MUHASABAH DIRI

Monday, July 24, 2017

Indonesia baru saja memperingati Hari Anak Nasional, yaitu tanggal 23 Juli. Sebagaimana negara-negara di belahan dunia lainnya, walaupun berbeda-beda waktunya, tetapi dasar dan tujuannya sama. Menghormati hak-hak anak.

Hem, menghormati hak-hak anak. Sebagai Ibu, rasanya ada yang menyentuh sanubariku sekaligus satu pertanyaan yang membuat kalbu ini terasa berdenyut. Apakah aku sudah memenuhi hak-hak anak-anakku?

Aku bisa saja menjawab, bahwa aku sudah memenuhinya dengan memberinya nafkah sehingga mereka tumbuh dan berkembang dengan baik, sudah menyekolahkannya hingga mereka mengecap pendidikan. Sekedar itu?

Tidak! Tanggung jawabku kepada mereka, jauh lebih besar dari itu semua.

Barangkali aku butuh satu waktu untuk duduk tafakur, lalu mengingat dengan saksama, apa saja yang telah kulakukan kepada anak-anakku. Apakah aku sudah memberinya rasa aman dan damai? Aman dari lingkungan yang buruk, lingkungan yang bisa saja menjerumuskan mereka ke dalam kenistaan. Damai dari situasi yang hiruk pikuk, situasi yang bisa saja membuat jiwa-jiwa mereka resah dan gelisah.

Lebih dari itu, apakah aku sudah mendekatkannya kepada yang Maha Pemberi Kehidupan?  Sejauh manakah usahaku membuat mereka cinta kepada Pemilik Cinta?

Banyak pertanyaan yang tiba-tiba saja membuatku risau. Ini adalah muhasabah untuk diriku sendiri, bahwa setelah 26 tahun menjadi ibu untuk anak-anakku, rasanya aku belum melakukan apa-apa. Hanya satu harapan terbesar di dalam sanubariku, yaitu menjadikannya mereka sebagai anak saleh dan salihah.
Sungguh, harapan itu sangat berat untuk mencapainya. Karena aku sendiri merasa belum menjadi anak yang salihah untuk orangtuaku.

Yah, maka aku menyerah saja kepada takdir, setelah segala usaha dan upaya diiringi dengan doa untuk selalu berjuang berjalan menuju jalan yang lurus.

Semoga usahaku itu dapat menjadi pembelajaran buat anak-anakku, bahwa Ibunyapun tiada henti-hentinya belajar, berusaha dan berjuang untuk memperbaiki diri dari waktu ke waktu.

Read More

Metamorfosis Kura-kura

Saturday, July 8, 2017

Judul Buku: Metamorfosis Kura-Kura
Penulis: Edi Sutarto
Penyunting: Dampriyanto
Perancang Sampul: Sandy Ramadhan
Tata Letak: M. Sharifudin
Penerbit: Masmedia Buana Pustaka
Cetakan  pertama, Desember 2015


Apa yang menarik dari buku ini?
Pertama kali melihat sampulnya, terus terang saya tidak tertarik. Tidak tertarik karena gambarnya yang tidak jelas. Antara gambar wajah manusia dengan kura-kura, antara gambar wajah yang tersenyum, cemberut dan sedih. Ini sampulnya gambar orang atau kura-kura sih?


Ah..yah, ini pasti gambar kura-kura, kan judul bukunya metamorfosis kura-kura. Judulnya ciamik mengundang tanya, apakah kura-kura bermetamorfosis?Baiklah! Sebaiknya saya baca saja dahulu.



Membuka halaman pertama, mata saya tertuju pada testimoni dari Habiburrahman El Shirazy.


Membaca kumpulan cerpen ini seperti merasakan lezatnya saraba. Hangat, sederhana, lezat, menyehatkan, dan tidak membosankan. Nilai-nilai edukatif diracik dalam cerita yang memikat. Enak dinikmati seperti minum Saraba.”

Iii..keren kan? Itu tanggapan penulis top bin keren lho. Penasaran? Sumpah saya juga penasaran!

Lalu buka lembaran berikutnya. Ada catatan Taufiq Ismail (Saya berani bilang, yang tidak kenal sama sosok ini, pasti tidak pernah nonton televisi, apalagi membaca). 


Lalu ada rektor UNHAS, Prof. Dr. Dwia Aries Tina Palubuhu, MA. Ada pula Prof Aris Munandar, M.Pd (rektor UNM Makassar), lalu ada Yudhistira Sukatanya dan yang tidak kalah kerennya, ada Asma Nadia. 


Sambutan ditulis oleh seorang penulis top, jangan baper yah kalau saya katakan, bahwa yang memberi sambutan dalam buku ini adalah Helvy Tiana Rosa. Wuisss!

Melihat sekumpulan sastrawan hebat ditambah penulis-penulis keceh, maka jangan salahkan diri ini jika animo untuk membacanya semakin tak terbendung.

Terdapat 17 cerita pendek karena buku ini, memang ini adalah kumpulan cerita-cerita yang menarik. Cobalah baca salah satu judul cerpennya, Lapar Ayah.

Lapar Ayah. Sebahagian cerita dalam cerpen, Lapar Ayah ini sangat akrab bagi saya, juga semua guru di Indonesia. Kelakuan guru yang kelihatannya serius, rajin padahal sesungguhnya sibuk dengan diri sendiri, sampai-sampai dia tidak menyelisik setiap raut muka muridnya, bahwa dalam ketenangan murid-muridnya terdapat jiwa yang kacau balau.


Yang Tak Dikatakan Monyet. Terdapat percakapan seru antara monyet dengan kupu-kupu yang menggambarkan kegagalan suatu proses metamorfosis akibat ulah siswa yang sedang melancong. Lagi-lagi kritikan pedas terhadap ulah sebahagian guru di negeri yang kita cintai ini. Jleb banget, apalagi buat saya yang berprofesi guru.

Bejo jadi Biji. Kata ndeso cukup menggelitik, apalagi saat ini yang lagi ramai dengan kata-kata ajaib itu. Ndeso! Saya bukan orang Jawa, tetapi sangat paham artinya. Barangkali inilah yang disebut, "nama ndeso, otak  kota" (huaaa..saya terlalu memaksakan). Tetapi itulah kenyataan dalam cerpen ini, seorang lelaki dengan nama yang ndeso tetapi memiliki otak cemerlang.


Metamorfosis. Bercerita tentang guru yang sedang bermetamorfosis, hingga mampu mengepakkan sayap-sayap indahnya. Sampai di sini, saya tertegun. Bercermin pada diri, apakah saya telah menjadi kupu-kupu? Atau jangan-jangan sampai setua ini, saya masih saja menjadi kepompong.

Lalu akhirnya saya tak mampu lagi menuliskan setiap cerpen yang disajikan dengan apik ini. Ceritanya beragam tapi makna yang tersirat di dalamnya adalah satu, menginspirasi.

Oh iyah ada satu cerita, oh bukan, tetapi dua  sebelum saya akhiri.
Pertama, cerita yang cukup  lucu dengan akhir  yang tidak dinyana. Onde-Onde dan Sarabba.

Cerpen kedua adalah: Ingin Jadi Kura-Kura
Saat membaca cerpen yang menutup buku ini, ingatan saya seketika terbang dan hinggap pada satu wajah, sifat dan perangainya sama dengan Ibu Mardiah. Dan sayangnya, belum ada siswanya seperti dr. Fatir, membuat Ibu Mardiah ingin menarik kepalanya ke dalam batok tempurung rumahnya. Malu.

Jangan salah yah, bukan Ibu Marda, hehehe…

Maka pantaslah apabila buku dengan jumlah halaman 104 ini diendros oleh sejumlah sastrawan, penulis dan para akademisi.

Read More

Apa Kabar Setelah 35 Tahun?

Friday, July 7, 2017


Reuni Setelah 35 Tahun. Entah mengapa, Ramadan dan lebaran selalu identik dengan reuni. Mungkin karena libur panjang setelahnya, sehingga banyak waktu untuk kumpul-kumpul, atau bisa jadi karena efek dari lebaran yang selalu disertai dengan silaturahim dengan keluarga dan  teman.
Yah baguslah, bukankah menyambung silaturahim itu akan memperpanjang usia?
Nah, ini cerita reuniku bersama teman-teman tempo dulu, kurang lebih 35 tahun lalu (hehehe…kentara usianya).

Sebenarnya sudah beberapa kali menghadiri acara reuni SMA, kebetulan saya dari SMAPAT (zaman kami dahulu belum ada singkatan itu, masih namanya SMA Negeri 4 Makassar). Tetapi hanya sekedar mengikuti seremonialnya saja, saya justru merasa asing di antara sekian banyak alumni yang hadir. Bingung sendiri, cari-cari seangkatan atau lebih tepatnya mencari teman sekelas, soalnya yang hadiri reunian berasal dari semua angkatan. Lebih banyak dari angkatan tahun 90-an, sementara saya termasuk angkatan 80-an.


Nah, kebetulan tahun ini, salah seorang teman sekelas yang kebetulan juga tetanggaan, mencetuskan ide itu. Reuni khusus angkatan 1983, yeaaahh! Pucuk dicinta ulampun tiba. Terima kasih Hj Husniah!
Setelah menghubungi beberapa teman, lalu mengumpulkan informasi nomor-nomor  handpone teman-teman lainnya, maka terjadilah reuni itu.

Tidak banyak aktivitas yang kami lakukan, yah..hanya sekedar makan, bercengkrama, saling tanya apa kabar keluarga dan bla..bla.. lalu foto-foto, sambil tukar-tukaran nomor handpone.

Saat acara makan, satu persatu datang. Hebohnya, setiap yang datang, kami bergantian bertanya, “masih ingat dengan saya?”
Kita masih kenal sama saya?  Ada yang masih ingat, tetapi tidak sedikit yang lupa.
Yah wajarlah, tiga puluh lima tahun Bo!

Terlalu banyak perubahan yang terjadi, yang dahulu imut-imut sekarang jadi amit-amit. Bukan karena wajahnya saja yang berubah tetapi postur tubuh itulah yang mengalami perubahan yang cukup bikin pangling. Dulunya langsing, sekarang istilah kerennya menjadi “langsung.” Hehehe.
Dulunya tidak pakai jilbab, sekarang pakai jilbab. Dulu, muka mulus sekarang menjadi sedikit keriput. Huaaah.

Mungkin karena saya yang paling sibuk tanya-tanya nomor handpone teman sekaligus mencatatnya,  maka saya didaulat untuk membuat grup WA sekaligus menjadi adminnya. Maka di situlah saya berterima kasih kepada media sosial.
Terbentuklah grup itu. Dari sana, bertambah lagi teman yang selama ini tak tau rimbanya, akhirnya diketemukan lagi lalu dicemplungkan ke dalam grup (maafkanlah diriku ini teman, tidak permisi dahulu).


Untuk mengupdate ingatan teman-teman tentang masa 35 tahun lalu, berikut saya masukkan foto-foto kita dahulu. Sayangnya sebahagian besar foto-foto lama sudah habis dilalap jago merah. 
Berikut ini saja yang tersisa.

Bandingkan dengan foto berikut ini.


Bagaimana dengan ini!


Semoga ini awal yang baik. Aamiin.
Read More

Dunia Tanpa Air Mata yang Sarat Dengan Air Mata

Monday, July 3, 2017

Judul Buku: Dunia Tanpa Air Mata

Penulis: Pipiet Senja & Azimattinur Siregar
Pemeriksa Aksara: Aminah Mustari
Pewajah  Sampul: Meita Safitri
Penata Letak: Yunita Hye
Penerbit: Salsabila Pustaka Al-Kautsar Grup
Cetakan: Pertama, Januari 2016

Pipiet Senja, nama ini sudah tidak asing lagi bagiku, sejak kecil aku sudah menggandrungi tulisan-tulisannya. Tetapi mengenal beliau secara pribadi hingga dapat berkomunikasi melalui media sosial barulah pada tahun ini.
Namun bukan tentang pertemananku dengan beliau yang akan aku tulis melainkan perasaanku terhadap salah satu dari ratusan karyanya, yaitu “Dunia Tanpa Air Mata.”


Tidak butuh waktu lama untuk melumat habis isi buku itu, mungkin karena ceritanya yang terasa sangat nyata. Apalagi dibarengi dengan tulisan Azimattinur Siregar, anak beliau yang ngocol dan fresh sekali.

Dimulai dari tulisan Pipiet Senja yang dibagi menjadi 9 tulisan, bercerita tentang penyakit yang beliau derita sejak kecil, lalu selanjutnya semua tentang Butet, panggilan untuk putrinya, Zhizhi Siregar alias Azimattinur Siregar.
Ada asa dalam tulisan itu, cinta dan kasih sayang yang tak dapat diukur kedalamannya. Juga kesabaran menerima perilaku yang ajaib dari pasangannya. Sungguh suatu pembelajaran kesabaran.

Kemudian beranjak ke tulisan Zhizhi yang juga terbagi atas beberapa bagian. Kisah-kisah yang lucu dengan gaya penulisan yang menurutku “anak muda” sekali, sehingga aku merasa sedikit konyol membacanya. Bagaimana tidak konyol, jika saat membacanya, aku lebih banyak senyum-senyum bahkan terbahak.

Sub-sub judul yang ditampilkan juga lucu dan mengundang rasa penasaran.

 Cobalah simak, Nightmare, Baybay Einstein, Pensi Ajep-ajep atau Hari Degdegplas. Dari semua sub-sub judul itu terdapat benang merah yang menghubungkan antara penderitaan dan kebahagiaan yang silih berganti, juga kasih, cinta dan bangga kepada mamanya.
Zhizhi menyuarakan penderitaannya dengan lugas tetapi dalam bahasa yang unik, tidak menghiba apalagi meraung. Sungguh, suatu pribadi yang kuat.

Dari semua cerita yang disuguhkan oleh Manini (begitu biasa beliau dipanggil) Pipiet Senja dan anaknya itu dalam buku ini, terdapat dua bab terakhir yang membuatku benar-benar larut, sehingga memicu kemarahanku sekaligus kesedihanku.
Bagaimana tidak marah coba, mengetahui perlakuan orang-orang di rumah sakit, mulai petugasnya hingga perawatnya yang begitu ketus tak berperikemanusiaan. Dapat kubayangkan, andaikan aku berada di posisi itu, aku belum tentu sesabar Manini.

Hampir seluruh bab-bab terakhir dalam buku ini membahas tentang keburukan pelayanan rumah sakit yang besar itu.

 Demikian yang bisa kusimak.

Walaupun buku ini berjudul “Dunia Tanpa Air Mata” namun sesungguhnya kisah-kisah di dalamnya  justru sarat dengan air mata, air mata kebahagiaan, keharuan dan ketidak berdayaan.

Oh iya, ada satu tulisan yang jleb banget ke hatiku, “Setiap anak memenggal cita-cita orangtuanya hingga ke titik tertentu. Membatasinya, bahkan bisa jadi menghancurkannya. Adalah tugas setiap anak untuk mengemban harapan-harapan yang tercapai itu.”

Sudahkah aku memenuhi harapan orangtuaku, terutama mamaku?
Apakah aku tahu apa harapannya? Karena aku dan mamaku tidak sedekat Zhizhi dengan mamanya  (mungkin karena aku banyak bersaudara, mencoba mencari alasan, bheuu…)

Membaca buku ini memberiku kesadaran baru, bahwa sangat penting melakoni hidup dengan semangat perjuangan yang tiada henti yang dibarengi dengan rasa syukur atas semua nikmat yang telah dianugerahkan oleh Allah swt.

Terima kasih Manini.

Terima kasih Zhizhi.
Read More

Sedih Karena Tidak Dapat Bersedih

Friday, June 23, 2017

27 Ramadan 1438 H/ 22 juni 2017 M
Beberapa hari ini saya tidak menyapa si-lippi, karena sudah bertekad untuk konsentrasi di 10 hari terakhir Ramadan, juga menyelesaikan baju seragam saya dengan si-bungsu, kami hanya berdua perempuan di rumah jadi wajar dong kalau kami seragam berdua saja (hehe..kakak-kakak jangan iri yah).
Semua sudah disiapkan, rencananya, tarawih tak mau ditinggalkan  kemudian lanjut salat malam dan ditutup dengan witir. Facebook hanya dilirik sekali-sekali saja, hanya sekedar menjaga agar tidak menderita penyakit kudet (kurang update). Sudah janji juga untuk tidak jalan ke pasar apalagi ke mal, tidak mau sibuk di depan oven bikin macam-macam kue (niatnya beli saja sekedarnya).
Pokoknya, hanya dua macam kegiatan saja yang akan saya lakukan, selain kegiatan rutin tentunya, masak untuk sahur dan buka puasa.

Namun apalah daya, tubuh  ini hanya seonggok daging yang sudah mulai matang  (saya paling anti disebut tua) walau kenyataannya memang begitu. Karena menjadi tua, oleh sebagian orang dianggap sama dengan tidak berdaya dan saya merasa masih bisa berdaya.

Perjuangan batin dimulai.
Ketika kain sudah digelar, pola sudah disiapkan lalu sret-sret, kain digunting tiba-tiba, tamu datang, bukan satu tetapi serombongan. Maka kain yang sudah siap dieksekusi di mesin jahit dimasukkan ke tempat yang aman. Lalu berpindah ke ruang tamu, cipika cipiki, cerita-cerita hingga menjelang sore. Serombongan tamu pulang, karena udah menjelang buka puasa, kegiatan lanjut ke dapur.
Malamnya, menjelang salat isya, godaan itu mulai datang, antara salat isya dan tarawih di masjid dengan melanjutkan jahit baju yang tadinya tertunda. Dan taraaaa…jahit baju menang. Dengan alasan, saya bisa kok salat malam sebentar, akan lebih tenang dan lebih khusyuk dan bla..bla..

Ting..tong, alhamdulillah, tamu datang lagi. Jahitan tertunda lagi.
Ya Allah, kapan selesainya jahitan ini, lebaran sebentar lagi ini sudah H-5, baju lebaran belum selesai juga.
Hingga H-3, saya menyerah, mungkin Allah swt tidak menghendaki kami pamer baju seragam. Baju yang sudah setengah jadi saya gulung dengan rapi kemudian saya masukkan ke dalam kantong plastik terus disimpan dalam lemari, beres.

“Nak, kita tidak usah pakai seragam yah, simpan saja untuk pernikahan kakak nanti.” Saya sampaikan dengan muka memelas kepada putri saya satu-satunya.
“Iyah Ma, saya sembarang-ji. Jadi saya pakai baju apa nanti lebaran?” jawab putri saya santai.
“Kita ke Mal.” Seru saya girang.
“Hm…katanya tidak mau ke Mal.” Sindirnya dengan senyum dikulum.
“Ini darurat sayang, ayo siap-siap, kita jalan mumpung masih pagi.”

Maka pantangan kedua terlanggar sudah
Namanya juga Mal, ada banyak godaan di sana. Celangak-celinguk, lihat sana-sini tak terasa sudah sore. Maka pulanglah kami dengan membawa sepasang baju dan sepatu buat si-putri.
“Mama, tidak beli baju?” Putri mengusik hati saya.
“Ah, mama biar tidak pakai baju baru, tetap cantik kok, hehehe…”
“Ih ..Mama pasti lelah.” Jawabnya dengan senyum dikulum.
Lelah, memang lelah sayang. Tubuh ini memang harusnya  digunakan saja untuk lebih banyak rukuk dan sujud, bukannya jalan-jalan sepanjang hari. Tetapi karena sudah melanggar janji sendiri, maka jiwa dan  fisik ini protes.

Dan malam ini, setelah menikmati tidur dalam kelelahan saya duduk di sini menuliskan perasaan saya yang berkecamuk dalam sesal. Ramadan sisa dua hari, dan saya terlena dengan pernak-pernik lebaran.

Astagfirullah!
Dalam sesal ada sedih yang menyeruak hati, kok saya tidak bersedih  akan berpisah dengan Ramadan?
Padahal saya belum tentu bersua dengannya tahun depan, kenapa? Apakah karena saya telah ingkar janji terhadap diri sendiri? Oh yah bukankah janji yang saya buat itu, otomatis adalah janji saya juga kepada-Nya, untuk datang kepada-nya bersimpuh dan mencurahkan sagala rasa?

Astagfirullah, saya harus berhenti sekarang!
Dan malam ini saya harus memaksa hati, pikiran, dan raga ini untuk datang kepada-Mu. Ampuni jiwa yang rapuh ini ya Allah!
Buatlah hati saya sedih yah Allah, atas perpisahan dengan bulan yang penuh rahmat ini. Buatlah mata ini menangis untuk menangisi semua hal yang telah saya lakukan di masa lalu.
Jangan biarkan hati ini gersang, wahai yang Maha Penyejuk.
Limpahilah jiwa ini dengan tangis penyesalan, wahai yang Maha Pengampun.  
Hingga Engkau memanggil hamba-Mu ini  dengan kata-kata:

“yaaa ayyatuhan-nafsul-muthma’innah.”
“irji’iii ilaa robbiki roodhiyatam mardhiyyah.”
“fadkhulii fii ‘ibaadii.”
“wadkhulii jannatii.”
Read More

Maafkan Saya Menulis Tentang Bapak

Sunday, June 11, 2017


Dari dulu, sejak saya mulai pandai membaca maka menulis adalah kegiatan yang paling saya sukai. Menulis di atas kertas buram, menulis di atas lembar-lembar buku tulis yang bercampur dengan catatan pelajaran. Karena dahulu pada tahun 70-an saat saya masih SD (hem.. pasti teman-teman sudah bisa menebak usia saya), belajar itu sama dengan mencatat materi pelajaran sepenuh papan tulis, kemudian dihapus lalu disambung lagi hingga bel istirahat berbunyi.

Saya menulis perasaan saya pada halaman belakang di buku pelajaran, tulisan yang tidak teratur bentuk dan  paragrafnya, tetapi saya menemukan keasyikan tersendiri setelah  menuliskan sesuatu yang menggambarkan keadaan sekitar dan perasaan saya waktu itu.
Samar dalam ingatan, waktu itu saya menulis tentang sifat dan sikap guru kelas lima saya, namanya Pak Tua (bukan nama sebenarnya) dan  semoga beliau mendapatkan kelapangan di alam kuburnya. Beliau seorang guru yang berwibawa tetapi tunduk dan menjadi lemah kalau ada murid yang memberinya bingkisan, yang berisi kue, minuman atau pakaian. Dia menjadi sangat tidak berwibawa di mata saya dan beberapa murid lainnya yang tidak mampu memberinya sesuatu.

Saya menjadi sedikit membencinya, karena saya dan beberapa teman lainnya tidak pernah dipuji, tidak pernah disebut-sebut sebagai murid yang baik, apalagi dibelai-belai. Hobbi guru saya itu adalah membelai rambut muridnya, tetapi hanya untuk murid yang telah memberinya bingkisan.

Saya juga sangat kesal kepadanya, ketika beliau menerangkan pelajaran matematika dengan suaranya yang khas, tetapi matanya hanya tertuju kepada deretan bangku terdepan, di mana di sana duduk murid-murid yang rajin memberinya bingkisan, dan saya beserta murid lainnya cukuplah hanya mendengarkan suaranya saja, tanpa menikmati tatapannya.  Sekali lagi, semoga beliau mendapatkan ampunan-Nya.

Saya menuliskan perasaan tidak suka terhadapnya dengan bahasa anak usia 11 tahun, saya mengumpatnya dengan kata-kata yang tidak ingin saya ingat lagi, tetapi itulah tulisan pertama dan terakhir   bernada kebencian yang tidak ingin saya ulangi.
Karena sebelumnya saya selalu menulis yang baik-baik dan indah-indah tentang teman-teman saya yang baik juga. Pernah menulis tentang teman perempuan saya yang cantik dengan hidungnya yang mancung, mungkin tulisan saya waktu itu kurang lebihnya seperti ini:

“Engkau Bulqis, temanku yang cantik, hidungmu seperti Tanti Yosepha, pipimu padat seperti Lenni Marlina, saya suka kamu karena kamu baik. Kalau kita pulang sekolah saya selalu singgah di rumahmu, karena mamamu selalu baik kepada,, memberi saya  makanan, sepiring nasi beserta gorengan tempe yang lezat. Mamamu pandai masak karena dia penjual nasi kuning di ujung lorong.”

Kemudian kertas yang ada tulisan itu dirobek oleh Bulqis, lebih tepatnya dilepaskan dari buku tulis saya, dia melipat secarik kertas itu kemudian dia simpan di balik pembungkus bukunya, katanya: “Saya mau kasi lihat ini sama mamaku.” Sambil tersenyum manis.
Oh iya, kita kembali kepada tulisan buruk  tentang guru saya. Setelah menumpahkan semua kekesalan saya dalam buku tulis itu hingga hampir dua halaman. Rasanya ada kepuasan tersendiri.

Anehnya, setelah  menuliskan perasaan itu, saya memandang wajahnya, tiba-tiba ada rasa sedih, penyesalan karena sudah mengumpat dan mencaci maki beliau, walau tidak ada seorangpun yang mengetahuinya.

Diam-diam saya membaca tulisan itu tanpa memperhatikan kalau ada yang ikut membacanya, yaitu teman saya yang menjadi murid kesayangan beliau. Maka bencana itu datang. Teman saya  berseru.

“Pak Guru, Dawi mengatai-ngatai Bapak di bukunya!” Sontak kelas menjadi riuh. Bapak guru mendatangi saya dan meraih buku itu. Beliau membaca tulisan saya dengan muka merah, sementara saya hampir kencing di celana karena ketakutan. Saya meringkuk di bawah meja, menutup mata dengan tangis yang tertahan.

Tiba-tiba saya merasa diangkat, bahu saya diraih dan ditarik keluar dari bawah meja. Dengan   kaki gemetar berdiri di depan kelas dan   membacakan tulisan tersebut atas perintah bapak guru.
Saya membaca sambil diiringi tangis yang tertahan. Menyesal disertai rasa takut. Saya disuruh mengulang membaca satu kalimat sampai tiga kali, yaitu kata-kata: “Saya sangat membenci Pak Guru Tua itu, mukanya bagaikan serigala yang selalu siap menerkam makanan di atas meja.”

Kelas menjadi hening, teman-teman yang senasib yang saya sebutkan dalam tulisan itu sebagai “kumpulan orang-orang terbuang” (mungkin waktu itu saya terinspirasi dari puisi seorang penyair yang saya lupa namanya), hanya memandang saya dengan muka prihatin. Tuntas sudah tulisan buruk itu dibacakan.


Aneh! Pak guru tidak bereaksi apa-apa. Beliau hanya diam lalu menyuruh saya kembali ke bangku.  Teman-teman  juga diam. Lalu beliau maju ke papan tulis dan menulis.
“Hari ini kita belajar bahasa Indonesia, tugas anak-anak adalah mengarang tentang ayah atau tentang ibu kalian, tulis di buku bahasa Indonesia. Saya akan periksa besok.” Setelah itu, beliau ke luar kelas.

Hanya begitu, yah hanya begitu saja akhir dari drama yang terjadi. Tidak ada amarah dari guru saya bahkan teguranpun   tidak ada. Hingga bel pulang sekolah berbunyi, kami pulang tanpa kata-kata seperti biasanya, karena pak guru tidak muncul di kelas. Beliau pulang.

Saya pulang dengan hati nelangsa, tetapi tidak berani memberi tahu orang tua. Hingga esoknya, saya  berniat mencari pak guru, bertekad untuk minta maaf kepadanya. Sebelum masuk kelas saya singgah membeli pisang goreng gerobak  (begitu biasa kami menyebutnya, pisang goreng gerobak)  yang ada di depan sekolah,   pisang goreng dbungkus dengan kertas.

Di depan kelas saya melihat pak guru sedang menghapus papan tulis yang tidak sempat kami hapus kemarin akibat ulah saya. Dengan takut-takut saya mendekati beliau, menyodorkan pisang goreng hangat yang saya beli tadi, beliau menoleh, memandangi saya, tidak tahu apa makna tatapannya karena  tidak berani menatapnya, saya tertunduk dalam sekali sampai-sampai tubuh  nyaris membungkuk.
Pak guru menyentuh kepala dan membelai rambut saya, bagai disetrum listrik berkekuatan 1000 watt, gemetar, tangis saya pecah lalu lari menghambur memeluk kedua kakinya. Pak Guru jongkok dan menatap mata saya, beliau menghapus air mata saya, dia tersenyum sambil berkata, “Kamu berbakat jadi penulis.”

“Saya minta maaf Pak.” Kataku terbata. Sekali lagi beliau tersenyum.
“Bapak yang minta maaf yah Nak, bapak tidak tahu perasaanmu.” Saya tidak bisa menggambarkan perasaan saya waktu itu. Yang jelasnya saya merasa berada di suatu tempat yang sangat sejuk. Apalagi ketika Pak Guru membuka bungkusan pisang goreng yang tadi saya berikan kepadanya sambil berkata.
“Ayo kita makan bersama pisang goreng ini, satu untuk kamu dan satunya lagi buat bapak.” Itulah pisang goreng ternikmat di dunia yang pernah saya makan. Hati saya lega.
Setidaknya saya merasa, kalau waktu itu saya sudah dimaafkan.



Read More

Terima Kasih IIDN

Thursday, May 25, 2017

Sudah lama tak menyapa “rumahku” ini, berhubung karena kesibukan dan kejar target sana-sini, padahal target itu setiap saat bertambah seiring dengan keegoisan diri.
Apa yang mau kuceritakan yah? Oh iyah tentang IIDN.

Ibu-ibu doyan nulis, sebuah komunitas yang saya masuki hampir dua tahun terakhir ini. Padahal usia komunitas ini sudah memasuki usia 7 tahun. Kalau dibandingkan dengan usia manusia, berarti IIDN sudah memasuki usia sekolah dasar. Yah IIDN sudah kelas 1 SD.

Yeaaah! Itu artinya IIDN sudah semakin “pintar” dan akan semakin banyak mendapatkan ilmu di bangku sekolah.  Padahal IIDN itu sendiri lebih laik disebut sekolah. Sekolah bagi ibu-ibu penghuni komunitas ini. Sekolah yang jauh lebih luas artinya dibandingkan dengan sekolah yang sesungguhnya, terutama sekolah bagi diri saya yang masih fakir ilmu ini.

IIDN, di dalamnya berkumpul ibu-ibu seluruh Indonesia bahkan ibu-ibu seluruh dunia yang memiliki hobbi, minat atau mungkin bakat yang serupa walau tak sama. Ada Ibu yang senang menulis artikel di web tertentu, ada pula yang nyaman menulis di blog dan tidak sedikit yang telah menelurkan buku.

Buku! Yah Buku, inilah benda yang menjadi jejak abadi setiap penulis, walau saat ini pada era komunikasi yang tanpa batas, buku bukanlah satu-satunya yang bisa menyimpan jejak kepenulisan seseorang. Karena tulisan-tulisan di blog juga akan abadi  bahkan lebih bisa dibaca oleh semua orang di seluruh penjuruh dunia.

Kembali ke IIDN, awal saya bergabung ke IIDN Makassar adalah derap langkah saya selanjutnya setelah merasakan nyamannya berada di IIDN pusat atau Ibu-ibu Doyan Nulis – Interaktif. Saya melangkahkan kaki ke kota Makassar, tentu saja  tanpa meninggalkan komunitas induknya, semua itu  karena terdorong asa untuk bersilaturahim dengan ibu-ibu yang sekota dengan saya, agar kami bisa saling berjabat tangan, cipika cipiki atau paling tidak mendengar cerita mereka sambil menatap gerakan bibirnya, ikut tersenyum melihat senyumannya. Masya Allah.

Saya sudah menikmatinya walaupun belum bertemu dengan seluruh penghuninya, tetapi paling tidak sudah pernah saling menyapa dengan yang lainnya terutama Ibu muda yang selalu bersemangat. Ketua IIDN Makassar, Mugniar. Sekaligus saya bermimpi, suatu saat saya juga akan bersenda gurau dengan seluruh penghuni IIDN di seluruh dunia, terutama berpelukan dengan pembuat komunitas ini Indari Mastuti.

Inilah komunitas dari sekian komunitas yang saya masuki, suatu komunitas yang khusus bersentuhan dengan kata “MENULIS.”
Di sinilah saya menemukan dunia yang telah lama saya tinggalkan, di sinilah saya menjumpai ibu-ibu yang luar biasa, bersemangat dan saling support tanpa batas dan tanpa pamrih.

Terima kasih kepada pencetus ide sekaligus pendirinya, seorang Ibu yang telah menginspirasi banyak perempuan Indonesia. Ibu Indari Mastuti.

Terima kasih atas semua yang telah diberikan. Saya yakin dan percaya bahwa setiap noktah yang tertuang baik berupa ide, tips-tips, suntikan-suntikan semangat pastilah tidak sia-sia, karena di Arsy sana Allah swt  sedang “menatap dengan senyum” dan melalui malaikat-Nya, akan mencatatnya sebagai pahala.

Terima kasih IIDN, selamat milad, semoga semakin berjaya. 


Read More