Senin, 09 Juli 2018

3 Nilai Kearifan Lokal Sulawesi Selatan yang Nyaris Terlupakan


Pesta demokrasi daerah baru saja usai dan  meninggalkan berbagai kenangan bagi rakyat yang ikut berpesta di dalamnya. Baik kenangan baik maupun kenangan buruk.
Bagi yang “jagoannya” menang, bisa bernapas lega dan tersenyum semringah. Tetapi bagi  yang “jagoannya” kalah dalam pertarungan bisa menimbulkan kesedihan bahkan tidak sedikit menjadi stres. 

Demikian juga yang terjadi di daerah saya yaitu Sulawesi Selatan.
Terjadi pertengkaran dan caci maki dari kedua kubu, bahkan terjadi bentrok fisik yang akibatnya menimbukan kerugian dari kedua belah pihak. Ada juga yang memutuskan silaturahim antara saudara dan keluarga serta kerabatnya hanya karena berbeda dalam pilihan.

Padahal jika mau sedikit menurunkan ego lalu kembali menghayati nilai-nilai kearifan lokal, maka hal tersebut tidak perlu terjadi.

Ah. saya tidak akan membahas soal pilkada apalagi soal politik. Itu terlalu berat.
Jadi bukan rasa rindu saja yang berat,  kan Dilan. Soal politik juga sangat berat buat saya😊

Lah apa hubungan antara nilai kearifan lokal dengan kericuhan-kericuhan yang terjadi?
Saya jawab dengan tegas, sangat berhubungan. 



Mari kita lihat tiga nilai kearifan lokal dari sekian banyaknya nilai-nilai kearifan lokal yang sejak dahulu kala telah diyakini oleh para pendahulu kita.

  Mabbulo Sibatang (Persatuan dan Kesatuan)

Mabbulo sibatang artinya persatuan dan kesatuan. Jika dihubungkan dengan Kitab suci Al qur’an, maka nilai ini sejalan dengan QS. Al Imran ayat: 103.

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS: Al Imran: 103).

Nilai budaya ini selayaknya menjadi  prinsip dalam kehidupan kolektif karena ia menjadi suluh bagi terwujudnya persatuan dan kesatuan.
Jika mabbulo sibatang dimiliki dan dijadikan sebagai prinsip oleh setiap kelompok, pemeluk agama, etnis, dan suku,  maka pastilah tidak ada lagi unsur pembeda yang bisa menjadi alasan terjadinya perpecahan.

  Sipakatau (Saling Menghargai)

Nilai budaya ini merupakan nilai-nilai yang sejak lama dimiliki oleh masyarakat Sulawesi Selatan sejak dahulu. Nilai ini merupakan ajakan  untuk selalu saling menghargai, dengan prinsip saling memahami. Tentu saja tujuannya agar masyarakat menjalin hubungan yang baik dengan orang lain, tanpa melihat latar belakang.

Jika nilai sipakatau diterapkan oleh setiap masyarakat maka pastilah tidak ada lagi senggolan-senggolan atau rasa ketersinggungan antara satu sama lain. Dengan nilai sipakatau, masyarakat dituntun untuk menyadari bahwa betapa pentingnya menerapkan sikap saling menghargai agar setiap komponen, agama, ideologi,dan suku dapat hidup rukun dan damai.

·        Siri’ na Pesse (Perasaan Malu dan Empati)

Siri’ mengandung pengertian pentingnya memiliki rasa malu yang menggambarkan harga diri. Sifat dan sikap masyarakat Sulawesi Selatan yang pantang mempermalukan dan dipermalukan.
Menghindari  perbuatan yang tidak baik adalah salah satu wujud dari nilai siri’

Sedangkan pesse (bahasa Bugis) atau  pacce (bahasa Makassar) bermakna sebagai rasa turut merasakan penderitaan orang lain. Kata inilah yang biasanya menjadi pelunak bagi hati yang sedang marah.

“Punna tena siri’nu pa’niaki paccenu.”

Artinya: “jika engkau marah karena malu maka bangkitkanlah rasa kasihmu.” Atau bisa dianalogikan sebagai, “ jika kamu marah karena malu dengan perbuatannya maka malulah karena melihatnya menderita.”

Sayangnya ketiga nilai-nilai moral ini dari sekian banyaknya kearifan lokal Sulawesi Selatan semakin tergerus. Orang-orang sudah tidak mengindahkan lagi sifat dan sikap sipakatau. Betapa banyak orang yang berkata, bertindak, berlaku kurang ajar terhadap orang lain hanya karena persoalan yang remeh.

Bahkan ada yang dengan entengnya melupakan kebaikan orang lain hanya karena berburu harta, tahta, dan jabatan.

Padahal jika kita mau sedikit saja merenungi  nilai-nilai kearifan lokal setiap daerah, kemudian melestarikannya dengan cara mengikuti atau menaatinya pastilah tidak akan terjadi pertengkaran dan perpecahan.

Demikian. Semoga bermanfaat.


21 komentar:

  1. Benar banget Kakak, saat ini kita hidup di zaman yang ketika ada perbedaan terjadi beberapa orang lebih memilih memihak, membesar-besarkan dan mempermasalahkan perbedaan. Padahal perbedaan itu adalah hal yang lumrah ya.
    Nilai-nilai kearifan lokal seperti ini harus lebih banyak diperdengarkan lagi, kalau bisa dibikin viral sekalian he he he.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nilai kearifan lokal semakin tidak terdengar akibat medsos yang membabi buta.

      Hapus
  2. betul skalii bundaaa
    politik sulsel ada yang lupa akan ini
    tapi insyaALLAH semoga tahun ini semua berbaur saling merangkul membangun provinsi tercinta

    BalasHapus
  3. Politik itu jahat, apalagi llo sudaah membawa-bawa agama...dimana-mana sama...mencari jabatan dg segala cara.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, tetapi kita tidak bisa juga menutup mata kalau masih ada politisi yang baik. Hanya saja jumlahnya sedikit sehingga tidak dikenal, barangkali.

      Hapus
  4. Setuju, karena sekarang banyak sekali yang memprovokasi tentang perbedaan. Kearifan lokal harus banget di lestarikan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus ya mbak, biar kita bisa saling menghargai dan saling menyayangi tanpa melihat latar belakang agama, pendidikan dan sebagainya.

      Hapus
  5. Salah satu efek negatif dari era globalisasi ya ini kak... Hilangnya nilai-nilai kearifan lokal di tengah masyarakat. Sudah tidak saling menghormati dan menghargai, saling caci maki di media sosial, dan tidak bisa menerima perbedaan. Miris ya, kak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kitalah generasi sekarang yang harus berjuang agar anak-anak kita bisa kembali menegakkan nilai-nilai kearifan lokal setiap daerah.

      Hapus
  6. Sering dengar ini kak Dawiah, mabbulo sibatang, siri na pacce, dan sipakatau. Ini menjadi tanggungjawab kita semua mempertahankan dan mengamalkannya ya kak?

    BalasHapus
  7. Indonesia kaya akan kearifan lokal yang luar biasa. Jangan sampao nilai-nilai ini lu tur hanya karena kepentingan politik semata.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Politik memang tidak mengenal kawan dan lawan. Sama saja.

      Hapus
  8. Iya yah Kak nyaris hilang. Sekarang semakin mudah orang saling nyinyir. Ndak malu kalau sudah berkata-kata kasar. Bingung saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah akibat komunikasi yang terlalu bebas.

      Hapus
  9. Pesan dari kearifan lokalnya bagus sekali, Bunda. Sayang banget tuh kalo dilupakan bahkan ditinggalkan. Semoga rakyat Sulsel kembali adem dan bekerja sama membangun daerahnya, ya. Saya yakin bahwa membangun daerah itu tdk bisa dilakukan oleh satu kelompok saja tapi harus saling bekerja sama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terima kasih Mbak sudah berkunjung ke blog yang sederhana ini

      Hapus
  10. Kearifan lokal banyak tergerus efek negatif budaya digital..Tapi Insya Allah dengan menanamkan lagi ke generasi penerus negeri ini, baik dari rumah maupun di sekolah, kearifan lokal bisa dilestarikan.

    BalasHapus
  11. halo mbak, salam kenal dari yogya. Mendengar soal perpecahan antar saudara karena pilihan politik ini memang bikin sedih ya, tapi rasanya lebih lega saat membaca soal kearifan lokal di sulawesi selatan. alangkah indahnya kalau semua warga sulawesi selatan dan indonesia bisa mengingat nilai-nilai ini. so inspiring!

    BalasHapus