Atur Sajalah!

Friday, May 13, 2022

 




Akhirnya harus mengalah lagi dengan virus yang masih meresahkan ini. Rencana keluar daerah untuk refresing tertunda lagi dan entah untuk berapa lama.

 

Mungkin setelah masa pensiun tiba di mana usia semakin sepuh dan tubuh semakin lemah atau tidak sama sekali hingga pikniknya pindah ke dunia lain. 

Eh, astagfirullah! Istigfar ah, hi-hi-hi.

 

Lucunya, hanya saya yang kesal sedangkan orang terdekat yang rencananya akan  menjadi teman terindah dalam perjalanan justru tenang-tenang saja malah terkesan lega dan senang.

Mungkin memang sejak awal tak menginginkan rencana jalan-jalan itu. 

 

Saya jadi merenung, kok bisa ya kami hidup bersama hingga puluhan tahun lamanya sedangkan sifat kami jauh berbeda. Bagaikan bumi dan langit. 

Bisa yah, kami merasa klop saja dan membina rumah tangga selama ini padahal misi visi hidup kami berbeda, hobbi kami berbeda, cita-cita berbeda bahkan sudut pandang terhadap satu hal atau masalah selalu berbeda. 

 

Seperti impian saya yang ingin liburan berdua ini sejak awal dia tampak tak bersemangat. Ada saja alasannya untuk menunda rencana itu, padahal itu impian saya sejak anak-anak sudah besar dan sudah aman ditinggalkan di rumah.

 

Setiap kali saya bertanya, kapan bisa jalan berdua maka dia dengan songongnya berkata untuk apa lagi jalan berdua, kita kan selalu berdua, di sekolah berdua, di rumah berdua bla..bla..bla… kan kesal, heuuu.

 

Lalu tiba-tiba terbersit dalam pikiran untuk pergi sendiri, mau kasi pelajaran buat dia bagaimana rasanya ditinggal liburan sama istrinya. 


Namun, saya kok tidak tega yah?

Saya memikirkan, bagaimana kalau tiba-tiba dia sakit?

Bagaimana kalau sakit lambungnya kambuh?

Siapa yang akan mengurus pakaiannya? Sekalipun saya jarang menyeterika, setidaknya sayalah yang selalu mengontrol pakaiannya, pakai baju ini, cuci pakaian salatnya karena sudah dua tiga kali dipakai, dan sebagainya.

 

Akhirnya saya tercenung. Ternyata saya tak bisa pergi jauh-jauh darinya, hahaha.

Maka rencana pergi jalan-jalan saya kubur untuk sementara.

Biarlah kami di rumah saja. Saling mengurus satu sama lain.

 

Masyaallah, dia sangat gembira. Terus dia bilang begini.

Di rumah maki saja di… saya bebaskanki tidak melakukan apa-apa. Mauki tidur-tiduran saja atau mau membaca semua buku-bukuta yang ada di lemari atau mau menulis seharian di laptopta, bebas!”

 

Walaupun sedikit kesal, tetapi bukan Dawiah namanya kalau tidak tahu menggunakan kesempatan. Maka saya ajukan syarat lain.

“Baiklah, tetapi saya mau beli buku baru.”

“Beli saja sebanyak yang dimaui, asal jangan ngomel kalau uang belanjanya habis yah.” 

“Tidaklah, kan bukan uang belanja yang akan saya pakai. Mau pakai uang-ta.”

Dia hanya mengangguk sambil meraih bahu saya. 

“Atur sajalah.” Katanya.

 

Maka persoalan jalan-jalanpun selesai untuk sementara.

Niat dan cita-cita jalan berdua masih saya pelihara dalam hati. Tinggal tunggu waktu yang tepat, lalu rencana itu saya ajukan lagi, heuu...tetap.

 

Begitu ada waktu, maka kesempatan beli buku saya gunakan sebaik-baiknya. Saya ke toko buku, rencananya mau beli buku yang banyak. Dasar jiwa hemat ala emak-emak saya masih ada, jadinya hanya beli tiga buku. 




Pulang dari toko buku, dia bertanya.

“Beli buku berapa?” 

“Tiga saja, padahal saya mau beli banyak.” Sedikit menyesal hanya beli tiga.

“Setelah ketiga buku ini tamat saya baca,  mauka beli lagi na…” 

Kalian tahu apa yang dia bilang?


“Atur sajalah!”

 

Auu ah ….

 

Catatan.

 

Tulisan di atas adalah  curhatan saya saja. Seperti biasa, saya senangnya menulis sesuatu yang remeh temeh seperti ini, hihihi.

Kata seorang mentor menulis, tidak apa-apa menulis yang ringan-ringan sesekali, nanti juga terbiasa akhirnya yang ringan bisa menjadi tulisan yang agak serius sedikit lalu nulis yang betul-betul serius.

 

By the way, tulisan yang serius itu seperti apa yah?

Bantu jawab di kolom komentar yah!

 

 

10 comments

  1. Beuh pantasan tadi waktu ketemu, Kak Dawiah beli buku lagi ya :D

    Btw, saya nonton drama seri Wedding Agreement di salah satu aplikasi nonton, Kak ... lagi main, tiap pekan satu episode keluar .... bagus juga ceritanya walau bikin geregetan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iye hahaha. Malasku kalau harus menunggu tayangnya sepekan sekali, makanya beli bukunya saja biar langsung tuntas.
      Tapi katanya teman yg pernah baca ceritanya dan nonton juga, ada sedikit perbedaan. Wuih, jadi penasaran mau nonton juga.

      Delete
  2. menulis dimulai dari cerita sehari hari lalu dikembangkan dengan tambahan informasi penting yang terkadang tak disadari sungguh bermanfaat. Apalagi kalau seperti bercerita begini ide jadi mengalir lancar ya kak

    ReplyDelete
  3. Aku seneng yang receh gini mudah dicerna dan ditemui sehari hari, kita beda mbak kalau aku baisa pergi pergi sendiri suami ijinin tega ga tega biarinlah hahaha ada masanya dimana ga harus bersama yg ptg tetep hepiii

    ReplyDelete
  4. Hihihi..justru lebih asyik baca tulisan yang terkesan ringan padahal banyak hikmah yang bisa diambil, loh, Bun.
    Saya jadi bisa tau, ternyata dia orang yang banyak perbedaan, masih bisa menua bersama.
    Barakallah ya, Buun...

    ReplyDelete
  5. Tulisan serius sepertinya berbau penelitian, ada data-analisis, kesimpulan. Haha...ini mah jurnal. Memang benar sih, mau pergi sendiri, malah kepikiran, nanti makannya gimana. Soalnya kami memang tinggal dua-an aja di rumah. Akhirnya saya seret...hehe...paksa ikut saja. Malah menikmati tuh, walau saya perginya bersama rombongan teman saya. Dia yg lebih bisa bergaul...

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah~
    Seneng banget dibebaskan untuk berbelanja apa saja, Bunda.

    Kalau di keluarga kami, kebalikannya.
    Suami hobi banget ngajakin ber"petualang", sedangkan aku anaknya mageran. Apa-apa enak di rumah. Bahkan karena sekarang ada aplikasi pesan makan online, pas diajak makan di luar, aku nawar, isiin OVO-ki aja yaa.. Sini aku pesenin makanan online.
    Hahaha...

    Ternyata justru disanalah letak keberkahannya yaa, Bunda.

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah~
    Seneng banget dibebaskan untuk berbelanja apa saja, Bunda.

    Kalau di keluarga kami, kebalikannya.
    Suami hobi banget ngajakin ber"petualang", sedangkan aku anaknya mageran. Apa-apa enak di rumah. Bahkan karena sekarang ada aplikasi pesan makan online, pas diajak makan di luar, aku nawar, isiin OVO-ki aja yaa.. Sini aku pesenin makanan online.
    Hahaha...

    Ternyata justru disanalah letak keberkahannya yaa, Bunda.

    ReplyDelete
  8. Hehehe semua bisa diatur kok ya bund. Bunda tuh sama dengan saya berarti. Suami saya pun kurang suka jalan sementara saya suka jalan-jalan. Punya impian juga bisa jalan-jalan berdua aja gitu. tapi ya gitu deh. Karena pasangan itu ya saling mengalah, saling menerima dan saling memahami

    ReplyDelete
  9. Hihihi curhatan sederhana yg bikin ketawa. Klo beda sifat sebenernya bagus jg krn bs saling melengkapi. Lalu klo urusan jalan2 aku lbh prefer sama suami klo bisa hihihi, jd lbh aman dan nyaman.

    ReplyDelete

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Name

Email *

Message *