Minggu, 31 Desember 2017

Ketika Alumni Sekolah Perempuan Menulis Memoar


Judul Buku: Selaksa Cinta Bakti Ananda
Penulis: Alumni Sekolah Perempuan
Editor dan Proofreader: Alumni Sekolah Perempuan
Cover: Dian Apsari
Layout: Tim Najmubooks
Penerbit: Najmubooks Publishing
Cetakan Pertama Desember 2017
Buku ini berisi kisah inspiratif  dengan tema orang tua, ditulis oleh 68 orang penulis. 
WOW!
Apa yang menarik dari buku antologi ini?





Karena saya sebagai salah satu penulisnya maka tidak adil dong,  kalau saya katakan bahwa, buku ini sangat bagus. Karena itu saya hanya mau menuliskan kembali tanggapan dari orang yang sangat  berkompeten dalam dunia kepenulisan. 
Berikut tanggapan mereka.

“Kisah-kisah yang membuat mata saya menitik, haru biru selalu ada saat menceritakan keluarga dan alumni Sekolah Perempuan sukses menuliskannya dengan sangat baik. Sebuah buku yang wajib Anda baca!”
(Indari Mastuti, Founder Sekolah Perempuan)

”Kenangan kita dengan orang tua tak selalu semanis gula. Sepahit apa pun cinta mereka, jejak ingatan tentang mereka tidak akan pernah hilang. Dalam setiap tarikan napas sejak kita lahir di dunia, ada sentuhan mereka dalam jiwa-jiwa kita. Alumni Sekolah Perempuan mengabadikan kenangan atas sentuhan itu dalam bunga rampai karya bersama. Sungguh karya yang membuat saya berkali-kali mengusap sudut mata.”
(Anna Farida – Kepala Sekolah Perempuan)

“Teman, bicara tentang kedua orang tua tercinta, kadang selalu ada bulir hangat mengalir dari kedua pelupuk mata. Entahlah, kadang ada rasa bersalah karena belum cukup berbakti dan maksimal membahagiakan mereka.
Atas dasar ingin saling mengingatkan bakti kita pada orang tua tercinta, lahirlah antologi ini. Ditulis oleh 68 alumni Sekolah Perempuan. Untuk anda yang ingin berbakti dan membahagiakan kedua orang tua tercinta, milikilah buku ini! Bacalah! Anda akan sadari, apakah anda sudah maksimal berbakti pada orang tua tercinta?”
(Ida Fauziah, Mentor Sekolah Perempuan)

“Selaksa Cinta Bakti Anahda, sebenarnya adalah kisah tentang semangat hidup manusia. Dalam kegagalan, kepahitan, kerasnya perjuangan. Segala yang tak sempurna dalam sosok bernama orang tua, namun mampu memberi makna pada kehidupan berikutnya.”
(Artha Julia Nava, Certified Persoal Branding Strategist | Certified Social Branding Analyst | Writing Mentor)

Saat buku ini berada di tangan saya, maka kebiasaan saya kambuh, yaitu setiap kali akan membaca buku antologi maka saya  membuka lembaran-lembaran buku dengan cepat dan berhenti sesuka saya (maaf yah…soalnya bingung, darimana saya mulai membacanya).

Yap! 
Saya ketemu satu judul “ Anak yang Hilang” karya Sri Widi Handayani Soekarno

Profesi beliau sebagai Inspiring Family Coach dan terapis mempertemukannya dengan orang-orang yang memiliki masalah. Kemudian penulis  menceritakan tentang seorang bapak yang datang berkonsultasi kepadanya. Cerita yang cukup mengaduk-aduk perasaan. Kisah tentang kerinduan seorang bapak  kepada salah seorang anaknya yang pergi tanpa berita. Si bapak datang kepada penulis dengan satu tujuan, “ingin didengarkan.”

Itu hanya satu contoh kisah yang ada di dalam buku ini. Masih  ada 67 kisah lainnya yang tidak kalah seruh, indah, syahdu, dan haru biru. Pokoknya membaca buku ini akan membawa kita menyelam ke dasar hati lalu melambungkan kita menuju alam pikiran kemudian berakhir pada pelangi kehidupan. Penuh warna. 

Oh iyah, di dalam buku ini saya menulis tentang bapak, laki-laki pertama yang saya cintai dan selalu menjadi inspiratif. Beliau bukanlah laki-laki sempurna, namun dalam keterbatasannya saya justru mendapatkan pelajaran kehidupan.

Hidup tidak selalu nyaman tetapi selalu bermakna

Berikut sedikit tulisan saya tentang bapak yang berjudul “Buta Mata Tak Buta Hati.”

Bapakku yang buta tidak pernah mengeluh. ” Jika penglihatanmu diambil oleh Allah, bisa jadi Allah menghukum matamu karena telah lalai melihat kebesaran Allah, atau mungkin Dia memelihara pandanganmu dari melihat maksiat. Bapak tidak tahu, mataku ini berada dalam kategori yang mana, tetapi aku bersyukur karena Allah sudah memberiku kesempatan melihat ciptaan-Nya.” Ucapan beliau itu tidak pernah hilang dari ingatan.”
Jangan risau anakku, Allah selalu menanti kedatangan hamba-Nya, jika engkau berjalan ke arah-Nya maka Dia akan berlari ke arahmu.”

Masihkah Anda ragu memilikinya?


15 komentar:

  1. Ga sabar ni untuk baca bukunya...buku nyampe dirumah yang punya masih liburan hahaha

    BalasHapus
  2. Saya udah punya mbak, duh membaca buku ini tu bikin banjir air mata....

    BalasHapus
  3. waaahh keren nih bukunya mba

    BalasHapus
  4. Jadi penasaran dengan isi bukunya

    BalasHapus
  5. Ini tipe buku yang menguras air mata, benar kan mbak? Penulisnyabalumni SP. Pasti keren punya nih

    BalasHapus
  6. Saya masih pengen ikut SP. Belum kesampaian

    BalasHapus
  7. Keren judul tulisan bu Dawiah di antologi ini?

    BalasHapus
  8. Ya Allah teharuku baca. In syaa Allah tempat terbaik untuk bapak ta', Kak Dawiah karena sudah begitu bersabar. Sebab kata guruku, orang yang dicabut penglihatannya biasanya susaaah sekali bersabar. Luar biasa kalau bisa bersabar.

    BalasHapus
  9. Jadi penasaran baca buku ini ^_^

    BalasHapus
  10. “Jangan risau anakku, Allah selalu menanti kedatangan hamba-Nya, jika engkau berjalan ke arah-Nya maka Dia akan berlari ke arahmu.” Aku suka banget kata-kata ini kak.
    Kalau baca kutipan komen diatas sepertinya buku ini banyak menggugah hati para pembacanya. Jadi penasaran pengen baca juga.

    BalasHapus
  11. Penasaranka pen baca bun, kayaknya berkesan sekali, kalau liat dari komentar-komentarnya pembaca. Biaa menyentuh sisi-sisi kehidupannya orang yang baca 😍😍

    BalasHapus
  12. Bukunya keren, bacanya terbawa arus perasaan. Setuju ma quotesx"Hidup selalu bermakna"

    BalasHapus
  13. Pengen deh rasanya punya karya yang dibukukan jugA, kayak bunda Dawiah.
    Itu gimana caranya ya?

    BalasHapus
  14. Cerita-cerita tentang orangtua dan anak selalu bikin tersentuh, malah kadang berderai-derai airmata. Jadi penasaran sama bukunya, kak...

    BalasHapus