam ingatan saya adalah “Salah Asuhan” karangan Abdoel Moeis. Diterbitkan oleh Balai Pustaka dan dirilis pada tahun 1928.
Sumber gambar: Yahoo,com

Novel Salah Asuhan ini menceritakan tentang cinta terlarang antara Hanafi dan Qory dikarenakan perbedaan kebangsaan. Sedangkan setting ceritanya mengambil latar kota Solok Sumatra dan Semarang.

Adalah Hanafi seorang pemuda terpelajar berdarah Minangkabau yang dipaksa menikah dengan Rafiah oleh mamaknya karena balas jasa. Pertemuan Hanafi dengan cinta lamanya Qory menjadikan Hanafi berhati dua. Hanafi  menceraikan dan meninggalkan Rafiah demi menikahi Qory yang berdarah indo-Prancis.

Rupanya perbedaan latar belakang keduanya menimbulkan konflik yang tak berkesudahan. Puncaknya Qory meminta cerai lalu pergi ke Semarang. Hingga akhirnya meninggal dunia akibat penyakit kolera yang dideritanya. Karena didera rasa penyesalan yang teramat dalam, Hanafi akhirnya jatuh sakit. Ia memilih kembali ke Solok dan minta maaf kepada mantan isterinya Rafiah, juga kepada ibunya.

Novel ketiga yang masih lekat dalam ingatan adalah Tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang dirilis pada tahun 1938. Setting cerita karangan Hamka ini adalah Cilacap, Makassar, Minangkabau, serta Jakarta yang dahulu masih bernama Batavia.  
 
Sumber gambar: Yahoo.com
Dikisahkan tentang Pendekar Sutan yang diasingkan ke Cilacap selama 12 tahun, lalu menetap di Makassar. Hasil pernikahan Pendekar Sutan dengan gadis Makassar, Daeng Habibah membuahkan anak yang diberi nama Zainuddin.

Setelah Zainuddin menjadi yatim piatu, ia berangkat ke Minangkabau. Sayangnya kehadiran Zainuddin di Minangkabau tidak diterima dengan baik, karena masyarakat Minangkabau menarik struktur kekerabatan dari ibu. Ia dianggap bukan darah Minangkabau karena ibunya berdarah Bugis.

Rasa kesedihan akibat terkucilkan itulah yang kerap ia curahkan kepada Hayati hingga menimbulkan benih-benih cinta di antara mereka. Singkat cerita, hayati dijodohkan dengan Azis kakak kandung sahabatnya, Khadijah dan Zainuddin diusir dari tanah Minangkabau.

Mengetahui kekasihnya Hayati telah menikah membuat Zainuddin putus asa, ia lalu pergi ke Batavia lalu ke Surabaya. Di Surabaya inilah Zainuddin meraih kesuksesan sebagai penulis. Di saat yang bersamaan keluarga Azis dan Hayati pindah pula ke Surabaya.

Azis yang memiliki kebiasaan buruk menjadikan keluarganya dalam kesusahan. Lalu Zainuddin datang sebagai penolong. Sayangnya konflik rumah tangga Hayati dan Azis berujung pada keputusasaan yang membuat   Azis bunuh diri.
Walaupun Zainuddin menolong keluarga Hayati hingga Aziz berterima kasih dan menitipkan istrinya Hayati kepadanya, tetapi Zainuddin tidak bisa memaafkan Hayati. Zainuddin masih menyimpan dendam atas penghianatan Hayati yang meninggalkannya dan menikah dengan Azis.
Hayati akhirnya disuruh pulang ke Batipuh dengan menumpangi kapal Van der Wijck. Dalam perjalanan, kapal itu tenggelam yang  membuat Hayati meninggal dunia. Sepeninggal Hayati, hati Zainuddin dirundung kesedihan hingga ia sakit dan berujung pada kematian. Ia dikuburkan di samping kuburan kekasihnya Hayati.

Ketiga novel itu memang sangat populer pada era tahun 1970-an. Bahkan oleh guru bahasa Indonesa saya, waktu itu dijadikan bahan bacaan untuk kemudian ditelaah. Jadi jangan heran kalau ketiga novel itu masih saya ingat hingga kini.

Teman-teman yang pencinta bacaan fiksi, novel atau buku fiksi apakah yang masih membekas dalam ingatan?


Jawab di kolom komentar yah.



Jumat, 16 November 2018

“Menyesal” Telah Mengunjungi 5 Tempat Ini


 “Menyesal” Telah Mengunjungi 5 Tempat Ini

Tiba-tiba saya merasa menyesal telah mengunjungi beberapa tempat tetapi   tidak menemukan momen indah yang diharapkan, tidak menikmati momen indah di tempat itu, dan terutama tidak sempat menuliskannya. Padahal tempat-tempat yang saya kunjungi itu adalah tempat yang bersejarah, indah, dan menyimpan banyak cerita.
Sekarang rasanya ingin mengulangi lalu menuliskannya. Tetapi mengulanginya tentu saja tidak akan sama, setiap momen yang dialami pastilah tak akan berulang. Seperti juga waktu, jika sudah berlalu maka pasti tak akan kembali.

Menuliskannya kembali mungkin bisa, hanya saja  butuh perenungan yang mendalam agar setiap kenangan bisa dimunculkan kembali. Yah mungkin serupa de javu.

Pernahkah kalian mengalaminya?

Nah, berikut ini adalah tempat-tempat yang pernah saya kunjungi sekaligus saya sesali itu.. Untungnya masih ada foto-foto yang sedikitnya bisa membuktikan kalau saya memang pernah berkunjung ke tempat itu. Jadi bukan hoaks kan.

Madina

Pebruari 2015  bersama mama saya diberi rezeki melaksanakan ibadah umroh. Madina adalah tempat pertama bagi rombongan kami singgahi sebelum melaksanakan ibadah umroh di Mekka.
Rombongan kami tiba pas azan subuh berkumandang maka kami hanya diberi kesempatan untuk menyimpan barang lalu segera ke Masjid Nabawi. Saya bersama mama segera ke Masjid Nabawi yang berada di depan hotel tempat rombongan kami akan tinggal beberapa hari. 
Berhubung kami belum pernah melihat bentuk Masjid Nabawi sama sekali maka jadilah kami salat di pelataran masjid yang awalnya kami mengira tempat itu  sudah berada di dalam masjid.

Koleksi Pribadi: Di depan Masjid Quba

Menurut beberapa referensi yang saya baca, Madina dahulu bernama Yatsrib lalu berganti nama menjadi Madinah setelah Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah. Di kota inilah Rasulullah dimakamkan. Selain itu, di kota ini pernah menjadi pusat kekhalifahan. Ada tiga khalifah yang pernah berkuasa dan menajdi penerus Nabi Muhammad SAW, yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan.

Selain Masjid Nabawi, ada dua masjid lagi yang kami kunjungi dan melaksanakan salat di sana, yaitu Masjid Quba dan Masjid Qiblatain. Kedua masjid itu merupakan masjid tertua dan masjid tertua ketiga adalah masjid Nabawi sendiri.

Lima hari saya dan rombongan berada di kota ini. Banyak kisah yang tak sempat saya catat, banyak pula cerita yang mengharubiru dan sekali lagi saya menyesal karena tak sempat menulisnya.
Penyesalan saya lainnya  ketika berada di kota Madina adalah saya tidak dapat mengambil banyak gambar yang menarik, padahal begitu banyak tempat yang sangat indah untuk diabadikan.

Penyesalan lainnya adalah saya tidak sempat mencatat nomor handpone teman-teman seperjalanan, padahal mereka adalah saudara-saudara baru saya yang baik hati dan asyik. Jadi setelah kembali ke tanah air kami kehilangan kontak. Semoga hal itu karena disebabkan saya fokus ibadah sekaligus mendampingi mama sehingga dapat dicatat sebagai pahala. Aaamiin.

Mekka

Hari ke-6 rombongan kami berangkat menuju Mekka. Sepanjang jalan, saya merekam kota yang sangat indah itu. Sayangnya semua hasil rekaman itu terhapus. Tiba di Mekka sekitar pukul 02.00 dini hari waktu setempat. Kami hanya diberi waktu sekitar 10 menit untuk menyimpan barang di hotel lalu segera berkumpul dengan rombongan dan bersiap melaksanakan ibadah umroh.

Koleksi Pribadi: Seusai Menjalankan Ibadah Umroh


Rombongan kami berada di kota Mekka ini selama lima hari. Melaksanakan ibadah umroh sebanyak dua kali. Ingatan di kota suci sebenarnya masih cukup jelas, tetapi banyak penggalan-penggalan cerita yang terputus. Terutama cerita-cerita manis saya bersama mama.
Di kota inilah saya merasa untuk pertama kalinya menjadi anak yang berbakti untuk mama saya. Dengan sabar saya  membimbing, mengantar, dan meladeni mama saya walaupun sesekali dapat juga omelannya. Saya terlalu lambat berjalan dibandingkan mama yang masih lincah.


Saya dan Mama  di Masjidil Haram

Sangat menyesal karena tidak dapat membantu mama saya mencium Hajratul Aswad, padahal itu adalah salah satu impiannya. Ustaz yang mendampingi kami tidak mau mengambil resiko, mengingat mama saya sudah cukup sepuh. Ustaz mengkhawatirkan keselamatan mama saya.
Saya juga tidak sempat foto-foto di antara burung-burung di sekitar pelataran Masjidil Haram. Apalagi saat melihat foto-foto teman rombongan yang berpose di antara burung-burung itu, duh rasanya cemburu hihihi… 

Dieng Wonosobo

Desember 2016 saya ikut rombongan teman-teman Ayangbeb berlibur ke beberapa tempat wisata di Dieng Wonosobo. Sebenarnya teman-teman Ayangbeb itu adalah  teman-teman saya juga. Kami pernah sekantor, jadi tidak perlu lagi beradaptasi, toh kami sudah sering seru-seruan.
Ada tiga tempat wisata yang kami kunjungi di Wonosobo, yaitu Telaga Warna, Bukit Sikunir, dan Kawah di Dieng.

Menyusuri jalan menuju Bukit Sikunir pada malam hari memberikan sensasi tersendiri. Tiba di atas bukit sekitar pukul 12.00 malam, menyisakan keletihan. Akibatnya sunrise tak dapat saya nikmati. Padahal tujuan ke bukit ini adalah ingin melihat sekaligus mengabadikan sunrise yang sangat terkenal itu. Menyaksikan sinar matahari yang berwarna kekuningan itu pastilah sangat indah.

Saya dan Ayangbeb di Dieng Wonosobo 😄

Ketika ke Kawah Sikidang bau kawah yang menyengat membuat saya sedikit sesak. Maka saya hanya dapat memandang teman-teman yang turun ke sekitar kawah dan berfoto-foto ria di sana. Untungnya pemandangan indah berupa hamparan bukit hijau dan tanah kapur di sekitar tanah kawah masih bisa saya nikmati. Tapiii … tak ada fotonya. Hiks.

Rombongan SMPN 7 Makassar

Nah di Telaga Warna inilah satu-satunya tempat yang cukup memberi saya kepuasan karena bisa foto-foto bersama Ayangbeb sekaligus menikmati telaga yang indah. Walaupun tidak dapat mendaki ke puncak bukit yang mengelilingi telaga untuk lebih menikmati keindahannya.

Di Telaga Warna😍

Bandung

Sudah tiga kali saya mengunjungi kota kembang ini, tetapi belum sekalipun mengunjungi daerah wisatanya. Padahal begitu banyak tempat yang asyik untuk dikunjungi. Yah memang saya ke Bandung bukan untuk liburan apalagi untuk wisata, tetapi kan bisa juga perjalanan dinas diselingi dengan liburan (harapan saya).

Pertama kali ke Bandung, sempat menginap di salah satu villa di Ciwidey tetapi esoknya langsung meneruskan perjalanan. Belum sempat menikmati pemandangannya dan  belum sempat foto-foto, rombongan langsung jalan. Wuis kecewa berat.

Hingga saya berniat,  suatu saat saya akan ke Bandung lagi tetapi hanya berdua Ayangbeb saja atau diantar sama anak.

Kedua kalinya ke Bandung adalah studi banding ke beberapa sekolah swasta. Namanya juga studi banding, yaah yang didatangi adalah sekolah-sekolah. Jadii… yang dikunjungi sekolah saudara-saudara! Hehehe…

Yang ketiga adalah saat mengunjungi si sulung. Sempat jalan ke kawasan Cihampelas Walk atau Ciwalk dan menikmati objek wisata Teras Cihampelas yang membentang sepanjang 450 meter di atas jalan Cihampelas.

Duduk sejenak sebelum jalan lagi. Weits capek juga ya. Tanda-tanda sudah tuir 😅

Selain itu, sempat pula salat di Masjid bersejarah kebanggaan warga bandung, yaitu Masjid raya Bandung. Sedikit mengobati kekecewaan karena tidak bisa ke tempat wisata lainnya.


Gorontalo

Sebenarnya mengunjungi kota ini memang bukan untuk berwisata melainkan untuk datang meminang  salah satu putri Gorontalo untuk putra sulung saya. Jadi wajarlah kalau saya tidak bisa mengunjungi tempat-tempat wisata di kota ini.

Di Bandara Jalaludin Gorontalo

Tetapi itu tidak menyurutkan semangat saya untuk suatu saat datang lagi dan mengukir kenangan di sana. Yang pasti saya sudah berhasil memboyong putri terbaiknya untuk putra sulung saya.
Nah, teman-teman ada jugakah yang memiliki pengalaman seperti saya? Cerita ya di kolom komentar.


Selasa, 02 Oktober 2018

Musibah Seharusnya Mengajarkan Banyak Hal



 Ketika musibah menghampirimu maka kamu akan tahu siapa saudara dan sahabatmu  sesungguhnya, karena tidak semuanya akan perduli kepadamu.


Saya tidak percaya kalimat tersebut. Namanya teman apalagi yang mengaku sahabat mana mungkin tidak perduli dengan derita atau kesusahan yang dialami teman apalagi sahabatnya.  
Tetapi itu dulu.  Sebelum   suatu musibah menimpa keluarga saya.  

Saat kita tertimpa musibah maka akan kelihatanlah orang-orang yang bersimpati, orang-orang yang ringan tangan membantu tanpa perlu diminta, saudara dan teman-teman yang datang menolong tanpa pamrih.

Sebaliknya akan kelihatan pula orang-orang yang tersenyum samar tetapi puas melihat penderitaan kita. Datang mengucap kata turut prihatin tetapi disertai senyum kemenangan, seakan ini adalah pertarungan yang dia menangkan. 
Bahkan ada yang datang sekedar menonton sambil berfoto-foto ria. Memotret duka sambil tertawa suka.

Sadis!

Saat musibah itu menimpa keluarga saya di Makassar,  saya  sedang mengikuti studi banding ke beberapa sekolah di Surabaya dan di Yogyakarta. Kejadian itu terjadi saat saya sudah berada di salah satu hotel di Yogyakarta.
Setelah mendengar kabar itu, saya melapor kepada ketua rombongan untuk kembali ke Makassar. Tujuan saya hanya satu adalah  pulang secepatnya.

Berita tentang musibah yang menimpah saya dengan cepat menyebar ke anggota rombongan. Apalagi waktu itu, ketua rombangan meminta sumbangan kepada semua anggota rombongan. Padahal saya tidak minta. 

Beragam sikap dan celotehan yang saya dapatkan. Ada yang datang memeluk sambil berbisik, “Sabar ya Bu. Insya Allah semua akan diganti oleh Allah dengan rezeki yang lebih baik.”

Ada yang datang menyalami sambil bertanya. “Bagaimana keadaan keluarga-ta Apakah mereka baik-baik saja?”

Ada pula yang berkata. “Alhamdulillah tidak ada korban jiwa, sabar Bu. Jaga kesehatan, jangan stress.”

Itu komentar yang positif dan cukup menghibur.

Beberapa di antara rombongan ada teman yang kenal dekat dengan mama dan keluarga saya. Beliau menanyakan kabar mama, anak-anak, dan adik-adik saya. Mengajak berbincang sambil menunggu bis yang akan mengantarkan saya ke Bandara. Di tengah perbincangan itu, Beliau bertanya tentang apakah ada barang berharga yang saya sembunyikan tetapi keluarga lainnya tidak tahu?

Saya langsung ingat.  Sedikit emas batangan yang saya sembunyikan di balik buku-buku dalam lemari. Spontan saya menelepon putra sulung saya, memberitakan keberadaan emas tersebut. Melalui telepon saya memberi petunjuk tentang letaknya hingga akhirnya emas yang tidak seberapa itu ditemukan.
Mungkin karena  menelepon dengan suara sedikit nyaring karena panik atau apalah, saya lupa gambaran perasaan saya waktu itu, sehingga beberapa orang yang duduk di sekitar kami  mendengarnya.
Maka mulailah suara-suara sumbang itu datang.

“Bagus ya Bu, ibu punya emas batangan.” Seorang ibu berkata dengan senyum yang terlalu manis untuk dikenang.

Tawwa ada emas batangannya.” Nyeletuk ibu lain dengan muka kecut sekecut cuka level 99%.

“Alhamdulillah kalau emasnya bisa ditemukan, jadi ada dong modal lagi untuk bangun rumah.” Ini menghibur apa menghinakah?

“Berarti tidak terlalu parah-ji rumah-ta, buktinya emas-ta bisa-ji diselamatkan.” Pertanda tidak puas dengan musibah saya karena masih ada yang tersisa. 
Beuh…

Bahkan ada sekumpulan ibu-ibu yang bercanda.

“Eh minggir dong yang punya emas batangan mau lewat.” Kata seorang ibu yang memakai jilbab paling lebar.
“Silahkan orang kaya!” Timpal lainnya sambil tertawa cekikikan.

SADIS!

Tahukah kalian? Sejak mendengar berita musibah itu tak setetespun air mata yang keluar,  tetapi mendengar suara-suara itu hati saya tersayat perih.

Saya pikir jika saya sudah berkumpul dengan keluarga maka celotehan yang “manis” tak terdengar lagi. Nyatanya makin gencar bahkan dengan mudahnya menghakimi dan menuduh seluruh korban musibah.
“Kamu tahu kenapa daerahmu kena musibah? Karena Allah marah!”
“Pantas daerahmu kena musibah, banyak uang haram sih yang beredar.”

Ya Allah!

Untunglah sekarang saya sudah melupakannya.  Tetapi tidak benar-benar hilang dari ingatan. Karena setiap ada kejadian serupa muka orang-orang itu seakan muncul lagi. Suara-suara sumbangpun kembali terngiang. Padahal harusnya dilupakan.
Tetapi itulah kenyataannya. Pikiran tidak bekerjasama dengan hati.




STOP SHARE!

Musibah yang saya alami tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan musibah gempa bumi yang dialami saudara-saudara kita saat ini. Kehilangan harta belum seberapa dibandingkan kehilangan nyawa.
Gempa dan tsunami yang melanda Sigi, Donggala, dan Palu tahun ini sungguh telah menyisakan luka yang tak terperi. Betapa banyak yang kehilangan keluarganya dan orang-orang yang dicintanya. Ada  jazad telah  ditemukan tetapi tidak sedikit  yang hilang tanpa kabar. 
Sungguh telah mengharubiru banyak hati. 

Apakah mereka aman dari celoteh dan nyinyiran?
Mungkin saja mereka tidak mendengar langsung celoteh dari orang-orang di sekitarnya, tidak melihat senyum-senyum sinis yang seakan menghakimi mereka.

Tetapi saat ini dunia maya jauh lebih kejam daripada dunia nyata dan jemari lebih tajam daripada mulut.

Jika lidah bisa disebut tak bertulang lalu jari-jari yang mengetikkan kata-kata yang menyakitkan disebut apa? Jika 2 kali 14 tulang ruas pada jari tangan tak  diberi nyawa, paling tidak pemilik jari-jari itu memiliki hati dan otak.

Hati dan otak seharusnya saling bekerjasama dalam mengelola pengendalian diri. Agar tidak gampang menuliskan kalimat-kalimat yang menyakitkan. Agar tidak mudah mengklik berita, video dan apapun lalu mengirimkan ke media sosialnya.

Cukuplah dibagikan ke kalangan terbatas untuk saling mengingatkan, untuk saling menjaga serta saling  menghibur hati yang gulana.

Berhentilah saling menyalahkan dan mencari sebab musababnya!  
Karena sejatinya semua yang terjadi diluar kuasa manusia. Apapun yang terjadi dalam kehidupan ini adalah skenario yang telah tertulis di Lauhul Mahfudz.
Berhentilah saling nyinyir antara yang membantu dengan yang tidak membantu! 
Karena bisa jadi yang kelihatan diam, tidak share di media sosialnya, atau yang tidak berkomentar apa-apa justru lebih banyak membantu dan berdoa untuk keselamatan saudara-saudara kita yang terkena musibah.  

Ketahuilah, bukan hanya musibah yang menyisakan kepedihan karena itu bisa saja hilang seiring dengan keikhlasan menerimanya,  melainkan kepedihan yang membekas karena hujatan dari orang-orang yang sok suci.

Mereka bisa bangkit lagi dengan sisa-sisa tenaga dan sedikit bantuan dari orang-orang tetapi pedihnya hati akibat dikecam dan dituding tanpa ampun akan terus membekas.

Semoga kita semakin cerdas bermedia.

Kamis, 27 September 2018

Hitung Obesitas Yuk!



“Bajuku dulu tak beginiii…”

Pernah merasakan hal itu Mak?
Tiba-tiba semua pakaian serasa kekecilan padahal pakaian itu tidak melar.
Jangan langsung salahkan pakaiannya yah. Bukan salah baju, celana, apalagi rok. Periksa dahulu, siapa tahu itu salah badan Anda sendiri.
Bukan pakaiannya yang melar melainkan badan yang melar, Hehehe..

Zaman saya masih unyu-unyu dan  punya anak satu sering ditegur sama keluarga, tetangga, dan teman-teman.
”Dawiah, kenapa kamu tidak gemuk-gemuk padahal sudah punya anak satu. Hidupmu susah yah atau kamu sakit-sakitan?”

Alamak!

Masa iyah  ukuran tubuh dapat mengindikasikan kita sehat atau bahagia. Bisa jadi kali yah. Jadi kalau berat badan bertambah itu tandanya sehat atau bahagia?

Padahal menurut dokter yang merawat saya waktu melahirkan anak kedua katanya, ukuran tubuh saya termasuk ukuran ideal. Tinggi 160 cm dan berat badan 59 kg.
Sedangkan menurut keluarga besar saya yang pada umumnya besar-besar, ukuran tubuh saya saat itu termasuk kurus dan tidak bahagia. Beuh …

Mungkin karena itulah badan saya bertambah terus menerus. Padahal bukan salah mereka juga sebenarnya, itu adalah kesalahan dan kebodohan saya sendiri.
Jadinya kena obesitas deh.

Sumber: Pixabay.com


Badan yang membesar akibat berat tubuh  yang naik terus menerus tidak selamanya memberi indikasi kalau tubuh sehat, karena kenaikan berat badan di atas batas normal atau kelebihan berat badan, yang disebut obesitas justru akan menimbulkan berbagai macam penyakit


Tahun  1998, salah satu badan PBB yang bertindak sebagai koordinator Kesehatan Umum Internasional, WHO mendefinisikan obesitas sebagai berikut.

            Seseorang dikatakan obesitas apabila Indeks Massa Tubuh (IMT) ≥ 25 kg/m2

Jadi, obesitas dapat pula didefinisikan sebagai  berat badan yang  berada di luar batas ideal akibat penumpukan lemak yang sangat tinggi di dalam tubuh.   
Untuk mengetahui apakah Anda obesitas atau tidak, maka anda dapat menghitungnya dengan menggunakan rumus Indeks Massa Tubuh (IMT), yaitu: berat badan (kg) dibagi dengan tinggi badan kali tinggi badan  atau:

IMT = berat badan/tinggi badan x tinggi badan

Contoh Cara Menghitung IMT

Contoh1: Berat badan anda 75kg dan tinggi badan 1,60m (160 cm). Berapakah Indeks Massa Tubuh atau IMT Anda?
IMT = 75kg/1,60m x 1,60m
IMT = 29,29kg/m2
Kesimpulan adalah obesitas.

Contoh 2: Berat badan anda 64kg dan tinggi badan 1,70m (170 cm). Berapakah Indeks Massa Tubuh atau IMT Anda?
IMT = 64kg / 1,70m x 1,70m
IMT = 22,14kg/m2
Kesimpulan: normal.

Gunakanlah rumus tersebut untuk mengecek, apakah Anda tergolong obesitas atau tidak.
Sudah dihitung?
Kalau Anda tidak tergolong obesitas, maka bersyukurlah. Bisa juga diayakan dengan nyanyi-nyanyi sambil masak.  
Bagaimana jika Anda obesitas?
Jangan bersedih, masih banyak temannya. Salah satunya saya. Hahaha …

Obesitas Dapat Dicegah


Sumber Foto: Pixabay.com

Dari beberapa sumber yang saya baca  dan bincang-bincang dengan dokter, obesitas dapat dicegah dengan cara berikut ini.

Berikan Asi untuk Bayi.
Nah cara ini  ditujukan untuk Anda yang masih menyusui. Terbukti ampuh Mak. Waktu saya masih dalam proses menyusui,  berat badan saya tergolong ideal.

Makanlah secara perlahan dan kunyah makanan hingga halus sebelum ditelan.  Konon makan terburu-buru akan menyebabkan makanan masuk ke organ pencernaan kita dalam keadaan tidak halus akibatnya organ pencernaan bekerja sangat lambat, dan  tidak bekerja maksimal diakibatkan oleh metabolisme tubuh yang berjalan sangat lambat.

Berhenti Makan Sebelum Kenyang.
Mungkin maksudnya jangan makan sampai kekenyangan atau terlalu kenyang. Bayangkan saja kalau makan sampai kekenyangan bawaannya adalah mengantuk dan lemas. Akibanya metabolisme tubuh juga berjalan sangat lambat. 

Makanlah saat lapar saja
Kalau makan karena berselera saja, bisa jadi apapun yang dilihat akan dimakan padahal tubuh belum membutuhkan. Biasanya makanan yang menggoda selera ini adalah camilan dan gorengan. 

Kurangi makanan yang berlemak
Walaupun lemak dibutuhkan juga oleh tubuh sebagai salah satu sumber energi tetapi jangan  berlebihan. Lemak dalam tubuh  membutuhkan waktu yang lama dalam proses pembakarannya.

Minum air yang cukup
Sudah sering kan kita dengar untuk minum air putih minimal 8 liter sehari. Nah, cobalah dipraktikkan. Biasanya setelah  minum air putih segelas, perut langsung terasa terisi yang berefek pada rasa kenyang. Selain itu, air akan menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh dan proses metabolisme juga akan berjalan dengan baik.

Demikian. Semoga bermanfaat. 

Jumat, 14 September 2018

Store JYSK Tempat yang Asyik Belanja Perabotan Gaya Scandinavian




Peristiwa yang pernah menguras “segala energi” saya, adalah ketika musibah kebakaran yang melalap habis rumah saya dan seluruh isinya. Melihat puing-puing perabotan rumah yang dahulu dibeli dari hasil tabungan sekian lama,  lumayan bikin hati ngilu.

Dua bulan setelah masa pengungsian kami kembali ke rumah. Berbekal dana seadanya saya dan suami mulai lagi dari nol. Bangun rumah kecil-kecilan, beli perabotan seadanya, dan secukupnya.

Tahukah Anda peralatan apa yang paling dibutuhkan saat memasuki hunian baru?
Yap, peralatan dapur.


Karena itulah saat saya mendengar kabar kalau di Makassar, tepatnya di Mal Nipah akan diadakan Grand Opening JYSK,  dan blogger Makassar juga diundang, maka tanpa pikir panjang saya langsung mendaftar.
Begitu besarnya niat saya sehingga saat saya dan si-bungsu ke Mal Nipah sebelum Mal dibuka untuk pengunjung. 
Untungnya kami diizinkan masuk.  Kok bisa? 
Bisalah … Saya pakai jurus rayuan maut untuk merayu Pak Satpam, hehehe ...
 


Soalnya waktu Grand Opening JYSK yang pertama di Mal Panakukang, bulan Mei lalu saya ketinggalan info, makanya untuk kali ini saya tidak mau ketinggalan.

Dengan rasa percaya diri yang tinggi kepedean kalau saya dan si-bungsu adalah tamu pertama dan dapat nomor antrian satu dan dua.  
Eh.. ternyata ada yang lebih “bernafsu.” 
Buktinya nomor antrian saya sudah nomor enam dan tujuh. Itu artinya sudah ada lima orang yang mendahului kami. Bheuh.


               
Mengapa Harus ke JYSK?


JYSK adalah sebuah perusahaan yang berasal dari Negara Denmark, Berdiri pada tahun 1979 dan terus berkembang hingga tahun ini, 2018 JYSK telah membuka toko lebih dari 2600 yang tersebar di 50 negara.

Di Indonesia, toko retail JYSK dimiliki oleh perusahaan Orang Tua Grup, suatu perusahaan consumer goods  yang memproduksi berbagai macam produk kebutuhan sehari-hari.  Nah jika Anda ingin memiliki perabotan mewah tetapi harga terjangkau, maka ke JYSK lah. 
Serius? Pasti seriuslah.
Bayangkan, dengan dana yang tidak terlalu besar kita sudah bisa memborong berbagai peralatan rumah tangga ala Eropa Timur.







Senang dong kalau rumah kita berisi barang-barang yang bergaya Eropa Timur, seperti Swedia, Denmark, Findlandia, Islandia, dan Norwegia tanpa harus ke negara-negara itu.
Cukup ke JYSK maka hasrat memiliki perabotan dan peralatan yang berkualitas akan terpenuhi

Kenapa Harus ke JYSK?
Karena JYSK (dibaca JIS) adalah toko retail furnitur yang menjual barang-barang rumah tangga bergaya Scandinavia. Desain yang ditawarkan bersih dan minimalis dengan design  yang mengutamakan fungsi, kualitas dan harga yang terjangkau.

Grand Opening JYSK yang Heboh

Sebelum acara grand opening toko JYSK dibuka secara resmi, pembawa acara menjelaskan kalau Makassar adalah kota pertama di luar Pulau Jawa yang membuka  toko JYSK. Mal Nipah adalah toko yang kedua. Toko JYSK pertama berlokasi  di Mal Panakukang.

Oh yah sekedar informasi, toko JYSK di Mal Nipah ini adalah toko terbesar kedua setelah toko JYSK di Mal Taman Anggrek Jakarta. Dengan luas 1271 meter bujursangkar tentu saja dapat menampung lebih banyak produk alat rumah tangga berkualitas dengan gaya Skandinavian Living.

Sebagai blogger yang baik hati dan tidak sombong, saya dan teman blogger lainnya sudah dibekali dengan voucher belanja senilai Rp. 200.000.
Voucher lainnya saya dapatkan karena termasuk kategori pengunjung  pertama (18 pengunjung pertama berhak mendapatkan voucher belanja senilai Rp, 100.000).

Selain keseruan berburu belanja diskonan, saya juga ikutan seru-seruan memecahkan balon. Tak satu balonpun yang berhasil saya pecahkan, untungnya si bungsu lincah pecahkan balon dan  saya sibuk pelototkan mata mencari secarik kertas yang bertuliskan aneka hadiah.

Serabun-rabunnya mata saya, tetapi kalau urusan mencari hadiah mata saya bisa langsung cling. Bhahaha ….
Alhmadulillah dapat lagi deh tambahan voucher belanja. Total voucher yang saya dapatkan adalah senilai Rp. 500.000


JYSK Memberi Pelayanan yang Memuaskan

Satu lagi yang membuat saya sangat puas belanja di JYSK ini adalah pelayanan yang prima. Dilayani dengan sopan dan sigap serta sabar membuat saya betah belanja. Begitu bersemangatnya saya berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya, hingga kerongkongan rasanya sepat.
Oh rupanya saya kehausan.

Abdul Kadir yang sabar dan sigap melayani saya


Dengan sigap Abdul Kadir, pelayan JYSK yang sabar itu menyodorkan air minum. Sambil berkata, “kalau mauki lagi minum atau mauki ngemil-ngemil sambil belanja ada disediakan di sana Bu.” Beliau menunjuk ke sebuah meja di samping kasir.
Wow, ini namanya pucuk dicinta ulampun tiba. Saya haus dan lapar, JYSK menyiapkan berbagai jenis minuman dan cemilan produksi OT Grup. 
Klop de.

Di meja kecil itu terdapat berbagai jenis minuman dan cemilan yang mengundang selera. Ada Wafer Tango, Tango Waffle, Teh Gelas, air mineral, dan aneka permen. Ah lupakan sejenak niat diet, nikmati dulu cemilan-cemilannya.

Dahaga sudah hilang, perut sudah terisi cemilan maka lanjut belanjaaaa
Waktunya  “eksekusi” voucher-voucher.

Teman-teman penasaran dengan JYSK?
Ayo tebus rasa penasaran itu, datanglah ke JYSK!