Jumat, 23 November 2018

Kala “Rindu” Mengaduk Rasa


Kala “Rindu” Mengaduk Rasa

 “Kita keliru sekali jika lari dari sebuah kenyataan hidup. Sungguh, kalau kau berusaha lari dari kenyataan itu, kau hanya menyulitkan diri sendiri. Ketahuilah semakin keras kau berlari, maka semakin kuat cengkeramannya. Semakin kencang kau berteriak melawan, maka semakin kencang pula gemanya memantul, memantul, dan memantul memenuhi kepala.”
Tere Liye, Rindu



Kalimat di atas adalah salah satu dari sekian kalimat lainnya  di dalam novel Rindu, kalimat itu seakan menghipnotis  dan secara gamblang  menampar keegoan diri.  

Dari sekian banyaknya karya Tere Liye, novel Rindu  inilah  yang paling saya ingat. Mulai dari tokoh-tokoh serta karakter dari setiap tokoh tersebut hingga alur cerita majunya.  Mungkin karena di dalam ceritanya mengambil setting daerah Makassar dan beberapa tokoh utamanya adalah orang Makassar,  sehingga terasa ada ikatan emosional.

Bukan buku baru. Novel Rindu terbit tahun 2014  (cetakan pertama pada Oktober 2014). Namun peminatnya tak berkurang hingga saat ini. Dibuktikan dengan cetakannya hingga cetakan ke-40 pada akhir tahun 2016. Bahkan beberapa waktu lalu, ketika saya ke  toko buku, saya melihat novel Rindu ini masih banyak peminatnya. Barangkali  sudah dicetak lagi beberapa kali setelah tahun 2016 itu.

Luar biasa!


Soal menulis novel yang sarat dengan makna dan ajakan ke kebaikan pastilah Tere Liye tidak diragukan lagi. Di awali dengan riset yang dalam dan sangat teliti, sehingga sejarah yang dituliskan nyata adanya.

Termasuk meneliti penanggalan yang tepat. Bagaimana Tere Liye yang bernama asli Muhammad Darwis itu menuliskan tanggal 1 Desember 1939 M yang bertepatan dengan 9 Syawal 1357 H. Itu tidak mudah mencari penanggalan 75 tahun lalu.

Novel Rindu ini menghadirkan banyak tokoh dan kisah, kemudian diramu sedemikian rupa, sehingga kita bisa langsung jatuh cinta pada tokoh-tokoh tersebut.
Ada beberapa tokoh  yang berperan dalam cerita itu, tokoh-tokoh tersebut saling terkait satu sama lain, terhubung dengan sendirinya karena perjalanan yang berlangsung selama sembilan bulan di atas laut, di atas kapal  Blitar Holland.
Kisah-kisah tersebut merupakan perjalanan panjang dalam kerinduan. Rindu ke Tanah Suci.

Tokoh pertama adalah Daeng Adipati, tokoh dengan karakter yang digambarkan Tere Liye sebagai seorang bangsawan sekaligus pedagang yang sukses. Sebagai calon jemaah haji yang menumpang kapal Blitar Holland dengan membawa serta keluarganya. Istri dan kedua anaknya, Anna dan Elsa.
Daeng Adipati digambarkan sebagai sosok yang kharismatik, terpandang, terpelajar, kaya raya, dan dekat dengan orang-orang Belanda. Di balik sosoknya yang nampak bahagia tersimpan satu rasa kebencian yang mengikutinya sehingga menimbulkan kosongnya jiwa.
Awalnya saya kurang sreg dengan tokoh ini. Terlalu sempurna tetapi menyimpan keborokan. Dibilang protagonis tetapi nyaris antagonis. Untungnya pada ending cerita, Adipati bisa berdamai dengan rasa sakit hati dan dendam. Hal itu tergambar setelah pulang dari Tanah Suci, Adipati mengajak saudara-saudaranya berziarah ke kuburan ayahnya sekaligus meminta keikhlasan untuk memaafkan ayahnya. Maka saya berubah pikiran menjadi suka tokoh ini.

Gurutta alias Ahmad Karaeng, dihadirkan oleh Tere Liye sebagai ulama besar dari tanah Bugis. Makassar. Sifatnya yang rendah hati, bersahaja serta dicintai oleh orang-orang yang mengenalnya. Tokoh sentral ini sangat bijak, terbuka dan bisa bergaul dengan siapa saja, bahkan bisa langsung akrab dengan orang yang baru ditemuinya.
Dengan santai ia bisa bercakap-cakap dengan Ruben, semeja dengan Chef Lars, menjadi sangat dekat dengan dua putri Adipati, Anna dan Elsa, serta berdikusi serius dengan Kapten Phillips dan Daeng Adipati.
Kisah heroik Ambo Uleng, pemuda pendiam kelasi kapal Blitar Holland menjadi daya tarik tersendiri. Kejadian serangan serdadu Belanda di sekitar Pasar Turi Surabaya mengajarkan saya, bagaimana menulis adegan demi adegan dengan sangat nyata seakan kita yang mengalaminya. Itulah kepiawaian Tere Liye.

Tema cinta dan romantisme diperlihatkan oleh sepasang suami istri yang sudah sepuh. Mbah Kakung dan Mbah Putri Slamet yang berasal dari Semarang.

“Pendengaranku memang sudah tidak bagus lagi, Nak. Juga mataku sudah rabun. Tubuh tua ini juga sudah bungkuk. Harus kuakui itu.  Tapi aku masih ingat kapan aku bertemu istriku. Kapan aku melamarnya. Kapan kami menikah. Tanggal lahir semua anak-anak kami. Waktu-waktu indah milik kami. Aku ingat itu semua.” (halaman 205).

Kisah cinta yang pilu dialami Ambo Uleng. Dia pergi meninggalkan daerahnya demi melupakan sakit ditinggal menikah oleh kekasihnya, sampai-sampai Kapten Phillips menanggapi.

“Aku juga pernah muda seperti kau, Ambo. Hanya dua hal yang bisa membuat seorang pelaut tangguh berhenti bekerja di tempat yang dia sukai, lantas memutuskan pergi naik kapal apa pun yang bisa membawanya sejauh mungkin ke ujung dunia. Satu karena kebencian yang amat besar, satu lagi karena rasa cinta yang sangat dalam. Oh my son, jangan-jangan, kau mengalami dua hal sekaligus.” (halaman 33).

Nah itulah sedikit cuplikan cerita dalam novel Rindu. Insya Allah saya akan tulis lagi kelanjutannya. 
Penasaran?
Eh yang sudah baca, pastilah hafal jalan cerita selanjutnya. Namun yang belum baca, pasti menjadi penasaran.
Kamu kategori yang mana?
To be continue ...

Judul Novel: Rindu

Penulis: Tere Liye
Editor: Andriyati
Cover: Andriyati
Penerbit: Republika. Jakarta
Cetakan ke XL (Oktober 2016).



22 komentar:

  1. Aq blm baca mba pasti mi penasaran ka. Ditunggu ya kelanjutannya .

    BalasHapus
  2. Saya pembaca setia semua novel tere liye tapi belum punya buku ini. Hiks! Pembaca setia yang mengaku-aku saja. Hayu beli ah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hayu dibaca, pinjam juga boleh. Tapi lebih bebas sih kalau punya sendri, bacanya bisa dicicil hehehe...

      Hapus
  3. Wah aku penggemar tere liye bun. Cuma buku ini belum aku punya. Siap-siap beli ini mah. Yang saya suka dari tere liye ini, dia ga cuma sekedar menulis tapi selalu ada pesan moral yang dia sampaikan kepada pembacanya

    BalasHapus
  4. Ya bersambung ... sabar menunggu kelanjutannya.

    BalasHapus
  5. Cuplikan kalimat-kalimatnya sarat makna ya Bun... aaah kapan aku bisa nulis spt itu

    BalasHapus
  6. Wahh bikin penasaran nih si mbak, hehehe
    Boleh dong nunggu review selanjutnya. Pliss

    BalasHapus
  7. Menarik nih kayaknya. Sempat baca dikit pas di toko buku.tapi blm berani beli karena takut ngantri juga di rak. Hehe... Makasih bocorannya mbak. Jadi penasaran

    BalasHapus
  8. Saya masuk kategori ke-2 bunda, penasaraaan!!! Apalagi kisahnya berlatar Kota Makassar. Jadi pengem beli nih buku.

    BalasHapus
  9. Rindu yang menyentuh . . .tapi penasaran

    BalasHapus
  10. Novel Tere Liye suka baca, tapi yang judul ini mah belum, ntar baca ah " Rindu" , makasih ya mbak sharing reviewnya

    BalasHapus
  11. Saya termasuk kategori yang penasaran Bun. Lanjutkan...
    Belum pernah baca bukunya Tere Liye uy...Kurang sabar saya kalau baca novel...hehe...

    BalasHapus
  12. Saya belum baca Rindu dari Tere Liye ini Bunda..
    Jadi penasaran ..mengingat karya Beliau selalu fenomenal

    BalasHapus
  13. Penasaran bun... Di tunggu lanjutannya hehe..

    BalasHapus
  14. Wah pecinta tere liye nih.. Isinya bikin lumer ya mbak..

    BalasHapus
  15. Selalu suka quotesnya Tere liye. Tp saya belum baca mb. Penisirin juga, hehe

    BalasHapus
  16. Saya belum pernah baca yang ini, Bun. Tapi Kalo Tere Liye mah ga diragukan lagi kualitas cerita Dan diksinya, ya :)

    BalasHapus
  17. Sudah baca dan hanya ada satu kata. Keren. Saya suka dengan Tere Liye sejak membaca Tentang Kamu. Jad mauka koleksi semua tulisannya

    BalasHapus
  18. Saya juga penyuka novel-novel Tere Liye ... Selalu sarat makna

    BalasHapus
  19. Saya selalu terhipnotis dengan kalimat-kalimatnya bung Tere Liye

    BalasHapus