Dibalik Penerimaan Siswa Baru

Sabtu, 29 Juni 2019

Masyarakat Indonesia  pastilah sudah akrab dengan dua kegiatan tahunan sekolah, yaitu ujian nasional dan PSB atau penerimaan siswa baru.

Dua kegiatan ini merupakan peristiwa  yang ditunggu-tunggu oleh orang tua maupun  guru, bagaikan merayakan hari raya. Semua sibuk, orang tua sibuk, siswa sibuk, guru-gurupun tak kalah sibuknya.

Kalau tak salah saya sudah menjalani kedua proses itu lebih dari 30 kali. Dihitung sejak saya diangkat menjadi guru pada tahun 1986, jika ditambahkan saat masih menjadi guru honorer tahun 1984 maka bisa dibilang menjalani proses ujian nasional  dan penerimaan siswa baru sudah lebih dari 30 kali.

Perbedaan PSB dari Tahun ke Tahun


Saat masih bertugas di daerah, proses penerimaan siswa baru berlangsung santai. Kami menunggu kedatangan orang tua atau siswa baru sambil bercanda bahkan sambil main volly.

Jika ada yang datang mendaftar, cukuplah kami berseru.

“Simpan maki map ta di atas meja!” Maka orangtua atau calon siswa baru menyimpan map atau berkasnya lalu pulang bahkan ada yang datang bergabung main volly, hahaha….

Itu berlangsung di awal  penerimaan siswa baru  tahun 1986 di desa yang sejuk, nyaman, dan damai.

Tahun ajaran baru selanjutnya, kepala sekolah sudah membentuk panitia penerimaan siswa baru, saat itu prosesnya berlangsung sedikit resmi. Meskipun sekolah masih sepi. Tapi apresiasi  masyarakat terhadap pendidikan terbilang cukup bagus, namun jangan membayangkan orang tua datang berbondong-bondong mendaftarkan anaknya.

Tahun 1993, saya pindah ke sekolah negeri di kota Makassar. Saya tertegun melihat animo masyarakat kota yang sangat besar terhadap pemilihan sekolah buat anaknya.

Sekolah tempat saya bertugas saat itu   adalah salah satu sekolah favorit di lingkungan sekitar. Mungkin karena itu adalah sekolah  negeri satu-satunya yang berada di tengah dari tiga bahkan empat kecamatan. 

Mungkin itu pula  salah satu sebabnya  orang tua berusaha mati-matian agar anaknya bisa bersekolah di situ.

Karena proses penerimaan siswa baru saat itu harus melalui tahap tes, maka tidak heran jika banyak orang tua mendekati guru. Kadang minta dibantu saat tes atau apalah itu. You know lah ๐Ÿ˜

Saat musim penerimaan siswa baru, tiba-tiba guru punya keluarga baru, teman baru, atau teman lama yang sudah sekian tahun tidak bersua akan datang bertamu.

Keluarganya keluarga, temannya teman, dan sebagainya.

Kadang-kadang guru harus “bersembunyi” untuk menghindari permintaan mereka.

Drama tidak berhenti sampai di situ, karena berlanjut paska pengumuman penerimaan siswa baru. Ada lagi rangkaiannya, pendaftaran ulang yang diiringi dengan lulus belakangan atau dikenal dengan istilah  lolos lewat “jendela”

Setelah usaha pertama gagal maka tidak serta merta orang tua menerima, umumnya masih berusaha memasukkan anaknya melalui jalur lain. Bahkan ada yang rela “mendanai” proses itu. 
Setelah semua usaha gagal, barulah melirik ke sekolah swasta.

Mengemis Siswa


Bagaimana dengan sekolah swasta?

Tentu saja berbanding terbalik dengan sekolah negeri. Jika sekolah negeri kewalahan menolak siswa baru maka sekolah swasta kewalahan mencari siswa baru.

Tidak semua sekolah swasta seperti kasus di atas sebenarnya, karena ada beberapa sekolah swasta justru mengalahkan kepopuleran sekolah negeri, namun tidak banyak.

Karena umumnya sekolah swasta mengemis siswa terutama sekolah swasta kelas menengah ke bawah. Maafkan, istilah ini saya berikan kepada sekolah-sekolah swasta yang bangunannya kurang mewah, fasilitasnya kurang baik dan kurang banyak,  akreditasinya B bahkan C, dan sebagainya.

Termasuk sekolah yang saya tempati bertugas pada 10 tahun terakhir. Diberi amanah memimpin sekolah swasta menjadikan saya meninggalkan zona nyaman yang sehubungan dengan PSB mutasi ke zona “nano-nano.”

Setelah bergabung di sekolah swasta, saya baru tahu kalau ukuran keberhasilan sekolah swasta pada umumnya yang diterapkan oleh yayasan adalah jumlah siswa yang banyak.

Yap, kuantitas bukan kualitas.

Asal jumlah siswanya banyak, sekolah swasta sudah bisa dikategorikan bagus. Urusan kualitas belakangan.

Tak heran, ada sekolah swasta memiliki jumlah siswa yang banyak di daftar hadir siswa, tetapi sepi di kelas. Kapan ramainya? Saat ujian semester atau saat ujian kelulusan.

Awalnya saya kritisi keadaan itu, jiwa idealisme saya memberontak. Kenapa mau menerima siswa tipe seperti itu, hanya mau terdaftar sebagai siswa tetapi tak mau mengikuti proses pembelajarannya.

Namun seiring dengan waktu, saya mulai sedikit memahami walaupun hingga detik ini saya tak pernah setuju.

Proses Menghadirkan Siswa di Sekolah Swasta


Apa yang saya dan tim lakukan saat menjelang penerimaan siswa baru,  agar dapat memenuhi harapan yayasan, menjadikan sekolah itu baik  dari segi kuantitasnya?

Banyak hal sebenarnya, tetapi saya hanya mau cerita kisah-kisah manisnya saja dan sedikit cerita lucu, biar pembaca tidak bosan, hehehe …

Enam bulan sebelum penerimaan siswa baru, kami sudah “bergerilya” ke rumah-rumah penduduk di sekitar sekolah. Membagikan  selebaran, memasang spanduk di tempat-tempat strategis dilihat masyarakat dan tak jauh dari lokasi sekolah kami.

Mendatangi sekolah-sekolah SD, meminta izin ke kepala sekolah dan gurunya untuk memperkenalkan sekolah kami sembari membagikan selebaran untuk diteruskan ke orang tuanya. Yaah mirip-mirip salesman obat gitulah ๐Ÿ˜‚

Pada saat pengumuman kelulusan sekolah negeri, kami tidak tinggal diam. Tim penerimaan siswa baru akan berdiri di depan sekolah negeri, mengamati siapa saja yang tidak lulus.

Setiap calon siswa baru yang tidak lulus di sekolah negeri tersebut kami “rayu” agar mau mendaftar ke sekolah alternatif alias sekolah swasta.

Sementara itu panitia penerimaan siswa baru yang bertugas di sekolah menanti di sekolah sambil terkantuk-kantuk.๐Ÿ™

Proses penerimaan siswa baru ini berlangsung lama, bisa hingga menjelang ulangan semester ganjil. Hal paling buruknya adalah mencari anak-anak yang tidak mau melanjutkan sekolah, tetapi punya ijazah SD untuk dimasukkan namanya. 
Tak perlu ke sekolah yang penting mau didaftar.  Prinsipnya, daftar saja dahulu, belajar kemudian.

Semua guru was-was, terutama yang sudah bersertifikasi. Jika siswa kurang maka berdampak pada berkurangnya jam mengajar, lalu pemenuhan jumlah jam wajib bagi guru bersertifikasi gagal.

Daaan dana sertifikasi kembali ke haribaan pemerintah๐Ÿ˜›

Situasi inilah yang membuat saya mulai memahami, mengapa ada sekolah swasta yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan siswa baru.

10 tahun berada di situasi itu telah membuka mata saya, bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak paham pendidikan. Kalaupun ada yang tahu dan mau sekolah tetapi tidak mampu bahkan tidak mau berjuang.

Bahkan ada orang tua yang tega menyuruh anaknya bekerja  dari pada disekolahkan,  lagi-lagi dengan alasan tak mampu membiayai.

Alih-alih disuruh bekerja untuk membiayai sekolahnya, ini malah disuruh bekerja untuk membiayai diri dan keluarganya. 

Miris.

Sistem Zona, Apakah Kabar Manis Bagi Calon Peserta Didik Baru?


Berdasarkan Permendikbud Nomor 17 Tahun 2017 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) pada Taman Kanak-kanak, SD, SMP, SMA, dan SMK atau Bentuk Lain yang Sederajat di bagian keempat pasal 15 tentang sistem zonasi dijelaskan,  bahwa:

1. Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah wajib menerima calon peserta didik yang berdomisili pada radius zona terdekat dari sekolah paling sedikit sebesar 90% (sembilan puluh persen) dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima.

2. Domisili calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan alamat pada kartu keluarga yang diterbitkan paling lambat 6 (enam) bulan sebelum pelaksanaan PPDB.

3.   Radius zona terdekat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh pemerintah daerah sesuai dengan kondisi di daerah tersebut berdasarkan jumlah ketersediaan daya tampung berdasarkan ketentuan rombongan belajar masing-masing sekolah dengan ketersediaan anak usia sekolah di daerah tersebut.

4.   Bagi sekolah yang berada di daerah perbatasan provinsi/kabupaten/kota, ketentuan persentase dan radius zona terdekat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diterapkan melalui kesepakatan secara tertulis antarpemerintah daerah yang saling berbatasan.

5.  Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah dapat menerima calon peserta didik melalui:
                a. Jalur prestasi yang berdomisili diluar radius zona terdekat dari sekolah          paling banyak 5% (lima persen) dari total jumlah keseluruhan peserta didik        yang diterima;

          b. Jalur bagi calon peserta didik yang berdomisili diluar zona terdekat dari             sekolah dengan alasan khusus meliputi perpindahan  domisili orang tua           /wali peserta didik atau terjadi bencana alam/sosial, paling banyak 5%               (lima persen) dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima.                                                              (Salinan Permendikbud 17 Tahun 2017).


Kabarnya sistem zonasi hingga saat ini masih pro kontra, namun berdasarkan pengalaman saya selama beberapa hari ini menjadi panitia PPDB menemukan fakta lain.

Bahwa ada yang kontra, bahkan protes karena posisi rumahnya yang tidak masuk dalam jangkauan zonasi sekolah yang dituju memang benar, namun jumlahnya sangat sedikit.

Dari ratusan calon peserta didik yang mendaftar, tidak sampai 10 orang yang mengeluh. Itu artinya tidak sampai 1% yang mengeluhkan sistem ini. Bahkan sebagian besar orang tua calon siswa baru menyambut gembira sistem ini.

Sumber pribadi


Qadarullah, tahun ini saya kembali ke sekolah lama dan dipercaya menjadi operator PPDB.

Bagai dejavu.

Drama-drama PSB atau sekarang dinamai PPDB seakan terulang kembali, serupa tapi tak sama.

Saya tak disibukkan lagi dengan mencari calon siswa baru, pun tak juga sama dengan peristiwa tahun-tahun awal, “bersembunyi” dari serbuan tetangga, keluarga, dan teman.

Cukuplah berbincang dengan orangtua calon siswa baru, menginput datanya sesuai KK lalu beres. Dari sini pula saya dapat menarik kesimpulan sementara, bahwa sistem zonasi merupakan kabar manis bagi tetangga-tetangga saya, teman, dan keluarga.

Kenapa?

Simaklah perbincangan mereka berikut ini.

“Sejak ada zonasi Bu, anak-anakku bisa tongmi sekolah di sekolah negeri. Dulu kodong, diliat-liat ji orang masuk sekolah negeri padahal itu sekolah ada di depan matata.”

“Apalagi ini ada zona prasejahtra, kita yang kurang mampu bisami juga sekolah di sekolah negeri.”

Enakmi itu kita ka dekatki sekolah dari rumahta, bemanami yang jauh rumahnya kodong?”

“Kan masih adaji jalur prestasi. Ada prestasi akademik ada juga non akademik. Kalau bagusji nilainya anakta biar jauh rumahta bisaji juga masuk.”

“Kalau anakta punya prestasi non akademik , seperti pernah ikut lomba dan juara bisaji juga masuk.”

“Lomba apa itu di?”

“Macam-macam, seperti lomba mengaji, bidang olahraga, seni seperti menyanyi, baca puisi, menari, dsb.”

Jujur, saya terharu mendengar perbincangan mereka.  Walaupun saya juga sering sedih melihat raut kekecawaan di wajah para orang tua yang kebetulan tempat tinggalnya tak terjangkau oleh sistem zonasi.

Begitulah suatu peraturan,  tidak selamanya  bisa menguntungkan dan menyenangkan semua orang, tapi setidaknya  lebih banyak yang terbantu daripada yang tidak terbantu.

Ini kisah saya, bagaimana kisah kalian?

Komen di kolom komentar yuk!


READ MORE

Ramadan, Lebaran, dan Kenangan

Minggu, 02 Juni 2019


Ramadan memang selalu menyisakan kenangan, walaupun kebiasaan-kebiasaan masyarakat Indonesia selalu sama setiap tahunnya. Namun ada saja cerita menarik  yang menjadi pemanisnya.

Demikian pula yang terjadi dalam keluarga kami.

Jika tahun lalu, putra sulung saya masih mudik dan bisa berpuasa di lima hari terakhir sekaligus berlebaran bersama kami, maka tahun ini ia memilih mudik ke rumah mertuanya, itu berarti ia akan menjalani akhir-akhir Ramadan serta berlebaran di daerah kelahiran istrinya.

Semoga tahun depan, giliran kami yang dipilih mereka. Aamiin.

Eh, tiba-tiba saya membayangkan, jika suatu saat anak-anak sudah menikah atau bekerja di daerah lain, maka pastilah kesunyian akan menyergap rumah kami.

Mungkin saat itu kami sudah uzur, lemah dan sepi. Kami hanya akan sahur berdua. Tidak ada lagi drama membangunkan anak-anak untuk sahur bersama dan tidak ada juga riuhnya celoteh saat berbuka puasa.  

Aarraagh …

Daripada saya membayangkan hal-hal yang mengilukan hati, lebih baik saya cerita saja tentang drama yang pernah terjadi di   keluarga kami dalam bulan Ramadan.

Yaah sekedar mengenang saja.

Drama Saat Sahur


Saat membangunkan anak-anak untuk sahur adalah drama yang dialami oleh hampir semua keluarga yang punya anak kecil, eh anak yang sudah remaja juga kadang tak kalah dramanya.

Dari kelima anak saya, yang paling sulit dibangunkan itu adalah Uci, putra ketiga dan putri bungsu saya, Nabila.

Suatu waktu, entah sahur yang keberapa. Tiga putra saya sudah bangun dan duduk manis di depan meja makan. Tapi oleh bapaknya, belum boleh makan kalau belum kumpul. Sementara Uci belum bangun juga padahal sudah tiga kali saya dan bapaknya bergantian membangunkan.

Waktu itu, Nabila belum lahir dan Uci masih kelas 3 SD

“Kalau mauki kasi bangunki Uci bawa memang maki air Ma.” Kata Fandi.
“Saya pa kasi bangunki Ma.” Ami, putra keempat tampil jadi pahlawan.

Maka Ami masuk ke kamar sambil membawa timba berisi air.

Tiba-tiba terdengar suara,  gedebuk!
Maaa….!

Ami berlari keluar sambil menangis, badannya basah.
Natendangka  kakak Uci Ma, tumpahmi air kena bajuku.” Isak Ami.

Fandi dan Ical serentak terbahak. Saya menahan senyum geli sambil berpandangan sama bapaknya.

Rewa duduku, rasako, hahaha….” Ledek Fandi.
“Saya saja malla-malla kasi bangunki, pasti assempaki too…” Ical ikutan meledek.
“Kauji bilang, bawa memangki air ka mau ditimbai mukanya kakak Uci.” Ami protes.
“Itu untuk mama atau bapak, ka tidak berani Uci assempa kalau mama kasi bangunki.” Fandi menjelaskan sambil terbahak.

Sejurus kemudian, Uci keluar dari kamar dengan muka datar.

“Kenapa nutendangki Ami tawwa Uci?” Tanya Fandi.
“Mauka nasirami, barani-barani. Mama-ji yang boleh siramka yang lain jangko coba-coba, passempa itu nudapa.” Uci menjawab sambil mengancam.

Rewana,  tantara kapang.” Ical nyeletuk kesal.
“Bukan tentara tapi pilot, mauka saya jadi pilot.” Uci tak kalah ketusnya.
“Aamiin.” Kami serentak mengamini.

Maka dramapun berakhir dan mereka kembali akur.

Sejak saat itu, tak ada lagi yang berani membangunkan Uci kecuali saya atau bapaknya.

Baju Harus Seragam


Memiliki empat orang putra yang usianya tidak terpaut jauh, cukup menguras pikiran saat menjelang lebaran. Pakaiannya harus serupa, baik model maupun warnanya karena jika tidak, maka akan terjadi drama berkepanjangan.  

Pernah suatu waktu, saya tidak menemukan empat baju dengan warna yang sama. Yang ada hanya tiga baju, terpaksa warna baju Fandi berbeda dengan ketiga adiknya.

Awalnya tidak ada masalah. Mereka terima saja, apalagi Fandi sangat puas dengan warna pilihan saya. 

Tiba pada hari H, kami sudah bersiap-siap ke lapangan.

Ical, Uci, dan Ami sudah berpakaian lengkap. Tinggal Fandi yang masih sibuk keluar masuk kamar.

“Ndi, ayo pakai bajumu, nanti kita telat Nak!” Seru saya sambil menyiapkan sarapan.
“Nda kudapatki bajuku Ma” Keluh Fandi.
“Ada di balik pintu kamar, mama semalam gantung di situ.”
“Tidak ada Ma, hilangki.” teriak Fandi
“Ah masa hilang.  Adiji itu.” Saya beranjak ke kamarnya.

Sangat yakin baju itu saya gantung di balik pintu kamar, lah semalam kan saya yang siapkan  semua.

Tadaaa…. baju itu tidak ada.

Maka jadilah kami semua bantu mencarinya. Lemari diubek-ubek dan semua sudut rumah tak luput diperiksa, tapi hasilnya nihil.

“Mungkin ada yang lebih suka baju ta Nak, pakai maki saja baju lama, yang penting kan bersih dan rapi.” Bujuk bapaknya setelah pencarian yang melelahkan tanpa hasil.

“Baju keduaku mo de kupake, nda mauka pake baju lama.”
“Ih baju kaus, nantipi dipake kalau pulangki lebaran.” Protes adiknya, Ical.
Biarmi, daripada pake baju lama.” Fandi berkeras.
Iye, pake baju kaus saja.” Saya putuskan cepat, daripada telat salat id.  

Mungkin saat itu salatku kurang khusyuk, kepikiran sama baju yang raib entah kemana. Padahal jelas-jelas saya setrika dan simpan di tempat yang aman. Kalau ada pencuri yang masuk ke rumah, kenapa hanya satu baju yang diambil, kenapa tidak ambil saja semua, kan baju-baju itu tergantung di tempat yang sama.

Pulang salat id, pencarian dimulai kembali. 
Iseng-iseng bapaknya buka mesin cuci. Saya menegur beliau.

“Tidak mungkin ada di dalam mesin cuci, itu kan pakaian kotor semua.”

Bapaknya hanya tersenyum dan tetap membuka penutup mesin cuci.

Alamak,  baju itu ada di sana lengkap dengan hangernya.

“Siapa yang simpan bajunya kakak Fandi di situ?” Saya betul-betul gusar.

Tak ada satupun yang menjawab. Tetapi sekilas saya melihat senyum kepuasan dari bibir Uci.

“Kenapa Nak, kamu sembunyikan baju kakak Fandi?” Saya langsung menodong Uci.
“Kenapa memang warna bajunya beda, ndak sama dengan yang lain.” Katanya ketus.

Melongo satu detik mendengar jawabannya.

Sejak saat itu, saya tak mau lagi membedakan warna dan model baju mereka hingga saatnya mereka bisa memilih sendiri.

Demikian cerita saya.

Selamat menyambut hari lebaran, semoga kita  terlahir fitri kembali. Aamiin.

Sumber Pribadi, Foto Lebaran Tahun 2013


READ MORE

PEREMPUAN BAIK INDONESIA LEBIH BAIK

Minggu, 19 Mei 2019

Tulisan ini pernah saya ikutkan lomba pada ulang tahun IIDN, alhamdulillah menang, sekalipun bukan juara 1, atau 2, bahkan 3.

Dan saya bangga telah menuliskan ini, karena telah berhasil menyuarakan hati para perempuan. Terlebih lagi berhasil menang dan berhak mendapatkan kiriman hadiah. 
Selembar kain batik adalah bukti kemenangan itu.



Sumber gambar: Pixabay

Perempuan Baik,  Indonesia Lebih Baik


Selama kurang lebih 30 tahun menjadi guru,  telah memberi saya kesempatan bertemu, berbicara bahkan mendengarkan curahan hati ibu-ibu, orang tua siswa saya. 
Dari mereka saya banyak belajar tentang hidup, banyak mendengar informasi tentang kerasnya kehidupan yang mereka jalani dan dari mereka pula saya melihat banyak penderitaan, kekhawatiran sekaligus rasa tidak percaya diri bahkan cenderung pesimis tentang masa depannya.

Karenanya saya mencoba menuliskan curahan hati mereka agar dapat dijadikan salah satu alasan, bahwa  Indonesia bisa lebih baik apabila perempuannya baik, karena saya sangat yakin, bahwa di tangan perempuanlah Indonesia bisa lebih baik.

Perempuan yang akan melukis negara ini dengan garis-garis ketegasannya, sehingga anak-anaknya juga tegas melawan segala godaan yang akan menjerumuskan mereka ke dalam kenistaan.

Perempuan yang akan melukis dan menggoreskan sapuan halus dengan  kuas cinta agar anaknya menjadi lebih perasa, lebih halus budi pekertinya. Dia pula yang akan menumpahkan cat segala warna pada kanvas kehidupan anaknya sehingga hidup anak-anaknya lebih berwarna dan dinamis.

Namun demikian untuk menciptakan perempuan-perempuan hebat, yang tegas tetapi lembut, yang perasa namun dinamis, diperlukan alasan dan berbagai sarana agar mereka dapat menunaikan tugas mulianya.


Bahagiakan Perempuan


Percaya atau tidak, di Indonesia masih banyak ditemukan kasus perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT,  Perlakuan KDRT  itu, bukan hanya karena dipukul, disiksa fisiknya melainkan siksaan lain berupa siksaan pada jiwanya dan perasaanya.

Masih banyak ditemukan, laki-laki sebagai kepala rumah tangga justru melimpahkan tanggung jawabnya kepada istrinya. Sifat keegoisan laki-laki yang menyerahkan seluruh tanggung jawabnya untuk membina dan mendidik anaknya tanpa mau berkontribusi dalam mengayomi anak  mereka.

Bahkan beberapa di antaranya ditinggalkan oleh suami disebabkan oleh berbagai hal, ditinggalkan dalam kesusahan ditambah dengan tanggung jawab memelihara dan membesarkan anak.

Bagaimana mungkin Indonesia bisa lebih baik jika perempuan terutama ibu tidak bahagia.

Bukankah perempuan adalah multitalenta, ia bisa berperan sebagai ibu, dokter, guru, asisten rumah tangga yang mengerjakan segala jenis pekerjaan rumah, mulai jadi tukang masak, tukang cuci, bahkan jadi tukang bersih-bersih.
Bahagaikanlah Perempuan!

Jika perempuan bahagia, maka siapapun akan takjub  dengan kekuatan yang dimilikinya.

Pelayanan Kesehatan Prima


Indonesia akan lebih baik apabila kesehatan setiap rakyatnya terpelihara, terutama perempuan.
Tahukah pemirsa, masih banyak rakyat Indonesia  yang mendapatkan pelayanan kesehatan  buruk.

Mereka diperlakukan tidak nyaman karena kurang mampu membayar. Dimulai ketika akan melahirkan di rumah sakit bersalin. Mereka akan mendapatkan  pelayanan berbeda antara pasien umum dengan pasien yang  mengandalkan kartu BPJS.

Tidak berhenti sampai di situ, pemilik kartu BPJS atau Badan Penyelenggara Jaminan Sosial juga rupanya berstarata dan berkelas-kelas. Semakin sedikit  iuran yang dibayar oleh pengguna maka akan semakin rendah pula kelasnya.
Semakin rendah kelasnya  maka pelayanan kesehatan yang diterima juga akan semakin minim.

Bayangkanlah, seorang ibu yang melahirkan dengan kondisi seperti di atas, akan mendapatkan pelayanan kesehatan minim, maka alih-alih mendapatkan perawatan prima agar ibu dan anaknya sehat malah mendapatkan perlakuan sebaliknya.

Singkatnya, pelayanan kesehatan di negara yang kita cintai ini belum merata untuk semua rakyatnya. Bahkan beberapa kasus, adanya seseorang yang tidak selamat jiwanya karena ditolak oleh rumah sakit, tentu saja dengan berbagai alasan.

Maka jaminlah kesehatan seluruh rakyat Indonesia, apabila mereka sehat maka mereka akan berkarya. Terutama kaum perempuan. Kalau perempuan, ibu sehat, maka akan melahirkan generasi yang sehat pula.

Sumber gambar: Pixabay

Pemahaman yang Salah pada Program Pendidikan Gratis


Beberapa daerah di Indonesia menggunakan pendidikan gratis sebagai bahan “jualan” pada saat pemilihan kepala daerah atau PILKADA, sejauh ini memang ampuh.

Namun pernahkah mereka memikirkan dampaknya?

Tidak dipungkiri, pendidikan gratis memang cukup membantu, tetapi beberapa masyarakat sering kebablasan memandang  pendidikan gratis itu, sehingga menganggap semua kebutuhan pendidikan anaknya adalah gratis.

Bagi orang tua yang mengerti tentang pentingnya pendidikan, biasanya secara sukarela menyiapkan segala keperluan pendidikan anaknya, tetapi bagaimana dengan sebahagian orang tua lainnya, yang memandang pendidikan hanya sekedar mendapatkan selembar ijazah semata, mereka dengan entengnya menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah.

Mereka seakan tidak mau tahu, bahwa belajar baik di sekolah atau di mana saja tentu memerlukan dana, baik untuk kesediaan buku-buku pelajarannya maupun peralatan belajarnya.

Bukan program pendidikan gratis yang salah, melainkan cara mensosialisasikannya yang tidak benar. Sebaiknya pemerintah menjelaskan, bahwa pendidikan gratis hanya untuk membiayai beberapa komponen saja dari seluruh pembiayaan sekolah, tetapi kesediaan buku pelajaran bagi anaknya, adalah tetap menjadi tanggung jawab orang tua.  

Perempuan Harus Cerdas


Perempuan harus cerdas, ini adalah harga mati bagi bangsa Indonesia jika ingin lebih baik. Bukankah sudah sering kita dengar istilah, bahwa perempuan adalah tiang negara.

Diibaratkan jika sebuah bangunan yang memiliki tiang rapuh, maka sudah dipastikan bangunan itu tidak akan bertahan lama. 
Demikian pula suatu negara. 
Jika ibu tidak cerdas maka pendampingan terhadap putra-putrinya juga tidak cerdas, akibatnya hanya akan menghasilkan keturunan yang tidak cerdas, dan akan menghasilkan generasi yang lemah. 

Maka bimbinglah kaum perempuan, biarkan dia menghabiskan waktu luangnya untuk belajar, agar dapat menjadi ibu cerdas dengan harapan generasi yang lahir dari rahim ibu cerdas akan menghasilkan keturunan yang cerdas.

Bukan hanya itu, seorang ibu yang cerdas akan menangani setiap problem kehidupannya dengan bijak dan cerdas.

Marilah wahai perempuan-perempuan Indonesia! 
Benahi dirimu dengan ilmu, kuatkan jiwamu dengan iman, haluskan budimu dengan akhlak. 

Sadarilah, di tanganmu akan lahir generasi penerus yang akan menjadikan Indonesia lebih baik.


READ MORE

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Nama

Email *

Pesan *