Sabtu, 04 Agustus 2018

HIJRAH

Tujuh tahun lalu, saat aku pindah dari rumah lama ke rumah yang sekarang kutempati, tiba-tiba kesadaran itu muncul kalau aku mengalami perubahan peristiwa yang berbeda setiap tujuh tahun. Aku menyebutnya sebagai     lompatan  peristiwa.

Tujuh tahun berada dalam suatu tempat lalu pindah ke tempat lain dan  tujuh tahun kemudian pindah lagi ke tempat lain, dan tujuh tahun berikutnya pindah lagi ke tempat yang baru.  Empat  kali tujuh tahun berada di tempat yang berbeda. Mungkinkah tujuh tahun kemudian aku pindah lagi? 
Mungkin ke dunia lain?
Wallahualam Bissawab.



Ajaibnya, proses perubahan dalam  kurun  waktu tujuh tahun itu bukan hanya soal pindah tempat saja, tetapi juga perubahan tempat kerja, perubahan kebiasaan, perubahan pola pikir, dan perubahan perasaan.

Uniknya lagi setiap tujuh tahun aku merasa déjà vu, sehingga aku merasa tidak asing lagi dengan peristiwa yang kualami.  Aku mau memberikan nama atas setiap peristiwa itu dengan kata HIJRAH.

Sekalipun kata HIJRAH lebih umum dikenal sebagai peristiwa pindahnya  Nabi Muhammad saw bersama sebagian pengikutnya dari Mekah ke Medinah demi menyelamatkan diri dari tekanan kaum kafir Quraisy. Tetapi bukankah HIJRAH itu bisa juga diartikan sebagai berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu.  Bisa saja alasan itu karena ingin berada di tempat yang lebih baik, atau bisa jadi karena ingin mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang baik.

Hijrah, kuartikan juga sebagai meninggalkan  perangai buruk menuju sikap yang lebih baik, meninggalkan  hati yang kotor ke  hati yang lebih bersih.  Bahkan aku artikan hijrah itu sebagai meninggalkan lingkungan  pergaulan atau komunitas yang buruk menuju lingkungan dan  komunitas yang baik. Meninggalkan  sesuatu yang membuatku sakit menuju sesuatu yang bisa menjadikanku lebih sehat. Sehat rohani dan jasmani.

Tujuh Tahun Pertama

Tanpa sengaja aku membuka sebuah dompet, di dalamnya kutemukan sebuah benda berbentuk segiempat. Benda itu dibungkus kain  putih yang dililiti benang hitam. Rasa penasaran mendorongku untuk membuka benda itu. Lilitan benang hitam kugunting dengan hati-hati lalu kubuka kain pembungkus benda itu helai demi helai hingga pada helai terakhir. Terlihat ada semacam kertas foto ukuran 4 x 6 tetapi tanpa gambar.

Oh, rupanya itu memang dua lembar kertas foto yang disematkan satu sama lain dengan menggunakan benang putih. Kedua foto itu disatukan  dengan menghadap-hadapkan gambarnya sehingga yang terlihat hanya kertas putih bagian belakang foto.
Perlahan-lahan aku mengurai benang putih hingga kedua foto terlepas.

Astagfirullah!

Salah satu foto itu adalah fotoku dan foto lainnya adalah foto laki-laki yang sangat aku kenal. Diam-diam aku mengambil fotoku, kumasukkan ke dalam dompetku sedangkan foto laki-laki itu aku sobek-sobek lalu kubuang ke dalam kloset.

Itulah terakhir kali aku menginjakkan kaki di rumahnya.  Aku tak tahu,  apakah ada hubungan antara kloset yang busuk dengan foto yang kubuang di dalamnya.  Sebab setelahnya,  aku memandang orang dalam foto yang kubuang itu seakan melihat kloset.

Sama busuknya dan menjijikkan!

Peristiwa itulah yang mengawali tujuh tahun pertamaku dalam  sakit yang ajaib.
Mengapa kusebut ajaib?

Sebab sakit itu tidak dapat didiagnosa dokter sehingga tidak ada satu reseppun yang bisa dituliskannya untukku. Dua kali tujuh tahun, aku “menikmati” penyakit unik itu. Kadang datang menyerang disaat aku terlelap sehingga tidurku terganggu. Terkadang muncul saat aku tertawa senang menyebabkan tawaku terhenti berganti tangis memilukan. Sungguh, masa itu adalah masa yang berat dan menyiksa.

Namun aku meyakini janji Allah dalam kitab suciku.

Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada Kami ada suatu catatan yang menuturkan dengan sebenarnya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan).” (QS: Al-Mu’minun; 62).  


Keyakinan itulah yang menjadikanku sanggup memikulnya, buktinya aku masih berdiri tegak hingga kini. Aku bisa melampauinya dengan melakukan banyak hal baik dalam hidupku.
Dua kali tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat, namun saat melompati tahun ke-15 dan seterusnya hingga kini, masa itu sudah tak terasa. Bahkan aku cenderung lupa jika di masa lalu aku pernah mengalaminya.

Itu kisahku, rekam jejak dalam kehidupanku. Menjadi kenangan yang tak mungkin terhapus begitu saja. Namun aku tak perlu mengenangnya terlalu dalam. Cukuplah kulirik sejenak sebagai pengingat agar arah yang akan kutempuh tidak membentur sesuatu. Bagaikan kaca spion yang hanya dilirik sejenak dan sekedarnya saja.

Seperti kata para leluhur,  setiap kesalahan yang dilakukan orang lain terhadap diri kita pastilah akibat dari perbuatan kita sendiri, atau ada peristiwa “resonansi” antara kita dan orang tersebut. Bisa jadi yang kualami itu adalah buah dari perbuatanku juga yang tidak kusadari.

Semoga setiap rekam jejak yang buruk dan tidak baik dapat ditimpa oleh rekam jejak lainnya yang lebih baik. Ibarat file yang salah kemudian dihapus lalu ditimpa dengan revisi  file lainnya. Walaupun tidak sesederhana itu.

Setidaknya setiap kesalahan dapat diampuni lalu ditutupi dengan kebaikan, maka kuyakini itulah hijrahku yang pertama.

Memaafkan dan melupakan.

To be continued …

13 komentar:

  1. iya bunda. Memaafkan akan mempermuda masa depan

    BalasHapus
  2. Terbawa perasaan membacanya,, benar,, Tuhan memberikan ujian yang pasti umat-Nya mampu untuk menghadapi..

    BalasHapus
  3. Memaafkan dan melupakan = berdamai dengan diri se diri agar hidup ikut terasa damai. Makasih kk.. tulisannya bagus sekali ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama. Satu-satunya cara agar hidup damai, yah memaafkan dan melupakan

      Hapus
  4. Wah dalam sekali perasaan yang muncul dari tulisan ini. Sehat terus ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, terima kasih ya. Sehat juga buat mbak

      Hapus
  5. Saya malah salah fokus, eh maaf bun. Tapi agak unik yah, peristiwanya bisa berpola begitu.

    Oiya saya juga pernah baca, kalau otak kita bisa mendistorsi kenangan2 buruk.

    Sehat selalu bunda, and keep inspiring :)

    BalasHapus
  6. Apakah ini sama artinya dengan Tujuh Purnama hahahaa... sorry canda. Tapi memang ya, hijrah itu adalah berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Sama halnya dgn mengubah perilaku yg buruk ke yang lebih baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa tongji disebut tujuh purnama di hehehe....

      Hapus