Senin, 30 Juli 2018

Hijup Store Kini Hadir di Makassar


Hijup Store kini hadir di Makassar. Yeeaaa!

Begitulah seruan kebahagiaan  muslimah pencinta busana-busana Islam di Makassar. Bayangkan saja, jika selama ini belanja di Hijup via online biasanya muncul kekhawatiran, jangan-jangan ukurannya tidak pas nih, atau penasaran dengan kualitas kainnya karena tidak bisa diraba (sekalipun selama ini, Hijup selalu memberikan kepuasan bagi customer baik yang belanja online maupun offline). Namanya juga perempuan kan yah, adaaa saja rasa was-was di hati.
Dengan kehadiran Hijup Store di Makassar maka semua kekhawatiran itu akan hilang. Para customer bisa langsung melihat, meraba bahkan mencobanya. Yakin puas kan.


Mengapa Hijup Memilih Makassar?

Sebagai salah satu kontributor penjualan Hijup yang mengalami peningkatan hingga 500% sejak hadirnya Hijup offline store, maka wajar saja kalau Makassar dipilih oleh Hijup sebagai kota ke-5 diadakannya Grand Opening pada 28 Juli 2018. Sebelumnya Grand opening Hijup Store juga telah dilakukan di Jakarta, Palembang, Lombok, dan Bandung.

Berlokasi di Jalan Pengayoman nomor 11 Makassar, Grand Opening Hijup Store Makassar menghadirkan Anastasi Gretti Schender  (Gege) sebagai Head Creative Content Hijup, dan dua orang yang berperan sebagai  entrepreuner Adelia Pasha dan Indah Nada Puspita  yang dikenal sebagai pengisi acara Hijap Traveling di salah satu televisi swasta. Kedua perempuan cantik itu merupakan representasi muslimah yang telah menginspirasi gaya busana muslimah Indonesia, tentu saja hal ini sejalan dengan misi Hijup yang menghadirkan gaya busana yang Islami.



Foto: by Mangkawani 


Foto by Mangkawani 


"Semoga kehadiran Hijup Offline Store di kota Makassar ini menjadi langkah awal Hijup untuk selalu dekat di hati para konsumennya.” Gege.








Hijup Ada Akibat Keresahan Seorang Diajeng Lestari

Berawal dari keresahan pendirinya, Diajeng Lestari untuk mendapatkan busana muslim yang berkualitas, gampang, dan tidak ribet maka Diajeng mendirikan HijUp.com untuk membantu muslimah-muslimah Indonesia dalam hal mendapatkan busana muslim yang berkualitas. Melalui HijUp inilah, Diajeng menggaet desainer-desainer Indonesia yang mumpuni, sepert: Irsalina, Dian Pelangi, Jenahara, Vivi Zubedi, NRH X Nabilia, Ria Miranda, dan beberapa orang desainer lainnya. 

Hijup berperan penting dalam menghubungkan pembeli dan pengguna busana Islam dengan para desainer. Sebagai perantara, maka Hijup membangun hubungan simbiosis mutualisme antara desainer dengan customer di mana para desainer Indonesia dapat berkarya dan mendapatkan keuntungan, sedangkan customer atau calon pembeli bisa memenuhi kebutuhannya terhadap busana yang lebih Islami, trendi dan berkualitas. Melalui Hijup, Diajeng Lestari bertekad memajukan produk dalam negeri dengan mengusung brand lokal Indonesia ke kancah internasional.

Sumber Foto: digitalnewsasia.com



Diajeng: “Banyak hal yang melatarbelakangi saya mendirikan Hijup.     Secara internal, Saya  ingin menjadikan muslimah selalu percaya diri dan bahagia dengan hijabnya.  Secara eksternal, saya ingin mengubah wajah industri Islamic fashion di Indonesia menjadi lebih baik. Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, jika  industri fashion Islam dikelola dengan baik, maka indusrti ini dapat menjadi salah satu penopang ekonomi Indonesia."





 








Apa Kata Owner Hijup Store Makassar?

Husni Farid Abdat sebagai salah satu Owner Hijup Store Makassar dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada tim Hijup Mbak Anastasi Gretti, mbak Adelia Pasha, dan Indah  Nada Puspita  serta kepada loyal custumer yang selalu mensuport. Husni menjelaskan bahwa mereka bertiga me
beberapa hal yang mendasari keterlibatannya dalam menghadirkan Hijup store di Makassar, yaitu berdasarkan atas  kecintaannya  terhadap fashion muslim Indonesia, ingin memajukan fashion muslim Indonesia, dan  memiliki visi misi yang sama dengan Hijup, yaitu ingin memajukan local brand produk di Indonesia.

Foto by Mugniar


Hijup Store Makassar digawangi oleh tiga owner beserta masing-masing pasangannya, yaitu  Bapak Husni Farid Abdat dan   Ibu Irsalina, Bapak Fahmi Muhammad Abdat dan Ibu Mira Faris, serta Bapak Adnan Muhammad Abdat dan Ibu Sarah.
Bapak Husni Farid Abdat yang mewakili owner lain menutup sambutanya  dengan harapan kehadiran dapat memenuhi kebutuhan muslimah untuk berbelanja. Dan mono doa dari hijup, dapat memberi pilihan berbelanja untuk muslimah Makassar

Keseruan Acara Grand Opening Hijup Store Makassar


Acara grand opening ditutup dengan peragaan busana karya  dari desainer-desainer Indonesia, seperti Irsalina dan  Ria Miranda. Ada tujuh busana yang diperagakan oleh model dan salah satu modelnya adalah
Setelah peragaan busana usai, para hadirin dipersilahkan masuk ke dalam toko untuk melihat produk-produk Hijup sekaligus berbelanja. Beruntungnya lagi, Belanja di Hijup store Makassar kali ini akan mendapatkan potongan harga 20%. Asyik kan?












Jumat, 27 Juli 2018

Yuk, Kenali Berbagai Panggilan Kesayangan Untuk Pasangan



Entah dari mana awalnya saya  menggunakan kata AyangBeb untuk menggantikan nama panggilan suami saya. Mungkin terinspirasi dari status-status teman yang berseliweran di facebook maupun di media sosial lainnya. Kata itu terasa nyaman saja di telinga saya. Terasa  lebih mesra, lebih lucu, dan lebih romantis dibandingkan menggunakan kata Bapaknya anak-anak. Walaupun panggilan itu hanya saya gunakan dalam tulisan dan penyebutan kata ganti orang ketiga saja.

Saya teringat awal kami membina rumah tangga sebelum kami dianugerahi  anak, kami biasanya menggunakan nama awalnya saja. Saya dipanggil Mar dan Pak Nas buat si AyangBeb, baik untuk kata ganti orang kedua maupun kata ganti orang ketiga.  

Setelah anak pertama lahir, panggilan itu sekonyong-konyong berubah menjadi, Mamanya Fandi dan Bapaknya Fandi, baik sebagai kata ganti orang kedua maupun kata ganti orang ketiga. Panggilan itu berlanjut hingga sekarang.

Oh yah, kata panggilan itu pernah diprotes oleh putri bungsu saya, katanya. “Kenapa hanya kakak Fandi yang punya bapak dan mama? Saya tidak.”

Lebih parahnya lagi, kakak-kakaknya sengaja “mengganggu” adiknya dengan menjawab. “Karena Nabila tidak punya bapak dan mama.” Spontan si bungsu menangis dan ngambek beberapa waktu lamanya.
Sejak peristiwa itu, kami mulai mengganti nama panggilan masing-masing dengan kata bapaknya dan mamanya.



Ternyata menggunakan nama panggilan terhadap  pasangan itu banyak jenisnya.  Beberapa pasangan biasanya menggunakan kata-kata yang telah mereka sepakati sebelumnya sebagai kata panggilan kesayangan. 
Biasa juga panggilan kesayangan itu muncul disebabkan karena melihat keadaan pasangan yang unik. Misalnya: kata  Ndut karena pasangannya berpostur tubuh gendut. Bahkan ada pasangan yang menggunakan kata Elek, singkatan kata Jelek, padahal pasangannya itu tidak jelek-jelek amat. Lucunya, pasangannya itu senang-senang saja dipanggil dengan nama tersebut.😆😆

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda menggunakan nama panggilan seperti di bawah ini?
Kita intip yuk!

Berasal dari bahasa Asing

1.      Abi/Umi. Kedua kata ini berasal dari bahasa Arab yang berarti bapak dan mama atau ayah dan ibu. Kesannya lebih religius dan santun.

2.    Baby. Kata ini berasal dari bahasa Inggris yang berarti bayi. Banyak juga yang menggunakan kata ini sebagai panggilan kesayangan buat pasangannya. Mungkin karena bayi itu selalu menggemaskan dan identik dengan kasih sayang. Entahlah.  

3.  Bee. Kata ini juga berasal dari bahasa Inggris yang berarti lebah. Entah kenapa banyak yang menyukai kata panggilan ini, bisa jadi menggunakan kata bee untuk menggambarkan pasangan yang telah mengisap madu asmara. Ini versi saya saja. 

4.   Boo. Berasal dari bahasa Prancis yang berarti kekasih. Kedengaran unik  di telinga kita. Tetapi kalau pasangan suka, tidak salah juga kalau menggunakan kata boo sebagai panggilan kesayangan.

5.      Darling. Kalau kata ini sudah jelas-jelas mengartikan sayang.

6.     Honey. Ini juga berasal dari bahasa Inggris yang berarti madu. Yang pasti ini tidak mendefinisikan istri yang sedang dimadu ya…

7.   King/Queen. Masih dari bahasa Inggris yang berarti raja dan ratu. Terbayangkan betapa tersanjung diri kita jika dipanggil my queen yang berarti  ratuku.

8.   My Lovely. Sudah tahu kan artinya? Sayangku. Oh senangnya jika kita dipanggil pasangan dengan kata, sayangku! Itu sih saya.

9.     Sweety. Kata ini juga berasal dari bahasa Inggris yang berarti pacar.  Jika merujuk dari KBBI, maka pacar itu sama dengan lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih, atau sama saja dengan kekasih.
Hm..boleh juga tuh suami atau isteri dipanggil dengan kata ini. Pacar!

Bagaimana dengan panggilan kesayangan di negara kita? Ternyata cukup banyak jenisnya, apalagi yang berasal dari bahasa daerah. Yuk  kita simak!

1.      Aa’/Dede. Berasal dari kata Sunda yang berarti kakak dan adik. Kedengaran mesra dan santun.

2.     Kanda/Dinda. Tahu kan artinya? Yap, panggilan itu sama saja dengan  kakak dan adik, hanya saja kedengarannya lebih mesra dan manja.

3.  Pipi/Mimi. Sebenarnya ini hanya plesetan dari kata mama papa saja. Ah,  jadi ingat mantan pasangan artis de…😉

4.      Daeng/Andi. Kata ini berasal dari bahasa Bugis Makassar yang berarti kakak dan adik. Biasa pula digunakan oleh pasangan suami isteri. Suami dipanggil dengan kata Daeng dan isteri dipanggil Ndi atau Andi.

5.   Amma’na/Tetta’na. Panggilan ini  berasal bahasa daerah Makassar yang berati ibunya dan ayahnya. Biasanya diikuti dengan nama anak sulung. Serupa dengan bapaknya si A atau ibunya si A.

6.      Ayah/Bunda. Panggilan ini serupa dengan panggilan Bapak dan Ibu atau Papa dan Mama.

7.      Mas/Dik. Panggilan dengan kata ini biasanya digunakan oleh pasangan yang berasal dari Jawa.

8.      Kang Mas/Mbak Yu. Panggilan ini cukup unik dan berkesan cinta daerah atau budaya.

Demikian beberapa panggilan kesayangan yang biasa digunakan oleh pasangan suami istri. 

Yang pasti, saya menggunakan panggilan Ayangbeb untuk suami saya, tetapi saya tidak menggunakan kata itu saat kami sedang berbincang ataupun saat kami berduaan. Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya hanya menggunakannya untuk panggilan orang ketiga tunggal.  

Ingin juga sih memanggil suami dengan kata AyangBeb itu, tetapi  apa kata dunia? eh anak-anak saya dan suami nanti. 
Saya yakin mereka akan tertawa, menertawakan saya yang sok gaul ini, hehehe ….



Kalau Anda menggunakan panggilan kesayangan apa untuk pasangan?
Jawab di kolom komentar dong!


Rabu, 18 Juli 2018

Tipu Daya


Selalu mesra. Itulah yang dijaga Bakti, katanya demi menjaga keharmonisan keluarga. Tentu saja Fika setuju dengan suaminya. Diperlakukan seperti itu melambungkan perasaan Fika, merasa dicintai setengah mati. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Rumah tangganya dipenuhi kasih sayang, kebutuhan finansial tercukupi, anak-anak yang sehat dan pandai.
Sempurna.
Sore  yang basah. Sisa-sisa air hujan masih menggenangi jalan.  Bagi warga   Makassar, turunnya hujan adalah berkah yang tak terhingga. Cuaca kota Makassar yang suhunya bisa saja mencapai 35 derajat celcius atau lebih penyebabnya.
Fika bergegas masuk ke rumahnya lewat pintu samping. Pintu yang menghubungkan antara garasi mobil dengan ruang tengah. Setengah berlari ia masuk kamar untuk mengganti bajunya yang basah. Karena terburu-buru, tadi siang ia tidak periksa bagasi mobilnya. Ternyata payung yang selama ini selalu ikut di mobilnya  tidak ada.
“Oh iyah kemarin kan Qory pinjam payung itu.” Fika menggumam setengah menggerutu.
Akibatnya Fika basah saat membantu anaknya menyeberangi jalan. Jilbabnya digunakan untuk menutup kepala  anaknya.
Fika sudah rapi lagi, bajunya yang  basah sudah melayang ke mesin cuci. Sejenak ia melihat handpone, ada pesan dari suaminya melalui whatsApp.
Andii, jangki lupa antarki ana’ta les piano na ... “ Bakti selalu menulis sesuai dialeg yang biasa mereka gunakan sehari-hari.
Ingatki juga, makan siang. Ka kita itu selalu telat makan, ingat maag ta nanti kambuh lagi.” Ditambah emotikon love.
Hati Fika berbunga membaca pesan itu. Dengan lincah ia membalas pesan suaminya.
Iye Daeng, baruka ini pulang antarki ana’ta.” Fika membalas ditambah emotikon love.
Saat ia bersiap ke dapur menemui asisten rumah tangganya, tiba-tiba bel rumahnya berbunyi.
“Sitti, tabe lihatki  siapa yang datang!” Seru Fika. Yang dipanggil bergegas keluar melewati ruang tengah. Bi Siti belum sampai di ruang tamu, pintu sudah terkuak. Kepala Qory menyembul sambil berseru.
“Hai  Sitti!”
“Astagfirullah, kagetku.” Bi Siti berseru dalam dialeg khas Makassarnya sambil mengusap dada.
“Hi..hi..hi  santai maki saja.” Bukannya minta maaf, Qory malah cekikikan melihat ekspresi Sitti.
Fika hanya geleng-geleng kepala melihat kejahilan sahabatnnya itu
“Hai Qory, masuk yuk!” Seru Fika dari balik pintu kamarnya.
“Aku sudah duduk kale, hehehe…” Jawab Qory santai sambil menghempaskan pantatnya di atas sofa yang empuk.
“Ha..ha…ha.., belum juga dipersilahkan, eeh..sudah nyosor duluan.” Canda Fika sambil tergelak.
“Maaf ya Fik,  Sitti kelamaan buka pintunya, yaa… aku langsung masuk saja”
Fika dan Qory adalah dua perempuan yang seumuran, mereka bersahabat sejak masih SMA. Qory lebih sering berkunjung ke rumah Fika bahkan menginap. Lain dengan Fika, ia paling malas keluar rumah apalagi berkunjung ke rumah temannya. Sejak tamat SMA, mereka sudah tidak bertemu lagi. Fika pindah ke kota lain mengikuti orang tuanya.
Hampir 10 tahun mereka terpisah. Hingga akhirnya dipertemukan lagi melalui reuni sekolah. Persahabatan itu kembali terjalin.
Qory asyik melihat foto-foto yang tertata rapi di dinding ruang tengah. Matanya terpaku pada satu foto ukuran yang paling besar, foto pernikahan Fika.
Fika menyentuh halus bahu sahabatnya itu,
“Kapan kamu nikah? Ayolah Ry … jangan terlalu  memilih.”
“Aku tidak pemilih Fik, jodohnya saja yang belum ketemu.” Qory menghela nafas.
“Lah … yang datang waktu reuni bersama kamu itu siapa?  Bukannya pacar kamu Ry?”
“Iya, ia itu memang pacarku, tetapi  kami sudah bubar.” Lesu Qory menjawab pertanyaan sahabatnya
“Beuh.. kenapa? Kelihatannya dia baik, sopan, dan ganteng pula.”
“Ah, bagiku ganteng urusan kesekian, yang penting mapan dulu. Kalau hanya bermodalkan cinta  saja, percuma Fi. Bikin pusing saja nantinya.”
Mata Fika sedikit membelalak.
“Ternyata waktu tidak bisa merubah pandanganmu tentang laki-laki yah Ry.” Kini Fika yang menghela nafas.
“Kamu enak Fik, dapat suami kaya, punya bisnis sukses, lumayan ganteng lagi.”
“Ry, awal kami menikah  suamiku bukan siapa-siapa. Dia masih karyawan biasa.”
“Tetapi kan sudah punya modal, orangtuanya pemilik perusahaan itu yah tinggal diteruskan saja.” Bantah Qory.
“Iya memang, tetapi masuk ke perusahaan orang tuanya itu tidak langsung diberi jabatan, ia harus melalui proses dari awal dahulu, Jadi karyawan biasa, gaji kecil, diuji dahulu dan seterusnya hingga ia bisa berada di posisi sekarang.”
“Nah, posisi yang seperti itulah yang kumau. Aku malas ah kalau harus mulai dari awal. Bersusah-susah. Aku sudah capek Fik, jadi orang susah.” Qory memotong pembicaraan Fika.
Fika hanya menggeleng-geleng sambil tersenyum. Mencoba memaklumi prinsip sahabatnya.
Bagi Qory, kehidupan rumah tangga sahabatnya itu bikin iri semua orang, tak terkecuali dirinya. Jauh di dasar hatinya, ia mendambakan kehidupan yang serba berkecukupan  seperti kehidupan keluarga Fika.
“Fik, sebentar malam kita keluar yuk!” Qory mengalihkan pembicaraan.
“Kemana?” jawab Fika acuh.
“Kita ke café, sekali-sekali kamu senang-senang sedikitlah. Masa  kegiatan kamu hanya itu-itu saja. Apakah kamu tidak bosan?
“Kadangkala bosan juga  Ry, tetapi ini konsekuensi atas pilihanku sendiri.
“Santailah sedikit, kita ke café atau ke mall, atau aku kenalkan kamu ke teman-temanku yang heboh. Kamu bisa menikmati keseruan bersama mereka.” Bujuk Qory
Fika mnengangguk. “Ok sebentar malam, kamu jemput aku yah, mumpung Daengku masih di Kalimantan.
Sejak hari itu, Fika menemukan dunia yang lain.
Bersenang-senang dengan teman-teman baru yang dikenalkan Qory, berjalan-jalan ke mall, belanja, ke salon, dan sesekali ke kafe.

****************************

Dunia baru. Teman baru dan penampilan baru. Fika makin cantik.
Kulitnya semakin mulus karena rajin dirawat di salon. Belum lagi dibalut dengan baju-baju yang mahal dan trendi.
Sementara itu, Bakti bergelut dengan pekerjaannya yang kian hari kian menumpuk. Kadangkala ia duduk termangu melihat penampilan isterinya yang semakin cantik dan modern. Bakti semakin jatuh cinta.
Tetapi waktu untuk bersama isterinya semakin tergerus oleh kesibukannya yang menumpuk. Selain itu, di kantor Bakti selalu ditempel sama Qory. Dengan berbagai alasan, Qory berusaha menghalangi Bakti untuk pulang cepat.
Entah bagaimana caranya, tiba-tiba Qory dipindahkan ke kantornya. Menjadi utusan Pak Rifan, rekan bisnisnya. Katanya untuk memperlancar hubungan kerja sama mereka, maka Qory menjadi sekertarisnya. Bakti tak kuasa menolak.
Ikhlas atau tidak, Bakti terpaksa selalu bertemu dengan Qory. Bagi Bakti, Qory terlalu agresif, dan ia tidak suka perempuan dengan tipe seperti itu. Namun apa mau dikata, mereka satu tim.
Qory cukup cerdas dan sigap mengimbangi gaya kerja Bakti. Dan itulah salah satu alasan Bakti tetap mau bekerja sama. Walaupun di pikirannya terkadang muncul kengerian yang ia sendiri tidak dapat menganalisanya dengan baik.
Itu tipu daya Qory. Ia menggunakan segala cara untuk menarik perhatian Bakti. Baginya laki-laki seperti Bakti lah yang pantas menjadi suaminya.
Soal Bakti suami sahabatnya. Tidak masalah baginya.
Toh ia akan rela berbagi suami dengan Fika, yang penting Qory bisa icip-icip kesuksesan Bakti. Kalau Fika tidak mau, maka ia harus berjuang sekuat kemampuannya melawan Qory.
“Maaf Fik, kamu bukan lawan yang tangguh buatku.”

 To be continued ..........



Senin, 09 Juli 2018

3 Nilai Kearifan Lokal Sulawesi Selatan yang Nyaris Terlupakan


Pesta demokrasi daerah baru saja usai dan  meninggalkan berbagai kenangan bagi rakyat yang ikut berpesta di dalamnya. Baik kenangan baik maupun kenangan buruk.
Bagi yang “jagoannya” menang, bisa bernapas lega dan tersenyum semringah. Tetapi bagi  yang “jagoannya” kalah dalam pertarungan bisa menimbulkan kesedihan bahkan tidak sedikit menjadi stres. 

Demikian juga yang terjadi di daerah saya yaitu Sulawesi Selatan.
Terjadi pertengkaran dan caci maki dari kedua kubu, bahkan terjadi bentrok fisik yang akibatnya menimbukan kerugian dari kedua belah pihak. Ada juga yang memutuskan silaturahim antara saudara dan keluarga serta kerabatnya hanya karena berbeda dalam pilihan.

Padahal jika mau sedikit menurunkan ego lalu kembali menghayati nilai-nilai kearifan lokal, maka hal tersebut tidak perlu terjadi.

Ah. saya tidak akan membahas soal pilkada apalagi soal politik. Itu terlalu berat.
Jadi bukan rasa rindu saja yang berat,  kan Dilan. Soal politik juga sangat berat buat saya😊

Lah apa hubungan antara nilai kearifan lokal dengan kericuhan-kericuhan yang terjadi?
Saya jawab dengan tegas, sangat berhubungan. 



Mari kita lihat tiga nilai kearifan lokal dari sekian banyaknya nilai-nilai kearifan lokal yang sejak dahulu kala telah diyakini oleh para pendahulu kita.

  Mabbulo Sibatang (Persatuan dan Kesatuan)

Mabbulo sibatang artinya persatuan dan kesatuan. Jika dihubungkan dengan Kitab suci Al qur’an, maka nilai ini sejalan dengan QS. Al Imran ayat: 103.

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS: Al Imran: 103).

Nilai budaya ini selayaknya menjadi  prinsip dalam kehidupan kolektif karena ia menjadi suluh bagi terwujudnya persatuan dan kesatuan.
Jika mabbulo sibatang dimiliki dan dijadikan sebagai prinsip oleh setiap kelompok, pemeluk agama, etnis, dan suku,  maka pastilah tidak ada lagi unsur pembeda yang bisa menjadi alasan terjadinya perpecahan.

  Sipakatau (Saling Menghargai)

Nilai budaya ini merupakan nilai-nilai yang sejak lama dimiliki oleh masyarakat Sulawesi Selatan sejak dahulu. Nilai ini merupakan ajakan  untuk selalu saling menghargai, dengan prinsip saling memahami. Tentu saja tujuannya agar masyarakat menjalin hubungan yang baik dengan orang lain, tanpa melihat latar belakang.

Jika nilai sipakatau diterapkan oleh setiap masyarakat maka pastilah tidak ada lagi senggolan-senggolan atau rasa ketersinggungan antara satu sama lain. Dengan nilai sipakatau, masyarakat dituntun untuk menyadari bahwa betapa pentingnya menerapkan sikap saling menghargai agar setiap komponen, agama, ideologi,dan suku dapat hidup rukun dan damai.

·        Siri’ na Pesse (Perasaan Malu dan Empati)

Siri’ mengandung pengertian pentingnya memiliki rasa malu yang menggambarkan harga diri. Sifat dan sikap masyarakat Sulawesi Selatan yang pantang mempermalukan dan dipermalukan.
Menghindari  perbuatan yang tidak baik adalah salah satu wujud dari nilai siri’

Sedangkan pesse (bahasa Bugis) atau  pacce (bahasa Makassar) bermakna sebagai rasa turut merasakan penderitaan orang lain. Kata inilah yang biasanya menjadi pelunak bagi hati yang sedang marah.

“Punna tena siri’nu pa’niaki paccenu.”

Artinya: “jika engkau marah karena malu maka bangkitkanlah rasa kasihmu.” Atau bisa dianalogikan sebagai, “ jika kamu marah karena malu dengan perbuatannya maka malulah karena melihatnya menderita.”

Sayangnya ketiga nilai-nilai moral ini dari sekian banyaknya kearifan lokal Sulawesi Selatan semakin tergerus. Orang-orang sudah tidak mengindahkan lagi sifat dan sikap sipakatau. Betapa banyak orang yang berkata, bertindak, berlaku kurang ajar terhadap orang lain hanya karena persoalan yang remeh.

Bahkan ada yang dengan entengnya melupakan kebaikan orang lain hanya karena berburu harta, tahta, dan jabatan.

Padahal jika kita mau sedikit saja merenungi  nilai-nilai kearifan lokal setiap daerah, kemudian melestarikannya dengan cara mengikuti atau menaatinya pastilah tidak akan terjadi pertengkaran dan perpecahan.

Demikian. Semoga bermanfaat.