MANTAN TERINDAH

Selasa, 05 Februari 2019



Beberapa waktu lalu, Nabila bertanya serius ke bapaknya.
"Siapa mantan-ta Pak?"

Bapaknya tersenyum sambil melirik saya.
"Mantan bapak itu perempuan cantik dan langsing, tapi itu duluuu. Sekarang tidak langsing-mi."

“Deh Mama.” Nabila melengos.  

Heuu … Nabila tahu saja kalau itu ditujukan ke saya. Untungnya saya lagi sibuk di dapur, kalau tidak? Yah tidak apa-apa  hehehe…

Kenapa yah, mantan itu selalu dianalogikan sebagai mantan pacar, mantan istri, dan sebagainya.  Padahal pengertian mantan menurut KBBI adalah bekas pemangku jabatan (kedudukan).

Masyarakat Indonesia memang sangat kreatif,  sehingga pengertian kata mantan berkembang menjadi lebih beragam. Makanya  setiap orang  yang melekat pada kata bekas, diartikan atau disamakan dengan kata mantan.  

Misalnya mantan sahabat, mantan suami, mantan istri, mantan bos, dan mantan-mantan lainnya.

Baiklah, kita sepakat saja kalau mantan itu adalah orang  yang pernah dekat atau berhubungan langsung dengan kita, lalu tidak berhubungan lagi sekarang, atau malah semakin dekat.

Sepakat jugakah kalian, kalau ada mantan  yang menyisakan tangis tapi ada juga yang menyimpan kenangan indah? Kalau saya, YES.

Nah, tulisan saya kali ini adalah khusus menuliskan mantan terindah, yang telah mematrikan kenangan manis di sepanjang hidup saya. Asyik!

Kalau mantan yang menorehkan luka, kita lupakan saja yah. Usir jauh-jauh, hanya bikin sesak di dada.

Dukungan dan Kepercayaannya Membuat Saya Berani


Tahun 1983 saya tamat SMA dan berhasil lulus di IKIP D2 Jurusan IPA. Itu artinya, dua tahun kemudian saya sudah bisa disebut guru. Tapi anehnya saya tak pernah suka dengan profesi itu. 

Manalah tidak populer buat tamatan SMA yang ada di kota, ditambah lagi profesi yang tidak menjanjikan kesejahteraannya.

Bahkan teman-teman seangkatan saya, kalau ketemu selalu mencibir. 
“Jadi guru? Kapan kayanya?”

Ditengah kegamangan itu, saya bertemu dengan Pak Saiful Alam.  Beliau adalah Wakil Kepala Sekolah di SMA saya dulu, sekaligus menjabat sebagai Ketua Majlis Pendidikan Muhammadiyah di Cabang Bontoala.

Setelah mengetahui kalau saya kuliah di IKIP, Beliau menawarkan pekerjaan, jadi guru honorer di sekolah yang beliau pimpin, SMP tempat saya tamat.

Pikiran masa muda saya sederhana saja. Lumayan bisa kuliah sambil kerja, dapat honor pula. 

Maka jadilah saya guru paling muda di sekolah saya dulu. Bertemu kembali dengan mantan guru-guru juga mantan kepala sekolah saya.

Sebagai guru baru, usia muda dan minim pengalaman, wajarlah kalau kemampuan saya dipertanyakan. Mau melawan, takut kualat. Mereka itu kan guru-guru saya.

Tetapi dukungan Pak BN Razak, kepala sekolah saat itu sangat membantu saya. Selalu teringat dengan semua nasehat-nasehatnya.

“Jika kamu dipandang sebelah mata, tunjukkan kemampuanmu. Bekali diri dengan ilmu dan jangan pernah berhenti belajar hingga ajal menjemput.”

Pak BN Razak, memang mantan guru sekaligus kepala sekolah saya yang paling keren. Darinya saya belajar tentang keberanian mengekspos kemampuan diri.  

Doamu Terkabul, Pak!


Sejak SD saya suka membaca. Segala jenis bacaan saya lahap. Salah satu kebiasaan saya setelah membaca, adalah menuliskan ulang hasil bacaan itu. Yah, mungkin saya juga suka menulis.

Hanya saja waktu itu, menulis belum sepopuler sekarang. Maka jadilah saya sebagai penulis di lembaran terakhir buku tulis, yang hilang seiring dengan penuhnya buku tulis tersebut.

Apa saja yang saya lihat dan rasakan, selalu saya tulis pada lembaran terakhir buku tulis. Hingga suatu waktu saya menuliskan kejengkelan kepada bapak guru saya.

Baca kisahnya di postingan:  Maafkan Saya Menulis Tentang Bapak

Namanya Pak Muda. Beliau guru kelas IV,  berwibawa dan tegas. Saya mencaci-maki Beliau lewat tulisan di kertas. 

Insiden itu meninggalkan penyesalan yang sangat besar sekaligus pembelajaran yang sangat berharga.

Untungnya Beliau guru yang baik dan pengertian. Beliau mengatakan kalau saya adalah penulis berbakat, sekaligus didoakan agar menjadi orang yang sukses.

Apakah saat ini saya sudah sukses atau tidak? 
Bagi saya, doanya  telah terkabul. Anggap saja begitu.

Sikap yang dia perlihatkan telah menanamkan karakter yang sangat baik terhadap saya. Mantan guru yang baik hati dan ikhlas memaafkan. Saya  sangat bangga telah menjadi muridnya.

Semoga kenikmatan surga menyambut Bapak di sana.


Siapa Guru Siapa Murid?



Sepuluh tahun terakhir, perkembangan media sosial sungguh luar biasa. Orang seusia saya dan beberapa tahun di bawahnya menjadi imigran digital.

Salah satu dampak positifnya, adalah munculnya grup-grup media sosial yang bertujuan  untuk mengumpulkan kembali kawan-kawan lama yang terserak.

Hingga suatu hari, saya disapa via whatsApp oleh seorang laki-laki. Beliau memperkenalkan diri sebagai mantan murid saya tahun 1986.  

Singkat cerita, saya diundang ke grup  whatsApp yang mereka bentuk. Saya satu-satunya guru mereka di grup itu. Tersanjung juga rasanya.

Grup itu ramai sekali. Setiap hari, selalu diawali dengan absen dan hampir setiap bulan mereka reuni. Hahaha…

Beberapa kali saya ikut bergabung. Mantan murid-murid saya itu sangat kompak, mereka selalu berbagi tawa dan kebahagiaan. Bukan cuma itu, jika ada temannya yang berduka, maka merekapun akan  sigap membantu.

Saya dan mereka adalah  teman rasa saudara. Siapa guru siapa murid?  Tak ada bedanya.

Ah,  kalian memang mantan murid terindah.

Mendampingi murid-murid pada tahun 1986.Percaya kan, saya pernah langsing 😃


Sekarang, saya dan mereka beda-beda tipis 😅


Andai Kamu Tak Bersabar


Saya benci lihat laki-laki itu. Bayangkan saja, baru pertama kali bertemu, dia langsung bicara ke teman-teman.

“Ibu guru baru  itu nanti jadi istriku.”

Hiii … siapa kamu? Muka pas-pasan, tubuh ceking kurang gizi itu mau jadi suamiku? 
Chiss ... ogah! 
Dalam hati saya ngedumel. 

Tahu ndak, itu terjadi di sebuah desa yang masih kategori desa terpencil waktu itu, tahun 1986. Desa yang belum ada listriknya dan  transportasinya juga  belum lancar.

Padahal saya harus ke kota setiap hari Jum’at dan Sabtu, untuk mengajar di sekolah lama. Saya masih terikat kontrak soalnya.  Selain itu, saya juga harus menjenguk keluarga yang ada di kota.

Di tengah kurangnya fasilitas itu, saya mulai melirik laki-laki ceking itu. 

Kelihatannya dia bisa nih bantu saya. Orang tuanya juga tinggal di kota, dan setiap akhir pekan ia pulang, dan yang lebih menarik hati, dia punya motor vespa. Ini poin paling pentingnya.

Hahaha… Ini namanya niat culas.

Saat saya utarakan niat culas itu, ia bilang begini.
“Ahaiii…ini dibilang, pucuk dicinta ulampun tiba.”

Sejak saat itu, kami selalu pulang bersama. Berboncengan motor vespa setiap akhir pekan.
Hampir dua tahun kami bersama tapi tak ada kata sepakat untuk bersatu.
Beriring tapi tak sehati. 


Dengan sabar, ia menjemput dan mengantarkan saya  pulang pergi dari desa ke kota.

Ternyata sabar itu tak berbatas. Setiap ia habis mengantarkan saya di ujung lorong, ia bertanya, “kapan saya masuk ke rumahmu?”

Saya jawab dengan enteng, “nantilah kalau saya sudah siap.”
“Siap apa?” Tanyanya penasaran.
“Siap dilamar.”

 Aups saya kecolongan. Itu suara hati kali yah?

Untunglah ia sabar.

Kalau tidak, ia tak akan pernah menjadi mantan terindah sekaligus menjadi bapak dari kelima anak-anakku.


READ MORE

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Nama

Email *

Pesan *