Curahan Hati, Bisakah Menjadi Ide Tulisan?

Senin, 13 Mei 2019



Selama bulan Mei tahun ini, baru satu tulisan yang berhasil saya selesaikan dan posting di blog.


Tidak ada ide Marimar!

Ah, itu  hanya alasan, karena sebenarnya ide berseliweran dimana-mana.
Hanya butuh kekuatan jiwa untuk mengeksekusinya. 
Butuh kemampuan menantang diri, semampu apa kamu, eh saya,  menghalau segala godaan, agar ide yang menari-nari di kepala itu bisa ditangkap lalu menceburkannya ke dalam kolam kata-kata, membentuk kalimat-kalimat lalu menjadi satu tulisan yang pantas dibaca orang.  

Jadi tidak ada alasan tidak ada ide. 
Tsaa!

Sebenarnya saya mau curhat pemirsa, tapi bingung. Curahan hati itu, sebaiknya saya lampiaskan, eh tuliskan  di mana? 

Mau “nyampah” di medsos, ah malu.  Nanti ada yang berkata dan berpikir,  “ini kok sudah bau tanah masih bertingkah seperti kanak-kanak.”

Bisa-bisa sayalah yang menjadi penyebab orang lain melakukan dosa, alhasil saya kecipratan dosa juga jadinya.  

Nah, daripada curhatan itu jadi penyebab orang lain berdosa, terus nulisnya juga setengah-setengah, maka sekalian saja  saya tuliskan di sini. 

Curhatan jadi dan blog sayapun  terselamatkan dari sarang laba-laba.
Simbosis mutualisme😅

Soal curhatan lainnya bisa juga dibaca di sini. 


Rencana yang Gagal


Tiga bulan sebelum Ramadan, saya sudah berniat melakukan banyak hal sehubungan dengan aktivitas di dalam bulan penuh rahmat ini. Saya menuliskannya secara rinci, apa saja yang akan saya lakukan sekaligus tidak lakukan.

Namun rencana manusia tak selamanya sejalan  dengan ketentuan Allah Swt. Beberapa rencana batal diteruskan, diganti dengan rencana lain karena sesuatu dan lain hal.

Ada juga rencana yang telah dijalankan, tetapi berhenti di tengah jalan sebelum tuntas.

Sebaliknya pekerjaan, kegiatan, dan kebiasaan yang saya niatkan  tidak akan saya lakukan, justru berjalan lancar bagaikan jalan tol, bebas hambatan.

Ah, mengerjakan sesuatu yang buruk dan sia-sia ternyata jauh lebih gampang dibandingkan mengerjakan hal baik dan bermanfaat.

Tergoda Medsos


Saya sudah berjanji, sekesal apapun hati, tak akan menuliskannya di akun media sosial saya. Ternyata saya gagal pemirsa.

Sepekan memasuki bulan Ramadan, manakan curhat tentang  keadaannya yang tidak nyaman di suatu tempat. Tidak langsung ke saya sebenarnya, tetapi melalui cerita dan tulisan-tulisannya yang dia bagikan di media sosialnya, saya bisa menangkap, bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan keadaannya.

Maka jadilah saya si bunda yang kepo, cari tahu apa sebenarnya yang terjadi. Tetapi ia tak sedikitpun mau cerita.

Hingga suatu hari, ia minggat dari rumah itu, pulang ke rumah orang tuanya yang notabene adalah adik saya. Yang namanya minggat, tentu saja tidak ada manis-manisnya.

Pergi meninggalkan cita-cita yang sekian lama ia perjuangkan dengan keringat dan air mata. Meninggalkan pekerjaan, di mana di situ ia gantungkan harapannya agar bisa melanjutkan kuliah dengan tekad belajar mandiri.

Saya rasa, tindakan nekadnya itu karena ada hal yang sangat menyesakkan dada.  

Singkat cerita, semuanya terungkap. Mendengarnya bercerita, melihat matanya yang sembab, anak dan ibu bertangisan telah membobol pertahanan saya.

Tak tahu bagaimana cara  membelanya, mungkin wejangan saja tak cukup, maka  curhatannya di media sosial saya tanggapi. Berusaha menghibur dan sedikit marah lalu nyerempet-nyerempet menyinggung pihak pelaku.
Namun apa yang terjadi?

Bukannya ada penyesalan, malahan kemarahan semakin membabi buta. Anak usia 18 tahun ditekan,  dicemooh, dan dibully habis-habisan oleh orang terdekatnya, sungguh suatu perbuatan yang tidak pantas.

Alhamdulillah, ia kuat. Sungguh sangat kuat, karena di balik kesedihannya ia bisa tertawa dan terus aktif. Walau saya tahu, kalau itu adalah usahanya membunuh duka.

Namun demikian, saya lega karena sudah membantunya meng-up curhatannya hingga dilihat dan ditanggapi pihak sana.  Paling tidak, mereka tahu kalau manakan saya itu  tidak sendiri. 
Ia masih memiliki saya yang siap mendukungnya, paling tidak saya siap menjadi telinga dan mulutnya.   

Namun saya sedikit menyesal, telah “nyampah” di medsos. Maafkan pemirsa, semoga kalian tidak melihatnya, heuuu…🙏

Penyakit Menunda Waktu


Demi waktu duha (ketika matahari naik sepenggalan), dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu ….” (Qs. Ad-Duha: 1-3).

Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (Qs. Al-asr).

“Maka Aku bersumpah demi cahaya merah pada waktu senja, demi malam dan apa yang diselubunginya, demi bulan apabila jadi purnama, sungguh, akan kamu jalani tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). Maka mengapa mereka tidak beriman?” (Qs: 17-20).

Ketiga ayat dalam Alquran di atas adalah sebahagian sumpah Allah Swt atas nama waktu. Saya yang fakir dalam ilmu agama ini, bolehlah berpendapat bahwa, waktu adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan, terlihat betapa Allah Swt memperingatkan hamba-Nya dengan bersumpah atas nama waktu.

Tak dinyana, saya seringkali terlena hingga kadang tidak disiplin menggunakan waktu.

Rencananya mau menulis tapi melirik ke tumpukan pakaian yang mau dirapikan.

Ah, nanti sajalah nulisnya, selesaikan dulu lipatan pakaian ini. Sejurus kemudian, saya duduk di depan pakaian yang bertumpuk sambil meraih telepon genggam.

Mau periksa watshApp dulu ah, siapa tahu ada pemberitahuan penting dari kerabat. Terus berlanjut ke facebook, lalu ke instagram, terus ke telegram, teruuus begitu.

Waktu terus berjalan, ternyata sudah hampir dua jam berselancar di dunia maya sambil duduk di depan pakaian yang melambai-lambai.

Alamak!

Jadinya saya tidak menulis,   tidak pula mengerjakan pekerjaan domestik. Menyesal?
Tak ada gunanya, waktu tak pernah mau mengalah.

Untungnya Saya Ibu Rumah Tangga


Sebagai ibu yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan dan kelangsungan kehidupan dapur, maka patutlah saya bersyukur. Karena selama bulan Ramadan, suka tidak suka, mau tidak mau, saya harus bangun pada dini hari untuk mempersiapkan makan sahur.

Maka di situlah keuntungan seorang ibu seperti saya.

Saat menunggu matangnya nasi, saya bisa nyambi menyelesaikan setrikaan.
Sambil menanti subuh usai sahur, saya bisa menulis.

Alhamdulillah, naskah  untuk antologi cerita anak beres dikirim ke email PJ-nya. Lega.


Saya  tidak menyesal-menyesal amatlah jadinya.

Demikianlah curahan hati saya. Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga tetap sehat hingga terlahir fitri kembali.

29 komentar

  1. Saya sendiri, isi blog ku curahan hati kak. Lebih jujur malah isinya karena dari kata hati, bukan katadia. Teruslah curhat kak.

    BalasHapus
  2. Saya koq sedih baca soal anak 18 tahun, berasa flash back. Semoga semua selesai dengan baik ya Kak. Semoga waktu bisa menjawabnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Saya berusaha mendekati dia, secara ia memang sangat dekat dan suka cerita banyak hal ke saya.

      Hapus
  3. Curhat di medsos memang bahaya, Bunda. Banyak yang tanya, komen, atau bersimpati tapi jangan terlalu ditanggapi karena biasa orang cuman kepo doank. Hehe...

    Mending curhat di blog, bisa dibumbui sedikit bahasanya, biar lebih apik. Jadi deh satu tulisan!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah inilah hasilnya, blogku nda jadi sarang laba-laba, hehehe...

      Hapus
    2. Samma bun, saya pun sering curhat di blog juga, biar blogku selalu rame, hehehe

      Hapus
  4. Kalau curhat di medsos itu bisa buka aib sendiri..kalau curhat ringan dan lucu2an ,mungkin biasa,,tapi kalau curhat masalah internal ,seputar family biasanya lebih banyak mengundang dampak negatif..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali, makanya saya berusaha tahan jari-jari ini sekuat menahan puasa hehehe

      Hapus
  5. Salut deh sama bunda, ide cerita sprti ini pun bisa dikembangkan dan enak dibaca. Sejujurnya, sy pun dilanda menunda waktu skrg huhu, sekali ada di zona nyaman kok ssh banget keluarnya yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penyakit kebanyakan manusia itu di... nunda waktu, harus diberantas. Yuk semangat melawan godaan syetan.

      Hapus
  6. Saya sekarang jarang nyetatus sih Bun. Tapi kepoin timeline orang mah tetep. Duh kan...
    Semoga menakan Bunda cepat ada solusinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga sih, kecuali ada hal yang mendesak. Daaan kita sama, suka kepoin timeline orang

      Hapus
  7. Lhaah ini kok seperti jadi curhatan saya ehehe.. rencana ini itu eh malah masih kadang tergoda notifikasi masuk. Sebentar ah buka hape dulu, tapi terus sekalian ngecek ig dulu kah sekalian ngecek telegram truss gitu deh. Sosmed memang kalau kita kurang waspada dikit aja jadi melenakan, apalagi kalau jadi sampai dibuly seperti menakan mbak.
    Semoga cepat clear ya mbak masalah menakannya itu. ikut prihatin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Makasih ya mbak sudah ninggalin jejak.

      Hapus
  8. Sepakat, Bu. Saya juga lebih memilih blog untuk nyampah daripada medsos (eh, tapi beberapa kali juga kecolongan,ji...). Kusuka simbiosi mutualisme. Galau hilang, blog pun terisi

    BalasHapus
  9. Sama bun gak bunda doang kok. Tergoda sama medsos kalo udah buka sekali ehh malah lupa waktu terus-terusan aja berselancar didunia maya. Kalo udah mentok ide justru curhatan itu yang paling ampuh bun bikin semangat buat nulis hehe. Selamat menjalankan puasa juga bun. Sehat dan lancar terus

    BalasHapus
  10. Saya juga punya prinsip klo mau nulis ya apapun yang ada di benak kita ya bisa jadi bahan tulisan. Karena jadi konten kreator juga penulis, bahannya cuma dari apa yang didengar, apa yang dilihat, dan apa yang dirasakan. Hehe.

    BalasHapus
  11. sama mba.. ku juga kadang ada banyak ide berseliweran tapi kok mau nulisnya males-malesan. huhu..
    curhat bisa banget mba jadi ide tulisan. blog ku juga isinya kebanyakan curhatan.. hehe

    BalasHapus
  12. Bundaaa ... Tulisanku di blog beberapa hari yang lalu itu juga curhatan. Sudah mencoba mengemasnya dengan sedemikian rupa. Biar yang membaca nggak merasa menjadi keranjang sampah. Dan semoga memang nggak, yaaa ... Hihihi ...

    BalasHapus
  13. Emak-emak mah bebas Bun... mau nulis kapan aja bole, selama tugas utamanya beres hehehe. Saya juga gitu kok yang pentinf hepi, keluarga keurus, kerjaan kepegang. Gitu aja.. yekaaaan? Salam sayang ya Bun... sehat selalu

    BalasHapus
  14. Saya lama nggak buka facebook, jadi kelewat curhatannya nih, Bun. Semoga ponakannya baik-baik saja sekarang, ya. Selamat menjalankan puasa Ramadhan ��

    BalasHapus
  15. Mei ini saya juga sepi postingan, BUnd. Bukan gak ada ide, tapi lagi males aja dan lebih menikmati waktu sama anak-anak. Nggak tahu nanti kalau gas pol di pertengahan bulan. Biasanya saya suka gitu sih, kalau udah mau habis bulan baru kejar-kejaran, hehehe

    BalasHapus
  16. Wah, memang idealnya kita yang harus bisa atur waktu, bukan waktu mengatur kita, minimal sudah ada perencanaan, Alhamdulillah

    BalasHapus
  17. Seneng baca curhatan Bunda

    Selamat , naskah  untuk antologi cerita anak beres dikirim ke email PJ-nya.
    Barakallah

    BalasHapus
  18. Saya pernah mengalaminya, Bund.
    Dalam sebulan cuma sedikit postingan. Yang 'merampas' waktu saya biasanya adalah menonton film :) Kadang memang saya niatkan untuk rileks sejenak, sih. Eh ternyata berjenak-jenak.
    Setelah dipikir-pikir, ide menulis memang bisa dari mana saja, kok. Sebaiknya memang tidak menunda-nunda dan dicicil sedikit demi sedikit. Self reminder buat saya juga, nih :)

    BalasHapus
  19. Curhatan berfaedah ini mah, Bunda. Hehehe...

    Tulisan berupa curhatan atau tidak bagi saya sah saja bun. Yang penting ada hikmah yang bisa dipetik.

    Semoga segera ada solusi ya tentang keponakannya.

    BalasHapus
  20. ide menulis emang dari mana aja dan kapan aja yah bunda. ini juga bisa jadi tempat curhat yang paling ampuh dan senangnya jika banyak yang respon. semoga ada solusi yah bun

    BalasHapus
  21. Duh, saya banget nih Bund. Ide banyak berseliweran di kepala, pengen nulis tapi gak fokus gara-gara sambil nulis sambil asyik berselancar di medsos,

    Btw soal curhat, saya juga lebih suka curcolnya di blog saja tapi. Tulisan saya juga kebanyakan hasil curcol nih Bund tapi hanya selingan saja sih,

    BalasHapus

Fill in the form below and I'll contact you within 24 hours

Nama

Email *

Pesan *