Jalan-Jalan di Pasar Tanah Abang

Thursday, July 14, 2022





Alhamdulillah, akhirnya impian saya jalan-jalan terwujud juga. Selama 12 hari saya melakukan perjalanan ke luar kota, bukan berdua sih seperti yang selama ini saya impikan, melainkan pergi berempat, saya, suami dan dua anak bungsu saya, yaitu si bungsu laki-laki dan satunya lagi memang real bungsu. 

Tidak jauh-jauh perginya, hanya ke Jakarta dan plus ke Bandung dua malam.

Di Jakarta, kami tidak mengunjungi tempat-tempat wisata, sebab memang tujuan utamanya bukan untuk berwisata melainkan untuk menemani Ami belanja buat jualannya. 

Makanya, jalan-jalan kami itu beberapa kali ke Pasar Tanah Abang dan ke Tamrin City saja. Dua kali saya dan suami menemani Ami ke Pasar Tanah Abang, pulang dari sana kaki terasa kaku karena keletihan.

Masyaallah, baru sadar kalau kami itu sudah menuju lansia, hahaha.


Ke Pasar Tanah Abang Yuk!


Hari kedua di Jakarta, saya memutuskan pergi berempat ke pasar Tanah Abang dengan naik mobil online. Jika dilihat Jarak tempuh dari apartemen si sulung ke pasar tanah abang sekitar 7,8 km dan bisa tiba di pasar hanya 22 menit. Itu kalau tidak macet.

Walaupun Jakarta identik dengan macet, tetapi kami beruntung saat ke sana jalanan lancar, macetnya sudah berlalu.

Kami turun dari mobil tepat di seberang pasar tanah abang blok A sehingga perlu menyeberang untuk sampai di depan pintu utama Blok A.

Sebelumnya saya mencari informasi tentang letak-letak kios berdasarkan jenis barang yang dijual melalui media online.

Dari rumah.com. dijelaskan kalau blok A pasar tanah abang itu terdiri dari 12 lantai di mana setiap lantainya terdapat mayoritas  jenis barang yang dijual. 

Lantai Basement 2 (B2) berderet toko yang menjual berbagai bahan tekstil dan peralatan menjahit. 

Lantai B1 menjual berbagai jenis seprei, gorden dan taplak meja

Lantai SLG terdapat berbagai jenis baju kantor seperti blazer dan jaz

Lantai LG menjual berbagai jenis perlengkapan ibadah muslim, seperti mukena dan sajadah.

Naik setingkat lagi, kita akan menemukan berbagai baju anak-anak.

Berikutnya adalah lantai 1 yang menjual berbagai jeans untuk pria dan wanita. 

Di lantai 2 kita akan disuguhi berbagai jenis pakaian batik,  terus ke lantai 3 mata akan disegarkan oleh berbagai jenis aksesoris karena di sini merupakan pusat aksesoris dan berbagai pilihan tas.

Bagi laki-laki, lantai 3A adalah tempat yang tepat karena di sini pusat penjualan menjual baju laki-laki dan

Terus ke   lantai 5 , maaf saya tidak menemukan lantai 4, entah apa alasannya sehingga langsung ke lantai 5 yang merupakan pusat grosir busana muslim, baik busana muslim laki-laki maupun busana muslim perempuan. Sementara di lantai 6, akan kita temukan lagi busana muslim perempuan, tetapi campur dengan busana perempuan pada umumnya.

Naik setingkat lagi, yakni lantai 7 adalah pusat grosir aneka macam sepatu. Saya tidak tertarik ke lantai 7 ini karena kami fokusnya ke pakaian saja. Takutnya malah kalap lihat sepatu atau sandal-sandal lucu.

Berdasarkan informasi tersebut, saya menyimpulkan kalau tempat pertama yang kami datangi adalah lantai 1, karena yang kami lihat adalah mayoritas kios yang menjual berbagai jenis jeans. Sekalipun ada beberapa toko yang menjual jenis barang lain, seperti pakaian dalam dan celana kulot dari kaus dan kain selain jeans.

Di lantai 1 inilah Ami mendapatkan inspirasi barang apa yang akan dia beli, dengan dibantu oleh adiknya Nabila. Saya dan suami sekadar menemani mereka. 

Bagi pendatang seperti kami, memasuki Pasar Tanah Abang itu ibarat memasuki labirin. Susunan nama kiosnya kadang membingungkan. Jalan saja terus, ketemu ekskalator naik, kami naik, jalan lagi terus ketemu eksklator turun, kami turun. Begitu saja terus hingga kaki kelelahan dan perut keroncongan.

Beruntung di lantai 8 terdapat food court, maka waktunya memberikan hak buat lambung yang sudah berdering nyaring dengan suara kriuk-kriuk. 

Mengitari berbagai jenis makanan di food court membuat niat diet saya langsung ambyar. Tahu kan ya, kalau lagi lapar-laparnya terus ketemu aroma makanan yang lezat, bisa ingkar janji sama niat sendiri. 


Makanan Apa Saja yang Tersedia di Food Court


Kami memasuki area food court ini dari pintu utara Blok A, langsung ketemu berbagai menu khas Padang, Rumah Makan Simay. Kami belum memutuskan mau makan apa, masih mau melihat-lihat menu apa saja yang ada.

Beberapa langkah dari Rumah Makan Simay, terdapat rumah makan serba bebek, namanya Bebek Gembul. Ada bebek penyet,  bebek bakar, bebek balado dan yang lainnya. 

Berjalan lagi beberapa Langkah, ketemulah warung Soto Betawi Bang Kamal. Saya dan Ami langsung jatuh hati pada berbagai menu soto dan sop, maka Saya pun memesan sop iga dan Ami memesan soto Betawi. 

Selain kedua menu yang kami pilih itu, terdapat juga berbagai pilihan menu soto dan sop lainnya. Tersedia juga sate ayam dan sate kambing.

Sementara itu, suami masih bingung mau makan apa demikian pula Nabila. Katanya, semua pilihan makanan nampaknya enak semua. Lah, tidak mungkin juga semua jenis makanan dipilih kan? 

Setelah mengedarkan pandangan sejenak akhirnya mata suami tertuju ke warung Alam Sunda. Di warung ini berderet menu makanan khas Jawa Barat. Ayam goreng, ikan goreng, aneka pepes hingga karedok, sayur asem dan pecal. 

Pilihan suami jatuh ke pecal. 

Sayangnya sudah habis, maka terpaksa Beliau kembali ke pilihan  pada pandangan pertama, yaitu rumah makan Simay. Demikian pula Nabila. Di rumah makan ini, Nabila dan bapaknya memilih lauk yang nyaris sama. Satu saja yang membedakan, Nabila menambahka tunjang di piring makannya.

Setelah semua  pesanan makanan kami ada di meja makan, kamipun makan dengan lahap. Yaaah, namanya juga sudah kelaparan maka hanya sekejap makanan kami ludes. Alhamdulillah.

Setelah perut terisi, kami pun siap  melanjutkan tawaf mengelilingi Pasar Tanah Abang. 

Tak elok rasanya mengelilingi pasar Tanah Abang tanpa mengetahui sedikit sejarahnya. Maka, mari kita menjelajah dan bertanya kepada om Google.  


Sekilas Sejarah Tentang Pasar Tanah Abang


Dari berbagai sumber dijelaskan bahwa, pasar yang menjadi salah satu pusat perdagangan terbesar di Indonesia ini, konon juga terbesar di Asia Tenggara. Lokasinya terletak di pusat Kota Jakarta.

Pasar ini dibangun pertama kali pada 30 Agustus 1735 oleh seorang saudagar Belanda , Yustinus Vinck. Semula disebut juga sebagai pasar Sabtu karena hanya dibuka setiap hari sabtu saja kemudian ditambah harinya yaitu hari Rabu pada tahun 1751.

Pasar Tanah Abang  mengalami perkembangan sangat pesat seiring dibangunnya  Stasiun Tanah Abang yang diresmikan pada tanggal 1 Oktober 1899.

Saat ini, Pasar Tanah Abang terdiri dari tiga gedung yang biasa disebut Tanah Abang Lama, Tanah Abang Metro dan Tanah Abang AURI. Untuk gedung Tanah Abang Lama terdiri atas tiga blok, yaitu Blok A, B dan F. Untuk blok A saja setidaknya terdapat 7833 kios dengan jumlah pedagang mencapai 4800 orang (Republika, 03 Juli 2021).

Sedangkan Tanah Abang Auri terbagi atas beberapa blok, yakni blok A, B, C, D, F, AA, BB dan CC. Blok-blok tersebut kecuali blok E merupakan kumpulan kios-kios yang menjual tekstil.


Tersesat di Pasar Tanah Abang


Kok bisa tersesat?

Kisah ini terjadi pada saat kunjungan kedua di Pasar Tanah Abang. Saya pergi  bertiga suami dan Ami. Nabila lebih memilih tinggal di apartemen.

Sepertinya Nabila sudah tahu kalau kami bakal tersesat, hal ini ia pahami kalau kami kembali ke pasar untuk mencari toko yang kemarin kami datangi untuk menukar baju.

Jadi, ceritanya waktu berkunjung di hari pertama yang awalnya hanya berniat menemani Ami belanja untuk jualannya, ternyata saya tergoda juga, hahaha.

Saat memilih-milih baju, Nabila menyarankan satu model baju yang konon katanya, itu modelnya kekinian. Saya pun mengikuti sarannya, saya coba di badan dan pas.

Tiba-tiba, suami berdiri dari tempat duduknya dan memprotes pilihan saya dan Nabila. Rupanya sedari tadi, beliau diam-diam mengamati.

“Sini, bapak pilihkan modelnya. Ini pilihanmu tidak baik. Mama nampak makin gendut dan tidak modern.” 

Alamak!

Saya dan Nabila hanya berpandangan kemudian pasrah saja dipilihkan.

Yap, sesekali menuruti selera suami, tidak apalah. 

Maka sibuklah beliau memilih-milih baju dan pilihannya jatuh pada satu baju yang modelnya lumayan ribet buat saya. Kemudian saya mencoba baju pilihan beliau sembari berdoa, semoga tidak pas di badan saya.

Ternyata harapan saya sia-sia. Baju itu pas di badan saya, maka tak ada alasan lagi untuk menolak pilihan beliau.  

Singkat cerita, baju itu dibungkus oleh penjualnya, tetapi yang dibungkus bukan yang dipajang atau yang saya coba tadi dengan alasan, dipilihkan yang masih baru.

Tiba di rumah, saya mencoba baju pilihan beliau. Astagfirullah! Ternyata  tidak muat di badan. Dengan sangat menyesal, suami berkata, “besok kita kembali ke toko itu untuk menukarnya.”

Maka jadilah kami bertiga kembali  mengelilingi Pasar Tanah Abang keesokan harinya. Kami berkeliling di dalam pasar dengan bermodalkan ingatan tentang posisi toko, raut wajah si penjual dan tempat duduk yang ditempati suami. 

Ternyata tempat duduk yang dimaksud bukan hanya satu, bentuknya sama dan banyak. Demikian pula posisi toko yang menyudut, di setiap sudut terdapat toko yang sama dengan jenis jualan yang sama.

Kata suami, “coba ada kuitansinya, pasti di sana tertera nama toko dan blok serta nomornya.”

Sayangnya waktu membayar baju tersebut, saya tidak kepikiran untuk meminta kuitansi, soalnya baju itu bukan untuk dijual melainkan untuk dipakai sendiri. Jadi saya merasa tidak perlulah minta kuitansi segala.

Setelah lelah berkeliling tanpa hasil, akhirnya kami memutuskan pulang.

Maksud hati mau pakai baju baru, apa daya badan tak muat. Maksud hati mencari toko baju, apa daya kami tersesat, ha-ha-ha-ha.


Makassar, 14 Juli 2022

Dawiah

Post a Comment