Sulung yang Ulung Part 2

Tuesday, January 29, 2019



Katanya, jadi anak sulung itu berat. Ia memikul tanggung jawab sebagai pemimpin buat adik-adiknya, ia harus menjadi suri tauladan, menjadi tolok ukur keberhasilan, dan masih banyak lagi tuntutannya.

Kalau merujuk arti kata  “sulung” dalam KBBI, maka sulung = ulung. Sedangkan Ulung adalah berpengalaman; mahir; terbaik.

ulung1 a sulung
ulung2 a berpengalaman; mahir; terbaik:

Mungkin itulah sebabnya, anak sulung selalu diharapkan jadi yang terbaik, selalu mahir, dan lebih dari adik-adiknya.

Saya sering mendengar perbincangan mama-mama di perkumpulan arisan, di posyandu, maupun di tempat lain, katanya; 

“Kalau anak sulung berhasil maka berhasil pula adik-adiknya.”
“Gara-gara kakaknya malas ke sekolah, adiknya juga ikut-ikutan.”
“Saya tekankan ke kakak (si-sulung), kamu itu contoh buat adik-adikmu. Kamu harus jadi yang terbaik.”

Saya pikir, itu  terlalu berlebihan. Justru saya beranggapan, anak sulung itu adalah anak “percobaan” Segala bentuk model pengasuhan anak, dicobakan ke dia. Itu saya, entah Ashanti.

Tanpa disadari, saya juga termasuk orang yang berpendapat seperti mereka. Misalnya, masukkan anak ke pesantren.

Fandi sebagai anak sulung menjadi ajang coba-coba. Ternyata gagal. Mengacu pada kegagalan itu, saya tidak berani lagi masukkan adik-adiknya ke pesantren.

Fandi saya ikutkan bimbingan belajar, saat ia masih SD. Ternyata ia sering stres karena beban belajar yang tinggi, maka adik-adiknya tidak lagi saya ikutkan bimbingan.

Fandi suka main bola, maka saya suruh juga adik-adiknya untuk ikut main bola. Bahkan saya tuntut Fandi agar ia mengajak adiknya main bola.

Beberapa keputusan yang saya ambil berhasil, tapi tidak sedikit yang gagal. Saya baru menyadarinya setelah anak-anak saya beranjak remaja.
Misalnya, ternyata di antara mereka ada yang berpotensi mendalami ilmu agama. Tetapi saya tidak mengarahkannya ke sana, hanya karena kegagalan si-sulung.

Ternyata ada anak saya yang lebih pandai dari Fandi, tapi saya mengacuhkannya. Masih banyak lagi, penyesalan-penyesalan kecil lainnya.
Ya sudahlah, toh sejauh ini Fandi sudah cukup berhasil dalam menjalani perannya sebagai anak sulung.

Baca juga tentang Fandi di sini

Jadi Pembela Bagi Adik


Tahun 2000, saya hijrah dari rumah lama ke rumah yang baru di Sudiang. Waktu itu, Fandi baru kelas lima. Sedangkan dua adiknya masing-masing kelas tiga, dan kelas satu. Sementara anak keempat masih TK.
Otomatis mereka juga pindah sekolah. Dari sekolah yang berbasis agama ke sekolah umum.

Perubahan lingkungan berdampak pada pergaulan dan perubahan sikap. Ada yang  positif tapi ada juga negatifnya.

Positifnya, mereka menjadi lebih mandiri. Tidak ada lagi mama saya yang selalu memanjakan mereka. Tidak bisa lagi, kalau mau makan, langsung duduk dan makanannya sudah tersedia di atas meja.

Di rumah baru, saya menerapkan peraturan baru. Saya membuat jadwal kerja yang ditempel di dinding. Mulai jadwal menyapu, mengepel, cuci piring, sampai jadwal jaga warung.

Tanpa diminta, Fandi tampil jadi ketua. Ia yang mengontrol jadwal kerja adik-adiknya. Alhamdulillah, rumah selalu bersih. Kabar buruknya, hampir tiap hari saya menemukan pecah beling di tong sampah. Kalau bukan gelas yah piring yang pecah.

Tak masalah.

Punya empat anak laki-laki yang hampir seumuran itu ternyata mengundang juga anak laki-laki lainnya. Teras rumah kami selalu dipenuhi anak laki-laki.
Mereka berkumpul dan bermain di teras rumah atau di jalanan depan rumah.

Suatu waktu, Denis anak tetangga datang mengadu. Katanya, ia dicurangi oleh Fandi bersaudara. Maka saya sidang mereka.

“Apa maksudnya itu Denis, kalian main curang?”
“Tidak Mama, kita mainnya jujur tapi Denis tidak mau kalah, maunya menang terus.” Uci menjawab sambil senyum-senyum.
“Memangnya kalian main apa?” Saya penasaran.
“Begini mama, tadinya Uci main kelereng sama Denis, hampir-mi kalah dan mau-mi menangis.” Ical putra kedua mencoba menjelaskan.
“Terus?” Saya mulai menangkap gelagat tidak baik.
“Jadi saya ikut main, saya pinjam kelerengnya Uci, Ical juga saya ajak. Akhirnya habis-mi kelerengnya Denis.” Tukas Fandi.
“Intinya diborongi Denis, hahaha….” Uci tertawa puas.

Sebenarnya saya mau ketawa, tapi sedapat mungkin ditahan.

“Lain kali tidak boleh begitu Nak, kasihan Denis.”
“Tergantung-ji Ma, kalau situasi genting, yaah kami turun tangan.” Fandi menjawab tegas tanpa senyum. Beuh segitunya.


Kejadian seperti itu sering sekali terjadi. Mereka bertiga kompak. Tapi anehnya, rumah kami masih saja dipenuhi anak-anak.

Salah satu permainan yang paling sering mereka mainkan adalah main bola-bolaan (saya tidak tahu apa nama jenis permainan itu).
Alatnya terbuat dari kertas karton yang dilipat sedemikian rupa sehingga bisa berdiri, kertas itu diibaratkan orang. Jumlah kertas itu sebanyak 22. Lalu kertas-kertas itu diatur di atas lantai. 11 kertas di sebelah kanan dan 11 lainnya di sebelah kiri.

Ada yang berperan sebagai penjaga gawang, penyerang, dan lainnya. Bolanya juga terbuat dari kertas bentuknya bulat dan lebih kecil dari kelereng. Lucunya, setiap kertas ditulisi nama-nama pemain bola.
Cara bermainnya juga lucu, bola kecil disimpan di depan kertas karton lalu oleh pemainnya, karton ditekuk agar bola terlempar ke depan. Begitu seterusnya hingga tercipta gol.

Mereka bisa bermain semalaman. Saya dan bapaknya sering jadi supporter dari salah satu tim. Hehehe…

Fandi Gagal Kuliah S2


Sesaat sebelum Fandi diwisuda, ia berbisik.

“Ma, bisa-ji saya lanjut S2?”
“Maunya lanjut di mana?”
“Rencananya lanjut ke ITB.” Jawabnya hati-hati.
“Insya Allah, selama mama dan bapak masih hidup dan masih kerja Fandi boleh kuliah.”
Fandi tersenyum dan memeluk pundak saya.


Subuh di Yogyakarta, saya mempercepat salat subuh karena sudah tidak khusuk lagi mendengar handpone berdering tiada henti. Saat melihat di layar, 30 kali panggilan tak terjawab. Deg!
Saya lalu menelpon balik. Di seberang sana terdengar suara parau campur tangis.

“Kak, rumah mama kebakaran!”
“Innalillah, bagaimana keadaan mama dan semuanya?” Teringat mama saya yang sudah sepuh.
“Selamat-ji semua. Eh rumah-ta juga sudah mulai terbakar!” Teriak adik saya. Saya hanya melongo.


Suatu pagi di rumah pengungsian, pascamusibah kebakaran,  Fandi mendekati saya dengan wajah masygul.

“Ma jangan-mi saya lanjut S2, cari-ma dulu pekerjaan.”

Fandi paham, kalau semua tabungan kami harus dikuras demi membangun kembali rumah yang telah rata dengan tanah. Apalagi masih ada adiknya Uci yang sementara kuliah di ATKP.

Terima kasih atas pengertianmu Nak, kami terpaksa ingkar janji. Bukan karena tak mau tetapi keadaan tidak memungkinkan.

Fandi Jatuh Cinta, Saya Patah Hati


Tiba-tiba saya melihat Fandi memasang foto perempuan cantik di facebooknya. Dengan caption Limited edition.

Maka meluncurlah kalimat-kalimat nasehat di kolom komentarnya. Teman-temannya ikutan mengompori. Tak sekalipun Fandi membalas komenku. 

Untungnya Itu hanya  terjadi di dunia maya, di dunia nyata kami tak pernah membahasnya.

Saat itu Fandi masih berstatus mahasiswa. Saya dan bapaknya sudah tekankan, tidak boleh pacaran. Kalau mau pacaran, berhenti sekolah dan langsung menikah.

Anak-anak saya tahu bahwa ada aturan tidak tertulis yang sejak kecil ditanamkan ke mereka, bahwa mereka tidak boleh pacaran, tidak boleh membawa teman perempuan ke rumah yang bukan muhrim,  tidak boleh menikah sebelum  bekerja, jika saatnya tiba harus mencari pasangan yang seiman, dan berbagai aturan lainnya.

Mungkin itulah Fandi tidak berani membahas soal foto di facebooknya. Tetapi saya tahu, ia sudah jatuh hati kepada gadis di foto itu.

Saat Fandi diterima bekerja di salah satu perusahaan di Bandung, saya pertanyakan gadis yang ada di foto itu. Dengan hati-hati Ia menjelaskan siapa namanya, asal-usulnya dan segala hal tentang gadis itu.

Duhai, anakku betul-betul sudah jatuh cinta. Tapi aneh, saya merasa patah hati.  Merasa diduakan dan tak siap menerima kenyataan, kalau ada perempuan lain di hatinya.

Namun begitu, saya harus menerima kenyataan. Si sulung semakin dewasa. Lambat atau cepat, ia akan membina rumah tangga.

Gadis Gorontalo Pujaan Hati


“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula).  ....”
(QS: An-Nur ayat: 26)

Tak ada keraguan atas janji Allah itu, dan saya yakin Fandi adalah laki-laki yang baik maka ia berhak mendapatkan perempuan yang baik pula.

Setiap malam saya berdoa, mohon petunjuk atas pilihannya. Jika nama gadis itu yang  tertulis di Lauhul Mahfudz sebagai jodoh Fandi, maka mudahkanlah urusannya. 

Jika bukan, maka berilah anakku kesabaran menerima takdirnya.

Alhamdulillah, doa-doaku yang melangit ke Arsy dikabulkan. 
Kami bisa bersilaturahim ke Gorontalo sekaligus melamar gadis pujaan hati Fandi. Silaturahim itu berjalan hikmat dan penuh kekeluargaan.

Gadis pujaan Fandi akan menjadi anak perempuan kedua dalam keluarga kami.

Hadiah Untuk Fandi


Bapaknya bertanya, hadiah perkawinan apa yang bagus diberikan kepada Fandi?

“Tak ada hadiah berupa harta benda. Tetapi meminang perempuan beriman nan cantik untuknya adalah hadiah terbesar buat Fandi.”

Satu-satunya benda yang saya berikan adalah buku berjudul “ Menggapai Samara” sembari menitipkan pesan.

“Kamu telah memikul tanggung jawab sebagai suami, maka hidupmu sekarang bukan lagi untuk dirimu semata, melainkan untuk berdua dan kelak untuk anak-anakmu”

“Baik buruknya istrimu, ditentukan oleh caramu memimpinnya, maka tuntunlah dengan kasih sayang, siangi dengan cinta.”

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki)  telah memberikan nafkah dari hartanya ….”
(QS: An-Nisa; 34).



Sehat terus Nak, jadilah keluarga sakina mawaddah warahmah.
Sampai kapanpun kamu tetap anakku, maka doaku akan kebahagiaan dan kesuksesan  tak akan pernah berhenti untukmu.




Read More

Si Sulung yang Ulung

Wednesday, January 23, 2019






Saat saya berniat menulis tentang si-sulung ini, saya minta izin sama dia. Bagaimanapun  sekarang Beliau itu sudah dewasa, saya khawatir ia malu kalau “aibnya” dipublish.

Alhamdulillah, Beliau mengizinkan katanya, “dengan senang hati.”

Kenapa minta izin?  Kan tidak lucu kalau saya digugat oleh anak sendiri lalu kena jerat undang-undang IT dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan,  berhubung karena kisah masa kecilnya dipublish.

Lahir pada bulan Juni 1991 dengan wajah yang persis sama dengan wajah bapaknya. Saya beri nama Muhammad Fadlan Afandi, lebih akrab dipanggil Fandi.

Begitu miripnya, sampai-sampai teman SD bapaknya bisa langsung menebak kalau ia itu adalah anak temannya, padahal kami belum saling mengenal satu sama lain. 
Peristiwa itu terjadi di ruang tunggu, ruang praktik Dr.  Farid. 

Waktu itu, saya bawa Fandi berobat ke dokter anak, kami hanya berdua karena bapaknya juga kurang sehat. usianya sekitar tiga tahun. Walaupun dia sakit, tapi masih lincah berlarian ke sana kemari.

Seorang laki-laki yang seumuran dengan bapaknya, tidak berhenti memperhatikan Fandi. Mungkin karena sangat penasaran, beliau langsung mendatangai saya dan bertanya.

“Tabe Bu, itu anak-ta?”
“Iye, kenapa Pak?” Saya balik bertanya.
“Ibu istrinya Nasir, anaknya itu Nasir di?” Tanyanya beruntun.
“Iye, kenapa bapak tahu, pernah-ki ketemu?”
“Lama sekali-mi saya tidak ketemu sama bapak. Tapi dari tadi saya perhatikan anak-ta, itu mukanya persis teman SD ku dulu, namanya Nasir. Makanya saya langsung tebak, pasti ini anaknya teman SD ku.” Jawabnya dengan mata berbinar, menyiratkan kalau tebakannya berhasil.

“ooo… begitu di?”

“Benarkah to Bu, kita istrinya temanku. Titip salam ya sama dia.” Jawabnya senang.

Maka berbincanglah kami, sekaligus ia memperkenalkan istrinya. Mereka juga membawa anak sulungnya berobat.

Pulangnya saya ceritakan kejadian itu dan bapaknya  jawab begini.
“Betul toh, Fandi itu anakku.” Sambil mengedipkan mata.

Hahaha… siapa juga yang meragukannya.

Satu hal yang saya sesali sehubungan dengan masa kecilnya, ia tidak menikmati asi eksklusif. Waktu itu pengetahuan saya tentang ASI belum ada. Bahkan kalau ke Posyandu, ibu-ibu dan petugas Posyandu lebih ribut membicarakan jenis-jenis susu formula. 

Tapi bukan karena itu juga alasannya, melainkan karena saya hamil anak kedua sebelum saya mengalami haid pertama pascamelahirkan.

Betapa sedihnya, saat pertama kali mau menghentikan dia menyusu. Usianya hanya terpaut 18 bulan dengan anak kedua. Maka praktis Fandi berhenti ASI saat usianya belum menginjak dua tahun.  

Kalau Tidak Bodoh Sekali, Dia Akan Pintar Sekali

Kalau anaknya tidak bodoh sekali maka ia akan pintar sekali. 

Kalimat itu diucapkan oleh dokter ahli syaraf yang merawat Fandi. Duhai betapa nelangsanya.

Ceritanya, waktu itu Fandi  terjatuh dari tangga, jarak jatuhnya sekitar 2 meter dan pingsan selama kurang lebih 10 menit. Sesaat setelah sadar Fandi muntah dua kali. Maka spontan kami melarikannya ke dokter terdekat.

Karena dokter anak lagi tak ada di tempat, maka saya daftarkan Fandi ke dokter ahli syaraf. Yah karena ini berhubungan dengan kepalanya yang terbentur saat jatuh, mungkin dokter ahli syaraf bisa membantu menanganinya. Itu yang kami pikirkan waktu itu.

Setelah diperiksa, dokter menyimpulkan kalau Fandi kena gegar otak. Ia harus diterapi sampai sembuh.
Maka jadilah Fandi sebagai langganan pasien dokter ahli syaraf.

Diakhir proses terapinya, dokter mengatakan bahwa, saya harus ekstra mendampingi Fandi serta memantau perkembangan otaknya, karena bisa jadi ia akan mengalami kemunduran perkembangan otak atau malah mengalami kemajuan yang pesat.

“Maksud dokter bagaimana?” Untuk mempertegas pernyataannya.
“Anak ibu, bisa saja tidak pandai atau malah sangat pandai. Kalau tidak terlalu bodoh yah sangat pandai.” Jelasnya lugas.  

“Ya Allah! Jadi apa yang harus saya lakukan agar anak saya tidak idiot?”
“Bukan idiot Bu, tapi tidak pintar.” Ah sama saja pikirku.
“Berdoalah Bu, kan ibu sudah  ikhtiar dengan melakukan terapi, kalau Allah berkehendak, apapun bisa terjadi.”

Maka jadilah hari-hari saya diliputi rasa cemas dan malam-malam penuh doa khusus buatnya.

Sirnalah Sudah Kecemasan


Tanda-tanda kalau otak Fandi tidak rusak sebenarnya sudah mulai terlihat, sejak beberapa bulan  setelah paristiwa jatuhnya dari tangga itu. 
Usianya baru 2,5 tahun, dan ia sudah pandai membedakan warna dan mengelompokkannya. 

 Walaupun agak lambat berbicara dan lambat pula berjalan.
Dia lancar berjalan saat teman-teman seusianya sudah bisa berlari,  dia baru terbata-bata berbicara saat anak-anak seusianya sudah bisa bernyanyi.

Namun perkembangan otaknya luar biasa. 

Enam bulan setelah jadi langganan dokter syaraf dan diterapi, ia menunjukan perkembangan yang signifikan. 

Fandi bisa mengarahkan matanya pada lensa okuler lalu mengatur lensa objektif pada mikroskop untuk mendapatkan gambar obyek yang terang.   

Ia bisa melakukannya selama berjam-jam, dan tidak mau berhenti sebelum obyek yang dilihatnya  terlihat jelas.  Walaupun ia tidak tahu gambar apa yang ia amati.

Selain itu, ia sangat suka memainkan garpu tala. Ia pukulkan ujung garpu tala lalu mendekatkannya ke selembar kertas. Saat kertas itu ikut bergetar ia tertawa kesenangan, bola matanya berputar-putar bahagia. 
Seakan memberitahu kalau kertas itu ikut bergetar akibat getaran pada garpu tala.

Yah, ia sangat akrab dengan alat-alat laboratorium IPA. 
Pastilah akrab,  tempat bermainnya di laboratoirum IPA, hehehe…

Saat itu,  saya masih bertugas di SMP Balocci, kebetulan saya jadi kepala lab IPA, maka setiap mengajar di lab,  Fandi selalu saya bawa dan ia senang sekali bermain dengan alat-alat laboratorium.  

Kecemasan atas perkembangan kecerdasan Fandi baru betul-betul sirna setelah  ia  masuk SD. 

Akibat pernyataan dokter yang terus membayangi pikiran, maka jadilah saya mama-mama yang selalu merepotkan gurunya. Hampir setiap hari saya bertanya kepada guru kelasnya. 

Apalagi kalau melihat kebiasaannya di rumah yang tidak mau membaca, ia lebih senang pelajaran berhitung. Setiap kali diberikan buku bacaan, ia tepis dan ia ganti dengan pelajaran berhitung.

Pernah satu waktu saya ke sekolahnya, oleh gurunya ia diberi PR berhitung tersendiri. Saya protes, kenapa anak saya diperlakukan tidak sama dengan temannya. Temannya diberi PR berhitung tiga nomor eh anak saya diberi PR enam nomor dan berbeda pula dari yang lainnya.

Ternyata menurut gurunya, kalau diberi PR yang sama pasti temannya meniru sama dia, tidak jadi PR tapi dikerjakan saat itu juga.
Masih menurut gurunya, kalau dia  menuliskan PR  di papan tulis, Fandi menulis di buku PR langsung dengan jawabannya, nah temannya tahu dan meniru. Maka tidak jadi PR deh. Olehnya itu, ia diberi soal tersendiri dan lebih banyak.

Alhamdulillah, saya lega. 
Ternyata Fandi  tidak masuk kategori tidak pandai sekalipun dalam hal membaca masih kurang, setidaknya otaknya masih bekerja dengan baik.

Anak Manja yang Dimanjakan

Saya melihat Fandi suka sekali mengaji, atas dasar itulah saya masukkan ia ke pesantren selepas tamat SD. Ia ikhlas saja dimasukkan ke sana, tetapi bapaknya kurang ikhlas.

Bagaimana tidak saya katakan demikian,  tiap hari ia berkunjung ke pesantren. Kalau tahu ada anak lain yang mengganggu maka Beliau pasang badan. 

Saya menyesal juga kenapa ya saya tidak masukkan ke pesantren yang jauh, biar bapaknya tidak terlalu sering berkunjung ke pesantren.

Lah,  ini pesantrennya  selalu dilewati tiap pulang mengajar, maka jadilah ia rajin berkunjung.

Selama di pesantren,  beberapa kali Fandi mewakili pesantrennya mengikuti lomba matematika. Walau tidak pernah menang tetapi masuk 10 besar dan mewakili pesantrennya sudah membuat saya bangga. Setidaknya ia lebih pandai matematika dari santri lainnya.

Sayangnya, cita-cita saya agar Fandi jadi  penghafal Al Qur’an  tidak tercapai. Walaupun begitu, saya tetap bangga kepadanya. Karena ia tumbuh menjadi pemuda yang baik, rajin sholat, terutama pergaulannya terkontrol.
Ia selalu menjadi contoh yang baik untuk adik-adiknya.

Cat Hitam Tanda Stres

Suatu waktu, Fandi minta uang untuk beli cat. Ia ingin mengecat kamarnya. Sebagai mama yang baik, saya senang. Fandi sudah mulai mandiri. Maka saya berikan uang itu, dan percaya ia pasti bisa melakukannya.

Alhasil ia beli cat, lalu bersama temannya ia cat kamarnya dan dengan bangga ia pamerkan kepada saya.

“Ma,  sudah-mi kucat kamarku, masuk maki, nyaman sekali suasananya.”

Daaan ... saya tertegun.

Kamarnya dicat warna hitam!

Dinding dan plafonnya semua hitam. Astagfirullah! 
Apa bagusnya coba?

Kamar yang hanya seluas 3 kali 3 meter itu semuanya gelap. 

Begitu bapaknya datang, Beliau geleng-geleng kepala sambil berkata.
“Gigimu mami yang kelihatan Nak, itu juga kalau kau ketawa.” Hahaha….

Peristiwa itu terjadi selepas tamat SMA. Kata adiknya.
 “Fandi stres mama, tidak lulus di UNHAS.”

Yah sudahlah, saya hanya minta dia untuk mengubah warna plafonnya jangan hitam semua, dan dindingnya diberi sedikit sentuhan putih agar tidak terlalu kelabu.

Apakah itu pertanda stres? Saya tidak tahu. Yang pasti ia kecewa karena tidak lulus di beberapa perguruan tinggi negeri.

Oleh bapaknya, ia didaftarkan di STIMIK Handayani.
“Yang penting ia kuliah, tidak perduli di perguruan tinggi mana. Kalau tinggal di rumah, ia bisa tambah stres.” Bagitu pikir bapaknya.

Satu hal yang saya kagumi dari Fandi, ia tidak gampang putus asa. Selama setahun ia menjalani kuliah di STIMIK sambil ikut bimbingan belajar. Targetnya adalah tahun berikutnya ia harus lulus di teknik UNHAS.

Alhamdulillah, Allah mengabulkan harapannya. Ia lulus dan menyelesaikan S1 nya di teknik UNHAS  dengan nilai yang memuaskan.




Gagal Lanjut S2


Kenapa Fandi gagal lanjut S2, padahal saya sudah setuju dan bersedia membiayai kuliahnya? 
Postingan berikutnya saja yah saya ceritakan.


Bersambung …











Read More

Blog Favorit untuk Blogwalking; Khusus Makassar

Monday, January 21, 2019



Saat rasa malas datang menyapa, apa yang akan kamu lakukan?

Jawabannya berbeda-beda. Ada yang bisa rajin kembali setelah melakukan perjalanan, misalnya pergi rekreasi atau sekedar jalan-jalan di mall. Ada pula yang mengatasi rasa malasnya dengan belanja, dengan berolahraga, tidur, dan sebagainya.

Bahkan mama saya bisa menemukan gairah kerjanya kembali setelah pulang dari pasar, walaupun  yang dibeli hanya seikat  sayur kangkung dan sebungkus terasi.

Kalau hanya malas mengerjakan pekerjaan domestik, mungkin bisa dihandle oleh orang lain. Bisa minta bantuan sama asisten rumah tangga, atau kalau tidak punya  bisa beli makanan yang siap saji. Untuk urusan bersih-bersih, mencuci, menyeterika, dan sebagainya, kita bisa panggil asisten rumah tangga yang kerja paruh waktu.

Tetapi kalau malas menulis, siapa coba yang bisa membantu. Tidak ada.


Beberapa hari ini saya juga mengalami rasa malas itu. Mungkin karena habis sakit, jadi fisik terasa belum segar, atau itu hanya alasan yang dibuat-buat oleh badan saya, agar  beristirahat panjang lalu ujung-ujungnya terasa malas. Istilah anak zaman now, mager.


Sementara itu, keinginan untuk menulis kembali terasa menggebu, tetapi malas memulai. Biasanya saya atasi dengan membaca buku. Kalau belum juga sembuh, maka saya lari ke blog orang.

Biasanya saya pilih blog yang sudah sering saya kunjungi, sehingga tidak perlu terlalu lama untuk mencarinya. Ada beberapa blog yang tanpa sengaja saya hafal karena terlalu seringnya berkunjung.

Nah, kali ini saya mau mengabarkan blog siapa saja yang sering saya kunjungi, tetapi saya batasi hanya untuk bloger Makassar saja.


mugniar.com


Pemilik blog ini adalah seorang ibu rumah tangga bernama Mugniar Marakarma. Saya lebih sering memanggil dia dengan kata dek Niar. Beliaulah bloger Makassar  pertama yang saya kenal, lalu menerima saya ke dalam grup IIDN Makassar. Sebelumnya saya lebih banyak aktif di IIDN pusat. 

Dari blognya, saya banyak belajar tentang konsistensi menulis dengan ejaan yang disempurnakan. Saya  belum pernah menemukan satu kata maupun kalimat yang gaya bahasanya mengikuti gaya bahasa kekinian di mana cenderung menyalahi aturan EBI.

Atau ada bahasa daerah, bahasa asing yang ditempatkan seenaknya. Jikapun ada, maka pasti ditulis dengan tulisan miring pertanda kata itu berasal dari bahasa asing.

Berada di dalam blog  https://www.mugniar.com/ membawa kita untuk menyelami berbagai macam informasi yang akurat dan up to date. 

Jumlah artikelnya, jangan ditanya berapa banyak. Menekuni dunia menulis dan ngeblog sejak tahun 2006 dan mengelola blognya yang sekarang sejak tahun 2011, itu bukanlah pekerjaan mudah. 

Dan saya nyaman berlama-lama di blog itu.

daenggassing.com

Ini adalah blog yang sering saya kunjungi diam-diam tanpa meninggalkan jejak, hehehe…. Saya malu berkomentar.

Baru satu kali ketemu dengan pemilik blog ini. Ternyata cukup tampan dan berwibawa (Piss Daeng, itu kesan pertama).

Saya suka dengan kisah-kisah perjalanannya, terutama kalau beliau bercerita tentang kekhasan suatu daerah. Rasanya saya juga berada di tempat itu. Pertama kali mengetahui  tentang daerah perbatasan antara Indonesia dengan Timur Leste  itu di blog ini, saya malas baca sejarah soalnya.

Ada dua menu kategori yang saya suka intip-intip, bukan intip saja sebenarnya karena biasanya saya tidak berhenti sebelum tuntas membacanya, yaitu OPINI dan TRAVEL. Hanya satu sub kategori yang tidak pernah saya intip di kategori OPINI, yaitu sepakbola dan yang paling sering saya baca adalah Cerita Ringan.

Enak membacanya, ringan seringan topik yang dibahas. Saya agak malas membaca yang berat-berat, hidup sudah berat. Eh.
Nah, kalau selera kita sama, silahkan kunjungi blog http://daenggassing.com/. 

Dijamin Anda akan puas

abbyonety.com

Bukan karena kami memiliki persamaan profesi, sehingga saya juga suka jalan-jalan ke blog ini, melainkan saya suka membaca kisah-kisah perjalanannya dari satu tempat ke tempat lainnya.

Mungkin itu pertanda kalau saya sebenarnya suka traveling, tetapi takut melakukannya sendirian.  Siapa tahu suatu saat Abby mau mengajak saya jalan-jalan, eh.

Apa yang menarik dari blog https://www.abbyonety.com/ ?

Selain kisah-kisah perjalanannya, saya juga kagum akan kerajinannya menulis, juga keberaniannya melawan tantangan. Tantangan menulis maksudnya, seperti ketika dia ikut tantangan menulis selama 15 hari bersama anggota IIDN pusat dan yang terakhir, 30 hari menulis bersama Blogger Perempuan. Wow!

Ia mampu menaklukkan tantangan itu, padahal ia tetap rajin menjalankan tugasnya sebagai guru.

Prok …Prok…Prok untuk Abby.

Bloger Perempuan Tiga Serangkai


Saya sebut tiga serangkai, karena mereka terdiri dari tiga perempuan muda dan  cantik serta suka mensupport saya, hehehe.  Subyektif sekali.
Sudah lama saya mengenal bloger cantik  pemilik blog https://www.qiahladkiya.com ini, tetapi dia tidak mengenal saya. Pengagum rahasia nih ceritanya, hehehe…

Saya memang begitu kawan!

Suka kagum diam-diam tapi malu-malu mengakuinya. Yang paling saya sukai dari blognya  Zilqiah Angraini adalah foto-fotonya yang selalu bagus. Foto-foto itu seakan nyata adanya.

Sebagai orang yang berasal dari zaman old dan sangat tidak piawai memotret maka tidak salah dong, kalau saya suka intip-intip hasil bidikan kameranya.

Setiap tulisannya selalu disertai foto yang menarik, seakan mempertegas akan apa yang ditulisnya. Qiah, nama sapaannya adalah salah satu dari bloger perempuan tiga serangkai yang saya sebutkan di atas.

Perempuan lainnya adalah Eryvia Maronie  adalah pemilik blog  https://www.emaronie.com. 

Saya suka gayanya bercerita. Ringan, santai, dan terkadang lucu. Apalagi kalau sudah bercerita tentang Faisa biasa dipanggil  Pica, lucu dan menggemaskan.

Saya juga suka intip-intip reviewnya tentang tempat makan yang dia kunjungi, cuma intip karena saya tak pandai mereview tempat makan apalagi mereview makanannya. Kalau saya datang ke tempat makan biasanya hanya fokus untuk makan, hehehe…
Gaya kepenulisannya yang santai tapi serius memberikan daya tarik tersendiri buat saya. 

Kedua perempuan bloger Makassar itu  pernah berkolaborasi dengan perempuan pemilik blog https://www.fillyawie.com/. Judul kolaborasinya  unik dan lucu, Sannengtalks.

Mereka bertiga selalu kompak menulis dengan tajuk #sannengtalks. Saya salah satu pembaca setianya, makanya saya sebutkan mereka sebagai Bloger Perempuan Tiga Serangkai.

Oh yah, di blog Teh Awie ini, kita akan menemukan artikel-artikel life style beauty dan fashion.
Berbagai artikel yang berhubungan dengan fashion  akan kita dapatkan dalam blog ini, demikian juga informasi tentang kosmetik.

Kalau kalian seselera dengan saya,  silahkan berkunjung ke blog yang saya sebutkan di atas. 

Jangan lupa meninggalkan jejak di blog mereka ya.










Read More