Haru Biru di Tahun 2016

Tuesday, March 7, 2017

Minggu, 01 Januari 2017



Tahun 2016 baru saja berlalu menurut penanggalan Miladiyah.
Begitu banyak peristiwa yang terjadi dari hari ke hari. Tahun 2016 ini adalah hari yang penuh kebahagiaan tahun memetik hikmah atas peristiwa duka diakhir tahun 2015. Karena tahun 2015 bagiku adalah tahun yang penuh sensasi. Tahun dimana saya dianugerahi nikmat yang luar biasa, penuh dengan berkah Allah SWT sekaligus sebagai tahun  yang sarat dengan cobaan dan ujian.
Saya tidak menangis apalagi meraung, saya terdiam. Sepertinya bersabar. Namun saat itulah saya merasakan kekosongan jiwa. Tidak punya impian, Semua rutinitas berjalan biasa, berusaha melakoni aktifitas dengan baik namun hampa.
Maka hari ini, 1 Januari 2017, saya akan menuliskan kenangan-kenangan yang tidak kalah sensasinya di tahun 2016. Perjalanan kehidupan ibarat kaleidoskop atau bisa juga disebut refleksi diri.
Menata Puing-puing.

Januari 2016, saya kembali ke rumah. Rumah yang telah runtuh akibat peristiwa kebakaran. Api yang telah melalap habis rumah dan seluruh isinya. Saya berharap inilah yang pertama dan terakhir.
Memasuki rumah yang penuh kenangan ini terasa ada sedikit luka, luka itu tidak terlalu besar tipis saja sayatannya tetapi perih bagaikan sayatan silet. Hampir setiap hari saya merasakan sayatan-sayatan itu. Perihnya terasa setiap kali berada di tempat tertentu dan terasa setiap melakukan aktivitas-aktivitas  tertentu. Misalnya, sedang memasak maka luka sayatan itu muncul tanpa direncanakan, mendapati ruang dapur yang kosong  tanpa peralatan dapur. Yang tidak kalah perihnya adalah ketika mau membaca, buku-buku yang saya kumpulkan bertahun-tahun silam juga telah musnah.  
Namun, perlahan-lahan saya dan keluarga mulai menata kehidupan, mencoba menerima situasi yang serba kekurangan itu.  Hubungan dan kasih sayang diantara anak-anak saya semakin terjalin indah, terlihat dari keikhlasan mereka untuk saling berbagi pakaian. Jika si sulung akan keluar rumah maka si adik merelakan pakaiannya dipakai oleh si kakak demikian pula si sulung. Satu celana dipakai berarma-ramai, hehehe…yes mereka semakin saling memahami.
Hikmah lain dari musibah itu adalah kedua anakku yang kebetulan telah menyelesaikan pendidikannya menjadi semakin bersemangat mencari pekerjaan. Awalnya mereka berencana melanjutkan pendidikan ke S2 karena melihat kondisi keuangan orang tuanya akhirnya memutuskan untuk menunda cita-cita mereka.
“Saya mau cari pekerjaan dulu ma..untuk membantu keluarga, doakan ya ma..” kata si sulung dengan mantap.
“Saya juga, doakan saya juga ma..” kata si adik.
Subhanallah..alhamdulillah, mereka benar-benar telah dewasa. Niat mereka untuk membantu keluarganya membuatku terharu sekaligus bangga.
Mama pasti mendoakanmu nak!
Tahukah kalian? Di sepertiga malam, setiap selesai bersujud kepada Ilahi, mama mendatangimu, mengusap kepalamu sambil berbisik dalam hati, “mama takut meminta kekayaan kepada Allah atas dirimu, mama hanya meminta, cukuplah kamu menjadi anak yang sholeh, urusan kekayaan dan kesuksesan biarkan Allah yang mengatur hidupmu”.
Allah azza wajallah tidak pernah tidur! Sulungku mendapatkan pekerjaan yang menurutnya itu sangat sesuai passionnya, sesuai pula dengan pendidikannya, Alhamdulillah, saatnya si sulung memasuki dunia baru lagi, dunia pekerjaan yang pasti lebih dinamis. Ketika dia pamit ke Bandung, tempat tugasnya, saya hanya berpesan, “hati-hati, jaga sholatmu, jaga ibadahmu, jaga hatimu!
Beruntun mendapatkan anugrah dari-Nya, si adik juga mendapatkan pekerjaan yang diharapkannya. Masih dengan pesan yang sama sebelum memasuki dunia yang lebih “keras”. Hati-hati, jaga sholatmu, jaga ibadahmu, jaga hatimu!



Februari di Pulau Lakkang

Ada satu kegiatan yang sangat mengasyikkan di bulan Februari 2016. Kegiatan muridku, yaitu kegiatan Hizbulwathan, suatu kegiatan kepanduan Muhammadiyah yang dilaksanakan di suatu pulau di tengah-tengah kota Makassar. Pulau Lakkang. Pulau ini adalah kelurahan dan pulau di kecamatana Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Sekalipun saya asli penduduk Makassar, tetapi baru kali itulah saya menginjakkan kaki di pulau itu. Sangat indah dengan luas  1,65 km2, jumlah penduduk kurang lebih 976 jiwa dengan ramah menyambut kami, menyambut semua peserta kegiatan kepanduan itu. (suatu saat saya akan menulis tentang pulau ini).
Sungguh bahagia rasanya bersama anak-anak yang bersemangat, berlomba, berkreasi, bergembira. Mereka  saling memamerkan ketangkasannya mendirikan kemah, memamerkan kepandaiannya memasak, memamerkan kelincahannya menari, menyanyi. Wow…luar biasa! Maka bahagia itu memang sederhana.













Titik Balik di Bulan September

Di bulan ini, untuk pertama kalinya mengikuti training online, training ini adalah hadiah atas kemenangan saya dalam suatu lomba menulis puisi yang dilaksanakan oleh grup Tips Nulis dan Bisnis. Puisi itu sebenarnya saya adaptasi dari puisi saya sebelumnya, karena harus bertemakan lomba maka berubahlah beberapa kata-katanya.
Dari puisi ini.
Perlahan tapi pasti…
Mentari menukik ke ujung barat
Tersenyum malu melambaikan tangan
Seakan mengisyaratkan seribu tanya
Akankah kita bertemu esok
Karena bisa jadi malampun tak akan bersua

Perlahan tapi pasti..
Ingatan muncul pada senyum manismu
Terasa indah
Menari-nari di pelupuk mata
Melambai-lambai mesrah

Perlahan tapi pasti..
Mata nakal mulai melirik
Pada ajakan manjamu
Bermesraan di taman kasih

Inginnya hati merengkuhmu
Namun jiwa menahan
Pelan-pelan saja…
Wahai diri

Pupuk saja kesabaranmu
Lalu teruslah berjuang tanpa lelah
Karena…
Perlahan tapi pasti….
Maka kepastian cintamu akan berlabuh

Menjadi seperti ini.
Perlahan tapi pasti…
Mentari menukik ke ujung barat
Tersenyum malu melambaikan tangan
Seakan mengisyaratkan seribu tanya
Akankah kita bertemu esok
Karena bisa jadi malampun tak akan bersua
Perlahan tapi pasti..
Ingatan muncul pada Grup tips Nulis dan Bisnis 13
Tulisan indah penuh  inspirasi
Kata-kata manis penyemangat jiwa
Menari-nari di pelupuk mata
Melambai-lambai menarik masuk ke indscrip  Training Center
Perlahan tapi pasti…
Mata tertuju pada TOD: bagaimana membisniskan tulisan
Namun hati menahan karena segumpal benak.
Berbisik lirih mengajak ke Sekolah Perempuan
Perlahan tapi pasti..
Mata nakal mulai melirik
pada ajakan manja dari sang mentor
untuk melabuhkan hati pada Heart Selling

Inginnya menapakkan hati pada semua training itu
Namun jiwa menahan sambil tersenyum simpul
Pelan-pelan saja…
Satu persatu wahai ibu

Pupuk saja semangatmu
Lalu teruslah berjuang tanpa lelah
Karena…
Perlahan tapi pasti…
Asal bersama Indscrip Training Center
Maka kepastian citamu akan tercapai

Inilah titik balik kebangkitan saya dalam kepenulisan.  Mengikuti training online yang dimentoring Indari Mastuti, membuka cakrawala berpikir saya tentang menulis yang baik. Lalu terciptalah tulisan-tulisan inspiratif yang menjadi bahan pelatihan menulis saya. 
Saya semakin “haus” dengan ilmu menulis karenanya saya meminta bergabung ke  berbagai grup menulis. Salah satunya adalah grup  IIDN Makassar yang digawangi seorang ibu muda yang luar biasa. Ibu Mugniar. Melalui beliau saya mengenal berbagai komunitas blogger.
Saya mulai lagi belajar ngeblog. Karena saya memang bukanlah blogger yang handal, saya masih dalam taraf belajar. Tulisan-tulisan hasil training itu saya posting di blog. 
Awal bulan Nopember, saya memenuhi lagi perasaan “haus” saya dengan mengikuti sekolah tentang menulis. Sekolah Perempuan, sekolah yang mengajarkan tentang berbagai ilmu yang berhubungan dengan menulis dan masih berlangsung sampai hari ini. Sangatfeel incredible, (sok-sok bahasa Inggris, hehehe..) semangat belajar saya bangkit bagaikan mendapatkan amunisi baru dalam kehidupan saya.  Dengan percaya diri, saya memutuskan bahwa, menulis telah menguraikan kesedihanku menjadi simpul-simpul kebahagiaan.

Kemenangan di Bulan Nopember

Mengikuti lomba menulis kisah inspiratif adalah kegiatan yang pertama kali saya ikuti di tahun 2016. Ini adalah lomba menulis ke-dua yang saya ikuti. Yah..karena beberapa puluh tahun silam, waktu saya masih SMP pernah juga mengikuti lomba menulis dan berhasil meraih juara tiga. Tetapi lomba yang saya ikuti kali ini, sangat berbeda dengan lomba yang saya ikuti puluhan tahun lalu itu. Jelaslah sangat berbeda, karena waktu itu, tulisan tangan yang baik dan indah menjadi bagian penilaian. (hihihi..lucu juga mengingat masa itu). 
Lomba menulis kisah inspiratif dengan tema “Bangga Jadi Ibu” yang akan diumumkan pada bulan Desember 2016. Awalnya saya ragu mengikuti lomba itu, karena pesertanya adalah ibu-ibu seluruh Indonesia yang beberapa diantaranya adalah ibu-ibu yang sudah berpengalaman dalam dunia menulis.
Bismilllah, saya percaya diri saja mengikutinya. Saya lalu mencoba menuliskan kisah saya sebagai ibu dengan empat orang putra dan seorang putri. Tulisan itu saya beri judul  “Anugerah Terindah”.  Saking bersemangatnya saya menuliskan lagi kisah saya  yang terinspirasi dari album foto yang saya temukan, tulisan itu saya beri   judul “Album Foto Usang”. 
Taraa…”Album Foto Usang” masuk dalam 99 finalis penulis antologi “Bangga Jadi Ibu”. Subhanallah. Alhamdulillah, kabar yang sangat membahagiakan. Walaupun tulisan itu tidak juara tetapi saya merasa sudah menang, mengalahkan ketidak percayaan diriku.

Mengharu biru di bulan Desember.

Aksi damai 212 adalah peristiwa di Indonesia yang mengharu biru perasaan saya. Melihat saudara-saudara muslim saya melakukan aksi super damai walaupun hanya melalui tayangan di televisi, melihat foto-foto postingan di media sosial telah memekarkan lagi perasaan cinta saya terhadap agama saya. Cinta yang selalu saya pelihara di hati dan senantiasa berusaha memupuk, menyemai dan menyiraminya.  Hari itu, tanggal 2 Desember 2016, terasa cintaku berkobar luar biasa. Dua dari lima anakku yang ikut aksi damai 212 itu mengirimkan  foto-fotonya. Alhamdulillah, sekalipun mama tidak bisa ikut tetapi kalian telah mewakili mama. Terima kasih anak-anakku, mari kita menanamkan cinta kepada agama kita dan menyebarkan kedamaian kepada seluruh makhluk di bumi ini.

Selalu, bulan Desember adalah bulan yang istimewa buat saya, karena di bulan inilah saya terlahir 52 tahun silam, tepatnya pada tanggal 11 Desember.  Tanpa direncanakan sebelumnya, saya bersama suami mengunjungi Yogyakarta tepat di hari ulang tahun saya itu. Inilah kali pertama kami berwisata bersama. Seakan-akan kami merayakan ulang tahun saya di Yogyakarta, padahal sesungguhnya hanya kebetulan saja.
Berwisata bersama suami di pegunungan Dieng yang indah, sejuk sesejuk perasaan kami. Lalu mengunjungi Telaga Warna bagaikan memantulkan warna warni kehidupan keluarga kami. Subhanallah. Semoga cinta kami semakin dikuatkan.
Inilah akhir  yang indah di tahun 2016.


Post a Comment