Senin, 27 Agustus 2018

GAMANG


10 tahun bukanlah waktu yang singkat dalam  menanti buah hati. Kerinduan yang teramat dalam di hati Nisa akan kehadiran anak selalu datang tanpa diundang.
Rumah yang luasnya cukup untuk 6 kamar berukuran 5 x 4 ditambah ruang tamu, ruang tengah, dan dapur dengan luas 6 x 6 itu terasa sangat lengang. Nisa sedikit menyesal membeli tanah seluas 2500 m2 itu. Walaupun bangunan rumah yang berdiri di atasnya tidaklah terlalu luas, namun tetap terasa sangat sunyi.
Rumah mungilnya yang dikelilingi pekarangan yang luas dan ditumbuhi pepohonan rimbun harusnya menjadi tempat yang sangat nyaman. Namun tidak bagi Nisa apabila kerinduan itu datang dan kesunyian  mendera batinnya.

Seperti malam ini, saat suaminya Ardan sudah terlelap lebih dahulu. Nisa menatap lekat wajah teduh suaminya. Nisa tahu di balik keteduhannya itu ia memendam kerinduan teramat dalam akan kehadiran seorang anak. Sekalipun Ardan tidak pernah mau membahasnya.
Bukannya mereka tidak pernah berusaha. Bahkan beberapa kali konsultasi ke dokter dan mempertanyakan sebab musababnya. Anehnya mereka dikatakan sehat dan tidak ada apa-apa. Ah, mungkin kita belum dipercaya saja. Itu kata suaminya.

Suaminya menggeliat, matanya memicing. Nisa lupa memadamkan lampu kamar. Jika lampu menyala maka suaminya tidak bisa tidur lelap.
"Maaf Kak, aku lupa padamkan lampu." Nisa beranjak dari kursinya untuk memadamkan lampu tidur.
"Tidak apa-apa sayang, kenapa belum tidur? Masih menulis?" Sambung suaminya sebelum Nisa menjawab.
"Tidak, aku lagi menikmati pemandangan indah."
"Pemandangan apa?" Suaminya bangun perlahan. Senyumnya menatap mata indah isterinya. Ia tahu, kata-kata itu selalu keluar dari bibir indahnya setiap kali ia kedapatan menatap dirinya.
"Melihatmu adalah sama saja menikmati pemandangan yang indah, sejuk dan ..."
"Dasar penulis, selalu ada diksi yang menyertainya" Ardan memotong kalimat Nisa sambil mendaratkan  telunjuknya perlahan di bibir Nisa,  membuat bibir indah itu terkatup.

Ardan merangkul pinggangnya lalu mendaratkan kecupan manis di.pipinya.
"Tidur yuk, besok kan ada acaramu di Gedung Erlangga?
"Astagfirullah aku lupa Kak, belum siapkan materinya." Nisa balas merangkul leher suaminya.
"Habis tahajud baru nulis sayang, sekarang sudah jam 22.00." Bujuk suaminya.
Setiap dirayu seperti itu, Nisa tak kuasa menampiknya. Mereka lalu beranjak ke peraduan, saling menatap, berangkulan dan tersenyum bahagia.
Sejurus kemudian pasangan itu terlelap sambil berdekapan.

*************

Nisa beranjak dari sajadahnya usai melaksanakan salat tahajud. Ia meninggalkan suaminya yang masih khusyuk mengaji. Suara serak nan merdu itu selalu menjadi simfoni terindah baginya. Itu pula yang membuatnya jatuh cinta setengah mati.
Ide-ide yang sejak sore tadi sempat mengendap di kepalanya, akan ia eksekusi saat ini.  
Astagfirullah! Kenapa ide-ide itu raib?

Padahal ia harus menulis sesuatu sebagai pembuka dalam rangka acara pelatihan menulis di mana Nisa tampil sebagai narasumbernya.

Ahaaa … Walitonra!

Suara hati Nisa bersorak, sejak Walitonra menjadi asisten pribadinya, ia merasa sangat terbantu. Perempuan muda itu, mantan mahasiswa suaminya sudah setahun ini menjadi asistennya untuk kegiatan-kegiatan kepenulisannya. Nisa tidak perlu repot-repot di depan laptop menuliskan materi. Ia cukup mengirimkan poin-poin penting yang akan ditampilkan, ditambah sedikit diksi dan sedikit arahan. Walitonra bagaikan perwujudan Nisa dalam mengeksekusi ide-ide itu, maka jadilah bahan presentasi yang memukau.
Email sudah terkirim, balasan dari Wali sudah ia terima. Nisa sangat bersyukur mendapatkan Walitonra. Perempuan cantik itu   memiliki ritme kerja yang sama dengannya. Setiap Nisa bangun pada dini hari dan menghubungi Wali via whatsApp, maka tidak perlu menunggu lama, karena  tidak sampai satu menit, mereka sudah terhubung.


Nisa ingat perkenalannya dengan Walitonra saat suaminya membawa perempuan muda itu beberapa waktu lalu.

“Kebiasaan isteriku ini adalah mempersiapkan segala sesuatunya pada dini hari, yah sekitar pukul 02.30 sebelum salat tahajud. Apakah kamu bisa bekerja seperti itu? Tanya Ardan.
“Insya Allah Pak.” Tanpa ragu Wali menjawab pertanyaan Ardan.
“Baiklah kalau begitu, artinya kalian bisa bekerjasama.” Ardan mengangguk sambil mengedipkan matanya ke arah Nisa. Nisa hanya tersenyum kalem.

Baginya Walitonra sudah memikat hatinya sejak ia membaca skripsinya. Sejak itu pula ia mendesak suaminya agar mau membawa Walitonra kepadanya dan mengajaknya bekerjasama.
Gayung bersambut. Walitonra menerima pinangannya. Bukan karena pekerjaan Nisa yang menarik minatnya melainkan karena Ardan, sang dosen pujaan hatinya.

Kembali Nisa menatap layar laptopnya. Satu file terbuka, naskah pada bab 18 seakan melambai untuk dijamah. Tetapi Nisa kehilangan kata. Rasanya sangat sulit mengetik huruf demi huruf. 
Nisa  membuka file outline novelnya. Baginya outline ini sangat membantu, saat kehilangan ide atau saat mumet. Outline membantunya memandu jalannya cerita yang akan  ia tulis.
Dengan mata lurus ia menyelusuri setiap kata dalam outline tersebut. Tetapi kenapa tidak ketemu juga yah idenya, bagaikan benang kusut. Harusnya saat membaca kembali outline itu, ia akan menemukan benang merahnya sehingga ia bisa menuliskan atau menuangkan ide-idenya yang tersumbat.

Nisa tercenung melihat huruf-huruf itu seakan berubah menjadi bulatan-bulatan kecil. Bulatan kecil itu kemudian membesar sedikit demi sedikit lalu berubah menjadi  kepala manusia. 
Kepala bayi!

Kepala itu dilengkapi dengan mata, hidung, mulut mungil dan sedikit rambut yang sangat halus. Matanya nanar menatap monitor laptopnya, seakan yang ia lihat itu nyata adanya. Tiba-tiba gambar pada monitor itu berganti dengan gambar suaminya.
Gambar yang semula diam itu seakan bergerak-gerak serupa video yang sedang diputar. Perlahan ia lihat suaminya mengangkat kepala bayi yang telah berubah wujud menjadi bayi sempurna.  Suaminya tertawa riang sambil menggendong bayi itu, badannya berayun ke kanan dan ke kiri sementara bayi itu tertawa riang.
Entah menit keberapa gambar itu hilang. Monitor laptopnya berubah menjadi gelap lalu padam. Rupanya sejak tadi ia diperingatkan dengan kode tanda silang merah di bagian sudut bawah pada monitor, kalau baterai laptopnya sudah soak.

Astagfirullah! Ada apa denganku?

Apakah ini pertanda kalau suaminya sesungguhnya sangat merindukan anak melebihi kerinduannya sendiri. Apakah ini sinyal yang dikirim Tuhan dan mengabarkan kalau suaminya sangat ingin memiliki anak, tetapi segan mengatakan kepadanya.

Sumber: Pixabay.com

Baca cerita sebelumnya di sini

Cahaya kemerah-merahan di langit bagian timur sudah mulai menyembul, pertanda fajar sudah menyingsing. Nisa beranjak dari kursi putarnya. Ia masuk ke dapur dan mulai menyiapkan sarapan untuk suaminya.
 “Tulisanmu sudah selesai Nis?” Tanya suaminya sambil menuangkan air.
“Kak Ardan sudah mandi?” Bukannya Nisa menjawab pertanyaan suaminya, ia malah balik bertanya. Itu pertanda Nisa tidak konsentrasi.
“Apa yang sedang kamu pikirkan sayang?” Ardan hafal betul karakter isterinya itu.
“ Tidak pikir apa-apa. Masak isteri bertanya begitu, dikira memikirkan yang lain.”
“Aku tahu kamu Nis. Kalau pertanyaan kamu balas dengan pertanyaan pula berarti kamu lagi tidak konsentrasi. Hanya satu hal yang membuat konsentrasimu buyar adalah pikiranmu lagi kalut.”
“Hanya satu pikiran yang bisa membuatku tidak khusyuk.”
“Apakah itu istriku yang cantik?” Ardan  bercanda mencoba menghilangkan  kemasygulan istrinya.
“Kenapa aku belum bisa menyempurnakan kebahagiaanmu Kak?” Keluar juga kalimat tanya itu.
“Siapa bilang kebahagiaanku tidak sempurna sayang? Aku sangat bahagia. Bersamamu adalah bahagiaku yang paripurna.” Ardan menampik kata-kata istrinya. Terdengar gamang di telinga Nisa.
“Keluarga yang sempurna itu adalah keluarga  yang dikarunai anak sebagai pertanda terpautnya kasih sayang, bukti bahwa keluarga itu sehat Kak.”
“Sudahlah Nis, kita jangan memprotes karunia-Nya. Kita sudah diberi cinta, diberi rezeki yang melimpah, kesehatan yang baik apalagi coba?”
“Tetapi kita belum punya anak Kak.” Baru kali ini Nisa menjawab tanya suaminya dengan nada yang agak keras.
“Pasti ada yang salah. Aku mandul Kak.” Gemetar suara Nisa mengucapkan kalimat itu.
“Kita kan sudah periksa Nis. Mulai periksanya di rumah sakit hingga ke dokter ahli kandungan terbaik di kota ini. Semuanya menghasilkan jawaban yang sama, kita berdua sehat. Hanya saja Tuhan belum mempercayai kita sayang.” Ardan membujuk istrinya dengan sabar.
“Lalu kenapa Dia belum mempercayai kita? Apa yang salah dari kita?”
“Bersabarlah sayang. Biarkan Tuhan mengatur hidup kita sesuai skenario-Nya. Jangan sampai kita menggugat Dia, kita tidak punya hak untuk itu.”
Spontan Nisa terdiam mendengar kata-kata suaminya. Ia mengusap dadanya sambil beristigfar dalam hati. “Ya Gafur, ampunilah hamba-Mu ini.

 **************

Malam ini pikiran Nisa melanglang buana. Bayangan gambar dan serupa video yang diputar pada monitor laptopnya tadi pagi terus muncul. Ia mencoba mencari jawaban atas tanyanya sendiri.

Bip … bip … bip … pertanda satu pesan masuk lewat telepon genggamnya. [ Assalamualaikum Bu]. Pesan dari Walitonra.

[ Waalaikumsalam, ada apa Wali? ].
[ Hanya mau mengabarkan, tulisan ibu di koran Fajar hari ini sudah terbit. ]
[ Alhamdulillah, terima kasih ya ]
[ Sama-sama Bu ]

Tiba-tiba pikiran itu muncul. Satu-satunya cara agar suaminya mendapatkan anak adalah ia harus menikah dengan perempuan lain. 
Entah darimana asalnya, ide itu muncul dari pikirannya.

Yah Walitonra solusinya!


 To be continue ….


29 komentar:

  1. Penasaran sama cerita selanjutnya nih, aku menunggu mba. Hehehe

    BalasHapus
  2. Ceritanya baguuuus. Penasaran cerita selanjutnya.

    BalasHapus
  3. Ceritanya baguuuus. Penasaran cerita selanjutnya.

    BalasHapus
  4. Apaaaa? Seriusan? Poligami?
    Hadeh.... Kalau saya sih NO, enggak tau kalau Ardan, Nisa dan Wali..

    BalasHapus
  5. Salam kenal mba.. saya Nana
    Luar biasa. begitu berserah dirinya Nisa.. rasanya kutak sanggup ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga Mbak. Akupun tak sanggup. Ngeriii .

      Hapus
  6. Walitonra pemilihan namanya unik ya Bun. Membca tulisan di atas jadi menbuat saya menatap anak saya ☺️. Trima ksh u/ crtanya ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tonra itu nama nenek saya soalnya bhahaha

      Hapus
  7. Duh, bukan saya banget hehehe. Karena saya memang bukan Nisa, tapi Damar wkwkwkwkw

    BalasHapus
  8. Ya ampun Nisa... jangan lakukan itu... itu akan menyakitimu nanti... #korbannovel

    BalasHapus
  9. Duh mba, cerita akhirnya deg2 ser. Kenapa semua serba walintora solusinya? Wkwk. Bikin gemes ceritanya 😆

    BalasHapus
  10. Huaaa.... Ceritanya bikin deg degan ditunggu kisah selanjutnya ya mbak

    BalasHapus
  11. Ish..ish ish... kenapa jadi Poligami ya ujungnya? aiihh... deg degan nih #jeritanhatiseorangantipoligami# hahaha. Lanjuut, Bunda!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  12. Ish ... ish ... jangan baper dong, itu untuk Nisa saja kok

    BalasHapus
  13. Duh keren ini ceritanya. Di lanjutkan ya kanda, bikin penasaran soalnya

    BalasHapus
  14. I feel you Nisa ��. Sepertinya aku nggak sanggup baca lanjutan ceritanya, jangan bilang kalau kakak mau menjadikan tokoh walitonra sebagai... arghh ku tak sanggup menulisnya.

    BalasHapus
  15. Penasaran deh baca lanjutannya...

    BalasHapus
  16. Waah...seru ceritanya.&.bikin deg deg plas Mba

    BalasHapus
  17. ditunggu cerita selanjutnya bunda.

    BalasHapus
  18. Masya Alloh, ternyata cerita tho. Tadinya kirain aku mau cerita pengalaman pribadi, 10 tahun belum punya anak.

    BalasHapus
  19. Mau ka culik ini kaka Dawiah deeh biar nda lanjut ke rencananya. Hehehee. ..Please, jgn mi lewat jalan itu deeh sudah sering mi dilewati orang. Yang lain mooo banyak jlan menuju Roma kakaaaaaa. Ngapa na saya yang kekembutan diii.

    BalasHapus
  20. Sama kebiasaanku ini segalanya muncul pas dini hari hahaha kayak kemarin tulisan2 deadline pas dini hari pi dibereskan aahh lanjut dongggg lagi ceritanyaa

    BalasHapus
  21. Usually, I've never commented on blogs but your article is so convincing that I've never stopped myself to say something about it. You're doing a great job Man. Best article I have ever read

    Keep it up!

    BalasHapus