TRILOGI GUMAMAN KANG MAMAN

Senin, 10 Desember 2018




Assalamuaalaikum sahabat pembaca.

Pernahkah Kamu “tersesat” di dalam sebuah toko buku?
Mencari-cari jalan pulang tetapi tidak ketemu, lalu mengembara di lorong-lorong berdinding rak-rak buku. Kamu akan singgah di setiap rak, menatap dengan seksama setiap sampul buku dalam rak tersebut. Mengamati dan sesekali meraih dan membaca bagian belakang sampulnya.

Itulah  yang sering saya alami manakala masuk ke toko buku, tersesat di dalam toko buku dan biasanya tersandera oleh satu atau dua bahkan lebih buku yang menatap garang.

Anehnya saya merasa senang disandera dan tersesat. Rasanya saya menemukan dunia baru yang lebih indah dari dunia nyata. Beuh...

Nah, beberapa waktu lalu, saya kembali tersesat dan disandera oleh tiga buku sekaligus. Buku itu berwarna terang sehingga keberadaannya sangat menonjol. Bukan itu saja, cover buku tersebut seakan menatap dan mengajak kenalan, padahal saya sudah kenal dengannya. Wajahnya tidak asing buat saya, sering muncul di televisi.

Agar terbebas dari sanderaannya maka ketiga buku itu saya ambil,    sebagai alat tukar agar saya bisa keluar dari toko dengan aman, damai, sentosa dan bahagia. Ketiga buku itu adalah Trilogi Gumaman Kang Maman.

Tadaaaaa .... Inilah  buku Trilogi Gumaman Kang Mamang,
  karya Kang Maman


Sesaat kemudian, ketiga buku tersebut berhasil mejeng di rak buku saya untuk beberapa waktu lamanya. Setiap kali saya melewati rak, buku itu bersembunyi seakan malu-malu meong.

Setelah melewati tiga purnama, akhirnya saya meraih buku pertama, buku berwarna merah muda. Tidak butuh waktu lama untuk menuntaskannya. Alhamdulillah.


Review Salah Satu Buku Trilogi Gumaman Kang Maman


Judul: Notulen = Tidak Asli Tapi Hamba Allah
Penulis: Maman Suherman
Editor: Linda Irawati
Penata Isi: Langit Amaravati
Desain Kover Baru: Raysa Kania
Desain Kover Lama: Dyndha Hanjani Putri
Karikatur: Leo Si Penatap Bulan
Penerbit: Grasindo. PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta


Penuturan dalam buku ini sarat dengan makna tetapi santai. Hal ini ditunjukkan pula pada cara penulisannya. Jika buku-buku bergenre novel hanya berisi tulisan sepenuh halaman maka di buku Kang Maman ini sama sekali tidak monoton.


Bentuk Hurufnya Lucu


Terdapat banyak warna dan huruf-huruf berbagai bentuk. Sangat bervariasi. Ini sangat cocok bagi pembaca dengan karakter visual.

Penuh warna dan gambar yang  "lucu"


Saya jadi ingat buku diary saya dahulu kala.  Bentuk dan ukuran huruf yang bervariasi, warna warni dan diberi gambar serta tanda-tanda yang mewakili makna tulisannya.

Menariknya, setiap awal tulisan ditandai dengan tanda pagar atau hasteg. Dimulai dengan #1 hingga # 50. Sangat kekinian.

#1 hingga #8, Kang Maman berbicara tentang mantan, cinta, setia, dan kebahagiaan. Dan di hasteg 4 saya berterima kasih kepada Kang Maman. Mengapa? Beliau menulis. 


” Dan, mari saling mengingatkan: Cantik itu ejaannya bukan K.U.R.U.S.” (Halaman 11).😄

#1 Jangan pernah memaki mantan. Sebaliknya, berterimakasihlah, karena

Mantan adalah guru terbaik. (Halaman 6).

Pada #9, Kang Maman bercerita tentang proses penyelesaian skripsinya di Jurusan Kriminologi FISIP UI. Beliau juga menyuarakan kerisauannya terhadap kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang disebutnya “luka sosial”


#10, Kang Maman menuliskan tujuh alasan meninggalkan seseorang. Menggelitik, terutama bagi yang baru saja ditinggalkan.


“Percayalah, Aku meninggalkanmu dengan sepenuh luka di hatiku.”
(Halaman 42).

Saya baru mengenal dengan baik personil Warkop Prambors atau Warkop DKI, juga segala sesuatu tentang grup lawak ini. Semuanya tersaji dengan lengkap di # 11. 

Satu lagi yang saya tangkap dari tulisan Kang Maman, adalah selalu sarat dengan nasihat kebajikan. Itu pula yang tertulis dalam hasteg-hasteg selanjutnya.

#12 misalnya, bertutur tentang tanda akhir zaman.



 “Dia selalu memberi hari yang indah untuk pemilik hati yang selalu bersabar dan bersyukur.” (Halaman 60).

“Masih takut dengan pahitnya cinta? Bukankah kopi justru sempurna karena rasa pahitnya? Begitu juga cinta …” (Halaman 67) #13.

#24, saya tersentak dan segera mohon ampun. Gambaran di kepala saya selama ini, bahwa pelawak itu hanya menghabiskan waktunya untuk ketawa-ketiwi ternyata tidak sepenuhnya benar.


Kang Maman menceritakan keikutsertaannya dalam grup WhatsApp Majelis Pengajian Pelawak, di mana dalam grup itu mereka saling menasihati, ditaburi ajakan untuk selalu mengingat-Nya yang ditulis oleh seniman-seniman komedi yang tergabung dalam grup itu.


“ … Jika titah Allah hanya beban. Jika urusan Allah hanya dagang, jangan harap kecintaan-Nya akan datang….” 
(Tulisan komedian Gilar pada halaman 102).

#27. Bang Komeng dan Kang Maman, persahabatan keduanya digambarkan dengan sangat indah.


“Dan dari Bang Komeng, aku temukan mutiara terindah dalam kehidupan bersama: Persahabatan abadi!” (Halaman 115).

Ada kisah yang serupa tapi tak sama dengan kisah yang dituliskan Kang Maman dengan kisah saya, yaitu kisah nenekku yang buta huruf #42.

Bagaimana kisah ini mampu melemparkan ingatan saya ke seorang figur perempuan tua yang juga saya panggil dengan sebutan nenek. Sama-sama buta huruf, tidak bisa mengaji tetapi sangat rajin salat. Al fatihah untuk keduanya, nenek saya  dan neneknya Kang Mamang. 

Bahwa keikhlasan dalam mencintai-Nya juga pengabdian yang tulus dalam beribadah tidak melulu harus didasari dengan ilmu yang mumpuni, mungkin dengan tauhid sudah cukup. 

Walaupun untuk zaman ini, sudah tidak relevan lagi, karena arus informasi sudah sangat maju. Jadi tidak ada alasan lagi, kita menjadi buta huruf.

Terdapat gumam-gumam dari “mulut” Kang Maman yang tertulis dalam buku ini. Bagaimana Beliau berkeluh kesah tentang korupsi seperti yang dituliskan dalam #14.  Tumpas hingga kempes.

Atau kerisauannya terhadap ibu yang mengajarkan bahasa asing kepada anaknya hanya demi memamerkannya di ruang publik. Bahkan silang pendapat, menebar berita hoax juga tentang politik ditanggapinya dengan nasihat yang bijak.

“Ingatkan hati, kita tak akan bisa bersalaman jika tangan terus terkepal.”
(Halaman 144).

Dengan sangat manis, Kang Maman mengakhiri tulisan pada  #50 dengan lima kumpulan sentilan pendek.

Saat suatu hubungan berakhir dan usai, bukan berarti dua orang berhenti saling mencintai, mereka hanya berhenti saling menyakiti.


Andai yang tak berilmu mau diam sejenak, niscaya gugur perselisihan yang banyak. –Ali bin Abi Thalib ra.


Persahabatan laksana tangan dengan mata. Saat tangan terluka, mata pun menangis, meneteskan air mata. Saat mata menangis, tanganlah yang  menghapus air mata.


Kerap ada nama yang tertulis di hati. Tetapi tak bisa tertulis di buku nikah.


Menderita itu menggenggam erat, lekat melengket. Bahagia itu ikhlas melepaskan.

Maka pantaslah buku ini banyak diminati pembaca.

Best Seller!

59 komentar

  1. Buku² best seller katanya sih yg banyak quote gitu. Idenya keren yah, meramu dng tataletak yg OK. Jadi pembaca engga bosan...
    Trims reviewnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih juga Mbak Hani, sudah berkunjung dan meninggalkan jejak.

      Hapus
  2. Menarik sekali bukunya Bu Dawiah. Sarat makna tetapi dg gaya penyampaian yg santai. Colorful pula 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu colorful yang bikin kita merasa santai membacanya

      Hapus
  3. Mantab qoute2nya bisa dijadikan status medsos mba hehe.. cuss ak segera k toko buku penasaran banget ini jadinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah. Dan saya paling suka dengan qoute, singkat, padat, dan berisi.

      Hapus
  4. Merasa tersentil juga dengah beberapa quote-nya. Dan yang nge-review juga oke banget, nih ��

    BalasHapus
  5. Belum pernah baca buku beliau, tapi pernah ketemu langsung. Lucu, tapi menyindir berfaedah. Kalau dilihat dari ulasan ini, kayaknya buku beliau juga demikian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah, kurang lebih sama dengan apa yang dituliskan dalam notulen pada acara ILK.

      Hapus
  6. Wah aku jadi salfok sama penata isi (lay out): Mbak Langit ternyata! Nggak heran sih kalau doi sering menang2 lomba blog kece yang hadiahnya parah kecenya, prang bikin lay out buku yg penulisnya laki aja bagus begini, agak girly sih kalau menurutku malahan hihih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awalnya juga saya salfok. Mbak Langit gitu loh..

      Hapus
  7. Lucuu ya mbak. Saya ketawa2 sendiri bacanya.
    Jadi tertarik mau beli nih. Pelawak berilmu terus nulis.
    Seruu pastinya.
    Mksh reviewnya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lucu tetapi sarat dengan makna kebajikan, ayo Mbak beli dijamin kagak nyesal.

      Hapus
  8. gaya bahasanya Kang Maman santai tapi masuk banget buat pembacanya jadi ga bikin bosen

    BalasHapus
  9. Buku bagus kayanya. Saya memang suka kang maman. Ucapannya berbobot tapi ringan. Yang saya ingat dia ada di tv, di acaranya kang deni. Indonesia lawak klub

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah dan beliau yang selalu menutup dengan notulen.

      Hapus
  10. Ahhh, aku pengin. Bukunya asyik banget, bagian layout-nya beneran bikin nggak boring. Cuss, hunting weekend nanti.

    BalasHapus
  11. Suka, full warna. Jd betah bacanya. Ternyata, bkn hy anak TK aja ysng suka berwarna

    BalasHapus
    Balasan
    1. Warna-warni seperti warna-warninya kehidupan manusia. eh..

      Hapus
  12. Selalu suka dengan closing statement Kang Maman di sebuah acara di tv...selalu dalam maknanya.
    Apalagi kalau terkumpul dalam sebuah buku yaaa.
    Ah jadi penasaran saya
    Dan, Bunda mereview dengan cantiknya...jadi kepo dengan bukunya!

    BalasHapus
  13. Desainnya kece ya, karya Langit Amaravati, tulisannya pun tampaknya sangat bermanfaat bagi pembaca

    BalasHapus
  14. "Janganlah memaki mantan, tapi berterimakasih lah". Kang Maman keren nih, aku baru tahu ada trilogi buku Kang Maman. Menariknya ada nama Langit Amaravati yang jadi Penata Isi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keren kan, Mbak Langit gitu loh, idola ibu-ibu blogger se Indonesia, hehehe

      Hapus
  15. Buku-buku seperti ini memang menghindarkan kita dari kebosanan saat jenuh membaca tulisan yang terlalu panjang.

    BalasHapus
  16. Wah kang maman, i love him. Jujur, cuitannya slalu aku tanggapin dan kalau direply dia wuih seneng banget. Pernah juga dpt akses bs ngobrol sm beliau di metro tv jd makin berasa akrab sm beliau. Sayang aku blm sempet memiliki(buku)nya hehee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beliau juga pernah ke Makassar dalam suatu acara di Benteng Roterdam, dan saya hanya bisa melihat Beliau dari jauh, padahal saya juga ingin ngobrol

      Hapus
  17. Membaca beberapa potongan quote di sini saja udah bikin saya senyum-senyum. Kalau baca bukunya kayaknya saya bakal nyengir karena menarik quotenya

    BalasHapus
  18. Covernya bener-bener nyala yak...Isinya apalagi, wooww...Buku best seller keren quote nya. Jadi mupeng nih...

    BalasHapus
  19. quotes bagus-bagus ya, hari ini orang suka memajang quote di statusnya sebagai penyemangat

    BalasHapus
  20. Colourful banget ya buku2nya. Bunda pernah ketemu beliau di satu acara ISB tp gak sempet berbincang

    BalasHapus
  21. Waktu ngeliat ada nama Teh Langit, langsung mikir "seperti apa kira-kira bukunya?" dan ternyata benar, tata letaknya memang disusun wow. Aku tipikal orang visual, bakal betah banget kalau baca buku seperti ini.

    BalasHapus
  22. orang yang kelihatannya suka becanda becanda aja tuh ternyata gak selamanya begitu ya mb.. kayak kang maman ini, ternyata setelah menulis buku, kita baru tau pemikirannya dalam, bukan cuma haha hihi

    BalasHapus
  23. Quotable banget yah mba, Kang Maman dalam karyanya itu selalu menyisipkan nilai-nilai kebaikan. Bahasanya lugas dan gak menggurui.masuk wish list nih buku yang trilogi ini

    BalasHapus
  24. wah aku salfok sama teh Uchan alias Langit Amaravati bloher yang deket sama diriku rumahnya tapi ga pernah ketemu hahaha keren amat ternyata penata isi buku ini pantesan suka menang nata isi buku aja kece y mba

    BalasHapus
  25. Wah jadi tertarik deh, suka liat isinya yang bernas dan visualnya yang kece

    BalasHapus
  26. Aku udah lama gak beli buku euy. Tau penulisnya ini dari twitter karena selebtwit juga

    BalasHapus
  27. Kok sama ya, dengan teman-teman yang lain...sempat salfok setelah lihat nama Teh Langit..he he he Ternyata Teteh jadi penata letak bukunya Kang Maman toh..
    Kalo Kang Mamannya sendiri udah sering lihat di televisi sih, bukunya pasti menarik, ya...

    BalasHapus
  28. Eeeehhhh penata isinya Teh Langit Amaravati ya....
    Sepertinya makin kemari makin banyak buku dengan kemasan seperti ini ya.... Antara mengikuti pasar yang makin lelah membaca panjang-panjang, atau mungkin juga memang pesan penulisnya jadi lebih mudah ditangkap. :)

    BalasHapus
  29. Eh ada buku trilogi karya Kang Maman ya. Aku suka denger hasil notulennya di sebuah acara televisi

    BalasHapus
  30. Jadi penasaran sama bukunya,baru baca kilasan isinya kayaknya menarik. Saya suka jenis buku-buki yang ringan dibaca seperti ini tapi bermakna.

    BalasHapus
  31. sering ngakak sama becandaannya Kang Maman, kebanyang serunya kalau baca dalam bentuk buku. Mau cari juga ah :)

    BalasHapus
  32. Bagus pisaaaan ya mba bukunya.. kekinianntapi tetap sarat makna dan banyak pesan baiknya

    BalasHapus
  33. Enggak pernah tersesat sih krn kyknya kalau gak ada acara dan lagi nganggur hampir tiap wiken ke toko buku, walau kdng gak beli apa2 haha. Btw kok kyknya aku merasa buku Kang Maman itu berbau religi tapi dikemas dengan santai ya mbak? :D

    BalasHapus
  34. Asyik juga ya cara penyajian dari buku Kang Maman ini. Dia emang spesialis bikin semacam quote of the day ya dari acara di tipi itu. Dijadiin buku boleh juga nih.

    BalasHapus
  35. Wah, buku Kang Maman. Aku suka banyak celetukannya. Jadi kepengen baca. Penampilan buku dan isinya juga cakep :)

    BalasHapus
  36. Buku jaman sekarang itu visualnya indah banget yaa...
    Jatuh cinta juga sama buku Kang Maman.
    Enjoy Reading.

    BalasHapus
  37. Ini sih buku yg pengen aku baca kak. Bagus bagus semua kayanya. Udah lama suka sama tulisannya kang maman

    BalasHapus
  38. OMG kang Maman idolaku banget nih apalagi kalau udah cuap-cuap di Twitter hehe. Orangnya humble banget lho dia beberapa kali ketemu.

    BalasHapus
  39. Aku udah lama pengen punya buku ini, tapi belum kesampaian, hiks. Padahal setia banget jadi followernya Kang Maman di Twitter.

    BalasHapus
  40. Saya jadi penasaran sama bukunya. Kang Maman itu emang pinter banget merangkai kata. Suka denger beliau di ILK .. si Mbak juga. Seneng banget baca caranya bercerita " tersesat dan disandera " ❤️❤️❤️❤️❤️

    BalasHapus

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Nama

Email *

Pesan *