Assalamualaikum
sahabat.
Baca
judul di atas jangan langsung salah menduga yah? Dikiranya saya sudah pensiun
jadi mau curhat. Padahal belum, tetapi curhatnya memang iya. Hahaha …
Saya mau membagi cerita tentang teman yang sudah pensiun, lebih tepatnya hasil perbincangan saya dengan mereka. Disimak yah…
Pensiunan Pertama
“Bagaimana
kabar-ta setelah memasuki masa
pensiun?” Saya memulai percakapan sambil menatap matanya yang kuyu.
“Begini-mi ini kalau sudah tua maki, muncul semua-mi penyakit.” Jawabnya, dengan nada pilu.
“
Sakit apa-ki?” kembali saya tanya
dengan menyentuh bahunya.
“
Sakit hati” Jawabnya ketus.
Beuh
…. Rada-radanya mau curhat nih teman saya. Okelah , saya ladeni sok perhatian,
aslinya kepo.
“Kenapa-ki sakit hati, sama siapa?”
“Sama
semuanya. Sama suami yang makin rajin olahraga dan saya ditinggal di rumah, sama anak-anak, masa
saya dijadikan baby sitter ..
bla..bla..”
Beberapa
menit saya jadi pendengar setia sambil membayangkan bagaimana dan apa yang akan
saya lakukan saat saya pensiun.
Belajar
dari curhatan teman tersebut, saya berpikir bahwa, kalau pensiun itu tiba maka saya akan lebih
rajin berolahraga. Suami teman saya itu rajin banget olahraga kan, bedanya saya
akan mengajak Ayangbeb ikutan olahraga. Jangan sampai Beliau sakit hati kalau
saya tinggal dan sehat sendiri, hahahaha… Kenyataannya sekarang Beliau lebih
rajin olahraga.
![]() |
| Tidak mau jadi baby sitter ah.. Tapi saya juga pingin gendong-gendong cucu. Sesekali boleh lah 😃 |
Pensiunan kedua
Saat
antri di salah satu bank, saya bertemu lagi dengan teman yang juga sudah
pensiun. Terjadi lagi perbincangan seperti berikut ini.
“Masya
Allah, ibu masih segar setelah sekian lama pensiun. Bagi resepnya Bu.” Saya
jujur mengatakan itu. Terlihat dari matanya yang cerah dan senyumnya yang
semringah. Lumayan kan dapat resep untuk persiapan pensiun.
“Alhamdulillah
Dek. Rahasianya gampang-ji, jangan
lupa bahagia.” Jawab Beliau enteng.
“Apa
kegiatan-ta sekarang?” mencoba
mengulik.
Lupakan kataJangan Lupa Bahagia. Sudah basi.
Lupakan kata
“Setiap
terima uang pensiun saya keliling ke rumah anak-anak saya. Pekan pertama saya
ke rumah anak sulung, pekan kedua ke rumah adiknya, pekan ketiga ke rumah
sibungsu dan pekan keempat kembali ke rumah, luluran, panggil tukang pijit, siram-siram bunga, dan
sebagainya.” Cerita si Ibu sangat bersemangat.
Wuii…. Bagus juga nih resepnya.
Wuii…. Bagus juga nih resepnya.
“Berdua-ki sama bapaknya jalan?” Ingat kalau
Beliau masih bersama suami.
“Tidak,
dia di rumah-ji. Malas-ki pergi-pergi.” Katanya sedikit ketus.
“
Oooo…”
Pensiunan ketiga
Lain
lagi cerita teman yang baru pensiun lima
tahun terakhir.
“Setelah
pensiun, apa kegiatan Ibu?”
“Oh
banyaaak.” Jawabnya antusias.
“Apa
saja Bu.” Saya tak kalah antusiasnya.
“Saya
ikut majlis taklim setiap akhir pekan, ikut senam jantung dua kali sepekan,
saya juga merajut bersama kelompok ibu-ibu RT.”
Wow
saya terpukau!
“Apalagi
kegiatannya Bu?” Masa cuma tiga kegiatan itu dibilang banyak.
Nyinyir saya
dalam hati.
“Saya
juga rajin ke salon, yaah hanya sebulan sekali. Tiap Sabtu malam saya
jalan-jalan ke Mall dan makan-makan dengan teman kelompok ibu-ibu pensiun.”
“Bersama
suami Bu?” Tetep kepoin kabar suaminya.
“Suami
saya kan sudah almarhum.” Jawabnya sendu.
“Maaf
Bu, saya tidak tahu.” Menyesal tanyakan itu.
“Tidak
apa-apa, tapi walaupun suami sudah tiada masih ada anak-anak saya yang selalu
datang ke rumah, tidak setiap hari tapi mereka bergantian datang.”
“Ibu
merawat cucu?” Tanya saya lagi. Membayangkan Beliau jadi baby sitter.
“Tidak.
Malas urus cucu. Anak saya datang sendiri, hanya mengantarkan uang belanja
karena uang pensiunan saya tidak cukup.”
Kalau
tiap akhir pekan jalan ke Mall, belanja dan makan-makan. Terus ke salon tiap bulan, uang pensiun manalah cukup Bu. Batin saya,
tidak berani bilang ke Beliau takut ditabok, hiiii …😃
Pensiunan keempat
Bapak
yang satu ini lumayan istimewa, fisiknya masih bugar, masih mengajar di salah
satu sekolah swasta, dan masih rajin ikut kegiatan-kegiatan lainnya.
“Apa
kabar Pak, saya lihat Bapak masih aktif mengajar.”
“Alhamdulillah
sehat, itu-ji kutahu mengajar Dek.”
Jawabnya dengan senyum dikulum.
“Bersyukur-ki masih bisa mengajar dan terutama
masih sehat.”
“Yah
begitulah, saya masih ada tanggungan, istri masih menuntut gaji seperti waktu
saya masih aktif. Sebenarnya saya sudah lelah tapi mau apalagi terpaksa cari
sekolah swasta yang masih mau menerima pensiunan seperti saya.”
Kasihan
juga bapak ini, mengajar karena terpaksa saja.
“Kenapa
bapak tidak menggunakan uang pensiunnya untuk berbisnis misalnya.” Sok-sok kasi
solusi.
“Uang
pensiunan saya sudah habis, SK sudah digadaikan di bank untuk ambil kredit
jangka panjang.
“Untuk
apa Pak ambil uang kredit.”
“Untuk
biaya pesta anak saya.” Bisiknya pilu.
Asli
bengong!
Tuing
… tuing … tuing
Pensiunan kelima
Saya
melihat teman satu ini biasa-biasa saja. Kesehariannya di rumah seperti ibu-ibu
pada umumnya, beres-beres rumah, merawat bunga, ke pasar, masak dan duduk-duduk
di teras membaca sambil minum teh.
Santai sekali hidupnya, paling tidak itu yang saya lihat.
Mau tanya-tanya ah.
Santai sekali hidupnya, paling tidak itu yang saya lihat.
Mau tanya-tanya ah.
“Assalamualaikum
Bu, bunganya segar semua.” Basa-basi biar tidak dicurigai.
“Waalaikumsalam.
Segar karena selalu saya rawat.” Jawabnya datar.
“Dari
dulu ibu suka merawat bunga di?”
“Oh
tidak, mana ada waktu. Pergi pagi pulang sore. Sampai di rumah urus anak-anak,
suami dan sebagainya.” Jawabnya cepat.
“Jadi
ibu merawat bunga setelah ibu pensiun?”
“Tidak
juga.” Mukanya tiba-tiba muram.
Nah loh…nah loh…
Nah loh…nah loh…
“Saya
merawat bunga setelah melewati tiga tahun pensiun. Tahun pertama pensiun saya
stres, tahun kedua saya sakit-sakitan, tahun ketiga saya menjadi langganan
psikiater. Lalu psikiater itu manyarankan agar saya mencari kegiatan yang
bermanfaat. Nah, ini-mi yang saya
lakukan.”
Saya
termangu mendengarnya.
“Maaf
Bu, apakah sebelum pensiun tidak melakukan persiapan apa-apa?”
“Persiapan
apa Dek? Saya terlalu sibuk di kantor dan urus keluarga. Saya mengupayakan
segalanya agar suami dan anak-anak bahagia dan tercukupi semua kebutuhannya.”
Beliau menggeser duduknya, badannya tegak dan sorot matanya terlihat tajam.
Apakah
ia menyesal telah melakukan semuanya.
Entahlah.
Entahlah.
“Maaf Bu, apakah ibu menikmati kegiatan ibu
sekarang ini.”
“Saya
hanya berusaha menikmatinya Dek, tidak tahu melakukan apa lagi. Tunggu ajal
saja, kapan datang menjemput.” Jawabnya pasrah.
“Kalau
adek lihat saya duduk minum teh, itu saya lakukan sambil mengenang masa-masa
kesibukan saya.” Katanya lagi. Masih dengan nada pasrah.
Saya menelan ludah.
Pahit.
Insya
Allah Desember 2024 saya memasuki masa pensiun, pensiun jadi guru di sekolah.
Semoga umur saya panjang sehingga bisa menikmati masa pensiun itu.
Tetapi
saya hanya pensiun di sekolah, selebihnya saya akan terus bekerja dan mengajar
di tempat lain.
Woiii …. Kamu sudah tuir Dawiah!
Woiii …. Kamu sudah tuir Dawiah!
Siapa
bilang?
Selama
masih hidup “usia” saya akan terus muda dan bergelora. Itu prinsip yang baru
saya canangkan 10 tahun terakhir. Pede amat.
Emang
pedelah, namanya juga harapan.
Pensiun
itu kan hanya istilah yang diberikan kepada para pekerja yang sudah selesai
masa kerjanya. Setiap profesi berbeda-beda masa kerjanya sehingga berbeda pula
usia pegawainya saat memasuki masa pensiun.
Masa
kerja yang dimaksudkan di sini adalah masa kerja di suatu instansi tertentu dan
diikat dengan Surat Keputusan (SK). Karenanya tidak berarti yang pensiun sudah
harus berhenti bekerja dan melakukan aktivitas.
Misalnya,
saya guru dan akan pensiun jadi guru di sekolah pemerintahan. Namun bukan
berarti saya harus berhenti jadi guru, berhenti mengajar dan mendidik.
Masih ada tempat lain, cara lain, media lain untuk tetap menjadi guru dan mengajar. Saya juga akan terus menulis, ngeblog dan terutama membaca.Termasuk membaca
jiwamu, heuu…
Masih ada tempat lain, cara lain, media lain untuk tetap menjadi guru dan mengajar. Saya juga akan terus menulis, ngeblog dan terutama membaca.
Kok
bisa?
Bisalah!
Apa yang tidak bisa di zaman digital kini.
Menurut
saya, selama masih ada waktu maka persiapkanlah masa pensiun itu dengan
sebaik-baiknya. Dari segi materi, waktu, dan terutama mental.
Jangan habiskan seluruh waktumu demi mengejar pemenuhan finansial keluarga. Kalau urusan uang, pastilah tidak akan ada cukupnya.
Berikan waktu khusus untuk diri sendiri, istilah sekarang me time gitu.
Lakukan
kegiatan yang bermanfaat dan bisa berguna di masa yang akan datang. Misalnya
mengasah keterampilan menulis, keterampilan kerajinan, dan keterampilan
lainnya.
Mudakan jiwamu dengan tetap bergaul dengan yang muda-muda.
Itu saya hihihi … bergaul dengan blogger-blogger muda agar saya bisa menangkap jiwa mudanya.Jangan malu berdekatan dan bergaul dengan mereka asal tidak malu-maluin saja.
Kalau sahabat pembaca, apa tipsnya nih dalam rangka menyambut masa pensiun atau masa tua nanti.
Kasi tanggapannya di kolom komentar yah.














