Wajah Baru Kurikulum di Tahun 2019; Seminar Nasional IGI Makassar

Kamis, 28 Februari 2019





Ketika flyer Seminar Nasional dengan tema “Wajah Baru Kurikulum di Tahun 2019” itu disebar di grup-grup whatsapp guru, ada teman yang kirim pesan ke saya. Katanya, “apakah ada lagi perubahan kurikulum?"

Yah, inilah salah satu kelemahan kita, kadang membaca tanpa menyimak dengan baik. Seminar ini tidak akan memperkenalkan apalagi membahas tentang kurikulum baru tahun 2019.

Lah dalaah, kurikulum lama saja (kurikulum 2013) masih di sekitar sosialisasi, keluhan-keluhan karena belum paham penerapan penilaiannya, persamaan persepsi tentang cara menggunakannya, dan sebagainya. 
Padahal ini sudah berjalan lima tahun. Yaah, mungkin karena ini masih usia balita, makanya masih perlu berjalan tertatih-tatih. 

Kita tinggalkan sejenak kurikulum 2013, mari tengok revolusi industri 4.0 yang muncul bagai jelangkung, datang tanpa diundang,  dan pergi tidak diantar. 

Revolusi industri 4.0 memaksa kita berada dalam sistem fisik maya. Hampir semua kegiatan yang dahulu hanya bisa dilakukan di dunia nyata, berpindah ke dunia maya. Internet seakan menjadi kebutuhan utama manusia.

Bahkan  generasi saat ini, dikenal sebagai anak milenial lebih memilih tidak jajan makanan, daripada tak punya kuota internet. Itu mengindikasikan kalau kebutuhan mereka terhadap internet seakan jauh lebih tinggi daripada kebutuhan akan makanan. 

Kabar baiknya, mereka bisa mengakses informasi melebihi kecepatan bicara gurunya di kelas. 
Nah, kalau guru masih terlena dengan gaya belajar dan mengajar seperti dahulu kala, maka jangan marah kalau muridnya lebih cepat menguasai ilmu yang mau diajarkan sebelum sang guru mengajarkannya.

Bayangkanlah, di dalam kelas seorang  guru  sedang menjelaskan  cara membedah katak  dengan tujuan ingin memperlihatkan organ-organ katak, hingga mulutnya berbusa-busa.  
Sementara itu,  muridnya  bisa langsung membedah katak, lalu  memperlihatkan organ-organnya  lengkap dengan penjelasan yang rinci. 
Kan tidak asyik dan bikin keki. 

Olehnya itu, guru harus secepatnya berbenah. Belajar lebih keras agar bisa mengimbangi gaya belajar anak milenial.

Tak perlulah ikutan gaya milenialnya, cukup amati, pelajari, dan modifikasi.

Tingkatkan Kompetensi Guru Bersama IGI


Ikatan Guru Indonesia (IGI) sebagai salah satu organisasi guru yang diinisiasi pada tahun 2000 dan resmi berbadan hukum pada tanggal 26 November 2009.

Periode kepengurusan berikutnya, yakni 2016-2021 dengan Ketua Umum Muhammad Ramli Rahim juga telah terdaftar di Kementerian Hukum dan Ham, sangat paham masalah ini.  Olehnya itu, IGI menitik beratkan perjuangannya dalam meningkatkan kompetensi guru. 


Bagi IGI, ujung pangkal dari persoalan pendidikan di Indonesia ada pada rendahnya kompetensi guru Indonesia yang meliputi empat kompetensi, yakni kompetensi profesional, paedagogik, sosial, dan kepribadian.

Dengan mengusung motto “sharing and growing together” IGI sudah melakukan banyak hal melalui gerakan-gerakan seperti berikut.
  1. Gerakan Guru Berintegritas
  2. Gerakan Hemat Energi dan Penciptaan Energi Baru dan Terbarukan.
  3. Gerakan peningkatan kemampuan guru Inklusi dan pendidikan untuk semua
  4. Gerakan Guru Saudara
  5. Gerakan Bayar Balik


Disamping gerakan-gerakan di atas, IGI juga melahirkan 67 kanal  kegiatan pada awal tahun 2018.  
Kanal apa sajakah itu? Silahkan baca di sini.

Pantang Mengajar Kalau Tidak Belajar


Sebagai guru yang menjadi tombak dalam penyelenggaraan Pendidikan, seharusnya berprinsip, bahwa guru harus belajar setiap saat  dan jangan berani mengajar kalau tidak belajar.

IGI senantiasa memberi ruang bagi guru untuk belajar dan berbagi dengan mengadakan kegiatan workshop, pelatihan, dan seminar.

Nah, itulah yang dilakukan oleh Pengurus IGI Daerah Makassar pada awal tahun 2019, yaitu mengadakan  Seminar Nasional, bertempat di Aula Sekolah Islam Athira Kajaolalido. 

Mengangkat tema “Wajah Baru Kurikulum di Tahun 2019” dengan menghadirkan empat pembicara yang berkompeten dibidangnya. 

Mereka adalah Prof. Dr. Jasruddin, M.Si selaku  Kepala LLDIKTI Wilayah IX, H. Irman Yasin Limpo, SH, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, dan H. Muh Hasri,M.Hum utusan Widyaiswara LP3TK Gowa, serta Ketua Umum IGI Pusat, Muhammad Ramli Rahim.

Peserta yang diprediksi akan hadir hanya sebanyak 300 orang, ternyata membludak hingga 400 lebih. Sampai-sampai   peserta yang datang belakangan terpaksa duduk melantai beralaskan karpet. Ini bertanda kalau guru-guru di Sulawesi Selatan, khususnya guru- guru di Makassar semakin sadar akan pentingnya mengupgrade pengetahuannya. 

Demi mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan peserta ini, saya dan teman-teman panitia tak sempat lagi menyimak pembahasan yang disampaikan oleh Pak Hasri selaku pembicara pertama.

Padahal materi yang disampaikan sungguh keren, yaitu Peranan Higher Order Thinkings Skills (HOTS) dalam Pengembangan Kurikulum. Tema yang  populer akhir-akhir ini seiring didengungkannya revolusi industri 4.0. 

Tantangan Kurikulum di Era Revolusi Industri 4.0


Seperti biasanya, kalau Pak Irman Yasin Limpo yang lebih akrab dipanggil Pak None ini berbicara maka hadirin akan terpaku, terpukau, dan menyimak dengan sungguh-sungguh sehingga waktu 1 jam 30 menit itu berlalu tanpa terasa.

Secara garis besar, Beliau menjelaskan tentang perkembangan kurikulum di Indonesia. Dimulai dari kurikulum 1947 yang disebut Rencana Pelajaran 1947 hingga Kurikulum 2013.

Pak None juga menyebutkan,  bahwa kurikulum itu berubah disebabkan oleh
enam faktor  yaitu globalisasi, teknologi industri, orientasi politik, konsep pemikiran baru, eksploitasi ilmu pengetahuan, dan perubahan internal bangsa.

Apakah pergantian menteri identik dengan pergantian kurikulum? Bisa iya bisa juga tidak. Tergantung situasi dan kondisi bangsa.

Bagaimana seharusnya kurikulum Pendidikan di Indonesia menghadapi revolusi industri 4.0?


Pak None menjawabnya dengan penekanan bahwa, peserta didik harus memiliki lima kemampuan yang mumpuni dalam menghadapinya. Kelima kemampuan itu adalah sebagai berikut.
  1. Kemampuan berpikir kritis
  2. Kreatif dan inovatif.
  3. Kemampuan berkomunikasi
  4. Kemampuan berkolaborasi.
  5. Memiliki kepercayaan diri.

Jika peserta didik saja dituntut memiliki lima kemampuan tersebut, apalagi guru  yang seharusnya memiliki lebih dari itu. 

Bagaimana bapak dan  ibu guru, sudah siapkah menyongsong revolusi industri 4.0?

Kurikulum Sejalan dengan Perkembangan Pendidikan


Hal lain yang dijelaskan oleh Pak None adalah kurikulum yang selalu sejalan dengan perkembangan pendidikan. Dicontohkan bahwa, Pendidikan 1.0, kurikulum berorientasi kepada guru. Jika disandingkan dengan industri 1.0 berarti ini terjadi pada abad ke-18. Masa itu industri masih berfokus pada produksi mekanik.

Pendidikan 2.0, kurikulum menekankan peserta didik sebagai wadah pengetahuan. Revolusi industri yang terjadi pada saat itu adalah industri 2.0. di mana telekomunikasi dan listrik ditemukan.

Pendidikan 3.0, kurikulum menekankan pada tugas guru sebagai fasilitator. Sedangkan revolusi industri pada masa itu adalah revolusi industri 3.0 yang terjadi pada awal tahun 70-an hingga abad ke-20. Pada masa itu, IT dan penggunaan elektronik mulai mengotomatisasi produksi.

Saat ini kita berada pada pendidikan 4.0 di mana guru diharapkan menjadi konektor, kreator, dan konstruktor lalu  peserta didik akan berfikir tingkat tinggi (HOTS). Hal ini seiring dengan revolusi industri 4.0, di mana sistem fisik maya semakin mengglobal.

Jika peserta didik dituntut berfikir tingkat tinggi melalui HOTS, maka seharusnya guru lebih dahulu menerapkan itu dalam kesehariannya mengajar. 
Sehingga tuntutan sebanding dengan ketersediaan. 

Pada akhir sesi, Pak None menutup dengan mengajak peserta seminar untuk merenungi gambar yang ada di layar, sistem pendidikan di Finlandia.
Hm, kalau sistem pendidikan di Indonesia seperti di Finlandia, sepertinya saya tidak mau pensiun sampai ajal menjemput, hehehe ...

Maunya mengajar terus. 


Bersama pengurus IGI Makassar, Sul-Sel, dan Ketum IGI Pusat










25 komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  2. Semenjak gak sekolah jadi kurang mengikuti kurikulum sekolah yang ada sekarang bun. Tapi point diatas bener sekali jaman sekali anak-anak sekolah cepat sekali mendapat informasi dai internet yang bahkan kita ga bisa cegah, makanya kalo jadi pengajar betul-betul harus berpikir kritis dan mau ga mau ngikutin juga. Semangat wahai para guru.. semangat yah bunda

    BalasHapus
  3. Bunda, saya saja yang punya pengalaman menyekolahkn anak di SDN di Amerika saja merasa terpana dengan sistem pendidikannya..eh di Finlandia lebih baguuus lagi.
    Tapi yakin Indonesia juga bisa, meski memang perlu waktu. Yang utama kerjasama dari semua pihak terkait, orang tua, guru, pemerintah dan masyarakat luas demi pendidikan Indonesia yang lebih baik lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa saja sih asal pendidikan tidak dijadikan ajang coba-coba dan guru-guru mau mengubah pola pikirnya

      Hapus
  4. Bunda, aku penasaran dengan salah satu motto-nya IGI, "Gerakan Bayar Balik". Apa sih maksudnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gerakan bayar balik adalah kegiatan pelatihan atau workshop diadakan oleh IGI, pesertanya tidak membayar biaya pelatihan tetapi diwajibkan untuk membeli buku yang disiapkan oleh Panitia. Nah keuntungan dari penjualan buku itulah yang membiaya semua kegaiatan pelatihan atau workshop tersebut.

      Hapus
  5. Keren ihh bapak ibu guru sekarang.
    Bersama murid dan orang tua siap menyongsong revolusi industri 4.0 demi kemajuan bangsa.
    Btw kalau sekolah hanya 4-5 jam bujang saya yang smp seneng banget itu Bunda. #hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalagi saya dan guru-guru di seluruh Indonesia, hehehe

      Hapus
  6. Itu berarti seorang guru harus punya fasilitas penunjang teknologi yang memadai, lebih canggih dari yang dimiliki murid-muridnya... untuk itu, tentunya guru hidupnya harus sejahtera.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak selalu begitu juga kayaknya, yang jelas guru tidak boleh gaptek.

      Hapus
  7. Asik baca lagi soal kurikulum setelah vakum bertahun-tahun. Itung-itung persiapan belajar buat nanti io masuk sekolah biar mencerna sedikit demi sedikit lagi, makasi ya mbak sudah menuliskan ini

    BalasHapus
  8. Masyaallah ganti kurikulum lagi, dari jaman aku sekolah dulu sampe skrg perasaan kurikulum gak beres2 gantinya ya wkwk. Tapi ya emang mengikuti perkembangan jaman harus ada perubahan sih semoga yg kali ini oke punya kurikulumnya. Makasih bun sharingnya.

    BalasHapus
  9. Saya setujua sekali dengan kalimat ibu diatas yaitu pantang mengajar kalau tidak belajar. Sebagai guru yang baik mmg sudah seharusnya kita menguasai materi sebelum menginjakkan kaki ke dalam kelas. Kalau menurut saya, kurikulum apapun yang diterapkan jika seorang guru cerdas dalam menyalurkan ilmunya, outputnya pun akan sesuai yang diharapkan. BTW, terimakasih sudah berbagi bu ))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, guru yang harus agresip mencari ilmu dan terus belajar.Kurikulum hanya petunjuk garis besarnya selebihnya gurulah yang menentukan, apakah mau menjadi guru cerdas atau tidak.

      Hapus
  10. Harus memang segera sih kurikulum diubah untuk menopang generasi bangsa kedepannya dalam rangka menghadapi era disruption. Era yang penuh ketidakpastian.

    BalasHapus
  11. Asyik banget ya sekolah di Finlandia. Saya pernah nonton di TV, kalo gak salah di FoX Life atau NatGeo People soal pendidikan di Finlandia. Murid dan guru semuanya happy tanpa beban

    BalasHapus
  12. tuntutan guru makin hari makin berat yah kak. guru yang tidak mau belajar dan mengikuti perkembangan akan tertinggal oleh murid-muridnya..

    BalasHapus
  13. Seorang guru seharusnya memang tidak boleh ketinggalan zaman. Ia harus bisa berada di depan, demi bisa membimbing murid-muridnya.

    BalasHapus
  14. Betul ini:
    Jika peserta didik saja dituntut memiliki lima kemampuan tersebut, apalagi guru yang seharusnya memiliki lebih dari itu.


    Saya juga pikir begitu. Guru, sama kayak orang tua, kalau belajar harus berlari lebih cepat dari anak/siswa supaya ndak ketinggalan.

    BTW, jadi kalo bedah katak, ndak harus mi ada kataknya toh?
    Ddeh kuingat waktu SMP, habis dibedah, dibuang ngaseng di tempat sampah bangkai-bangkai katak.

    BalasHapus
  15. Benar-benar kurikulum pendidikan harus update demi bersenergi dengan revolusi industri 4.0..Ini harus untuk mmebentuk SDM bangsa yang berkompentensi dan punya soft skli yg mumpuni..

    BalasHapus
  16. Tugss jadi guru itu memang berat ya Bun. Hanya mereka yang punya panggilan hati yang bisa menjalani peran ini. Semangat Bunda!

    BalasHapus
  17. Maceku juga guru. saya ingat dulu dia ribet sekali dengan kertas-kertas kalau mau ngajar, sekarang cukup bawa laptop saja. Dan memang betul bahwa guru sekarang harus upgrade cara ngajar, upgrade ilmu dan menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman.

    Semangat ya :)

    BalasHapus
  18. Tantangan sebagai guru di era revolusi 4,0 ini memang berat banget ya bund. Tapi memamg mau tidak mau sudah jadi tuntutan guru untuk bisa lebih melek sama teknologi. Btw baca postingan ini jadi ingat waktu masih ngajar, sempat ngos-ngosan juga menerapkan kurikulum 2013 yang ternyata sampai sekarang masih disosialisasi ya..

    Kurikulum dari Filandia ini memang keren banget. kalau kurikulum itu diterapin juga rasanya saya mau kembali mengajar saja, hehe.

    BalasHapus
  19. Tapi berapa tahun ya kita bisa menerapkan metode finlandia kalau masyarakatnya sekarang seperti ini? Hehehe... Ganti kurikulum aja ortu ikutan bingung, hehehe

    BalasHapus

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Nama

Email *

Pesan *