Pasang Surutnya Harapan Mama

Selasa, 17 September 2019


Saya takut bermimpi naik haji, mencukupi makan kalian 2 kali sehari saja saya sudah bersyukur, ditambah kalian sekolah minimal tamat SMA. Alhamdulillah.”


Itu kata-kata  mama puluhan tahun silam.
Ia sadar diri, bahwa berhaji itu memerlukan biaya yang tidak sedikit.  

“Untungnya ibadah haji hanya diperuntukkan bagi yang mampu, bagaimana-mi kalau diwajibkan seperti ibadah salat dan  puasa, aiss …  manrasana, hehehe…”

Sebagai single parent dan membiayai 5 orang  anak, bukanlah perkara gampang bagi mama.  Hanya bermodalkan rumah petak yang disewakan kepada anak sekolahan, mama berjuang menghidupi anak-anaknya. Beliau harus menahan segala keinginan dan impian-impiannya.
Sampai-sampai beliau takut bermimpi menunaikan ibadah haji.

Waktu itu, saya berbisik dalam hati, “Insya Allah, saya akan membayar  ongkos naik haji mama.” Tetapi saya hanya berani berbisik dalam hati. Takut memberinya harapan yang tak pasti.

Berani Merajut Mimpi


Impian ibarat pengharapan, jika tak punya impian,   bagaikan bunga yang layu sebelum berkembang. Namun demikian, kadang kita dihadapkan pada suatu keadaan dimana kata impian serupa dengan khayalan semata.

Mungkin begitulah pikiran  mama. Ia sadar bahwa keadaan ekonominya sama sekali tidak mendukung untuk membayar ongkos naik haji. Ia merasa tergolong orang tidak mampu.

Saya yakin, saat berbisik dalam hati berniat membayarkan ongkos haji mama, malaikat mengaminkan doa saya dan Allah mendengarnya. Karena 17 tahun kemudian, tabungan kami cukup untuk menyetor ongkos naik haji. Setidaknya kami berhasil mendapatkan nomor porsi.

Binar-binar kebahagiaan mama tak dapat disembunyikan. Ia terkekeh bahagia.
Walaupun pada saat kami mendaftar ada salah seorang pegawai Departemen Agama yang bicara, kalau kami harus menunggu 8 tahun baru bisa berangkat.

Semburat kekecewaan tiba-tiba menyelimuti wajah mama.  Saya bisikkan ke telinga mama.  
“Jangankan 8 tahun, 10 tahunpun  tidak mengapa.  Yang penting  Allah Swt sudah mencatat nama kita sebagai calon jamaah haji.”

Mama hanya mengangguk, entah beliau paham atau tidak.
Maka sejak saat itu, mama mulai merajut impiannya. Naik haji.

Cobaan Datang dalam Penantian Panjang


8 tahun berjalan tanpa terasa dan  mama semakin tak sabar dalam penantian panjangnya, apalagi kesehatannya mulai menurun.
Tahun 2018, beliau mulai gelisah.
"Katanya kita menunggu 8 tahun dan sekarang sudah 8 tahun sejak pendaftaran, kenapa nomor porsi kita belum keluar?"

Ternyata perkiraan pegawai Departemen Agama saat itu justru lebih pendek waktunya dibandingkan kenyataannya. Kami harus menunggu hingga 9 tahun lamanya.

Sebelumnya, pada tahun 2017 penyakit tb menyerang mama. Beliau harus menjalani pengobatan selama enam bulan. Harapannya ke baitullah menipis. Ia sangat putus asa.

Kami anak-anaknya hanya bisa menghibur, bahwa seseorang yang akan diundang Allah akan selalu diuji. Mungkin diuji kesabarannya atau bisa jadi "dicuci" agar saat waktunya nanti mama sudah bersih jiwa raganya dan siap wukuf di Arafah.

Lepas masa pengobatan, mama dikatakan bersih dari penyakitnya.
Kembali harapannya menyeruak. Sayangnya panggilan berhaji itu belum datang.

Akhir tahun 2018 saya memberi kabar bahagia, insya Allah nomor porsi haji kami sudah masuk tahun 2019.
Tak henti-hentinya mama mengucap syukur. Beliau mulai menyusun kembali asa yang sempat surut.

Cobaan Kedua


Rupanya Allah masih sayang mama. Dia masih mau bercengkerama dengan zikir-zikir beliau. Allah rindu dengan doa-doa mama, maka cobaan kedua menyapa beliau.

Mama mengeluh sakit di bagian pinggul dan pangkal paha. Ia tak mampu menopang tubuhnya. Tidak bisa jalan. Untuk ke kamar mandi saja ia harus ngesot, merangkak. karena tidak bisa berdiri dan akhirnya  beliau  diopname.

Setelah mengikuti serangkaian pemeriksaan termasuk foto rontgen, oleh dokter dikatakan bahwa tulang duduknya mengalami patah, dan tidak ada jalan lain selain operasi.

Setelah berembuk dengan keluarga akhirnya kami memutuskan untuk tidak mengambil jalan operasi melainkan  mencari pengobatan alternatif.

Singkat cerita, mama dipertemukan  dengan orang yang pandai mengurut. Saat pergi ke rumah tukang urut itu beliau menggunakan kursi roda, bahkan disentuh pinggulnya saja beliau meringis kesakitan.

Masya Allah pulangnya ia bisa jalan kaki, tidak ada lagi keluhan di bagian tulang ekornya. Hanya sedikit nyeri di bagian paha.

Pengobatan alternatif itu beliau jalani selama sebulan. Lambat laun kesehatan mama mulai  membaik. Mama sudah bisa berjalan perlahan walau tak bisa jalan jauh dan lama.

Tiga bulan kemudian, ia kembali mengeluh. Kali ini sakitnya di bagian punggung. Tiba-tiba badannya kelihatan sedikit membungkuk. Kembali mama putus asa. Ia tidak mau menyinggung apapun yang berhubungan dengan ibadah haji.

Jika  sakit di bagian punggungnya itu datang,   mama mengerang kesakitan. Ia sangat putus asa.
"Saya memang sudah ditakdirkan tidak berhaji sampai pergi menghadap Sang Ilahi."
Saya kesal mendengar ucapannya.
"Ma, tidak ada orang yang berhak mendahului keputusan Allah. Jangan putus asa, kita harus ikhtiar."

Kali ini saya berinisiatif membawanya ke Ratulangi Clinik Centre, saya dapat informasi kalau di klinik tersebut ada dokter ahli tulang dan sendi. Beliau dokter yang diakui oleh pasien-pasiennya sebagai dokter yang mumpuni.

Namanya dr. Arman, caranya memeriksa pasien  menenangkan dan mama terkesan.
Dari pemeriksaan yang intensif, mama dinyatakan menderita penyakit  osteoporosis.
Beberapa tulang punggungnya patah akibat keropos.
Tetapi dr. Arman meyakinkan mama jika beliau bisa bertahan asal rajin minum obat dan berhenti beraktivitas yang bisa memicu patah tulangnya yang lain.

Maka rutinlah beliau minum obat selama 3 bulan.
Memasuki bulan kedua, perkembangan kesehatannya mulai menunjukkan perubahan yang cukup signifikan.
Beliau tidak lagi mengeluh sakit, sudah mulai berjalan perlahan lagi, bisa duduk dengan sedikit tegak walaupun masih menggunakan kursi roda jika berjalan jauh.

Harapannya ke tanah suci kembali membara. Senyumnya sudah mulai semringah lagi. Bahkan semakin ceria dan bersemangat saat saya memperlihatkan undangan manasik hajinya.

"Positif-mi ini kita terdaftar sebagai calon jamaah haji, Dawiah?"

"Insya Allah Ma. Makanya mama harus sehat. Jangan lagi bandel, ikuti saran dokter." Mama masih juga tak mau berhenti melakukan kegiatan yang membahayakan tulangnya.

Hari-hari Indah di Madinah


Tanggal 15 Juli 2019 adalah waktu pemberangkatan kami. Mama masih dengan kursi rodanya, terlihat lemah namun ada harapan dan semangat di matanya.
Sudah tak ada lagi keraguan. Beliau sangat yakin bisa mengerjakan semua rukun haji dengan baik.

Kepada keluarga dan orang-orang yang datang menjenguknya,  beliau berkata, “Yang penting  anak dan menantuku sehat, saya pasti bisa menjalankan semua rukun haji.”
Saya yakin, itu adalah doanya  seyakin saya,  bahwa Allah pasti mengabulkan doanya.

Saya, suami, dan mama terdaftar sebagai calon jamaah haji kloter 14 embarkasi Makassar, UPg-14.
Tanggal 17 Juli 2019 sekitar pukul 11.00 waktu setempat, rombongan kami  tiba di bandar udara Internasional Prince Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah Arab Saudi.

Selama 8 hari di Madinah, mama masih harus melanjutkan minum  obat osteoporosisnya. Dengan sabar beliau menjalani hari-hari di Madinah.
Saya hanya bisa membawanya  salat berjamaah di masjid Nabawi setiap subuh, magrib, dan isya.

Mama mengerti bahwa mendorong kursi rodanya di siang bolong sangatlah tidak kondusif, baik untuk kesehatannya sendiri  maupun kesehatan pendorongnya, yaitu saya, karena suhu saat itu di Madinah mencapai 48oC.

Saya salat zuhur di  masjid Nabawi tanpa beliau, sedang salat asar saya menemaninya di hotel. 
Saat diberitahu oleh jamaah lain, kalau salat Arba’in saya tidak cukup karena setiap salat asar saya tidak ke masjid, dengan entengnya mama menjawab, 

“Saya yang akan mencukupkannya.”

Apakah itu diijabah oleh Allah atau tidak, wallahualam bissawab.

Hari kelima, saat pulang salat subuh tiba-tiba mama meminta turun dari kursi rodanya, beliau mencoba jalan kaki.

Masya Allah, mama berjalan perlahan sejauh 100 meter, saya mengikutinya sambil mendorong kursi rodanya yang kosong dengan hati yang gemuruh.

Duhai Allah, sungguh besar kasih sayang-Mu kepada mama.

Hari-hari di Madinah al munawwarah adalah saat terindah bersama mama. Mendorongnya di atas kursi, menungguinya antri berziarah ke makam Rasulullah.

Demikian pula saat ziarah ke masjid Quba, masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah Saw pada tahun 1 Hijriah, atau sekitar tahun 622 Masehi hingga ke Jabal Uhud.
Semburat kebahagiaannya tak bisa ia tutupi seiring semangatnya yang menderu mengalahkan sisa-sisa sakit di bagian punggungnya.

Sehatlah terus mama, doakan saya dengan doa-doa terbaik. Karena mama adalah perantara untuk menuju kepada rida Allah.


mardanurdin.com

Di masjid Quba, sumber pribadi




mardanurdin.com
Di Masjid Nabawi, sumber pribadi



“Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silahkan sia-siakan orang tua kalian.” (HR. Tirmidzi).


READ MORE

Dibalik Penerimaan Siswa Baru

Sabtu, 29 Juni 2019

Masyarakat Indonesia  pastilah sudah akrab dengan dua kegiatan tahunan sekolah, yaitu ujian nasional dan PSB atau penerimaan siswa baru.

Dua kegiatan ini merupakan peristiwa  yang ditunggu-tunggu oleh orang tua maupun  guru, bagaikan merayakan hari raya. Semua sibuk, orang tua sibuk, siswa sibuk, guru-gurupun tak kalah sibuknya.

Kalau tak salah saya sudah menjalani kedua proses itu lebih dari 30 kali. Dihitung sejak saya diangkat menjadi guru pada tahun 1986, jika ditambahkan saat masih menjadi guru honorer tahun 1984 maka bisa dibilang menjalani proses ujian nasional  dan penerimaan siswa baru sudah lebih dari 30 kali.

Perbedaan PSB dari Tahun ke Tahun


Saat masih bertugas di daerah, proses penerimaan siswa baru berlangsung santai. Kami menunggu kedatangan orang tua atau siswa baru sambil bercanda bahkan sambil main volly.

Jika ada yang datang mendaftar, cukuplah kami berseru.

“Simpan maki map ta di atas meja!” Maka orangtua atau calon siswa baru menyimpan map atau berkasnya lalu pulang bahkan ada yang datang bergabung main volly, hahaha….

Itu berlangsung di awal  penerimaan siswa baru  tahun 1986 di desa yang sejuk, nyaman, dan damai.

Tahun ajaran baru selanjutnya, kepala sekolah sudah membentuk panitia penerimaan siswa baru, saat itu prosesnya berlangsung sedikit resmi. Meskipun sekolah masih sepi. Tapi apresiasi  masyarakat terhadap pendidikan terbilang cukup bagus, namun jangan membayangkan orang tua datang berbondong-bondong mendaftarkan anaknya.

Tahun 1993, saya pindah ke sekolah negeri di kota Makassar. Saya tertegun melihat animo masyarakat kota yang sangat besar terhadap pemilihan sekolah buat anaknya.

Sekolah tempat saya bertugas saat itu   adalah salah satu sekolah favorit di lingkungan sekitar. Mungkin karena itu adalah sekolah  negeri satu-satunya yang berada di tengah dari tiga bahkan empat kecamatan. 

Mungkin itu pula  salah satu sebabnya  orang tua berusaha mati-matian agar anaknya bisa bersekolah di situ.

Karena proses penerimaan siswa baru saat itu harus melalui tahap tes, maka tidak heran jika banyak orang tua mendekati guru. Kadang minta dibantu saat tes atau apalah itu. You know lah ๐Ÿ˜

Saat musim penerimaan siswa baru, tiba-tiba guru punya keluarga baru, teman baru, atau teman lama yang sudah sekian tahun tidak bersua akan datang bertamu.

Keluarganya keluarga, temannya teman, dan sebagainya.

Kadang-kadang guru harus “bersembunyi” untuk menghindari permintaan mereka.

Drama tidak berhenti sampai di situ, karena berlanjut paska pengumuman penerimaan siswa baru. Ada lagi rangkaiannya, pendaftaran ulang yang diiringi dengan lulus belakangan atau dikenal dengan istilah  lolos lewat “jendela”

Setelah usaha pertama gagal maka tidak serta merta orang tua menerima, umumnya masih berusaha memasukkan anaknya melalui jalur lain. Bahkan ada yang rela “mendanai” proses itu. 
Setelah semua usaha gagal, barulah melirik ke sekolah swasta.

Mengemis Siswa


Bagaimana dengan sekolah swasta?

Tentu saja berbanding terbalik dengan sekolah negeri. Jika sekolah negeri kewalahan menolak siswa baru maka sekolah swasta kewalahan mencari siswa baru.

Tidak semua sekolah swasta seperti kasus di atas sebenarnya, karena ada beberapa sekolah swasta justru mengalahkan kepopuleran sekolah negeri, namun tidak banyak.

Karena umumnya sekolah swasta mengemis siswa terutama sekolah swasta kelas menengah ke bawah. Maafkan, istilah ini saya berikan kepada sekolah-sekolah swasta yang bangunannya kurang mewah, fasilitasnya kurang baik dan kurang banyak,  akreditasinya B bahkan C, dan sebagainya.

Termasuk sekolah yang saya tempati bertugas pada 10 tahun terakhir. Diberi amanah memimpin sekolah swasta menjadikan saya meninggalkan zona nyaman yang sehubungan dengan PSB mutasi ke zona “nano-nano.”

Setelah bergabung di sekolah swasta, saya baru tahu kalau ukuran keberhasilan sekolah swasta pada umumnya yang diterapkan oleh yayasan adalah jumlah siswa yang banyak.

Yap, kuantitas bukan kualitas.

Asal jumlah siswanya banyak, sekolah swasta sudah bisa dikategorikan bagus. Urusan kualitas belakangan.

Tak heran, ada sekolah swasta memiliki jumlah siswa yang banyak di daftar hadir siswa, tetapi sepi di kelas. Kapan ramainya? Saat ujian semester atau saat ujian kelulusan.

Awalnya saya kritisi keadaan itu, jiwa idealisme saya memberontak. Kenapa mau menerima siswa tipe seperti itu, hanya mau terdaftar sebagai siswa tetapi tak mau mengikuti proses pembelajarannya.

Namun seiring dengan waktu, saya mulai sedikit memahami walaupun hingga detik ini saya tak pernah setuju.

Proses Menghadirkan Siswa di Sekolah Swasta


Apa yang saya dan tim lakukan saat menjelang penerimaan siswa baru,  agar dapat memenuhi harapan yayasan, menjadikan sekolah itu baik  dari segi kuantitasnya?

Banyak hal sebenarnya, tetapi saya hanya mau cerita kisah-kisah manisnya saja dan sedikit cerita lucu, biar pembaca tidak bosan, hehehe …

Enam bulan sebelum penerimaan siswa baru, kami sudah “bergerilya” ke rumah-rumah penduduk di sekitar sekolah. Membagikan  selebaran, memasang spanduk di tempat-tempat strategis dilihat masyarakat dan tak jauh dari lokasi sekolah kami.

Mendatangi sekolah-sekolah SD, meminta izin ke kepala sekolah dan gurunya untuk memperkenalkan sekolah kami sembari membagikan selebaran untuk diteruskan ke orang tuanya. Yaah mirip-mirip salesman obat gitulah ๐Ÿ˜‚

Pada saat pengumuman kelulusan sekolah negeri, kami tidak tinggal diam. Tim penerimaan siswa baru akan berdiri di depan sekolah negeri, mengamati siapa saja yang tidak lulus.

Setiap calon siswa baru yang tidak lulus di sekolah negeri tersebut kami “rayu” agar mau mendaftar ke sekolah alternatif alias sekolah swasta.

Sementara itu panitia penerimaan siswa baru yang bertugas di sekolah menanti di sekolah sambil terkantuk-kantuk.๐Ÿ™

Proses penerimaan siswa baru ini berlangsung lama, bisa hingga menjelang ulangan semester ganjil. Hal paling buruknya adalah mencari anak-anak yang tidak mau melanjutkan sekolah, tetapi punya ijazah SD untuk dimasukkan namanya. 
Tak perlu ke sekolah yang penting mau didaftar.  Prinsipnya, daftar saja dahulu, belajar kemudian.

Semua guru was-was, terutama yang sudah bersertifikasi. Jika siswa kurang maka berdampak pada berkurangnya jam mengajar, lalu pemenuhan jumlah jam wajib bagi guru bersertifikasi gagal.

Daaan dana sertifikasi kembali ke haribaan pemerintah๐Ÿ˜›

Situasi inilah yang membuat saya mulai memahami, mengapa ada sekolah swasta yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan siswa baru.

10 tahun berada di situasi itu telah membuka mata saya, bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak paham pendidikan. Kalaupun ada yang tahu dan mau sekolah tetapi tidak mampu bahkan tidak mau berjuang.

Bahkan ada orang tua yang tega menyuruh anaknya bekerja  dari pada disekolahkan,  lagi-lagi dengan alasan tak mampu membiayai.

Alih-alih disuruh bekerja untuk membiayai sekolahnya, ini malah disuruh bekerja untuk membiayai diri dan keluarganya. 

Miris.

Sistem Zona, Apakah Kabar Manis Bagi Calon Peserta Didik Baru?


Berdasarkan Permendikbud Nomor 17 Tahun 2017 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) pada Taman Kanak-kanak, SD, SMP, SMA, dan SMK atau Bentuk Lain yang Sederajat di bagian keempat pasal 15 tentang sistem zonasi dijelaskan,  bahwa:

1. Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah wajib menerima calon peserta didik yang berdomisili pada radius zona terdekat dari sekolah paling sedikit sebesar 90% (sembilan puluh persen) dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima.

2. Domisili calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan alamat pada kartu keluarga yang diterbitkan paling lambat 6 (enam) bulan sebelum pelaksanaan PPDB.

3.   Radius zona terdekat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh pemerintah daerah sesuai dengan kondisi di daerah tersebut berdasarkan jumlah ketersediaan daya tampung berdasarkan ketentuan rombongan belajar masing-masing sekolah dengan ketersediaan anak usia sekolah di daerah tersebut.

4.   Bagi sekolah yang berada di daerah perbatasan provinsi/kabupaten/kota, ketentuan persentase dan radius zona terdekat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diterapkan melalui kesepakatan secara tertulis antarpemerintah daerah yang saling berbatasan.

5.  Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah dapat menerima calon peserta didik melalui:
                a. Jalur prestasi yang berdomisili diluar radius zona terdekat dari sekolah          paling banyak 5% (lima persen) dari total jumlah keseluruhan peserta didik        yang diterima;

          b. Jalur bagi calon peserta didik yang berdomisili diluar zona terdekat dari             sekolah dengan alasan khusus meliputi perpindahan  domisili orang tua           /wali peserta didik atau terjadi bencana alam/sosial, paling banyak 5%               (lima persen) dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima.                                                              (Salinan Permendikbud 17 Tahun 2017).


Kabarnya sistem zonasi hingga saat ini masih pro kontra, namun berdasarkan pengalaman saya selama beberapa hari ini menjadi panitia PPDB menemukan fakta lain.

Bahwa ada yang kontra, bahkan protes karena posisi rumahnya yang tidak masuk dalam jangkauan zonasi sekolah yang dituju memang benar, namun jumlahnya sangat sedikit.

Dari ratusan calon peserta didik yang mendaftar, tidak sampai 10 orang yang mengeluh. Itu artinya tidak sampai 1% yang mengeluhkan sistem ini. Bahkan sebagian besar orang tua calon siswa baru menyambut gembira sistem ini.

Sumber pribadi


Qadarullah, tahun ini saya kembali ke sekolah lama dan dipercaya menjadi operator PPDB.

Bagai dejavu.

Drama-drama PSB atau sekarang dinamai PPDB seakan terulang kembali, serupa tapi tak sama.

Saya tak disibukkan lagi dengan mencari calon siswa baru, pun tak juga sama dengan peristiwa tahun-tahun awal, “bersembunyi” dari serbuan tetangga, keluarga, dan teman.

Cukuplah berbincang dengan orangtua calon siswa baru, menginput datanya sesuai KK lalu beres. Dari sini pula saya dapat menarik kesimpulan sementara, bahwa sistem zonasi merupakan kabar manis bagi tetangga-tetangga saya, teman, dan keluarga.

Kenapa?

Simaklah perbincangan mereka berikut ini.

“Sejak ada zonasi Bu, anak-anakku bisa tongmi sekolah di sekolah negeri. Dulu kodong, diliat-liat ji orang masuk sekolah negeri padahal itu sekolah ada di depan matata.”

“Apalagi ini ada zona prasejahtra, kita yang kurang mampu bisami juga sekolah di sekolah negeri.”

Enakmi itu kita ka dekatki sekolah dari rumahta, bemanami yang jauh rumahnya kodong?”

“Kan masih adaji jalur prestasi. Ada prestasi akademik ada juga non akademik. Kalau bagusji nilainya anakta biar jauh rumahta bisaji juga masuk.”

“Kalau anakta punya prestasi non akademik , seperti pernah ikut lomba dan juara bisaji juga masuk.”

“Lomba apa itu di?”

“Macam-macam, seperti lomba mengaji, bidang olahraga, seni seperti menyanyi, baca puisi, menari, dsb.”

Jujur, saya terharu mendengar perbincangan mereka.  Walaupun saya juga sering sedih melihat raut kekecawaan di wajah para orang tua yang kebetulan tempat tinggalnya tak terjangkau oleh sistem zonasi.

Begitulah suatu peraturan,  tidak selamanya  bisa menguntungkan dan menyenangkan semua orang, tapi setidaknya  lebih banyak yang terbantu daripada yang tidak terbantu.

Ini kisah saya, bagaimana kisah kalian?

Komen di kolom komentar yuk!


READ MORE

Ramadan, Lebaran, dan Kenangan

Minggu, 02 Juni 2019


Ramadan memang selalu menyisakan kenangan, walaupun kebiasaan-kebiasaan masyarakat Indonesia selalu sama setiap tahunnya. Namun ada saja cerita menarik  yang menjadi pemanisnya.

Demikian pula yang terjadi dalam keluarga kami.

Jika tahun lalu, putra sulung saya masih mudik dan bisa berpuasa di lima hari terakhir sekaligus berlebaran bersama kami, maka tahun ini ia memilih mudik ke rumah mertuanya, itu berarti ia akan menjalani akhir-akhir Ramadan serta berlebaran di daerah kelahiran istrinya.

Semoga tahun depan, giliran kami yang dipilih mereka. Aamiin.

Eh, tiba-tiba saya membayangkan, jika suatu saat anak-anak sudah menikah atau bekerja di daerah lain, maka pastilah kesunyian akan menyergap rumah kami.

Mungkin saat itu kami sudah uzur, lemah dan sepi. Kami hanya akan sahur berdua. Tidak ada lagi drama membangunkan anak-anak untuk sahur bersama dan tidak ada juga riuhnya celoteh saat berbuka puasa.  

Aarraagh …

Daripada saya membayangkan hal-hal yang mengilukan hati, lebih baik saya cerita saja tentang drama yang pernah terjadi di   keluarga kami dalam bulan Ramadan.

Yaah sekedar mengenang saja.

Drama Saat Sahur


Saat membangunkan anak-anak untuk sahur adalah drama yang dialami oleh hampir semua keluarga yang punya anak kecil, eh anak yang sudah remaja juga kadang tak kalah dramanya.

Dari kelima anak saya, yang paling sulit dibangunkan itu adalah Uci, putra ketiga dan putri bungsu saya, Nabila.

Suatu waktu, entah sahur yang keberapa. Tiga putra saya sudah bangun dan duduk manis di depan meja makan. Tapi oleh bapaknya, belum boleh makan kalau belum kumpul. Sementara Uci belum bangun juga padahal sudah tiga kali saya dan bapaknya bergantian membangunkan.

Waktu itu, Nabila belum lahir dan Uci masih kelas 3 SD

“Kalau mauki kasi bangunki Uci bawa memang maki air Ma.” Kata Fandi.
“Saya pa kasi bangunki Ma.” Ami, putra keempat tampil jadi pahlawan.

Maka Ami masuk ke kamar sambil membawa timba berisi air.

Tiba-tiba terdengar suara,  gedebuk!
Maaa….!

Ami berlari keluar sambil menangis, badannya basah.
Natendangka  kakak Uci Ma, tumpahmi air kena bajuku.” Isak Ami.

Fandi dan Ical serentak terbahak. Saya menahan senyum geli sambil berpandangan sama bapaknya.

Rewa duduku, rasako, hahaha….” Ledek Fandi.
“Saya saja malla-malla kasi bangunki, pasti assempaki too…” Ical ikutan meledek.
“Kauji bilang, bawa memangki air ka mau ditimbai mukanya kakak Uci.” Ami protes.
“Itu untuk mama atau bapak, ka tidak berani Uci assempa kalau mama kasi bangunki.” Fandi menjelaskan sambil terbahak.

Sejurus kemudian, Uci keluar dari kamar dengan muka datar.

“Kenapa nutendangki Ami tawwa Uci?” Tanya Fandi.
“Mauka nasirami, barani-barani. Mama-ji yang boleh siramka yang lain jangko coba-coba, passempa itu nudapa.” Uci menjawab sambil mengancam.

Rewana,  tantara kapang.” Ical nyeletuk kesal.
“Bukan tentara tapi pilot, mauka saya jadi pilot.” Uci tak kalah ketusnya.
“Aamiin.” Kami serentak mengamini.

Maka dramapun berakhir dan mereka kembali akur.

Sejak saat itu, tak ada lagi yang berani membangunkan Uci kecuali saya atau bapaknya.

Baju Harus Seragam


Memiliki empat orang putra yang usianya tidak terpaut jauh, cukup menguras pikiran saat menjelang lebaran. Pakaiannya harus serupa, baik model maupun warnanya karena jika tidak, maka akan terjadi drama berkepanjangan.  

Pernah suatu waktu, saya tidak menemukan empat baju dengan warna yang sama. Yang ada hanya tiga baju, terpaksa warna baju Fandi berbeda dengan ketiga adiknya.

Awalnya tidak ada masalah. Mereka terima saja, apalagi Fandi sangat puas dengan warna pilihan saya. 

Tiba pada hari H, kami sudah bersiap-siap ke lapangan.

Ical, Uci, dan Ami sudah berpakaian lengkap. Tinggal Fandi yang masih sibuk keluar masuk kamar.

“Ndi, ayo pakai bajumu, nanti kita telat Nak!” Seru saya sambil menyiapkan sarapan.
“Nda kudapatki bajuku Ma” Keluh Fandi.
“Ada di balik pintu kamar, mama semalam gantung di situ.”
“Tidak ada Ma, hilangki.” teriak Fandi
“Ah masa hilang.  Adiji itu.” Saya beranjak ke kamarnya.

Sangat yakin baju itu saya gantung di balik pintu kamar, lah semalam kan saya yang siapkan  semua.

Tadaaa…. baju itu tidak ada.

Maka jadilah kami semua bantu mencarinya. Lemari diubek-ubek dan semua sudut rumah tak luput diperiksa, tapi hasilnya nihil.

“Mungkin ada yang lebih suka baju ta Nak, pakai maki saja baju lama, yang penting kan bersih dan rapi.” Bujuk bapaknya setelah pencarian yang melelahkan tanpa hasil.

“Baju keduaku mo de kupake, nda mauka pake baju lama.”
“Ih baju kaus, nantipi dipake kalau pulangki lebaran.” Protes adiknya, Ical.
Biarmi, daripada pake baju lama.” Fandi berkeras.
Iye, pake baju kaus saja.” Saya putuskan cepat, daripada telat salat id.  

Mungkin saat itu salatku kurang khusyuk, kepikiran sama baju yang raib entah kemana. Padahal jelas-jelas saya setrika dan simpan di tempat yang aman. Kalau ada pencuri yang masuk ke rumah, kenapa hanya satu baju yang diambil, kenapa tidak ambil saja semua, kan baju-baju itu tergantung di tempat yang sama.

Pulang salat id, pencarian dimulai kembali. 
Iseng-iseng bapaknya buka mesin cuci. Saya menegur beliau.

“Tidak mungkin ada di dalam mesin cuci, itu kan pakaian kotor semua.”

Bapaknya hanya tersenyum dan tetap membuka penutup mesin cuci.

Alamak,  baju itu ada di sana lengkap dengan hangernya.

“Siapa yang simpan bajunya kakak Fandi di situ?” Saya betul-betul gusar.

Tak ada satupun yang menjawab. Tetapi sekilas saya melihat senyum kepuasan dari bibir Uci.

“Kenapa Nak, kamu sembunyikan baju kakak Fandi?” Saya langsung menodong Uci.
“Kenapa memang warna bajunya beda, ndak sama dengan yang lain.” Katanya ketus.

Melongo satu detik mendengar jawabannya.

Sejak saat itu, saya tak mau lagi membedakan warna dan model baju mereka hingga saatnya mereka bisa memilih sendiri.

Demikian cerita saya.

Selamat menyambut hari lebaran, semoga kita  terlahir fitri kembali. Aamiin.

Sumber Pribadi, Foto Lebaran Tahun 2013


READ MORE

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Nama

Email *

Pesan *