36 Tahun Pernikahan

Sunday, February 15, 2026

 


www.mardanurdin.com



Happy 36th Wedding Anniversary 


"Ternyata hari ini ulang tahun pernikahan kita yang ke-36”

Berharap ayangbeb ingat.

Dia jawab dong, dengan pertanyaan.

"Tanggal berapa memang kita menikah?”

Yaa salaaam … hahahaha

“Tepat hari ini. 14 Februari, 36 tahun lalu.”

Jawabku sambil menghayal. Dia akan mencium keningku. Atau kasi selamat. Jabat tangan sajalah, cukup.

Tak mau halu lebih jauh lagi, misalnya kasi hadiah atau kasi bunga.

Beuuh… jauhlah itu.

Namun, itu bukan hal baru bagi kami. Mungkin peristiwa penting bagi orang lain, tapi bagi kami. Biasa saja.

Misalnya, ulang tahun. Jarang sekali kami ingat. 

Bahkan dulu sebelum anak-anak besar dan mengerti tentang ulang tahun. Kami lebih sering lupa tanggal kelahiran masing-masing.

Tak terkecuali tanggal pernikahan kami.

Yaaah, tak apalah dia lupa asalkan dia tidak lupa kalau saya masih istrinya. Wkwkwkwk.


Menikah di Hari Valentine


Kami menikah bertepatan dengan hari valentine. Dan itu kebetulan saja.

Manalah kami tahu tentang hari valentine itu.

Alhamdulillah 36 tahun masih bersama. Betapa banyak hal yang terjadi selama itu. 

Suka dan duka tak terbilang banyaknya. Masalah demi masalah kami atasi bersama. 

Kadang marahan sampai beberapa jam. Tak lama. Baikan lagi.

Saya ingat-ingat. Sayalah yang paling sering marah. Paling sering 

ngamuk. Dia sih, tenang orangnya.

Sesekali marah lalu ujung-ujungnya minta maaf. Padahal penyebab amarahnya biasanya dari saya juga. 

Kami masih bersama hingga saat ini karena Karunia-Nya semata. 

Kalau bukan karena Rida Ilahi. Apalah daya kami.

Juga maafnya yang tak terukur. 

Betapa banyak salah yg saya lakukan, tapi selalu dia maafkan.

Dan itu salah satu  kuncinya.

Pernah ditanya oleh seseorang, 

“Seandainya kamu dikembalikan ke masa lalu, suami seperti siapa yang akan kau pilih?”

Saya jawab.

“Saya tetap memilih dia. Suami saya sekarang.” 

Alasannya sederhana. 

  • Hanya dia yang mau menerima saya apa adanya. Hanya dia memiliki maaf tak terukur untuk semua kesalahan saya. 
  • Hanya dia yang bisa menenangkan jiwa saya manakala kegelisahan datang mengganggu.
  • Hanya dia yang tahu kesedihan saya tanpa diberitahu.

Eh, itu tidak sederhana sih sebenarnya.

Saya yakin perasaan kami begitu, karena kami saling mencintai.

Karena mencintai tidak butuh alasan.

Tidak ada perayaan, tak ada pula ucapan. Tapi saya merasa perlu menuliskannya sebagai bukti.

Bahwa betapa bersyukurnya saya atas karunia Allah ini. Sebuah rumah tangga yang masih bertahan hingga kini.

Selamat Ulang Tahun Pernikahan buat keluarga kami. Semoga keberkahan selalu menyertai perjalanan rumah tangga kami. Amin.

Semoga Allah masih menyayangi keluarga kami dan mempertemukan serta mempersatukan kami lagi kelak di surga-Nya. Amin


Makassar, 15 Februari 2026


Dawiah






Read More

Menulis Buku Memoar di Tantangan 20 Hari

Sunday, February 8, 2026

 


Agak ragu sebenarnya mengikuti event ini “Tantangan Menulis 20 Hari Jadi Buku, tapi kalau tak dipaksa, kapan niat menerbitkan buku solo terlaksana?

Makanya saya paksakan ikut tantangan ini.


Tantang Menulis 20 Hari Jadi Buku



Pertemuan pertama via zoom tadi memberiku ide. Tiba-tiba saja terbersit untuk menulis non fiksi, memoar dan saya proklamirkan. Heuu... sok-sokan. Nekat itu namanya.


Nah, sekarang saya bingung.

Memoar apa yang akan saya tulis?


Kisah Percintaan Saya dengan Ayangbeb? 


Atau dengan orang lain, mantan misalnya? Hiii … yang terakhir, tidak boleh dong ditulis dalam bentuk memoar. Itu tuh sama saja membuka aib sendiri. Ngeri, beib!


Sama juga dengan kisah percintaanku dengan ayangbeb. Terlalu banyak buruknya walaupun baiknya masih lebih banyak. 


Bukankah kalau memoar itu harus juga menuliskan hal-hal buruk. Tidak selalu yang positif saja kan? 

Tidak masuk akal kalau dalam suatu hubungan tidak terjadi hal buruk. Masa iyah selama 38 tahun kisah kami baik-baik semua. Banyak kok buruknya, sangat buruk malah. Banyak juga kejadian memalukan dan tidak elok jika diceritakan.


Memoar dengan Mama?


Bisa jadi ini bagus. Masalahnya saya harus memutar waktu jauh ke masa kecil saya. Sekitar 55 tahun lalu saat saya berusia 6 tahun. Itupun pasti banyak yang terlewat. 


Anak usia 6 tahun, kenangan apa kira-kira yang masih melekat? Kedekatan di 10 tahun sisa masa hidupnya? Ah, saya meragukan hati sendiri. Akankah saya kuat mengingatnya?


Memoar dengan Bapak?


Di masa kecil, saya dan bapak itu lebih dekat dibanding dengan mama. Kedekatan kami terjadi karena beliau rajin berbicara dan saya adalah pendengar yang baik, tapi tidak banyak kejadian penting yang kami lalui bersama. Apalagi masa kebersamaan kami sangat singkat. Bapak berpulang keharibaan-Nya di usia sekitar 40-an.


Menjalani Masa Pensiun?


Yeeh, saya baru setahun resmi jadi pensiunan. Itupun tidak pensiun sepenuhnya karena menerima amanah baru sebagai kepala sekolah di TK.


Memoar Jadi Guru?


Bisa juga, tapi sepertinya saya harus memilah. Sebab terlalu banyak kenangan dengan banyak peristiwa yang berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain. 

Misalnya nih.


1. Menjadi Guru Honorer Saat Masih Kuliah?


Banyak cerita di baliknya, tapi di masa itu, fokus hidup saya adalah cari uang buat membiayai kuliah. Jadi apa yang mau diceritakan? Masa iya saya tulis betapa seringnya saya menyimpan catatan di kelas lalu kabur ke kampus. Malu. Tutup muka deh.


2. Saat mengajar di Balocci?


Hm, bisa juga. Namun, jujur aktivitas saya saat itu jarang sekali bersentuhan langsung dengan murid-murid. Sekadar masuk kelas, mengajar, kasi tugas lalu pulang. 

Soalnya saat itu, saya malah sibuk merencanakan pernikahan dengan ayangbeb, hahaha.


3. Menjadi Guru di Kota?


Tahun 1993 saya berhasil pindah ke kota. Mengajar di salah satu SMP yang cukup favorit di kota saya. Namun, lagi-lagi saya kurang “dekat” dengan murid-murid, karena saya sibuk kuliah untuk meraih gelar Amd. Yah, saya kuliah lagi Diploma 3. Lalu lanjut S1. Betapa tahun-tahun itu, saya dan suami berlomba-lomba menyelesaikan S1 untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan. 


Soalnya ada desas-desus yang beredar waktu itu, bahwa lulusan S1 akan mendapatkan sertifikat profesional guru dan berhak menerima tambahan gaji. Itu kabar menggembirakan. Bagai oase di tengah tekanan ekonomi yang umum dialami guru pada waktu itu.



4. Menjadi Kepala Sekolah TK


Wah, saya belum lama di sini. Baru setahun. Masih sedikit sekali cerita yang bisa saya gali untuk dijadikan memoar.



Apa yah?

Saya bingung nih.


Alaamak!

Ada yang terlupakan.


Menjadi kepala sekolah di SMP swasta


Bisa nih.

Kurang lebih 10 tahun menjabat sebagai kepala sekolah di SMP Swasta itu adalah masa penuh perjuangan. Bagai naik roller coaster. kadang berada di atas tanjakan lalu menukik tajam dengan turunan yang curam atau melewati tikungan tajam.


Wah!

Ini nih yang akan saya angkat.

Namun, lagi-lagi saya harus “memanggil” kembali cerita itu lalu dijalin satu persatu.


Yaah, namanya juga memoar! 


“Memoar adalah kenang-kenangan sejarah atau catatan peristiwa masa lampau menyerupai autobiografi yang ditulis dengan menekankan pendapat, kesan, dan tanggapan pencerita atas peristiwa yang dialami dan tentang tokoh yang berhubungan dengannya.” (KBBI)


Kesimpulannya.

Memoar adalah catatan atau rekaman tentang pengalaman hidup seseorang. Dan seseorang itu adalah saya.


Untuk sementara, saya pilih itu saja.

Entah esok, jika tiba-tiba saya mendapat keberanian menuliskan kisah lain yang mungkin sedikit kelam. Hua hahaha. 


Doakan yah, teman-teman.


Makassar, 8 Februari 2026



Dawiah



Read More