Sepotong Pizza dari Bu Leli

Friday, March 5, 2021

 


 

Leli memasuki ruang guru dengan senyum semringah.

"Assalamualaikum, hai bapak  ibu guru! Permisiii, orang cantik mau lewat."

Sontak guru-guru yang sedang istirahat  berbalik ke arah sumber suara. Mereka tersenyum demi mendengar candaan  Leli.

"Mari, Ibu cantik, babang tamvan mempersilahkan." Pak Muh berdiri lalu  membungkuk.

Ruangan guru seluas 70 meter persegi itu menjadi riuh. Para guru yang sedang istirahat tertawa. 

Kehadiran Leli  menebarkan keceriaan. Candaannya selalu renyah.

Perempuan cantik yang baru saja merayakan ulang tahun yang ke -30 itu selalu bisa menciptakan suasana hening  berubah menjadi ramai. Ditambah Pak Muh yang 6 bulan lagi akan memasuki masa pensiun itu yang bisa menimpali candaan  Leli.

"Tambah ceria saja nih Ibu Leli, pasti lagi dapat rezeki berlimpah." Fatma tersenyum penuh arti.

"Adakah?  Ada dong, adalaaah." Ima menimpali.

"Ada sayang, adaaa..." Leli balas bercanda sambil berjalan menuju  mejanya.

"Hm, saya tidak marah bu Leli, kalau ditraktir pizza." Fatma menyahut sambil mengedipkan mata ke arah Risna.

"Habis mengajar kita pulang bareng, pssst ... kita berempat saja ya." Bisik bu Leli ke arah ketiga rekannya itu.

"Kenapa hanya berempat? Saya tidak diajak nih?" Rupanya pak  Muh mendengar bisikan Leli.

"Maafkan Pak Muh, mobilku hanya muat tiga orang." Leli mengatupkan kedua tangannya.

"Lagian Pak Muh kan laki-laki, sendiri pula di tengah “gadis-gadis” manis ini.” Seloroh Leli.

“Apakah bapak tidak takut berada dalam sarang penyamun?" Ima menutup.mulut menahan tawanya.

"Ah, kalian ada-ada saja. Mana ada perempuan muda yang sudi memperebutkan guru calon pensiun ini. Baiklah ibu-ibu, saya ucapkan selamat bersenang-senang ya." 

Pak Muh membalas candaan guru-guru muda itu sembari  berlalu.

“Maafkan ya Pak Muh!” Seru Leli.

Pak Muh melambaikan tangan, “Tak masalah.”

 

Ah, kalian guru kontrak yang selalu memberi warna berbeda di sekolah ini, selalu ceria seakan tiada beban.” Pak Muh bergumam.

 

Leli Arianti, guru bahasa Indonesia itu sudah cukup lama menjadi guru kontrak di sekolah  yang cukup populer di kota Makassar. 

Sekalipun hanya guru kontrak, ia tak pernah kehabisan uang. Setidaknya itu yang terlihat dari penampilannya. Tampil menawan dengan busana yang serasi,

Satu lagi, ia satu-satunya guru kontrak di sekolah itu yang membawa mobil pribadi.  Guru kontrak lainnya cukup bahagia menggunakan sepeda motor ke sekolah. Bahkan ada yang masih menggunakan pete-pete.

Suami Leli adalah guru juga, mengajar di sekolah lain dan sudah berstatus ASN  bersertifikasi pula. Cukup keren di mata ketiga guru kontrak temannya itu.  Tambah keren lagi, mereka selalu ditraktir oleh Leli setiap kali sertifikasi suaminya  cair.


Matahari terik membungkus siang. Keempat ibu guru itu telah berada di atas mobil yang disopiri Leli menuju  Pertokoan Ramayana. Seperti yang dijanjikan Leli tadi pagi, mereka akan makan di Pizza Hut Restoran Ramayana.  

Cukup lama mereka berada di restoran itu. Makan sambil bercanda, menertawakan guru-guru ASN di sekolah mereka.

“Eh, kalian suka sebal ndak sama si Ibu Kur itu? Sedikit-sedikit kasi perintah di wag.” Risna bicara sambil menyeruput lime juice.

“Ih, sebal sekali. Dia itu melampau kepala sekolah. Seakan-akan kebijakan berasal dari dia.” Fatma menimpali sambil sibuk mengunyah pizza American favoritnya.

“Untungnya, kita tidak pernah disenggol kan ya?” kata Ima.

“Siapa bilang? Saya pernah disemprot gara-gara telat kumpul perangkat pembelajaran.” Sergah Leli.

“Lah, itu memang kesalahan kamu sayaaang.” Fatma menepuk-nepuk pipi Leli.

Leli cemberut. Tangannya mengambil potongan pizza dan digigitnya dengan kasar.

Aum …. aum … aum ….

“Ini pizza enak kali ya, kalau dipakai untuk sumpal  mulutnya si ibu itu.”

Mereka terbahak melihat tingkah Leli sembari membayangkan potongan besar pizza tersumpal di mulut ibu yang mereka bicarakan.

 

Menjelang magrib, mereka beranjak dari restoran. 

“Terima kasih Bu Leli, kami pulang duluan ya. Tuh driver online kami sudah datang.” Ibu Ima dan Bu Fatma melambaikan tangan.

“Bu Risna ikut di mobil saya saja, rumah kita kan searah.” Bu Leli menggandeng lengan Ibu Risna.

"Terima kasih Bu, saya menumpang di mobil Ibu. Terima kasih juga  sudah ditraktir." Risna mengatupkan kedua tangannya.

"Halaaah, kamu itu tidak menikmati  traktiran saya, cuma sibuk minum, tidak makan."  Ibu Leli mengibaskan tangannya.

"Maafkan Bu, lidah saya belum bisa move on dari  makanan kampung hi-hi-hi." Bu Risna menutup mulutnya menahan tawa.

Ia teringat kejadian tadi di restoran.  Bu Risna mencicipi chicken sausage spaghetti dan itu sukses membuatnya mual.  Selanjutnya ia hanya sibuk minum lime juice.

“Padahal itu hanya pasta sosis ayam Bu Ris.” Bu Leli ikut  tersenyum geli membayangkan muka Bu Risna yang merah menahan mual.

 

***********

Azan magrib terdengar syahdu mengiringi gerakan tangan Leli yang lincah memutar kemudi  mobil saat memasuki pintu gerbang rumahnya. Ia bunyikan klakson demi melihat suaminya yang telah rapi dengan baju kokonya.

“Saya ke masjid ya Dik, parkir mobilnya yang benar.” Seru Arya suaminya.

“Siap Pak Bos!”

Usai bersihkan badan dan salat magrib, Leli beranjak ke dapur. Pizza yang tadi dibeli untuk suaminya sudah dingin.

Tak lama, terdengar langkah halus suaminya.

“Assalamualaikum!”

“Waalaikumsalam, saya di dapur kak.” Balas Leli.

“Kenapa beli pizza lagi Dik, kamu kan tahu saya tidak suka makan pizza. Coba beli ayam goreng saja.” Arya, suami Leli menggumam kecewa.

“Ini tidak dibeli khusus Kak, pizza ini punyanya Risna.”

“Kenapa dibawa pulang?” Kening Arya berkerut.

“Ia tidak suka makan pizza, sama kayak Kak Arya.” Leli menyimpan pizza itu ke dalam lemari.

Dia berencana memanasi pizza itu besok pagi dan membawanya ke sekolah. Ide nakal tiba-tiba muncul di kepalanya

“Kalau tidak suka pizza, kenapa dia ikut-ikutan ke restoran itu.” Arya masih sedikit kesal. Membayangkan pizza yang dibeli mahal-mahal tetapi tidak dimakan.

“Itu pertama kalinya ke restoran pizza, katanya mau coba juga. Eh, ternyata lidahnya tidak cocok.” Leli menenangkan kegusaran suaminya.

 

Masih jam 05.30, Leli dan Arya sudah rapi dalam busana kantor masing-masing.

“Dik, hari ini jam ngajarku  full , terus mau ke rumah ibu mau antar beliau ke dokter.”

“Berarti kakak yang pakai mobil? Baik, kak saya pakai motor ke sekolah.” Leli membayangkan teriknya matahari saat pulang nanti.

“Iya Dik, tidak apa-apa kan, sesekali menikmati sinar matahari.” Arya mencoba menghibur istrinya. Ia tahu, betapa takutnya Leli dengan sinar matahari, takut kulitnya menjadi kusam.

“Yaah, mau apalagi, ibu lebih membutuhkan mobil. Masa iya pesan ojek online sementara anak kesayangannya punya mobil pribadi, iya kan sayang.” Leli mengecup lengan suaminya.

Leli meraih kunci motor. Ia harus cepat-cepat berangkat sebelum matahari pagi menerpa kulit putihnya.

“Saya duluan ya Kak!” Leli melambai sebelum motor itu melaju kencang menerobos pagi.

 

Tidak sampai 20 menit, motor Leli sudah tiba di depan pintu gerbang sekolah. Halaman sekolah masih lengang, tetapi kendaraan guru-guru yang mengajar jam pertama sudah terparkir rapi.  

Tak terkecuali mobil ibu Kur.

Leli berjalan santai menuju ruang Kurikulum sambil menenteng kotak pizza.

“Assalamualaikum!” Leli menyapa penghuni ruangan kurikulum.  

“Waalaikumsalam, tumben Bu Leli tidak telat.” Bu Kur menjawab salamnya, tidak lupa dengan kalimat ajaibnya yang bikin Leli kesal.

“Ahaa, saya tidak mengajar jam pertama Bu, jam ngajarku nanti jam ketiga.” Leli mengibaskan tangannya.

“Saya hanya mau kasi ini ke Ibu, mumpung masih hangat. Enak ini dimakan sambil ngeteh.” Leli menyimpan kotak pizza di atas meja bu Kur.

Demi melihat kotak pizza itu, mata bu Kur bersinar.

“Makanan kesukaan Ibu Kur itu, Bu Leli.” Pak Muh yang baru saja masuk ke ruangan menyahut. Ia sedang menempelkan jempolnya pada mesin fingerprint.

“Ih, Pak Muh tahu saja kesukaan saya.” Bu Kur tersenyum semringah.

“Terima kasih ya Bu Leli.”

“Sama-sama Bu. Saya pamit ke ruang guru.” Leli mengangguk dengan senyum penuh misteri.

 

“Satu … dua … tiga … em …” Leli menghitung dalam hati.


Bu Leliiii, kenapa tidak bilang kalau pizza ini pedas!!!” Suara menggelegar terdengar nyaring dari ruang kurikulum.

Leli mempercepat langkahnya, pura-pura tidak mendengar suara itu.

Ia tersenyum puas. “Hm, sebentar lagi bibir Bu Kur akan dower akibat alergi cabe”

Rencananya berhasil. 


Baca juga cerita guru berikut. 

Menjadi operator  

Di sini Kisah Dimulai   

Covid-19 Melanda


 

 

 

29 comments

  1. Nakalnya Bu Leli gang wkwkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nakal tojeng wkwkwk. Nabilang, "masih mauko macam-macam sama bu Leli?"
      Suara hatinya bu Leli. Hahaha

      Delete
    2. Bukan ji kejadian nyata ini toh Kak? Ngeri sendiri saya wkwkwk.
      BTW, rupanya ada beberapa cerita dengan latar belakang guru dih. Bisa jadi buku kumcer. Mau kita' bukukan?

      Delete
    3. Bukanji..., ta'lewa itu kalau kejadian nyata.
      Maunya begitu, tapi masih kurang, belum cukup untuk jadi buku.

      Delete
  2. Bu Leli, ohhh Bu Leli cantiikkkk
    ini bikin daku mupeng jajan pizza wkwkw
    baiklah otw dapur aja dah, bikin pizza teflon pakai roti tawar ::D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ikut dong mak bikin pizza pakai teflon
      Lumayan cepat dan enak juga
      Bahkan ada yang dijual adonan jadi

      Delete
  3. Deuh Bu Kur alerginya sama cabe ya? Kasihan banget dower deh dia ntar, hehehe...

    Seru juga ya kalau dalam sebuah lingkungan kerja kita itu kompak, dan saling menghargai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah, bener buangett Teh
      Temen kantor rasa sodara yak
      Pengiin ngantor lagi dah eikeh jadinya wkwkwkwk

      Delete
  4. Bu Leli ternyata iseng ya hahaa semoga Bu Kur nggak sakit perut ya abis makan Pizza yang pedas itu :)

    ReplyDelete
  5. Bu Leli nyentrik dan iseng ya. Independent juga bisa mengendarai mobil dan motor sendiri

    ReplyDelete
  6. Oalah Bu Leli, Bu Leliii.. Kirain tadi Bu Kur teriak karena pizza di dalam kotaknya kosong. Ya siapa tau habis dipanasin dimakan suami bu Leli. Namanya juga lapar, biarpun nggak suka ternyata khilaf mau apa, hehe

    ReplyDelete
  7. Haha puas banger Bu Leli ngerjain Bu Kur dowernya kayak apa ya, btw jadi pengen Pizza dong gara2 baca ceritanya mba :D

    ReplyDelete
  8. Bu Leli kok sama kayak aku suka Pizza ya, hahaha.
    Keren ceritanya
    Runut dan saya menikmati

    ReplyDelete
  9. hehehe aku senyum - senyum bacanya... Bu Leli yaaa. Pizza nih makanan favorit orang - orang di rumahku juga

    ReplyDelete
  10. Kasihannya Bu Kur.
    Hihii...serunya kehidupan dengan setting sekolah. Biasanya dari sudut pandang pelajar, Bunda mengambil dari sudut pandang pengajar.

    Ada rencana di bukukan kah, Bunda?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku setuju banget dengan diskusi di atas. Kak Niar dan Bunda sudah ada rencana membukukan buku kisah bersetting sekolah.
      Seru ini...

      Delete
  11. Teenyata Bu Leli iseng juga ya.
    Pak Muh juga perhatian ya, sampai tahu makanan kedukaan teman-teman terdekatnya ya.

    ReplyDelete
  12. Jadi inget diisengin temen waktu SMA dulu. Saya kan selalu pake ransel. Kok ya hari itu pas pulang sekolah berasa berat banget manggul ransel. Biasanya 2x naik angkot, sampe depan komplek ya jalan kaki sampe rumah. Nggak juga saya tu curiga ada something dalam ransel saya. Ketauannya pas malem beres-beres buku, eehh.. ada batu dalem ransel saya. Duh...

    ReplyDelete
  13. Bu leli, kok jahil sih.
    Ceritanya asyik bu, ringan, gampang di ikuti

    ReplyDelete
  14. Iseng banget ya, Bu Leli.. xixixi.. tapi orang-orang kayak gitu yang bikin hidup suasana. Ceritanya sederhana tap segar, Mba ^_^

    ReplyDelete
  15. Bu leli bisa tonji (tolong koreksi kalo salah bahasa ya Kak, sok2an pakai bahasa makassar :). Nanti bilangnya nggak tahu kalau Bu Kur alergi cabe ^_^
    Btw, makan pizza di makassar pakai jeruk nipis juga nggak? hehehe
    Saya masih takjub dengan segala2 makanan pakai jernip di sini :)


    ReplyDelete
  16. Yang bandel gurunya, bukan muridnya hehe, dasar Ibu Leli..bahaya orang alergi malah dikasih alergennya :D

    ReplyDelete
  17. Huhuhuuu bu Kur dikerjain hahahaha ...
    gara gara suka cerewet ya mbak

    ReplyDelete
  18. Ya ampun, kasihan amat bu kur, hihihi...
    Terhibur nih baca kisah guru-guru...

    ReplyDelete
  19. Astaga nakalnya Bu Leli... kesian itu Bu Kur. Ntar kalau dia balik balas dendam gimana coba?

    ReplyDelete
  20. Ya ampun bu Leli iseng deh ngerjain bu kur sama cabe hehehe

    ReplyDelete
  21. Geli hahha endingnya malah ngerjain lucu
    Mba kamu bakat nulis fiksi ya ternyata hehehe.

    ReplyDelete
  22. Aku jadi ikut terbawa suasana lagi di sekolahan ala-ala guru yang berkumpul di kantor hihi. Nice story' mbaaa, jadi mau bikin pizza ala-ala deeh wkwk

    ReplyDelete

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Name

Email *

Message *